Mood Swing (?)
Kuroko no Basuke Fanfiction
KnB © Fujimaki Tadatoshi-sensei
Story © Dee Kyou & LalaNur Aprilia
Rating : T (biar aman)
Genre : Romance, Humor
Warning: M-Preg, typo beredar, ke-aho-an merajalela.
Summary : Bagaimana cara para suami menghadapi mood swing dan amarah juga ngambek ala istri-istri mereka? Ingin tahu caranya? Lihat saja dalam fic hasil kolaborasi kembali antara Dee Kyou dan LalaNur Aprilia…
Pairing : Aomine Daiki x Kagami Taiga
.
- AoKaga's Mood Swing Case -
.
Aomine dengan sangat kesal langsung berlari menuju kantor pemadam kebakaran. Pasalnya, Aomine mandapat informasi dari Kiyoshi bahwa Kagami bekerja hari ini. Padahal Aomine masih ingat dengan jelas, kalau dia melarang keras Kagami untuk bekerja lagi. Mengingat Kagami tengah berbadan dua. Dan setibanya di kantor pemadam kebakaran, Kiyoshi langsung menyambutnya.
"Aahh…. Daiki…. Ke sini, Taiga sedang ada di dalam kantor." Dan Aomine mengikuti Kiyoshi. Setibanya di depan sebuah pintu, Kiyoshi membuka pintu itu dan berkata,
"Ooii…. Taiga, ada yang mencarimu, tuh." Ucap Kiyoshi.
"Hah? Siapa, Teppei-senpai?" tanya Kagami. Dan Aomine langsung masuk ke dalam ruangan dan mencengkram kuat tangan Kagami.
"Taiga-berapa-kali-kubilang-padamu-agar-diam-di-rumah!?" ucap Aomine penuh tekanan.
"O-oi…. Aku tidak selemah itu, Aho!" bantah Kagami membela diri. Namun Aomine tidak menggubris Kagami dan langsung menyeret Kagami pulang.
"Cho— Oi! Dai— Ahomine!" protes Kagami.
"Kau juga seorang A(h)omine sekarang, Taiga." Balas Aomine.
"Oi! Lepaskan aku, DaAho!" Kagami meronta diseret pulang oleh Aomine.
"Ahahaha…. Hati-hati di jalan…" ujar Kiyoshi sembari melambaikan tangannya.
.
.
Setibanya di rumah, Kagami semakin ngembek dan mendiamkan Aomine. Aomine berulang kali memanggil namanya dan berusaha membujuknya, namun Kagami enggan menggubris Aomine.
"Ayolah, Taiga. Jangan ngambek begini. Toh, aku melakukan ini untuk kebaikanmu dan dia juga." Ujar Aomine yang masih setia membujuk Kagami –uhuk-tercintanya-uhuk-.
"Keluar!" balas Kagami.
"Haaa?"
"Aku bilang keluar!"
"Ap— Ini juga rumahku, tahu!?"
"Aku tidak mau tahu! Pokoknya KELUAAARRR!" Kagami menedang Aomine keluar rumah.
"Oi! Taiga! Taiga! Buka pintunya!" Aomine menggedor pintu depan seperti orang gila.
"Berisik! Tidur di luar sana, dasar mesum!" teriak Kagami dari dalam rumah.
'Tidur di luar!? Yang benar saja! Aku bisa kembung masuk angin!' batin Aomine. Setelah 2 jam berpikir, akhirnya Aomine mendapat ilham bagaimana cara dia kembali masuk ke dalam rumahnya. Aomine berjalan memutari rumahnya, mecari jendela atau pintu lain yang tidak terkunci. Dan bingo! Jendela dapur tidak terkunci.
"Yosshh! Tidak terkunci!" Perlahan, Aomine membuka jendela dapur itu dan memanjat masuk ke dalam rumah.
"Huwaa! GYAA!" Namun apa daya, Aomine tidak berbakat menjadi maling, sehingga dia langsung jatuh terjerembab ke dalam rumah.
"Ittatatata…" keluh Aomine sambil mengusap-usap hidungnya yang mencium lantai. Ketika dia mendongak, terlihat Kagami yang tengah berdiri di hadapannya sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Melihat Kagami, Aomine hanya bisa nyengir -coret-sok-coret- polos.
"Y-yo, Taiga… Ahahaha…"
Kagami menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berteriak, "MAAAALLLIIIIINNNGGG!"
"Huwaaa! Ta-Taiga! Jangan berteriak begitu!" Aomine panik.
"Maling! Maling! Pak polisi, ada maling!" Kagami tetap berteriak-teriak.
"Oooii! Aku ini polisi, Baka!" amuk Aomine. Kagami tidak mempedulikan protes Aomine dan segera menelepon kantor polisi, lebih tepatnya menelepon Imayoshi.
"Hello? Shoichi-san? Tolong segera datang! Rumahku kemasukan maling orang paling mesum di dunia!"
"Apa!? Tenang Taiga! Jangan panik! Aku segera ke sana!" Dan hubungan telepon pun terputus. Dan Aomine hanya bisa mengerang mendengar ke-absurd-an istri(?) dan senpainya. Tidak berapa lama, Imayoshi pun tiba di rumah Aomine. Dan sangat terheran-heran melihat Aomine yang tengah diikat di kursi ruang makan.
"Etto, Taiga. Jadi ini malingnya?" tanya Imayoshi memastikan.
"Benar. Penjarakan dia, Shoichi-san." Jawab Kagami.
"Oooiii! Jangan bercanda! Ini rumahku! Kenapa aku dianggap maling karena masuk ke dalam rumahku sendiri!?" protes Aomine.
"Itu benar, Taiga. Aku tidak mungkin memenjarakan Daiki." Dukung Imayoshi.
"Tapi dia memang maling! Pencuri! Daiki sudah mencuri hatiku. Karena itu, penjarakan dia di hatiku, Shoichi-san." Ujar Kagami polos. Mendengar ucapan absurd Kagami, kacamata Imayoshi merosot dan Aomine menangis haru.
'Si Taiga ini…. Sejak kapan dia ketularan gombalnya Yoshitaka?' batin Imayoshi heran. Imayoshi pun semakin kesal melihat baka couple di depannya malah melupakan keberadaannya dan malah asyik bertatapan, seakan dunia hanya milik mereka berdua.
"Ekhem! Maaf aku menginterupsi kemesraan kalian. Tapi, bisakah kalian tidak memanggilku hanya untuk hal yang tidak jelas seperti ini?" pinta Imayoshi sambil memijat dahinya yang pusing. Seketika, Aomine dan Kagami langsung tersadar akan keberadaan Imayoshi.
"Haaa? Untuk apa kau masih disini!? Pulang sana! Syuuh…. Syuuuhh…" usir Aomine.
"Haaaaahhh…. Tadi aku dipanggil, sekarang diusir. Kalian berdua memang kouhai tidak sopan." Keluh Imayoshi dan beranjak pergi. Namun Kagami segera menahan tangannya, mencegah Imayoshi pergi.
"Tunggu! Shoichi-san…. Daiki hanya bercanda. Daiki, kau tidak boleh kasar pada Shoichi-san!" marah Kagami pada Aomine. Sedangkan Aomine hanya mengorek telinganya dan tidak menggubris Kagami.
"Naa, Shoichi-san, bagaimana kalau kita makan malam bersama? Kebetulan aku sudah masak makan malam." Ajak Kagami.
"Haaa!? Buat apa ngajak dia makan! Lebih baik dia pulang saja. Pulang sana, Shoichi! Jangan ganggu waktuku dengan Taiga." Aomine langsung melancarkan aksi protesnya.
"Itu benar, Taiga. Maaf, tapi aku harus menolak ajakanmu. Aku harus kembali ke kantor." Tolak Imayoshi.
"Kalau begitu, aku juga tidak mau makan!" Kagami kembali cemberut dan ngambek.
"Apa!? Kau harus makan, Taiga! Ingat, di dalam tubuhmu sedang ada jiwa lain yang tumbuh. Kau harus banyak makan." Ujar Aomine.
"Pokoknya aku tidak mau makan! Aku tidak mau makan kalau Shoichi-san tidak ikut makan denganku!" balas Kagami semakin kekanakan.
"Oke, oke! Aku mengerti! Dia akan makan malam dengan kita." Putus Aomine.
"Oi, Daiki! Jangan seenaknya memutuskan begitu! Aku harus kembali ke kantor dan bekerja lagi." protes Imayoshi.
"Ayolah, makan bersama kami. Nanti Taiga ngambek lagi, aku yang susah." Pinta Aomine. Dan Imayoshi pun tidak bisa berkata apa-apa lagi dan akhirnya makan di rumah Aomine. Dengan sangat ceria, Kagami melayani Imayoshi. Kalau saja Aomine tidak ingat Kagami tengah berada dalam kondisi mood swing, Aomine pasti akan menjejalkan bola basket ke mulut Imayoshi.
"Bagaimana, Shoichi-san? Masakannya enak? Sesuai dengan seleramu?" tanya Kagami penuh perhatian, membuat Aomine harus menelan bulat-bulat rasa cemburunya. Hei, dia saja tidak pernah ditanya dengan penuh perhatian seperti itu oleh Kagami.
"Ah, iya. Ini enak. Apa pun yang kau masak selalu enak, Taiga." Jawab Imayoshi dan membuat pipi Kagami bersemu merah.
"Ka-kalau begitu, silakan makan yang banyak, Shoichi-san." Ujar Kagami sembari mengambilkan lauk untuk Imayoshi.
"Baik, terima kasih. Sayang sekali aku sudah menikah. Kalau belum, aku pasti akan melamarmu untuk jadi istriku, Taiga." Goda Imayoshi. Wajah Kagami berubah semerah rambutnya mendengar perkataan Imayoshi. Aomine yang tidak tahan dengan pemandangan di hadapannya, langsung menggebrak meja.
"Oi, Shoichi! Jangan goda istri orang! Goda istrimu sendiri sana, si Ryou!" protes Aomine.
"Kau sendiri juga sering menggoda Ryou, Daiki. Sampai wajahnya merah padam dan menangis. Kenapa sih, kau hobi menggoda Ryou?" Balas Imayoshi.
"Haha! Mau bagaimana lagi. Wajah panik dan menangis Ryou itu imut sekali sih. Membuatku suka menggodanya." Jawab Aomine spontan. Dan Aomine segera sadar kalau ucapannya telah membangkitkan harimau yang tertidur. 'Akh! Gawat…' batin Aomine.
"Da-i-ki…." Panggil Kagami penuh tekanan dan menguarkan aura gelap dari sekujur tubuhnya.
"Oi, Shoichi! Kau sengaja kan!?" Amuk Aomine. Imayoshi mengembangkan senyuman liciknya menjawab pertanyaan Aomine.
"Saa, aku sudah selesai makan. Aku akan kembali bekerja. Terima kasih atas makan malamnya. Ciao…" dan Imayoshi langsung ngacir meninggalkan rumah Aomine.
"Cho— Shoichi! Temeee…!" maki Aomine.
"Daiki…" panggil Kagami sekali lagi.
"Gluk! Ta-Taiga sayang… Honey….. A-aku bisa jelaskan…." Aomine berusaha merayu Kagami.
"Tidak perlu kau jelaskan aku sudah tau! Dasar mesum! Hentai! Sukebe! Eromine!" Kagami sekali lagi menendang Aomine keluar rumah. "Tidur diluar, sana!" lanjut Kagami yang kemudian membanting pintu dan mengunci seluruh akses masuk rumah.
"Taigaaa….. Buka pintunya…. Di luar dingin…. Hatsyiii! Taigaaaaa….." Aomine hanya bisa menggedor pintu sambil meratapi ke-aho-annya.
.
- End of AoKaga's Case -
.
Yosshaa! Dee's come baaaaccckkk! *tereak pake toa* Ah, Lala-chan…. Tolong simpan penggaris besi itu…. Minna-san juga, tolong simpan senjata kalian masing-masing yah…. Dee sadar kok, fic ini ngaret banget up-date nya… TTwTT
Sebagai permohonan maaf, chapter ini Dee perpanjang sedikit…. Gak kayak chapter sebelumnya yang kurang dari 1K…. Semoga dengan ini, minna-san memaafkan keleletan Dee….
untuk Little Otaku : ini udah apdet... Dee gak nyangka bakal ketemu Little-san di fandom ini... ehehehe... ureshii na... tolong review lagi yah... *digeplak*
Ah, Arigatou buat semua reader yang udah baca, review, fave n follow fic ini…. Dee mohon reviewnya lagi yah…..
Jaa, naa….. Insya allah, chapter 3 bakal cepat up-date nya…. Next chapter : Our Sweet Couple, MorIzu~~~~
