Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
TOKITO POV
Sudah memasuki hari keenam dalam kuota seminggu kami berada di Kyoto. Karena sudah tiga hari seminarnya diadakan di aula pertemuan kota, mau tak mau aku pun terpaksa ikut. Entah sudah keberapa kalinya aku menguap dilobi aula pertemuan. Sangat membosankan menunggu majikanku jadi pembicara dari pagi sampe malem. Satu-satunya hiburanku cuma beberapa pamflet produk perairan yang bahkan aku tidak mengerti untuk apa. Mana Hishigi tidak mengizinkanku pergi cari angin lagi. Entah kenapa makin kesini aku merasa dia yang melindungiku, bukan sebaliknya. Seandainya kami sepasang kekasih, mungkin dia bakalan jadi ayah kedua dengan segala keoverprotektifannya. Eh aku ini mikir apa, sih?.
"Permisi" Suara seorang wanita menangkap atensiku. Didepanku sudah berdiri seorang wanita mengenakan kimono berwarna biru langit yang setahuku bertugas sebagai greeter. Sudah tiga hari terakhir ini kupergoki dia tengah kasak kusuk dengan temannya sembari melihat pada majikanku.
"Ya?" Tanyaku.
"Tuan...pengawal pribadinya Hishigi-sama?" Tanyanya. Ada rona tipis menghiasi wajahnya.
"Ya" Ujarku menjawab dengan kalimat yang sama walau dengan intonasi yang berbeda.
"Bisa tolong sampaikan ini padanya?" Tanyanya seraya menyerahkan setumpuk surat padaku dengam malu-malu. Ahaaa penggemar rupanya. Entah kenapa ada perasaan tak enak didadaku namun cepat-cepat kusingkirkan.
"Well, tentu" Kataku. Wajahnya terlihat sumringah. Kuterima tumpukan surat yang diberikannya.
"Ah ini ada juga untuk anda, tuan pengawal" Ujarnya seraya menyerahkan sepucuk surat padaku yang kuterima dengan tatapan tidak percaya. Oh bagus, jadi sekarang sisi kewanitaanku benar-benar sudah tertutupi. Tapi lumayan deh daripada gak dapet sama sekali, walau gak bisa dibandingin ama surat yang diterima Hishigi. Wanita itu membungkukan badannya lalu beranjak pergi meninggalkanku.
END TOKITO POV
.
.
.
"Apa itu?" Tanya Hishigi ketika Tokito menyerahkan surat penggemar padanya setibanya mereka dikamar.
"Surat" Jawab Tokito pendek. Hishigi mengernyitkan dahinya, aki-aki ngidam juga tau kalau amplop itu isinya surat. Masa alat pemotong DNA? Mana juga muat.
"Dari?" Tanya Hishigi lagi.
"Penggemar Hishigi-sama" Jawab Tokito sedikit cemberut. Hishigi memandang datar pada setumpuk surat lalu pada Tokito. Sebuah smirk yang amat tipis mengiasi wajahnya. Ia lalu mengambil semua surat yang diberikan Tokito.
"Kau tidak berhak cemburu padaku, Tokito" Ujarnya pendek. Tokito mendengus kesal. Diam-diam Hishigi menikmati melihat wajah cemberut Tokito karena ulahnya. Tokito lalu berbalik dan berjalan menuju perapian seraya merogoh keikoginya. Dengan manis gadis itu duduk didepan perapian dan membuka surat yang ditujukan untuknya. Penasaran dengan isi surat penggemar yang seumur hidup baru diterimanya. 'Dear Tuan Pengawal...' 'SRET' baru saja Tokito membaca salam pembukanya, seseorang sudah keburu merebutnya.
"Hei!" Sahutnya kesal pada si pelaku yang tak lain ternyata tuannya sendiri. Dengan tidak berperasaannya Hishigi meremas surat itu hingga tak berbentuk lalu melemparkannya ke perapian yang membara. Dilihatnya Hishigi yang walaupun memasang muka selurus tembok, ada aura cemburu yang menguar darinya. "Hishigi-sama tidak berhak untuk cemburu. Hishigi-sama kan dapet surat juga, lebih banyak lagi" Cibir Tokito.
"Kau memang tidak berhak cemburu padaku, karena aku bukan siapa-siapa bagimu" Ujarnya dingin. Tokito memberenggut kesal. Ia menyilangkan kedua tangannya didada dan memandang lurus kearah suratnya yang sudah menjadi abu. "...Tapi aku berhak cemburu padamu, karena kau milikku" Lanjut Hishigi yang sontak membelalakan mata Tokito. Hishigi lalu berlalu pergi meninggalkan Tokito yang membisu. Jauh dilubuk hatinya, walau merasa kesal, Tokito merasa senang mendengar apa yang dikatakan majikannya barusan.
"Aku...miliknya?" Lirihnya pelan. Sebuah rona tipis menghiasi wajahnya seketika kala itu.
.
.
.
TOKITO POV
Hari terakhir di Kyoto kuhabiskan dengan mengunjungi festival musim dingin yang berlangsung selama sebulan terakhir di musim dingin. Sementara majikanku tengah menjadi pembicara dipertemuan yang berlangsung di aula Hotel Ishito yang kebetulan jadi tuan rumah festival kali ini. Jadi tidak terlalu bosen nunggu, deh. Baru beberapa jam keliling, tanganku sudah penuh dengan berbagai macam makanan yang memaksaku untuk duduk dan memakannya habis agar tidak mengganggu mobilitasku. Memang cocok kalau Kyoto disebut kota kebudayaan. Disini makanan yang disajikan benar-benar beragam dan enak.
Sambil memikmati lautan orang yang lalu lalang, mulutku sibuk mengunyah berbagai jenis makanan. Ingin rasanya kubelikan beberapa untuk Hishigi, tapi mengingat riwayatnya yang gak suka makanan selain buatanku, gak deeh, daripada sakit hati nantinya. "Bukankah sudah kubilang jangan kemana-mana?" Ujar sosok ya tengah menari-nari dibenakku yang tau-tau sudah keluar dari kepala dan kini berada didepanku.
"Hanya hehuhar hohel, hok (hanya seputar hotel, kok)" Ujarku dengan mulut penuh makanan berkilah. Hishigi memicingkan matanya. O ow, kayaknya ada yang marah, nih. Kutelan seluruh makanan yang ada dimulutku lalu menyodorkan sekotak strawberry lapis coklat untuk mempermanis suasana.
"Hishigi-sama mau?" Tawarku.
"Bukankah sudah kubilang aku benci makanan manis?" Tanyanya retoris. Oh iya, aku lupa. Hishigi membalikan badannya, "Ayo pulang, aku sudah selesai" Ujarnya seraya berlalu pergi. Aku membawa makanan yang tersisa dan menyusul sosoknya yang sudah menjauh. Dengan tinggi lebih dari 180 cm, agak susah juga mesti menyusulnya dengan langkah kaki mungilku yang tidak seberapa.
.
.
.
Suara ketopak kuda menjadi satu-satunya pemecah kesunyian diantara kami. Tak sekalipun Hishigi mengajakku bicara. Yah walaupun biasanya juga gitu, entah kenapa sekarang rasanya berbeda. Aku jadi sedikit merasa bersalah sudah melanggar perintahnya. Mau minta maaf, takut, ngeliat ekspresi mukanya yang menunjukan ketidak senangan. Ah, aku kapok melanggar perintahnya. Tiba-tiba kulihat ia menghentikan kudanya yang membuatku spontan menarik tali kekang Yuki. Jembatan kayu tua yang kemarin kami gunakan untuk melewati perbatasan Kyoto terputus. Mungkin karena badai tempo hari. Hishigi memutar balik kudanya.
"Kita pakai jalan memutar" Ujarnya pendek lalu memacu kudanya menuju jalan setapak kecil.
END TOKITO POV
.
.
.
Dua lembah tinggi menjulang menjadi latar tempat mereka berada sekarang. Tokito mengamati puncak kedua lembah disekeliling mereka. Entah kenapa ia merasa ada banyak orang disana. 'STAB' Sebuah anak panah mengenai kaki kuda Hishigi. Si kuda panik yang lalu membuatnya oleng. Untunglah Hishigi berhasil melompat sebelum si kuda terjatuh menimpanya. Dengan mata kepalanya sendiri, Tokito melihat kuda Hishigi menegang lalu meregang nyawanya. Sepertinya ada racun ganas yang dilumurkan pada anak panah itu. Beberapa detik kemudian, ratusan anak panah menghujani mereka. Tokito memacu cepat kudanya.
"Hishigi-sama, cepat naik!" Sahutnya. Hishigi dengan mulus naik keatas Yuki yang dipacu kencang. Mereka memang bisa meninggalkan lembah itu, namun didepan sudah menghadang segerombolan perompak yang mengacungkan senjata tajam kearah mereka. Tanpa banyak bicara, Tokito melompat dari atas pelana sambil mencabut Hokuto yang terselip dipinggangnya. Tubuh mungilnya bermanuver dengan indah dengan jurus Hokuto Sichirenjuku, menebas satu per satu musuh yang berada didepannya. Membukakan jalan bagi Hishigi dan Yuki untuk lewat.
Tokito maju kedepan menghalau para komplotan perompak lain yang akan menghadang. "Kali ini aku akan...ugh" Belum sempat Tokito menyelesaikan kalimatnya, Hishigi keburu meraih pinggangnya dan menaruhnya dipelana. Yuki mengambil ancang-ancang dan melompati segerombolan perompak itu dengan mulus. "Hishigi-sama, jangan ganggu pertarunganku" Protesnya yang tentu saja tidak didengar Hishigi. Ujung lembah sudah terlihat depan mata. Namun tentu kawanan perompak itu enggan melepaskan mangsa mereka sekalipun nyawa taruhannya. 'SWUNG' Sebuah batu api besar terlihat dilemparkan kearah mereka. Dengan cekatan Hishigi menghindarinya dan juga menyelamatkan nyawa mereka.
Tiba-tiba salah seorang dari perompak itu nekat menyerang mereka. Tokito dengan cekatan menangkis serangannya namun itu membuat tubuh mungilnya jatuh dari atas kuda. "Pergi Hishigi-sama, aku akan menyusul!" Sahutnya. Dan seperti biasa, karena Hishigi tipe majikan yang seenaknya sendiri. Ia turu dari atas Yuki dan berlari menerjang Tokito yang tampak dikerumi oleh perampok yang akan menghajarnya. Sementara Yuki dibiarkannya berlari masuk ke dalam hutan.
TOKITO POV
Ugh, mereka terlalu banyak. Meskipun aku mengerahkan kecepatanku untuk membunuh mereka, jumlah mereka seakan tak ada habisnya. 'STAB' "AAAAAAARGH...!" Teriakku. Rupanya mereka berhasil melihat celah dan menusukku tepat diperut. Darah dengan cepat merembes membasahi keikogiku. "Mereka dari Mibu. Pasti membawa harta banyak. Jangan lepaskan mereka" Sahut pria kekar yang sepertinya pemimpin mereka. Pandanganku mendadak buram. Ugh, sepertinya ada racun juga disenjata mereka. Nafasku memburu dan aku mulai kewalahan menghadapi mereka. Sampai disinikah? Setidaknya Hishigi-sama tidak apa-apa. 'TRANG' Terdengar suara pedang saling beradu. Dalam pandanganku yang memburam, tampak seseorang berdiri didepanku. Menghalau serangan yang hendak mengenaiku.
"Kau...bukannya kau sudah lari? Mau apa kau kembali, cari mati!?" Bentak perampok itu.
"Aku hanya mau mengambil milikku" Ujar suara yang kukenal sebagai Hishigi. Mau apa dia kembali, untuk apa tadi aku menyuruhnya pergi duluan?.
"Hi-Hishigi-sama, pe-pergi" Rintihku menahan rasa sakit yang mulai menjalari seluruh tubuh.
END TOKITO POV
.
.
.
HISHIGI POV
Mataku melebar melihat sosoknya yang bersimbah darah. Dalam kondisi begini pun dia masih memikirkanku. Kudorong tubuh para perampok itu dengan satu tebasan dan membawa tubuh ringkih yang nyaris kehilangan kesadarannya. "Hei kau, mau kabur!?" Sahut mereka. Aku sudah tidak peduli apapun kata mereka. Sekarang fokusku hanya pada Tokito yang sedang sekarat.
.
.
.
tbc
(a/n) Mind to RR? Review anda semangat saya :3
