Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.

All OC character belong to me :3

Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')

Let The Story Begin...

.

.

.

HISHIGI POV

Hari-hari normal kembali kulaui semenjak Tokito kembali kerja pasca sembuh dari flunya. Selama tiga hari cuti sakit, tak seharipun aku menjenguknya. Namun aku tetap memantau kondisinya entah melalui Muramasa atau Fubuki yang kerap menjenguknya. Dan kedua sahabatku itu cukup dapat kupercaya untuk tak menaruh curiga pada sikapku yang relatif agak berubah ini. Bahkan aku sendiri-pun bingung dengan perubahan sikapku. "Hishigi-sama, ini makan siang anda" Ujar Tokito seraya menaruh semangkuk sup tomat dan juga ocha dalam nampan.

Aku dengan sendirinya akan menghentikan pekerjaanku sepenting apapun itu dan memakan makananku. Dan seperti biasa, Tokito akan duduk diam disebrangku menungguiku makan. Mungkin terdengar kekanak-kanakan, tapi aku tidak bisa makan kalau tidak ada dia yang menungguiku. Selera makanku akan langsung drop dan aku kembali mengandalkan suplemenku. Entah sejak kapan pula aku begini dan aku pun tak tahu kenapa. Semuanya berjalan dengan sendirinya bak minyak yang akan bersatu dengan air jika ada sabun yang menjadi katalisnya. Sesudah makan siang, Tokito akan membereskan peralatan makanku lalu mencucinya sementara aku melanjutkan pekerjaanku.

"Bagaimana sakitmu?" Aku sendiripun terkejut karena menanyakan pertanyaan itu. Sejak kapan mulutku memiliki pikiran sendiri?. Tokito tersenyum.

"Sudah sembuh berkat obat Hishigi-sama. Terima kasih" Jawabnya lalu kembali meneruskan perjalanannya menuju dapur yang tertunda. Ah, jadi dia memakan obat pemberianku, ya? Rasanya dadaku menjadi hangat. Kenapa?.

END HISHIGI POV

.

.

.

"Hishigi, kau gemukan, ya" Komentar Muramasa. Yang disebut cuma melihat lengannya sekilas lalu kembali tenggelam dalam pekerjaannya. Muramasa tersenyum maklum, tapi dia tahu pasti siapa dalang dibalik semua ini.

"Kurasa anak itu lebih cocok jadi pelayan daripada pengawal" Celetuk Fubuki yang tengah mengutak-atik sempoanya.

"Uh-huh, begitu menurutmu? Kalau begitu akan kulakukan. Bagaimana kalau sekalian menjadikan dia milikku seutuhnya" Jawab Hishigi.

"Hmp, aku tidak bisa mempercayakannya padamu" Balas Fubuki.

"Sudah kalian" Ujar Muramasa. Walaupun nada dan ekspresi keduanya datar, ada hawa protektif dan posesif yang menguar diudara. Muramasa menghela nafasnya, tak disangka satu orang gadis, yang mereka sangka pemuda, ini dapat mengusik dua pria stoic yang tidak peduli dengan sekitarnya. Memang benar kalau disebutkan bahwa wanita adalah godaan terbesar bagi pria.

.

.

.

MURAMASA POV

'TUK TUK' Suara ketukan memecah keheningan ruang kerjaku. "Masuk" Perintahku. Seorang pemuda dengan dandanan serba hitam masuk. Aku sedikit terkejut mendapati dia yang mengunjungi istanaku. Semenjak kehadiran Tokito, otomatis Hishigi jarang keluar istananya. Dalam diam Hishigi menaruh tumpukan perkamen di tempat kosong dimejaku. "Kemana Tokito?" Tanyaku heran.

"Belanja ke pasar" Jawabnya pendek. Aku nyaris tertawa membayangkan keponakanku itu ngedumel seharian di pasar membelikan bahan makanan untuk disantap tuannya. Tentu aku tahu betapa seringnya Tokito komplain akan majikan banyak maunya bin super merepotkannya ini, menurut dia. Walaupun dia tak pernah sekalipun minta dicarikan tuan baru. "Muramasa" Ujar Hishigi mengambang, terlihat ada kata-kata yang tertahan ditenggorokannya. Hishigi diam seribu bahasa.

"Ada apa? Apa ada yang mau kau bicarakan?" Tanyaku. Hishigi menunduk masih mengunci rapat mulutnya. Aku pun dengan sabar menunggunya.

"Apa perasaan ingin memiliki itu...janggal?" Tanyanya. Aku terhenyak, terkejut mendengar pertanyaannya.

"Apa yang membuatmu berpikiran begitu?" Tanyaku keheranan.

"Aku hanya merasa diantara semuanya dia yang paling tahan bersamaku. Dia patuh dan setia padaku. Walau aku benci suasana berisik, namun entah mengapa kalau itu dia, aku tidak keberatan" Ujar Hishigi. Aku takjub, ini kalimat terpanjang yang pernah kudengar dikatakan olehnya. "Anda tidak usah menyebutkan namanya, hanya akan membuat dadaku serasa tidak nyaman. Aku yakin kita berdua tahu siapa yang sedang kita bicarakan" Potongnya melihat mulutku terbuka hendak mengatakan sebuah nama namun urung kulakukan. Aku tersenyum lembut padanya yang tengah diliputi kebingungan.

"Aku tidak akan bilang kalau itu janggal. Tapi...apa itu yang dibutuhkannya, atau kau butuhkan?" Ujarku retoris. Hishigi terdiam beberapa detik.

"Aku tahu cepat atau lambat dia akan meninggalkanku dan aku takut akan hal itu, Muramasa-sama" Lanjutnya.

"Hishigi..." Ujarku mengambang.

"Entahlah Muramasa-sama hanya saja..." Katanya lirih seraya mengalihkan pandangannya dariku. Aku pun diam menanti lanjutannya. "...seandainya dia dilahirkan dalam bentuk yang berbeda" Lanjutnya. Irisku nyaris tak dapat mempercayai senyuman tipis diwajahnya. Mendadak tak ada kata yang dapat kuucapkan sekarang. "Maaf sudah membuang waktu anda, Muramasa-sama. Aku permisi" Ujarnya lalu menghilang kebalik pintu besar yang baru saja tertutup.

Selepas kepergiannya, aku masih mematung ditempatku berada. Namun senyuman datang dengan sendirinya menghiasi wajahku. Akhirnya kini aku melihat robot itu begitu hidup sehidup-hidupnya. "Well, mungkin waktuku tidak terbuang begitu saja" Ujarku pada diri sendiri.

END MURAMASA POV

.

.

.

Kalender sudah memasuki akhir bulan Desember. Salju masih menutupi seluruh tanah Mibu pertanda musim dingin masih mengukuhkan eksistensinya. Kesunyian khas musim dingin menyapa, hanya terpecahkan oleh gemelatukan deretan gigi milik heroine kita ini. Bahkan ia harus menahan pena yang digunakan untuk menulis surat dengan kedua tangannya. "Pendekar es kok ga kuat dingin" Celetuk Muramasa. Tokito memberengut kesal.

Akhirnya dengan susah payah, selesailah suratnya. Sesudah menasukannya kedalam amplop dan mengelemnya, tinggal memposkannya besok. Tokito mengeratkan selimut yang membungkus tubuhnya bak burito. "Gerakin badan, yuk. Sekalian cari angin" Ajak Muramasa dengan pedang Tenro yang sudah berada dalam genggamannya. Tokito terdiam, matanya sayu. "Ada apa?" Tanya Muramasa. Tokito menghela nafasnya. Muramasa pun urung berjalan keluar dan duduk disamping Tokito.

"Aku rindu" Ujarnya lirih. Muramasa tersenyum lembut.

"Oji-san mengerti. Akan oji-san mintakan cuti pada Hishigi" Ujarnya.

"Bukan" Potong Tokito. "Aku rindu Fubuki-sama" Lanjutnya. Muramasa terdiam. Fubuki sekarang memang sedang dalam perjalanan keluar kota selama dua minggu. "Ini mungkin terdengar konyol tapi...aku merasa kalau aku sudah mengenal Fubuki-sama sejak lama" Lanjutnya. Semenjak Tokito sakit dan Fubuki menjenguknya, tentu Muramasa menyadari perubahan sikap sahabatnya itu. Fubuki kerap kali menepuk pucuk kepala Tokito bahkan tanpa alasan yang jelas. Namun interaksi antar mereka tak tampak seperti sepasang kekasih. Lebih tampak seperti interaksi antara ayah dan anak.

"Kalau begitu tulis saja surat untuknya" Ujar Muramasa. Tokito menggelengkan kepalanya.

"Malu dong sama Fubuki-sama" Jawabnya. Muramasa tertawa pelan. "Aku tidak pernah tahu seperti apa rasanya punya ayah tapi...semenjak kenal Fubuki-sama, aku jadi tahu gimana rasanya punya ayah" Lanjut Tokito. Tanpa ia sadari, Muramasa tersenyum getir. "Kapan-kapan aku mau ketemuin ibu sama Fubuki-sama deh. Siapa tahu cocok" Katanya lagi seraya nyengir.

"Ide yang bagus" Dukung Muramasa.

.

.

.

MURAMASA POV

"Ada apa Fubuki?" Tanyaku tanpa mengangkat kepala dari tumpukan perkamen yang sedang kupelajari.

"Jangan pura-pura tak tahu. Aku tahu kau sudah mengetahui maksud kedatanganku" Ujarnya. Walaupun nadanya datar namun dapat kutangkap getaran emosi darinya. Aku pun meletakan pensil dan fokus pada sosok sahabatku.

"Pemuda itu...seorang gadis, kan?" Tanynya. Aku terdiam tak berkata sepatah katapun. "Dan dia anakku" Lanjut Fubuki. Kedua iris mataku terbelalak mendengar kalimat terakhir yang meluncur darinya. Fubuki merogoh dalam keikoginya dan melemparkan surat-surat keatas mejaku. Setelah kulihat salah satunya yang kusadari bahwa itu surat korespondensi antara Hitoki dan Tokito.

"Kalau kau sudah tahu, tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan" Ujarku. Fubuki menekan giginya menahan amarah.

"Dimana dia? Kembalikan dia padaku" Ujarnya.

"Dia memilih untuk tetap pergi, Fubuki" Kataku. 'BRAK' Dengan hannya menggunakan satu tangannya, Fubuki membelah meja kerjaku menjadi dua. Aku diam seribu bahasa. Lalu secara tiba-tiba kulihat tubuh tegapnya yang bersujud didepanku.

"Fubuki" Kataku tercengang.

"Aku mohon Muramasa...aku menyesali semunya. Aku hanya menginginkan mereka. Aku ingin menebus dua puluh satu tahun ini" Ujarnya dengan nada bergetar. Fubuki menangis, dia rela merendahkan harga diri demi dua orang wanita. Aku mengerutkan dahi, diriku diserang dilema.

"Dua hari perjalanan dari perbatasan Mibu kearah barat daya. Ada gubuk yang berdiri sendirian diatas bukit." Ujarku. Fubuki mengangkat kepalanya dan menatapku. "Bawa dia pulang, Fubuki. Kalau kau, aku yakin bisa" Kataku.

.

.

.

"Anata...apa yang kau pikirkan?" Tanya Mayumi membawaku keluar dari lamunanku. Aku tersenyum lembut.

"Tidak, hanya merasa seharusnya kulakukan ini sedari dulu" Kataku. Mayumi terlihat kebingungan sementara aku malah tergelak melihat wajah bingungnya.

END MURAMASA POV

.

.

.

TOKITO POV

Akhir Desember, aku sudah jauh hari meminta cuti selama seminggu pada Hishigi. Berhubung mau tahun baru, sekalian pulang kampung deeh. Pagi buta, sudah kusiapkan Yuki untuk menempuh perjalanan jauh. Karena Tsuki kutinggalkan terakhir aku pulang untuk menjaga ibu, kurasa perjalananku kali ini akan terasa sepi. Apalagi Muramasa dan Mayumi tak bisa ikut dengan alasan harus ngebut menyelesaikan proyek. "Kau akan kembali, kan?" Suara bariton milik Hishigi mengagetkanku. Tampak sosoknya yang tengah berdiri dipintu istal.

"Tentu Hishigi-sama. Memang ada orang lain yang tahan ama Hishigi-sama? Hahaha" Candaku. Namun yang diajak becanda cuma diam. Ah, aku sih udah biasa jadi aku tidak merasa tersinggung. Kembali kulanjutkan menyikat badan kuda putihku. Sedikit kesulitan saat menyikat kepalanya.

"Pinjam" Ujar Hishigi yang tahu-tahu sudah ada didekatku. Kuberikan sikatnya pada Hishigi yang melanjutkan pekerjaanku. Dengan postur tubuhnya tentu bukan sulit menjangkau kepala Yuki. Kulihat Yuki yang malah asyik men-snuggle-kan kepalanya pada Hishigi. Hei Yuki, apa yang kau lakukan? Mau membuatku iri, huh!?. Eh, aku ini mikir apa, sih?.

.

.

.

"Waktumu hanya seminggu, Tokito" Ujar Hishigi ketika Tokito akan berangkat.

"Iya...aku akan kembali tepat waktu, Hishigi-sama" Ujarku.

"Sebaiknya. Karena kalau tidak, aku sendiri yang akan menyeretmu pulang" Jawabnya. Aku tertawa garing. Sejak kapan majikanku jadi posesif gini? kayak yang takut aku kabur aja. "Kau tahu, diluar sana banyak bahaya?" Ujarnya terdengar retoris. Aku tersenyum simpul, bilang langsung kek kalau khawatir padaku.

"Tak usah khawatir Hishigi, dia tidak akan pergi sendiri" Ujar seseorang. Dan mataku langsung terbelalak.

END TOKITO POV

.

.

.

tbc


(a/n) End Chapter 12

Huaaah author asli ngiri ama Tokito T^T

Mau juga doong di posesifin ama Hishigi T^T

Chapter selanjutnya tentang...liat aja sendiri deh :3

Mind to RR? Review anda semangat saya :3