Dia terlahir di sebuah kota dimana pembunuhan biasa terjadi.

Dia keturunan ras yang konon adalah ras minoritas.

Dia memiliki kemampuan yang tidak semua orang memilikinya.

Dia terlahir dengan talenta yang melebihi manusia normal.

Namun sayang…

dia 'buta' dan 'tuli'

.

Indigo

Kuroko no Basket by Fujimaki Tadatoshi

Tidak mengambil keuntungan materiil dari fanfiksi

.

CENTRIC 1: KUROKO TETSUYA – does my existence even worth?

"Obaasan, who's the black guy that hold a scythe behind you?"—Kuroko Tetsuya, 4 years old.

.

Pagi ala perkotaan yang biasa. Matahari bahkan belum setengahnya keluar, namun beberapa motor dan mobil mulai berlalu lalang. Kesibukan kota belum terlihat. Kuroko Tetsuya mengikat tali sepatunya dan menggendong tasnya. Dia tahu bahwa dirinya terlalu pagi untuk berangkat ke sekolah. Ia bahkan rela tidak sarapan. Tetsuya tidak membenci berangkat agak siang, namun ia juga tidak benci berangkat terlalu pagi.

Toh, ia memiliki sesuatu yang harus dihindari.

Pemuda itu memantapkan hatinya dan melangkah keluar rumah. Tak lupa ia mengunci pintu rumahnya dengan kuncinya yang memiliki gantungan Teru Teru Bozu terbalik.

Dia tidak peduli.

Setelah yakin bahwa pintu rumah telah terkunci, ia berjalan cepat menuju kearah sekolahnya sambil sesekali menautkan jemari tangan kanannya diantara surai biru miliknya. Terkadang mendecak, terkadang menghela napas.

Saat ia melewati sebuah bank, ekor matanya menangkap dua satpam yang sepertinya tengah berjaga. Ia makin mempercepat langkahnya dan nyaris berlari—

"Anak itu lagi,"

"Dia sudah gila, berangkat sekolah sepagi ini,"

"Hahaha," tawa seorang satpam, "Hei, bocah. Hati-hati ada yang mengejarmu dari belakang loh~ ada hantu berbaju putih berdarah~ seram~" ledeknya.

"Dia hanya mengincar rambut biru~" ledek seorang lagi.

Kuroko menulikan telinganya. Ia berlari menyebrangi zebra cross yang untungnya masih sepi. Setelah dirasa agak jauh, ia memperlambat jalannya

'Hantu yang kalian maksud itu ada dibelakang kalian tahu,' batin Tetsuya. Ia menepuk kedua pipinya untuk menepis bayang-bayang sosok wanita yang tadi tersenyum menyeramkan kearahnya.

…menyebalkan.

.


.

Tetsuya tidak begitu ingat sejak kapan ia dapat melihat hal yang diluar nalar manusia.

Pertama kali ia melihat hal tersebut, adalah saat ia berumur genap empat tahun, di hari ulang tahunnya.

Tanpa ia sadari, ia bahkan dapat melihat kematian neneknya waktu itu.

Tetsuya kecil belum mengerti tentang kematian, jadi dia hanya memasang wajah datar saat neneknya akan disemayamkan.

Dia tidak mengerti kenapa neneknya harus dikubur didalam tanah.

Dia tidak mengerti kenapa neneknya tidak menjawabnya saat ia berusaha memanggilnya.

Dia tidak mengerti kenapa neneknya tidak kunjung pulang ke rumah setelah upacara pemakaman.

Tetsuya kecil tidak mengerti apapun kala itu.

.


.

"Ranking kedua dan pertama untuk tahun ini…masih dipegang oleh Kuroko Tetsuya dan Akashi Seijuuro,"

Tepuk tangan meriah terdengar dari salah satu kelas di SMA Teiko. Tetsuya menghela napas lega. Setidaknya peringkatnya tidak turun. Beberapa teman sekelasnya mengucap selamat dan dibalas oleh senyum kecil Tetsuya—bukan, dia bukannya sombong, dia hanya tipikal yang lumayan sulit tersenyum tak peduli sebesar apapun euforia kebahagiaan yang tercipta.

"Huh…dia lagi,"

"Dia pasti punya cara curang ya,"

"Kudengar kemampuannya digunakan untuk menyontek loh,"

"Eh masa'!?"

"Serigala berbulu domba,"

"Licik,"

"Dasar ras rambut biru,"

…Tetsuya dapat mendengarnya, namun ia memilih untuk bungkam.

Dia sudah melebihi kata 'muak'.

Bel istirahat berbunyi. Sebagian besar anak-anak keluar kelas dan menuju kantin. Namun Tetsuya memilih duduk di kursinya sambil menarik-narik rambutnya. Menyebabkan beberapa helai rontok, terjatuh dan diinjak olehnya.

'…aku juga benci rambutku tahu…' Tetsuya menggigit bibir bawahnya sambil terus menarik-narik rambutnya.

GREP

Sebuah tangan menghentikan aktivitas tarik-menarik rambutnya. Tetsuya kenal betul tangan ini. Ia melepaskan tangannya dari rambutnya dan mendongak.

"…Akashi-kun,"

Akashi tersenyum simpul, "Jangan ditarik terus, Tetsuya."

Dia tidak pernah bosan mengingatkan sahabatnya itu. Tetsuya sedikit malu. Sebenarnya ia tidak ingin Akashi tahu bahwa ia tengah menarik-narik rambutnya.

"Ada apa? Padahal baru saja belakangan ini kau tidak menarik-narik rambutmu, dan sekarang kau menariknya lagi." Tanya Akashi penuh perhatian.

Tetsuya menggeleng, "Maaf Akashi-kun, aku sudah tidak apa-apa kok,"

Tidak mungkin.

Akashi menghela napas lega. Mungkin Tetsuya hanya belum ingin mengatakan sesuatu. Dan yah, Akashi hanya perlu bersabar.

"Aku tidak akan pernah bosan mengingatkanmu,"

Tetsuya menatap Akashi, yang kemudian menautkan tangannya ke surai biru muda Tetsuya. Membelainya lembut seakan itu adalah harta berharga.

"Rambutmu lebih indah daripada langit sekalipun,"

Ucapan Akashi itu sukses membuat wajah Tetsuya seperti kepiting rebus yang siap dimakan.

.


.

Tetsuya berjalan menuju rumahnya. Entahlah, ia merasa…sedikit bahagia dibandingkan kemarin-kemarin. Seolah bebannya berkurang. Ia jauh lebih hidup meski kalah oleh hidupnya suasana jalanan yang ramai karena hari semakin siang. Anak-anak kecil berceloteh disekitarnya, terkadang mereka melihat Tetsuya dengan wajah aneh, terkadang mengolok-ngoloknya dan menggangunya dengan menepuk-nepuk tasnya.

Ah, ia tidak peduli.

Ia membutakan pandangan dan menulikan telinganya. Dia hanya ingin sampai dirumah dengan tenang.

TUK

Sebuah bola kertas terlempar tepat kearah kepalanya, terjatuh disamping kaki Tetsuya. Ia mengelus kepalanya dan refleks menoleh. Sekumpulan anak-anak tetangga menjulurkan lidah kearahnya. Beberapa ibu-ibu menyuruh anak-anaknya untuk masuk ke dalam rumah dan menatap Tetsuya dengan tatapan benci.

Tetsuya menunduk, kemudian berlari dari sana. Sesampainya didepan rumahnya, ia membuka kunci pintu rumah dan masuk, kemudian menutup dan menguncinya kembali.

Kenapa?

Kenapa keberadaannya sebegitu tidak diterima?

Apa hanya karena ia minor?

Tetsuya kembali menarik-narik rambutnya.

'…kuso,' dua helai rontok dan terinjak.

'…kuso…!' lima helai rontok—

"Rambutmu lebih indah daripada langit sekalipun,"

Tetsuya terhenti saat mengingat perkataan Akashi tadi.

Masih ada…

Masih ada yang mau menerimanya…

Ya, Tetsuya tidak peduli dengan orang-orang itu, yang penting Akashi masih menerimanya.

"Akashi-kun…"

"Arigatou,"

.

CENTRIC 1: KUROKO TETSUYA – does my existence even worth?

END