Minna, apa kabar? XD

Chapter x ini mngkin critanya agak kerasa sedih, saya sarankan lbih baik klian siapkan tissue utk kdepannya :'(

Ok, sblomnya saya mau bls review dlu nih (tumben x ini yg nge-review sepi bget, lgi pd ujian smua yah? =_=)

*Shiroi Karen: mngkin d chapter ini critanya bkln sedih, smua konflik akan brakhir d sini. –"

Baiklah, klo gtu saya mlai aj

Meet reading, Minna ^

Story start!


Chapter 11: Our Last Moment


Disclaimer: Vocaloid belongs to Yamaha, not my own

Genre: Friendship, Romance, Hurt/Comfort, Slice of Life

Rated: T

Warning: OOC, Typo, a little bit comedy, Dramatically Romance

Don't like, don't read it!

.

.

.

.

.

[3 bulan kemudian]

Pagi hari yang cerah seperti biasanya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah 6 pagi. Kaito dan Miku baru saja bangun tidur, mereka bersiap-siap untuk sarapan ke dapur...

"Ohayou". Miku berkata pada Kaito sambil mempersiapkan sarapan pagi

"Ohayou, Miku". Kaito balas berkata sambil berjalan mendekati Miku dan memeluknya dari belakang, sementara Miku masih sibuk memasak

"Jangan sekarang, Kaito. Tidakkah kau lihat kalau aku sedang memasak?". Miku berkata sambil tersenyum

"Hmmm... tapi aku masih ingin memelukmu". Kaito berkata dengan manja

"Pergilah sekarang juga atau aku tidak akan menyiapkan sarapan untukmu". Miku berkata sambil mengejek

"Baik, baik. Aku mengerti". Balas Kaito

.

.

.

[30 menit kemudian]

Kaito masih menunggu di ruang makan sambil membaca koran. Melihat bahwa Miku sedang berjalan menuju meja makan sambil membawa 2 buah piring nasi goreng negi. Kaito pun kembali menaruh korannya..

"Sarapannya sudah siap". Miku berkata, ia terlihat senang

"Akhirnya, perutku daritadi sudah lapar~". Kata Kaito

Kaito mulai mencicipi nasi goreng negi buatan Miku

"Hmmm, rasanya lezat sekali. Bukankah ini adalah makanan kesukaanmu?". Tanya Kaito

"Hai". Miku membalas sambil mencicipi nasi goreng buatannya sendiri

"Sarapan pagi ini rasanya luar biasa... ugh!". Miku berkata namun tiba-tiba saja ia merasa mual dan langsung beranjak dari kursi meja makan menuju kamar mandi

Kaito yang melihatnya langsung berjalan menyusul Miku

"Miku, apakah kau baik-baik saja?". Kaito bertanya, ia menatap Miku dari balik pintu kamar mandi yang terbuka dan melihat Miku sedang muntah-muntah

"Mungkinkah?". Miku berkata sambil menatap Kaito

"Oh, maksudmu..". Kaito berkata, sepertinya ia mengerti

"Mungkin, tapi aku tidak begitu yakin". Miku membalas perkataan Kaito barusan sambil membasuh wajahnya di wastafel

Kaito terlihat senang. Ia pun berjalan ke dalam lalu menggendong Miku ala bridal style

"Maksudmu, sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah?!".

"Hei, turunkan aku! Kita masih belum bisa memastikan!". Miku berkata, wajahnya merona merah

"Tidak, kita harus merayakan ini". Kata Kaito

"Tidak perlu sampai seheboh itu, Kaito. Cepatlah, kau harus bersiap-siap pergi kerja atau kau akan terlambat". Kata Miku

"Baiklah, istriku tercinta". Kaito berkata sambil menurunkan Miku

Kaito segera berjalan menuju kamar mandi, lalu bersiap-siap untuk pergi kerja

"Ja nee". Kata Kaito

"Ja nee, Kaito". Miku berkata sambil melambaikan sebelah tangannya, sementara Kaito sudah berjalan pergi meninggalkan rumah

"Baiklah, saatnya untuk kembali bekerja". Miku berkata sambil mengunci pintu teras depan


Sementara itu, di tempat kerjanya. Raut wajah Kaito terlihat sangat senang dan juga bersemangat. Salah seorang manajernya pun datang menghampirinya...

"Kaito-san, sepertinya hari ini kau terlihat senang". Kata manajernya, Kasane Ted

"Tentu saja, kali ini aku benar-benar sangat bersemangat untuk kerja. Karena sebentar lagi aku akan menjadi seorang ayah". Kaito berkata sambil tersenyum menatap Ted

"Wah, jadi istrimu sudah hamil? Selamat!". Kata Ted

"Arigatou, Ted-san". Balas Kaito


Malam harinya, Kaito tiba di rumah. Miku menyambut kedatangannya...

"Tadaima". Kaito berkata sambil memeluk Miku

"Okaeri. Kaito, apakah kau ingin makan sesuatu?". Tanya Miku

"Ah, tidak usah. Akhir-akhir ini kepalaku selalu terasa sakit. Aku tidak tahu kenapa". Kata Kaito

"Mungkin karena kau terlalu lelah bekerja. Kalau begitu tidurlah lebih awal. Masih ada pekerjaan lain yang harus kuselesaikan". Kata Miku

"Baiklah". Kaito berkata sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar, tak lama kemudian ia pun tertidur


[ 2 minggu kemudian]

Di tempat kerja Kaito...

"Kaito-san, di sini masih ada beberapa dokumen yang masih harus diselesaikan". Kata Ted

"Baiklah, taruh saja dokumennya di mejaku". Kata Kaito

Ted menatap raut wajah Kaito yang terlihat sedikit pucat

"Hei, kau baik-baik saja? Sepertinya kau sedang tidak enak badan". Kata Ted

"Tidak, aku tidak apa-apa". Balas Kaito


Malam harinya, di rumah Kaito dan Miku...

"Jadi, hasilnya positif?". Kaito bertanya pada Miku

"Ya, Kaito. Dan kau akan segera menjadi seorang ayah". Miku berkata, ia terlihat senang

"Ayah?". Tanya Kaito

"Ya, kubilang hasilnya positif". Balas Miku

"Apa? Kau bilang apa barusan? Memangnya apa yang baru saja kutanyakan?". Tanya Kaito

"Uhm, mengenai test kehamilanku". Miku berkata, ia merasa sedikit heran

"Oh, baguslah...". Kaito berkata, suaranya terdengar sangat lemah

"Kaito, akhir-akhir ini kau terlihat semakin aneh dan menakutkan. Entah mengapa, kau selalu saja melupakan hal-hal yang baru saja terjadi dan... sekarang kau pasti sudah lapar, ayo kita ma-". Miku berkata sambil menatap Kaito, namun tiba-tiba saja Kaito pingsan

Miku berlari mendekati Kaito lalu mengguncangkan tubuhnya

"Kaito! Kaito! Bangunlah, hei!". Seru Miku

Miku berkali-kali mencoba untuk membangunkan Kaito, namun Kaito masih belum juga sadar

"Seseorang, tolong!". Miku berteriak, ia terlihat panik


[ 3 hari kemudian]

Di rumah sakit, Miku dan Mikuo kini sedang menunggu di ruang tunggu...

"Arigatou, Mikuo. Jika kau tidak segera datang ketika aku menghubungimu. Aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi padanya. Ini sudah lewat 3 hari, tapi dia masih belum juga sadar". Miku berkata pada Mikuo

"Jangan sungkan, lagipula aku juga sudah menganggap Kaito sebagai temanku. Aku percaya dia pasti akan segera sadar demi kau". Kata Mikuo

Tak lama kemudian, seorang dokter berjalan menghampiri Miku dan Mikuo

"Maaf, apakah benar kau adalah istrinya Kaito-san?". Tanya dokter itu

"Ya, memangnya apa yang terjadi padanya?". Miku bertanya, ia terlihat khawatir

Dokter tersebut menghentikan perkataannya untuk sementara. Tak lama kemudian ia pun kembali melanjutkan

"Suami anda mengindap anaemia". Kata dokter itu

Miku yang mendengar perkataan dokter tersebut langsung terkejut

"A-Apa?!". Seru Miku

"Tunggu dulu, dokter. Anaemia? Maksud anda itu adalah penyakit di mana tidak ada darah atau sesuatu lainnya?". Tanya Mikuo

"Anaemia adalah gangguan kekurangan sel darah merah yang berakibat pada kekurangan oksigen, dan dapat menyebabkan kelelahan serta gejala lain seperti kehilangan ingatan. Apakah sebelumnya dia pernah mengalami hilang ingatan?". Tanya dokter itu

"Ya, akhir-akhir ini dia selalu lupa dengan apa yang kami bicarakan sebelumnya dan-". Kata Miku

"Tolong tenanglah. Kira-kira kapan dia mulai hilang ingatan?". Tanya dokter itu

"Kupikir semua ini berawal ketika ia baru saja kembali dari luar negeri, sekitar 4 bulan yang lalu". Jawab Miku

"Kondisinya sudah sangat parah. Aku minta maaf, tapi tolong persiapkan dirimu untuk apa yang akan terjadi selanjutnya. Kami tidak yakin kalau semua ini baru terjadi sekitar 4 bulan yang lalu. Kami yakin dia pasti sudah lama mengindap penyakit ini. Dia hanya tidak ingin memberitahumu. Sekarang kau sudah boleh menjenguknya, temuilah dia". Kata dokter itu

"Miku, tenanglah. Tadi pagi aku baru menerima surat dari Meiko, dia mengirimnya dari Amerika. Surat ini ditujukkan untukmu". Mikuo berkata sambil memberikan surat tersebut pada Miku

Miku mengambil surat tersebut lalu membacanya

"Miku,

Aku sudah dengar apa yang terjadi pada Kaito. Akan kuberitahukan yang sebenarnya padamu. Kaito datang ke Amerika bukan untuk melanjutkan kuliah, dia tidak mengatakannya padamu karena tidak ingin kau merasa khawatir. Dia datang kemari untuk mengobati penyakitnya, anaemia. Itu adalah penyakit keturunan dari keluarga ayahnya. Tapi sayangnya dokter di sini juga tidak bisa melakukan apapun. Dia pulang ke Jepang seperti yang sudah dijanjikan, lalu ia pun memutuskan untuk menikahimu. Mungkin kau masih bertanya-tanya mengapa aku bisa mengetahui semua ini? Itu karena sebelumnya dia telah menceritakan semuanya padaku, dan dia mengatakan padaku untuk memberitahumu jika waktunya sudah dekat. Tolong kau jaga dia

Meiko

.

.

.

Miku membaca surat tersebut sambil menangis, ia pun berjalan memasuki ruangan di mana saat ini Kaito sedang dirawat. Di dalam sana, ia melihat Kaito yang masih terbaring koma di atas tempat tidur dengan bantuan alat-alat medis seperti selang oksigen dan juga selang infus yang menopang kelangsungan hidupnya...

"Kaito... bangunlah, kumohon... aku sudah membawakan makanan kesukaanmu, ice cream..". Miku berkata, ia hampir ingin menangis

Miku masih menunggu selama beberapa jam dan tertidur di kursi yang terletak di sebelah tempat tidur Kaito. Perlahan-lahan tangan Kaito mulai bergerak, kedua kelopak matanya mulai terbuka. Miku pun terbangun, saat melihatnya ia amat terkejut

"K-Kaito? Kau sudah sadar? Arigatou, Kami-sama. Tunggu sebentar, aku akan memanggil dokter kemari". Miku berkata, ia terlihat senang

Kaito mengenggam tangan Miku

"T-Tunggu.. Nona, kau siapa?". Kaito bertanya, suaranya masih terdengar lemah

Miku yang mendengarnya sedikit terkejut, namun ia masih mencoba untuk tetap tenang

"Apa yang barusan kau katakan, Kaito? Kumohon, jangan bercanda. Ini aku, Miku. Aku adalah istrimu". Kata Miku

"Maaf, tapi aku benar-benar tidak bisa mengingatmu". Kata Kaito

Tak lama kemudian, beberapa orang suster berjalan memasuki kamar di mana Kaito sedang dirawat. Miku menatap mereka

"Untuk sementara biarkan kami yang menangani dia. Tolong keluarlah sebentar". Kata suster itu


Di luar ruangan, Miku membenamkan kedua telapak tangan di wajahnya. Ia menangis sejadi-jadinya. Sementara Mikuo masih mencoba untuk menenangkannya...

"I-Ini terlalu b-berlebihan... a-aku t-tidak bisa menerimanya". Miku berkata, ia hampir tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun karena air mata yang terus menerus membasahi wajahnya

"Tidak apa-apa. Aku ada di sini untukmu, jadi tenanglah". Mikuo berkata sambil memeluk Miku

"B-Bukan itu maksudku. A-Aku hamil". Miku berkata sambil menangis

"A-Apa?!". Mikuo berkata, ia terkejut saat mendengar perkataan Miku barusan

Mikuo segera beranjak dari kursinya dan berlari masuk ke dalam ruangan, meskipun beberapa orang suster mencoba untuk menghentikannya. Namun sepertinya ia tetap bersikeras untuk masuk. Mikuo menarik kerah baju piyama Kaito. Kaito yang menyadarinya langsung terkejut

"S-Siapa kau?". Tanya Kaito

"Mengapa?! Mengapa kau melakukan semua ini terhadapnya?! Kau bukanlah seorang suami yang baik! Jika aku berada di posisimu, mungkin sekarang aku sudah bahagia. Tapi aku tidak bisa membahagiakannya, sedangkan kau bisa! Kalau begitu mengapa kau malah menyembunyikan kondisimu yang sebenarnya pada Miku? Tega sekali kau membohonginya sampai seperti ini?! Berapa kali aku harus mengatakannya padamu, Jika kau tidak bisa membahagiakannya, setidaknya jangan pernah menyakiti perasaannya! Bangunlah, Kaito! Miku.. Miku ga matte yo... Dia menunggumu sembuh, baka!". Mikuo berteriak

"M-Miku?".

"YA, MIKU. DIALAH ISTRIMU!". Mikuo berteriak sambil menangis

"M-Miku... i-istriku...". Kaito berkata sambil memegangi kepalanya yang terasa sedikit pusing

Mikuo mencoba untuk menenangkan dirinya dan berjalan keluar ruangan. Mikuo memukul tembok yang berada di sebelahnya dengan cukup keras, tangan kanannya pun berdarah

"Sialan, kau. Kaito!". Serunya dalam hati


Beberapa jam kemudian, malam hari pun telah tiba. Miku masih berada di rumah sakit untuk menemani Kaito, sedangkan Mikuo sudah pamit pulang ke rumahnya...

"Nona, kusarankan padamu untuk bicara dengannya malam ini juga. Temuilah dia". Dokter itu berkata, sementara Miku masih menangis

.

.

.

Miku berjalan memasuki kamar. Ia menatap Kaito yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Miku duduk di kursi yang terletak di sebelah tempat tidur Kaito...

"Maafkan Mikuo, tadi dia hanya marah". Miku berkata sambil menangis

"Mikuo? Lelaki yang beberapa jam lalu kemari? Tidak apa-apa". Kata Kaito

"Kaito, apakah kau benar-benar tidak ingat padaku?". Miku bertanya sambil menangis, sementara ia mencoba untuk tetap tersenyum

"Miku, istriku... a-aku ingat sedikit, dan juga.. Rin, Len, Luka, Gumi, Haku, Neru-". Kaito berkata namun tiba-tiba saja kepalanya terasa sakit

"Jangan memaksakan dirimu. Tidak apa-apa". Miku berkata sambil tersenyum meskipun air mata masih mengalir membasahi wajahnya

"Meskipun aku tidak tahu siapa kau. Meskipun otakku tidak bisa mengingatmu. Kurasa hatiku tidak demikian. Aku merasakan sakit, bukan secara fisik. Ya, hatiku terasa sakit. Terasa sakit karena air matamu yang terus menerus mengalir". Kaito berkata, sementara Miku masih menangis sambil memeluk Kaito

"Jangan menangis. Aku akan mengatakan ini, tolong dengarkan aku. Miku-san". Kata Kaito

"Meskipun aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas, semua hal yang telah kita lalui bersama. Tapi senyumanmu itu akan selalu kuingat sampai aku mati. Bahwa aku telah mencintai seorang gadis bernama Miku sebelum mengindap penyakit ini".

Tangisan Miku semakin menjadi-jadi, namun ia masih tetap mencoba untuk tersenyum di hadapan Kaito

"Tersenyumlah...". Kaito berkata dengan suara lemah

"Ya".

Miku mengangkat tangan kanan Kaito kemudian meletakkan di perutnya

"Peganglah perutku, anak kita sedang tumbuh di dalam sini. Meskipun kau masih belum bisa merasakan pergerakannya". Kata Miku

"Kuharap dia laki-laki". Kata Kaito

"Ya". Miku berkata sambil menangis namun tersenyum

"Mungkin aku akan pergi mendahuluimu. Kita pasti akan bertemu lagi, namun tidak hari ini ataupun besok. Jika kita bisa dilahirkan kembali dan bertemu di kehidupan selanjutnya. Sampai kapanpun kau akan selalu ada di hatiku dan kita akan hidup bahagia bersama untuk selamanya". Kata Kaito

"Ya, oyasumi". Miku berkata sambil menangis, sementara ia masih mengenggam tangan Kaito

"Hontou ni suki... M-Miku...". Kaito berkata, perlahan-lahan ia mulai memejamkan kedua matanya. Genggaman tangannya pun terlepas dari Miku

"Oyasumi, Kaito". Miku berkata sambil membelai surai biru Kaito kemudian mengecup keningnya

.

.

.


Ok, minna! critanya slesai smpai di sini

Apa-apaan nih?! Tamatnya ga elit bget? *digebukreaders

Jangan marah2 dlu woii, msih ada lanjutannya dkit nih =_=


[15 tahun kemudian]

Beberapa tahun setelah Kaito meninggal, Miku masih tetap tinggal di kediamannya yang sebelumnya pernah ia tinggali bersama Kaito. Miku memutuskan untuk tidak menikah lagi. Sedangkan Mikuo masih terus menemani Miku, ia kini menggantikan posisi Kaito untuk mengurus Nigaito. Anak dari Kaito dan Miku. Namun di usianya yang ke 35 tahun, Miku divonis mengindap kanker usus stadium 3. Keadaan fisiknya semakin hari semakin melemah sehingga ia hanya bisa berbaring di atas tempat tidur...

"Kaa-san! Malam ini aku ingin pergi menginap ke rumah temanku". Kata Nigaito

"Pergilah, jaga dirimu". Kata Miku

"Arigatou, Kaa-san". Nigaito berkata sambil berjalan keluar kamar

Mikuo menatap Nigaito dari kejauhan

"Nigaito, dia benar-benar sudah tumbuh menjadi seorang pria dewasa". Kata Mikuo

"Ya, arigatou. Semua ini berkat kau, dia juga sudah menganggapmu sebagai ayahnya". Miku berkata sambil tersenyum

"Ah, itu bukan apa-apa". Kata Mikuo

"Gomen, aku tidak bisa memberikan cinta yang sama seperti yang telah kau berikan untukku". Kata Miku

"Tidak apa-apa". Mikuo berkata sambil menatap Miku, sementara itu matanya terlihat sedikit berkaca-kaca

"Mikuo, bisakah kau tolong jaga Nigaito untukku? Mungkin penyakit ini tidak akan bertahan lama bagiku untuk melihat dia menemukan pasangan hidupnya. Aku ingin supaya dia bisa hidup bahagia seperti yang lain". Kata Miku

"T-Tentu saja, aku janji". Mikuo berkata sambil mencoba untuk menahan air matanya

"Berjanjilah padaku bahwa kau tidak akan pergi menyusulku dan Kaito sampai putra kita menemukan cinta sejatinya". Miku berkata sambil tersenyum

"Ya, tentu saja. Aku pasti akan menjaganya. Berhentilah menjadi gadis yang keras kepala". Mikuo berkata sambil sedikit mengejek

"Terima kasih untuk semuanya, sekarang aku bisa beristirahat dengan tenang". Miku berkata, perlahan-lahan ia mulai memejamkan matanya

Angin malam berhembus cukup kencang memasuki jendela kamar dan sedikit mengayunkan kain korden. Malam itu, bulan bersinar dengan sangat terang

"Oyasumi, Miku. Sekarang kau sudah bersama dengannya di surga. Aku yakin, Kaito pasti akan selalu mengingatmu". Mikuo berkata sambil mendekatkan wajahnya kemudian mengecup kening Miku


[10 tahun kemudian]

Nigaito berjalan masuk ke dalam rumah bersama seorang gadis bersurai biru yang model rambutnya terlihat sedikit unik, ia pun memperkenalkan gadis tersebut pada Mikuo...

"Tou-san, kenalkan. Dia adalah pacarku". Nigaito berkata pada Mikuo

"Watashi wa Fujiwara Aoki desu". Kata gadis itu

"Salam kenal". Mikuo berkata sambil menjabat tangan Aoki

.

.

.

Beberapa tahun setelah itu, mereka pun menikah dan memutuskan untuk pergi keluar negeri selama beberapa hari

"Tou-san, apakah kau ingin ikut bersama kami ke Amerika?". Tanya Nigaito

"Tidak, aku akan tetap tinggal di sini". Jawab Mikuo

"Apa kau yakin?". Tanya Nigaito

"Ya, pergilah". Kata Mikuo

"Baiklah kalau begitu. Ja nee, Tou-san". Nigaito melambaikan tangannya sambil berjalan pergi bersama Aoki

Nigaito dan Aoki berjalan keluar sambil membawa barang-barang keperluan mereka. Nigaito menghentikan taksi yang kebetulan melewati rumahnya. Tak lama kemudian, mereka pun pergi meninggalkan rumah


Suatu malam, Mikuo sedang duduk sendirian di teras depan rumah. Ia menatap ke arah langit malam di mana bulan dan bintang-bintang juga ikut bersinar dengan sangat terang...

"Kaito, aku sudah membesarkan putramu menjadi seorang lelaki sejati. Ah, maksudku menjadi seorang pria dewasa. Kau tidak perlu khawatir, dia sekarang sudah menikah dan hidup bahagia bersama istrinya, Aoki-san. Sekarang kau harus membayarku, haha...". Mikuo berkata sambil menatap langit

"Miku, apakah kau sudah dengar apa yang barusan kukatakan pada Kaito? Aku sudah melaksanakan janjiku padamu. Sekarang bolehkah aku pergi menyusul kalian berdua? Hehe.. hidup ini memang indah..".

Mikuo mencoba untuk mengingat semua hal yang telah terjadi, baik itu menyenangkan maupun menyedihkan

"Ya, hidup ini memang bahagia".

Ketika Mikuo baru saja ingin memejamkan matanya, ia melihat ada 2 orang anak kecil sedang berjalan-jalan melewati jalanan depan rumah. Seorang gadis yang mirip dengan Miku, hanya saja rambutnya berwarna merah dan seorang anak lelaki yang mirip dengan Kaito, hanya saja rambutnya bersurai ungu kehitaman. Mereka berhenti sebentar di taman yang terletak di seberang rumah. Mikuo bisa mendengar sedikit pembicaraan mereka

"Kiku-chan. Ayo kita pulang, ini sudah malam. Kaa-san pasti akan memarahi kita". Kata anak lelaki tersebut

"Tunggu, Taito-kun. Aku ingin memetik bunga ini untuk teman-teman kita". Kata gadis kecil tersebut

Saat mereka berdua sedang sibuk bermain, mereka melihat ada beberapa orang anak kecil yang berjalan menghampiri mereka

"Ah, Ren-Kun, Lin-chan, Gumo-Kun, Luki-kun, Gakuko-chan, Nero-kun, Hakuo-kun, Akaiko-chan. Tolong bujuk Kiku-chan, dia tidak ingin pulang". Kata anak lelaki tersebut

"Aku tidak peduli, aku ingin bersama Lin-chan".

"Yamete yo, Nero! Lin-chan adalah milikku!".

"Gakuko-chan, aku menyukaimu".

"Diamlah Luki, atau aku akan menghajarmu".

Mikuo menatap mereka dari kejauhan

"Mereka semua benar-benar mirip seperti kita waktu dulu. Kuharap kalian semua masih berada di sini. Apakah hanya tinggal aku sendiri saja, satu-satunya orang yang tersisa di grup? Baiklah kalau begitu, aku datang". Mikuo berkata sambil memejamkan mata untuk terakhir kalinya

.

.

.

THE END


Ok, minna. Bgaimana mnurut klian?

Akhirnya fic ini tamat jg. Pdhl tdinya saya rncana mau bkin epilognya di chapter slnjutnya. Tpi krn saya pikir critanya ngak bgitu banyak, jdinya saya gabungin aj d chapter ini

Mind to review, please? :3