Ice Doll : It's Complicated!

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Chapter 2

Rate : T semi M-preg ( Bisa diartikan dalam bahasa-bahasa kasar atau sebagainya )

Pair : NarufemSasu –Naruto x Satsuki–

Genre : Action, Romance ( Maybe ), Comedy ( Menurutku ), Fantasy

Warning : EYD abal, OOC, OC, Gaje, Alur cepat, Violence & Profanity, etc…

Catatan!: Disini aku mengubah nama Sasuke menjadi Satsuki, yah gimana ya? Habis kalau namanya tetap Sasuke kayaknya kurang sreg deh, jadi Maki ganti namanya saja jadi nama Satsuki. Boleh kan? Tolong jangan marah ya Sasuke Lovers#Puppy Eyes No Jutsu

Warn ke-2! : Naruto POV

If you Don't Like, Don't Read!

NO FLAME!

Enjoy It!

"Eh? Boneka...boneka apa?" tanyaku. Kalau aku tidak salah dengar, ia mengatakan kalau dirinya adalah boneka es. Dimana-mana yang namanya boneka itu pasti tidak bisa bergerak, tetapi kalau dirinya? mana mungkin? Gila kali nih cewek.

"Aku tahu kau pasti tidak akan percaya dengan semua yang kukatakan. Boneka es? Hehehe. Mana ada boneka yang bisa bergerak? Tetapi semua itu benar Naruto-sama, aku adalah boneka. Boneka yang terbuat dari es, boneka yang diberikan hati, darah, rasa sakit, air mata dan fikiran layaknya manusia. Minato-sama menciptakanku dengan es Sunagakuma yaitu sebuah es yang berasal dari desa Sunagakure, tepatnya di sebuah goa bernama Sunahyoozan. Sebuah goa yang konon adalah goa dimana benda-benda ajaib dan terlarang terpendam, contohnya es Sunagakuma. Es Sunagakuma adalah sebuah es ajaib yang bisa membuat segala macamnya menjadi hidup dan bergerak layaknya makhluk hidup apalagi kalau dibuat menjadi manusia, contohnya diriku. Menurut mitos, goa itu tak bisa dilihat oleh sembarang orang, hanya orang yang terpilihlah yang bisa melihat dan memasukki goa tersebut. Aku tak mengetahui banyak soal goa tersebut, aku hanya sekilas diberitahu oleh Minato-sama kalau goa tersebut berada diantara es-es besar berbentuk kristal, tetapi yang kutahu desa Sunagakure itu panas dan gersang. Berdasarkan hukum alam, sebongkah es tak mungkin bisa bertahan lama jika berada diantara atau disekililing lingkaran panas, karena dalam jangka waktu lama, es itu pasti akan mencair juga..."

Dia ini mau menceritakan sesuatu apa mau mengajariku pelajaran biologi sih, dasar cewek gila!

"...Oleh karena itulah aku merasa kurang percaya karena menurutku Minato-sama hanya bergurau. Tetapi jika goa tersebut atau Es Sunagakuma memang tak pernah ada, aku tak mungkin ada di dunia ini."

"?"

"Aku tahu omonganku beralih dari topik pertanyaanmu"

"KALAU KAU SUDAH TAHU KENAPA KAU TIDAK MENGGANTI TOPIKNYA?!"

"Aku suka melihat kebodohanmu"

"NANI" cewek ini benar-benar membuatku kesal, kampret!.

"Oke, kurasa aku sudah cukup puas melihat ekspresi bodohmu. Sekarang mendekatlah sedikit, aku akan menjawab semua yang kau inginkan"

Mendekat...kenapa harus mendekat? Bukannya dia hanya cukup bicara saja, lagipula aku ingin makan, perutku sudah keroncongan...aaaa...

Sret...prang...trang!

Satsuki memegang kerahku dan menarikku kearahnya, membuat keseimbangan tanganku yang sedang memegang mangkuk jadi tidak seimbang dan pada akhirnya terjatuh kelantai.

"He...hei! mangkuknya pecah. Lepaskan aku..."

"Katanya kau ingin tahu semua kan?"

Dibalik wajahnya yang stoic, semburat merah tipis mencuat di setiap sisi pipinya, ia menundukkan kepalanya dengan ekspresi wajah yang malu-malu. Kalau boleh jujur, Satsuki terlihat sangat manis saat ini.

Satsuki mendongahkan kepalanya secara malu-malu, dia mendekatkan wajahnya yang manis kewajahku kemudian ia memiringkan kepalanya dengan mata yang tertutup, tunggu dulu...tertutup! apa dia? Apa-apa-apa dia...

Cup!

Kyaa! Dia menyentuhkan bibirnya ke bibirku...emm...rasanya...rasanya dingin namun terasa lembut, mungkin sensasi dingin ini karena dirinya terbuat dari es yang ia jelaskan tadi. Apa...apa...apa ini, dia mengggerakkan lidahnya di sela-sela buah bibirku membuat saliva-nya menyelisir seluruh sisi buah bibirku. Jujur, ini adalah ciuman pertamaku, namun kalau begini jadinya, ciuman pertamaku akan jadi ciuman berkriteria kedewasaan dan hot. Ah tidak apa-apalah, sekaligus belajar berciuman...

"Ah~"

Sial! Dia mendesah, malah desahannya seksi banget lagi. Hah! Peduli setan! Aku nikmatin aja lah, aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya berciuman sama seorang gadis. Aku menjelajahi mulutnya yang mulai basah dengan lidahku, memainkan lidahnya yang sangat menggairahkan dan menyelisir gigi-giginya yang tersusun rapih. Oh...sangat nikmat sekali, meskipun dirinya adalah seorang boneka tapi sensasi yang kurasakan ini begitu menggoda. Aku tidak menyangka kalau aku bisa sejago ini dalam adegan ciuman pertama...

Zzzz...zzzz

Apa...apa ini? aku...aku melihat seseorang, seseorang didalam fikiranku yang sedang...sedang...

Zzzz...zzzz..."Satsuki..."...zzzz

Orang ini, ia menggumamkan nama Satsuki, siapa dia?

"Naruto-sama...ah~, goda aku lebih dari ini"

"Ah~ apa maksudmu menggoda?"

"Buka pakaianmu...ah...ah..."

"Hah~ kau serius akan melakukan hal itu?"

Satsuki menganggukkan kepalanya diciuman kita kemudian ia melepaskan ciuman kita lalu melepaskan pakaianku beserta celana panjangku. Sial, jantungku berdetak sangat cepat sekali, apakah begini kalau awal-awal teman-temanku memulai melakukan seks. Aku merasa gugup dan fikiranku campur aduk ketika ia menjilati seluruh tubuhku.

"Satsuki, kau yakin? Tapi ini di meja makan"

"Hem...slurp...lakukan saja...slurp...nanti kau akan tahu...hahn~"

Aku membalas menjilati lehernya saat ia menjilati leherku, aku mencium lehernya dengan begitu liar sampai pada akhirnya gambaran itu terulang kembali. Gambarnya sangat tidak jelas layaknya televisi yang tanpa antena, namun beberapa detik kemudian diikuti desahan seksi Satsuki, aku melihat pria berambut pirang jabrik sedang tersenyum sambil membawa beberapa alat seni pembuat patung dan es batu sebesar balok es, dia...tou-sanku!...Minato Namikaze.

Zzzz...zzzz..."Akhirnya..."...zzzz..."Akhirnya usahaku selama 6 bulan untuk menemukan goa dan es ini tak menjadi sia-sia, dengan es Sunagakuma ini aku akan membuat sebuah boneka es sama halnya seperti tou-sanku. Anakku..."...zzzz..."...pasti akan senang kalau aku membuatkannya teman. Dengan es Sunagakuma ini, aku akan menciptakan seorang boneka yang bisa bergerak, tumbuh besar dan beraktifitas layaknya manusia. Naruto, kau akan mendapatkan teman..."...zzzz...zzzz.

Melihat senyuman tulus tou-san, aku jadi terharu, aku merindukanmu...Tou-san~...hah!... dimana tou-san? Kenapa ruangannya jadi berbeda, tadi cahayanya sangat terbatas, namun sekarang...hah! ini...mobil-mobilan, sepeda shin ciang, skateboard, dan beberapa bola-bola sepak serta poster Doraemon disebelah meja dimana tou-sanku sedang duduk ini adalah...barang-barang yang kupunya delapan tahun yang lalu...apa yang kulihat saat ini adalah...gudang rumahku yang dulu! Berarti aku berada ditahun dimana tou-sanku masih berada dirumahku yang dulu dan ibuku yang masih hidup.

"Hufft...! akhirnya selesai juga. Dengar. Aku akan memberikanmu nama Satsuki...em...Uchiha. Maaf, aku sulit mengucapkan margamu, marga itu mengingatkanku pada...zzzz...mu. Mulai hari ini kau akan menjadi teman anakku dan menjadi keluargaku. Jadilah anak yang baik, dan jagalah anakku, buat dia tertawa dan bahagia bersamamu. Anakku adalah orang yang baik dan pintar, kau pasti akan suka padanya. Oh iya, satu nasihatku, kau jangan sekalipun menggunakan kemampuanmu di depan istri dan anakku, mereka tak tahu kalau kau adalah boneka es. Dan normalnya, mereka bisa kaget kalau seorang anak kecil bisa melakukan hal yang tidak masuk akal. Aku tidak tahu apa kemampuanmu tetapi apapun itu, jangan sekalipun kau perlihatkan kekuatanmu pada anak dan istriku..."

Dor!

Aku kaget saat mendengar suara pistol, apa yang terjadi? Kenapa ada suara tembakkan?

"Ah! Minato!"

Ini...ini suara ibuku! Tetapi...tetapi kenapa ia berteriak? Kenapa harus terdengar suara pistol, sebenarnya apa yang terjadi?!

"Kushina! Naruto!, kuso! Dia datang!. Istriku...anakku...kuso!...Satsuki...tugas kuubah. Kau boleh menggunakan kekuatanmu, gunakanlah untuk melindungi dirimu sendiri. Sekarang kau lebih baik pergi dari sini dan bersembunyilah dimanapun sebelum mereka menemukanmu. Aku akan memberikanmu chip ini..."

Tou-sanku memasangkan sebuah chip hitam slim di cuping telinga kiri Satsuki dengan gerakkan terburu-buru, ia menoleh kebelakang dan kedepan secara bergantian seperti orang dikejar waktu apalagi saat mendengar suara pistol kembali.

"...Pergi dari sini, keluarlah lewat lorong udara diatas jendela itu, pergi dan bersembunyilah ditempat dimana 'orang itu' tak bisa menemukanmu. Aku akan menghubungimu 'dimana aku berada' dengan chip itu nanti. Kita akan bertemu lagi nanti. Sekarang pergilah...zzzz"

Aaa...tempatnya berubah lagi...ruangan yang sekarang kulihat sangat asing, hanya cahaya lilin yang menerangi ruangan itu...e...tunggu, ada sebuah siluet, apakah itu...Tou-san!

"Satsuki, bagaimana kabarmu, kuharap kamu baik-baik saja disana yah. Kalau kuhitung-hitung, sekarang umurmu sudah beranjak 9 tahun 'kan?. Maaf, aku tidak bisa menjengukmu disana, aku hanya bisa mengabarimu dengan chip ini saja. Satsuki, boleh aku meminta sesuatu padamu? Aku ingin pergi, Tolong jaga anakku Naruto, tolong lindungi dia, jauhkan dia dari segala hal yang membahayakan dirinya. Istriku sudah meninggal, Satsuki. Dia dibunuh oleh mafia tak dikenal. Aku yakin mafia itu pasti suruhan...zzz... Aku akan pergi mendatangi orang itu dan membunuhnya, jadi tolong jaga anakku sampai aku kembali...zzzzz..."

"zzzz...terserah, bagaimanapun caranya yang penting anakku tidak apa-apa. Tetapi tolong, jadilah teman dekatnya saat ia beranjak 17 tahun karena diumur itu 'segel'-nya akan aktif dan aku yakin...zzz...pasti akan datang mencarinya. Jadi tolong, disaat ia berumur demikian, jadilah temannya dan lindungi dia. Kumohon...zzzz"

Brugh!

"Ah!"

"Ittai!"

Aku dan Satsuki terjatuh dari kursi, dan akhirnya saling menubruk satu sama lain. Pose kami saat ini sangat tidak memungkinkan, Satsuki ada dibawahku dan aku berada diatasnya, kedua wajah kami memerah dan akhirnya...

Plak!

Kahk! Dia menamparku dengan sangat kerasnya sampai-sampai aku terguling-guling disebelah kirinya dan akhirnya kepalaku menubruk dinding terdekat, karena tubrukkan keras itu, aku merasa dahiku sangat nyeri dan akhirnya tumbuhlah sebuah benjol besar didahiku.

"Apa yang kau lakukan konno hentai!"

"Kau yang memintanya, dasar teme!"

Gimana sih nih cewek, tadi dia yang minta digoda, kenapa sekarang dia jadi marah sih...dasar gila!

"Tetapi aku tidak meminta kau untuk menindihkanku!" balasnya sambil beranjak berdiri dengan aura seram.

Oke, yang satu ini aku baru mengalah. Entah bagaimana jadinya kalau wanita bernama Satsuki ini marah dan menghajarku, apalagi dia itu terbuat dari es. Pukulannya pasti sangat keras dan dingin, bisa-bisa wajahku akan hancur lebur sekaligus beku gara-gara pukulannya.

"Oke, maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya. Gomenasai...oh...Satsuki, apa yang kulihat tadi? Kenapa aku bisa melihat tou-sanku?" tanyaku mencoba mengubah topik pembicaraan.

Aura seram Satsuki mulai mereda sedikit demi sedikit saat aku bertanya demikian. Satsuki beranjak berdiri lalu duduk di meja makan dengan ekspresi wajah yang sangat serius, Satsuki menoleh kearahku sejenak dan setelah itu ia meminum jus tomat yang sudah disiapkan dimeja. Buset! Setelah kejadian tadi, dia masih bisa minum?

"Itu adalah kemampuan spesial-ku, Yaitu bisa melihat masa lalu. Namun aku hanya bisa memakai kekuatanku jika aku melakukan hubungan fisik dengan seorang pria..."

"Maksudmu..."

"Bukan seks! Hanya sekedar membuatku terangsang. Terangsang dalam arti aku tergoda dengan sentuhan seorang pria. Kemampuan spesial-ku ini hanya bisa dipakai kalau Crystal* didalam tubuhku sedang dalam keadaan penuh jadi kesimpulannya adalah aku tidak mungkin menggunakan kemampuan spesial-ku secara berkali-kali. Jadi jangan berharap kau bisa menyentuhku lagi!"

"Lagian siapa juga yang mau menyentuhmu! PEDE GILE!"

"Hn"

Cih! Sepertinya ada hal yang paling kubenci selain tingkah angkuhnya, yaitu kata 'HN'-nya.

"Oh iya Satsuki, kenapa saat kau memperlihatkanku masa lalu tou-san tepatnya saat insiden tembak menembak tadi, aku merasa tidak ingat kejadian itu?"

"Mungkin ingatanmu nge-drop"

"EEE, apa yang kau katakan?!"

Teng...tong

Suara bel rumahku berbunyi, siapa sih yang datang tengah malam begini? Mengganggu ora...MATTE! aku lupa kalau malam ini Neji dan kelima temanku yang lain ingin berkunjung kerumahku?!. Bagaimana ini? malah aku belum membereskan rumahku lagi, oh Kami-sama, bantulah aku? Apa yang harus kulakukan?!.

"Aku akan memeriksa siapa yang datang"

WUAAA!, aku lupa juga!. Si cewek gaje ini 'kan ada dirumahku!. Apa yang akan dikatakan oleh mereka kalau cewek yang gak jelas ini ada dirumahku? Pasti akan terjadi kesalahpahaman nih?. Aku harus menyembunyikannya, mereka tidak boleh tahu...

"Tidak! Jangan! Satsuki, Bersembunyilah" bisikku padanya sambil menahannya agar tetap duduk di kursi.

Teng...tong!

Suara bel berbunyi kembali dan Satsuki mengerutkan keningnya seraya melipat kedua tangannya ke oppai-nya. Oh tidak! Jangan sekarang marahnya. Please dong ah!

"Kenapa aku harus bersembunyi? Bagaimana kalau orang yang menekan bel itu adalah orang suruhan-'nya' yang mencoba menculikmu!"

"Tidak! Orang yang berada diluar bukan orang yang ingin menculikku. Orang yang berada diluar adalah...sudahlah kau bersembunyi saja!"

"Aku tidak mau! Ini sudah kewajibanku untuk menjagamu"

Cih! Keras kepala sekali sih nih cewek. Kalau bukan cewek aja sudah kupukul nih orang!

"Dengar, percaya padaku. Orang yang berada diluar bukanlah orang jahat yang seperti yang kau maksud. Aku janji, aku akan memberikan sinyal kalau mereka adalah orang jahat" balasku sambil memegang kedua bahunya.

Pandangan kami bertemu, Satsuki memandangiku dengan pandangan tak punya arti. Tak lama kemudian, ia memejamkan matanya lalu menepis kedua tanganku yang memegang kedua bahunya. Ia beranjak berdiri dari kursinya seraya membersihkan kedua puncak bahunya dengan jemarinya. Cih! Aku tahu apa maksud gerakkan itu!

"Baiklah, aku hanya butuh bersembunyi saja 'kan?. Berteriaklah sekeras mungkin kalau ada apa-apa. Mengerti!"

"Hmm. Arigatou Gozaimasu"

Teng...tong!

Bersama dengan suara bel ketiga tersebut, Satsuki bergumam 'Hn' seraya memunggungiku dan meninggalkanku sendirian di meja makan. Aku beranjak berdiri dari kursiku dan langsung berlari menuju pintu depan rumah.

Lima menit kemudian aku tiba didepan pintu dan membukanya. Terlihatlah enam anak muda yang sangat kukenali. Siapa lagi kalau bukan Neji, Tenten, Lee, Sakura, Ino dan Sai. Aku menyengir nista didepan mereka sambil menggaruk-garuk belakang rambutku. Yah habis mau gimana lagi, aku merasa sangat ragu kalau mengajak mereka untuk masuk kerumahku, aku 'kan belum rapih-rapih.

"A-ano...Neji-san, Tenten-san, Lee-san, Sakura-chan, Ino-chan, Sai-san. Si-silahkan masuk..."

"Tidak perlu. Naruto...bisakah kau ikut dengan kami, ada yang ingin kami bicarakan." Sahut Neji dingin.

Hah? Membicarakan apa? Bukannya mereka datang kerumahku hanya untuk 'numpang'? Apa jangan-jangan mereka ingin mengajakku keluar dan bergaul diluar bersama mereka...khikhikhi. kalau begitu aku tidak akan menolak, lagipula aku juga mengharapkan begini juga kok, hihi. Maksudku, biar mereka gak ngeliat rusuhnya rumahku n si cewek pea didalam. Hihi.

"Yosh! Tunggu sebentar ya, aku mau ganti baju dulu biar rapih"

Ketika aku memutari tubuh dan memunggungi mereka, mereka berdeham keras kemudian aku mendengar suara Sakura-chan yang memanggilku

"Kau tidak perlu ganti baju Naruto-kun, saat ini kau sudah rapih kok" Kata Sakura.

Ah~ senangnya dipuji olehnya, sepertinya wajahku mulai memanas? Apa jangan-jangan dia suka denganku? So sweet banget sih...

"Serius? Apa tidak apa-apa aku memakai baju ini?" tanyaku pada Sakura-chan namun dijawab oleh mereka semua dengan anggukkan.

Cih! Padahal aku Cuma bertanya pada Sakura-chan saja, kenapa mereka semua malah ikut-ikutan menjawab! Pea!.

"Baiklah kalau begitu, ay..."

"NARUTO SAMA!"

Wuaaa!

Dor!

Zuing!

Brugh!

"SATSUKI! HEI! APA-APAAN INI?!" berontakku di dekapan tangan Neji.

Saat ini leherku sedang digencat dengan lengan Neji tepatnya ketika Satsuki berteriak memanggil namaku dan pada saat itu juga Lee mengeluarkan sebuah pistol dan mengarahkannya pada Satsuki. Untung saja Satsuki bisa menghindar dengan bersembunyi di dinding.

Aku diseret pergi menjauh dari rumahku, Neji mengangkat tubuhku dan membawaku keatas bahunya, hei! Kuat sekali pria ini?!. Tunggu! Tadi Lee mencoba menembak Satsuki, dan sekarang Neji merangkulku di bahunya. Apakah mereka ini adalah...ORANG YANG INGIN MENCULIKKU?!.

"Hei! Lepaskan aku Neji!, sebenarnya kau ya yang ingin menculikku?"

"Hm?"

Neji mengangkat sebelah alisnya sambil menatapku dengan ekspresi bodoh. Cih! Sialan! Apa maksudnya ekspresi bodoh itu, apa aku salah kalau aku bertanya dia adalah penculikku?.

Sreet!

Wuaa!

Kedebug!

"Aduduh. Ittai! Hei! Jangan berhenti tiba-tiba begitu! Kepalaku sakit tahu!" bentakku marah pada Neji. Tepatnya saat kepalaku sudah terbentur dengan tanah.

"Lepaskan Naruto-sama"

Ha? Suara datar ini? Satsuki?. Aku mendongahkan wajahku keatas dan mendapati tubuh Satsuki yang terbalik yang sedang memegang sebuah sapu ujuk di tangan kanannya plus dengan tatapan tajam yang terarah pada kelima temanku.

Suasana di depan taman rumahku menjadi sunyi sejenak, semua teman-temanku saling memandangi Satsuki dengan pandangan datar, begitupula sebaliknya. Satsuki-pun memandangi mereka dengan datar plus pandangan merendahkan. Pandang-memandang itu berlangsung hampir sepuluh menit, sampai pada akhirnya dihancurkan oleh ketawanya Lee yang kurasa...berbeda.

"Hahahaha! Kau kira kau bisa menandingiku, bitch!. Jangan mengada-ada"

Begitulah yang kudengar dari Lee, Lee mengeluarkan pistolnya kembali dari saku jaketnya kemudian mengarahkan ujung pistol tersebut kearah Satsuki. Aku melebarkan kedua mataku ketika menyadari apa yang akan dilakukan oleh Lee, dengan refleks aku mendongah kembali kearah Satsuki dan berteriak

"SATSUKI! AWAS!"

Dor!

"Iabt!"

Wush!

Trang!

Saat Lee menembak, Satsuki meneriakkan kata 'Iabt' dengan kerasnya. Bersama dengan teriakkan itu, sebuah sinar cahaya tipis muncul dari setiap sisi batang sapu ujukku dan pada saat itu juga Satsuki memutari sapu ujukku searah dengan arah jarum jam dengan gerakkan yang sangat cepat sekali dan sampai pada akhirnya suara benturan bagaikan benturan antar besi terdengar keras di telingaku. AAAA...aku ternganga melihat Satsuki yang dengan mudahnya menepis peluru pistol Lee dengan Sapu ujukku. Apalagi ketika aku menyadari kalau sapu ujukku berubah menjadi sebuah besi baja. Apakah itu kemampuan biasanya?.

Neji menjatuhkanku begitu saja ketanah, dia mundur beberapa langkah dariku begitupula Sakura, Sai, Ino, Tenten dan Lee. Seluruh wajah mereka dihiasi dengan ekspresi ketakutan, yah! gimana gak takut? Mereka melihat suatu hal yang mustahil didepan mata mereka. Mana ada sebuah sapu ujuk bisa berubah menjadi besi dan mana ada juga hanya dengan sebuah sapu ujuk bisa menandingi kecepatan peluru pistol yang menurutku berdurasi...0,1 DETIK!.

Aku memutar tubuhku dan mencoba bangun, namun sebelum aku benar-benar bangun...lagi-lagi Neji menyeretku keatas bahunya lagi dan membawaku lari kearah mobil yang terparkir diarah barat diikuti dengan kelima temanku yang lainnya.

"Sudahlah Neji! Untuk apa kau harus capek-capek mengangkatku begini, aku 'kan bisa berjalan sendiri!"

"..."

"Hei! Jawab a..."

DUAR!

"Hah!"

Suara ledakkan dahsyat dari arah barat atau lebih tepatnya dibelakangku membuatku dan teman-temanku harus terpental beberapa meter jauhnya gara-gara kekuatan angin yang diluar perkiraan. Aku terguling-guling beberapa kali di aspal jalanan dan akhirnya punggungku membentur onblok jalanan. Aduh! Punggungku terasa sakit sekali, sepertinya tulang-tulangku sudah remuk semua. Berasal darimana sih suara ledakkan gila itu!.

"AAAAAAAA..."

Mataku melebar melihat sebuah mobil hitam yang jaraknya sekitar 10 meter dariku sudah hangus terbakar. Jadi semua ledakkan tadi itu...itu karena ledakkan mobil?. Hei! Berhenti bercanda!, kalian tahu 'kan ini Jepang!.

Aku beralih kearah Satsuki yang sedang berjongkok didekat Lee, dia tersenyum bak iblis ketika melihat begitu parahnya luka yang dibendung Lee. Dia menjambak rambut mangkuk Lee dengan kasarnya sampai pada akhirnya ia membanting kepala Lee kembali ketanah dengan kerasnya.

"Kahk!"

Hah! Melihat teriakkan kesakitan Lee dan darah yang mengucur dari ujung kepala dan dahinya membuatku berteriak pada Satsuki untuk menghentikan perilaku-nya yang tidak manusiawi tersebut. Satsuki menoleh kearahku sebentar lalu kembali beralih ke Lee dan lagi-lagi ia membenturkan kepala Lee kembali ketanah hingga sampai pada akhirnya sebuah darah segar mengucur deras di jalanan dan wajah Satsuki.

Cukup sudah! Semua yang dia lakukan akan membunuhnya! Aku beranjak berdiri dan berlari kearah Satsuki. Aku tidak akan memaafkannya kalau sampai-sampai Lee dan kelima teman-temanku mati gara-gara dirinya. Jika hal itu terjadi, maka aku akan benar-benar membunuhnya.

"SATSUKI!"

"Kenapa kau harus berteriak begitu, telingaku masih normal, bego!"

Aku menarik kerah bajunya diikuti dengan gigi rahang yang kutekan kuat-kuat. Aku menatapnya dengan tatapan menusuk dan nafas yang menggebu-gebu berharap ia takut atas ekspresiku saat ini.

"Apa yang kau lakukan, kenapa kau membenturkan kepala Lee! Apa salahnya?! Apa kau ingin membunuhnya?!"

"Hn"

Buset nih cewek! Masih aja bisa memamerkan wajah santai begitu atas apa yang dia lakukan pada Lee. Bisa-bisa aku jadi khilaf nih gara-gara meladeni tingkahnya.

"Mereka bukanlah teman-temanmu"

TBC