pome's Story
Title : I'm Sorry
Cast : Choi Si Won, Lee Sung Min, Cho Kyuhyun and other cast inside.
Genre : Genderswitch,Romance,Complicated.
Rate : M
Part : 3
Don't be SILENT READERS!
DON'T REUPLOAD OR COPY PASTE WITHOUT MY PERMISSION!
RESPECT ME!
Sinar matahari menerbitkan dirinya dari ufuk timur, menandakan hari sudah beranjak pagi, meninggalkan masa lalu dan memulai masa depan yang siap mengombang-ambing siapapun yang tak dapat bertahan. Namun, wanita yang masih bergelut dengan selimut merah mudanya masih tak mau membuka matanya. Terlalu berat karena malam kemarin dirinya mengeluarkan segala hal yang ia pendam sendiri selama 8 tahun terakhir.
*Cklek*
"Nona?" suara perempuan yang nyaring memanggilnya pelan, berniat membangunkan nonanya.
"Baiklah, saya akan menyiapkan sarapan anda nanti saja jika anda sudah bangun" perempuan tadi kembali menutup pintu karena tak kunjung ada balasan dari orang yang tengah ia ajak bicara.
*Jugo Apartement, Gyeonggi, Seoul, South Korea. 10.00 AM KST*
Kyuhyun menggeliat pelan, ia mencoba menyesuaikan sinar matahari yang menyentuhnya dan perlahan ia terbangun dari tidurnya semalam. Biasanya Kyuhyun akan bangun pada pukul 7 pagi, tapi karena kemarin dirinya tidak mampu menutup matanya karena memikirkan hal yang membuatnya ingin mencari tahu seseorang yang calon istrinya katakan dan ia memikirkan begitu beraninya dia mencium Sungmin jadilah Kyuhyun baru bisa menutup matanya pada pukul 3 dini hari dan itu sudah karena obat tidur yang Kyuhyun konsumsi setiap kali dirinya mengalami insomnia.
Kyuhyun mendiami apartemen yang sekarang ia huni seorang diri, apartemen mewah yang Kyuhyun beli dengan uang yang ia dapatkan dari pekerjaannya sebagai seorang penyanyi ballad Korea yang sejak 5 tahun lalu sudah mampu memikat hati setiap wanita dan warga Korea terlebih lagi hati para fans International. Kyuhyun sebenarnya tidak perlu mencari pekerjaannya sendiri karena ayah dan ibunya sudah memiliki perusahaan, tapi Kyuhyun memang sangat keras kepala. Dulu saat sebelum menjadi terkenal seperti sekarang, Kyuhyun pernah membangkang ucapan ayahnya yang menolak keras keinginan putranya yang menjadi seorang penyanyi. Kyuhyun hanya diam dan tetap berlatih seorang diri dan memiliki tekad untuk membuktikan pada ayahnya jika kelak dirinya mampu. Dan terbukti saat ini Kyuhyun menggenggam kesuksesan berkat meledaknya album perdananya 5 tahun lalu saat dirinya berusia 20 tahun dan menjadi penyanyi Korea termuda yang mendapatkan bonsang award pada program pengharaggan tahunan yang diselenggarakan oleh stasiun tv MBS, dan sejak saat itu penghargaan demi penghargaan mengalir jatuh kepelukan Kyuhyun.
*Drrrt…drrtttt*
Ponsel Kyuhyun bergetar, dengan segera Kyuhyun mengambil ponsel yang ia letakkan disampingnya. Ia melihat pada layar monitor dan sedikit mendengus kasar.
~Junhyung Hyung Calling~
"Ya! Kyuhyun-ah, kenapa sulit sekali menghubungimu?!" Kyuhyun sedikit menjauhkan speaker ponsel dari telinganya karena teriakan laki-laki yang menelponnya.
"Hyung, wae?" dengan malas Kyuhyun menjawab pertanyaan dari orang yang ia panggil Hyung itu. Kyuhyun sudah sangat tahu sifat manager hyungnya itu, jika sudah berteriak berarti Kyuhyun telah berbuat sesuatu yang dapat merugikan mereka berdua terlebih lagi jika mendapatkan denda dari agency yang Kyuhyun naungi yaitu SN Entertainment.
"Kemana kau kemarin huh? Ponselmu tidak aktif!" lagi-lagi dengan tidak sabaran manager Kyuhyun menyemprotnya dengan begitu banyak pertanyaan.
"Aku ada urusan, wae?" Kyuhyun bertanya kembali perihal apa yang membuat managernya itu naik pitam.
"Apa kau lupa harusnya pada pukul 21.00 kemarin malam kau ke SN Entertainment untuk menandatangani banner dan mengambil photoshoot dari sebuah brand produk yang kau iklankan huh? Hampir saja kau harus mengganti rugi sebanyak 1 juta won karena ketidak profesionalnamu Cho Kyuhyun-ssi" Manager Kyuhyun mati-matian membuat Kyuhyun jera dengan perlakuannya dengan nada dan tekanan dalam setiap kalimat yang diucapkannya.
"Mianatta, aku tidak akan mengulanginya lagi hyung" Kyuhyun tertawa cengengesan karena hal yang harusnya tak pernah ia lupakan.
"Harusnya kau menghubungiku agar aku dapat membuat alasan yang pasti dan mengundur pertemuan dengan mereka. Harusnya kau senang karena SNE bisa memberimu libur kemarin, dan kau lagi-lagi membuat ulah. Untung saja Young Min sajangnim tidak berada disini kemarin, jika ia ada maka tamatlah kau Cho Kyuhyun" walaupun selalu marah pada sikap Kyuhyun, namun manager Kyuhyun semampu mungkin akan melindungi artisnya dengan berbagai cara.
"Hehe. Apakah hari ini aku memiliki jadwal?" Kyuhyun mengalihkan pertanyaan agar managernya tidak membuatnya tuli karena teriakannya yang sangat keras.
"Hari ini kau cukup menemui perwakilan dari brand produk itu dan selesaikan urusanmu dengan meraka. Pukul 16.00 kau mengisi acara di CBS Game Show, hari ini pengambilan videonya dan akan ditayangkan 2 minggu lagi. Dan yang terakhir kau menjadi bintang tamu pada program tengah malam Sunday Night Show. Aku akan menjemputmu 10 menit lagi dan bersiap-siaplah" mendengar padatnya jadwal saja rasanya ingin membuat Kyuhyun muntah, tapi apa boleh buat itulah tugasnya dan ia sudah siap menanggung resiko dari mimpinya.
"Arraseo" Kyuhyun menekan tombol merah pada layar ponselnya dan mulai beranjak dari rangjangnya. Kyuhyun mengambil baju mandinya dan segera menuju kamar mandi.
*Jeolla Private Buildings, Gangnam, Seoul, South Korea. 10.30 AM KST*
Sungmin mengerjapkan matanya yang berat, sesekali ia merasakan lengket pada matanya karena air mata yang terlanjur kering dibulu matanya. Sungmin menutup matanya dan mulai bangun dari ranjangnya, Sungmin menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya untuk meringankan matanya yang bengkak karena terlalu banyak menangis kemarin. Setelah beberapa kali menekan matanya dengan air yang membasahi tangannya, Sungmin baru berani membuka matanya dan melihat pantulan dirinya pada cermin besar yang berada didalam kamar mandinya.
"Lee Sungmin, matamu sangat besar" Sungmin menggerutu pada dirinya sendiri. Agar tak untuk kedua kalinya masuk kedalam kamar mandi, Sungmin memutuskan memandikan dirinya agar segala sesuatu dapat membuatnya lebih segar. Sungmin mengunci pintu dari dalam dan mulai menghidupkan showernya.
*Dogowi Area, Choi's Building, Tokyo, Japan. 11.30 AM JST*
*Tok..tok..tok*
Suara ketukan pintu membuat laki-laki bertubuh atletis dan sangat tampan mengenakan setelan jas hitamnya menoleh kearah pintu. Ia tengah mengerjakan laporan yang harus ia serahkan pada Direktur Utama hari ini juga.
"Masuk" dengan pelan tanpa menoleh siapa yang datang ia menyuruh orang yang berada dibalik pintu untuk masuk keruangannya.
"Tuan Muda, Tuan Besar menyuruh anda menemuinya segera" ucapan pelan seorang pelayan membuat laki-laki yang masih sibuk dengan laptopnya menoleh.
"Baiklah" tanpa bertanya alasan apa yang membuat ayahnya memanggilnya, Siwon bangkit dari meja kerjanya dan tak lupa menyimpan data-data yang tadi sudah dirinya kerjakan. Siwon berjalan mendahului pelayan yang masih setia dengan posisi bungkuknya dan setelah Siwon melewatinya, ia berjalan mengikuti Siwon.
Siwon memiliki rumah yang sekaligus sebagai ruang kerja pribadinya. Setiap kali ia muak berada dikantor pusat, maka ia akan mengerjakan seluruh laporan yang ia punya dirumah ini. Siwon dan keluarganya memiliki aset di sebesar 25% diseluruh Jepang. Keluarganya memiliki mall besar yang berdiri dipusat kota Tokyo. Walaupun memiliki seperempat Negara Jepang, Siwon dan keluarganya tidak pernah menjadi sombong. Keluarga mereka selalu menganggap semua orang tanpa mengenal status mereka.
*Jeolla Private Buildings, Gangnam, Seoul, South Korea. 11.00 AM KST*
Sungmin selesai dengan urusan berbusananya dan hari ini ia menggunakan sedikit makeup-nya. Ia menggunakan make up pagi ini untuk menutupi matanya yang sangat sembab, biasanya Sungmin sangat jarang memoleskan make up diatas kulitnya kecuali jika ada acara formal seperti rapat atau pernikahan. Sungmin memakai baju putih yang memperlihatkan bahunya yang putih. Sungmin memilih pakaiannya hari ini karena ia begitu malas mengeluarkan baju lain yang masih berada didalam kopernya dan ia belum sempat mengatur pakaian yang ia bawa kemarin. Sungmin bukan orang yang suka merepotkan diri sendiri soal pakaian, ia akan mengenakan apapun selagi ia nyaman. Tak lupa juga Sungmin mengambil heels hitam yang sangat ia sukai untuk bepergian, entah kenapa heels yang ia beli satu tahun lalu ini begitu nyaman jika Sungmin memakainya, dan lagi tampilan dari heels hitamnya ini tidak terlalu mencolok, hanya sedikit lilitan tali diatas punggung kakinya.
Sungmin berjalan keluar dari kamarnya, ia menuruni tangga dan menuju lantai 1. Seorang pelayan tersenyum kearahnya dan Sungmin hanya membalas dengan senyuman manisnya juga. Kim ahjussi selaku orang tertua yang menjabat sebagai pelayan dikediaman keluarga Lee segera menampakkan dirinya dihadapan Sungmin dan sedikit membuat Sungmin terkejut.
"Nona Lee" suara tua yang begitu akrab ditelinga Sungmin. Kim ahjussi masih sama seperti Kim ahjussi yang ia lihat 8 tahun lalu, hanya ada beberapa hal yang berbeda. Kim ahjussi yang sudah mulai tua dan menampakkan banyak kerutan diwajahnya dan rambut hitamnya dulu berubah menjadi putih saat ini.
"Appa, mungkin jika kau masih disini,kau akan terlihat seperti Kim ahjussi" batin Sungmin, lagi-lagi ia membayangkan ayahnya.
"Aku lapar"
"Siapkan Nona Lee makanan" dengan segera Kim ahjussi memerintahkan pelayan yang berada didapur untuk memasakan Sungmin sesuatu. Perutnya sangat lapar karena sejak kemarin dirinya tak menyentuh makanan dan minuman. Dan lagi tenaganya habis untuk menangis.
Sungmin berjalan menuju meja makan yang terletak tepat disebelah dapur utama, namun saat Sungmin memasuki ruang makannya tak terdapat apapun kecuali rak-rak kayu yang Sungmin tak tahu fungsinya untuk apa.
"Dimana meja makan yang dulu berada disini?"
"Tuan memindahkannya kesebelah selatan Nona" sahut Kim ahjussi yang setia mengikuti Sungmin sedari tadi.
"Ck!" Sungmin mendecak sebal.
Sungmin pergi dari ruangan yang dulu sering ia gunakan untuk menghabiskan makanannya dengan sang ayah, namun laki-laki yang saat ini berada dirumahnya mengacaukan segala kenangannya bersama sang ayah. Mood Sungmin menjadi sangat tak baik pagi ini.
"Nona" Sungmin menoleh kearah sumber suara dan makanannya tiba. Setelah 30 menit Sungmin menunggu diruang tamu, akhirnya makanannya ada didepannya sekarang.
"Terima kasih" Sungmin yang belum mengenal pelayan baru yang berada dirumahnya hanya mengucapkan kata umum yang mampu membuat siapapun akan senang jika melayani seseorang. Kata yang tidak akan pernah membedakan siapapun dari statusnya.
Sungmin menyantap jajangmyun dan kimchi yang ia rindukan. Di Jepang Sungmin hampir tidak pernah memakan kimchi karena Apartemennya yang jauh dari lokasi restaurant Korea di Negara dengan julukan Matahari Terbit itu.
*Kring…kring*
Suara telepon mengganggu Sungmin, dan dengan masih penuh makanan didalam mulutnya, Sungmin mengangkat telepon yang berada disebelahnya.
"Yeoboseyo" Sungmin berbicara dengan sangat kesusahan, makanan didalam mulutnya belum benar-benar hancur ia kunyah.
"Yeoboseyo? Dengan Lee Sung Min disini" karena tak ada suara yang membalas ucapannya, Sungmin berniat menutup teleponnya. Sungmin menjauhkan ganggang telepon dari telinganya.
"Hei Kyuhyun ayo cepat" samar-samar Sungmin mendengar ucapan seorang laki-laki yang berada jauh dari telepon memanggil seseorang yang masih sibuk dengan teleponnya tanpa berniat sedikitpun akhirnya menutup telepon itu dan ia tak habis pikir, siapa orang yang mau menghabiskan waktunya untuk menelpon iseng kerumahnya. Sungmin melanjutkan makan yang tertunda.
~SN Entertainment, Gangnam, Seoul, South Korea. 11 AM KST~
Kyuhyun berada diparkiran gedung agensinya sekarang, ia berjalan melalui banyaknya fans yang entah fansnya atau fans dari artis dalam satu agensinya, dengan tetap menunduk dan setia menggunakan masker dan topinya Kyuhyun berusaha berjalan diantara sesaknya orang disana. Walupun managernya sudah memberinya jalan, namun rsanya tetap sesak. Banyak kamera dan handphone disekelilingnya, Kyuhyun rasanya ingin cepat-cepat pergi dari sana. Dengan langkah lebarnya ia mempercepat gerak kakinya dan akhirnya ia bisa menghirup udara disekitarnya karena sudah memasuki pintu utama gedung.
"Gwenchana?"
"Gwenchana Junhyung hyung" Kyuhyun berjalan dibelakang managernya dan mengikuti agenda apa yang managernya berikan untuknya hari ini.
*KIA Showroom,Tokyo, Japan. 12.00 AM JST*
Setelah Siwon bertemu ayahnya dan disinilah ia sekarang. Ayahnya menyuruhnya untuk mengecek keadaan showroom mobil yang merupakan cabang no 4 mereka di Jepang, entah apa yang mendasari sang ayah menyuruhnya kesini, yang jelas Siwon sangat jarang jika pergi ke showroom manapun, ia lebih suka menyekap dirinya sendiri didalam ruangannya di perusahaan pusat.
"Direktur, apa ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang laki-laki kewarganegaraan Jepang itu.
"Tidak, aku hanya mengecek. Apa terjadi sesuatu yang salah Miamoto-san?" tanya Siwon dalam bahasa Jepang. Walaupun Siwon belum terlalau fasih mengucap bahasa Jepang, tapi rasanya akan mudah karena Siwon adalah orang yang gigih untuk berusaha.
"Tidak Direktur, hanya saja harga mobil KIA J52 yang baru saja tiba itu sudah turun drastis karena Ferrari sudah mengeluarkan produk baru mereka untuk musim ini" jelas Miamoto pada Siwon.
"Baiklah, sekarang aku akan mengecek tentang keluaran terbaru mereka. Apa ada yang lainnya?"
"Tidak, hanya itu untuk kurun waktu satu minggu terkhir Direktur"
"Silahkan kembali ketempatmu. Bekerjalah dengan baik" Siwon menepuk bahu anak buahnya dan tersenyum.
"Arigatou Siwon-san" Miamoto menunduk dan kembali kemejanya, meninggalkan Siwon yang masih sibuk mengamati showroom mobil yang dominan berbahan kaca tersebut.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba Siwon teringat Sungminnya yang belum memberinya kabar hingga saat ini. Ia mencoba berpikir sepositif mungkin pada kekasihnya itu, tapi tidak dipungkiri sifat posesifnya muncul, dan ia sangat merindukan Sungmin.
"Apa yang kau lakukan sekarang Min-ah? Aku menghubungimu tapi ponselmu tidak dapat dihubungi. Ini yang sangat membuatku khawatir membiarkanmu pergi, kau lupa segalanya jika kau fokus pada satu tujuan" Siwon mendengus pelan, menatap layar ponselnya, berharap wajah yang ia pandang saat ini menghubunginya hanya untuk sekedar menyapa.
*Jeolla Private Buildings, Gangnam, Seoul, South Korea. 13.00 AM KST*
Sungmin bersiap pergi, ia sudah berjalan setengah perjln hingga tiba didepan pintu utama rumahnya, namun langkahnya terhenti karena Han ahjussi mencegatnya.
"Mau kemana kau Sungmin-ah?"
"Aku ingin pergi ke makam ayah, aku belum bertemu dengannya setiba aku disini" Sungmin menjawab dengan jujur, ia menggenggam kunci mobilnya yang dulu sering ia gunakan.
"Biar aku yang mengantarkanmu" tawar Han ahjussi pada Sungmin.
"Tidak usah, aku ingin sedikit mengingat jalan disini. Aku mungkin lupa" tolak Sungmin halus.
"Nona, jangan keras kepala. Baru saja ibu anda menelpon dan ingin bertemu dengan Nona" Han ahjussi menemui Sungmin karena hanya dirinya yang dapat mengajak Sungmin.
"Aku akan menjenguk ibu setelah aku menemui ayah" Sungmin sangat tahu jika ibunya akan selalu menggunakan Han ahjussi sebagai alat untuk merayunya, dan ibunya berhasil.
"Hati-hati Nona" Han ahjussi mempersilahkan nona mudanya meneruskan perjalanannya, ia menatap punggung Sungmin yang dulu ia peluk manjadi berbeda sekarang, Sungmin benar-benar tumbuh.
Sungmin menuju garasi mobilnya, melihat sejenak mobil-mobil yang berbaris rapi disana, namun pandangannya hanya tertuju pada satu mobil, mobil Ayahnya. Mobil yang dulu sering ayahnya rawat dan jaga, seketika air mata Sungmin jatuh, segera ia tersadar dan mengusapnya.
"Sungmin-ah, jika kau terus menangis seperti ini, ayahmu tidak akan tenang" batin Sungmin, tapi kenyataannya berbeda, sampai saat ini dirinya belum mampu merelakan ayahnya pergi.
Sungmin menghapus bayangan kenangannya dulu, berjalan menuju mobil berwarna silvernya dan masuk kedalamnya. Sungmin mulai menghidupkan mesin mobilnya, menginjak gas dan pergi keluar dari area rumahnya.
*Gangnam Grave, Gangnam, Seoul, South Korea. 14.00 AM KST*
Sungmin sampai, hanya membutuhkan 30 menit perjalan jika tidak terhalang macet yang kadang terjadi dipusat kota Seoul. Sungmin memarkir mobilnya, ia merasa hebat karena ia masih mengingat jalan menuju ketempat ini, tempat dimana abu ayahnya tersimpan. Sungmin berjalan menuju sebuah rumah dengan dinding marmer disekelilingnya, dan masuk kedalamnya. Ia melihat dengan terkejut karena rumah itu sudah begitu banyak terdapat kaca berisi abu dari orang yang meninggal. Sungmin menghampiri seorang wanita yang dengan setia berdiri di meja pelayanan.
"Annyeonghasimnikka, ada yang bisa saya bantu Nona?" tanya wanita berambut lurus dan hitam dengan senyum yang terus melekat pada sudut bibirnya itu.
"Abu Tuan Lee Jong Sil dimana?" tanya Sungmin langsung pada inti pembicaraan.
"Baiklah akan saya cek sekarang, mohon menunggu Nona" wanita itu segera mmengetik nama yang Sungmin katakan dan dengan cepat jarinya beradu dengan keyboard komputer.
"Ruang 5 lantai 1 Nona" setelah mengecek wanita itu bangkit dari duduknya dan memberitahu Sungmin.
"Terima kasih" Sungmin langsung berjalan ketempat yang wanita tadi sebutkan. Entah kenapa dada Sungmin tiba-tiba merasa gugup, ia mencoba menepis rasa itu dan berjalan dengan penuh percaya diri kembali. Ia menyiapkan tenaganya untuk menangis dihadapan ayahnya.
~5th Room, 1st Floor, Gangnam Grave~
Sungmin mengecek setiap deretan kaca,memperhatikan nama dan foto dari setiap abu disana, banyak bunga dan barang kesukaan dari mendiang berada didalam kaca bersama dengan guci perak tempat abu mereka ditempatkan. Bangunan yang sudah direnovasi total ini membuat Sungmin kebingungan dengan dimana abu Ayahnya ditempatkan, setelah sempat berkeliling akhirnya Sungmin menemukan bingkai foto ayahnya. Sungmin berjalan dengan cepat dan air matanya seketika itu turun dengan deras.
"Appa" Sungmin menangis sesenggukan disana, ia tak dapat mengontrol air matanya.
"Appa, aku merindukanmu" Sungmin membekap mulutnya, menahan agar raungan tangisnya tidak keluar.
"Appa, apa aku harus mengikuti keinginan ibu menerima perjodohan ini? Apa aku harus melakukannya? Aku juga memiliki seorang pria yang 3 tahun ini selalu menemaniku, menyemangatiku disaat aku terpuruk. Appa, apa kau juga mengharapkan aku menikah dengan anak dari teman baik appa dan eomma? Appa" Sungmin mencurahkan segala penatnya pada sang ayah. Meskipun ia tahu tak akan pernah ada jawaban dari ayahnya.
"Appa, sampai saat ini putri kecilmu ini belum bisa menerima kepergian ayahnya, belum bisa menerima laki-laki yang saat ini menjadi pendamping ibu. Maafkan aku, aku tahu ayah akan sedih mendengar ini. Tapi aku akan berusaha ayah" Sungmin membuka kaca yng berada di depannya, meletakkan sake yang ia bawa. Ayah Sungmin dulu sempat mengatakan jika dirinya ingin meminum sake asli dari Jepang, namun 3 tahun setelah mengatakan itu ayahnya sudah meninggal dunia.
"Ayah aku membawakanmu sake, ini produk asli dari Jepang" Sungmin mengusap bingkai foto ayahnya dan tersenyum.
"Ayah mulai sekarang aku akan sedikit demi sedikit merelakan ayah, aku ingin ayah bahagia disana tanpa perlu lagi mengkhawatirkanku. Aku selalu mencintai ayah" Sungmin mengecup bingkai foto yang terpampang jelas senyum ayahnya, seolah ayahnya ikut tersenyum juga.
Sungmin menutup kembali kaca ayahnya dan merosot jatuh kebawah, ia mencoba tersenyum tapi ini terlalu sulit untuknya, ia membutuhkan waktu. Sungmin terduduk dan menangis, untungnya hanya ada dirinya disana saat ini. Sungmin menepuk dadanya, ingin meringankan sesak dan sakit didadanya.
"Appa" Sungmin menangkupkan wajahnya pada kedua tangan dan kakinya, ia menangis sendiri disana. Ia ingin benar-benar menghabiskan air mata untuk ayahnya disini, ia sudah berjanji tidak akan pernah menangis lagi pada ayahnya.
*Gyeongnam Hospital, Seoul, South Korea. 16.00 PM KST*
Ibu Sungmin masih memejamkan matanya karena obat bius yang Dokter berikan padanya beberapa jam yang lalu. Ibu Sungmin sedikit mengalami tekanan karena anak sulungnya, ibunya terlalu memikirkan bagaimana anaknya itu.
*Tok..tok*
Kyuhyun masuk dengan satu keranjang buah ditangannya. Ia menyempatkan menjenguk karena ibu Sungmin sudah I naggap sepert ibuny sendiri, Kyuhyun menagmbil waktu istirahatny untuk menjenguk.
"Annyeonghasimnikka ahjussi" Kyuhyun menyapa pada ayah tiri Sungmin yang senantiasa berada diruangan itu bersama Ibu Sungmin. Kyuhyun meletakkan apa yang ia bawa dimeja dekat dengan lemari pendingin diruangn VVIP itu.
"Apa ahjumma belum menampakkan kesadran sejak kemrin ahjussi?" Tanya Kyuhyun berbasa-basi.
"Ahjussi rasa sebentar lagi ia akan sadar, saat ini dirinya dalam pengaruh obat bius. Jangan terlalu khawatir Kyuhyun-ah" ayah tiri Sungmin menepuk pergelangan tangan Kyuhyun pelan dan tersenyum, senyum yang tulus.
"Ne ahjussi"
"Kyuhyun-ah, apa kau menerima perjodohan ini? Apa kau sanggup menjaga Sungmin?" tanya ayah tiri Sungmin tiba-tiba membuat Kyuhyun kaget.
"Aku rasa tidak ada pilihan lain, ahjumma sudah sangat mengharapkan ini dan aku tidak mungkin membatalkannya sekarang. Aku akan sedikit demi sedikit mengenalnya ahjussi" Kyuhyun menerima dengan sangat senang perjodohan ini, karena rasa cintanya tidak akan pernah berubah untuk Sungmin sampai kapanpun.
"Baiklah" Ayah tiri Sungmin tersenyum puas dengan jawaban Kyuhyun.
Tak beberapa lama orang yang sedang mereka bicarakan memasuki ruangan, membawa sedikit makanan untuk persedian dirumah sakit. Sungmin memandang kedua pria didepannya dengan canggung, ia berjalan mendekati ibunya dan duduk disisi lain ranjang ibunya.
"Eomma aku datang" Sungmin mengelus telapak tangan ibunya dan menatap wanita didepannya sendu.
"Apa kau sudah makan Sungmin-ah?" apapun jawaban dari Sungmin, ayah tirinya tetap dan selalu menanyakan keadaan Sungmin.
"Sudah, aku membawakan beberapa makanan" masih dengan nada angkuhnya Sungmin menjawab, membuat mata pria tua disisi kanan ibunya itu memerah karena senang. Pertama kali Sungmin menjawabnya dengan baik.
"Dan kau, Kyuhyun-ssi, aku menerima perjodohan ini"
"Ye?" Kyuhyun yang terkejut dengan tatapan tajam mata Sungmin dan apa yang terlontar dari mulut Sungmin hanya refleks menjawab.
Tangan ibu Sungmin bergerak, wanita itu tersadar dari obat biusnya. Ia membiasakan pengelihatannya dengan cahaya diruangan itu dan melihat sekelilingnya. Ia tersenyum mendapati putrinya ternayat berada disampingnya saat ini.
"Sungmin-ah" ibu Sungmin ingin menggapai wajah anaknya namun selang infusnya tidak cukup panjang menjangkau Sungmin.
"Sudahlah eomma. Aku akan menerima perjodohan ini" ucap Sungmin telak.
Bulir-bulir air mata jatuh dari mata Ibu Sungmin, rasanya ia bahagia saat ini.
"Gomawo Sungmin-ah"
Sungmin tak menjawab, ia hanya berpikir tentang bagaimana nasib hubungannya dengan Siwon nanti. Apa ia sanggup melepas laki-laki sempurna yang berada dipelukannya, apa ia yakin bisa lepas dari laki-laki berhati dan berwajah malaikat itu, apa ia yakin bisa bahagia dengan pilihan ibunya.
*Jeolla Private Buildings, Gangnam, Seoul, South Korea. 20.00 AM KST*
Sungmin tiba dirumahnya, ia langsung melesat kekamarnya. Ia baru sadar jika ia tak mengaktifkan ponselnya sejak kemarin. Dan dengan segera ia membongkar tas yang ia bawa, melihat layar hitam pada ponselnya dan mengisi energy untuk ponselnya dan mengaktifkannya kembali.
~14 messages received~
"Siwon-ah" Sungmin mengusap wajah tampan kekasihnya yang ia lupakan. Sungmin merasa bersalah dengan keputusan yang entah ini benar atau tidak ia ambil.
*Drrrrttt…drttt*
~Siwon Choi calling~
Sungmin ragu untuk menjawab panggilan kekasihnya, ia tak mau lebih menyakitinya. Sungmin menekan tombil merah pada layar ponselnya.
"Mianhae" kata Sungmin pelan. Tangannya bergetar, ia merindukan kekasihnya itu.
"Apa ada yang terjadi? Kau tak menghubungiku dan kau tak menjawab panggilanku" Sungmin membuka pesan terbaru yang Siwon kirim.
Sungmin masih tak bergeming, ia menangis sendiri dikamarnya. Terus-menerus ia mengatakan kata maaf. Ia tak sanggup mendengar suara Siwon, ia takut ia akan berubah pikiran.
Setelah beberapa panggilan tak terjawab tadi, ponsel Sungmin tak bergetar lagi. Ia mengambil ponselnya dan mengetik pesan, air matanya mangalir dari pipinya.
"Maafkan aku, aku mencintaimu. Kita akhiri saja hubungan ini" sent 20.20 PM.
TBC…
