Minna, apa kabar? XD
Gomen klo saya telat update, slna ada mslh sm ffn nya. Ga bs dbuka dri mozilla sm google chrome. Jdi saya msti buka pke free web proxy dlu. Ribet? Emang nih, nyusahin bget pke error sgala =_= #bletakk
Sblomnya saya mau bls review2 dlu nih
*Emilia Frost: tenang aja, nti Meiko jg bkln prgi sndiri koq. Ikutin aj critanya. Heheheh^
*Shiroi Karen: kaget yah klo endingnya saya buat nge-gantung? D chapter ini Kaito akn mncoba untuk mnjlaskan smuanya pd Miku XD
*Ryuuna Hideyoshi: bisa jdi iy, tpi cm smentara doank. Tnang aj, Kaito bkln ttep sm Miku koq XD
Baiklah, klo gtu saya mlai aj lnjutan critanya
Meet reading, Minna ^
Story start!
Chapter 8: Misunderstanding
Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha, not my own
Genre: Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Slice of Life
Rated: T
Warning: OOC, Typo, a little bit comedy, Dramatically Romance
Don't like, don't read it!
.
.
.
.
.
Miku membuka pintu toilet, ia melihat Kaito dan Meiko sedang berada di dalam sambil berpelukan. Miku langsung terkejut bukan main...
"Kaito! Apa maksudnya semua ini...?". Miku berkata, raut wajahnya terlihat sedih dan hampir ingin menangis
Kaito yang mendengar perkataan Miku barusan langsung terkejut, ia tidak menyangka bahwa Miku akan pergi mencari dirinya
"M-Miku! Kau salah... ini tidak seperti yang kau pikirkan!". Kaito berkata sambil mencoba untuk berjalan mendekati Miku dan menjelaskan semuanya
"Memang seperti inilah yang kupikirkan. Maaf sudah menganggu waktu kalian, silahkan lanjutkan". Miku berkata, kemudian ia berlari meninggalkan toilet
"M-Miku! Tunggu, jangan pergi!". Seru Kaito
Kaito berniat untuk mengejar Miku, namun Meiko masih memeluknya dan tidak mau melepaskan genggaman tangannya dari Kaito
"Tidak! Tetaplah di sini bersamaku... tinggalkan dia sendiri!". Meiko berkata sambil memeluk Kaito lebih erat
.
.
.
Di koridor, Miku berlari sambil menangis. Ia tidak bisa mempercayai kejadian yang dilihatnya barusan...
"Padahal aku percaya padamu, Kaito! Aku percaya padamu! Tapi kenapa?!". Miku berseru dalam hati
Teman-teman Miku masih berkumpul di kamar Len. Mereka menyadari bahwa daritadi Miku, Kaito dan Meiko masih belum juga kembali...
"Miku lama sekali". Kata Luka
"Ayo kita cari dia". Kata Gakupo
Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Miku berjalan memasuki kamar Len sambil pamit pulang pada teman-temannya
"Gomen, minna-san. Aku harus segera pulang, di rumah telah terjadi sesuatu yang gawat". Miku berkata sambil berjalan keluar meninggalkan kamar dan menundukkan kepala supaya mereka tidak melihat wajah sedihnya
"Apakah telah terjadi sesuatu?". Gumi bertanya, ia terlihat khawatir
"Tidak, tidak apa-apa". Miku berkata sambil menyeka air mata dengan sapu tangannya lalu ia menatap Len yang masih terbaring di atas tempat tidur dan tersenyum padanya
"Cepatlah sembuh, Len". Miku berkata kemudian ia berjalan meninggalkan kamar
Sementara itu, Kaito dan Meiko masih berada di toilet...
"Lepaskan aku! Aku harus pergi!". Kaito berkata sambil mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Meiko, setelah berhasil melepaskan diri. Ia pun segera berlari mencari Miku dan meninggalkan Meiko sendirian
"Kaito, m-matte yo!". Seru Meiko
Kaito kembali ke kamar Len, ia menatap semua teman-temannya masih berada di sana. Namun ia tidak melihat Miku ada bersama mereka...
"Apakah kalian melihat Miku? Di mana dia?". Tanya Kaito
"Dia baru saja pergi sekitar beberapa menit yang lalu". Jawab Luka
"Apakah telah terjadi sesuatu?". Tanya Gakupo
"Aku akan mencarinya". Kaito berkata, ia mengabaikan perkataan Gakupo barusan dan berlari keluar kamar untuk menemukan Miku, berharap bahwa saat ini Miku masih belum pergi terlalu jauh
Tak lama setelah Kaito pergi, Meiko kembali ke kamar Len. Raut wajahnya terlihat sedih. Mereka semua menatapnya
"Sepertinya telah terjadi sesuatu". Gakupo berkata, ia seperti menyadari ada sesuatu yang salah
"G-Gakupo...". Kata Luka
.
.
.
Kaito tiba di teras depan lantai utama. Ia melihat Miku sedang berdiri dekat pintu gerbang depan sambil memanggil taksi yang kebetulan lewat. Taksi tersebut berhenti di gerbang depan. Miku menolehkan pandangan dan melihat Kaito sedang berdiri dekat pintu teras sambil menatapnya. Menyadari bahwa Kaito masih terus berusaha mengejarnya, Miku segera masuk ke dalam taksi dan berkata pada supir taksi tersebut
"Tolong bawa aku pergi dari sini, cepat!". Kata Miku
"Tidak, Miku! Tunggu!". Kaito berlari sambil berteriak namun terlambat, taksi tersebut sudah pergi meninggalkan rumah Len
Kaito menatapnya dari kejauhan
"Miku...".
/Crypton Academy
Hari berikutnya di kelas...
"Ohayou, minna!". kata Dell
Luka sedang menatap pemandangan di luar sekolah dari jendela. Gakupo sedang duduk di kursinya sambil membaca novel. Len dan Rin duduk diam di kursi mereka. Neru sedang tidak bersemangat menggangu Len. Haku sedang tidur di mejanya karena masih mengantuk. Sedangkan Akaito masih bersandar di depan pintu kelas
"Hei, ada apa dengan semuanya? Tumben sekali hari ini kalian tidak bersemangat seperti biasanya". Kata Dell
Mereka menatap tempat duduk Kaito, Miku, dan Meiko yang masih kosong. Sepertinya hari ini mereka bertiga tidak masuk sekolah. Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi, Kiyoteru sensei memasuki ruang kelas. Seisi kelas langsung kembali duduk ke tempat mereka masing-masing
"Apakah kalian semua sudah siap untuk festival tsukimi nanti?". Tanya Kiyoteru sensei
"Tentu!". Seru seisi kelas
Kiyoteru sensei memperhatikan beberapa siswa-siswi di kelasnya terlihat sedang memikirkan sesuatu dan tidak mendengarkan penjelasannya barusan
"Sepertinya beberapa orang diantara kalian ada yang tidak tertarik dengan semua ini". Kata Kiyoteru sensei
Sore hari, hujan turun dengan deras. Di rumahnya, Miku masih berada di kamarnya. Karena kejadian semalam, ia jadi tidak bisa tidur dengan tenang, matanya juga terlihat sembab karena terus-terusan menangis...
"Sebenarnya, apa yang sedang mereka lakukan...". Miku berkata sambil menangis dan memeluk guling negi kesayangannya
"Padahal aku percaya pada kalian... tapi kenapa...".
Tiba-tiba saja terdengar sebuah suara dari lantai bawah. Miku membuka kain korden yang menutupi jendela kamarnya dan melihat Kaito sedang berdiri di gerbang depan rumahnya sambil menutup payung dan berjalan menuju pintu teras. Miku masih berada di kamar dan tidak ingin keluar, namun Kaito masih terus-terusan menekan bel pintu rumahnya. Ponsel Miku penuh dengan beberapa SMS dan missed call dari Kaito yang dikirim sejak semalam. Namun Miku masih saja mengabaikannya
"Miku! Miku! Apakah kau ada di rumah? Kumohon, turunlah! Aku ingin bicara denganmu... akan kujelaskan semuanya!". Kaito berkata sambil terus-terusan menekan bel pintu rumah Miku
Tak lama kemudian, seorang lelaki bersurai teal yang mirip dengan Miku membuka pintu teras depan. Ia menatap Kaito dengan tatapan dingin
"Hei kau, apakah sekarang kau telah menjadi seorang penguntit?". Tanya Mikuo
Kaito berhenti menekan bel pintu dan menatap Mikuo
"Kau.. kau ini adalah temannya kan?".
"Miku tidak ingin menemuimu, lebih baik kau segera pergi dari sini". Kata Mikuo
Kaito yang mendengar perkataan Mikuo barusan merasa sedikit panas, ia pun membalasnya
"Memangnya apa pedulimu, hah?! Kau tidak perlu ikut campur! Ini adalah masalahku dengan Miku. Aku akan menjelaskan semua kesalahpahaman ini. Jadi minggirlah! Tolong jangan menghalangi jalanku!". Kaito berkata, ia terlihat marah
"Oh, kau pikir aku samasekali tidak peduli padanya? Tentu saja aku sangat peduli! Aku sangat peduli padanya.. pada perasaannya bahkan jauh lebih peduli daripada kau, jadi berhentilah menganggunya". Kata Mikuo
"Kau!". Kaito berkata sambil melayangkan tinjunya pada Mikuo, namun dengan cepat Mikuo menahan serangan Kaito dengan sebelah tangannya
"Bukankah sebelumnya aku sudah pernah mengatakan hal ini padamu. Apakah kau telah melupakannya? Lain kali dengarkan kata-kataku ini dan catat ke dalam otakmu: Tujuan utama kita dalam kehidupan ini adalah untuk mencintai dan membahagiakan orang lain, namun jika kau tidak bisa melakukannya, setidaknya jangan menyakiti perasaan orang itu! Ini juga berlaku untukmu dan Miku, jangan pernah melukai perasaannya!". Mikuo berkata sambil menatap Kaito, raut wajahnya terlihat serius
Kaito yang mendengar perkataan Mikuo barusan merasa sedikit terkejut, ia pun kembali membalas
"Jika kau berkata seperti ini padaku, itu artinya kau juga menyukai dia". Kata Kaito
"Ya, dan tentu saja aku sangat peduli padanya. Aku punya satu pertanyaan untukmu, Kaito. Setiap hari saat melihat kau, Miku selalu tersenyum padamu kan?". Tanya Mikuo
"Ya". Jawab Kaito
"Dia melihatmu dengan tatapan jujur. Bukankah begitu?". Tanya Mikuo sekali lagi
"Ya, lalu apa pedulim-". Kaito berkata namun Mikuo malah memotong pembicaraannya
"Apakah dia cukup baik untukmu?". Tanya Mikuo
"Ya, dan mengapa kau malah menanyakan semua hal ini seolah-olah kau seperti ingin menginterogasiku?!". Seru Kaito
Mikuo terdiam untuk sementara dan memejamkan matanya, mencoba untuk tetap tenang. Tak lama kemudian ia kembali melanjutkan
"Ingatlah kata-kataku ini, kepala batu: senyum tercantik menyembunyikan rahasia terdalam, mata yang indah telah mengeluarkan banyak air mata, dan hati yang baik telah merasakan sakit yang teramat dalam. Belajarlah untuk lebih peka sedikit terhadap perasaan orang lain, dan MULAI DETIK INI TOLONG TINGGALKAN MIKU SENDIRI!". Mikuo berkata sambil masuk ke dalam rumah dan menutup pintu teras depan
Kaito yang mendengar perkataan Mikuo barusan langsung menundukkan kepala. Ia menatap ke arah jendela kamar Miku yang terletak di lantai atas dan berteriak dari bawah sana
"Miku, aku akan segera kembali... tolong tenangkan dirimu dulu untuk sementara waktu, dan berpikirlah apakah kau akan memberiku kesempatan untuk menjelaskan semua ini atau tidak...". Kaito berkata lalu ia berjalan pergi meninggalkan rumah Miku
Miku mendengar perkataan Kaito barusan dan menatap ke arah gerbang depan rumah melalui jendela kamarnya, ternyata Kaito sudah pergi
/Crypton Academy
Miku kembali masuk ke sekolah. Semua temannya yang berada di dalam kelas langsung berjalan menghampiri Miku dan menyambutnya...
"Ohayou, Minna-san". Miku berkata sambil menunjukkan senyumnya, mereka semua yang melihatnya langsung senang dan memeluk Miku
"Eh?! Ada apa ini?! ". Miku yang melihat teman-temannya memeluknya seperti itu langsung merasa terkejut
"Kami sangat merindukanmu, Miku". kata Rin dan Len bersamaan
"Waaahh, Miku. Kau sudah kembali". Kata Gumi
"Ya, kami juga sangat merindukanmu". Kata Haku
"Luka barusan menghajarku, syukurlah kau ada di sini". Kata Gakupo
"Huh? Oh ya, Miku. Aku juga merindukanmu. Kalau di kelas tidak ada kau rasanya jadi sangat sepi". Luka berkata sambil memeluk Miku
Miku menatap sekelilingnya, namun ia tidak menemukan seseorang yang ia cari
"Apakah Kaito dan Meiko masih belum datang?". Tanya Miku
"Ah, mengenai itu...". kata Akaito
Tak lama kemudian bel sekolah berbunyi, Kiyoteru sensei memasuki ruang kelas
"Semuanya, kembalilah ke tempat duduk kalian masing-masing. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting pada kalian". Kiyoteru sensei berkata sambil berdiri di depan meja guru
Seisi kelas yang mendengarnya langsung saling berbisik satu sama lain
"Teman kalian, Sakine Meiko hari ini memutuskan untuk pindah dan melanjutkan sekolah ke Amerika. Tadi pagi dia sempat datang kemari menemuiku. Meiko meninggalkan beberapa surat untuk diberikan kepada teman-temannya di kelas ini. Dia ingin supaya aku menyampaikannya pada kalian semua. Jika kupanggil nama kalian, majulah ke depan dan ambil suratnya". Kata Kiyoteru sensei
"Megurine Luka".
"Hai". Luka berkata sambil berdiri dari kursinya dan berjalan menuju meja guru
"Kamui Gakupo".
"Wow, ternyata aku juga dapat". Gakupo berkata, ia terlihat senang
"Nakajima Gumi".
"H-Hai". Gumi berkata sambil berjalan menuju meja guru
"Kagamine Rin, Kagamine Len".
"Baiklah". Kata mereka bersamaan
"Yowane Haku, Shion Akaito, Hatsune Miku...".
"Eh? Aku juga dapat suratnya?". Miku bertanya, ia seperti tidak percaya
"Ya, surat itu ditujukkan pada kalian dan Meiko bilang itu sangat penting". Kata Kiyoteru sensei
Seusai kelas, Miku langsung pulang ke rumahnya. Ia berjalan menuju ruang tamu lalu menaruh tasnya di atas sofa dan duduk bersandar sambil membaca surat dari Meiko...
Miku,
Aku ingin minta maaf atas apa yang telah kuperbuat. Mungkin kau memang tidak bisa memaafkannya semudah itu. Namun aku tidak bisa menghentikan niatku untuk mencintai Kaito. Tapi sebagaimana yang telah kulihat, Kaito mencintaimu. Dia menolakku dan lebih memilihmu daripada aku. Dia mencintaimu lebih dari apapun. Jadi, bisakah tolong kau maafkan dia? Kejadian yang terjadi pada malam hari itu adalah salahku, bukan dia. Aku akan pergi melanjutkan sekolah ke Amerika, supaya tidak menganggu kalian. Aku bukannya ingin lari, tapi aku telah menerima semua kenyataan yang ada. Terima kasih atas waktu kalian selama 3 tahun terakhir ini. Aku pasti akan mengingatnya...".
Sahabatmu,
Sakine Meiko
Miku menangis sambil membaca surat tersebut
"Jadi, kau sudah membaca surat darinya?". Tanya Kaito, ia baru saja tiba
Miku menolehkan pandangannya dan melihat Kaito sedang berdiri di belakang sofa tempat duduknya
"Bagaimana kau bisa masuk kemari?". Tanya Miku
"Pintunya tadi terbuka, aku tidak mendobraknya. Jangan khawatir". Kata Kaito
"Aku masih belum bisa memaafkanmu". Miku berkata sambil menghapus air mata dengan sapu tangannya
"Aku tahu... tenanglah... aku mencintaimu". Kaito berkata sambil memeluk Miku
"Kata-kata dan tindakan manismu lagi-lagi mengingatkanku. Ini tidak adil, kau memelukku di saat aku belum siap". Miku berkata sambil memeluk balik Kaito
Kaito kembali menatap Miku
"Aku sudah memikirkan cara supaya kau sepenuhnya mau memaafkanku". Kaito berkata sambil tersenyum, sementara Miku menatapnya
"Apa itu?". Tanya Miku
"Mari kita pergi kencan". Kata Kaito
.
.
.
To Be Continued
Minna, bgaimn mnurut klian?^
Mind to review, please? :3
