Disclaimer: All Samurai Deeper Kyo Character belong to Kamijyo Akimine.
All OC character belong to me :3
Warning: Standard Warning Apply, still learning after all :')
Let The Story Begin...
.
.
.
HISHIGI POV
"Lagi berantem?" Tegur Muramasa. Tak ada satupun dari kami bertiga yang berbicara.
"Hishigi, Muramasa berbicara padamu" Ujar Fubuki memecah keheningan. Ya aku tahu, dan aku benci menjawabnya.
"Tidak, kami baik-baik saja" Jawabku berbohong. Walau kutahu kebohonganku tidak ada gunanya dihadapan Muramasa. Apalagi wajah senduku yang jelas-jelas tidak bisa berbohong. Selepas kuketahui bahwa dia wanita dan pembicaraan kami digoa, aku merasa Tokito membangun jarak denganku sedikit demi sedikit. Meskipun ia tetap berusaha bersikap biasa, tapi aku tahu ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Ini bukan pengalaman pertamamu dengan wanita, kan?"Tanya Fubuki retoris. Aku mendengus pelan. Memang bukan, tapi Tokito berbeda. Dia...aku bahkan tidak menemukan paduan kata yang pas untuk mendeskripsikannya. Muramasa menghela nafasnya.
"Kau terlalu sering mempelajari hal rumit, Hishigi. Sampai hal sesederhana seperti ini pun kau tidak paham" Ujar Muramasa. Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa.
"Aku permisi" Ujar Fubuki menyadari bahwa topik selanjutnya lebih bersifat pribadi. Muramasa mengangguk paham. Selepas Fubuki pergi, Muramasa memandang padaku, menanti mulutku untuk membuka.
"Muramasa-sama, apa anda ingat tentang harapanku yang lalu. Aku berharap dia dilahirkan dalam bentuk yang berbeda?" Tanyaku. Muramasa menganggukan kepalanya. "Sekarang harapanku terwujud. Tapi..." Kataku tertahan. Aku menundukan kepala, tidak tahu apa yang harus kulakukan. Muramasa menghela nafasnya, lalu tertawa pelan. Hei, apanya yang lucu!?.
"Kau seperti Fubuki dan Hitoki dulu. Juga aku dan Mayumi" Ujarnya. Aku mengernyitkan dahi bingung. "Yaah bisa aku bilang, ini semua alamiah, Hishigi. Semua pasangan pasti akan melewati tahap ini" Ujarnya. Pasangan? Satu hal yang kutahu pasti aku dan Tokito bukan pasangan. Gimana mau jadi pasangan kalau sekarang bahkan saling menghindar begini?. "Kalian akan bisa melaluinya, aku yakin. Hanya turunkan egoismu sedikit, Hishigi. Jangan menolaknya, semakin kau menolak, semakin kau tidak dapat membendungnya" Lanjut Muramasa.
"Menolak?" Ujarku lirih. Muramasa tersenyum lembut padaku.
"Aku rasa kau lebih mengetahui tentang dirimu sendiri dibanding aku" Ujarnya sambil membereskan perkamen yang berserakan dimejanya dan beranjak pergi. Aku terdiam ditelan kesunyian ruang pertemuan besar ini. Muramasa malah meninggalkanku sendiri bersama kebingunganku. Aargh, aku benci situasi ini!.
END HISHIGI POV
.
.
.
"Makan malam anda, Hishigi-sama" Suara renyah Tokito memecah kesunyian istana Hishigi. Hishigi menutup berkas yang tengah dikerjakannya dan menarik nampan berisi makan malamnya. Tokito seperti biasa akan duduk didepannya dalam diam. Namun sudah beberapa menit berlalu, Hishigi belum juga menyentuh makanannya. "Hishigi-sama, ada apa?" Tanya Tokito heran.
"Bukannya seharusnya aku yang bertanya begitu?" Ucap Hishigi serasa menohok tepat ke jantung Tokito. Tokito menegang, dicengkramnya celana keikogi yang dikenakannya. Beberapa detik sudah berlalu namun tidak ada jawaban meluncur dari mulut kecilnya. "Tokito, jawab pertanyaanku" Desak Hishigi, nada bicaranya terdengar mengintimidasi. Tokito masih bungkam dan untuk pertama kalinya, Hishigi benci akan kediaman Tokito.
"M-maaf, saya permisi. Ayah bilang harus cepat pulang" Kilah Tokito sembari bangkit dan berlari menuju pintu. 'BRAK' Seseorang membanting pintu itu bahkan sebelum Tokito memegang gagangnya. Aura mengerikan menguar dari arah belakangnya. Tokito membalikkan badannya yang kemudian bertatapan dengan sang majikan yang entah sejak kapan berada disitu. Badan mungilnya gemetar ketakutan. Belum pernah sekalipun ia melihat majikannya semarah ini. Hishigi mencengkram belakang kepalanya dengan sebelah tangan, memaksa agar ia bertatapan mata dengannya.
"Apa kau tuli, hah!? Kubilang jawab pertanyaanku!" Geramnya. Tokito malah menangis ketakutan menghadapi tuannya yang tengah digelayuti amarah. Hishigi menggeram kesal. Dan hanya dalam hitungan detik, bibir kedua insan berlawanan jenis ini bersatu. Tokito membelalakan matanya terkejut. Sekuat tenaga ia mencoba melepaskan diri. Namun apalah arti tenaga Tokito dibanding milik Hishigi
"H-Hishi-gi-sa-ma" Rintihnya diantara ciuman Hishigi yang seakan mau menelannya bulat-bulat. Jantungnya berdebar hebat dan dadanya serasa sesak. Hishigi akhirnya melepaskannya setelah kadar oksigen diparu-paru mereka sama-sama menipis. Hishigi menatap pada kedua iris chrystoberyl Tokito yang berkaca-kaca. Diluar dugaan, Tokito malah mendorong jauh tubuh Hishigi. "Aku-aku harus pulang, Hishigi-sama" Ujarnya dengan nada bergetar.
Hishigi hanya bisa terdiam memandangi sosok Tokito yang pergi menghilang ke balik pintu. Amarah seketika menguasi relung dadanya. Ia pukul pintu besar didepannya hingga meninggalkan lubang besar yang menembus sisi luarnya. "Ugh Tokito...beri tahu aku..." Lirihnya putus asa.
.
.
.
FUBUKI POV
"Kau tidak bekerja?" Tegurku pada sosok mungil anak semata wayangku yang tengah memandang kosong ke arah taman rumahku. Saat ini sudah pukul dua siang, seharusnya ia pergi bekerja dua belas jam yang lalu. Tokito cuma memandangku sekilas dan menggelengkan kepala lalu kembali memandang ke arah taman.
"Aku sedang tidak enak badan, ayah" Katanya pelan. Sebagai seorang ayah, aku tahu ada sesuatu yang tak beres dengannya. Maka kuputuskan menghampirinya dan duduk disampingnya.
"Ada apa?" Tanyaku hati-hati. Tokito menggeleng pelan. Aku menghela nafas, anak remaja memang terkenal suka membunyikan perasaannya. "Ada hubungannya dengan si serba hitam itu?" Tebakku. Tokito berjengit sedikit, hmp tebakanku tepat. "Ayah tidak punya ilmu Satori seperti Muramasa. Tapi, jangan sampai kau menyesal kemudian" Nasehatku. Tokito memandang sendu padaku.
"Aku...aku bingung dengan diriku sendiri" Ujarnya. Aku terdiam, menunggunya melanjutkan perkataannya. "Aku...aku merasa jadi penghalang buat Hishigi-sama, ayah. Aku merasa...kalau aku terus berada sekitar Hishigi-sama, mungkin mereka tidak akan bersatu" Ujarnya. Aku sedikit terkejut mendengar penuturannya. Hishigi menyukai seorang wanita? Aku kira patung itu tidak bisa jatuh cinta.
"Jadi, siapa wanita itu?" Tanyaku. Tokito tersenyum getir.
"Aku tidak tahu, hanya saja terlihat sekali Hishigi-sama menyukainya. Well, kurasa bodoh saja wanita beruntung itu kalau menolak Hishigi-sama, hahaha" Tawanya getir. Aku terdiam, kupandangi wajah putri semata wayangku yang tampak sendu. "Katanya wanita itu berisik, tapi Hishigi-sama tidak keberatan. Aku jadi iri" Lanjutnya. Aku manggut-manggut, mengerti pokok permasalahannya dimana.
END FUBUKI POV
TOKITO POV
Aku menghela nafas, berusaha meringankan beban yang serasa menghimpit dadaku. Padahal aku sudah bertekad akan menjauhi Hishigi biar dia punya kesempatan dekat dengan wanita itu. Tapi kenapa dadaku malah terasa sakit?. Aku tahu aku memang bodoh cerita sama ayah yang notabene sahabat dekat Hishigi, tapi aku merasa beban ini terlalu berat kutanggung sendiri. "Well, sejujurna ayah tidak tahu dan tidak pernah mendengar tentang wanita yang disukainya, sih. Tapi..." Ujarnya mengambang menangkap atensiku. "Kalau benar wanita yang disukainya itu berisik, setahu ayah sih cuma kamu" Lanjutnya. Mataku terbelalak, masa sih? Aku salah dengar, ya?.
Kulihat ayahku menatap padaku lembut. "Hishigi itu gagap sosial, jadi wajar saja dia tidak luwes berinteraksi terutama dengan wanita. Ayah yakin kalian berdua cuma salah paham saja" Ujarnya lagi. Aku terdiam, memikirkan nasihat ayahku. Tiba-tiba saja aku jadi merasa bersalah pada majikanku itu.
'SREG' Suara sohji dibuka memecah keheningan yang spontan mengalihkan fokusku dan Fubuki. "Anata, ada tamu" Ujar Hitoki. Tampak Hishigi tengah berdiri diambang pintu dengan ekspresi stoicnya yang biasa. Kedua onyx-nya memandang padaku yang seketika membuatku ingin melarikan diri. Aku membatu ditempatku berada selagi Fubuki mempersilakan tamunya duduk. "Mau berbicara pada Tokito?" Tanya ayahku to the point. Kualihkan pandanganku ke arah lain berusaha menekan jantungku yang seakan mau melompat dari rongganya.
"Tidak, aku mau berbicara padamu, Fubuki" Jawabnya. Aku menghembuskan nafas lega, setidaknya bukan tentangku. Jadi aku aman.
"Well, ada apa?" Tanya Fubuki.
"Aku mau melamar Tokito jadi istriku" Jawab Hishigi tegas. WHAT!?. Jawabannya seketika membuatku menatap pada Hishigi, berusaha mencari kebohongan darinya. Namun air mukanya yang tenang namun serius mengatakan sebaliknya. Hishigi serius!. Fubuki pun terlihat sama terkejutnya denganku namun dia lebih bisa mengontrol keterkejutannya.
"Kau yakin, Hishigi? Apa alasanmu?" Tanya Fubuki.
"Aku yakin, karena aku mencintainya dan aku tidak mau dia jadi milik orang lain" Ujar Hishigi. Eh, Hishigi mencintaiku? Jadi bener apa yang dibilang ayah?. Entah kenapa tiba-tiba hatiku menghangat dan beban yang menghimpit dadaku terangkat seluruhnya diganti dengan miliaran kupu-kupu yang serasa meledak keluar dari perutku. Fubuki terdiam, ia memandang lurus ke arah onyx Hishigi.
"Well, ini semua bergantung pada jawaban Tokito. Jawabanku akan sama dengan jawabannya" Ujar Fubuki. Kini dua onyx itu memandang padaku yang masih mematung, berusaha mencerna semua informasi ini. "Tokito" Tegur Fubuki yang mengacaukan lamunanku. Aku memandang pada Fubuki lalu pada Hishigi. Aku cuma menganggukan kepalaku tanpa mengeluarkan kata sepatahpun. Pita suaraku seakan rusak. Dan bebarengan dengan itu, kulihat kelegaan diwajah Hishigi dan senyum diwajah Fubuki. "Lamaranmu kuterima" Ujar Fubuki singkat.
.
.
.
Aku masih saja terdiam bahkan setelah acara lamaran dan kini aku tengah duduk berdua dengan calon suamiku. Suara jangkrik menjadi pengiring kesunyian diantara kami. "Tokito..." Lirih Hishigi sambil memandang padaku khawatir. Tangan besarnya menggenggam erat tangan kecilku. Aku memberanikan diri memandang paras tampannya. "Ada apa?" Lanjutnya. Aku menelan ludah.
"Aku hanya belum percaya" Kataku pendek. Hishigi menghela nafas pendek. Ditariknya tubuh kecilku agar merapat dengannya. Jantungku berontak saat indra penciumanku menangkam aroma maskulin yang memang selalu menguar darinya. Hishigi menekan lembut kepalaku tepat ke dada kirinya. Dapat kudengar irama detak jantungnya yang memang lebih cepat dari biasanya.
"Kau bisa mendengarnya?" Getaran suara beratnya bahkan terdengar sangat jelas ditelingaku. Boro-boro konsen ngedengerin, aku malah sibuk ngatur ritme nafasku yang amburadul. Aduuh jantung, bertahanlah. Aku gak mau mati muda !.
END TOKITO POV
Beberapa detik sudah berlalu namun belum ada jawaban meluncur dari mulut Tokito. Dan Hishigi pun tampak mulai cemas. Bagaimana kalau ternyata Tokito tidak memiliki perasaan yang sama dengannya? Bagaimana kalau ternyata Tokito tidak mau menikah dengannya?. Semua pertanyaan itu bagaikan pedang yang menghujam tepat ke jantungnya. "Hi-Hishigi-sama" Ujar Tokito menengadahkan kepalanya ke atas. Dia memanggil 'Hishigi-sama'? Tidak tahukah ia betapa panggilannya itu amat menyakitkan untuk Hishigi sekarang?. Sebelum Tokito membuka mulutnya lagi, Hishigi keburu memotongnya.
"Aku tidak peduli apapun jawabanmu. Aku akan tetap menikahimu, tanpa atau dengan keinginanmu" Kata Hishigi posesif. Tokito harus tahu betapa Hishigi amat takut kehilangan dirinya. Tokito tersenyum tipis. Perlahan ia menarik kepala Hishigi dan mengecup pipinya lembut. Seketika ada perasaan hangat yang mengguyuri dadanya. Yeah, perasaan yang hanya dirasakan jika mereka tengah saling berinteraksi walau dalam diam, walau tak ada kata yang terucap diantara mereka. Tanpa disadari telah terbangun suatu ikatan yang mustahil untuk dihancurkan.
"D-daisuki, Hishigi" Bisik Tokito malu-malu. Sebuah kata yang selama ini terjebak dalam kerongkongannya akhirnya meluncur keluar. Wajahnya merona hebat dan lidahnya terasa kelu. Bagaimanapun Tokito belum terbiasa memanggi Hishigi tanpa embel-embel. Dan kini ia harus mulai membiasakan diri atau kedekatan antar mereka tidak akan berkembang lebih dari ini.
Hishigi tersenyum lembut melihat Tokito yang merona hebat karenanya. Sementara Tokito pun tercengang melihat mantan majikannya yang biasanya irit senyum ini kini malah tersenyum padanya. Apa ini mata Tokito yang ada gangguan atau memang calon suaminya ini memang tambah tampan kalau tersenyum. "Daisuki-moo, Tokito" Ujar Hishigi. Tanpa peringatan, Hishigi mendaratkan ciuman pada bibir mungil Tokito. Namun tak seperti sebelumnya, Tokito menerimanya kali ini. Walaupun jantungnya serasa sesak karena saking kerasnya berdetak.
Penerimaan Tokito tak ayal membuat Hishigi makin lancang menyerangnya. Dari mulai kecupan ringan sampai lumatan - lumatan kecil pada bibir Tokito. "Hi-Hishigi" Tegur Tokito mendorong bahu bidangnya membuat Hishigi menghentikan ciumannya. Kedua iris chrystoberyl-nya berusaha menatap kedua onyx sayu Hishigi yang entah kenapa terlihat begitu oh so woow. Mengingatkan bahwa disini bukan tempat dan waktu yang tepat untuk melakukannya.
"Oh, kau mau pindah ke kamarku?" Tanyanya seduktif walaupun dengan ekspresi datar andalannya. Tokito malah speechless mengetahui betapa mesumnya her-husband-wanna be-nya yang stoic ini.
"HISHIGI!" Sahut Fubuki geram dari ruang sebelah. O...ow, tampaknya Hishigi harus ingat kalau Tokito memiliki ayah yang overprotektif.
.
.
.
TAMAT
(a/n) Akhirnya tamat dengan elegannya di chaper ke-sepuluh. Gomen deh kalau readers yang kecewa ama adegan kissingnya soalnya jujur aja, Auhtor gak jago bikin plot yadong *kalay bacanya sih jago #plak*.
Author ucapkan terima kasih sebanyak banyak banyaknya buat readers yang setia baca sampai chapter terakhir. Udah was-was aja takut tembus 20 chapter, hahaha :D
Setelah ini bakalan ada sequel, tapi cuma mini fic two atau three shoot aja. Nyeritain sepenggal kehidupan Hishigi dan Tokito setelah mereka menikah. Yang penasaran monggo cek profile saya ;)
Mind to RR? Review anda semangat untuk saya
