Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
FUBUKI POV
"Permisi Fubuki-sama" Ucap Mizuki, kepala pelayanku pelan. Aku menghentikan pekerjaan kalkulasiku dan menatap padanya.
"Ada apa?" Tanyaku.
"Ada seseorang yang mengantarkan titipan Hishigi-sama. Boleh anda izinkan masuk?" Tanyanya. Mendengarnya, mataku sedikit melebar.
"Suruh dia masuk" Kataku. Mizuki membungkuk lalu undur diri. Aku pun kembali tenggelam dalam pekerjaanku. Tak lama kemudian terdengar langkah dua orang mendekat kearahku. Saat sohji dibuka, sosok dibaliknya seketika membuat mataku terbelalak. Matanya, rambutnya, benar-benar replika sempurna dari dia, satu-satunya wanita yang amat kucintai dalam hidupku.
"Fubuki-sama" Ujarnya. Aku pun kembali menapak kebumi dan menormalkan kembali air mukaku. "Ada titipan dari Hishigi sama" Katanya.
"Taruh disitu" Kataku menunjuk spot kosong disisi kanan mejaku. Pemuda itu berjalan mendekat dan menaruh gulungan cetak biru itu disana.
"Miau" Eong Furuba, kucingku. Furuba berjalan dengan santainya menghampiri Tokito dan mengeluskan badannya disekitar kakinya.
"Hei, kucing kecil" Katanya ramah sambill menggaruk kepala Furuba yang menengadah dan terus mengeong. Aku tertegun, Furuba tidak pernah begitu kecuali padaku. "Siapa namanya, Fubuki-sama?" Tanyanya.
"Furuba" Jawabku.
"Hello Furuba...kau sudah makan?" Tanya Tokito lagi yang disambut eongan manja Furuba. "Hihi, kau terlihat seperti Hishigi-sama, ah!" Ujar Tokito refleks menutup mulutnya dan menatap padaku. "J-jangan bilang sama Hishigi-sama, ya, kumohon Fubuki-sama" Pintanya. Aku menghela nafas lalu tersenyum tipis.
"Dilihat-lihat memang mirip, sih" Komentarku. Tokito terkikik geli sementara Furuba mengeluskan kepalanya dengan manja pada Tokito.
"Aku permisi Fubuki-sama" Katanya undur diri. Aku pun menangguk dan menatap kepergiannya. Kulihat Furuba yang kembali menaiki meja dan berjalan kearahku. Kucing berwarna hitam dengan telinga kanan berwarna putih ini mendengkur disebelah lenganku.
"Hei, apa kau memiliki pikiran yang sama denganku?" Tanyaku yang disambut eongan Furuba. Haah, kenapa pula aku jadi ikut-ikutan bicara pada Furuba seperti dia?.
END FUBUKI POV
.
.
.
Jemari mungilnya dengan cekatan menuliskan kata-demi kata dalam secarik kertas. Ditemani suara jangkrik dan bulan yang bersinar terang dilangit malam, Tokito membaca ulang surat yang akan dikirimkan pada ibunya sebelum ia masukan kedalam amplop. Sebuah rutinitas bulanan yang dilakukan untuk mengobati kerinduannya pada sang bunda. Semua dia ceritakan termasuk pekerjaannya. Walau sang ibunda sempat menentang namun Tokito meyakinkan bahwa dia bekerja bersama orang-orang baik yang menjaganya. Pada akhirnya Hitoki pun luluh dengan keteguhan anaknya.
"Menulis surat untuk ibumu?" Tegur Muramasa.
"Iya oji-san" Jawab Tokito. Ia memasukan kertas surat dalam amplop lalu mengelemnya. Muramasa bergabung bersama Tokito menikmati angin malam. "Oba-san sudah tidur?" Tanyanya.
"Ya, dia kelelahan sehabis pertemuan organisasi" Jelas Muramasa. Tokito manggut-manggut. "Bagaimana kabar ibumu?" Tanyanya.
"Ibuku baik-baik saja, habis bulan ini aku mau menjenguknya sebentar. Apa boleh?" Tanyanya.
"Tentu" Jawab Muramasa. Tokito tersenyum senang. "Kau pasti sangat menyayangi ibumu" Katanya.
"Sangat, aku hanya memiliki ibuku" Kataku. Muramasa terhenyak, ia terdiam menunggu Tokito menceritakan kelanjutannya. "Aku sejak kecil tidak pernah mengetahui siapa ayahku, atau seperti apa beliau, apa beliau masih hidup pun aku tidak tahu" Katanya sendu. "Tapi...tiap kali ada pria lain mendekati ibuku, ibu selalu tidak menggubrisnya. Ibu masih mencintai ayah" Lanjutnya. Muramasa terdiam lalu menghela nafasnya.
"Kau membenci ayahmu?" Tanya Muramasa.
"Benci?" Ujar Tokito. Ia terdiam beberapa detik. "Aku sangat ingin bisa membencinya. Tapi...melihat ibu begitu mencintainya, aku...aku tidak bisa" Ujarnya. Bulir bening sudah menggenang dipelupuk matanya namun cepat-cepat disekanya.
"Kau anak baik" Ujar Muramasa seraya menepuk pucuk kepalanya. Tokito tersenyum getir. "Nanti, boleh oji dan oba-san ikut pulang bersamamu? Kami ingin membuat ibumu tenang kalau kau dijaga oleh kami disini" Lanjutnya. Tokito mengangguk semangat. Tampaknya keluarga kecilnya akan bertambah besar dengan kehadiran oji dan oba-san nya.
.
.
.
TOKITO POV
Akhirnya tibalah waktuku untuk pulang. Sudah semenjak pagi aku mempersiapkan kuda dan kuda untuk Muramasa juga Mayumi. Jantungku berdebar kencang, tak sabar rasanya ingin cepat-cepat pulang dan menemui ibuku. "Sudah siap?" Tanya Muramasa yang menghampiri istal diikuti Mayumi. Aku mengangguk. Kugiring tiga ekor kuda keluar. Tsuki pun tampak bersemangat karena sebentar lagi akan bertemu Sutaa.
Muramasa dan Mayumi menaiki kudanya masing-mashng sementara aku menaiki Yuki. Dengan sekali hentakan kami pun memacu kuda membelah jalanan menuju rumahku.
END TOKITO POV
.
.
.
HISHIGI POV
"Tokito, bawakan cetak biru sistem irigasi dimeja lab-ku" Sahutku. Beberapa detik berlalu namun tak terdengar jawaban darinya.
"Kau merindukannya sampai-sampai berhalusinasi dia masih ada?" Ujar Fubuki retoris yang baru masuk ke ruang rapat dan bergabung denganku. Ah iya aku lupa, dia dan Muramasa izin pulang kampung selama seminggu.
"Aku hanya belum terbiasa" Kataku. Fubuki diam sementara aku kembali hanyut memperbaiki cetak biru untuk sistem pemupukan.
"Hishigi, apa kau percaya firasat?" Tanyanya. Aku menghentikan kegiatanku dan memandangnya.
"Secara psikologis kita memang dibekali kemampuan itu. Semua makhluk hidup memilikinya. Itu yang disebut insting" Kataku
"Aku memiliki firasat kalau dia masih hidup" Katanya. Kini giliranku yang diam. Tentu aku mengetahui siapa yang dimaksud sahabatku. Selama puluhan tahun kami tabu memanggil namanya karena hanya akan membuka luka lama, terutama bagi sobatku ini. "Keujung dunia sekalipun...aku tidak akan melepaskannya" Lanjutnya. Tangannya mengepal dan matanya menyiratkan sifat posesif bercampur kerinduan yang amat dalam. Sudah dua puluh satu tahun tak kulihat kehidupan dimata sahabatku semenjak ia ditinggal satu-satunya wanita yang ia cintai. Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kulihat secercah kecil kehidupan dalam sorot matanya. Secercah yang masih teramat lemah yang mampu mati hanya dengan sapuan angin lembut.
END HISHIGI POV
.
.
.
Hamparan padang rumput yang menguning menemani sepanjang perjalanan. Dua hari sudah terlewati dan sebentar lagi mereka akan sampai ditujuan. Sebuah rumah mungil diatas bukit dengan cerobong asap mengepul sudah tampak dalam penglihatan. Tak ada yang lebih menyenangkan dimata Tokito selain pemandangan itu.
Akhirnya sampailah mereka depan sebuah gubuk sederhana. Tokito turun dari atas kudanya begitu pula Muramasa dan Mayumi. "Maaf kalau kurang nyaman" Ujar Tokito pada dua tamunya.
"Obaa-san justru ingin punya rumah tengah gunung begini" Ujar Mayumi seraya menghirup dalam-dalam udara segar khas pegunungan. Tokito tersenyum simpul.
"Tadaima" Salam Tokito.
"Okaerinasai" Jawab Hitoki dari dalam. Sohji dibuka dan tampaklah wanita ayu dalam balutan kimono tradisional. Iris serupa berlian kuningnya melebar melihat siapa tamu yang datang bersama anaknya.
"Ibu, ini Mayumi-san sama Muramasa-sama..." Belum selesai Tokito memperkenalkan diri, Muramasa sudah menghambur memeluk Hitoki. Mayumi pun terlihat menangis sambil berkali-kali mengucap, "Syukurlah". Tokito yang tidak mengerti situasinya memandang bingung pada peristiwa yang terjadi didepannya.
.
.
.
tbc
(a/n) Daan satu per satu fakta pun mulai terungkap. Semakin bikin penasaran kan? wehehe
Silakan tekan tombol next chapter untuk mengetahui kelanjutannya ;)
Mind to RR? Review anda semangat saya :')
