Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.

All OC character belong to me :3

Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')

Let The Story Begin...

.

.

.

MURAMASA POV

"Sepi, ya" Suara bariton Fubuki memecah keheningan ruang pertemuan Taishiro. Aku menghela nafas sambil tersenyum simpul.

"Kalau yang kau maksud Hishigi, bukannya dia sama diamnya seperti keadaan sekarang?" Tanyaku retoris. Fubuki menghela nafasnya. Ia menaruh pena yang semenjak tadi digenggamnya dan meluruskan tulang punggungnya.

"Kau benar mengenai anak baru itu" Ujar Fubuki.

"Maksudmu Tokito?" Tanyaku. Fubuki hanya menjawab dengan senyuman tipis.

"Kalaulah anak itu lahir, mungkin sekarang sudah seumuran dia, ya?" Ujarnya menerawang. Aku terdiam, kutatap iris legam yang sarat akan kerinduan itu. "Kalau dia laki-laki mungkin akan sepertiku, menjadi samurai handal. Tapi kalau dia perempuan, mungkin akan jadi wanita incaran lelaki seperti ibunya" Lanjut Fubuki lagi.

"Fubuki..." Kataku mengambang. Fubuki menghela nafasnya.

"Kalau saja waktu dapat diputar" Ujarnya lirih. Aku menunduk memandang kosong pada perkamen yang tengah kupelajari. Batinku diserang dilema, disatu sisi aku ingin memberitahukan kebenarannya, tapi disisi yang lain pun berkata bahwa aku harus menahan semua kebenaran itu.

"Aku yakin mereka baik-baik saja" Kataku akhirnya.

"Yeah, kuharap" Jawabnya seraya menerawang keangkasa.

"Kau jadi banyak bicara, ya" Celetukku. Fubuki terkekeh pelan.

"Well, karena ada miniatur dirimu yang super cerewet itu. Mungkin aku ketularan" Ujarnya. Aku tertawa terbahak, tentu aku tahu siapa yang dimaksud.

"Miniaturku, hm? Kurasa tidak juga" Kataku memasang pose berpikir.

"Hmp, terserah" Balas Fubuki sambil meraih penanya dan kembali meneruskan kerjaannya. Aku tersenyum menatap sobatku yang paling kupercayai lebih daripada siapapun. Semoga akhir yang baik akan menghampiri mereka.

END MURAMASA POV

.

.

.

"Hishigi-sama" Panggilan Tokito yang kesekian kalinya ini tak didengar. Yang dipanggil malah hanyut mengamati market yang berada dalam kotak kaca dalam museum dikota Edo. Hishigi menggambar ulang model market tersebut dalam kertas yang dibawanya. "Hishigi-sama, museumnya mau tutup" Ujar Tokito lagi merasa ngeri dengan tatapan tajam petugas keamanan museum. Namun lagi-lagi yang dipanggil tidak mengacuhkannya. "Hishigi-sama" Ujarnya lagi.

"Ck, berisik" Ujar Hishigi berdecak pelan lalu pergi. Walau kena marah tuannya, setidaknya Tokito tak harus mendapat tatapan tajam petugas keamanan yang nyeremin itu. Langit sudah menjelang sore ketika mereka keluar dari museum itu. Tokito mengekori tubuh jangkung majikannya yang sibuk mengamati hasil karyanya walau tengah berjalan ditengah jalanan Edo yang ramai.

Saat dalam perjalanan, tanpa sengaja mereka melewati sebuah kedai minum teh yang lumayan ramai. "Hishigi-sama, mau minum teh dulu?" Tanya Tokito. Tak dapat dipungkiri, udara dingin diakhir musim gugur membuat perutnya keroncongan lebih cepat.

"Gak" Jawab Hishigi singkat, padat dan jelas. Tokito menggerutu.

"Tapi aku mau" Ujarnya. Hishigi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap pemuda berisik yang harus dihadapinya setiap hari ini.

"Aku benci tempat ramai, Tokito" Ujarnya menekankan empat kata pertamanya.

"Tapi Tokito mau" Ujarnya bersikukuh.

"Pergi saja sendiri" Ujar Hishigi sambil berbalik meninggalkan pengawalnya itu kembali ke hotel.

.

.

.

HISHIGI POV

Dasar merepotkan, selalu saja keras kepala. Dengan kesal aku membanting tubuhku keatas sofa dikamar hotel. Kupijit-pijit keningku yang serasa berdenyut-denyut dari tadi. Oh ya, aku belum makan. Karena terlalu fokus memperbaiki kesalahan dan sistem irigasi dan pemupukanku, aku sampai lupa makan. Kucoba memejamkan mata, berharap aku akan jatuh tertidur dan terbangun esok paginya lalu tinggal sarapan direstoran hotel. Namun betapapun kerasnya aku berusaha tidur, tetap saja perutku yang selalu teriak ini tidak membiarkanku jatuh tidur.

'TUK' Suara benda ditaruh dimeja depan mengalihkan perhatianku. Kulihan Tokito menaruh sebungkus makanan dimeja depanku. Aku kira ia memakannya langsung dikedai. "Ini, Hishigi-sama belum makan, kan?" Tanyanya seraya berlalu. Aku terdiam memandangi bungkusan makanan itu. "Aku mana bisa tenang makan sendirian disana. Sudah ah aku mau tidur" Sambungnya lalu masuk kedalam kamar tempatnya tidur. Keheningan kembali menyergap. Perlahan segurat senyuman tipis terlukis diwajahku.

"Arigato" Bisikku lirih nyaris tak terdengar. Terima kasih, untuk yang kesekian kalinya.

END HISHIGI POV

.

.

.

TOKITO POV

Suara gemericik air dari kolam ikan menjadi pengantar melodi paling sempurna untuk tidur. Hari ini aku tengah menikmati waktu istirahatku yang sangat berharga dengan tiduran diteras rumah pamanku. "Mau?" Suara lembut Mayumi menyadarkanku dari keadaan setengah tidur. Kulihan sepiring kue beras yang masih hangat disodorkan padaku. Dengan semangat aku menyambar dua buah sekaligus dan mengunyahnya kedalam mulutku yang sebenarnya tak seberapa ini.

"Hmp, pelan-pelan, sayang" Ujar Mayumi seraya membersihkan remah-remah yang mengotori baju dan wajahku. Aku merona merah karena malu.

"Obaa-san" Kataku.

"Hm?" Jawabnya.

"Apa...obaa-san sudah lama berada disini?" Tanyaku.

"Yap, lumayan" Jawabnya.

"Kalau begitu obaa-san tahu siapa ayahku?" Tanyaku polos. Mayumi mendadak diam, sementara aku pun tegang menanti jawabannya.

"Satu hal yang obaa-san tahu, ayahmu itu sangat menyesal kini" Ujarnya.

"Menyesal? Karena sudah membuangku dan ibu?" Tanyaku. Dadaku serasa sesak mengucapkan pertanyaan itu.

" Tidak, ayahmu tidak pernah ada niat membuang kalian " Kilah Mayumi.

"Lalu kalau dia menyesal, kenapa dia tidak membawa kami pulang?" Tanyaku penasaran.

"Entahlah. Mungkin ibumu belum siap" Jawab Mayumi bijak. Aku terdiam merenung.

"Apa...ayah sampai sekarang masih mencintai ibuku?" Tanyaku lagi. Mayumi tersenyum lalu mengangguk.

"Ayah dan ibumu saling mencintai" Katanya. Mendengar jawabannya kelegaan serasa meliputi dadaku.

"Syukurlah" Kataku. Mayumi mengelus pucuk kepalaku. "Selama ini aku tahu ibu masih mencintai ayahku. Aku lega karena ibu tidak mepasakannya sendirian" Sambungku. Mayumi tersenyum, diciumnya keningku dengan sayang. "Obaa-san, apa nanti kalau ketemu ayah, ayah akan mau menerimaku?" Tanyaku lagi.

"Well aku yakin kau yang akan jadi kesayangannya" Jawab Mayumi.

END TOKITO POV

.

.

.

FUBUKI POV

"Apa!?" Tak dapat kusembunyikan keterkejutanku mendengar pengakuan wanita yang amat kucintai ini.

"Fubuki, ini anakmu" Ujarnya. Rahangku mengeras mendengarnya, entah setan apa yang merasukiku kala itu yang membutakan mata hatiku.

"Bukankah sudah kubilang...aku tidak menginginkan anak darimu!?" Tanyaku dengan nada tertekan tanda menahan amarah.

"Lalu kau ingin aku membunuhnya!? Anak ini berhak hidup dan tak seorangpun berhak membunuhnya termasuk kau!?" Sahutnya. Air mata bercucuran membasahi kedua pipinya. Aku terdiam, lalu membelakangi sosoknya yang tampak begitu rapuh. "T-tidakkah...kau iba padaku...? Pada adik sahabatmu? Pada anak ini? Darah dagingmu sendiri?" Isaknya. Seakan setan itu pun sudah menulikan telingaku. Isak tangisnya yang mengiba sama sekali tidak mengusik nuraniku.

"Pergi...aku tidak mau melihatmu lagi" Kataku.

.

.

.

Itulah terakhir kali aku bertemu sosoknya. Sosok yang selalu menghantuiku selama dua puluh satu tahun kehilangannya. Kata orang penyesalan selalu datang belakangan, dan itu benar adanya. Aku saat itu masih terlalu muda dan takut mengemban tanggung jawab menjadi seorang ayah serta suami untuknya. Tak kusangka itu jadi penyesalan terbesarku seumur hidup. Dan tampaknya Kami-sama pun seakan marah padaku dengan tidak membiarkanku menemukannya. Aku ingin menatap mereka, menyentuh mereka, dan berbicara pada mereka. Sekalipun itu hal terakhir yang kulakukan dalam hidupku.

"Fubuki-sama" Suara Tokito menyadarkanku dari lamunanku sendiri. Sosok tegap mungilnya berdiri diambang pintu seraya membawa gulungan kertas dan beberapa lembar perkamen. "Dari Hishigi-sama" Katanya. Aku mengangguk dan menunjuk tempat kosong dimeja kerjaku. Tokito berjalan dan menaruhnya ditempat yang kutunjuk.

END FUBUKI POV

.

.

.

tbc


(a/n) Eaaa konflik mulai memanas saudara-saudara x3

Disini mungkin udah keliatan banget spoilernya. Yaah author udah usaha semaksimal mungkin buat gak nunjukin walau author akui susah sih ._.

anyway RR please? Review anda semangat saya :3