Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
HISHIGI POV
Kalender sudah memasuki pertengahan bulan Januari pertanda musim dingin akan segera berakhir dalam satu bulan kedepan. Beberapa hari yang lalu, Hitoki, ibunda Tokito sekaligus istri Fubuki pulang ke istana semenjak mereka rujuk. Aku tidak mengetahui apa yang menyebabkan mereka berpisah dulu. Yang sekarang kuketahui, Tokito anak Fubuki dan keponakannya Muramasa. Tapi hal itu sama sekali tak mengubah apapun, Tokito tetap menjadi pengawal elitku. Kecuali dia tidak akan pulang kampung setiap dua bulan. Bukankah itu bagus?.
"Hishigi-sama, makan malamnya sudah siap" Tegur Tokito. Aku menghentikan pekerjaanku dan menyingkirkannya kesisi. Memberi ruang untuk nampan berisi makan malamku yang diantarkannya. Tokito kemudian duduk didepanku dalam diam sementara aku mulai makan. Tidak ada pembicaraan apapun diantara kami. Selesai makan, Tokito membereskan sisa makanku dan membawanya ke dapur seperti biasa. Selesai membersihkan alat makan, Tokito hendak pamit undur diri.
"Aku ada pertemuan di Kyoto selama satu minggu. Kita berangkat besok jam empat pagi" Kataku. Tokito mengangguk faham. Kuperhatikan punggungnya yang menghilang ditutup daun pintu. Dan bersamaan dengan itu, dadaku yang serasa sakit dari tadi pun berangsur normal kembali. Walaupun sakit tapi entah kenapa, aku menyukainya.
END HISHIGI POV
.
.
.
"Dua minggu!?" Ujar Fubuki.
"Yap" jawab Tokito yang tengah sibuk mengepak barangnya kedalam kantung tas.
"Kenapa si maniak itu tidak menyewa orang lain saja?" Gerutu Fubuki retoris. Agaknya kita bisa tahu berasal dari mana kebiasaan Tokito yang suka menggerutu.
"Aku kan pengawalnya, ayah. Tenang saja." Ujar Tokito kalem.
"Tapi kau kan anakku. Aku mana bisa tenang melepas anak gadisku bersama lelaki berduaan saja." Jawab Fubuki protektif. Tokito menghela nafasnya.
"Tenang saja ayah, aku sudah berkali-kali pergi dengan Hishigi-sama dan tidak terjadi apa-apa, kan?" Ujar Tokito berusaha menenangkan ayahnya.
"Ya, Hishigi sahabatmu, kan, anata?" Ujar Hitoki. Fubuki memandang Tokito datar.
"Baiklah. Kalau dia sampai macam-macam denganmu, aku sendiri yang akan memenggal kepalanya" Jawab Fubuki sambil mlengos pergi. Tokito cuma bisa geleng-geleng kepala, ternyata ayahnya ini termasuk spesies yang over-protektif.
.
.
.
TOKITO POV
"Kau sudah siap?" Tanya Hishigi yang sudah berada diatas kuda hitamnya.
"Yeah. Aku siap Hishigi-sama" Kataku yang juga sudah berada diatas Yuki. Dengan satu hentakan, kami pun meninggalkan istana Onmyouden menempuh empat hari perjalanan menuju Kyoto.
Ketika hari menjelang malam, kami baru meninggalkan tanah Mibu dan memasuki pinggiran hutan Sekigahara. Hutan yang masih terjaga keasliannya ini menyimpan kesan mistis namun indah. Setelah dua hari melewati Sekigahara, kami hanya perlu melewati desa kecil selama sehari dan besoknya akan sampailah kami di Kyoto. Untuk melewati malam ini, kami memutuskan bermalam di sebuah penginapan kecil dekat situ sebelum malam.
Setelah mengisi buku tamu, kami segera masuk kedalam kamar paling besar disitu. 'SREG' Pintu dibuka dan tampak sebuah kamar yang bahkan tak terlalu luas dibanding kamar mandi yang berada di istana. "Yeah tidak ada salahnya sedikit tradisional, kan? Hahaha. Aku akan menggelar kasurny" Ujarku seraya berjalan kearah lemari hendak menggelar kasurnya.
"Tidak" Ujar Hishigi menghentikan langkahku yang melihat padanya. "Aku lapar, buatkan aku makan malam" Perintahnya.
"Hai" Jawabku yang lalu pergi menuju dapur penginapan.
.
.
.
"Selamat malam, tuan. Ada yang bisa saya bantu?" Jawab Seorang gadis yang mengenakan yukata putih.
"Tolong buatkan makan malam untuk majikanku. Jangan yang manis dan juga terlalu asam juga jangan ada racunnya. Oh ya, dia juga tak suka seledri. Minumnya teh hijau biasa saja." Pesanku padanya.
"Segera datang, tuan. Silakan menunggu dikamar, akan kami antar" Ujarnya.
"Ng, aku akan mengantarnya sendiri saja" Kataku dan ia pun mengangguk. Well walau Hishigi menyuruhku, kalau ada yang lebih mudah kenapa tidak dilakukan?.
.
.
.
"Ini makan malam anda, Hishigi-sama" Kataku menaruh senampan makanan didepannya. Hishigi menutup buku yang tengah dibacanya dan memakan makanannya. Ia menyiduk sesendok sup sayur dan mencicipinya. Sedetik kemudian ia menaruh kembali sendoknya dan membaca bukunya. "Hishigi-sama? Makanan anda" Tegurku.
"Itu bukan buatanmu, aku tidak mau" Ujarnya. 'DEG' Buset, selain otaknya tajam, lidahnya juga tajam.
"Ta-tapi Hishigi-sama, sayang kan sudah dipesan" Kataku membujuknya. Hishigi tak bergeming. Setelah beberapa puluh menit berlalu dan majikanku tetap diam, aku mengalah juga. "Baiklah, Hishigi-sama" Ujarku lalu beranjak pergi keluar kamar dan membanting sohji dibelakangku.
END TOKITO POV
.
.
.
"Cih merepotkan" Umpat gadis bersurai emas ini seraya memotong wortel dengan kecepatan ultra dan melemparkannya kedalam panci yang bergolak. "Seenaknya menyuruhku ini itu" Lanjutnya yang kini memasukan berbagai macam bumbu kedalam sup tomat dalam panci. Para kru dapur lain cuma bisa sweatdrop melihat kru tambahan mereka yang tiba-tiba masuk dan memasak dengan angkara murka.
Tokito menuangkan sup tomat yang sudah jadi kedalam mangkuk lalu membawanya menuju kamar. "Ini, kalau tidak suka, masak saja makanan tuan sendiri" Ujar Tokito setengah membanting mangkuk sup didepan tuannya. Hishigi menutup bukunya dan menyiduk sup kental didepannya. Suapan pertama disusul dengan suapan kedua, ketiga, dan begitu seterusnya. Tokito sedikit tercengang Hishigi makan tanpa komplain padahal dia memasukan takaran bumbu dan bahannya secara asal-asalan karena kesal.
"Kau tidak makan?" Tanya Hishigi yang menyadarkan Tokito dari lamunan.
"Ti-tidak, nanti saja" Tolak Tokito halus. Menurutnya agak tidak sopan makan bersama majikannya.
"Kau butuh tenaga, makan itu" Ujar Hishigi menunjuk makanan yang tadi dipesan dengan matanya. Tokito melihat pada nampan berisi set menu lengkap yang belum tersentuh itu. "Ini perintah" Lanjutnya pendek. Haah, mungkin memang sudah hakikatnya dia selalu kalah oleh majikannya.
.
.
.
Suara derap langkah kuda memecah kesunyian hutan. Sudah seharian mereka memacu kuda dan belum ada tanda-tanda hutan ini akan berakhir. Yah setidaknya cuaca hari ini cerah jadi mereka tidak harus bermalam lebih cepat.
Matahari sudah terbenam diufuk timur, menunjukan sudah waktunya menghentikan perjalan barang sejenak. Berhubung tak ada penginapan ditengah hutan, maka sebuah gua pun menjadi tempat bermalam mereka kali ini. "Anda yakin gua ini aman, Hishigi-sama?" Tanya Tokito ragu, merasakan sesuatu berada didalamnya. Hishigi turun dari atas kuda dan masuk kedalam gua. Ia tahu seharusnya ini menjadi tugasnya mengecek keamanan gua, tapi harus diakui dia pun takut. Lebih baik menghadapg seribu orang daripada harus berhadapan dengan hewan dalam gua macam kelelawar atau beruang. Sembari menunggu majikannya, ia pun turun dari kudanya dan mengikat leash Yuki dan kuda Hishigi pada pohon terdekat.
Hishigi tak lama kemudian keluar. "Hanya ada beruang, sudah kulumpuhkan" Ujar Hishigi.
"Eh, Hishigi-sama membunuhnya?" Tanya Tokito.
"Tidak, itu induk dan anak-anaknya. Aku hanya menidurkan mereka" Jawab Hishigi menurunkan tas pakaian dari punggung kuda dan membawanya masuk kedalam gua. Tanpa sepengetahuan Hishigi, Tokito tersenyum. Ternyata walau terkesan dingin, majikannya ini masih memiliki belas kasihan.
.
.
.
HISHIGI POV
"Maaf, cuma kutemukan ikan sama singkong hutan. Aku lupa membawa persediaan makanan" Sesal Tokito. Kuperhatikan isi keranjang anyaman itu cuma beberapa ekor ikan dan beberapa batang singkong berukuran kecil.
"Apapun masakanmu, aku pasti memakannya" Kataku singkat sambil kembali membaca buku tentang penjelasan rekayasa genetika untuk menentukan varietas bibit unggul. Makanya aku tidak tahu kalau wajahnya sedikit merona.
"Te-terima kasih, Hishigi-sama" Katanya pelan. Aku terdiam, entah mengapa dadaku terasa sakit mendengar suaranya. Tokito mulai memasak semua hasil penemuannya dan tak berapa lama makan malam pun terhidang. Seperti yang kubilang, aku memakan apapun yang dimasaknya. Kami pun makan dalam diam seperti biasa. Selama lima bulan bekerja denganku, Tokito makin paham akan kesukaanku pada kesunyian. Walaupun dia masih tetap berisik, tapi tidak seberisik sebelumnya. Entah aku yang mulai terbiasa dengan keramaian dibawanya.
END HISHIGI POV
.
.
.
TOKITO POV
Perjalan selama melewati hutan Sekigahara terbilang relatif lancar. Cuacanya mendukung dan tidak ada penyamun yang menghadang sehingga kami pun bisa sampai didesa pinggiran Kyoto lebih cepat. Kami sampai diwaktu subuh dimana para warga belum memulai aktivitasnya. Hamparan sawah yang membeku menjadi pemandangan yang menyejukan sejauh mata memandang. Beberapa kali aku membalas lambaian ramah penduduk yang kebetulan berpapasan dijalan. Suara ketoplak kuda memecah kesunyian desa. Tak ada tanda-tanda Hishigi memperlambat kudanya, maka yang dapat kulakukan hanya membisikan semangat pada Yuki agar dia kuat berlari.
Suara gagak berkoar menjadi pertanda bahwa kami harus mengakhiri perjalanan hari ini. Hishigi mengarahkan kudanya kesungai terdekat lalu turun begitu pula denganku. Yuki dan kuda Hishigi minum sementara aku membasuh mukaku untuk menghilangkan lelah. "Kita bermalam disini" Ujar Hishigi. Kuperhatikan sekeliling dan tak kutemukan penginapan maupun gua, maka itu artinya...
END TOKITO POV
HISHIGI POV
"Hishigi-sama, lihat itu ada dua singa yang sedang bertarung" Tunjuk Tokito pada langit yang bertaburan bintang. Sudah satu jam lebih aku dipaksa mendengar celotehannya tentang bentuk rasi bintang yang bahkan gak ada miripnya sama apa yang dibilangnya.
"Itu rasi Centaur" Kataku malas. Dan Tokito cuma ber-oh ria. Kupejamkan mataku berusaha mengistirahatkan tubuhku.
"Hei, itu terlihat seperti kelinci yang menumbuk mochi" Ujarnya yang dengan sukses membawaku kembali kealam sadar.
"Tokito, aku mau tidur" Ujarku kesal lalu berbalik memunggunginya.
"Ah, sumimasen, Hishigi-sama" Ujarnya. Aku hanya menjawab dengan "Hn" lalu suasana pun hening. Dapat kurasakan perlahan kesadaranku lenyap ditelan kesunyian. Baru saja aku akan masuk kealam mimpi, suara senandung mengacaukannya. Kudengar Tokito tengah bersenandung pelan, nih anak gak ada capenya. Aku berbalik dengan cepat dan membekap mulutnya yang mana kalau dari kacamata orang awam aku tampak seperti tengah memeluknya. "Hmph...mmph" Ujarnya meronta.
"Aku tak akan melepaskannya sampai kau diam" Kataku.
END HISHIGI POV
TOKITO POV
Jantungku rasanya sudah nyaris berhenti dan pandangan mataku berkunang-kunang mendengar suara baritonnya yang begitu dekat dengan telingaku. Ketambahan dengan tangan besarnya yang membekap mulutku. Setengah mati aku memohon agar dia tidak menyentuh bagian dadaku. Karena walau sudah ku-'pres', tetap saja akan terasa sedikit janggal kalau tersentuh. Setelah beberapa menit, Hishigi lalu melepas mulutku. Ia lalu menyingkirkan tangannya dan tidur membelakangiku. Aku pun ikut berbalik membelakanginya seraya mencengkram dadaku yang semenjak tadi tidak juga normal detak jantungnya. Aduuh, jangan sampe deh aku mati muda karena alasan konyol begini.
Satu hal lain yang kupelajari dari majikanku ini, jangan menantang kesunyiannya kalau masih mau hidup.
END TOKITO POV
.
.
.
tbc
(a/n) Mind to RR? Review anda semangat saya :3
