Author: Meonk and Deog.
Title: Kinda love you.
Main cast: Lee Hyuk Jae, Lee Donghae and Kim Young Woon.
Pairing: HaeHyuk.
Slight pairing: KangHyuk.
Rate: T.
Genre: Romance, drama and comedy.
Warning: Gender bender/GS for bottom (Hyuk Jae and others), typos, AU, OOC, OC, bad grammar and etc.
Disclaimer: Stories totally ours. Cast belong themselves.
Summary: "Aku tidak pernah tahu apa yang merasakukiku, tapi aku sadar ada ketertarikan lebih pada bocah disamping sana. Aku menyebut ini cinta dan aku sedikit mencintainya."
DON'T LIKE DON'T READ!
YOU CAN BASH AUTHOR'S OR THIS STORY! BUT FOR CAST, WE CANT TOLERIR THAT.
.
.
.
Author POV.
"Noona?" Nafas Hyuk Jae yang memburu menerpa setengah dari wajahnya, ini kesekian kalinya pemuda manis itu menghitung degup jantung yang berdetak lebih kencang. Ciuman tadi, ciuman panas tadi, ia masih menerka itu untuk apa. Apakah itu benar-benar tulus dari Hyuk Jae—atau kemungkinan tentang ciuman itu akan berakhir seperti dulu lagi. Atau hanya pagutan tidak sengaja ketika Hyuk Jae merasa dicampakkan oleh laki-laki itu.
Hyuk Jae mengambil jarak dengan bernafas dan melangkah mundur. Ia menyeka air mata sebentar sebelum memalingkan kepala dan berharap Donghae tidak sadar rona merah diwajahnya mulai kontras. Ia merasa hatinya terbuka sedikit. Walaupun kekanakan, Donghae adalah laki-laki yang baik. Tulus dan kharisma diwajahnya adalah yang terunggul. Ia bisa menyamakan anak ini dengan Young Woon. Dan ia merasa bodoh ketika ia mengingat masa lalu tentang bagaimana dirinya meneriaki anak ini panjang lebar.
Ia tidak pernah menyangka dan tahu sejak kapan perasaan berdebar ini datang kemudian mengoroyok hatinya dan membuatnya memiliki keyakinan bahwa ia mulai tertarik. Tapi tak bisa dipungkiri, bagaimanapun gejolak itu datang menganggu aspek kehidupannya, juga bayangan masa lalu selalu ada disketsa wajah anak itu. Ia bimbang, tapi hatinya mengatakan ia butuh Donghae.
"Dongie-ah…, jantungku berdebar saat aku menciummu. Apakah itu berarti aku menyukaimu?" Nada Hyuk Jae bergetar dan pelupuk matanya kembali dibasahi embun berbeda. Sementara bocah itu masih terpekur, Hyuk Jae kembali mendekat dan memeluknya erat. Membuat debaran itu datang lagi—dan ia terkejut. Degup jantungnya kali ini lebih keras ketimbang ciuman tadi. Suhu hangat Donghae bisa ia rasakan dari jarak sedekat ini. Aroma pemuda ini memabukkan. Memberikan rangsangan lebih pada Hyuk Jae agar terus berdekatan.
"Tadi adalah penolakan terakhir dari ayahmu."
"Ne?"
"Aku menyerah, ayahmu bilang dia mencintai wanita lain. Selamanya itu bukan aku, bukan wanita sepertiku yang dia cintai." Wajah Hyuk Jae tenggelam dalam leher Donghae, sedangkan Donghae mencoba memberikan ketenangan dengan mengelus lembut anak surai kecokelatan wanita ini. Ia meringis sedikit ketika Hyuk Jae membicarakan pria lain, ia merasa sakit tapi ia juga senang karena ayahnya tidak memberikan kesempatan apapun pada Hyuk Jae. Ia mungkin egois, tapi ia benar-benar mencintai Hyuk Jae. Ia ingin memiliki wanita ini, menyempurnakan wanita ini dengan kekurangannya seperti apa yang ayahnya lakukan pada ibunya setiap hari.
"Noona benar-benar menyerah?" Hyuk Jae terdiam sejenak, isakannya juga ikut membisu. Kemudian ia mengangkat wajah, membiarkan jarak tipis menyekat kulit mereka.
"Aku tidak tahu, apakah kau menyerah padaku?" Donghae jelas menggeleng. Ia menggenggam tangan Hyuk Jae lalu membawanya kedadanya. Tatapannya ia biarkan menajam—memberi tahu Hyuk Jae bahwa ia tidak akan pernah melakukan itu. Tidak akan sekalipun harus.
"Aku akan selalu bersama noona jika noona melupakan perasaanmu pada ayah." Raungan Hyuk Jae makin mengeras, air matanya menitik dan membasahi sebagian muka hinga keleher. Ia tidak peduli jikapun besok pagi karyawannya akan menyadari lebam-lebam dimatanya kemudian meledeknya. Ia merasa begitu menyedihkan, ia merasa tak tahu malu sementara ia terus mempermainkan anak ini. Donghae pemuda yang baik, ia belajar banyak tentang itu.
"Kenapa kau baik sekali padaku?"
"Karena aku menyukaimu." Dan untuk kesekian kalinya, mata sipit Donghae melebar ketika leher jenjangnya ditarik paksa mendekat lalu menyatukan tautan bibir seperti tadi. Hyuk Jae memagutnya lembut dan sebisa mungkin Donghae mengimbangi. Donghae belum tahu banyak tentang jenis ciuman yang sekarang Hyuk Jae berikan. Tapi dia bisa mencecap rasa manis dari bibir wanita didepannya dan mulai menutup mata. Manis sekali—Donghae hampir melayang.
Tangan Donghae menyusup kepunggung Hyuk Jae, memaksa wanita itu untuk lebih mendekat dan menyisihkan semua ruang yang menyekat. Bisa ia rasakan bibir Hyuk Jae makin aktif bergerak dimulutnya dan terkadang menggigitnya kecil. Ia tidak tahu harus berbuat apa jadi dia hanya diam dan menerima itu dengan pergerakan pasif.
"Nghh…, noonahhh…" Hyuk Jae kontan melebarkan matanya ketika desahan itu masuk ketelinga. Dengan nafas yang terengah, dibarengi wajah tak percaya Hyuk Jae melepas tautan bibir dan menatap Donghae tajam.
"Kenapa dilepas?"
"Kau mendesah tadi?" Dalam diam tangan Donghae menyusup kesurai hitamnya dan menggaruknya sungkan. Ia tak bisa menahan suaranya dan itu seperti respon reflek. Donghae menaikkan wajah kemudian menampilkan senyum terbaiknya kepada wanita ini.
"Itu karena tadi…, terlalu enak."
"Mwo?!" Hyuk Jae menaikkan oktaf disuaranya yang melingking dan berbalik meninggalkan Donghae pergi mencari mobilnya. Pria itu ikut berlari kecil menyusul dibarengi dengan pertanyaan-pertanyaan tak penting yang membuatnya sakit kepala.
"Noona mulai menyukaikukan?"
"Noona menyukaikukan?"
"Mau jadi pacarkukan?"
"Kita menikah kapan?"
"Kupikir setelah menikah nanti, aku ingin punya dua anak."
"Yang satu wanita cantik seperti noona dan satunya lagi sepertiku."
"Noona kenapa diam? Noona jawab aku!" Hyuk Jae menghentikan langkah, ia menghentakkan kaki sebelum berbalik dan menatap Donghae tajam. Raut wajahnya kentara kesal tapi ia tak akan memaki. Mengingat mereka berdua kini berada dalam kondisi yang perlahan membaik.
"Dongie-ah, kau mau aku jadi pacarmukan?" Donghae mengangguk, ia ikut menghentikan langkah. Keempat mata mereka berpapas pandang.
"Kalau begitu, mulai sekarang—" Hyuk Jae mengangkat lima jarinya didepan wajah Donghae dan menekuk kelingkingnya. "Pertama, tidak ada lagi Donghae yang merajuk seperti wanita." Donghae mengangguk enggan dan menunggu wanita ini melanjutkan kalimat selanjutnya.
"Kedua, mulai sekarang kau harus menjadi pria dewasa yang tidak akan menangis dihadapan wanita." Hyuk Jae menekuk jari manisnya dan dihadiahi anggukan berbeda. Walaupun agak pesimis dengan perubahan sikap Donghae, wanita ini masih berharap Donghae akan bersikap lebih baik dikemudian hari.
"Ketiga, berhenti bicarakan tentang ayahmu didepanku."
"Keempat, kau hanya boleh mencintaiku dan tidak boleh menatap wanita lain." Donghae mengangguk antusias untuk dua permintaan tadi dan berpikir bahwa ia akan benar-benar menerapkannya. Hanya Hyuk Jae dan tak boleh ada Young Woon.
"Kelima, kau pria dan kau harus bergerak lebih agresif dalam sentuhan. Mengerti maksudku?" Donghae terkikik kecil kemudian mengangguk lagi. Ia menampilkan deretan giginya dan memperlihatkan Hyuk Jae jika ia siap dengan semua itu.
"Tentu. Jadi sekarang noona resmi jadi pacarkukan?" Hyuk Jae mengangguk kecil, ia meletakkan kedua tangannya dibahu Donghae. Memberikan anak itu tatapan tertajam dan tersensual dari dirinya. Ia menggigit bibir kecil berharap Donghae akan mengerti bahwa gestur menggodanya menginginkan lebih.
"Dan sekarang, kita terapkan yang nomor lima dulu. Dekatkan bibirmu dan cium aku. Bergerak lebih leluasa disini." Hyuk Jae menyentuh bibirnya kemudian menutup mata.
.
.
.
Henry dan Kibum menatap jengah semua hidangan yang tertera dipusaran meja makan sementara si wanita tua yang berdiri tak jauh dari sana memberikan gestur angkuh dengan melipat tangan didada. Ia menyenderkan punggung di lemari es kemudian alisnya naik turun. Henry dan Kibum hanya bisa mendesah pasrah, tanda tangan Wonbin kemarin telah berhasil membuat setengah dari semangat mereka luruh—lalu sekarang Hyuk Jae yang bersikap bagai wanita tua kurang belaian menyatakan lisan dan non lisan bahwa hari ini Kibum harus datang ke apartemen mereka berdua, untuk menyantap semua masakan yang Hyuk Jae berikan.
"Jika ini bukan delivery, aku tidak akan mau makan." Hyuk Jae mengambil tempat lebih dulu lalu duduk dideretan kursi kedua. Ia mencomot daging sapi besar kasar dan memasukannya kedalam mulut.
"Aku tidak menyentuh dapur, tidak ada racun. Ini delivery restauran kesukaan kalian berdua." Henry juga Kibum hanya mengerenyitkan kening kemudian menggidikkan bahu lalu ikut duduk. Mereka mempertanyakan sikap Hyuk Jae yang seakan-akan mendapatkan lotre terbesar yang pernah ada. Wanita itu sejak tadi memperlihatkan gelagat menjijikkan dengan bersiul dan bernyanyi juga memberikan senyuman manis sejak mereka datang ketempat ini.
"Kau tidak sakitkan eonni?"
"Apa salah jika aku berlaku baik?"
"Tapi keadaanmu menyatakan kau tidak benar-benar baik. Jangan bilang Young Woon bercerai dengan istirnya! Akan kubunuh kau Lee Hyuk Jae!" Hyuk Jae mendelik diikuti ekspresi penolakan diwajahnya. Wanita ini menggeleng memberikan reaksi bahwa hal itu tidak akan terjadi.
"Ya! Kau gila?! Aku memang perawan tua tapi laki-laki bongsor itu tidak lagi mengagumkan dimataku sekarang."
"Kau menghinanya? Seorang Lee Hyuk Jae menghina pria seperti Young Woon? Micheoseo?!" Hyuk Jae mengibas-ibaskan tangan kearah depan dan menggidikkan bahu tak peduli. Sejak kemarin bayangan Young Woon telah tak bersisa, pria tampan yang dewasa seperti Young Woon bukan lagi patokannya untuk menentukan pria baik. Nyatanya seorang bocah kekanakan seperti Donghae menguntitinya setiap hari dan berhasil membuat hatinya luluh.
Hyuk Jae mengetuk-ngetukkan sendok keatas meja dan menopang dagu dengan satu tangan. Matanya menatap bergantian Henry juga Kibum dari atas sampai bawah. Lalu ia menundukkan kepala dengan kikikan kecil diakhir. Henry dan Kibum makin menambah lipatan dikening, sejak kapan Hyuk Jae berubah menjadi kucing peranakan?
"Kau tahu sekarang aku sudah punya pacar baru."
"Uhuk!" Henry yang baru saja mengarahkan sumpit kemulut dan memasukan mie kekerongkongan kontan tersedak, menatap bengis si pemberi informasi dengan tatapan tak percaya. Tenggorokkannya seperti dicekoki sesuatu yang sebesar bola kasti. Sulit untuk mempercayai ini semua.
"Sifat playgirlmu datang lagi?"
"Anni." Hyuk Jae menggeleng.
"Jangan berikan aku lelucon jika kau berpacaran dengan anak itu!" Hyuk Jae mengangatkan wajahnya kaget, ia memberikan tatapan antusias kepada mereka berdua.
"Eoh?! Bagaimana kalian bisa tahu?!"
"YA! LEE HYUK JAE SIALAN!"
.
.
.
"Tuhan tolong aku! Ya Tuhanku! Demi Tuhanku ya ampun! Sungmin eonni!" Wanita bersurai cokelat madu itu berlari cepat dengan intensitas kecil-kecil. Mulutnya yang dipenuhi kue manis, mengembang hingga membentuk gembungan besar dipipi. Wanita manis ini nyaris tersedak ketika kedua kawannya ditambah kekasih bodohnya malah asik bercengkrama dengan topik bodoh dan mengabaikan fakta mengejutkan disudut kantin.
"Kalian! Kalian! Dua puluh tahun! Yang sekarang dua puluh tahun!" Sungmin, Kyuhyun dan Jongwoon menatap iba wanita berpeluh yang berteriak kalut tanpa mempedulikan makanan dimulutnya sudah tercecer kemana-mana. Ia memenuhi kantin dengan lengkingan panjangnya yang memekakan sementara ia yang tak pernah peduli pada situasi.
"Ada apa Ryeowook-ah?"
"Kalian bodoh! Kalian bodoh! Bagaimana kalian bisa hanya diam disini?! Manager gila! Sajangnim benar-benar sudah tidak waras. Wanita konservatif itu sekarang mengencani anak kecil lagi! Aish benar-benar!"
"Ya! Bicara yang jelas!"
"Huh…." Ryeowook mengambil nafas sebentar atas kekolotan kedua temannya dan satu kekasihnya. Ryeowook sering menyesalkan posisinya sebagai penyebar berita panas sedangkan ketiga orang ini hanya diam dan tidak melakukan apa-apa. Ia mengambil nafas lagi, membuangnya kemudian ikut duduk mengambil tempat disamping Jongwoon.
"Perawan tua itu mengencani anak dua puluh tahun!"
"MWO?!"
.
.
.
"Kau datang kesini?" Donghae mengangakat dua rantang ditangannya kemudian tersenyum manis. Pemuda ini mengekor dibelakang Hyuk Jae. Ia tersenyum manis kepada karyawan wanita yang melontarkan tarikan dibibir. Naluri polosnya menyatakan bahwa ia harus bersikap dan melakukannya juga, mengabaikan fakta jika wanita didepannya mendengus dan mulai berlagak tak suka dengan melotot marah kepada siapapun.
"Jangan membalas senyuman dari siapapun bocah!"
"Tapi kenapa noona?"
"Ingat peraturan keempat atau aku akan meninggalkanmu!" Donghae mendengus kecil lalu melanjutkan langkah. Tidak ada yang bisa dia lakukan selain menurut pada semua otoritas Hyuk Jae. Pria ini tersenyum kecil ketika mereka mulai duduk dan tangannya perlahan membuka kotak rantang yang berisi beberapa hidangan terbaik ibunya.
"Kau yang memasaknya?" Donghae menggeleng, tatapannya lurus kepada aktifitasnya menata makanan. Selagi Donghae sibuk pada kegiatannya, pandangan Hyuk Jae mengedar kesegala arah. Wanita ini menemukan kondisi janggal dimana keempat bawahannya, yang berada disudut kantin menatap mereka intens dari atas sampai bawah. Selain menatap mereka tajam, Hyuk Jae juga mendesis diam. Intimidasinya begitu tepat untuk membuat keempat orang bodoh itu lari kocar-kacir.
"Cha! Karena aku bilang aku sudah punya pacar, ibu memaksaku untuk memberikan ini padamu. Saat aku menunjukkan fotomu, dia bilang kau sangat cantik."
"Ini dari ibumu?" Raut wajah Hyuk Jae bertambah sinis, matanya berkilat kedepan sementara ia menjeda aktifitas jarinya untuk segera mengarahkan sumpit kearah mulut. Ternyata diam-diam Hyuk Jae masih menyimpan dendam. Ini bukan masalah dimana ia masih menyukai Young Woon dan berharap pria itu menyesal atas pilihannya lalu berbalik, wanita ini hanya merasa terlalu malu ditolak hanya karena Hyuk Jae bukan jenis yang Young Woon sukai sehingga ia merasa kalah atas kecantikan ibu Donghae. Dia akan memecahkan cermin jika cermin dirumahnya juga mengatakan hal yang sama. Ia benci dikalahkan—sekalipun faktanya memang begitu.
"Ibu sangat berharap kau memakannya."
"Hahh, baiklah."
"Mau kusuapi noona?"
"Kupukul kau! Hanya makan bagianmu!"
"Baiklah." Donghae larut pada kegiatannya menatap setiap inci wajah Hyuk Jae yang menguyah makanan. Dari cara wanita ini makan, tidak ada indikasi bahwa Hyuk Jae adalah wanita lemah lembut seperti apa yang ibunya harapkan. Hyuk Jae adalah wanita dinamis yang haus akan dominasi dan gairah. Jadi Donghae tahu wanita ini tidak mudah ditaklukan, ketika wanita itu mengunyah makanannya kasar—terlihat begitu cantik. Juga ketika wanita itu menutup mata, mendesis nikmat akibat kelezatan masakan ibunya, Donghae merasa beruntung telah datang dan membagi hidupnya dengan wanita ini. Ini pertama kalinya ia mencintai seorang wanita—bukan Eunhyuk Super Junior atau siapapun itu.
Ia menyeka sisa nasi disudut bibir Hyuk Jae, tersenyum lembut atas reaksi kejut wanita itu.
"Noona, kau sangat cantik."
"Aku tahu."
"Boleh aku minta ciuman?"
Hyuk Jae membulakan mata dan melepas pandangannya kesegala arah. Wajahnya memerah tanpa ia sadari dan wanita cantik ini menggenggam sumpit kuat.
"Ditempat seramai ini?"
"Kumohon." Hyuk Jae mendesah panjang sebagai jawaban. Kemudian ia mencondongkan wajah dan menutup mata, didetik berikutnya matanya kembali terbuka, mengamati bagaimana cara anak ini mendekat pelan kearahnya. Mencari posisi terbaik untuk menyatukan bibir, garis kemerahan Donghae bergerak pelan dan merekat pas dibibir tebalnya. Nyatanya, wanita ini memang agak mencintai pria ini.
"Saranghae."
.
.
.
3 Month later.
Gadis manis itu mengangkat wajahnya enggan dan mengaduk minuman digelas dengan canggung. Sejak tadi ia merasa ada yang menatapnya, entah ketika Sutradara Go itu permisi pergi sebentar ketoilet, aura dan kondisi ditempat ini jadi agak berbeda. Wanita bersurai sebahu ini menggidikkan bahu dan kembali menyeruput kopinya lantang. Ini pertama kalinya ia mendapatkan proyek film dan dengan sekuat tenaga yang ia miliki, ia akan menjadi penulis naskah paling kompeten di Korea selatan. Ia terkikik sebentar atas pemikiran konyol yang sering kali hinggap ketika semangatnya tengah menggebu. Memang benar dirinya adalah orang enerjik yang realistis, sampai saat ini Henry masih belum menunjukkan tanda-tanda bahwa ia akan jatuh cinta.
Ia hanya menikmati romansa dari kisah yang ia buat, belum berniat mencari pria yang mampu membuatnya gila seperti kakak keduanya.
"Permisi." Henry mendongak ketika suara lembut dan indah itu masuk tanpa izin ketelinga. Mata tikusnya membulat seketika dan nyaris terpental keluar ketika menyadari aktor Cina kesukaannya nampak didepan wajah.
"Zhoumi?!"
"Kau penulis naskah film kali ini?" Henry masih diam dengan mata yang mengerjap-ngerjap tak percaya. Tangannya lemas dan wajahnya kaku hanya untuk mengangguk. Sekedar menjawab, ia tak punya energi.
"Wah, masih sangat muda dan cantik!"
"N—ne?!"
"Kau tahu karena kita akan lebih sering bertemu nanti, aku yakin permintaan seperti ini pasti tidak akan tabu lagi. Apakah aku lancang jika aku meminta nomor ponselmu?"
.
.
.
Entitas cantik itu melangkah pelan, gerakannya lamat-lamat membelah jarak sementara matanya mengedar ke segala arah. Ia mendecak ketika tak ada seorangpun karyawan butiknya datang padahal jam sudah menunjukkan angka sepuluh. Ia menutup mobil kasar kemudian masuk sembari menenteng tas hitamnya anggun. Surai arangnya bergerak berlawanan dengan arah angin. Bibir merahnya merekah sempurna, tidak ada yang bisa mengabaikan bahwa wanita ini sangat cantik—dan ia beruntung terlahir sebagai wanita tercantik diantara kedua adiknya yang lain.
Matanya menangkap jaket kulit pria yang terpajang disudut butik, bibirnya melengkung penuh keatas dan masa lalu itu perlahan masuk memenuhi diri. Kibum mengaku bahwa dirinya wanita paling kaku sementara ia diciptakan sebagai orang yang kritis, dan para pria yang berkencan dengannya rata-rata mengeluh tentang itu. Tapi ada satu pria yang tetap pada cinta yang ia sebutkan, mengabaikan rajukan Kibum dengan kertas perceraian ditangan kemudian hanya bisa menghela nafas ketika Kibum mengambil keputusan untuk mengakhiri segalanya.
Dan yang terbaik dari dia, pria sempurna itu tetap menerimanya lantang ketika ia memilih untuk memulai lagi tanpa ada pertimbangan sebelumya. Kibum benar-benar wanita yang beruntung.
Kibum membuka cepat pintu kaca, dan ketika ia sudah masuk kedalam sana. Lampu-lampu mendadak hidup, gorden putih tiba-tiba terbuka dengan fakta bahwa seorang pria tengah berlutut didepannya, membawa cincin dan bunga mawar. Kibum makin dikejutkan saat gaun pengantin putih terpampang didepan mata. Lututnya melemas seketika dan klimaksnya adalah seorang Choi Siwon berteriak lantang.
"Maukah kau membina rumah tangga untuk yang kedua kalinya denganku, wanita tercantik di dunia Lee Kibum?"
"Bodoh! Tentu saja!" Dan kemudian karyawannya entah datang darimana, berteriak membawa terompet dan cake.
.
.
.
"Noona, kau pernah bilang kau berharap kau bisa menikah secepatnya dan punya anak sebanyak mungkinkan?" Hyuk Jae diam lalu mengangguk, roti daging ditangannya telah habis karena porsi lembur untuk akhir tahun adalah yang terburuk. Wanita itu merasa suara Donghae mendengung akibat rasa lapar yang mendera, setelah itu dia bergumam mengiyakan.
"Bagaimana jika aku bilang aku akan menikahimu?"
"Kau selalu mengatakan tentang itu Dongie-ah." Donghae diam, tangannya merayap kearah kantong dan meraih kotak kemerahan yang sejak dua minggu lalu ia simpan dilemari kamarnya. Ia meneguk ludah gugup, menimbang apakah Hyuk Jae akan berteriak 'Ya.' atau malah menendang bokongnya dan memaki dengan nada mengejek. Donghae butuh pertimbangan dan ibunya membantu dia dengan baik atas pilihannya.
"Jika aku serius?" Hyuk Jae diam, kertas roti yang ada ditangannya ia remas kasar. Obsidiannya menatap serius wajah Donghae. Peluh membanjiri wajahnya dan ia sudah termangu kaku. Ini pertama kalinya ada seorang pria, yang kurang dari enam bulan menyatakan tegas kesiapannya untuk membina rumah tangga bersama. Sebelumnya, ia hanya mendapatkan umpatan dari pria-pria dewasa karena mereka semua hanya mementingkan karir dan tidak menimbang atas usia yang nyaris kadaluarsa.
"Dongie-ah, kau serius? Kau masih terlalu muda untuk itu. Kita akan menikah ketika kau sudah lulus kuliah dan lebih matang." Donghae menggeleng sementara bibirnya mulai cemberut.
"Tapi itu lama sekali noona!"
"Kau masih muda, lupakan itu." Donghae meringis nyaris menggeram, kotak yang ia sembunyikan dibalik punggung makin digenggam dengan kuat. Ucapan Hyuk Jae kali ini merujuk pada penolakan dan dia takut.
"Apa noona tidak mencintaiku lagi?"
"Katakan itu, aku akan menenggelamkanmu di sungai Han sekarang juga."
"Kalau begitu terima ini!" Jemari Donghae membuka kotak kemerahan itu cepat, membiarkan Hyuk Jae tahu apa isinya kemudian tersenyum manis. Ia bisa melihat mata wanita itu berbinar sedangkan ada garis cair diantaranya. Hyuk Jae mendekap mulut dan nyaris berteriak histeris atas aksi Donghae.
"Ini memang tidak mahal, uangku habis untuk membelikanmu gaun pernikahan dan ayah bilang dia akan membiayai semua keperluan pernikahan kita. Aku akan membeli yang baru jika cincin ini jauh dari bayanganmu, tapi kali ini. Apa aku kau akan menerimaku?" Hyuk Jae mendesis histeris, jantungnya nyaris bertarung dengan aliran darah dan itu membuat wanita ini sesak. Menurutnya ini jauh dari kata romantis, tidak ada kue ataupun bunga mawar seperti yang Kibum ceritakan. Tidak ada lilin seperti kata Henry ketika aktor Cina itu menyatakan cinta padanya. Disini hanya dia dan dirinya. Donghae dan Hyuk Jae.
"Kau—kau tidak bercandakan? Ini bukan cincin palsukan?" Hyuk Jae mengusap air matanya kasar. Pandangannya ia satukan pada gerakan Donghae yang kini menggeleng dan tersenyum.
"Saranghae noona!" Hyuk Jae menarik nafas dalam, menyatukan cincin itu sembarang kejari manisnya kemudian berteriak lantang.
"Nado saranghae Lee Donghae!" Kemudian gerakan terakhir adalah, ciuman panas sebagai akhiran dari permintaan Donghae.
Wanita ini akan berhenti menjadi perawan tua yang idealis, membina semuanya dari awal dan melupakan apa itu cinta masa lalu. Karena sekarang dirinya tidak lagi butuh tiga puluh tiga jari untuk menunggu cinta yang takut membeku lalu datang kearahnya dengan enggan. Karena bocah polos seperti Dongie berhasil membuatnya jatuh cinta.
.
.
.
END
.
.
.
Mind to Review?
.
.
.
Author note:
Hello~ Adakah yang masih menunggu chapter terakhir dari ff ini? Dongie dan Hyuk Jae dateng lagi ^^! Maaf untuk ending yang buruk, ini pertama kalinya kami buat ff full fluffy romance! Jadi maaf kalo scene diatas sama sekali gak manis.
Maaf untuk ending yang tidak memuaskan, alur yang buruk, typos dan kesalahan lain yang mempengaruhi kualitas ff ini. Terimakasih atas partisipasinya dalam bentuk; reads, reviews, follows, dan faves. ^^ #Bow.
Adakah yang berminat untuk meninggalkan jejak di chapter terakhir kisah ini?
Sampai jumpa ^^.
Thanks to review: anchofishy| narty2h0415| Haenia Lee| NovaVishy| haehyukiddo| harukichi ajibana| hyukjae86| airi . tokieda| ichikaapriliana| rani. gaem. 1| shfly9 – Kim (Jumma bales kakao woe!)| Lan214EunhaElf| Anonymouss| reviewers| aiyu kie|
