Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.

All OC character belong to me :3

Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')

Let The Story Begin...

.

.

.

TOKITO POV

"Begitu" Ujar Hitoki menutup penjelasannya. Aku terdiam mencerna seluruh informasi yang datang kepadaku dalam tempo singkat ini. Jadi intinya aku tahu kalau Muramasa dan Mayumi benar-benar paman dan bibiku. Segurat senyuman terlukis diwajahku, aku senang ternyata dua orang yang sangat baik ini benar-benar keluargaku.

"Kenapa oji-san gak bilang...oji-san udah tau, kan?" Tanyaku. Muramasa menghela nafasnya.

"Aku...hanya tidak mau kecewa untuk kesekian kalinya, Tokito. Aku sudah mencari kalian selama lima belas tahun dan sia-sia" Jelasnya. Aku terdiam. Kurasakan Mayumi memelukku lalu mencium pucuk kepalaku.

"Yang penting kalian baik-baik saja." Ujarnya. Aku hendak mengeluarkan suara dan bertanya tentang ayahku namun urung kulakukan. Pertemuan ini saja pasti sudah mengguncang ibuku. Kuputuskan menyimpan pertanyaanku untuk diriku saja.

.

.

.

HITOKI POV

"Kau yakin tidak mau pulang?" Tanya Muramasa. Aku termenung sebentar lalu menggelengkan kepala.

"Aku sudah dirumah, nii-san" Kataku. Muramasa terdiam, ia menghela nafasnya. Kutatap Tokito yang sudah tertidur pulas dalam pelukan Mayumi.

"Dia menginginkan kalian pulang" Muramasa. Rahangku mengeras. Ingatan ketika aku keluar dari istana 21 tahun silam pun kembali muncul.

"Aku tidak akan lupa tatapannya itu...tatapannya yang tidak menginginkanku dan Tokito" Ujarku. Kugigit bibir bawahku menahan gejolak amarah yang berkecamuk didada. "Kumohom, jangan beritahukan tentangku padanya, ataupun Tokito. Aku...aku sudah terlalu banyak menyusahkannya...akuu..." Kata-kataku lenyap oleh air mataku sendiri. Walau aku membenci lelaki yang sudah membuatku dan Tokito menjalani hidup seperti ini, jauh dilubuk hatiku aku masih amat mencintainya.

"Kau yakin ini yang terbaik?" Tanya Muramasa. Aku mengangguk pelan.

"Ya...lebih baik begini" Kataku lirih.

END HITOKI POV

.

.

.

Tiga hari yang amat singkat, tak terasa sudah waktunya untuk pulang. Hitoki dan Mayumi berpelukan sementara Muramasa menempelkan kertas mantra yang lalu melesap masuk kedalam dinding kayu rumah. Fungsinya menghalau niat jahat orang atau binatang yang akan mencelakakan Hitoki, tak lupa pedang kecil untuk dibawa-bawa dengan fungsi serupa. "Titip Tokito ya, nee-san, nii-san" Ujar Hitoki sambil memeluk Muramasa. Muramasa mengangguk.

"Jaga dirimu, kalau ada apa-apa cepat hubungi kami" Pesan Muramasa. Hitoki mengangguk faham. Selesai berpamitan, berangkatlah mereka kembali ke istana onmyouden.

.

.

.

TOKITO POV

Kuusap peluh yang bercucuran membasahi dahiku. Sudah kesekian kalinya aku bolak-balik lab. Hishigi-istana Fubuki. Mungkin karena Hishigi pun tidak memiliki pelayan, otomatis aku pun merangkap jadi pengawal elit plus asisten plus pelayan. Walhasil aku harus rela bolak-balik sampai kakiku terasa gempor. "Huah, capee" Sahutku sambil menjatuhkan diriku diatas bantalan duduk depan meja kerja Muramasa.

"Hmph, Hishigi kangen kali seminggu gak ada kamu, makanya nyuruh-nyuruh terus" Celetuk Muramasa yang memancing gerutuan kesal dariku.

"Oji-san siih, bikin proyek rakus amat" Kataku menyalahkan ketua Taishiro yang juga pamanku ini. Semenjak tahu bahwa Muramasa pamanku, aku pun jadi lebih leluasa padanya.

"Hmp, tapi kau senang, kan?" Tanyanya sambil smirk.

"Se-senang apanya!?" Sahutku dengan kedua pipi merona.

END TOKITO POV

.

.

.

HISHIGI POV

"Ini, Hishigi-sama" Ujar Tokito menyerahkan sebuah map padaku yang langsung kuterima dan kucek isinya. Kulambaikan tangan padanya, sebuah gestur pertanda dia bisa pulang sekarang. Tokito membungkukan badannya lalu pamit undur diri. Selepas dia pergi, kesunyian pun kembali menyapa. Hanya terdengar suara goresan penaku memecah keheningan. Aku berkonsentrasi menggambar pipa irigasi beradasarkan data pembaharuan hasil riset lapangan dari Fubuki.

"Hishigi-sama" Sahut Tokito mengagetkanku. Kalau saja penaku sedang menapak, sudah pasti gambarku tercoret.

"Bukankah sudah kuajari kau untuk mengetuk?" Tanyaku dengan nada kesal. Tokito malah nyengir, sepertinya dia sudah kebal denganku.

"Hishigi-sama sudah makan? Ini aku buatkan kue strawberry" Katanya seraya menaruh sepiring kue strawberry diatas mejaku. Dahiku mengernyit, cowok bisa masak?.

"Aku tidak suka makanan manis" Kataku pendek. Tokito menggembungkan pipinya kesal.

"Ya sudah, mau gak dimakan juga terserah. Aku permisi" Katanya lalu segera pamit undur diri. Kini tinggallah aku dan kue strawberry itu diatas meja. Kuakui, penampilannya cukup menggoda dan aromanya pun mengundang selera, bahkan untuk pembenci makanan manis sepertiku.

Pada akhirnya aku pun menyerah pada keinginan perutku yang sudah teriak minta diisi sejak pagi. Aku memang tipe yang bisa lupa makan kalau sudah tenggelam dalam pekerjaan. Muramasa saja sampai mengomeliku agar makan teratur. Dan kini hadir Muramasa versi miniatur yang jauh lebih berisik. Walau dalam hati aku bersyukur juga, setidaknya ada yang masih peduli padaku. Hm, kuenya enak juga.

END HISHIGI POV

.

.

.

"Haaaah" Tokito menghembuskan nafas nikmat seraya menikmati pemandian air panas tempatnya berada sekarang. Hishigi mendapat undangan presentasi dari kota sebelah untuk sistem irigasi sawah. Dan bisa ditebak, hotel tempat menginap tentu hotel kelas atas dan kamar suite paling bagus yang ada disana. Kebetulan majikannya itu sedang presentasi sampai malam jadi Tokito bisa leluasa menggunakan kolam air panas pribadi ini.

Empat bulan sudah Tokito bekerja untuk Hishigi dan sudah selama itu pula ia menyembunyikan identitasnya. Dia tidak tahu apa Hishigi tidak curiga atau apa, yang penting selama ini identitasnya masih aman. 'Pyuk' Tiba-tiba Tokito merasakan air beriak seperti ada sesuatu yang berat masuk kedalamnya. Saat ditolehkan kepalanya kearah sumber, matanya terbelalak.

"Hishi...Hishi...Hishigi-sama!" Sahutnya terkejut. Hishigi cuma melirikan matanya sedikit lalu kembali hanyut dalam kesunyian. Sementara Tokito? Jantungnya berdetak kencang. Kedua tangannya menyilang dan menekan dadanya. Memohon setengah mati agar majikannya ini tidak menyadarinya. Ia menenggelamkan tubuhnya hingga sebatas leher. Berharap air dapat menutupi kejanggalan dalam tubuhnya. "B-bagaimana presentasinya?" Tanya Tokito berusaha mencairkan suasana.

"Begitu saja" Jawabnya pendek seraya membasuhkan air pada rambut hitamnya. Keheningan pun lalu menyergap.

"Apa...semua baik-baik saja?" Tanya Tokito menangkap raut kesedihan dari wajah majikannya.

"Yeah..." Jawab Hishigi pendek. "Hanya ada orang bodoh yang mengejek hasil kerjaku" Lanjutnya. Tokito memandang Hishigi lalu menundukan wajahnya.

"Well, akan selalu ada orang seperti itu." Katanya. Hishigi dengan berat menghela nafasnya. Rupanya penghinaan yang didapatnya menohok tepat harga diri si jenius ini. "Ambil saja positifnya, Hishigi-sama jadi tahu kekurangan sistemnya, kan? Jadi masih bisa diperbaiki" Lanjut Tokito berusaha menghibur.

"Jadi kau mendukung orang bodoh itu?" Tanya Hishigi.

"E...eeh bu-bukan" Sangkal Tokito cepat. Aduuh, situasinya kok jadi runyam gini.

"Hmp, aku mengerti...terima kasih" Ujarnya. Iris amber Tokito melebar, perutnya serasa tergelitiki sesuatu yang tak kasat mata. Selama bekerja jadi pengawal tunggal Hishigi, tidak pernah sekalipun ia menerima ucapan terima kasih dari tuannya ini. Dan begitu mendengarnya, rasanya... "Hei, apanya yang lucu?" Tanya Hishigi keheranan. Tokito menggelengkan kepalanya namun senyum belum menghilang dari wajahnya. Hishigi menenggelamkan badannya hingga sebatas leher sama seperti rekannya. Tokito menggeserkan tubuhnya agak menjauh dari tuannya itu, hanya untuk berjaga-jaga.

.

.

.

tbc


(a/n) End of chapter 8

Jujur aja ini fic pertama yang mengangkat multi konflik. Jadi sengaja author angkat satu, tenggelemin, angkat yang lainnya (mohon maaf kalau istilahnya ndak ngerti, pokokna gitu weh ._.). Gomen kalau masih banyak kurangnya.

Mind To RR? Review anda semangat saya :3