Author: Meonk and Deog.
Title: Kinda love you.
Main cast: Lee Hyuk Jae, Lee Donghae and Kim Young Woon.
Pairing: HaeHyuk.
Slight pairing: KangHyuk.
Rate: T.
Genre: Romance, drama and comedy.
Warning: Gender bender/GS for bottom (Hyuk Jae and others), typos, AU, OOC, OC, bad grammar and etc.
Disclaimer: Stories totally ours. Cast belong themselves.
Summary: "Aku tidak pernah tahu apa yang merasakukiku, tapi aku sadar ada ketertarikan lebih pada bocah disamping sana. Aku menyebut ini cinta dan aku sedikit mencintainya."
DON'T LIKE DON'T READ!
YOU CAN BASH AUTHOR'S OR THIS STORY! BUT FOR CAST, WE CANT TOLERIR THAT.
.
.
.
Author Pov.
"Noona menikahlah denganku!" Pria muda setengah bocah ini nyaris berteriak ketika satu kalimat sakral keluar dari mulutnya. Wajahnya mengeras, Donghae mewarnainya dengan begitu banyak keseriusan. Pemikirannya mungkin memang kekanakan, tapi untuk meminang wanita ini sampai kepelaminan Donghae tidak pernah main-main. Ada gejolak kecil sejak hari itu—sejak pertama kali Hyuk Jae mencuri ciuman pertamanya.
"MWO?!" Manik tertutup Donghae menunggu jawaban, ia berharap setidaknya kata 'Biarkan aku mencoba.' mengudara dan membuatnya melompat kecil. Didalam sana—dijantungnya yang berdegup keras, Donghae berkomat-kamit merapal doa agar Hyuk Jae setidaknya tidak menghinanya.
"Kau bilang apa?! Ucapkan sekali lagi!" Sesuai dengan wataknya yang mudah diprediksi, Donghae yakin selain nada meninggi jika ia mengulanginya lagi, ia pasti juga mendapatkan jitakan keras didaerah kening.
"Noona kumohon…." Pemuda ini menangkupkan tangan keudara, menggosoknya beritme juga memberikan wajah memelas. Hyuk Jae yakin telinganya sedang tidak bermasalah sekalipun ia tadi putus cinta. Hyuk Jae menghela nafas sebentar, kemudian obsidiannya membidik tajam hazel Donghae kedalam pandangan. Mencari keseriusan didalam sana, nyatanya Hyuk Jae malah mendapatkan hal yang lebih dari ekspetasinya. Donghae sangat serius.
Ia mungkin senang, ini bukan cara yang buruk untuk melamar wanita yang berusia lebih dari 30 tahun. Hyuk Jae mengakui penampilan fisik Donghae cukup baik—sekalipun Young Woon lebih baik dimatanya, tapi ia masih memiliki logika dimana ia akan dianggap gila jika memacari anak cinta pertamanya. Jelas itu mengerikan—ibunya akan menguburnya hidup-hidup. Pertemuan mereka yang terbilang singkat juga belum berhasil menimbulkan benih ketertarikan dalam benak Hyuk Jae.
"Itu…., Dongie-ah. Kau masih terlalu muda, ayahmu akan sedih jika tahu kau menikah dengan wanita setua aku." Hyuk Jae merendahkan kalimat, berharap kata-katanya sama sekali tak menyentil hati Donghae. Sementara Donghae menggeleng, ia berani jamin bahwa itu tidak akan terjadi. Ayahnya menikah muda dulu, jadi ia pasti tahu bagaimana perasaan putra semata wayangnya yang menginjak usia dewasa.
"Kalau noona belum siapa menikah, jadilah pacarku." Kali ini Hyuk Jae lagi-lagi mendesah, jujur ia jenuh untuk memulai sebuah hubungan tanpa komitmen diusia sematang ini. Ia perlu menemukan pria dewasa, yang siap menikahinya kapanpun ia mau dan incarannya adalah Young Woon. Hyuk Jae meluruskan bahu Donghae, memaksa Donghae melakukan interaksi mata dengan jarak sedekat ini.
"Dongie-ah, dengarkan aku." Mata Donghae mengerjap beberapa kali, fokusnya lepas pada wajah wanita ini. "Usiaku sudah hampir 34 tahun, yang kuperlukan disini adalah laki-laki dewasa yang bersiap menikahiku, bukan menjadikanku pacar. Kau mengertikan?" Wajah Donghae mengendur, ekspresi polosnya luruh dengan bibir yang mengkerut. Apakah dia ditolak? Apakah dia kurang dewasa?
"Apa orang dewasa yang noona maksud adalah ayahku?" Mendadak Hyuk Jae terpekur, ia terlalu sibuk dengan banyak masalah hingga tak tahu Donghae mulai menyadari perasaannya pada Young Woon. Wanita ini diam diatas kesimpulan Donghae yang makin kuat. Ia tidak tahu harus merespon apa, Donghae yang menatapnya masam makin membuatnya terdesak.
"Dongie-ah….,"
"Noona menyukai ayahkukan?" Mata Donghae berembun, ada lapisan setara yang nyaris jatuh kepipi. Wajahnya menatap penuh harap, sekalipun ia tidak ingin Hyuk Jae berbohong tapi ia berharap ada sedikit penyangkalan. Ia tidak tahu bagaimana awal pertemuan ayahnya dan Hyuk Jae, tapi ia juga bukan pemuda idiot yang tidak menyadari bahwa pria yang dielu-elukan wanita ini adalah Young Woon.
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Jadi itu benar?" Hyuk Jae mengangguk enggan, jika menyangkal ia akan benar-benar terlihat seperti orang bodoh. Setidaknya Donghae hanya perlu tahu sedikit kebenaran, Hyuk Jae bisa menyadari wajah Donghae yang terlihat pucat dan nyaris menangis. Bocah ini selalu berhasil membuatnya gila, entah bagaimana caranya. Dimulai dari cara Donghae menatapnya, hingga cara pemuda ini bicara padanya. Hyuk Jae bahkan butuh waktu lama untuk menata perasaannya.
"Hiks…."
"Ya—ya! Kau pria mana boleh menangis?! YA!" Donghae menggeleng, ia menyeka air mata gesit. Ini pertama kalinya ia jatuh cinta, ini juga pertama kalinya ia ditolak seorang wanita. Mentalnya belum sanggup menerima kenyataan bahwa cinta pertamanya akan berakhir buruk. Donghae akan berjuang, sekalipun ia akan terlihat lebih kekanakan dalam bayangan Hyuk Jae. Ia menganggap noona ini bahkan lebih cantik dari ibunya.
"Ya! Donghae-ah! Jangan menangis! Aku menolakmu bukan karena aku membencimu. Aku menyukaimu, hanya saja—"
"Lalu kenapa tidak menerimaku?! Noona menyukaikukan?! Orang yang saling menyukai harusnya berpacaran!" Hyuk Jae menghela nafas gemas, rahangnya mengeras sementara wajahnya mulai memerah karena menahan kesal.
"Bukan begitu, aku menyukaimu sebagai seseorang yang harus kulindungi. Seseorang yang harus kusayangi, dan kupikir kau lebih cocok menjadi adik atau—anak mungkin?" Donghae mengeraskan wajah, Hyuk Jae tidak berpikir untuk menggantikan posisi ibunyakan? Pemuda ini menggeleng keras, umurnya sudah cukup dewasa untuk tidak lagi dianggap adik. Pemikiran tentang Hyuk Jae yang berniat menjadikannya anak membuatnya nyaris berteriak. Tidak ada drama yang ia ingin mainkan tentang ia yang akan jatuh cinta pada Ibu tirinya. Lagipula ia berani jamin Young Woon seratus persen setia pada Jung Soo.
"Noona mencuri ciuman pertamaku! Noona juga lancang karena membuatku jatuh cinta padamu! Noona harus tanggung jawab!" Jemari Hyuk Jae mengurut kening, sarafnya berdenyut-denyut bagai tersengat ribuan lebah. Mungkin Donghae terlihat menggemaskan, tapi merengut disaat seperti ini dirasa tidak tepat sebagai prilaku pria yang sering dikatakan maskulin. Ia bahkan tidak pantas menyebut Donghae laki-laki yang sanggup melindunginya.
"Ya! Bocah ini!"
"Noona, kumohon." Kembali lagi pada aksi merengeknya, Donghae menendang-nendang kaki diudara sementara tangannya kembali menangkup satu sama lain didada. Gempulan udara meluncur dari bilik mulut Hyuk Jae, kesabarannya hampir terbuang percuma keatas angin. Ia tidak tahu harus memberikan reaksi seperti apalagi. Bocah ini membuatnya gila.
"Kumohon, setidaknya cobalah menyukaiku." Fokus Hyuk Jae teralihkan pada manik Donghae yang kini berubah rupa seperti bola mata anjing. Berkali-kali dada Hyuk Jae membusung kedepan, otaknya berpikir keras agar anak ini diam dan pulang setelah itu membiarkannya tidur. Ada banyak masalah dihidup perawan tua sok idealis ini—selain masalah cinta tentunya. Dia punya dua saudara bermulut ember, orangtua cerewet dan banyak bawahan malas yang menyita hampir keseluruhan hidupnya. Kemudian sekarang cinta pertamanya datang—membawa bocah setengah idiot dan membiarkan kehidupannya yang monoton menjadi lebih berwarna. Hyuk Jae tidak akan mensyukuri ini. Ia lebih suka kehidupannya yang terdahulu yang hitam putih.
"Dongie-ah…."
"Noona…." Hyuk Jae mungkin bisa saja menerima tawaran Donghae secepat kilat karena ia tipe wanita yang suka laki-laki brondong. Tapi ada alasan lain yang mengganjal dilubuk—Donghae anak Young Woon, anak cinta pertamanya.
"Pfttt, biarkan aku berpikir."
.
.
.
Permukaan kulit wanita putih itu menyentuh pas badan pintu, telinganya ia buat seoptimal mungkin sementara disisian kiri entitas lain menuntut banyak informasi. Kibum mencuri dengar sebuah pernyataan cinta yang membuat perutnya nyaris mengeluarkan seluruh isinya. Yang ia tahu, adiknya memang populer dikalangan anak muda. Mungkin karena gaya fashionnya atau lagaknya yang seperti gadis remaja serampangan. Henry berkasak-kusuk disamping Kibum—wanita manis ini bisa mendengar isakan kecil Donghae yang sulit diredam.
"Aku tidak menyangka Hyuk Jae eonni akan menolak anak manis itu." Kibum menggeleng, posisinya masih sama seperti tadi. Mereka bertiga selalu terbuka tentang kehidupan pribadi jadi ia rasa menguping seperti ini tidak akan membuat Hyuk Jae naik pitam.
"Dan aku juga tidak berpikir Hyuk Jae akan menerima bocah idiot itu." Henry mendengus kecil, bukankah Donghae manis? Apanya yang idiot? Di zaman ini, ia rasa pria sejenis Donghae yang bersikap kekanakan tiap waktu lebih digemari para wanita. Itu yang ia ikuti dari perkembangan global musik K-pop.
"Dia manis dan cukup tampan." Bola mata Kibum memutar keberbagai arah, wanita tercantik dari tiga bersaudara ini menaikkan ujung bibir.
"Menjijikkan."
BRAK.
Tubuh Kibum dan Henry kontan terpental keatas lantai ketika pintu kamar Hyuk Jae tiba-tiba terbuka kasar. Dua wanita ini mengaduh merasakan nyeri tak main-main didaerah bokong. Sementara si pemeran utama mengerenyitkan kening bingung. Untuk apa dua wanita ini berdiri diambang kekuasaannya?
"Apa yang kalian lakukan?" Kibum dan Henry menggaruk tengkuk sebentar. Tatapan Hyuk Jae yang seperti memvonis mati mereka menciptakan keadaan jadi sedikit canggung. Mereka kontan menunjuk meja makan didaerah dapur. Meringis sebentar, mata Hyuk Jae sekilas menangkap hidangan yang tertata rapi.
"Kami membuat makan malam. Kita bisa mulai makannya sekarang." Kibum menatap sebentar pria dibelakang Hyuk Jae, tersenyum kecil tubuh laki-laki itu memberikan gestur malu-malu.
"Apa aku juga boleh ikut?" Kali ini Henry yang memberikan respon. Wanita manis ini mengangguk antusias.
"Tentu saja, noona sengaja membuatkan makanan enak karena kau. Dongie-ah…."
.
.
.
"Apa enak?" Satu sendok nasi meluncur kemulut, Donghae menggerakkan kepala berulang kali kearah bawah. Mungkin bibirnya terfokus pada makanan yang berada didalam mulut namun matanya masih betah memberikan tatapan penuh harap pada Hyuk Jae. Wanita itu hanya memberikan jawaban bahwa ia akan mencoba dan Donghae bukan tipe orang yang menyukai jawaban menggantung.
"Dia selalu mengatakan semua makanan enak." Sarkasme Hyuk Jae tetap menempel dibibir, wanita ini tidak bisa meluruhkan sifat kasarnya terhadap Donghae. Selalu ada gumaman samar khas orang marah ketika Hyuk Jae menyadari Donghae tengah menatapnya. Sejujurnya menghadapi wanita seperti Hyuk Jae lebih mengerikan ketimbang apapun yang pernah ia temui. Sekalipun wanita ini mudah diprediksi, prilakunya begitu kasar hingga Donghae berpikir dua kali untuk sekedar mengeluarkan argumen tentang betapa cantiknya wanita itu saat sedang mengunyah makanan.
"Eonni…." Henry menatap kasihan pada Donghae yang hanya mengangguk dan Hyuk Jae bahkan tak berniat untuk menggubrisnya. Hazel Donghae menatap skeptis tiga wanita berbeda jenis didepan sana. Jari-jemari Donghae telah terkait kuat, sedikit malu ia menatap ragu Kibum, Henry dan Hyuk Jae.
"Eum…, diantara kalian apa ada aktor yang kalian kagumi? Seperti—Jo In Sung atau Jang Dong Gun?"
"Aku suka semuanya. Asal mereka maskulin dan tidak sering merengek seperti wanita." Donghae menghela nafas, jelas itu sindiran untuknya.
"Bagaimana dengan Wonbin?" Gerakan Hyuk Jae pada mangkuk soup sontak terjeda. Obsidiannya agak membulat dan pipinya sedikit memerah. Jika boleh berterus terang, Wonbin dan dirinya usianya tidak terlalu berbeda. Wonbin bahkan lebih dari ekspetasinya dalam hal tipe ideal. Wanita ini telah sejak lama menganggumi pria tampan itu.
"Kau bilang siapa? Wonbin?" Donghae mengangguk kecil, ada hadiah yang ingin ia berikan kepada wanita yang mungkin mengaguminya.
"Tidak ada wanita normal yang tidak menyukainya. Dia pangeran Korea." Semburat kemerahan nampak dikedua pipi, Donghae mengarahkan tangannya kekantong celana. Ia bisa menyebut ini sebuah konpensasi, sedikit menyuap tidak apa-apakan?
Mata Hyuk Jae membulat ketika selembar kertas putih nampak didepan mata. Kertas itu tak berbentuk, tapi ada sedikit goresan pena halus didalamnya. Hyuk Jae menyipitkan mata, mengidentifikasikan apa isinya.
"Ige mwoya?"
"Aku akan memberikan noona penawaran." Kening tiga insan disamping Donghae mengkerut-kerut, penawaran apa yang bisa dilakukan dengan sebuah kertas lecek tak berarti? Menghapus ingus? Atau membuat orek-orek matematika?
"Tadi sore, setelah noona berlari pergi. Aku bertemu dengan seseorang yang sangat kau sukai dan disini—" Jemari Donghae membuka perlahan gulungan kertas, senyuman diwajahnya kecil tapi Hyuk Jae merasa ada sesuatu yang bahkan tak mampu ia tebak dengan mudah.
"Wonbin! Aku bertemu Wonbin dan mendapatkan tanda tangannya!"
"MWO?!" Setelah tiga teriakan terjadi, selang beberapa detik ketiga wanita ini menyerbu Donghae dan berniat merebut kertasnya, tapi pemuda tampan ini tak kalah gesit. Dengan cepat ia menyembunyikan kembali gulungan tersebut kekantong celananya lagi.
"Kita harus melakukan barter disini. Hanya aku dan Hyuk Jae noona!" Helaan kecewa menyelip gendang telinga Donghae, ada dua wanita lain yang menampilkan raut wajah putus asa. Sementara Hyuk Jae memamerkan sekelebat sinar asing dari matanya.
"Setidaknya noona harus mau berkencan denganku satu hari saja untuk mendapatkan ini."
"Kencan? Denganmu?"
"Ne!"
.
.
.
"Ada yang salah dengan ayah?" Lipatan kontras dikening Young Woon tampilkan nyata ketika tatapan mengintimidasi dari Donghae menyulut rasa nyamannya. Sarapannya kini dilewati bersamaan dengan pandangan mematikan yang menurut Young Woon lucu dari Donghae. Sejak kemarin, Donghae menatapnya seperti seorang polisi yang memergoki pencuri. Young Woon kerap kali tertawa ketika ia juga beberapa kali mendapatkan Donghae tengah menjulurkan lidah padanya.
"Apa ayah kenal dengan seseorang bernama Hyuk Jae? Lee Hyuk Jae?" Young Woon diam sesaat, namun kemudian pandangan pria ini terlihat menerawang.
"Hyuk Jae?"
"Dia seseorang yang mungkin kenal denganmu." Young Woon diam lagi, lalu matanya membulat sempurna. Ingatan tentang monyet kecil manisnya tiba-tiba menyeruak dan mendominasi. Gadis cengeng kecil yang kerap kali menangis ketika tidak mendapat kecupan dipipi darinya. Gadis yang bahkan tidak pernah malu-malu menyatakan cinta padanya. Hal itu sudah lama sekali, tapi gadis itu meninggalkan kenangan yang lumayan berkesan.
"Hyukkie? Maksudmu Hyukkie kecilku?" Dibelakang sana, telinga Jung Soo terasa terbakar. Ia menghentikan aktifitasnya mencuci piring, sesekali mendesis kecil kala indera pendengarannya menangkap sedikit keganjilan. Hyukkie? Bukankah panggilan itu terlalu manis?
"Sayang, lebih baik kau cepat berangkat dan antar Dongie ketimbang diam lalu kalian akan terlambat." Lagi-lagi Young Woon mengerutkan kening, intonasi bicara wanita cantik itu mungkin lembut, tapi kelas jentara penekanan kata diakhiran kalimat.
"Kita bicarakan Hyuk Jae dimobil."
.
.
.
Surainya berkibar diterpa angin siang, kaki-kaki mungilnya menapak optimal dengan gerakan kelewat cepat. Bibir mungilnya penuh dengan donat, sementara wajahnya dihiasi ekspresi antusias. Ia memberikan kedipan pada teman seperjuangannya ketika Sungmin terlihat melintas. Menunjuk Sungmin sebentar, wanita ini mengakat kaki kecil dengan jemari yang membentuk bidikan.
"Ahhaa hoshipp baruhhh!" Sungmin terpekur sesaat, si pemberi informasi telah lenyap ditelan angin dan menimbulkan berbagai tanda tanya. Ucapan Ryeowook bahkan tak pantas disebut bahasa, gumaman-gumaman samar yang tak dapat ia tangkap artinya membuat Sungmin menggidikkan bahu dan berlalu begitu saja kearah kantin. Ryeowook kini sudah ditelan angin dan masuk keruangan Hyuk Jae.
"Sajangnim! Sajangnim! Sajangnim!" Gerakan kecil-kecil tapi cepat Ryewook berhenti tepat dimeja Hyuk Jae. Hyuk Jae menajamkan tatapan sejenak, lengkingan keras dari gadis berkepala dua didepan sana mendengung diruangan miliknya. Apa ia lupa mengarjakan cara bawahannya untuk mengetuk pintu dan setidaknya bertata krama pada atasan sekelas dirinya?
"Kim Ryeowook-ssi, apa pergelangan tanganmu patah?"
"Ne?" Hazel Ryeowook mengerjap-ngerjap polos. Desisan kecil dari sang atasan membuat badannya berhenti bergerak seketika.
"Kau lupa cara mengetuk pintu?" Ryeowook menggeleng, keringatnya meluncur perlahan melewati pelipis.
"Pintuku marah, merasa diabaikan karena kau bahkan lupa untuk menggunakannya dengan baik. Dia menangis sekarang." Nada Hyuk Jae patah-patah, berusaha untuk sedramatis mungkin. Ryeowook memandang pintu nanar, tidak mungkin atasan gilanya ini menyuruhnya untuk mengulang mengetuk pintu.
"Apa aku harus mengetuk pintunya lagi?"
"Dengan senang hati aku akan menganguk. Ulangi dari awal, berlari dari koridor dan ketuk pintunya. Ingat beli donat dan tancapkan dimulutmu seperti tadi." Bibir Ryeowook bergetar, gadis ini nyaris menangis.
"Sajangnim…."
"Lakukan dengan baik nona Kim. Sayangi pintunya seperti kau menyayangi atasanmu." Ryeowook berjalan gontai keluar, ia meringis kecil dan dalam hati sibuk mengutuk nenek sihir didepannya.
"KUBILANG BERLARI SEPERTI TADI!"
.
.
.
Tapakannya melamat, gesturnya ayu menuntut kelembutan. Tatapannya tajam, mengintimidasi Young Woon dalam setiap gerakan. Tangannya bersidekap dada sementara penampilannya berubah dibandingkan ia yang masih dikantor tadi. Roknya ia naikkan keatas sehingga menjadi lebih pendek, jasnya ia lepas dan menampilkan cetakan bra hitam yang kontras dengan kemeja putihnya. Kemudian rambut yang terikat tadi entah kenapa menjadi tergerai bebas, lipstik dibibirnyapun menebal. Wanita ini bahkan tidak bersikap manis dengan mengatakan 'Selamat siang.' dilengkapi aksen yang dibuat-buat.
Wanita ini terlalu berang karena dilupakan, jadi ia memilih duduk dikursi taman dan menyilangkan kaki dengan bebas. Ia juga mengabaikan tangan Young Woon yang memberikan segelas kopi Americano. Berpaling sedikit, ia meminimalisir kontak mata.
"Kau marah karena oppa melupakanmu?" Hyuk Jae memutar mata, tidak ada indikasi lain selain itu.
"Maafkan oppa karena oppa melupakan adik kecil oppa yang manis." Hyuk Jae diam, hatinya bagai tersayat ribuan belati. Adik? Bahkan sebutan itu masih melekat dalam jangka belasan tahun yang ia pertahankan, tersenyum sinis mata Hyuk Jae berembun lagi. Sekalipun ia marah, ia tidak bisa mengabaikan degup kencang jantungnya ketika menatap pria itu.
"Apa yang ada dipikiranmu sehingga kau melupakanku? Aku bahkan masih mengingatmu." Young Woon tersenyum kecil menanggapi, nada sarkastik Hyuk Jae ia anggap lumrah karena ia memang tidak pantas melupakan adik kecilnya yang manis.
Mata sipit Young Woon menjelajahi intens setiap perubahan diraga Hyuk Jae. Wanita ini berubah begitu banyak, dimulai dari sikapnya yang terlihat jauh lebih feminim, garis-garis wajah yang lebih tegas dan lekuk tubuh proposional. Young Woon tercengang, gadis polosnya dulu berubah menjadi wanita sensual yang mungkin membuat banyak laki-laki diluar sana mengeluarkan air liur. Lipatan dikening Hyuk Jae bertambah banyak ketika tatapan mata Young Woon dirasa telah melewati batasan normal. Wanita ini mendecih kecil kemudian tersenyum sinis. Berpikir mungkin Young Woon menyesal menikahi istrinya dan menemukan fakta bahwa gadis yang ditolaknya dulu bahkan terlihat lebih menganggumkan.
" Ya! Apa yang kau lihat?!" Young Woon tersenyum seklias sebelum menjawab.
"Kau sangat cantik sekarang."
"Aku tahu itu."
"Kau sudah menikah?" Hyuk Jae kali ini menggeleng, karena laki-laki didepannya inilah ia sering kali menolak lamaran dari pria yang dikencaninya. Ia selalu berharap suatu saat nanti, Young Woon setidaknya menyerahkan cincin emas dan mengucapkan beberapa janji digereja bersamanya.
"Belum, tapi kau bahkan sudah punya anak dan istri." Young Woon terkikik sebentar. Tentang anak ia jadi ingat percakapan antara dirinya dengan Donghae pagi tadi.
"Mengenai anakku, dia bilang dia menyukaimu. Aku bahkan tertawa hampir tersedak ketika Donghae bilang akan melamar wanita bernama Lee Hyuk Jae nanti malam. Bagaimana bisa kalian bertemu dan membuat anakku menyukaimu?" Mata Hyuk Jae membulat lebih lebar, ia tidak menyangka mulut Donghae sama embernya dengan kedua saudara perempuannya. Wanita ini mengambil nafas sebentar sebelum menjawab.
"Anakmu gila. Dia terus mengejarku."
"Dia tidak seperti itu, dia hanya terlalu polos." Mata Hyuk Jae membulat lagi.
"Kau ayahnya dan bagaimana mungkin kau membiarkan anakmu berkencan dengan wanita setua aku!"
"Istriku juga lebih tua dariku, apa yang salah? Aku juga sudah cukup mengenalmu jadi kurasa menitipkan Donghae padamu tidak terlalu buruk. Dia bercerita tentang kau yang terus menolaknya dan mengumpat. Anakku tampan, apa ada yang masih kurang?" Hyuk Jae mengambil nafas, percakapan panjang dengan Young Woon sedikit mampu menyita logikanya.
"Jika dia bukan anakmu mungkin aku akan menerimanya." Young Woon kontan terdiam, memori belasan tahun lalu menyeruak tanpa izin keotaknya. Kemudian pria ini tersenyum tipis.
"Hei—jangan bilang kau masih menyimpan perasaan padaku."
"Aku menyukaimu oppa, dari dulu sampai sekarang. Tidak pernah berubah." Tubuh Hyuk Jae tiba-tiba berada dalam garis vertikal, tungkai kakinya menapak kuat dan menerjang Young Woon kedalam pelukan erat.
.
.
.
"Hiks…, hiks, hiks…." Ia sudah menghabiskan waktu nyaris 5 jam ditempat ini hanya untuk menangis. Setelah laki-laki itu pergi, menyatakan penolakan absolut dan membuatnya terlihat rendah untuk kedua kalinya, Hyuk Jae akhirnya menyerah. Ia selalu berpikir tentang masa lalunya, dimulai dari cinta polos yang mungkin tak dianggap apapun hingga perasaan cinta yang ia anggap nyata. Semuanya mendapatkan penolakan. Young Woon nyatanya memilih orang lain—selalu.
Ia bahkan belum menjawab nada berteriak dari ponsel yang bertengger ditelinga. Menguapkan nada-nada kekhawatiran, disebrang sana Donghae masih kukuh mencari keberadaan Hyuk Jae ditaman sepi ini.
'Noona! Jawab aku! Kau ada dibagian mana? Aku sudah ditaman ini!'
Hyuk Jae masih sibuk mengelap ingus, keadaan matanya juga mengenaskan. Maskara hitam mengelilingi lingkaran mata, wajahnya juga kusut seperti tidak pernah tidur. Wanita ini terisak keras, bisikan samar dari orang yang berlalu lalang bahkan tak ditanggapi. Ia mengusap wajah lagi, onyxnya menerawang kedepan kemudian cetakan jelas tubuh satu insan yang terengah dengan nafas menderu nampak dari kejauhan.
'Aku menemukanmu!' Sementara sambungan ponsel mereka masih belum diputus, Donghae menampilkan senyum lebar kepada wanita itu. Intensitas langkahnya makin lebar, rasa cemas yang sempat menggerogoti luruh begitu seonggok tubuh wanita itu terlihat baik-baik saja. Hanya ada yang sedikit berbeda—keadaan Hyuk Jae mirip ketika mereka baru pertama kali bertemu. Kenapa wanitanya menangis lagi?
Donghae diam sebentar, jemarinya menyentuh layar ponsel dan memutus panggilan. Meletakkan kembali benda persegi itu kekantong celana dan melanjutkan langkah. Ia meringis menyadari keadaan Hyuk Jae benar-benar buruk.
"Noona…." Hawa itu mengadah singkat, tatapan mereka bertemu dan berserobok pandang. Diam dalam arus keheningan, Hyuk Jae membiarkan Donghae mencari tahu apa yang terjadi dengan dirinya. Tapakan Donghae kembali mempersempit jarak—sekarang ia bisa merasakan jemari lentik pria itu menyentuh permukaan kulit wajahnya. Wanita ini menutup mata, meresapi kelembutan yang diberikan.
"Noona menangis lagi? Ada apa denganmu?" Hyuk Jae diam, ia biarkan air mata meluncur makin deras. Ia bodoh menolak pemuda ini, pemuda polos yang terus berada disisinya dan tetap memohon cintanya bahkan ketika ia mengumpat kasar. Dulu ia benar-benar dibutakan oleh satu pria. Mata Donghae sedikit membelalak, sekarang wanita itu sudah berdiri dari tempat duduknya dan mendekatkan tubuh pada Donghae.
"Noo—na…," Donghae bisa merasakan jari lentik sosok itu bermain disekitar tengkuknya. Menarik kepalanya mendekat, lalu menyambung tautan bibir. Donghae merasa jantungnya dipenuhi berton-ton oksigen. Rasanya menyesakan namun menyenangkan, ketika ia sadar wanita itu menutup mata saat memagut bibirnya—ia membalas dengan katupan mata lain.
.
.
.
TBC.
.
.
.
Mind to review?
.
.
.
Author note:
Yosh! FF ini datang lagi! XDDD ada yang kangen sama Dongie? Hahaha akhirnya chapt 4 update yosh! XD
Maaf untuk updatenya yang lama, chapt besok adalah chap terakhir FF ini ^^ semoga masih ada yang menantikan FF ini kkk~ Maaf untuk typo, alur cerita yang semakin buruk, dan segala kesalahan lain yang mempengaruhi FF ini. Kami benar-benar minta maaf #bow
Terimakasih juga untuk responnya dalam bentuk; reads, reviews, follows dan favorites. Terimakasih banyak ^^ #bow
Kelanjutan FF ini ada ditangan kalian semua,
Jadi apakah FF ini masih pantas untuk dilanjutkan?
Thanks to Review: ichikaapriliana| lyndaariezz| Lan214EunhaElf| rani. gaem . 1| anchofishy| narty2h0415| Tsuioku Lee| HanRii03| MingMin| haehyukiddo| shfly9 – kim (Jumma :D)| Haenia Lee| Fujianchovy| hyukjae86| Anonymouss| Lee Haerieun| harukichi ajibana|chiechie. Elfsuperjuniorcliquersejhathie (Woi! Woi! Unnie! XDDD) dhia. Bintang| NovaVishy|
