Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
"Selamat datang dikota Kyoto, dimana fantasi terliarmu menjadi nyata" Sahut seorang wanita mengenakan kimono terbuka didepan sebuah tempat betuliskan 'Love Hotel'. Iris amber Tokito melebar, terkejut melihat pemandangan yang amat asing sekaligus menjijikan buatnya itu. Dilihatnya Hishigi yang tampak tak terpengaruh. Terbukti dengan wajah stoic yang semenjak tadi menghiasi wajahnya. Karena itu semenjak tadi kudanya aman-aman aja. Sementara Tokito? Entah sudah berapa kali ia harus memacu kudanya agar lolos dari jeratan wanita penghibur. Bagaimanapun juga dia kan masih normal. Lagian Tokito juga masih polos, gak ngerti ama yang begituan.
Akhirnya setelah beberapa jam menghindar, sampailah mereka di sebuah hotel megah yang berdiri dipusat kota. Tokito dan Hishigi turun dari atas kuda dan masuk kedalam lobi hotel untuk cek in sementara kuda mereka digiring menuju istal. "Selamat datang di Kyoto, tuan-tuan. Silakan, saya antar ke kamar anda" Sapa seorang bapak mengenakan keikogi dan mengantar dua tamu istimewa mereka ini menuju ke kamar. Selama perjalanan mereka menuju kamar, bapak itu tidak henti-hentinya berbicara tentang keunggulan Kyoto dari segi budaya, pariwisata maupun ekonomi. Tokito sudah melirik takut-takut pada tuannya yang semenjak tadi bermuka masam. Jangan sampe deh dia jadi saksi utama karena majikannya didakwa ngebekep pelayan sampe mati. "Ini kamar anda tuan, selamat beristirahat" Ujarnya. Hishigi mengambil kunci yang diberikan bapak itu dan segera masuk kedalam.
"Ng...ngomong-ngomong, tuan" Ujar bapak itu pada Tokito yang kebetulan masih ada didepan pintu. "Kalau tuan mau 'hiburan tambahan', bisa hubungi saya" Ujarnya.
"Hiburan tambahan?" Tanya Tokito dengan mata berbinar membayangkan pertunjukan klasik Kabuki atau olahraga sumo.
"Ya, tuan tertarik?" Tawarnya. Belum sempat Tokito menjawab, dirinya sudah dipanggil sang majikan yang mau tak mau mengakhiri perbincangannya dengan bapak itu. Tokito menggerutu kesal dan segera masuk kedalam yang sebenarnya justru sudah menyelamatkan kepolosannya.
.
.
.
Hari ini Hishigi menghadiri seminar di ruang pertemuan dilobi hotel dan baru akan pulang nanti malam. Kesempatan emas ini dimanfaatkan Tokito untuk mandi busa dikamar mandi suite majikannya. Kapan lagi bisa mewujudkan fantasinya ini?. Aroma melati menguar memenuhi seluruh ruangan kamar mandi. Kali ini tidak mungkin majikannya itu nyelonong masuk apalagi ikut mandi bareng. Berhubung dia berendam di bathtube yang dirancang untuk satu orang dan Hishigi baru pergi sepuluh menit yang lalu.
'SREG' Suara sohji dibuka mengejutkannya. Tampak Hishigi dengan cueknya berjalan memasuji kamar mandi dan menyambar sebuah buku yang entah bagaimana ceritanya bisa ada disitu. Tokito cepat-cepat mengumpulkan busa disekitar dadanya dan berusaha bertingkah alami. Dalam hati ia merutuki kebodohannya yang tidak mengunci pintu karena dikiranya sudah aman. Hishigi melirikan matanya pada anak buahnya itu yang seketika membuat nafas Tokito berhenti. "Kau ini seperti wanita saja" Komentarnya lalu pergi keluar.
Begitu sohji ditutup, Tokito menggembuskan nafas lega. Bagaimanapun ia tidak bisa menyalahkan tuannya yang masuk seenak jidatnya. Yang Hishigi tahu Tokito itu sama dengannya, dan yang Tokito tahu Hishigi itu pria yang sangat sangat sangat normal. Dulu pernah terdengar kabar Hishigi menjalin hubungan dengan seorang wanita. Tapi satu minggu kemudian mereka putus. Kabarnya karena Hishigi terlampau cuek dengan dirinya. Lagipula yang suka duluan juga wanitanya. Yeah bisa dipahami.
.
.
.
Suara gemelatukan gigi Tokito menjadi satu-satunya pemecah kesunyian di suite yang hanya dihuni dua orang ini. Yang satu tengah membaca buku dengan tenang diatas kasur, sementara yang lainnya sedang sibuk menghangatkan diri didepan perapian. Memang sebelumnya ada pemberitaan kalau nanti malam akan ada badai salju menerjang. Tapi gak ada pemberitahuan kalau suhunya akan drop sedrastis ini.
Kyoto yang notabene pusat kebudayaan saat ini, mendapat sedikit percikan pengaruh budaya luar. Salah satu bukti otentiknya tentu kamar yang tengah mereka diami ini. Lebih mirip kamar di Eropa sana daripada Jepang. Tokito menggesekan kedua tangannya, meniupnya lalu mendekatkannya pada api. Ugh, Tokito berharap dia bisa bertahan sampe pagi. Apa kata dunia kalau ternyata pendekar elemen es mati kedinginan?. "Mau bergabung?" Suara bariton Hishigi memecah kesunyian. Tokito memandang kebelakangnya, pada tuannya yang tengah bersantai diatas kasur empuk dengan balutan selimut yang pasti hangat. Sebuah tawaran yang terbilang susah untuk ditolak. Namun akal sehat Tokito menolaknya. Sudah beberapa kali tuannya itu nyaris membongkar identitasnya dan dia tak mau ambil resiko dipecat karenanya. Bagaimanapun dia betah menjalani pekerjaan ini walau Hishigi terkadang merepotkan dan nyaris membuatnya gila. Namun Tokito menikmati kedekatannya dengan cowok stoic yang ternyata lumayan hangat kalau sudah mengenalnya.
"T-tidak, Hishigi-sama. S-saya lebih nya-man di-disini" Tolak Tokito halus. Hishigi memandang datar padanya yang justru membuat pertahanan Tokito sedikit goyah. Tokito cepat-cepat menggelengkan kepalanya untuk memutus kontak mata dengan majikannya. Cara klasik yang selalu digunakan Hishigi kalau mereka beradu argumen, yang anehnya selalu dimenangkan Hishigi. Tidak...tidak...tidak, pokoknya tidak. Sudah berkali-kali Kami-sama menyelamatkan identitasnya, tapi mungkin sekarang tidak. Bisa aja kan tuannya itu grepe-grepe dia sewaktu tidur? Hii, jangan sampai, deh.
"Aku tidak akan macam-macam. Lagipula aku ini pria normal" Ujarnya seakan membaca pikiran Tokito. Tuuh kan, berarti kalau Hishigi menemukan bahwa dia ini cewek, pasti bakalan mulai macam-macam. Hishigi menutup buku, menaruhnya dinakas samping tempat tidur lalu menarik selimut menutupi tubuhnya hingga sebatas leher. Kini keheningan menjadi melodi utama penghias kamar itu, hanya terdengar gemuruh badai dari luaqg. Tokito menidurkan badannya didepan perapian dengan posisi janin, berharap dengan begitu udara dingin akan berkurang dengan sendirinya.
.
.
.
HISHIGI POV
Matahari tampak belum menghiasi langit kala ini. Kedua mataku sudah terbuka dan hanya menatap lurus kedepanku. Badai salju sudah reda namun udara dingin menusuk tulang masih terasa. Tiba-tiba terlintas sosoknya dibenakku. Aku pun menyingkirkan selimut dan bergegas menuju perapian yang masih menyala. Didepan perapian itu, terlihat sosoknya yang tengah meringkuk mencari kehangatan. Kedua kelopak mata berhias bulu mata lentik yang menaungi iris serupa chrsytoberyl itu masih tertutup. Aku berlutut dalam diam disebelahnya dan perlahan menggendongnya menuju kasur. Pelan-pelan kuletakan dia lalu kuselimuti tubuh mungilnya. Nafasnya teratur beriringan dengan suara desahan nafas dan perutnya yang naik turun.
Dalam kesunyian kutatap wajahnya yang tengah tertidur dengan damai. Surai keemasannya tampak menghalangi wajahnya yang membuat telapak tanganku mau tak mau bersentuhan dengan kulit lembut pipinya karena merapikan rambutnya. 'GREP' Tiba-tiba saja tangannya menggenggam dua jariku. Kulihat ia melenguh pelan, dahinya mengernyit dan sedetik kemudian normal lagi. Walaupun genggamannya begitu lemah, tak ada satupun niatanku untuk melepaskannya. Kurasakan perasaan aneh yang seharusnya kurasakan pada lawan jenisku namun malah kurasakan padanya. Ada apa denganku? Kenapa aku merasakannya?. Sebuah helaan nafas kulepaskan walau tidak melepas beban yang memikul dadaku.
"Seandainya kita dilahirkan berbeda, apa kau akan merasakan apa yang kurasakan sekarang?" Lirihku pelan nyaris tak terdengar. Tak ada jawaban darinya. Aku hanya bisa tersenyum getir, menertawakan bagaimana Kami-sama mempermainkan takdirku.
END HISHIGI POV
.
.
.
TOKITO POV
Mataku terbuka dengan sendirinya saat kulihat matahari sudah nampak walau belum memancarkan geliatnya. Namun rasanya tubuhku begitu malas bergerak karena kehangatan yang meliputi diriku kini. Dengan manja aku pun menenggelamkan diri dalam balutan selimut dan bantal bulu angsa bak anak kucing mencari kehangatan induknya. 'DEG' Setengah detik kemudian aku pun tersadar, aku semalam tidur depan perapian, bagaimana bisa ada diatas kasur!?. Aku pun terbangun dan mendapati hanya aku yang berada disitu. Kulihat bajuku, hm masih baik-baik saja. Tak ada tanda bekas digerayangi. Oke, sekarang fokusku mencari sosok yang seharusnya berada disini.
Kuputar pandanganku namun sosoknya tak jua kudapatkan. Lalu aku pun menyadari aku tengah mengidap HIV (Hasrat Ingin Vivis) sekarang. Maklum, udara dingin membuat kantung kemihku cepat overload. Buru-buru aku berlari menuju kamar mandi. Ketika tanganku baru saja meraih sohji, 'BUK' tanpa sengaja aku bertabrakan dengan seseorang. Ketika aku mundur beberapa langkah untuk melihat siapa yang kutabrak, mataku seketika terbelalak.
Hishigi berdiri dimbang pintu toilet dengan HANYA mengenakan celana pendek hitam selututnya. Bagian atasnya yang masih terlihat sedikit basah terekspos dengan sempurna tanpa halangan selembar benangpun, menampakan dada bidangnya yang sangat ideal untuk ukuran laki-laki. Kedua mata sipitnya yang terlihat sedikit sayu memandang kebawah kearah objek yang masih mematung ditempatnya sekarang. "Oh kau sudah bangun?" Tanyanya enteng. Aku hanya menjawab dengan anggukan. Kutundukan kepala dan bergegas masuk kedalam toilet dan menutup pintunya, tidak berani bertatapan wajah dengan tuanku yang ternyata terlihat begitu oh-so-wow.
END TOKITO POV
Didepan cermin yang menyatu dengan wastafel, Tokito mengatur ritme jantungnya yang masih berdebar-debar sedari tadi. Kedua wajahnya memerah dan iris chrystoberylnya melotot. Bagaimana tidak? Beberapa detik yang lalu, kepolosannya baru terenggut dengan pemandangan yang begitu memanjakan mata hawanya. Ditepuknya kencang-kencang kedua pipinya. "Lupakan Tokito, bertingkah yang normal. Kau sama sepertinya, oke" Ujarnya. Karena teralihkan oleh kejadian tadi, Tokito nyaris melupakan HIV-nya. Ia pun berjalan kearah toilet yang terletak tak jauh dari situ.
Baru saja Tokito mau melepas celana keikoginya, Hishigi keburu nyelonong masuk dengan cueknya dan menaruh handuk yang tadi dipakainya digantungan handuk. Walau kini pemuda itu sudah mengenakan busana lengkap, bayangan akan tubuh (bagian atas, readers !) polosnya masih terpatri dengan jelas dibenak Tokito membuat gadis ini menundukan kepalanya karena malu. Sekarang barulah ia agak menyesali keputusannya nyamar jadi cowok. Coba diawal dia bilang dia ini cewek, mungkin dia akan dapat kamar sendiri dan tidak harus melihat pemandangan memalukan itu.
"Tidak usah malu begitu" Tegur Hishigi membuat mata Tokito terbelalak. Bagaimana bisa tuannya tahu kalau dia malu? Ya jelas tau lah, wong dua pipi kembilnya merah nyaingin tomat. "Kau dan aku pernah telanjang bersama, kan?" Lanjutnya. 'BLUSH' Seketika ingatan di pemandian air panas pun terbayang kembali membuat merah sekujur muka Tokito. Saat itu ia hoki karena Hishigi tidak berendam lama dan mereka belum sedekat sekarang. Jadi identitasnya aman.
Tanpa mempedulikan anak buahnya yang nyaris pingsan, Hishigi keluar toilet dengan damainya. Sementara Tokito serasa mau bunuh diri dengan cara nyemplungin kepalanya keair WC saking malunya. "Enyahlah dari pikiranku!" Raung batinnya frustasi.
.
.
.
tbc
(a/n) Nani !? Ini end chapter ke 15? ._.
Yeaah seperti yang author bilang ceritanya emang rada panjang. Berhubung Hishigi orangnya super stoic yang lempengnya ngalahin paralon *analogi macam apa ini ? ._.* jadi susah deeeh buat mengeksplorasi emosinya. Tapi justru disini gregetnya :3.
Author ucapin terima kasih buat readers yang stay tune setia membaca chapter demi chapter. Jangan bosen baca cerita aku yaaa. Akan berakhir dengan senyuman kook :')
Mind to RR? Review anda semangat saya :3
