Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
"Ugg..." Rintihnya menahan sakit saat kududukan ia diatas tanah yang tertutupi salju. Nafasnya terengah-engah, mukanya pucat dan urat nadinya terlihat membesar. Tak salah lagi, ini gejala racun. Noda darah merah yang masih basah terlihat merembes membasahi keikoginya. Aku yang selain samurai juga merangkap shaman, memang bisa menyembuhkan luka. Namun kalau kena racun maka racunnya harus dikeluarkan terlebih dahulu atau ia akan terjebak dalam tubuh korban ketika lukanya menutup. Maka..."Jangan!" Sahutnya menghentikanku yang akan membuka keikoginya.
"Kau mau mempertahankan malumu atau nyawamu?" Kataku tajam sambil menyingkirkan tangannya dan melanjutkan pekerjaan.
"J-jangan Hishigi-sama. Ku-kumohon" Pintanya lemah. Karena dia yang terus-terusan menghalangi, mau tak mau aku pun terpaksa merobek keikogi yang dikenakannya.
END HISHIGI POV
.
.
.
Apa yang selanjutnya ditangkap iris onyx Hishigi adalah seorang wanita dengan wujud Tokito yang tengah menutupi bagian dadanya. Untuk pertama kali seumur hidupnya, Hishigi tercengang melihat kenyataan yang tersaji depan matanya. Tokito berusaha mentupi buah dadanya dengan sobekan bajunya. "Urg..." Rintihnya yang mana menyadarkan Hishigi dari keterkejutannya.
"Aku akan mengeluarkan racunnya dulu" Ujarnya pelan. Tokito pun menurut saja, toh udah terlanjur ketahuan. Tubuhnya sedikit merinding saat tangan kasar Hishigi bersentuhan dengan kulit tubuhnya.
Selesai memeriksa sebentar lukanya, dengan gerakan cepat Hishigi memasukan tangannya kepusat luka Tokito yang seketika membuat gadis itu meraung kesakitan. "Reject!" Sahut Hishigi. Beberapa detik kemudian, tangan yang masuk kedalam luka keluar dan melemparkan benda aneh berwarna kebiruan keatas salju. Tokito melihat dengan ngeri benda aneh yang dikeluarkan Hishigi dari tubuhnya. "Itu bagian yang terkena racun. Tenang saja sekarang sudah aman" Jelas Hishigi. Terlihat cahaya keluar dari telapak tangannya dan berangsur-angsur luka yang tadi menganga itu pun menutup.
"Hi-Hishigi-sama bisa nyembuhin luka?" Ujar Tokito takjub. Hishigi cuma mengangguk karena sibuk melilitkan perban pada luka Tokito. Walau sudah menutup, tapi bagian dalam lukanya masih terbuka. Hanya untuk berjaga-jaga saja.
"Bagian dalamnya belum tertutup benar. Jadi hati-hati" Ujarnya. Tokito mengangguk gugup. Hishigi melepaskan jubahnya lalu memakaikannya disekeliling. Tokito langsung merona merah karena malu. "Ayo, kita harus cepat cari kudamu" Ujar Hishigi bangkit berdiri yang diikuti Tokito.
.
.
.
TOKITO POV
"Yukii..." Panggilku. Sudah berjam-jam kami berputar-putar mencari kuda yang dilepas Hishigi ketika terjadi pertempuran. Hatiku mulai diliputi rasa cemas. Sebentar lagi malam dan ada pertanda akan terjadi badai salju. Gimana kalau kami gak bisa menemukannya tepat waktu?. Gimana kalau dia dimangsa serigala. Memikirkannya saja sudah membuat dadaku sesak dan ingin menangis rasanya. Aku sudah memiliki Yuki ketika dia masih anak kuda liar terlantar berumur satu tahun. Aku sangat ingat ketika Yuki menendang kesegala penjuru saat kudekati hingga dia menjadi sahabatku selain ibu, Tsuki dan Sutaa.
"Kita akan menemukannya" Ucap Hishigi singkat. Walau hanya tiga kata dan diucapkan dengan intonasi yang dingin, kata-katanya seakan memberi harapan untukku. Kuanggukan kepala dan terus memasang seluruh inderaku. 'KRASAK' Suara semak bergesekan memecah kesunyian hutan. Dari balik pakis yang tertutup salju secara ajaib muncul Yuki.
"Yukiii!" Sahutku kegirangan. Yuki berlari kearahku dan mengalungkan kepalanya padaku. Kuperhatikan tak ada bagian tubuhnya yang terluka.
"Kita harus cepat cari perlindungan" Ujar Hishigi. Aku mengangguk dan berjalan mengikutinya mencari tempat berteduh untuk menghindari badai.
END TOKITO POV
.
.
.
Suara gemuruh badai terdengar dari arah luar gua tempat mereka berlindung. Beruntunglah gua kali ini tidak ada yang menghuninya. Kedua insan (dan seekor kuda) duduk dalam diam mengelilingi api unggun yang menyala ditengah-tengah. Dua potong daging rusa hutan tampak tengah dipanggang diatas bara api. "Hishigi-sama, ini" Ujar Tokito menyerahkan potongan daging pada majikannya. Dan Hishigi akan memakan apapun yang dimasak Tokito.
Semenjak identitas aslinya sebagai perempuan terkuak, mendadak suasana awkward pun menghinggapi mereka. Suasana ini malah membuat rasa bersalah Tokito makin besar. Bagaimana tidak? Ia sudah membohogi majikannya dan menyeret orang lain pula untuk menutupinya. Makan malam pun berlangsung sangat hening tanpa ada seorangpun yang berniat memecahkannya.
Tokito merapatkan jubah Hishigi, menahan hawa dingin yang serasa menyayat dagingnya. Dilihatnya Hishigi yang mematap lurus pada api yang membara. Kimono hitam lengan panjang yang dikenakannya tentu tidak membantu banyak dalam menghalau cuaca dingin sekarang. "Hishigi-sama mau pakai jubahnya?" Tawar Tokito. Merasa gak enak sang pemiliknya kedinginan. Hishigi cuma menggelengkan kepalanya. Keheningan pun kembali mengisi kekosongn diantara mereka.
HISHIGI POV
"Hishigi-sama marah?" Tanya Tokito mengeluarkanku dari pikiranku sendiri. Kutatap gadis yang tengah duduk dipinggirku ini. Kilat api pada iris chrystoberyl-nya menunjukan harap-harap cemas dengan jawaban yang akan kulontarkan. Aku terdiam beberapa detik. Marah? Karena apa? Karena sudah membohongiku selama lima bulan dan membuatku bingung dengan perasaanku sendiri? Kurasa itu memang alasan yang masuk akal. "Su-sumimasen" Isak Tokito yang sudah berurai air mata.
Aku pun menghela nafas. Kupandangi lagi jilatan api yang menari-nari. Sekarang setelah kebenarannya terungkap, aku bahkan menjadi lebih bingung. Apa yang harus kulakukan? Seperti apa aku harus bersikap?. Untuk pertama kalinya otakku yang selalu menemukan penjelasan logis untuk segala jenis persoalan mendadak buntu. Kata orang, otak kita terus bekerja selama dua puluh empat jam non stop dan akan berhenti ketika kita jatuh cinta. Apa aku jatuh cinta pada Tokito?.
END HISHIGI POV
TOKITO POV
"Aku selalu merasa Kami-sama mempermainkan takdirku" Ujar Hishigi menghentikan tangisku dan memaksaku menatap padanya. "Pria seumuranku harusnya sudah menikah dan memiliki keluarga. Sementara aku malah membusuk di laboratorium bersama spesimen yang bahkan tidak tahu sudah berapa lama mereka disana" Lanjutnya lirih. Aku pun terdiam, kepalanya menengadah keatas menatap langit-langit goa. Hishigi terdiam beberapa saat lalu menghela nafasnya. "Aku sudah melalukan berbagai macam riset namun hanya ada satu hal yang tidak pernah bisa kupahami" Sambungnya.
"Dan itu?" Tanyaku penasaran.
"Kenapa kita bisa jatuh cinta?" Ujarnya. Aku terdiam, entah kenapa jantungku berdebar sekarang. "Sejauh yang kuketahui, kita bisa jatuh cinta pada orang lain karena kita menemukan kesamaan dalam diri mereka dengan kita. Kau tahu, aku sudah menjalin hubungan dengan beberapa orang wanita yang sama pendiamnya denganku, atau sama-sama menyukai sains, tapi aku tidak bisa jatuh cinta sesuai dengan hipotesa awalku" Jelas Hishigi.
"M-mungkin Hishigi-sama belum menemukan yang cocok?" Tebakku.
"Ada satu orang" Ujarnya. 'DEG' Dadaku seakan ditusuk pedang tak kasat mata. Jadi...selama ini sudah ada wanita yang disukainya? Siapa dia? Seperti apa rupanya? Kenapa aku tidak tahu?. "Dilihat sekilas, tidak ada satupun dari dirinya yang mirip denganku" Lanjutnya. Cukup, aku tidak mau dengar. "Aku paling benci suasana ramai apalagi berisik, tapi dia adalah orang paling berisik yang pernah kutemui. Aku benci menemuinya...aku benci ia berada disekitarku" Ujarnya. Sudah hentikan, aku tidak mau dadaku makin sakit. Aku tidak mau mengetahui ada wanita lain yang disukainya. Tidak mau!.
"Se-semoga Hishigi-sama beruntung dengan gadis itu" Potongku cepat-cepat sebelum Hishigi melanjutkan pembicaraan dan pada akhirnya membuat hatiku sakit. Hishigi menatap datar padaku yang lalu kuhindari. Rasanya aku tidak punya kekuatan bertatapan dengan onyx legam miliknya. "Aku...aku tidur duluan. Oyasumimasai, Hishigi-sama" Kataku cepat-cepat membaringkan badanku. Keheningan pun kembali menyapa, namun kali ini beda. Keheningan ini serasa menyesakkan. Kutekan mataku kuat-kuat menghalau rasa perih yang menjalari mataku. Bagaimana bisa rasa perih didadaku ini sampai ke mataku?.
END TOKITO POV
.
.
.
tbc
(a/n) Akhirnya identitas asli Tokito ketahuan juga *tabur bunga*. Gomen kalau pengungkapan identitasnya kurang greget atau gimana. Udah author bikin senatural mungkin termasuk reaksinya Hishigi. Kan gak elit banget kalau Hishigi tereak-tereak tengah hutan "OMAIGAT...KAMU CEWEK !?" zzzzt -_-
Chapter selanjunya akan jad chapter penutup cerita. so Stay tune yeaaaw, Tombol next sudah sap untuk di klik :3
Mind to RR? Review anda semangat saya :3
