Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.

All OC character belong to me :3

Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')

Let The Story Begin...

.

.

.

"Hishigi, kemana pengawalmu?" Tanya Fubuki. Yang ditanya hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengalihkan perhatian dari cetak biru yang tengah dikerjakannya.

"Tokito sakit, dia demam tinggi semalam" Ujar Muramasa yang baru saja masuk kedalam ruang pertemuan. Fubuki maupun Hishigi diam. Muramasa menaruh tumpukan perkamen disebrang Hishigi dan memulai rapat rutin. Selama rapat, pikiran Hishigi mengawang kemana-mana. Bagaimanapun ini salahnya Tokito sampai sakit. Ya, Tokito pasti ketularan dia. Dan tentu sebagai majikan yang baik, sudah sepatutnya Hishigi menjenguk anak buahnya itu. Tapi ogah dong, karena gengsi seorang Hishigi terlalu tinggi untuk itu. Apa kata dunia kalau mereka tahu seorang Hishigi yang terkenal stoic tidak memiliki hati ini menjenguk anak buahnya yang sesama cowok itu untuk hal remeh macam sakit demam biasa?.

.

.

.

MURAMASA POV

Rapat pun selesai dan semuanya hendak kembali ke istananya masing-masing. "Muramasa-sama" Panggil Hishigi. Aku menggentikan langkahku dan berbalik padanya.

"Ada apa?" Tanyaku.

"Bisa tolong berikan ini pada Tokito?" Tanyanya seraya memberikan sebungkus serbuk kecil padaku. "Ng...ini suplemen, aku yang membuatnya. Tidak ada efek samping, kok" Jelasnya. Aku tersenyum simpul.

"Kenapa tidak kau berikan langsung padanya? Aku yakin Tokito akan lebih senang menerimanya" Ujarku. Hishigi terdiam.

"Tidak, lebih baik anda saja yang menyerahkannya" Ujarnya. Aku menghela nafas maklum lalu menerima kantung kecil berwarna coklat darinya.

"Sekali-kali kau harus bisa menunjukan kepedulian atau perasaanmu Hishigi, jangan terlalu diam. Orang-orang akan takut padamu" Kataku. Hishigi termenung.

"Aku masih banyak pekerjaan, permisi" Ujarnya lalu berjalan mendahuluiku keluar dari ruang pertemuan. Kupandangi punggung tegapnya yang kian menjauh. Hishigi, sejak awal bertemu, aku tahu dia tipe pendiam yang nyaris tidak peduli pada lingkungan sekitarnya. Anugrah otak jeniusnya menjadikan ia bak robot yang setiap hari mengerjakan pekerjaan seberat apapun tanpa mengeluh. Sama sekali tak dapat kulihat kehidupan dalam sorot matanya. Aku kerap bertanya apa sosok itu memiliki hati?. Namun ternyata peranyaanku kini terjawab dengan sebuah kantung kecil berwarna coklat dalam genggamanku ini.

END MURAMASA POV

.

.

.

Muramasa tengah menyusuri lorong kembali ke rumahnya sehabis jam kerjanya usai. Namun sebuah suara yang memanggil namanya menghentikan langkahnya. "Fubuki..." Ujar Muramasa pada si sumber suara. Pria dengan surai seputih salju itu berjalan menghampirinya. Keikogi panjang berwarna hitam mencerminkan ke-eleganan yang memancar darinya.

"Aku dengar Tokito sakit" Ujarnya membuka pembicaraan. Muramasa terdiam karena tahu ada hal lain yang ingin disampaikannya. "Aku ingin menjenguknya. Hanya memastikan dia baik-baik saja" Ujarnya. Muramasa tersenyum ramah.

"Kalau begitu, ayo" Ajaknya.

.

.

.

TOKITO POV

"HUACHIIII..." Entah sudah berapa kali aku bersin hari ini. Hidungku memerah begitu juga dengan pipi dan mataku. Hidungku mampet yang membuatku tidak nyaman tidur. Sendi-sendiku pun sakit dan tenggorokanku sakit. Lengkap sudah penderitaanku.

"Tadaima" Terdengar ucapan salam dari Muramasa. Selanjutnya kudengar beberapa orang berbicara disana. Namun tak dapat kukenali siapa karena pandanganku berkunang-kunang dan kepalaku pening. "Tokito, ada yang jenguk, nih" Kata Mayumi lembut. Yang dapat kutangkap hanya Keikogi hitam yang lalu duduk tepat disamping bantalku. Sebuah tangan besar terasa mengelus-elus keningku. Ah nyaman sekali, seperti dielus...

"Ibuu..." Lenguhku pelan.

END TOKITO POV

FUBUKI POV

Aku sempat terhenyak saat bibir kecilnya mengucapkan kata-kata itu. Namun tidak kuhentikan usapanku pada keningnya. Aku sendiripun tidak sadar kenapa melakukan ini. Tanganku bergerak dengan sendirinya. "Sudah berapa lama?" Tanyaku.

"Dari kemarin malam" Ujar Mayumi. Aku terdiam, kutatap kedua mata sayunya yang terlihat kehilangan aura.

"I-ibuu..." Lirih Tokito lagi. Sebulir bening air jatuh dari pelupuk matanya. Kugunakan jempolku untuk menghapusnya. Entah kenapa ada rasa enggan meninggalkannya dalam kondisi begini.

END FUBUKI POV

.

.

.

MURAMASA POV

"Sssh..." Bisik Fubuki lembut berusaha menangkan Tokito yang menangis dalam igauannya. Baik aku maupun Mayumi terenyuh melihat perlakuan Fubuki pada Tokito. Dapat kutangkap sorot kebapakan dari mata Fubuki. Kulihat tangan kecil Tokito menggenggam erat jemari besar Fubuki, seakan takut ia akan meninggalkannya kapan saja.

"Muramasa, Mayumi" Ujar Fubuki menangkap atensi kami berdua. "Tampaknya aku akan bermalam disini malam ini" Lanjutnya. Baik aku dan Mayumi sama-sama tersenyum.

"Aku mengerti, akan kusiapkan" Ujar Mayumi lalu beranjak dari kamar Tokito. Kini tinggallah kami bertiga disitu. Keheningan menerpa, hanya terdengar lenguhan pelan Tokito yang perlahan makin melemah.

"Muramasa...aku ini...kenapa?" Tanyanya retoris. Aku menghela nafas lalu tersenyum tipis.

"Karena bagaimanapun kau sudah jadi seorang ayah" Jawabku pendek. Fubuki terdiam, ditatapnya majah Tokito yang kini tidur dengan pulasnya, masih menggenggam erat jemari Fubuki.

"Ayah ya..." Ujar Fubuki. Beberapa detik kemudian segurat senyuman tampak menghiasi wajahnya. "Terdengar indah" Lanjutnya pelan.

END MURAMASA POV

.

.

.

TOKITO POV

Perlahan mataku terbuka. Kepalaku sudah tidak terasa pening lagi dan kurasa demamku pun sudah turun. Eh apa ini? Tangan siapa ini? Kenapa aku menggenggamnya?. Saat kutelusuri, jantungku serasa mau copot mendapati siapa pemiliknya. Fubu...Fubu...Fubu...Fubuki-sama?. B-bagaimana bisa!?. Aku ingin rasanya meneriakan keterkejutanku namun tak ada satupun kata atau suara yang keluar dari mulutku. Daripada memikirkan itu cepat-cepat kutarik selimut menutupi badanku. Duuh bagaimana kalau dia mengetahui identitasku? Apa aku akan dipecat?

Kuperhatikan wajahnya yang sedang tertidur dengan damai. Wajah tirus dan hidung mancung terpahat dengan sempurna. Dadanya naik turun dengan teratur mengikuti irama nafasnya. Perlahan matanya terbuka menampakan iris serupa jelaganya. "Sudah baikan?" Tanyanya. Aku yang masih shock hanya dapat menganggukan kepala. Fubuki tersenyum. Kulihat tangan besarnya menggapai kepalaku lalu mengusapnya perlahan. Perasaan nyaman yang kurasakan samar-samar semalam pun kurasakan kembali. Jadi Fubuki? Aku kira Muramasa atau Mayumi.

"Fubuki-sama...gak kerja?" Tanyaku mengalihan pembicaraan.

"Masih pukul empat pagi" Ujarnya terkekeh pelan. Wajahku malah merona merah dan Fubuki tersenyum tipis melihatnya. "Kau mirip dengannya" Ujarnya. Aku menaikan sebelah alisku, kebingungan. Kulihat Fubuki menghela nafasnya. "Lupakan" Ujarnya pendek, ia menarik tangannya kembali lalu bangkit dan meninggalkanku sendirian dengannya. Keheningan menyapaku, hanya dapat kurasakan perasaan kosong yang entah kenapa datang bersamaan dengan kepergian Fubuki. Aah, aku benar-benar bingung dengan diriku sendiri.

END TOKITO POV

.

.

.

"Fubuki-sama, ada draf titipan dari Hishigi-sama" Sahut Tokito. Fubuki menganggukan kepalanya sambil menunjuk spot kosong dimana Tokito menaruh map berisi draf-nya. Tanpa sengaja iris amber-nya menangkap tangan besar yang tengah menulis deretan angka dalam kertas perkamen. Seketika pikirannya menerawang dan rasa nyaman yang dirasakannya seketika menyapa memorinya kembali. Rasanya seperti...

"Ada apa?" Tanya Fubuki. Tokito tersadar dan merona malu kepergok melamun oleh atasannya.

"T-tidak. S-saya permisi, Fubuki-sama" Ujar Tokito pamit undur diri. Belum sampai kaki mungilnya sampai keambang pintu, suara Fubuki yang memanggil namanya menghentikannya. Dengan takut-takut ditolehkannya kepala kearah pria dibelakangnya yang tampak tengah melambaikan tangannya, sebuah gestur yang menyuruhnya untuk mendekat. Mau tidak mau Tokito pun mematuhi perintah atasannya itu.

Tokito menundukan kepalanya bersiap menerima hukuman karena dibenak gadis muda ini sudah pasti hukuman akan diterimanya walau dia sendiri tidak tahu alasannya apa. 'PUK...PUK' Tanpa diduga, Fubuki mengusap lembut pucuk kepalanya. Spontan rona merah menghiasi kedua pipinya dan senyuman terukir diwajah manisnya. Fubuki pun tanpa disadari tersenyum tipis. Seketika rentetan kata-kata pun tak berguna bagi mereka saat ini. Walaupun hanya terdengar suara semilir angin dari luar, namun rasanya tersampaikan sesuatu yang lebih daripada itu.

.

.

.

tbc


(a/n) Huaaah gak kerasa udah tembus 11 chapter xD

Belajar dari Tragedi THTW yang dianggurin sampe sekarang, author jadi kebiasaan gak publish cerita sebelum beres. Jadi tinggal copas aja :3

Disini mungkin Hishigi udah keliatan mulai mencair es-nya. Sengaja banget author hati-hati membentuk karakter Hishigi lewat kata-kata soalnya dia karakter stoic pertama yang author handle. Takutnya malah bablas OOC deh, kan jadinya kurang greget -,-

Anyway Mind To RR? Review anda semangat saya