OK GA NAI PART 5
Neji dan Utakata bersekongkol untuk menjatuhkan Uchiha Sasuke dan merebut Uzumaki Naruto dari genggaman sang Uchiha.
Maaf ya bagi para fens Neji-kun dan Utakata-Kun
Mungkin akan sedikit berperan antagonis disini. Tapi ga sadist kok. Kan aku juga fens mereka. Heheheh
Disclaimer:
Naruto adalah milik MASASHI KISHIMOTO selamanya.
Genre:
Romance
Pairing:
Sasu x naru, gaa x naru, yahi x naru, neji x naru, lainnya nyusul...
Rated:
M
Warning:
Yaoi, gaje, typo,lemon, segalahal buruk menyimpang bertebaran.
... Badai-Sakura ...
Siang itu Naruto tampak celingukan. Ia menoleh kekanan dan kekiri mencari si orange bertindik sahabatnya, yang kemarin hampir saja mengerape dirinya.
"Ne...Neji, apa hari ini yahiko tak datang?"
Tanya Naruto pada pemuda tampan bersurai coklat panjang yang sibuk menyalin tugas di depannya.
"Entah lah aku juga tidak tahu"
Jawabnya cuek, masih asik dengan pekerjaanya.
'Masa bodoh dengan brandal serampangan itTop of Formu, toh itu salahnya sendiri. Berani beraninya ia mencoba menyerang Naruto-chan' Umpat Neji dalam hati.
Ia menyumpah serapahi sahabatnya itu. Yang bertindak sembarangan dan berahkir babak belur oleh orang kepercayaan Uchiha.
"Apa ini semua karna kejadian kemarin ya? Berarti ini salahku"
Lirih naruto pelan namun tetap bisa dingar sahabatnya yang duduk tepat didepannya. Neji menyerjitkan satu alisnya. Sebenarnya ia tahu apa yang di gumamkan naruto, tapi ia memilih diam dan berpura pura tidak tahu apa apa.
"ada apa naru-chan?"
Ujarnya bohong ingin mengalihkan perhatian naruto yang tadinya kosong.
"Ie desu"
Jawab sipirang singkat sembari menyunggingkan senyum andalanya pada sang sahabat. Neji kembali mengalihkan perhatiannya pada pekerjaanya. Ia benar benar tak mau dihukum asuma-sensei.
"Hoi naru...Sedang apa kau melamun"
Sebuah tangan memegang pundak naruto dari belakang dengan tiba tiba. Hal itu sukses membuat naruto terlonjak kaget.
"Utakata... Kau mengagetkan ku"
"Hemmmmm... Maaf aku hanya bercanda"
Pemuda beryukata biru laut dan memegang pipa gelembung itu pun tersenyum simpul, karna berhasil membuat sang sahabat terlonjak kaget.
"Neji... Tak biasa kau lupa membuat tugas?"
cemooh Utakata pada sahabatnya yang asik menyalin tugas. Neji hanya mendengus tanpan melirik sedikitpu. Ia tak memperdulikan cemoohan yang dilemparkan sahabatnya kepada dirinya. Utakata mengangkat bahunya merasa di acuhkan. Ia duduk di samping Naruto. Ia lirik sekilas mahluk pirang di sampingnya. Naruto terlihat asik dengan ponselnya. Tak beberapa lama Naruto terlihat kaget, ia berdiri dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan kedua sahabatnya. Utakata dan neji hanya bisa menaikan satu alis mereka bersama sama merasa heran dengan sikap sipirang yang tiba tiba pergi meninggalkan mereka.
Di kantor Sasuke.
Seorang pria berambut raven dengan manik onyiknya yang berkilat, nampak sangat kesal saat berbicara di telp dengan seseorang disebrang sana.
"Dobe... Jangan membuatku mengucapkan katakata yang sama untuk kedua kalinya"
'Aku juga katakana sudah mengatakan aku tak bisa pulang sekarang, Temeee!'.
" Kau ingin membuat kumarah Dobe".
'Pokoknya aku tak bisa teme'.
"Aku tak mau tahu kau harus pulang sekarang juga".
'Jangan konyol, sebentar lagi kelas dimolai Teme'.
"Aku tak perduli, sekali ku katakan pulang, ya pulang Dobe. atau kau ingin aku ke kampus mu dan menyeret mu saat ini juga?"
'Jangan seperti anak kecil teme!'.
"15 menit".
'Hei... aku bil..'.
"Jika kau tak pulang dalam waktu 15 menit, kau akan tau akibatnya".
Setelah puas berdebat di telp. pemuda itu langsung mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya. Ia menyandarkan punggungnya pada dinding kantornya. manik kelamnya menatap jauh keluar jendela.
tok tok tok….
"Hn...Masuk" perintah pemuda onyx itu singkat.
Pintu ruangannya terbuka dan masuklah sesosok wanita cantik dengan kimono megah, ia berjalan mendekati si raven.
"Ne sasuke-kun kenapa kau tampak begitu masam"
Ujarnya lembut sembari memeluk si pria mesra dari belakang. Wanita bersurai pink dengan manik emerland itu menyandarkan kepalanya pada bahu bidang pria yang dipeluknya. Sedangkan si pria tak memberi reaksi sedikitpun, ia masih asik memandan jauh keluar jendela dengan sesekali menghela nafas .
"Sasuke-kun apa yang kau lamunkan" tanyanya setengah berbisik.
Sasuke hanya mendengus kecil menanggapi pertanyaan sipink yang sedang memelukya. Ia lepaskan sepasang tangan putih yang melingkari dirinya. Sasuke berbalik dan melangkah menuju kursinya tanpa sedikitpun berniat menjawab pertanyaan sakura.
"Untuk apa kau kemari, sakura?" tanya siraven tanpa basa basi.
Nada suaranya terdengar dingin dan sangat rendah. Iris onyxnya menatap tajam sakura. Menunjukan seberapa tidak sukanya ia bertemu wanita itu. Sakura mendengus geli menerima respon khas uchiha itu.
"Tidak bisakah kau sedikit lembut pada wanita, Sa-su-ke-ku-n?"Eja sakura pada nama sasuke.
"Atau kau adalah seorang gay yang tak tertarik pada wanita?"
Tambahnya ingin menggoda pria dingin dihadapanya. Tampaknya Sasuke sedikit terusik, tapi ia tetap memasang topeng stoicnya
"Aku bukan gay!". tekannya pada setiap kata.
Nada yang dingin dan datar mengintimindasi. Iris obsidian malamnya menatap sosok cantik didepannya dengan tajam dan menusuk. Sakura hanya mendengus kecil mengengar jawaban si raven. Sasuke beranjak dari duduknya. ia langkahkan kakinya menuju pintu. tangan porselinya mengapai knop pintu dan berisiap menariknya.
"Dan satu lagi..."ujarnya mengantung.
Sembari menghentikan pergerakan tangnanya Membuka pintu.
"Kau itu baukan wanita, sakura!" tekannya. memberi penegasan diahkir kalimat.
Iris onyx malamnya melirik sekilas sosok cantik sakura disudut ruanga, kemudian melangkahkan kaki keluar ruangannya menuju lift. Dalam perjalanya sasuke hanya mengumamkan seuatu yang tak jelas.
"Neji, Utakata, yahiko. akan kupastikan kalian akan hancur ditangan Uchiha"
Seringaian kejam pun terukir saat gumaman amabigu itu meluncur mulus dari bibirnya. Dan sosok Sasuke pun menghilang dibalik pintu lift. Meninggalkan jejak kemisteriusan sosok seorang Uchiha Sasuke, yang bagaikan kegelapan .
KAMPUS NARUTO.
Naruto berlari tergesa gesa meninggalkan kelasnya. Ia sangat kesal dengan sikap Sasuke yang seenaknya. Tanpa memperdulikan tatapan heran dari teman temanya naruto melesat keluar kampus dan menuju tempat parkir. Disana Gaara telah dengan setia menanti Naruto.
"Gaara-san ayo cepat pulang" perintah sipirang tanpa basa basi.
"Hn" dan biasa sosok pria bersurai merah marun itu pun menjawab dengan iritnya.
"Dasar, teme sialan. teme menyebalkan, pantat ayam mesum, aneh, seenaknya"
Berbagai sumpah serapah dan hujatan tak henti hentinya Naruto rapalkan di sepanjang perjalan
"Apa dia tak berfikir aku sedang ada mata kuliah penting. dasar Teme brengsek"
Gaara yang mendengar Naruto terus mengerutu hanya mendengus geli. Ia ingin sekali kali membungkam bibir ranum cerewet itu dengan bibirnya. Tapi mengingat bos iblisnya, maka lebih baik tidak. Ia masih sangat menyayangi nyawanya. Bodoh mati di usia muda itu sungguh tidak elit apa lagi hanya karna memperebutkan seorang manusia kuning aneh seperti Naruto. Tak lama mereka tiba disebuah apartemen mewah. Naruto segera keluar dari mobil. Ia melihat sekilas arlojinya.
"Konyol, 13 menit kampus kerumah. aku bisa memecah kan recor muri bukan"
Ia langsung lari tunggang langgang memasuki apar tement.
' Dasar gila. normalnya rumah ke kampus butuh waktu 35 menit. ini kampus rumah cuma 15 menit, dia benar benar gila'
Naruto terus mengutuk Sasuke dalam hati. ia tak habis pikir apa yang membuat ia harus berburu buru ria seperti ini.
' Awas saja jika bukan hal penting,' ancamnya dalam hati.
BRAKKKK….
"Ta.. hos..daima hos... hos.. hos"
Nafas naruto tersenggal sengal, Bagaimana nafasnya tidak memburu, jika ia bagai dikejar kejar waktu.
"Hn okaeri Dobe"
Seseorang telah menunggu Naruto dengan tenang di sofa. Dengan datarnya ia menyambut sipirang.
"Ada apa hos hos Temeh" tanya Naruto langsung pada intinya.
Naruto mencoba menetralkan nafasnya. Setelah sedikit lega, ia melangkah kedapur. Sasuke hanya berdiam. tampaknya ia ingin sedikit menggoda mahluk pirang kesayangannya itu. Manik kelam Sasuke mengikuti mengekori setiap pergerakan Naruto. Bahakan saat sikuning jabrik itu memasuki dapur dan sosoknya menghilang di balik tikungan ruangan. Sasuke berdiri dari duduk manisnya. Ia beranjak mengikuti si pirang. Saat ia sampai di dapur, Sasuke hanya berdiri menatap sosok Naruto yang kebingungan mencari air. Sasuke mendengus geli saat melihat ekspresi lucu Naruto yang mengembungkan pupinya dan mengerucutkan bibirnya. Kelopak matanya menyipit hingga menampilkan hanya sedikit iris shafir menawanya. Sepertinya ia sangat kesal saat tak mendapati apapun dikulkas. Bahkan hanya air putihpun tak ada. Naruto berbalik dan melangkah ketoilet. Sasuke masih setia mengikuti Naruto tanpa suara, dan Naruto hanya acuh saja. Ia masuk ke kamarmandi. Dan berdiri di depan wastafel. Segera ia memutar kerannya dan meminum air dari wastafel.
"Ahhhhh... leganya" desah naruto sambil terpejam.
Menikmati setiap tetes air yang mengalir di kerongkongannya, dan memuaskan rasa dahaganya yang sedari tadi membuat ia tersiksa. Tanpa ia sadari Sasuke sudah berada dibelakangnya dan memeluk pinggang rampingnya dari belakang, Naruto terlojak kaget. Tubuhnya mengang.
"Tee... me...hhh"
Jantungnya kembali bergemuruh. Saat ia merasakan tangan Sasuke mulai menjelah bagian privasinya. wajah Naruto merah padam saat cuping telinganya dijilat, dikulum dan di gigit kecil Sasuke
"Akhhh... Teme.. hmm jangan bilang... kauuu..hhh menyuruhku pulang. akh.."
Pertanyaan Naruto terpotong saat Sasuke meremas milik Naruto yang masih terkurung didalam sangkarnya.
"Hanya untuk bercinta Teme".
Naruto melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
"Hn"
Bukan Sasuke jika ia akan menjawab pertanyaan naruto panjang lebar. Sasuk masih asik menjelajah tubuh ramping dalam dekapannya.
"L ihatlah Naruto" tangan sasuke mendongakkan dagu naruto untuk menatap cermin didepannya
"Kau sangat menggairahkan bukan? saat kau sedang terangsang" tambahnya dengan membelai belahan bawah bibir Naruto yang terbuka.
Iris biri langit itu tampak sayu, memperindah wajah tan exsotis Naruto. Sasuke membalik tubuh Naruto hingga menghadapanya. Tanpa ragu Sasuke meraup bibir menggoda dihadapanya. Tangan kirinya meneken kepala sipirang dan memperdalam ciumananya.
"Ummmm hhhm" lenguhan lolos dari bibir ramum naruto.
Sekesal apapun ia, tapi tubuhnya selalu meleleh oleh sentuhan lihai pemuda raven yang memeluknya saat ini. Tangan sasuke merayap turun dan melepas satu persatu kancing kemeja rubah manisnya. Sikuning Naruto mengeliat gelisah saat jari jari nakal Sasuke memilin dan mencubit niple sensitivenya. Punggung Naruto didesak Sasuke kewastafel. Tubuh kecil rapuh itu condong kebelakang
.Saat Naruto benar benar terdesak karna kehabisaan nafas, Sasuke pun melepas pangutanya. Naruto mendorong tubuh Sasuke dan sedikit memberi jarak. Sasuke mundur dan berbalik ia meninggalkan Naruto yang sudah setengah terangsang. Seringaian iblis terulas manis dibibir pucat si raven. Kakainya sangat lemas, tak lagi bisa menompang beban tubuhnya sampai akhirnya tubuh itu merosot kelantai. bibirnya bergetar antara rasa kesal dan kecewa. Tangantanya ia ulurkan untuk menggapai, mencoba cari penggangan, dan bibir wastafellah yang terraihnya. Naruto berdiri terhuyung.
'Teme sialan, brengsek'
ia mengumpat dalam hati meratapi nasib privasinya yang 'menggantung'. Ia berjalan menyusul Sasuke kekamar. Naruto hafal betul akan sifat 'pemiliknya 'itu. Di kamar Sasuke telah menantinya. Duduk bersandar pada sandaran tempat tidur. Kaki kirinya ia lipat kedalam dan lutut kaki kanan ia gunakan sebagai penompang lengan kanannya yang memegang segelas win. Belahan kimono tidur berwarna biru gelap mengekspos bagian paha dengan indahnya. Manik kelam Sasuke melirik, begitu Naruto masuk kekamar mereka. Ia mengamati setiap jengkal tubuh menggiurkan sipirang. Kemeja yang terbuka memamerkan dada tan mulus, bukan mulus mungkin karna penuh dengan kiss mark dari Sasuke. Wajah sayu memerah seperti menggodanya. Kacau bagi Naruto. Tapi lezat bagi Sasuke. Ingin segera siraven menerkam Dobenya. Menjamah setiap senti tubuhnya. Tapi ia tahan, karna ia ingin menghukum rubah nakalnya yang berani melanggar perintah mutlak si Uchiha.
Sasuke tak beranjak sedikitpun dari duduknya. Tapi manik obsidian malamnya menatap si shafir siang lekat dan tajam.
"lakukan sekarang" perintah saskuke tiba tiba.
Naruto hanya terbengong tak percaya.
'Dia benear benar menyebalkan'
Terpaksa Naruto bermain solo. Sasuke terus melihatnya, Hal itu membuat tubuh Naruto serasa terbakar dan malu sekaligus. Naruto melepas kemejanya. Ia membelai tubuhnya sendiri dengan erotis. Manik langit cerahnya terpejam. Bibir mungilnya terus mengalunkan desahan mengundang. Naruto berjongkok memgusap dan menekan nekan miliknya yang masih terbungkus celana.
"Hhhhh ... mhhhnnn"
Desahan panjang pun terlontar saat tangan kanannya memilin putingkanannya dengan nakal. sedangkan tangan kirinya melepas ikat pinggang, pengait, dan menurunkan reseleting celananya sendiri dengan tidak sabaran. Dan sesuatu yang menegang dengan urat dan cairan percum pun menyembul ingin bebas. Naruto melepas celana beserta dalamannya. kini tubuh naruto benar benar polos tanpas sehelaipun benang. Pahanya ia buka leber lebar. Memamerkan perivasinya pada Sasuke yang dengan setia menatapnya tajam. Naruto mengulum tiga jari kirinya. Kemudian membelai lubang berkedut menggodanya. Melihat Naruto bermain solo, Sasuke merasa wine yang ia tenggak pelan sangatlah sulit tertelan. Naruto sungguh seksi, erotis, tapi belum waktunya ia memakan rubah Dobenya.
"Sa... sukehhhh ohhh fuck emmhh me...hhhhh ohhh please"
Rancu naruto saat ketiga jarinya telah mengobrak abrik lubangnya sendiri dengan ritme yang cepat. Wajah Naruto sangat merah. Nafasnya tersenggal senggal. Mulut nya terbuka dan matanya tertutup sayu. Tubuh Sasuke benar benar memanas menyaksikan pemandangan mengundang di depanya. Tak lagi sanggup menahan hasratnya si raven pun berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah sipirang. Ia berjongkok di tepat dihadapan naruto. Tangan Sasuke terulur menggapai dagu Naruto kemudian mendongakannya. tanpa menunggu lagi, Sasuke pun melumat bibir ranum rubahnya.
'Kau hanya miliku dobe'
Sasuke semakin brutal mencium Naruto. Tapi kini tangan Sasuke telah menggantikan tugas tangan Naruto. Ia membelai dan memilin niple pink kecolatan Naruto. Tangan kirinya pun tak menganggur, ia belai dan remas testis naruto.
'Ini hukuman mu Dobe'
Belaiannya menjadi kasar dan brutal.
"Akhhhhhhhh.. Teeeemeeehhhh"
Naruto mencapai klimaknya. Sasuke mendorong tubuh Naruto merebah kelantai. Ia angkat kedua kaki Naruto kepundaknya. Tanpa aba aba dan persiapan Sasuke mendobrak lubang Naruto. Sasuke terus memompa tubuh ramping dibawanya tanpa memperdulikan, Naruto merintih kesakitan. Tak ada teriakan. Naruto hanya menggigit bibirnya kuat agar tak menjerit. Airmatanya pun meleleh. Seiring dengan darah yang keluar dari bibirnya yang terluka. Tapi bukan hanya bibirnya yang berdarah. Sasuke sangat brutal, hingga membuat anus naruto terluka.
"Shit kau sempit Naruto. ohhhhh emm"
Rancu Sasuke menikmati remasan dinding Naruto yang ketat. Ia terus merancu seperti orang gila sedangkan Naruto hanya bisa mendesah sakit dan nikmat bersamaan. Sasuke menurunkan kaki Naruto, kemudian Membukanya lebar lebar, Sasuke kembali menghujamkan Sasuke junior kedalam rectrum Naruto. Mereka tenggelam dalam hasrat membara, yang membuat suhu kamar mereka semakin meningkat. Sasuke mencium dan melumat bibir plum Naruto dengan liar. Naruto terus mendesah tertahan, lidah Sasuke melilit lidah Naruto dan menariknya. Tak lama pasokan oksigen mereka menipis. Sasuke malepas pangutannya, tapi kini ia beralih keleher jenjang sipirang. Ia hisap, dan gigit kecil leher tan naruto, memberi kiss mark baru diatas kissmark lamanya. Tangannya tak berhenti memainkan milik Naruto. Naruto mengeliat tak nyaman. Kedua tangannya ia lingkarkan keleher pria raven yang sedang menindihnya. Gerakan Sasuke semakin cepat. Naruto tak lagi bisa menerima kenikmatan dari sasuke. ia memeluk erat tubuh kekar 'pemiliknya'.
"HHhhh Sa...sukehhhhh.. keluar akhh.."
Naruto pun mencapai puncaknya, cairannya menyembur mengenai perutnya dan Sasuke. Sasuke melepas genggamannya pada penis naruto. Ia jilat tangannya yang belepotan cairan milik orang terkasihnya dengan gaya yang di buat sensual mungkin.
"Akhhhhhhh ahhh hhh... "
Naruto kembali memekik saat Sasuke kembali menghentakan miliknya dengan keras menghantam prostat Naruto. Sasuke merasa dinding Naruto mengetat, Semakin meremas miliknya. Milik Sasuke pun semakin mengeras dan berdenyut pertanda ia juga akan mencapai klimaknya. Sasuke memompa lubang Dobenya semakin cepat hingga ahkirnya iapun klimak didalam tubuh Naruto. Kelelah, itu sudah pasti. Mereka takhanya sekali bermain, tapi hingga berkali kali. Siang sudah berganti menjadi malam. Naruto terbangun dari tidurnya. Ia mencoba bangkit dari rebahanyan di lantai yang dingin tanpa alas. Jam menunjukan pukul 11.30 malam. Ia melihat sosok raven yang tidur di sampinya, ia masih nampak terlelap dalam mimpi indahnya. naruto berjalan tertatih menuju kamar mandi. sipirang membasahi tubuhnya dibawah siraman shower yang dingin. Tubuhnya yang sakit dan linu sudah seperti mati rasa, di bekukan dinginya air di tengah malam. Setelah selesai dengan acara mandinya maka Naruto bergegas mengganti bajunya. Tiba tiba,
Kruuuuukk .. kruuk….kruk
.
Suara perut Naruto bergemuruh memberontak meminta di isi. Tanpa berfikir lagi Naruto pun menuju dapur, mengorek ngorek isi kulkas, tapi sepertinya ia tak beruntung, ia lupa bahwa kulkas benar benar kosong. Segera Naruto menyahut kaus hitam dan jaketnya orangenya dari atas gantungan dan memakainya. Ia melangkah keluar apartemen berniat mencari sesuatu yang dapat mengganjal perutnya. Ia eratkan jaketnya mencari kehangatan. Ia peluk tubuhnya sendiri dengan kuat menyusuri dinginnya malam. Kota masih ramai walau malam sudah larut. Naruto memasuki sebuah kedai ramen 24 jam bernama Ichiraku. Sipirang ini memanglah penggila ramen, apalagi ramen buatan Teuchi ji-san.
"Paman ramen jumbo satu" pesan naruto pada seorang lelaki paruh baya.
"Hh Naruto tumben tengah malam kemari" balas si pria dengan ramahnya.
"Hehehehe aku sangat kelaparana paman" naruto menjawab dengan cengiran khasnya.
Ia usap usap kan kedua tangannya mengusir rasa dingin. Sambil menunggu Ramen pesanannya tersaji, Mereka tampak akrab mengobrol.
Ditempat lain.
Dua orang pria tampan tampak serius membicarakan suatuhal ditengah bisingnya suasana club malam dan dentuman musik disco. Yang satu berkemeja putih bersih dengan jas krem membalut tubuh atletisnya. Surai coklat panjangnya menanbah keelokan parasnya yang rupawan. Sedangkan pria satunya menatap iris sewarna bulan milik kawanya yang berada dihadapanya dengan tajam. Manik madunya memancarkan tatapan tegas dan kuat. Walau penampilanya sangat anggun dengan yukata biru lautnya.
"Neji, kapan rencana mu ingin merebut Naruto."
Seseorang bermanik seindah madu dengan yukata biru muda tengah mengobrol serius dengan sahabatnya.
"Lebih cepat lebih baik." jawab sang sahabat dengan nada datar dan tenang.
Pria beryukata biru itu menyisir rambut hitam kecoklatanyanya dengan jari jarinya.
"Kalau begitu aku akan segera siapkan semuanya"
Pria tampan yang kita kenal sebagai penggila gelembung itu meminum winenya dengan elegan. Cukup lama mereka membahas rencana mereka hingga ahkirnya memutuskan pulang.
"Hei neji aku ikut mobilmu ya"
Pinta Utakata pada pria di sebelahnya.
"emm"
Tanpan banyak bertanya si pria yang di panggil Neji pun menjawab di sertai anggukan ringan. mereka keluara dari discotic dan melesat membelah kota.
" Hei bagai mana jika kita mampir sebentar"
Utakata membuka pembicaraan sang semula saling terdiam.
"Kemana" jawab Neji singkat.
" Kedai ramen di depan, tiba tiba aku ingin menik mati ramen dan'Naruto' di tengah malam" Jelanya pada sang sahabat.
"Ok aku juga merasa lapar"
Neji memberhentikan mobilnya di depan kedai ramen Ichiraku.
"Paman pesan ramen dengan 'double Naruto'".
Mendengar namanya di sebut pemuda pirang yang sedang asik menikmati ramenya reflek menoleh.
"Ukaakaaka!?" (Utakata)
Panggil pemuda pirang itu dengan mulut penuh mie ramen pada sosok pemuda beryukata di sampingnya. Utakata menyerjitkan alisnya.
"Naruto!" sapanya dengan senyum anggun.
"Sedang apa kau tengah malam begini" tambahnya sembari duduk di bangku panjang di depan kedai.
"Paman aku pesan ramen kuah miso sedang"
Masuklah seorang lagi pemuda yang tadi bersama Utataka. Manic lavendernya membelalak seketika
"Naruto...!?" ujarnya agak terkejut. Tapi tetap tenang.
"Sedang apa kau"
Lagi-lagi pertanyaan yang sama seperti yang barusan Naruto dengar dari Utakata. Naruto segera menelan mienya.
"Ahkhhhh" desahnya lega saat semua mie mienya tertelan sempurna.
"Makan, menurut kalian" tamahnya santai menjawab pertanyaan sabat sahabatnya.
Kedua pria yang menerima jawaban itu hanya bisa memutar bola matanya jengah,
"Maksudku tak biasa kau keluar tengah malam begini, tak seperti dirimu saja" jelas si pria berambut coklat panjang yang di sambut anggukan setuju kawannya,
Si utakata.
"Aku lapar, dan di aparteman Teme sama sekali tak ada makanan" jawabnya dengan nada polos khasnya.
" Mereka pun bersweetdrop ria termasuk Teuchi ji-san yang sedang membuat ramen pesanan mereka.
"Ini pesanan kalian" Teuchi ji-san memberikan dua mangkuk ramen pada Neji dan Utakata.
"Paman aku mau tambah satu mangkuk lagi" pinta Naruto pada paman penjual ramen. Mendengar permintaan teman kuningnya, Utakata dan Neji hanya bersweetdrop ria. Sedangkan sipaman pembuat ramen hanya tersenyum ramah. Menanggapi tingkah ajaib pelanggannya yang sudah biasa baginya. Satu mangkuk ramen jumbo pun siap dihadapan Naruto. Neji dan Utakata hanya bisa menelan ludah terkesan sekaligus takpercaya. Saat mereka bertiga tengah hikmat menikmati ramen masing masing, tiba tiba terlintaslah pikiran licik di otak jenius di penggila yukata. Pria berisis orange madu dengan surai hitam itu mengeluarkan sebuah bungkusan kertaskecil dari saku yukatanya. Tanpa ada seorang pun yang tau, ia masuken serbuk aneh itu kedalam minuman Naruto yang ada di samping kanannya. Tak lama ramen Naruto pun ludes, bahkan ia menenggak habis kuahnya hingga tak tersisa.
'Gila, dia benar benar gila ramen' pikir Neji dan Utakata bersamaan, belum juga ramen mereka habis, Naruto sudah mengandaskan dua mangkuk ramen posrsi jumbonya.
"Ahhm kenyangnya" desahnya lega sembari mengusap usap perutnya yang seperti orang hamil. Sedangkan kedua sahabatnya hanya bisa bercengo ria. Naruto menyambar gelas minumannya yang berada di sebelah kirinya ia minum dalam beberapa tegukan. Dan saat itulah dapat dipastikan kita bisa melihat seringaian licik Utakata yang sangat langka, jika ada yang melihatnya.
'Sebentar lagi kau akan kumiliki, Naruto' batinya ngelantur.
Setelah habis iapun beranjak dari duduknya berniat untuk membayar ramenya. Tapi tiba tiba rasa pusing menyerang kepalanya. Ia pun oleng dan roboh tapi denga sigap Utakata menangkapnya dan menompang dengan kedua tangannya.
"Narutoooo.. Naru.. Naruto.. Kau kenapa"
Terdengar suara ribut yang semakin lama semakin menghilang dari pendengaran Naruto. Kesadaran Naruto pun semakin menipis dan lama kelamaan menghilang. Semuanya panik kecuali Utakata.
"Tenang dia hanya kenyangan sampai tertidur" bohong Utakata menenangkan sahabatnya dan pemilik kedai.
Neji menyerjitkan alisnya tak percaya, tapi yang paling penting saat ini adalah Naruto,
"Kau yakin Utakata"
Tanya sang sahabat dengan nada penuh kekhawatiran.
"Neji, siapkan mobilmu. kita pergi sekarang". perintah Utakata.
Neji hanya mengangguk tanpa berkata apapun. Utakata menggendong neruto ala brigdal style.
"Paman, berapa semuanya" tanya Neji pada Teuchi ji-san.
"Termasuk bon Naruto" tambahnya sebelum Teuchi menanyakan tentang bon Naruto. Pria paruh baya itu menghela nafas lega. Ia berfikir mungkin saja ia akan merugi hari ini, tapi ternyata tidak.
"250 yen" jawab Teuchi singkat.
Neji mengeluarkan mengeluarkan 1lembar uang 500 yen dan menyerahkan pada teuchi.
"Ini paman, ambil saja kembaliannya." ujarnya sembari berlalu.
"Ayo neji" teriak Utakata mengintrupsi temanya yang tertinggal di belakang. Neji membuka pintu penumpang, dan Utakata merebahkan tubuh Naruto dikursi penumpang belakang. Neji segera mengemudikan mobilnya menelusuri kota. Utakata yang duduk di sebelah Eeji hanya terlamun dengan fantasi liarnya yang tak bisa di tebak Neji.
"Kita mau kemana?" tanya Neji membuyarkan khayalan Utakata.
"Apartemen ku" timpal sang kawan datar.
'Apa yang sebenarnya ia rencanakan' iner Neji merasa was was.
Tak butuh waktu lama tibalah mereka di sebuah apartemen yang cukup mewah di lingkungan elit tapi bukan di lingkungan apartement Sasuke. merekapun memasuki apartemen Utakata. ruangannya memang besar dan mengah tapi kesan yang ditimbulkan ketika memasuki ruangan itu adalah, elegan, anggun, tenang, dan tradisional.
'Dasar orang kuno' umpat dalam hati.
"Aku akan mengistirahatkan Naruto di kamarku. Jika kau ingin pulang, pulanglah". jelas si pemuda yukata pada kawannya.
"Mungkin sebaiknya aku menginap juga dirumahmu, terlalu malam untuk mengemudi. Aku sangat lelah" tolakanya dengan penjelasan bohong.
'Siapa yang sudi meninggalkan Naruto bersama manusia gelembung aneh sepertimu' umpat si pemilik iris lavender dalam hati pada sahabatnya. Ia benar benar takut jika Naruto diserang sipenggila gelembung itu.
"Terserah" timpal Utakata sembari memutar bola matanya jengah.
'Sial. manusia kaku itu, ingin mengganggu ku rupanya, cih dasar pengganggu, menyebalkan.'
Tidak kalah rupanya utakatapun menghujat sahabatnya dalam hati.
Skip time.
Sang malaikat masih tertidur lelap dibawah pengaruh obat tidur. Hingga tak ia sadari bahwa ia tengah diapit dua pangeran tampan bertubuh gagah yang tertidur di disamping kanan dan kirinya. Neji , Naruto, Utakata. Mereka tidur dalam satu ruangan dan satu tempat tidur berukuran king size. Neji terbangun dahulu. Yah diantara mereka Nejilah yang paling rajin. Ia membuka tirai yang menutupi jendela dikamar Utakata. Sinar matahari pun masuk menelusup dan mengusih tidur nyenyak dua kawannya. Naruto menguap dan mengerjapkan kedua manik shafirnya yang terasa silau.
"Ohayou hime" sapa Neji berdiri disisian jendela. Naruto mengucek matanya mengumpulkan seluruh rohnya.
"Ohayou mo Neji" balasnya malas,
Tunggu Neji, dia bilang, Neji? ia tidak salah menyebut,?kan.
Iris sebiru langit cerahnya membebelalak tak percaya.
"Neji, mengapa kau ada di apartemen Sasuke" tanyanya dengan ekspresi bingung.
"sasuke,? kau belum bangun. Bodoh "
Naruto mengucek matanya kasar,ia ingin memastikan ucapan sahabatnya. Naruto membolakan manik shafirnya.
'Ini bukan kamarku dan Sasuke, ini bukan kamar Teme, lalu ini dimana'
Naruto mengamati dan terus mengamati setiap detail ruangan. Tiba-tiba sepasang tangan melingkari pinggangnya. Memeluknya erat. Naruto terlonjak kaget.
"Kyaaaaa apa apaan ini, lepas, siapa kau, hei, hei, hwaaaa Utakata apa yang kaulakukan"
Teriaknya melengking histeris bak anak perempuan di serang hidung belang, hal itu sukses membuat kedua sahabatnya dengan terpaksa menutup kedua telinganya tak ingin tuli mendadak karna pekikan cempreng sikuning kawannya.
Kita lupakan Naruto dengan tingkah konyolnya. Sejenak dan kita beralih ke tempat sasuke.
Sosok raven, tengah rebahan di lantai tanpa sehelai benangpun benang menutupinya. Manic onyxnya masih terpejam. saat ia merasa dingin menusuk kulitnya mengganggu tidurnya. Tangannya meraba sesuatu disampingnya. Ia mencari sosok pirang dengan kulit tan, yang seharusnya juga tertidur disampingnya.
'Kemana Dobe?/? !'
Manic obsidian kelam Sasuke beredar keseluruh ruangan mencari sosok malaikat rubanya. Sasuke segera mengenakan kimono mandinya dan mencari Naruto keseluruh penjuru apartemen, tapi sosoknya sama sekali tak ia temukan. Sasuke segera menghubungi asistenya Gaara.
'Moshi moshi' ujar orang yang di telfon sasuke di sebrang sana.
"Gaara. cari Naruto, sampai ia ditemukan" perintah Sasuke tanpa mau mendengar salam sang asisten.
"Baik Sachoum tap..."
Telpon pun terputus bukan terputus tepatnya di putus sepihak sebelum sang asisten menyelesaikan kalimatnya.
Kring …. . kring . .. kring…
Ponsel Sasuke kembali berdering. Ia menatap layar ponselnya, disana tertera nomor tanpa nama. Sebenarnya ia sangat malas mengangkat nomor tak jelas itu, tapi firasatnya mengatakan sesuatu hal yang buruk akan terjadi bila ia abaikan panggilan itu. Sasuke pun memutuskan menerima panggilan tak bernama itu.
"Hn".
'Hallo, Sasuke-san'.
"Siapa kau apa mau mu".
'Ho ho ho tidak sabaran sekali, memang ciri khas Uchiha'.
"Tak usah bertele tele, katakan apa mau mu".
'Naruto bersamaku'
"Apa mau mu brengsek".
'Tenang, tuan Uchiha. Naruto tidak kami apa apakan'.
"Jika kau berani menyentuh Naruto sehelai rambut pun. Kubunuh kau".
'Huh dasar Uchiha. Aku Hanya menyampaikan pesan Naruto. Jika kau ingin menjemputnya datanglah ke doujo kendo klan Hyuga'.
"Apa...".
Sambungan pun terputus dari sebrang sana. Sasuke mengeram murka. Ia mengepalkan tinjunya dan menghantamkan pada cermin di depannya.
"Brengsek kau Hyuga, Utakata akan kupastikan kalian akan hancur ditanganku" raungnya dengan emosi yang meledak ledak.
Segera ia menyamabar kemeja hitam dan mengenakannya. Ia bergegas keparkiran dan melesat ke doujo Neji.
"'Kuso, kuso, cih kuso" umpatnya di sepanjang perjalanan.
Pikiran Sasuke tak bisa fokus mengemudi, yang ada di otaknya saat ini hanya Naruto, Naruto dan Naruto.
"Brengsek"
Sekali lagi hujatan ia lontarkan ketika ia hampir menabrak penyebrang jalan. Tangannya yang terluka kembali ia tinjukan ke setir kemudi. Dan darah segar pun kembali mengalir. Tak beberapa lama ia pun sampai di doujo Hyuga.
Kesabaran Sasuke benar benar tersita. Ia kini tak lagi perduli dengan topeng stoic Uchihanya. Sasuke mendobrak dengan kasar pintu doujo. Hal itu membuat Neji, Utakata terutama Naruto tersentak.
"Te.. teme" ujar Naruto terbata.
Amarah Sasasuke kembali meluap. Melihat tubuh malaikatnya dipeluk peria bersurai coklat panjang indah, yang ia ketahui sebagai sahabat Naruto, Hyuga Neji.
"Neji lepas."pinta Naruto dengan nada taknyaman.
Sebenarnya Naruto tak tau apapun. Ia tak sadar bahwa ia sedang diculik kawannya sendiri. Saat Sasuke akan memukul si pemuda Hyuga. Tiba-tiba tangannya di kunci beberapa orang.
"Tuan Uchiha, kau memang brutal." ujar seseorang dari belakang Sasuke.
Pria berbalut yukata biru tua elegan itu melanghah menghampiri Neji dan Naruto.
" Sialan kalian, lepaskan Naruto". raung si bungsu uchiha.
"Ne... Teme kenapa kau marah marah" tanya Naruto dengan polosnya.
Mendengar pertanyaan konyol malaikatnya Sasuke hanya bisa menggeram kesal. Sedangkan Neji. Hanya cengo akan ke idiotan Naruto. Utakata , jangan Ditanya. Dia sama ajaibnya dengan sipirang Naruto. Dia hanya terkekeh geli mendengar kawan kuningnya. Utakata si penggila gelembung menatap Sasuke dengan pandangan meremehkan.
" Brengsek, apa mau kalian"
SasukeMemberontak tapi percuma pitingan 2 orang bertubuh kekar suruhan Utakata sangatlah kuat.
" Keinginan kami cuma 1".
Utaka kata membelai wajah manis Naruto yang masih berada di dalam peluka Neji.
"Berani kau sentuh Naruto kubuhkau" raung dengan tatapan membunuhnya.
"Neji, lepaskan aku. Hei kalian ini apa apaan sih." cerocos Naruto bingung.
"Naruto" ucap si Utakata dengan melirik Sasuke.
Sasuke yang tau arti dari lirikannya mengepal kan genggamannya eret.
" Ne…. Naruto. Bagai mana jika kau tingga bersamaku."
Utakata mencium pipi kiri naruto.
'Sial mereka sungguh kuat.'
Sasauke menggeram kesal melihat malaikatnya dicium orang lain.
"Tapi aku sudah tinggal bersama Teme." jawab sipirang lirih.
" Kenapa kau tak pindah saja" bujuk kawanya.
Naruto menggeleng lemah.
"Kenpa? apa karna hutang mu pada Sasuke-san?" tanyanya kembali dengan nada simpati.
Naruto tersentak
"Utakata, darimana kau tau tentang hutang ku?" tanya Naruto dengan tatapan penuh selidik.
Utakata mengedikan bahunya.
"Tidak penting aku tahu darimanan Naruto!"
Sergah Utakata santai. Kini perhatian si penggila gelembung itu teralih pada sosok pria dewasa dengan surai raVen yang menatapnya dengan tatapan ingin memebunuh.
"Nee Naruto bagai mana jika hutang mu aku lunasi semua" ujar Utakata tanpa mengalihkan perhatiannya pada Sasuke.
Seringai iblis terkembang indah dibibir tipis Utakata. Naruto tak menjawab. Ia benar benar kaget dan bingung.
"Bagai mana Tuan Uchiha, aku akan mengembalika semua 3 kali lipat." tawarnya meremehkan.
"Ak...".
"Tidakkkkkkkk... aku bukan barang aku tak ingin di perjualbelikan." raung Naruto memotong ucapan Sasuke. Naruto tak tampak kalut. Ia marah, kecewa, sedih, terluka. Air matnya tak lagi bisa ia bendung.
"Naruto. Kenapa kau menolak?" kini Neji yang berujar lirih.
Ia semakin mengeratkan dekapannya pada tubuh Naruto yang molai bergetar.
"Neji kumohon lepaskan aku." Naruto membalas Perkataan Neji lirih.
Kepalanya ia tundukan tak sanggup menunjukan kekalutanya . Ia sedi, marah, terluka, kecewa. Sasuke yang telah ia anggap keluarga berteran saksi dengan sahabatnya sendiri. Untuk memperjual belikan dirinya.
"Aku... ben...ci" tutur si pirang yang sedang menjadi bahan perebutan.
Neji tak begitu mendengar ucapan Naruto. Naruto Berkata sangat lirih.
"Naruto.. kenapa kau menolak?, bukankah kau sangat tersiksa bersamanya?." Neji hanya bisa membujuk Naruto posesif dengan kata kata menenangkan.
"Jika kau lepas darinya kau akan bahagia" tambahnya lagi. Utakata hanya mengamati Neji beraksi menahlukan sahabatnya. Sedangkan Sasuke ia tak tau harus berbuat apa. Di satu sisi ia sangat mencintai Naruto dan dan tak ingin kehilangan malaikatnya. Tapi di sisi lain apayang di ucapkan pria berambut coklat panjang itu benar. Jika Naruto terus bersamanya ia tak akan pernah bahagia.
"Kami sangat perduli pada mu Naruto" tambah Neji kini ia melepas pelukanya. "Karna aku sangat menyukaimu"
Naruto terperanjat, tak percaya dengan perkataan sahabatnya. Pria yang hampir sama dengan Sasuke ini tengah menyatakan cinta pada dirinya. Manic shafir Naruto membelalak Mencari kepastian. Mengapa sahabatnya milih ia yang laki laki, sedangkan Naruto sangat yakin bahwa keindahan fisik dan sikap elegan seorang Tuan mMuda Hyuga pasti bisa menundukan gadis manapun yang diinginkanya. Rupanya tak hanya Naruto yang di buat terkejut dengan ucapan Neji. Utakata yang semula bersikap tenang kini menahan nafas tak percaya temanya mencuri start darinya. Sedangkan Sasuke jangan ditanya. Jika tubuHnya tak terkunci saat ini, sudah di pastika sang Tuan Muda Hyuga itu akan mati dalam keadaan tak berbentuk karna dicabik cabik oleh sang Uchiha.
"Kau... kubunuh kau Hyuga" raung sang Uchiha murka ia menggeram marah dan berotak.
Tapi alhasil bekukan pengawal Utakata semakin mengerat.
"Wow lihat lah, pemandangan langka." sindir takata pada Sasuke.
"Tuan Uchiha yang terkenal dingin. miskin ekspresi bisa semumurka ini hanya karna seorang Uzumaki Naruto, kau hebat Naruto, bagai mana cara mu menahklukannya" ejek Utakata.
Naruto menatap tajam Utakata. Entah mengapa hati naruto sangat sakit saat melihat Sasuke di permalukan.
"Utakata, aku benci kau. Kau bukan Utakata sahabat ku. Aku tak mengenalmu. Utakata kawanku tak akan berbuat seperti ini" Naruto berteriak ia berlari menghampiri Sasuke.
"kalian dengarkan ini. Jika sesuatu terjadi pada Sasuke aku tak akan mau menganggap kalian teman lagi" ancam Naruto dengan tegasnya.
Utakata dan nNeji hanya bisa cengo tak percaya melihat Narutonya yang imut bisa mengancaM seperti itu.
"Selain itu. Aku tak merasa tersiksa. Dia orang pertama yang mengakuiku sebagai keluarga"
Sasuke tertegun mendengar ucapan Naruto. Ia senang tapi juga sedih. Ternyata bagi naruto ia adalah keluarga. Lain sasuke lain Utakata, kini Utakata menggeram marah. Ia menghampiri Sasuke,
"Kau brengsek.. kau apakan Naruto sampai terus membelamu hah? dasarkau keparat.!" Utakata melayangkan pukulanya ke arah Sasuke sembari memakinya dan akhirnya.
Buakkk…..
"Akh…... itai"
Ringis Naruto yang tersungkur menerima bogeman Utakata. Semua pasang mata berbeda warna membelalak tak percaya. Menatap Naruto yang dengan sengaja menerima pukulan Utakata sebagai tameng Sasuke.
"Isss itai yo"
Rintihnya sembariengelus pipinya yang membengkak.
"Naruto" teria mereka ber3 bersamaan.
"Utakata apa yang kau lakukan" pekik Neji berlari menghampiri si pirang.
" Kau kubunuh kau, sialan"
Sasuke menyentakan tangannya dan terlepas dari bekukan orang suruhan Utakata, tangan kanan Sasuke siap melancarkan pukulan ke wajah tampan Utakata. Sedangkan tangan kirinya mencengkeram kuat yukata Utakata dan menariknya. Sebelum pukulan hampir mengenai wajah Utakata, Naruto merengkuh lengan kekar 'pemiliknya'
" hHentikan, kumohon jangan sakiti dia"
Naruto menahan sekuat tenaga lengan sasuke. Ia kembali derderai airmata. Melihat sang malaikat kembali menangis. Ia pun mengurungkan niatnyamemukul Utakata. Ia dorong tubuh berbalut yukata yang kini lusut itu hingga menubruk tubuh tegap di belakangnya. Neji sigap menyangga tubuh oleng kawanya.
"Bawa aku pulang, Sasuke. Kumohon bawa aku pulang"
Sipirang kini memeluk lengan kekar Sasuke dengan sedikit gemetar. Suaranya terasa berat. Air matanya masih belum berhenti mengalir.
"ayo...Kita Pulang, dobe"
Sasuke mengulurkan tangannya dan menarik tubuh yang lebih kecil darinya itu. Membawanya dalam sebuah gendongan ala brigdal style. Dan Naruto pun menyambutnya dengan mendekap leher Sasuke. Naruto tersenyum simpul kemudian menatap kedua sahabatnya.
"Utakata, Neji. Terimakasih atas rasa perduli kalian. Tapi aku sudah memilih Sasuke Teme sebagai tempat ku pulang. Jadi maaf aku tak bisa bersama kalian" ucap Naruto di iringi senyum tulus yang berkembang di bibir ranumnya.
Senyum malaika yang bisa luluhkan hati siapa saja. Senyum yang bahka bisa menahklukan sang iblis yang terkenal kekejamanya. Senyum yang membuat Sasuke, Neji, Utakata, Yahaiko dan yang lainya tergila gila padanya. Selesai berkata demikian. Naruto menyembunyikan wajahnya yang memerah didada bidang sang Uchiha. Kedua sejoli itu meninggalkan Utakata dan Neji dalam keterdiaman mereka. Utakata mencengkeram yukatanya kuat. Menyadari ketidak setabilan sabatnya Neji mendekap sang kawan lembut.
"Sudahlah Utakata,".bisiknya lembut pada sosok Utakata yang bergetar emosi.
"Kita sudah kalah, biarkan Naruto bersamanya. Jika itu memang pilihanya".
Neji tersenyum pahit mencoba menenagkan kawannya walau hatinya sendiri sebenarnya juga kacau.
Lupakan kedua orang ini, kita berpindah pada PASANGAN UTAMA SASUNARU kita.
Mereka telah tiba di apartemen Sasuke.
"Nee.. Teme apa kau marah".
"…...".
"Maaf…..".
"Hn".
" Teme tidak bisa kah kau tak menggunakan bahasa anehmu itu".
"Dobe?!".
"Apa?".
"Apa benar kau memilih ku untuk menjadi tempatmu pulang".
"aa-apa maksud mu teme".
" Lupakan!".
"Teme?"
"Hn".
"Arghhhh, Teme kau menyebalkan."
"Maukah kau menjadi keluargaku, Uzumaki Naruto?".
"tentu...Saja"
Mulai saat ini kita keluarga. Tak perlu ikatan darah untuk menjadi keluarga. Selama saling percaya dan melengkapi, saling melindungi dan menyayangi. Maka dengan sendirinya ikatan akan terbentuk. Sebuah ikatan terbentuk tidak harus melalui sebuah pertalian darah benar bukan? Contoh nya mereka. Sasuke dan Naruto
End
Maaffffffffffffffffffffffffffffffffffffff kelamaan updetenya
Bottom of Form
