Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
TOKITO POV
"Kau memiliki keluarga?" Tanyanya. Aku sedikit terkejut. Sangat jarang Fubuki berbicara personal padaku. Beliau nyaris sama diamnya dengan Hishigi, walau Fubuki lebih mendingan.
"Um, ya. Aku punya ibu dikampung" Kataku canggung.
"Oh...hanya ibumu?" Tanyanya lagi. Aku mengangguk. "Ayahmu, kemana dia?" Tanyanya.
"Ayahku...aku tidak pernah tahu seperti apa dia...atau siapa sosoknya" Jawabku jujur. Fubuki terdiam, kepalanya menunduk dan pandangan matanya sendu.
"Apa kau membencinya?" Tanyanya lagi. Aku terhenyak, kugigit bibir bawahku. Entah kenapa aku gugup menjawabnya.
"Aku tidak bisa walau ingin" Kataku pendek. Kuhirup nafas dalam-dalam. "Ibuku amat mencintai ayahku. Tak ada alasan bagiku untuk membenci ayahku" Jawabku pendek.
END TOKITO POV
FUBUKI POV
Mendengar jawaban yang meluncur dari bibirnya, entah kenapa, serasa mengangkat sebagian beban yang menghimpit dadaku. Aku menghela nafas lega dan tersenyum tipis. Kutatap Tokito yang memandangku bingung. "Siapapun ayahmu, dia pasti bangga memilikimu dan ibumu" Ujarku. Seketika kedua pipinya merona. Pemuda itu tersenyum malu-malu.
"T-terima kasih" Katanya.
"Tidak, aku yang terima kasih. Kau boleh pergi" Kataku. Tokito membungkukan badannya lalu pamit undur diri.
END FUBUKI POV
.
.
.
TOKITO POV
Huaaah, lagi-lagi Hishigi menyuruhku bolak - balik istana para Taishiro. Kalau ibarat setrika, aku pasti sudah panas bolak-balik dari tadi. Akhirnya setelah bolak-balik yang kesekian kalinya aku pun bisa beristirahat. Kedua telapak tanganku serasa berdenyut-denyut. Dilorong, aku duduk seraya meluruskan kedua kakiku. Untunglah istana sebesar ini hanya dihuni sedikit orang jadi aku tak perlu malu selonjoran begini. "Tokito-san, Hishigi-sama manggil" Ujar Hiro, pengawal elit Muramasa.
"Bisa tolong gantikan, Hiro-san?" Pintaku.
"Aku tadi sudah menawarkan. Tapi katanya dia maunya sama kamu" Ujar Hiro sambil berlalu. Aku menghela nafas. Huuh, punya majikan repotnya minta ampun. Maka kupaksakan kakiku untuk berdiri dan berjalan menghampiri istana majikanku itu. Karena perban yang kulilit untuk menekan buah dadaku, membuat nafasku lebih cepat terengah-engah.
"Permisi Hishigi-sama" Kataku. Hening, tak ada jawaban dari dalam. Kuberanikan diri masuk kedalam dan mendapati sosoknya tengah tertidur dimeja kerja. Dengan mengendap-endap aku berjalan menuju mejanya. Matanya terpejam dan nafasnya naik turun teratur. Rasanya jadi malu, kalau aku capek, Hishigi dan yang lainnya pasti lebih capek. Aku mencari-cari dan mendapati selimut yang biasa digunakannya. Karena workaholic, istana ini berfungsi sebagai tempat tinggalnya juga.
Kuselimutkan menutupi punggungnya lalu menutup jendela yang terbuka. Berhubung cuaca bersalju dan tak ada matahari, bisa-bisa masuk angin lagi. Terdengar lenguhan pelan dan tampaknya Hishigi terbangun. Matanya masih terlihat sayu. "Sudah bangun, Hishigi-sama?" Sapaku. Hishigi diam, ia meraih tumpukan perkamen dan menyerahkannya padaku.
"Susun alfabetis" Ujarnya singkat. Aku pun menerimanya lalu menuju sisi lain meja kerjanya yang kosong. Sambil menyusun, kulihat Hishigi memijat kepalanya.
"Mau kubuatkan teh?" Tawarku. Hishigi menggelengkan kepalanya. Aku mengangkat alis lalu kembali hanyut dalam tugasku. Kuperhatikan lagi wajah majikanku sedikit memerah, matanya pun berair dan nafasnya pendek-pendek. "Hishigi-sama, istirahat dulu, deh" Tawarku. Hishigi tidak menjawab. "Hishigi-sama" Kataku lagi. Masih tidak ada jawaban. "Hishigi-sa..." "Berisik!" Bentaknya. Aku terdiam. Ia lalu membanting pena dan beranjak pergi kedalam labnya, tak lupa menutup pintunya dengan membantingnya juga. Aduh gawat, kayaknya dia benar-benar marah.
Karena tidak mau berpisah dalam keadaan gak enak, aku pun memutuskan untuk menyusulnya. Pelan-pelan kubuka pintu labnya dan tampak Hishigi tengah berdiri seraya bertumpu pada meja dengan kedua tangannya. "Hishigi-sama" Panggilku pelan seraya mendatanginya. Hishigi cuma melirikan matanya sedikit tanpa berkata apa-apa. "Istirahat ya, sebentar saja" Pintaku setengah memohon.
"Kenapa...?" Lirihnya pelan. Aku mengangkat alis tidak mengerti. "Aku bisa menggantimu kapan saja, kenapa kau peduli padaku?" Lanjutnya.
"Kata ibuku, kalau ada yang butuh bantuan, harus ditolong. Kalau ada yang sakit harus diobati" Kataku singkat. Hishigi diam, kuberanikan merangkul tangannya. Ajaib, Hishigi mau kutuntun menuju kamarnya yang terletak sebelah lab. Dalam diam, Hishigi tidur dan menurut saja saat kuselimutkan. Aku beranjak sebentar untuk mengambil baskom dan handuk kecil.
END TOKITO POV
HISHIGI POV
Dengan telaten tangan mungil itu memeras lalu menaruh handuk setengah basah diatas keningku. Pandanganku berkunang-kunang dan kepalaku terasa pening. Tadinya aku ke lab hendak mengambil suplemen untuk memperkuat tubuhku, namun entah kenapa tubuhku menurut saja saat Tokito menuntunku menuju kamar. "Ambilkan suplemen milikku, aku harus menyelesaikan cetak birunya hari ini" Kataku.
"Jangan bergantung pada obat, Hishigi-sama. Istirahat saja, biar aku yang bicara sama Fubuki-sama dan Muramasa-sama" Ujarnya. Karena rasa pening yang tak tertahan, aku mengeratkan kedua mataku dan melenguh pelan karena rasa tak nyaman disekujur badanku. Ah memalukan sekali, tampaknya tubuhku mogok sekarang. Terpaksa aku pun mengalah dan menuruti kata-katanya. Mungkin memang itu yang paling kubutuhkan.
.
.
.
Saat mataku perlahan terbuka, sosok yang pertama kutangkap adalah pengawal elitku. Ia tengah meletakan nampan berisi makanan dinakas samping tempat tidurku. Aku hendak memanggilnya, namun yang keluar cuma lenguhan pelan yang menurutku terdengar sangat memalukan. "Sudah bangun, Hishigi-sama?" Tanyanya. Aku diam saja. "Aku sudah buatkan bubur, mau makan sendiri atau disuapi?" Tanyanya. Disuapi sama cowok, yang benar saja!?. Dengan susah payah akupun duduk dan meraih mangkuk bubur yang sudah dibuatkannya.
"Aku baru lihat ada laki-laki yang senang masak" Komentarku sambil memakan buburnya.
"Ng...yeah. Habis dirumah cuma ada ibu dan aku, sih, hahaha" Jawabnya sambil tertawa garing. Aku diam, tetap konsentrasi melahap bubur. Selesai melahap bubur dan minum segelas air, segera kubaringkan tubuhku. Tokito terlihat tengah membereskan sisa alat makanku.
"Hei" Panggilku pelan. Tokito mengalihkan pandangannya padaku.
END HISHIGI POV
.
.
.
TOKITO POV
Tangan besarnya tiba-tiba saja menyentuh pipiku. Jempolnya dengan lembut mengelus pipiku, terus turun hingga kedaguku. Kedua onyx sayunya mengamati setiap inci wajahku dengan teliti seakan aku ini spesimen langka yang baru ditemukannya. Aku mengepalkan kedua tanganku, berusaha menahan debaran jantung yang seakan berontak mau keluar. "Seandainya..." Ujarnya lirih. 'DEG' mendengar suaranya sudah menambah intensitas debaran jantung.
"P-Permisi Hishigi-sama" Ujarku sambil membawa nampan dan baskom keluar dari kamarnya sebelum jantungku keluar dari rongga dada dan melompat kesana kemari.
END TOKITO POV
.
.
.
tbc
(a/n) Another rbc again ._.
Gomen kalau satu chapter kurang panjang soalnya author takut readers sekalian pegel bacanya. Jd sengaja dipenggal jadi buanyak chapter, sekalian bikin penasaran :3
Mind to RR? Review anda semangat saya :3
