Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
TOKITO POV
Yes...yes...yes, aku diterima. Kuangkat kertas pemberian majikan baruku seakan mengangkat trofi piala juara satu. Kubaca jadwal tuanku itu sekalian menghapalnya. Hmm, senin pukul tujuh pagi sampai jam sepuluh, inspeksi rutin laboratorium pusat Mibu, rabu pukul dua siang sampai enam sore, pertemuan ilmiah rutin di aula kota. Kamis pukul enam sore sampai tujuh malam rapat rutin dengan peneliti sedunia di kota Edo. Buset, kebanyakan jadwalnya berisi seminar dan pertemuan, gak bosen gitu duduk manis berjam-jam?.
.
.
.
"Bagaimana Tokito? Kau sudah menemukan tuanmu?" Tanya Muramasa. Aku memang disuruh menemuinya kalau sudah menemukan tuanku.
"Yeah, Hishigi-sama" Kataku pendek.
"Hishigi? Wah...wah, kau bisa aja nemu cowok keren disini" Godanya. Wajahku seketika merona heboh dikatakan begitu. Untung aja diruangannya hanya ada aku dan dia.
"Eng-enggaaak. Habiiis katanya cuma Hishigi-sama yang gak punya pengawal. Jadi aku coba aja" Tuturku. Yah, lebih tepatnya memaksa, sih. Lagian keren darimana? Emang sih wajahnya lumayan *coret, sangat* tampan, badannya juga jangkung proporsional, ekspresi stoicnya memberi kesan misterius. Eh, sebenarnya aku ini muji atau ngehina, sih. Udah ah, gak mau bahas dia lagi.
"Well kalau gitu selamat bekerja. Kalau ada yang tak mengerti, tanyakan saja padaku atau Hishigi" Ujar Muramasa. Nanya sama Hishigi? Ah kayaknya gak deh. Mau diajak ngobrol aja takut duluan aku. "Tenang saja, Hishigi sebenarnya baik kok kalau kau sudah mengenalnya" Ujar Muramasa. Aku bergumam kesal, lagi-lagi membaca pikiranku. "Siapa tahu bisa jadi lebih dari pengawal dan majikan" Sambungnya sambil tertawa nyengir. Hah? Lebih? Gak gak deh. Ogah banget berurusan sama orang irit kata irit ekspresi kayak dia, berasa ngomong sama tembok. Lagian aku juga mak mau dicap homo.
.
.
.
Rabu, hari pertamaku bertugas sebagai pengawal elit Hishigi-sama. Aku bangun pagi-pagi dan bergegas menuju istananya. Berhubung aku belum hapal jalannya, antisipasti kalau nyasar lagi. Benar saja, aku berangkat pukul delapan dan sampai depan istananya pukul sebelas. Tiga jam kuhabiskan muter-muter gak puguh sekitaran istana. Mungkin aku akan menyarankan sistem peta yang tak harus menggunakan kertas sebagai bahan penelitian Hishigi.
"Permisi" Kataku membuka pintu istana. Seperti yang bisa ditebak, tak ada yang menjawab, hanya ruangan gelap dan pengap yang menyambutku. Nyala lilin dari pojok ruangan satu-satunya sumber cahaya yang ada disitu. Hm, masuk gak ya? Tapi kalau lancang bisa-bisa dicap gak sopan lagi. Hm, masuk aja deh, toh aku sudah jadi pengawalnya ini. Aku pun masuk dan membuka tirai menampakan keseluruhan ruang istana yang berantakannya kayak habis ada perang disini. Karena pada dasarnya aku memang orangnya bersih, aku pun berakhir dengan membereskan istana tuanku yang entah berada dimana.
END TOKITO POV
HISHIGI POV
Kepalaku berdenyut denyut sehabis menghadiri rapat panjang lebar dengan Fubuki dan Muramasa. Hari rabu memang hari diadakannya rapat disposisi agar koordinasi antar Taishiro tidak berantakan. Dalam rapat kali ini, Muramasa membahas tentang rencana rekayasa lahan pertanian dan budidaya perikanan untuk pembangunan ekonomi rakyat yang mana tugasku sebagai pembuat cetak biru sistemnya.
Kurogoh jam saku dari dalam jubahku, pukul setengah dua. Aku harus bergegas ke aula kota. Kudorong pintu istanaku dan mendapati ruangan yang nyaris tak kukenali. "Selamat datang, Hishigi-sama" Salam Tokito. Kalau saja dia tidak ada didalam, mungkin aku akan mengira aku salah masuk istana.
"Kau yang membersihkannya?" Tanyaku. Tokito mengangguk. Aku mengangkat kedua alisku lalu bergegas menuju meja kerjaku yang sudah tersusun rapi. Kusambar map berwarna hitam dan bergegas pergi. Langkahku sudah sampai kepintu namun tidak kudengar langkah dibelakangku. Kulihat kebelakang dan melihat sosoknya yang masih mematung disamping mejaku.
"Hei ayo, kau mau membuatku terlambat?" Tanyaku. Entah kenapa muncul binar diwajahnya. Tokito berlari.
.
.
.
"Tsuki" Sahut Tokito. Seekor anjing serigala berwarna putih berlari menerjang Tokito dan menjilati mukanya. Tokito tertawa-tawa.
"Hei, aku hampir terlambat" Kataku.
"Oh iya. Bolehkah aku membawa Tsuki, Hishigi-sama?" Tanyanya.
"Lakukan sesukamu" Kataku. Maka jadilah perjalananku kali ini menjadi perjalanan paling berisik yang pernah kulalui dalam hidupku. Tokito tak henti-hentinya menunjuk banyak bangunan dan mengobrol dengan Tsuki. Aah, aku ingin hari ini cepat berakhir.
.
.
.
"Muramasa-sama" Kataku.
"Ah, halo Hishigi. Kami sudah menunggumu" Ucap lelaki bersurai emas itu ramah. Aku berjalan menghampirinya dan meletakan dua gulungan berisi rancangan sistem untuk pertanian dan perikanan.
"Ada apa Hishigi? Kau terlihat terbebani" Tegur Fubuki.
"Semua ini karena pemuda berisik yang anda kirim, Muramasa-sama" Kataku kesal walau dengan ekspresi stoic-ku, aku sangsi dia bisa menyadarinya.
"Maksudmu Tokito? Bukankah bagus? Jadi lingkunganmu sedikit ramai, kan?" Tanyanya.
"Aku pemuja kesunyian, Muramasa-sama" Kataku. Muramasa meraih satu gulungan dan membukanya, begitu juga Fubuki. Pria bersurai bak singa putih ini mengamati hasil karyaku dan memperhitungkan teknis dilapangnnya.
"Sempurna seperti biasa, Hishigi. Aku yakin kemajuannya akan lebih dari sepuluh persen sebulan" Puji Muramasa. Tak didengarkan seperti biasa. "Bukan begitu, Hishigi. Kita memerlukan keseimbangan dalam kehidupan, kan? Jangan terlalu berkutat dengan duniamu sendiri. Sekekali santailah sedikit" Ujarnya. Ah, ilmu Satori lagi.
"Mengenai Tokito, seperti apa dia?" Tanya Fubuki tanpa mengalihkan pandangan matanya dari coretan kertas.
"Well, kau akan terkejut" Jawab Muramasa singkat. Fubuki menghentikan kegiatannya, memandang muramasa sekilas lalu kembali tenggelam dalam kegiatannya semula.
"Aku iri dengan kemampuan Satori-mu, Muramasa" Ujar Fubuki. Diantara kami hanya Fubuki saja yang tidak memanggil Muramasa dengan embel-embel dikarenakan hubungan kekerabatan. Aku pun sempat diperintahkan sama, namun rasanya tidak nyaman saja. Sudah menjadi kebiasaan buatku.
"Hmp, percayalah. Terkadang lebih baik tidak mengetahui samasekali" Jawab Muramasa. Aku pun diam seperti biasa memandangi dua sahabatku yang kembali hanyut dalam pekerjaannya masing-masing.
END HISHIGI POV
.
.
.
TOKITO POV
"Berikan ini pada Fubuki" Kata Hishigi seraya menyerahkanku empat gulung kertas sepanjang satu setengah meter. Sudah memasuki minggu ketiga aku bekerja untuk majikan paling minim ekspresi sejagad Mibu ini. Para pengawal yang lain sampai menanyakan resepnya padaku melihat pengawal sebelumnya hanya tahan empat hari, paling lama seminggu. Yah kubilang saja karena keadaan ekonomi mendesak, memang kenyataan, kok.
"Hai" Kataku sambil kerepotan membawa gulungan kertas itu dengan lengan kecilku.
"Apa?" Tanya Hishigi menyadari aku belum juga pergi dari tempatku berada.
"Anuu...aku tidak tahu letak istana Fubuki-sama" Kataku. Memalukan memang, tapi aku ini tipe yang mudah kesasar. Hishigi menghela nafasnya. Ia menyambar kertas kosong, mencoretinya lalu menyerahkannya padaku.
"Ikuti saja arahnya" Ujarnya pendek. Aku menerimanya lalu undur diri.
.
.
.
Okee...sejauh ini lancar-lancar saja. Petunjuk yang diberikan Hishigi mudah dicerna dan kurasa aku berada dijalan yang benar. Makin lama berjalan, aku pun keluar dari dalam lorong tak berujung menuju sebuah jembatan beton yang membentang didepanku. Sebuah gerbang megah berwarna biru pekat terlihat diujungnya. Hm, mungkin itu tempatnya. Kususuri jembatan itu dengan takut-takut. Walau dinaungi atap dan berpagar, tetap saja rasanya menyeramkan, mana sedikit berkabut lagi.
Akhirnya aku pun sampai didepan gerbang megah tersebut. Beberapa orang pengawal membukakan pintu gerbang. Danau besar terlihat mengelilingi tempatku berada. Danau yang sebening kaca hingga dapat kulihat ikan koi yang berenang-renang didalamnya. Beberapa tetumbuhan air tampak mempercantik suasana danau ini. Sebuah bangunan megah bergaya Jepang berdiri dengan angkuhnya diatas pulau ditengah danau. Jembatan kayu bergaya Jepanglah satu-satunya jalan menuju kesana. "Anuu maaf, benar itu istana Fubuki-sama?" Tanyaku memastikan.
"Iya. Fubuki-sama sedang berada ditempat" Jelas pengawal itu. Oke, tampaknya aku tidak tersesat. Aku menarik nafas dalam-dalam dan berjalan menyusuri jembatan memasuki bangunan itu. Begitu masuk kedalam bangunan, seorang pelayan menyambut kedatanganku.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" Tanyanya ramah.
"Apa Fubuki-sama bisa ditemui? Ada titipan dari Hishigi-sama" Jelasku.
"Ng...akan saya tanyakan dulu. Tunggu sebentar" Katanya lalu masuk kedalam.
END TOKITO POV
.
.
.
tbc
(a/n) Another chapter had been ended :3
Author minta maaf kalau ada salah penyebutan istilah. Maklum tidak riset dulu sebelumnya ._.
Mind to RR? Review Anda Semangat saya :3
