Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
HITOKI POV
Hari ini adalah hari dimana Tokito akan sampai kemari dan menginap selama seminggu. Sejak pagi aku sudah belanja ke pasar terdekat dan memasak berbagai makanan kesukaannya. Berkat kerja kerasnya kini kehidupan kami lebih baik. Aku tidak lagi tinggal didalam gubuk, namun disebuah rumah mungil bergaya Jepang tradisional. Meskipun lokasinya tidak berubah. Sayup-sayup terdengar suara ketopak kuda. Ah, itu pasti dia. Cepat-cepat kurapikan peralatan makan dan bergegas menyambutnya.
"Tadaima, ibuu" Sahutnya semangat.
"Okae..." Perkataanku terhenti dan mataku terbelalak melihat siapa sosok yang menyertainya. "T-tokito..." Kataku. Sosok itu seperti biasa menatapku tajam dengan kedua onyx miliknya.
"Oh iya, hampir lupa. Ibu, ini Fubuki-sama. Fubuki-sama, ini ibuku, Hitoki" Ujar Tokito. Aku terpaku ditempat, bagaimana bisa dia menemukanku? Menemukan kami. Mendadak kulihat matanya melembut.
"Hitoki..." Ujarnya lirih. Tokito bergantian memandangku dan Fubuki, kebingungan dengan aura ketegangan yang menyelimuti.
END HITOKI POV
.
.
.
TOKITO POV
Ini adalah makan malam paling awkward seumur hidupku. Aku terjebak antara dua orang dewasa yang kini makan dalam diam dan aku tak tahu kenapa. Kupikir ide bagus mempertemukan kedua orang ini, tampaknya firasatku tak benar kali ini. "Nghaaaah...Fubuki-sama...ibu, kenapa sih!?" Sahutku kesal pada akhirnya. Fubuki hanya mengankat kepalanya dan menatap ibuku sementara ibu terlihat gelagapan.
"T-tidak...tidak apa-apa" Ujarnya. Aku mengerucutkan bibirku tanda tak menerima penjelasannya. Tapi mau mencoba mendekatkan pun pengalamanku tentang cinta nol besar.
"Padahal...aku kira Fubuki-sama sama ibu cocok" Ujarku.
"Tokito bukan..." "Iya...iya aku tahu, aku salah. Ibu masih mencintai ayah, kan?" Potongku. Tanpa sepengetahuanku iris Fubuki melebar. Ibu telihat gugup, ia menggigit bibir bawahnya. Kuhabiskan jatah makan malamku lebih cepat. "Aku tidur duluan, ibu. Oyasumi" Kataku sambil beranjak pergi.
"Oyasumi-moo" Balas ibuku.
END TOKITO POV
.
.
.
HITOKI POV
Kini aku yang terjebak dengan pria paling ingin kuhindari. Aku sengaja melarikan diri sampai kepedalaman hanya untuk menjaga jarak dengannya. Tak kusangka kini ia hanya berjarak beberapa meter didepanku. "Jadi dia belum tahu?" Tanya suara baritonnya yang memicu rasa sakit didadaku.
"Apa maumu...?" Ujarku bergetar dan menundukan kepala, tidak berani menatapnya langsung.
"Membawamu dan Tokito pulang" Jawabnya pendek.
"Kami sudah dirumah" Ujarku memberanikan diri menatapnya. Fubuki terdiam.
"Sejak semula aku tahu usahaku membawa kalian pulang tidak akan berjalan mudah" Tanggapnya.
"Kalau begitu kau pulang saja, dan lupakan kita pernah bertemu" Kataku.
"Aku tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Aku tidak akan pulang kalau kau dan Tokito tidak ikut denganku" Katanya tegas. Aku berjengit. "Lagipula kudengar kau masih mencintaiku?" Tanyanya. Dapat kulihan senyuman lembut diwajahnya.
END HITOKI POV
FUBUKI POV
"O-omong kosong. Aku tidak akan pernah lupa tatapanmu saat mengusirku dulu. Cinta itu...cinta itu sudah tidak ada" Ujar Hitoki. Aku menghela nafas.
"Aku tahu dan aku tidak peduli. Aku akan membuatmu jatuh cinta lagi padaku dan tidak akan melepasmu, Hitoki" Kataku.
"J-jangan kau sebut namaku" Ujarnya dengan rona tipis mewarnai kedua pipinya.
"Hn? Hime?" Kataku. 'BLUSH' seketika warna wajahnya menyaingi tomat manapun didunia ini. Ia bangkit berdiri dan meninggalkanku sendirian. Sebuah senyum smirk terlukis diwajahku, dia masih mencintahku, aku tahu itu. Buktinya kupanggil dengan sebutan sayangku, dia merona dengan hebohnya.
END FUBUKI POV
.
.
.
HITOKI POV
"Tsuki, tangkap!" Sahutnya seraya melemparkan sebuah tongkat yang ditangkap dengan sempurna oleh Tsuki. Sementara aku mengawasinya bermain dari teras rumah. "Dia anak yang sehat, ya" Ujar Fubuki seraya duduk tepat disebelahku. Refleks aku menggeser tubuhku menjauh darinya. "Aku tidak akan menggigit, Hime" Katanya. Aku mendengus kesal, lagi-lagi menyebutkan kata itu. Dadaku jadi terasa sakit begini.
"Kenapa? Kenapa kau tidak cari wanita lain saja? Kenapa aku?" Tanyaku. Fubuki menatap padaku, aku berusaha menahan dadaku yang serasa makin sakit.
"Karena aku hanya ingin Hime, sesederhana itu" Ujarnya. Aku terdiam.
"Kau hanya akan sakit hati" Tambahku.
"Itu harga yang pantas" Jawab Fubuki. Aku bungkam mendengar jawabannya. Ugh, kenapa dia tidak berubah. Keras kepala dan seenaknya sendiri?.
END HITOKI POV
.
.
.
FUBUKI POV
Bulan bersinar penuh malam ini, dan layaknya manusia serigala, aku malah terjaga. Sepoci teh menemani malamku yang sunyi namun terasa hangat karena aku berada dirumah orang yang kucintai. "Fubuki-sama, belum tidur?" Tanya Tokito yang tengah berdiri diambang pintu sambil mengucek matanya. Yukata birunya berantakan menampilkan sedikit belahan dadanya. Menyadarinya cepat-cepat Tokito menutupnya. Matanya terpejam kuat. "Aku...aku bisa jelaskan" Katanya gugup.
"Aku sudah tahu" Ujarku. Badan Tokito menegang. "Tidak apa, tenang saja. Aku tidak akan beritahu Hishigi, kalau itu yang kau takutkan" Kataku. Tentu aku mengetahui ketakutan terbesarnya. Wajah Tokito merona, aku pun terkekeh geli. Kulambaikan tangan menyuruhnya mendekat lalu kuusap pucuk kepalanya.
"Fubuki-sama" Ujarnya. Aku mengangkat kedua alisku, pertanda aku mendengarkannya. "...mungkin terdengar konyol tapi...aku suka kalau Fubuki-sama mengusap kepalaku begini" Ujarnya tersipu. Aku tersenyum lembut. "Rasanya...seperti diusap sama ayah" Lanjutnya polos. Aku terkekeh pelan dan mengusap kepalanya penuh afeksi. Aku memang ayahmu, nak. Ingin rasanya kukatakan kalimat itu kencang-kencang. "Maaf ya Fubuki-sama" Katanya.
"Untuk...?" Tanyaku keheranan.
END FUBUKI POV
HITOKI POV
"Karena ibu masih mencintai ayahku" Suara Tokito dari ruang tengah menghentgkan langkahku yang hendak ke toilet.
"Hei, tidak perlu minta maaf. Aku mengerti" Jawab Fubuki. Aku menunduk, dadaku selalu terasa sakit kalau melihat betapa menderitanya Tokito.
"Aku pikir ibu akan jatuh cinta sama Fubuki-sama. Habis walau Tokito gak tau kayak gimana ayah Tokito, Fubuki-sama terlihat seperti seorang ayah" Ujarnya.
"Hmp, oh yeah? Terima kasih" Jawab Fubuki. Betapa ironisnya karena sosok yang dibicarakannya berada tepat didepan matanya.
"Kalau menurut Fubuki-sama, ibuku gimana?" Tanya Tokito.
"Ibumu?" Ujar Fubuki. Entah kenapa dadaku mendadak berdebar gini. "Aku menginginkan ibumu" Jawabnya. 'DEG' Lagi-lagi dadaku terasa sakit.
"Ibuku masih mencintai ayahku, kan Fubuki-sama" Rajuk Tokito.
"Kalau aku menikahi ibumu, secara teknis aku ayahmu, kan?" Ujar Fubuki yang dijawab gerutuan Tokito. Entah sudah semerah apa wajahku sekarang. Daripada mengambil resiko pingsan dengan tidak elitnya, aku lebih memilih kembali ke kamar sambil mengendap-endap.
END HITOKI POV
.
.
.
"Ibu, ayahku seperti apa sih?" Tanya Tokito yang tengah tiduran diatas paha ibunya. Hitoki terhenyak, matanya terpejam seakan memanggil memori masa lalunya.
"Ayahmu orang yang lembut, walau dari luar terlihat dingin, dia sebenarnya memiliki kepribadian yang hangat" Jawab Hitoki simpul. Diliriknya Fubuki yang tengah membaca buku dimeja diruangan yang sama. Wajah datarnya tampak tak terpengaruh oleh obrolan mereka padahal dia Hitoki jelas-jelas sedang membicarakannya. Tokito cuma ber-'oh' ria. 'TOK TOK' Suara ketukan terdengar memecah kesunyian. Hitoki bangkit untuk membukakan pintu. Sebelum wanita itu berhasil mencapai pintu, sebuah tarikan memaksa tubuh mungilnya tertarik kebelakang dan terhalangi sebuah tubuh tegap didepannya.
"Permisi, Hitoki-san ada?" Tanya suara seorang lelaki.
HITOKI POV
Oh tidak, itu Takato-san. Pria yang selama ini gencar mendekatiku tak peduli segencar apa aku menolaknya. "Apa urusanmu?" Tanya Fubuki dingin.
"Urusanku? Memang salah ya aku mengunjungi kekasih hatiku?" Jawabnya. Seketika suasana mencekam terasa menggelayut disekitar mereka. Aku pun diam seribu bahasa.
"Pergilah, dia tidak ada disini" Ujar Fubuki lalu membanting sohji dan berbalik masuk kedalam.
.
.
.
Semenjak pertemuan dengan Takato, tak sekalipun Fubuki membuka mulutnya atau melihat padaku. Aku pun tak dapat berbuat banyak. Kepalaku menunduk dan aku meremas kimonoku gugup. "Fu..Fubuki..." "Aku tidak tau kau sudah memiliki kekasih" Ujarnya memotong pembicaraanku. Aku diam, ingin rasanya berkata tidak. Namun entah mengapa mulutku mendadak kelu. "Kelihatannya dia benar-benar mencintaimu" Ujarnya lagi. Mataku serasa panas dan tenggorokanku serasa tercekat. Tidak, tapi aku tidak mencintainya, teriak batinku.
Fubuki menghela nafasnya. Ia memandangku yang setengah mati menahan isak tangisku. Aku sendiripun tidak mengerti kenapa aku sampai menangis. Padahal seharusnya aku senang, dengan begini dia mungkin akan meninggalkanku. Namun kenapa ada bagian dari diriku yang tak rela. Tiba-tiba kurasakan seseorang mengangkat daguku, memaksakan wajahku yang berurai air mata bertatapan muka dengannya. Kedua onyx Fubuki memandang lembut padaku. "Aku akan merebutmu darinya" Dan dengan selesainya kalimat itu, Fubuki mencium bibirku yang tanpa pertahanan.
Tidak hanya mencium, kurasakan ia pun mulai melumat bibirku. Aku mencoba berontak, namun kedua tangannya menahan tanganku. Sejenak aku pun hanyut dalam ciumannya yang begitu sarat akan kerinduan. Segala kekesalan, amarah, dan benci melumer dan hilang dengan sendirinya. "Ibu...aku sudah..." Suara Tokito yang tiba-tiba masuk ke ruang tengah menghentikan sejenak adegan percintaan kami. Namun Fubuki hanya melepaskan bibirku dan melirik padanya. "Ah kayaknya ada yang kurang deh..." Ujarnya cepat-cepat pergi dari situ.
Selepas Tokito pergi, Fubuki lanjut memberi kecupan-kecupan kecil pada leherku. "Fu-Fubuki" Tegurku berusaha menjauhkannya dariku.
"Anak itu sudah besar, kan?" Tanyanya.
"B-bukan gitu !" Sahutku kesal. Fubuki tertawa pelan.
"Aku mengerti, Hime. Akan kujelaskan semuanya nanti" Ujarnya.
END HITOKI POV
.
.
.
TOKITO POV
Kata orang hidup itu penuh kejutan dan aku mau tak mau setuju. Selepas, tak sengaja, melihat Fubuki-sama dan ibu...um...berciuman, pada malam harinya aku pun mengetahui kalau ternyata dua orang didepanku ini orang tua kandungku. "Jadi...Fubuki-sama benar-benar ayahku?" Tanyaku. Ibu menganggukan kepalanya. Aku menunduk, pikiranku menerawang. Bagaimanapun ayahku lah yang menyebabkan aku dan ibuku hidup jauh dari peradaban dan menderita begini. Tapi disatu sisi pun aku senang karena orang yang amat kuidolakan menjadi ayah benar-benar ayahku.
"Ada apa, Tokito?" Tanya Fubuki.
"Aku...hanya bingung" Jawabku jujur. Bingung aku harus senang atau marah. Tiba-tiba kurasakan tepukan halus dipucuk kepalaku.
"Aku mengerti Tokito" Ujar Fubuki. Aku terdiam, mataku berkaca-kaca. "Izinkanlah aku mengganti dua puluh satu tahun itu" Lanjutnya. Tanpa ragu aku pun mengangguk. Bagaimanapun aku dan ibuku cukup menderita hidup tanpa kehadirannya selama ini.
.
.
.
"Tokito-san, anda tahu dimana Fubuki-sama? Muramasa-sama meminta laporan audit untuk proyek sekarang" Keluh Hiro yang kelihatannya sudah putus asa mencari sosok atasannya itu.
"Biar kucarikan" Kataku. Hiro mengangguk sambil tersenyum pasrah. Aku tentu saja mengetahui pasti dimana tempat untuk mencarinya.
END TOKITO POV
.
.
.
"Tadaima" Sapa suara berat Fubuki. Dari dalam terdengar derap langkah cepat.
"Okae...kyaaaa" Salam Hitoki terpotong karena Fubuki menghambur memeluknya. "K-kau sudah pulang?" Tanyanya melepaskan pelukan suaminya ini.
"Hm, aku pulang lebih cepat" Jawab Fubuki seraya memberikan kecupan pada leher jenjangnya. Hitoki menghela nafasnya. Semenjak mereka rujuk dan Hitoki bersedia diboyong pulang ke istana, Fubuki kerap kali pulang lebih cepat atau dengan kata lain membolos. Hitoki bahkan harus beberapa kali mengancam suaminya ini agar kembali bekerja.
"Ayaaaah...!" Suara Tokito mengganggu kemesraan suami istri yang kembali berkumpul setelah puluhan tahun berpisah.
"Apa?" Tanya Fubuki agak kesal karena lagi-lagi momen istimewanya bersama sang istri diganggu.
"Oji-san minta laporan audit keuangan untuk proyek sekarang" Ucap Tokito pendek. Fubuki mengheka nafasnya. Bagaimana tidak? Itu artinya dia harus kembali ke istana dan meninggalkan istri tercintanya ini. Hitoki tersenyum simpul.
"Aku akan menunggu disini" Ujar Hitoki sambil mengusap lembut pipi suaminya. Fubuki memasang ekspresi datarnya seperti biasa.
"Kau ikut ke istana" Katanya pendek. Belum selesai Hitoki bereaksi, lengan kurusnya sudah keburu ditarik oleh Fubuki menuju istananya. Sementara Tokito cuma bisa sweatdrop melihat tingkah kedua orang tuanya yang absurd itu.
.
.
.
tbc
(a/n) Yeah beres deeeh satu konflik :')
Sengaja author padetin biar ga memecah konsentrasi untuk hidangan utamanya x3. So Gomen buat yang kecewa :(
Anyway Mind to RR? Review anda semangat saya :3
