Minna, apa kabar? XD

Kmbali lgi brsama saya, Satsuki21as. Sblomnya thx bwt para readers n silent readers sklian yg ud nge-review n nge-baca. Krn klian, saya jdi smangat utk ngelanjutin fic ini, hehehh ^

Saya cm pgen ksitau klo sbntar lgi fic ini bkln tamat. Mngkin skitar 2-3 chapter lgi. Pnasaran sm endingnya? Tebak aj sndiri XD #bletakk

Ok, sblomnya saya mau bls review2 dlu nih

*Emilia Frost: hahahahh, d chapter ini adegan romance nya bkln saya bnyakin. Kmu psti suka, tnang aj^

*Shiroi Karen: udh jelas, si Meiko ga mao ngelepasin Kaito. Mngkin aj Kaito sm Meiko pgen mnta maaf atas kjdian d masa lalu (nih author sok tau amat sih #digampar =_=) ok, abaikan saja yg brusan

*Nono Asakura: salam knal n thx for review. Critanya ud saya lnjutin, trnyata anda ini memang suka ngelawak yah XD (author aj ga bs, aplgi klo dsruh bkin fic genre komedi, pling ga ada ide smskli #plakk)

Baiklah, klo gtu saya mlai aj lnjutan critanya

Meet reading, Minna ^

Story start!


Chapter 9: First and Last Date


Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha, not my own

Genre: Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Slice of Life

Rated: T

Warning: OOC, Typo, a little bit comedy, Dramatically Romance

Don't like, don't read it!

.

.

.

.

.

Miku sempat terkejut saat mendengar perkataan Kaito barusan. Ia meletakkan surat yang barusan ia baca di meja ruang tamu. Kaito berjalan menghampirinya dan duduk bersandar dekat sofa di sebelah Miku lalu kembali melanjutkan pembicaraan...

"Mengapa kau ingin mengajakku pergi kencan?". Miku bertanya sambil menatap Kaito

"Supaya kau mau memaafkanku". Jawab Kaito

"Itu tidak perlu, aku sudah memaafkanmu". Kata Miku

"Tidak, kita akan tetap pergi kencan setelah festival tsukimi nanti". Kata Kaito

"Mengapa harus setelah festival?". Miku bertanya, ia terlihat seperti ingin tahu

"Kau akan mengetahuinya nanti". Jawab Kaito

Setelah selesai berbincang-bincang, Kaito segera pamit pulang dan berjalan menuju gerbang depan sementara Miku melambaikan sebelah tangan dan menatap Kaito dari kejauhan sambil tersenyum


/Crypton Academy

Hari berikutnya...

Kaito dan Miku berangkat ke sekolah bersama-sama. Mereka berjalan menelusuri koridor sekolah, para siswa dan siswi yang melihatnya langsung saling berbisik satu sama lain. Tak lama kemudian, mereka pun tiba di kelas

"Ahahaha.. kalau kulihat sepertinya kalian berdua sudah baikan". Gakupo berkata sambil tertawa

"Diamlah, baka nasu! Nanti kita akan cari tahu penyebabnya". Kata Luka

"Ah! Miku! Kaito, akhirnya kau datang juga! Kau tahu, kami semua sangat mengkhawatirkanmu". Gumi berkata sambil berjalan menghampiri mereka

"Tenanglah, aku baik-baik saja". Kaito berkata dengan bangga sambil tersenyum

Gakupo berjalan menghampiri Kaito dan Miku lalu menatap mereka

"Bagus, kalau begitu apakah bayi kalian sudah lahir?". Gakupo berkata sambil tersenyum-senyum tanpa dosa lalu ia mengenggam tangan Miku

"B-Bayi?!". Miku yang mendengarnya langsung terkejut, wajahnya merona merah

Luka yang mendengarnya langsung berlari menghampiri Gakupo kemudian menyeretnya

"Kau memang tidak pernah berubah, nak". Luka berkata sambil menunjukkan serigai yang cukup menyeramkan, lalu ia menarik kursi di meja sebelah dan memukul kepala Gakupo dengan kursi tersebut

"Aaaaahhh! Itaii! TT_TT". Gakupo berkata sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit

"Gakupo, dahimu berdarah! Cepat obati lukamu!". Seru Gumi

"Len, tasukete!". Gakupo berlari mendekati Len sambil memeluknya

Len langsung terkejut karena Gakupo memeluknya secara tiba-tiba

"G-Gakupo!". Kata Len

"MENJAUHLAH DARI LEN!". Seru Rin dan Neru secara bersamaan

"Kyaaaa! Kalian semua mem-bullying ku". Gakupo berkata sambil berlari menjauhi mereka

Miku, Kaito, Akaito dan Haku yang melihatnya langsung sweatdrop seketika

"Kurasa semuanya sudah kembali seperti biasa". Kata Akaito

"Tidak, Meiko menghilang". Haku menambahkan

"Tidak masalah, lagipula memang dia sendiri yang memutuskan ingin pergi". Kata Kaito


Malam hari pun telah tiba. Sebentar lagi festival tsukimi akan segera dimulai. Miku dan teman-temannya sedang berada di ruang ganti untuk mengganti seragam mereka dengan Yukata yang telah mereka siapkan sebelumnya...

"Aku sudah selesai". Miku berkata sambil melangkah keluar dari ruang ganti

"Waaahh, kawaii ne, Miku". kata Gumi

"Ya, Gumi. Kau benar". Kata Luka

"L-Luka, dadamu terlihat besar... sedangkan aku...". Rin berkata sambil menatap Luka

Luka yang mendengar perkataan Rin barusan langsung terkejut

"Rin! Tolong jangan berkata seperti itu... aku kan jadi malu". Luka berkata sambil menyilangkan kedua tangan di depan dadanya

"Ya, kau benar. Dia terlihat cukup besar".

Rin dan Luka yang mendengarnya langsung terkejut. Mereka menatap Gakupo yang sedang berdiri di pintu ruang ganti tidak jauh dari tempat mereka berada

"Sedang apa kau di sini?!". Luka berkata sambil mencekik Gakupo lalu menendangnya keluar dari ruangan

"Bagaimana dia bisa masuk kemari?". Tanya Haku

"Pintu ruang ganti di sini hanya ditutupi oleh tirai. Tapi tidak masalah, mengingat bahwa semua kamar ganti di tempat ini memang kelihatan sangat terbuka". Kata Akaito

"Tapi, tidakkah kau menyadarinya bahwa mereka semua adalah wanita!". Len berteriak

"Etto... kalau begitu, sedang apa kau di sini, Len?". Kaito bertanya sambil menyipitkan matanya menatap Len

Wajah Len langsung merona merah saat mendengarnya

"Len, kalau seperti itu kau terlihat kawaii!". Neru berkata sambil menggeser tirai ruang ganti, ia baru saja selesai mengganti pakaian

"Oh ya, ngomong-ngomong sedang apa kau di sini, Kaito?". Tanya Miku

"Tidakkah kau menyadarinya? Tentu saja untuk mengawalmu". Kaito berkata sambil tersenyum menatap Miku

Kali ini wajah Miku merona merah


Festival tsukimi pun dimulai. Mereka semua berpisah jalan dan menatap bulan dari tempat yang berbeda...

.

.

.

Gakupo dan Luka sedang duduk bersandar di sebuah kursi panjang...

"Malam ini bulannya sangat indah". Luka berkata sambil menatap langit malam

"Ya, bahkan jauh lebih cantik daripada kau". Gakupo berkata sambil tertawa

"Diamlah!". Luka berkata, wajahnya merona merah

"Eh? Apakah kau tidak menyukainya? Baiklah, biar kuberitahu lebih jelas. Bulan memang bukan manusia. Aku hanya ingin mengatakan bahwa keindahannya sangat cocok untuk disandingkan dengan matahari, atau mungkin bintang. Menurutku kau terlihat jauh lebih cantik daripada siapapun". Gakupo berkata sambil tersenyum

"G-Gakupo... kau memang tidak pernah gagal untuk membuatku tersipu, baka". Luka berkata sambil menendang Gakupo tepat di wajahnya, sementara wajah Luka sendiri sudah merona merah


Len, Rin, dan Neru. Mereka sedang berdiri di dekat jembatan...

"Len, kau adalah milikku". Neru berkata sambil memeluk Len

"Tidaaakkk! Len adalah milikku!". Seru Rin

Len yang mendengar Rin dan Neru terus-terusan bertengkar pun merasa terganggu, hingga akhirnya...

"Kalian berdua, diamlah sebentar! Tidak bisakah kalian lihat bulannya, malam ini bulannya terlihat sangat indah dan juga besar". Len berkata dengan tenang

"Ya, benar-benar sangat indah". Rin dan Neru berkata sambil menatap langit


Sementara itu, Haku dan Akaito...

"Haku, apakah kau merasa bosan?". Tanya Akaito

"Setiap saat aku memang selalu merasa bosan... di sekolah dan juga kehidupan ini". Balas Haku

"Apakah kau ingin supaya aku membuatmu tidak merasa bosan?". Akaito bertanya sambil tertawa

"H-Hei, jangan konyol!". Haku berkata,sementara wajahnya sedikit merona


Di tempat lain, Kaito dan Miku...

"Aku yakin mereka semua pasti juga sedang melihat bulan". Miku berkata sambil menatap langit malam

"Ya, kau benar". Kaito berkata sambil berbaring di pangkuan Miku. Mereka sudah duduk di sana selama berjam-jam

"H-Hei!". Miku terkejut akan tingkah Kaito barusan, wajahnya merona merah

"Bolehkah aku bersandar di pangkuanmu?". Kaito bertanya sementara itu perlahan-lahan ia mulai memejamkan matanya

"Tentu". Miku berkata sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Kaito

"Aku mencintaimu". Kata Kaito

"Aku juga mencintaimu, Kaito". Balas Miku

Mereka sempat terdiam untuk sementara, Kaito pun kembali melanjutkan pembicaraannya

"Setelah lulus nanti, aku akan pergi melanjutkan kuliah di luar negeri". Kata Kaito

"A-Apa? Kau bilang apa barusan?". Miku sedikit terkejut akan perkataan Kaito

"Itulah sebabnya mengapa aku ingin mengajakmu pergi kencan sehari sebelum pesta kelulusan tiba". Kata Kaito

"Apakah kau akan kembali?". Miku bertanya sambil menundukkan kepalanya

"Tentu saja.. aku berjanji. Saat pulang nanti, aku pasti akan langsung menikahimu. Sampai kapanpun, aku akan selalu mencintaimu". Kaito berkata sambil mendekatkan bibirnya pada wajah Miku kemudian menciumnya

"Aku tahu". Miku membalas, sementara ia membiarkan Kaito menciumnya


Hari yang ditunggu-tunggu pun telah tiba. Miku dan Kaito berjanji akan bertemu di taman dekat kota. Sementara itu di rumahnya, Miku kelihatan tergesa-gesa berlari menuju taman karena tadi pagi ia terlambat bangun...

"Celaka! Lagi-lagi aku terlambat! Aku tidak menyangka bahwa jam alarm ku mendadak bisa rusak". Miku berkata sambil berlari sementara napasnya sudah tersengal-sengal

.

.

.

Beberapa menit kemudian, Miku tiba di taman. Ia menatap keadaan sekelilingnya, ternyata Kaito masih belum juga tiba...

"Baguslah, ternyata aku tiba di sini jauh lebih cepat dari dia". Miku berkata pada dirinya sendiri sambil menghela napas namun tiba-tiba saja suara seseorang mengagetkannya dari belakang

"Kau membuatku menunggu". Kata Kaito

Miku membalikkan badan dan menatap Kaito sedang berdiri tepat di belakangnya. Miku yang melihatnya langsung terkejut

"Mari kita pergi!". Kaito berkata sambil mengenggam tangan Miku kemudian mengajaknya ke tempat tujuan pertama


Mereka tiba di gedung bioskop...

"Kita harus membeli makanan dan minuman terlebih dulu". Kata Kaito

"Baiklah". Balas Miku

Setelah membeli makanan, minuman, dan tiket masuk, mereka segera masuk ke dalam studio

"Silahkan duduk, nona". Kata Kaito

"Eh? K-Kenapa?". Miku bertanya, wajahnya merona merah

"Apakah kau telah melupakannya? PELAJARAN KE 1: Ladiesfirst, itu adalah hal yang cukup mendasar untuk membuat seorang gadis duduk duluan terlebih dulu". Kaito berkata sambil tersenyum

"Rupanya kau sudah banyak belajar". Miku berkata sementara wajahnya masih merona

"Tentu saja, karena guru yang mengajariku sangat hebat". Kaito membalas sambil tersenyum

Tak lama kemudian, satu persatu lampu yang ada di dalam studio mulai dipadamkan

"Sebentar lagi film horror nya akan segera dimulai". Kaito berkata, ia terlihat tenang

Miku yang mendengar perkataan Kaito barusan langsung terkejut

"A-Apa? Horror?! Kau bahkan tidak memberitahuku, tadinya kupikir kau akan memilih untuk menonton film action. Film horror samasekali tidak cocok untukku. Sejujurnya ini bukanlah bagian dari tes!". Miku berkata, ia terlihat sedikit gemetar

"Kuharap aku telah melewatinya, PELAJARAN KE 2: jangan perlihatkan padanya tujuanmu yang sebenarnya. Karena saat ini kau telah menjadi pacarku, aku tidak ingin melihatmu ketakutan". Kaito berkata sambil mengenggam tangan Miku

Di kursi tempat duduknya, Miku terlihat sedikit gelisah

"Gawat! Tadi aku kebanyakan minum coca-cola, sekarang aku benar-benar ingin ke toilet!". Miku berkata pada dirinya sendiri

"A-Ano... Kaito, aku mau pergi ke toilet sebentar". Miku berkata sambil berdiri dari kursi tempat duduknya

Kaito yang mendengar perkataan Miku barusan hanya tertawa

"Hei, aku tidak bercanda. Ini serius, aku benar-benar ingin ke toilet!". Miku berkata, ia terlihat sedikit kesal

"Ya, aku mengerti.. silahkan pergi.. heheh". Kata Kaito

"Akhirnya, aku telah melewati PELAJARAN KE 3: empati". Kaito berkata pada dirinya sendiri

Beberapa menit kemudian, Miku kembali dari toilet

"Kau sudah ada kemajuan, Kaito. Tapi... hari ini bukan tes lagi seperti sebelumnya, ini adalah kencan yang sesungguhnya!". Seru Miku

"Tentu, aku mengerti". Balas Kaito


Dua jam kemudian, film pun selesai. Kaito dan Miku segera pergi meninggalkan gedung bioskop menuju ke tempat selanjutnya: sebuah mall besar...

"Ayo kita pergi!". Kaito berkata sambil mengenggam tangan Miku dan mengajaknya ke sebuah toko boneka

"Kenapa kita harus kemari?". Tanya Miku

"Pilihlah. Kau duluan, aku akan menunggu". Kata Kaito

"Jadi kau sedang mempraktekkan PELAJARAN KE 4: tunggulah gadis itu untuk menyelesaikan urusannya terlebih dulu? Benarkah begitu?". Miku bertanya sambil tertawa

"Ya". Jawab Kaito

.

.

.

Setelah selesai berbelanja. Mereka berjalan keluar toko. Kaito melihat Miku sedang membawa tiga buah kantung belanjaan yang isinya lumayan berat, ia pun berjalan menghampiri Miku...

"Kantung ini isinya lumayan berat, biarkan aku membantumu". Kata Kaito

"A-Arigatou..". Miku berkata, wajahnya merona merah

"Tidak usah tersipu seperti itu, Miku. Semua ini memang wajar. Hahaha.. PELAJARAN 5: kepekaan. Aku sudah melewatinya". Kata Kaito


Setelah selesai membeli semua keperluan, hari sudah menjelang sore, awan terlihat sedikit mendung. Kaito dan Miku memutuskan untuk segera pulang. Namun saat di perjalanan, tiba-tiba saja turun hujan yang amat deras...

"Waaahhh, hujan! Gawat, aku lupa membawa payung!". Miku berkata sementara bajunya sudah basah

"Ayo kita ke hotel dan berteduh di sana untuk sementara, lagipula bajuku sudah basah semua". Kaito menatap Miku sambil memasang wajah datar


Mereka tiba di hotel. Kaito dan Miku segera memesan kamar. Namun kamar yang berisi dua tempat tidur semuanya sudah penuh, hanya tersisa satu kamar yang di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur besar berukuran king size...

"Jadi, bagaimana menurutmu?". Tanya Kaito

"Humm... tidak masalah, aku baik-baik saja". Miku menjawab, sementara wajahnya sedikit merona

Kaito dan Miku berjalan menuju pintu lift, mereka masuk ke dalam. Miku segera menekan tombol angka 7. Tak lama kemudian mereka tiba di lantai atas. Kaito dan Miku berjalan menelusuri lorong hotel yang kelihatan cukup luas. Setelah menemukan kamar yang akan mereka tempati, Kaito mengeluarkan sebuah kunci dari saku celana lalu memasukkannya ke dalam kenop pintu. Pintu kamar pun terbuka. Mereka segera masuk ke dalam..

Beberapa menit kemudian setelah selesai mandi

"Ah! Yang tadi itu sangat menyegarkan". Miku berkata sambil duduk di atas tempat tidur bersama Kaito

"Miku, apakah kau sadar bahwa kita sedang berada di atas tempat tidur?". Tanya Kaito

"Tentu". Miku berkata sambil mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil

Tiba-tiba saja Miku menyadari sesuatu

"T-Tunggu... t-tempat tidur?". Miku bertanya sambil menatap Kaito

"Kono hentai!". Seru Miku, wajahnya kembali merona

"Ahahaha, jangan khawatir. Aku hanya bercanda". Kaito berkata sambil tertawa, namun tiba-tiba saja ia mendorong Miku ke tempat tidur sambil menatap matanya

Miku sangat terkejut akan reaksi Kaito barusan

"K-Kaito, apa yang akan kau lakukan?!". Miku bertanya, wajahnya merona merah seperti layaknya kepiting rebus

"Apakah kau ingin melakukannya sekarang juga?". Kaito bertanya sambil menatap lurus ke arah Miku

"Tidak! Jangan sekarang!". Balas Miku

"Jangan dibawa serius seperti itu, lagipula aku hanya bercanda.. hahaha...". Kaito berkata sambil berdiri dari tempat tidur

"Pakaian kita sudah kering. Apakah kau ingin pergi ke tempat lain?". Tanya Miku

"Huh? Memangnya kau mau pergi ke mana?". Kaito bertanya sementara Miku hanya tersenyum padanya


Mereka tiba di sebuah stand photo booth yang terletak di pinggir kota...

"Ayo kita foto bersama!". Miku berkata sambil menarik Kaito

"T-Tapi aku belum siap". Kata Kaito

"Onegai... ini akan menjadi foto terakhir yang akan kusimpan untuk 4 tahun selanjutnya, selama kau berada di luar negeri nanti". Miku berkata sambil menundukkan kepala, ia terlihat sedih

"Maafkan aku, Miku. Jangan bersedih seperti itu, ayo kita berfoto. Tersenyumlah". Kata Kaito

Setelah selesai berfoto, Kaito dan Miku segera berjalan menuju stand photo booth yang terletak di depan untuk mengambil hasil foto mereka yang sudah jadi

"Waahh... aku terlihat buruk". Miku berkata sambil menatap foto tersebut

"Tidak, kau justru terlihat lucu". Kaito membalas perkataan Miku sambil tersenyum

"Kaito, berjanjilah padaku bahwa kau akan segera kembali. Aku akan menunggu lamaranmu". Miku berkata sambil menatap Kaito

"Tentu saja, aku janji. Secepatnya aku pasti akan segera kembali". Kata Kaito

.

.

.

To Be Continued


Minna, bgaimana mnurut klian?

Mind to review, please? :3

*A/N:

Festival Tsukimi: Festival ini ditujukan untuk menghormati bulan pada musim gugur.
Tradisi Tsukimi adalah menampilkan dekorasi yang terbuat dari rumput pampas (susuki) khas Jepang dan Tsukimi Dango. Tidak hanya itu, produksi pada musim gugur seperti chestnut, ubi jalar juga dijadikan persembahan ke pada sang Bulan ^_^

Biasanya bulan pada musim ini terlihat sangat besar dan jelas