Warning(s) : Probably-OOC, Gaje, typo, abal bin ajaib(?)

Short of AU, karena alur cerita masih sama seperti alur KagePro, tapi mereka tidak punya kekuatan mata.

High-SchoolAU : Trio Meka-Dan - 1 SMA, ShinAya - 3 SMA

Disclaimer : Sampai saya nangis kejer-kejer sekalipun tetep aja KagePro itu punyanya Jin (Shizen-no-teki P) san :'v


Author : Konnichiwa, minna! saya nggak tau raders lagi baca fanfic ini pas jam berapa, tapi konnichiwa itu waktunya universal~

Mayoi : lama-lama 'ngeles' bakalan masuk dalam daftar hobi dan keahlianmu -_-

Author : Lho, kok tau? cenayang ya? #dor

Mayoi : #RolledEyes terserah, cepat mulai!

Author : Oke, kita Rantingnya di bawah aja~ eh, kali ini ceritanya pakai POVnya Kido.

So~ HAPPY READING!


Hello, Again

KagePro Fandom

KanoXKido

2 of 6

.

.

.

.

.

.

Start/Go?

(What I Want to Have is...)


Hari ini, lebih panas daripada biasanya.

Sengatan matahari menyengat mataku, membakar ubun-ubun. Otakku terasa mendidih, bahkan keringat yang menetes langsung menguap begitu saja. Panas sekali

15 Agustus 20xx, kelihatannya matahari telah menemukan hobi baru : memanggang bumi dan seisinya, termasuk aku.

"Hyaa... Kyou wa hontou ni atsui dayo na..." terdengar pemuda di sampingku bersuara.

Suara itu, suara yang selalu berhasil membuat panas kepalaku.

"Natsu dakara ne..." terdengar pemuda berambut hitam di belakangku bergumam lemah, lemas karena panasnya udara.

"Urgh.. bukan berarti tiap musim panas harus sepanas ini kan..." gerutu pemuda di sampingku lagi, sembari menelungkupkan kepalanya di atas meja. Rambut pirang kusamnya lepek karena keringat.

"Maa... shikattanai wa." Pemuda di belakangku kembali membalas. Jepit kuning yang ia pakai untuk merapikan poninya berkilat-kilat tertimpa sinar matahari.

"Oi, sono kudaranai hanashi o yamete." Gumamku, lebih kepada pemuda bermarga Kano di sampingku. Yaah... Seto 'kan, hanya menanggapi ocehan si bodoh itu.

"Buu... nandayo! Lagipula Sensei tidak akan bisa mendengar kita!" dengan mulut mengerucut pemuda itu berseru pelan.

Aku hanya memutar mataku sebagai tanggapan. Yang dia katakan memang benar. Dia duduk di bangku paling timur di sebelah jendela, satu bangku dari belakang. Aku duduk di sampingnya, dan bangku Seto ada tepat di belakangku. Tidak ada bangku di belakang Kano karena jumlah murid yang ganjil.

"Yang kupedulikan bukanlah Sensei yang berada jauh di depan sana, Bakano. Aku tidak peduli. Oh, tapi aku akan senang sekali kalau beliau datang ke sini dan mendampratmu, lalu menghentikan ocehan tak berartimu." Ucapanku kali ini berhasil membungkamnnya.

Benar, yang kuinginkan adalah ia berhenti berbicara dan bersikap bodoh. Lagipula, pembicaraan tentang suhu udara itu tidak akan mengubah apapun kecuali memperburuk keadaan. Jadi, bukankah lebih baik ia membicarakan hal lain?

Ah, kutarik ucapanku. Yang benar adalah, lebih baik ia menutup mulutnya dan berhenti bicara. Berhenti berbicara dengan suaranya yang memuakkan. Dengan suaranya yang entah sejak kapan selau membuatku kesal. Suaranya hanya akan memperburuk suasana kelas musim panas ini.

Kelas musim panas. Kelas yang diwajibkan oleh sistem sekolah kami untuk diambil oleh murid tahun pertama dan tahun ketiga. Pelajaran yang diberikan diperuntukkan untuk penyesuaian bagi siswa kelas 1 dan persiapan ujian untuk siswa kelas 3. Penting, tapi menyebalkan.

Nah, sudah jelas bukan? Aku tidak butuh suaranya untuk menambah rasa penat di ubun-ubun.

Aku tidak butuh suaranya maupun dirinya yang kubenci.

Aku tidak butuh dirinya, yang kubenci karena tidak bisa kumiliki.


Aah... berisik.

Sekarang waktunya makan siang, dan seperti biasanya, kami bertiga makan bersama di atap. Dan seperti biasanya, 2 pemuda yang bisa dibilang saudara tiriku sedang dikerubungi para gadis. Rasanya seperti melihat kumpulan lebah yang berebutan menghisap nektar saja. Manis, tapi berisik.

Kukunyah telur gulung buatan Ayano-nee-chan pelan-pelan sambil menelaah pemandangan di hadapanku. Gadis-gadis ini, diluar dugaan tidak hanya terdiri dari murid kelas satu, siswi-siswi dari kelas yang lebih tinggi juga termasuk di dalamnya. Kalau dilihat baik-baik, mereka terdiri dari 2 kelompok. Yang satu, dimana kebanyakan anggotanya adalah senior, bergabung menggeromboli Seto. Yaah.. kalau itu sih, sudah bisa ditebak. Gesturnya yang tegap dan sikapnya yang ramah pasti membuat semua orang merasa bisa bergantung padanya. Aku bisa menangkap siratan perasaan kikuk di matanya, tapi seperti biasa, ia tidak pernah bisa menolak orang. Apalagi yang bergender perempuan.

Kulirik gerombolan satunya, tanpa sadar menyerngitkan dahi saat melihat pusat gerombolan itu. Kano Shuuya, hari ini kembali dikerumuni gadis-gadis dari angkatanku. Aku bisa mengenali beberapa wajah mereka yang adalah teman sekelasku. Untuk kelompok yang satu ini, aku masih tidak habis pikir kenapa mereka bisa menyukai Idiot itu.

"Nee... Kano-kun, kenapa bento yang kau bawa dan bento Kido-san isinya sama?"

"Benar, benar. Selain itu, kuperhatikan kalian juga sering bersama! Memangnya apa hubungan kalian?" seperti dipandu, para gadis itu bersama-sama menanyakan hubunganku dengan Kano.

"Hmm... kenapa ya~?"

Seperti biasa, sudut-sudut mulutnya terangkat membentuk seringai. Mata kucingnya yang terarah padaku berkilat jahil. Menyebalkan.

'Jangan macam-macam', kubalas tatapannya dengan pandangan itu. Awas saja kalau dia berani bicara yang tidak-tidak.

Aku tahu kalau semua tatapan gadis-gadis itu terarah padaku, dan aku bisa merasakan tatapan yang penuh... kau tahu, kecemburuan dan nafsu membunuh.

Benar-benar. Apa sih, yang mereka lihat dari dia?

"Omatase shimasuta! Gomen ne, Tsubomi-chan, Kou-chan, Shuu-chan!"

"Aya'nee-chan!" serempak, kami bertiga berseru. Otomatis semua kepala berpaling kearah sosok yang kami sambut.

Tateyama Ayano-nee-chan, yang sering kami panggil Aya'nee-chan, adalah kakak angkat kami bertiga, dan merupakan sosok yang sangat penting bagi kami. Seperti biasa, syal merah kesayangannya melambai lembut ditiup angin. Aku baru menyadari keberadaan sosok lain di belakangnya ketika mengikuti arah gerakan syal merah itu.

Sosok itu, adalah Kisaragi Shintarou-senpai. Pemuda jenius dengan kelakuan yang... tidak terlalu menyenangkan. Aku tidak tahu kenapa ia dan Aya'nee-chan bisa akrab, tapi kenyataan kalau Aya'nee-chan menyukainya adalah bukti kalau ia orang baik. Itu alasan yang cukup bagiku untuk menerimanya.

"Uu... hari ini pelajarannya susah sekali..." sembari membuka kotak bentonya, Aya'nee-chan mulai mengeluh.

"Tidak perlu memakai keterangan 'hari ini', setiap hari kau memang selalu kesusahan mempelajari sesuatu." Gumam Shintarou-senpai datar sebelum menyeruput teh kotaknya. Ada garis hitam samar di bawah matanya. Begadang lagi 'kah ia?

"Buu... Shintarou-kun hidoi! Tidak perlu bilang begitu 'kan? Lagipula hari ini pelajarannya memang susah. Sudah begitu cuacanya panas sekali!" seru Ayanee-chan menggembungkan pipinya.

Oh, jangan bilang kalau mereka akan mulai membahas cuaca lagi.

"itu memang kenyataan, Ayano. Terimalah kenyataannya. Lagipula, tak peduli jika langit cerah, matahari bersinar terik ataupun awan badai menggantung, nilaimu tidak pernah melebihi 56." Semua itu diucapkan Shintarou-senpai dengan nada datar dan wajah tanpa ekspresi, tapi bisa kulihat efeknya yang luar biasa di wajah pucat Aya'nee-chan

"Khukuku... seperti biasa, Aya'nee-chan tidak pernah bisa menang dari Shintarou-senpai!" tiba- tiba pemuda bermata kucing itu angkat suara. Ia berjalan meninggalkan para gadis yang tadi mengelilinginya dan bergabung dengan kami. "tapi... hari ini memang panas sekali sih!" ujarnya lagi saat mengambil tempat di sebelahku. Ia mengerling jahil ke arahku, pertanda sengaja melakukan itu.

"Urghh... kuharap hawanya tidak sepanas ini saat kerja paruh waktu nanti..." Seto yang tiba-tiba sudah berada di sebelah Shintarou-senpai juga mulai mengeluh. Rupanya ia juga sudah meninggalkan penggemarnya.

"Kau juga mengambil kerja paruh waktu di musim panas? Di cuaca yang sepanas ini?" suara pemuda yang lebih tua dua tahun dariku naik satu oktaf untuk menyerukan keheranannya. Itu sesuatu yang langka untuk seorang NEET seperti Kisaragi Shintarou. Pemuda bermata sebening teh di sebelahnya hanya mengangguk.

"Demo Kou-chan, Daijoubu nano ka? Konna atsui na gogo arubaito o kimasu... ii no? Tsukarete naku nai no?" nada suara Ayanee-chan menandakan kalau ia cemas. Sekali lagi, yang ditanya hanya mengangguk, tapi kali ini sambil tersenyum dengan maksud menenangkan kakak kami.

"Hora, hora~ Kyou no tenki no hanashi yamete yo! Dare ka ga okotteru ni natta ga hoshikunai desho?" Mata kucingnya menatapku dengan jahil saat berbicara.

SYUUT!

"Ah, gomen. Sumpitku bergerak sendiri."

Saat mengucapkannya, sumpit di tangan kananku sudah siap melukai 2 bola mata kelabunya, sayangnya ia sempat menahan sumpitku dengan sumpitnya sendiri, tepat satu senti di depan wajahnya yang memucat.

"Tsubomi-chan, dame dayo!" Aya'nee-chan berseru.

"...katakan itu pada orang bodoh di sebelahku yang membuat sumpitku ini bergerak sendiri." Jawabku datar sebelum kembali melanjutkan makan siangku.

Aya'nee-chan hanya menghela nafas, sementara Seto terkekeh. Shintarou-senpai sudah kembali memasang wajah datarnya. Mungkin adegan yang hampir selalu terjadi tiap hari ini membuatnya bosan.

Sekilas aku melirik kerumunan gadis yang ditinggalkan kedua saudara tiriku tadi. Mereka tampak masih ingin berbicara dengan pujaan mereka, tapi juga tampak ragu.

Ah, tentu saja. Nyali mereka pasti ciut begitu melihat Shintarou-senpai yang terkenal dengan reputasinya sebagai pemuda paling judes dan sarkastis dari angkatannya. Siapa yang mau berurusan dengan lidah tajamnya? Tidak ada.

Nah... bukan kah makan siang bersama-sama dengan tenang adalah yang terbaik?


"Ame..." tanpa sadar aku bergumam saat pendengaranku menangkap bunyi rintik-rintik hujan.

"Uwaa... yabe! Kido, kau bawa payung tidak? Aku lupa membawa punyaku.

Aku baru tahu kalau cuaca punya kepribadian, yaitu plin-plan. Bisa-bisanya hari sepanas neraka ini di akhiri dengan hujan dadakan?!

"Kido... kau bawa payung atau tidak?" sekali lagi pemuda itu bertanya padaku.

Sial. Ya, payungku ada di dalam tasku. Ooh... apa aku harus berbagi payung dengannya? Cih, harusnya tadi aku tidak mampir ke perpustakaan dan bisa pulang saat hujan belum turun!

Dimana yang lain?

Seto, pemuda itu sudah pulang dari tadi, terburu-buru karena tak ingin telat untuk pekerjaan paruh waktunya.

Aya'nee-chan berkata kalau ia hendak menjenguk seniornya, bersama dengan Shintaro-senpai.

Tidak ada yang lain. Pemuda itu memang tidak punya pilihan selain pulang denganku. Kecuali...

"Nee, Kido—"

"A-ano... Kano-kun, kasa ga mottenaika?" tiba-tiba muncul seorang gadis, aku yakin kalau dia teman sekelasku, tapi jangan tanya siapa namanya. Aku tidak tahu.

"Ee? Aa...sou, mottenai desu." Jawab Kano. Aku bergegas berjalan mendahului mereka keluar. Benar, pilihan lain yang kumaksud adalah, ia bisa pulang dengan salah satu penggemarnya.

NYUT—

Ah? Apa ini?

Aku merasa ada yang berdenyut dalam diriku. Sakit. Bagian mana? Perut? Dada? Kenapa aku ini?

Kugigit bibir bawahku, berusaha menepis pikiran yang tidak-tidak. Kubuka payungku dan bersiap meninggalkan sekolah.

NYUT—

Lagi. Aku mencoba meraba daerah di atas jantungku. Organ pemompa darah itu masih berdenyut seperti biasa. Kalau begitu, apa yang salah? Jangan bilang...

Aku masih bisa melihat Kano dan gadis tadi lewat ekor mataku. Entah kenapa, nyeri yang kurasakan justru bertambah. Ck, kenapa begini lagi?

Aku kira penyakit ini sudah hilang.

Bukan 'kah aku sudah menghapus perasaan ini?

Aku sudah berusaha membencinya...

Jadi, kenapa rasa ini kembali lagi? Kenapa...

Jangan bilang aku masih menyukainya!

"Kido!"

"Ah!" sontak aku menoleh ke belakang, mendapati bahwa pemilik suara yang memanggilku adalah...

"Kano..."

Dia.


"Hey, tadi kau sengaja meninggalkanku 'kan?" suara pemuda bermata kucing itu memecah keheningan. Dari tadi kami memang berjalan dalam diam, hanya derai hujan yang menyapa pendengaran.

"Menurutmu? " dengan ketus aku menjawab pertanyaannya. Dari tadi aku mencengkram sampiran tasku, menekan dan meremas seragam di bawahnya. Gerakan tidak ketara ini kulakukan untuk mencoba menekan jantungku yang dari tadi berdebar kencang. Aku bisa mendengar dentuman jantungku sendiri di telingaku. Sebetulnya aku tahu, sedekat apapun kami berdempetan di bawah payung ini, ia tidak akan bisa mendengarkan dentuman jantungku. Tetap saja... kumohon, hujan, jangan berhenti!

"Aku tidak tahu, makanya aku bertanya, Kido~" lagi-lagi ia menggunakan nada suara itu, nada yang membuat ucapannya terdengar seperti candaan dan tanpa keseriusan. Menyebalkan.

Kenapa? Kenapa dia tidak mengerti?

"Sengaja atau tidak sengaja, toh, sebetulnya kau bisa pulang dengan gadis tadi 'kan? Untuk apa susah-susah menyusulku?"

"...kemari lah" bukannya menjawab, pemuda itu justru merangkul pundakku dan menarikku kesebelah kirinya. Menukar posisi agar dia yang berada di sebelah kiri jalan.

Sengaja? Atau hanya ingin terlihat sok keren.

Argh... kenapa aku tidak bisa tidak berprasangka buruk padanya?

Kumohon... jangan berbuat baik padaku. Jangan lagi... jangan beri aku harapan lagi!

Jangan sia-sia'kan usahaku untuk melupakanmu.

Biarkan aku merasa cukup dengan keadaan kita saat ini. Aku... aku tidak butuh lebih dari ini... Berhenti di sini sudah membuatku puas.

Lagi pula, apa pedulimu denganku?

"Naa, Kido—ada apa denganmu?" suara pemuda itu menyentakku dari lamunan.

"...Apa maksudmu, hah?" benar, apa maksudmu? Kau tidak pernah peduli padaku 'kan? Bukannya kau lebih menyukai para penggemarmu itu. Kenapa...

Kenapa kau justru baik padaku di saat seperti ini?

"yah... kurasa kau agak... berubah? Dan lagi, belakangan ini kau hampir tidak pernah tersenyum. Bahkan kau tidak tersenyum saat bertemu Aya'nee-chan—"

"bukan urusanmu." Gumamku pelan.

"Ah?"

"BUKAN URUSANMU!" ulangku, kali ini lebih nyaring dari sebelumnya.

"Kido—"

Aku melangkah mundur, keluar dari naungan payung. Kupandangi mata kelabu itu lurus-lurus.

"Apa pedulimu?! Memangnya masalah buatmu kalau aku tidak tersenyum, hah?! Bukankah tiap hari kau sudah dikerubungi gadis-gadis dengan senyum menawan?! Untuk apa meminta senyuman dariku?!"

"Kalau kau memang peduli, kenapa kau lakukan itu?! Menggoda dan mendekati gadis lain. Apa kau tidak mengerti bagaimana perasaanku saat kau tebar pesona di depan mereka?! Itu membuatku muak dan sakit!"

"Kau sudah membuatku menyukaimu, lalu membencimu. Kenapa sekarang kau justru memberiku harapan lagi?! Cukup! Hentikan semua ini!" aku tidak tahan lagi. Sudah lama aku memendam perasaan ini sampai sesak. Dengan susah payah aku menyembunyikan semuanya, dan sekarang, semuanya tertumpah keluar, berputar dalam kepalaku dan kulontarkan begitu saja.

Kalut. Itu yang kurasakan. Segala emosi yang menggelegak dalam kepalaku membuatku tidak menyadari air mata yang mengalir, menyatu dengan air hujan yang mulai membasahiku.

"Hentikan semua ini, Kano Shuuya—!" jeritku tertahan.

Pemuda itu menahan jeritanku, tepat setelah aku meneriakkan namanya.

Aku tidak mengenali rasa asing yang melumat bibirku, atau rasa bergejolak di dalam perutku. Tapi aku tahu apa yang terjadi.

Dia menciumku.

"Mph—lepaskan!" kudorong tubuhnya menjauh. Tapi pemuda itu mendekat lagi, menghimpit tubuhku dengan tembok.

Dia melakukannya lagi. Kali ini, lebih lembut.

"Kh—le- mph—lepaskan!" lagi-lagi aku mendorongnya, hingga ia terhempas jatuh.

"Sudah kubilang, cukup! Berhenti mempermainanku!" aku berseru. Nafasku menderu, mengalahkan suara deras hujan yang membasahi kami.

"Siapa yang mempermainkanmu?"

Ah?

"Aku serius." Kali ini pemuda itu mengangkat wajahnya, memandangiku. Tidak ada siratan bercanda dalam matanya.

"Sudah kubilang, itu urusanku. Aku ingin melihat senyummu. Senyumanmu, dan dirimu, adalah hal paling kusukai." Ujarnya lagi sembari berdiri. Mata kelabunya menatapku, membuatku merasa terperangkap.

Dia serius?

...Bohong. Memangnya kapan dia pernah jujur?

Bohong!

"Bohong!" kata itu terlontar begitu saja.

Apa yang sudah kukatakan? Bodoh! Ah...

Aku berbalik dan segera berlari meninggalkannya. Rasanya aku tidak akan sanggup melihat wajahnya.

Aku tahu ia memanggilku, namun entah kenapa pendengaranku tidak sanggup menangkap suara apa pun. Deru nafas dan deras hujan seakan berkomplot menulikan telingaku. Pandanganku mengabur, entah karena air mataku atau karena hujan, tidak ada bedanya.

Ketika kesadaranku mulai kembali, kudapati diriku sedang menyebrangi jalan.

Aku melihatnya. Lampu lalu lintas yang menyorot merah, dan, truk itu.

Ah—

"KIDO!" Aku mendengarmu berteriak.

—untuk yang terakhir kalinya.

The world turned into pitch black, and stained by the colour of dark, dark red—


Author :... kayaknya aku bakal dibunuh deh...

Mayoi : kenapa?

Author : habis... udah updatenya telat, endingnya juga kayak gitu... O_O

Mayoi : ...

Author : oi, kau dengar tidak?

Mayoi : Ryuu memang sudah cerita, tapi jujur saja, penggunaan bahasa jepangmu banyak sekali -_-"

Author : soalnya aku ga srek kalau mereka pakai bahasa Indonesia =3=

Mayoi : pakai bahasa inggris kan bisa

Author : -_- kuberitahu ya...

-kata Shintarou, bahkan menghitung dengan jari saja Ayano masih kesusahan, apa lagi bahasa inggris o_o"

-aku ga tau riwayat pelajaran bahasa inggris Trio Meka-dan

-Marry memang banyak baca, tapi... yah, yang jelas dia nggak perlu nyari transalate manga/doujinshi karena dia orang jepang, jadi dia nggak perlu belajar bahasa inggris!

-Momo... dia memang Idol, tapi nggak semua Idol di tuntut bisa bahasa inggris kan? Oh, ayolah, dia aja nggak tau apa itu hewan Mamalia -_-

-aku ragu-ragu soal Ene, soalnya waktu dia jadi Takane, yah... tau sendirilah gimana nilai akademisnya. Tapi waktu jadi Ene kan dia tinggalnya di Net, yg bahasa nasionalnya Inggris, jadi dia itu... 50-50?

-Shintarou, oke, aku yakin dia bisa

-Hibiya... mestinya dia bisa sih

-Konoha, oke, sebagai Haruka dia pinter, tapi waktu jadi Konoha, hell, ngomong aja belum lancar -_-

Mayoi : nggak usah ngomong sepanjang itu, buang tenaga. langsung nerjemahin aja napa?

Author : oke...


Dict's :

Kyou wa hontou ni atsui dayo na : Today's really hot

Natsu dakara ne Maa... : it's summer after all

Shikattanai wa : Couldn't help it

Dono kudaranai hanashi o yamete : Stop those unimportant dialogs

Nandayo : What's the matter? (kalau bahas inggris sih, jadinya begitu. kalu kita bilang nya : Apaan sih! :D)

Sensei : teacher

Bakano : plesetannya Baka sama Kano

Bento : Lunch box

Omatase shimasuta, gomen ne : Sorry have make you waiting

Senpai : Senior

'nee-chan : Big sister

hidoi : Maeanie

Demo Kou-chan, Daijoubu nano ka? : but, Kou-chan, will it be fine?

Konna atsui na gogo arubaito o kimasu... ii no? : Taking a part-time job in a such hot day... is it fine with you?

Tsukarete naku nai no? : Won't you be tired?

Hora : hey

Kyou no tenki no hanashi yamete yo! : Let's stop these-day-weather dialog!

Dare ka ga okotteru ni natta ga hoshikunai desho : You don't want to make someone angry, right?

dame dayo : That's no good! (nggak boleh :p)

Ame : Rain

yabe : Damn (Gawat)

kasa ga mottenaika? : You don't have umbrella with you?

Ee? Aa...sou, mottenai desu : Eh? Yeah... right, I don't have it (ada yang tau lagu Ee? Aa... sou-nya Hatsune Miku? #smirk)


Mayoi : panjang...

Author : Banget. -_- kau tahu? aku lagi sebel sama Seto

Mayoi : kenapa?

Author : aku dua kali kena WB gara-gara dia. pertama, dimana dia pakai jepit? kanan? kiri? terus, gimana cara ngegambarin warna mata Seto?!

Mayoi : terus?

Author : tau-tau kak Another dateng dan bilang 'Teh', dan jadilah!

Mayoi : #gdubrak

Author : Eh, Mayoi nggak apa-apa?

Mayoi : nggak apa-apa, cuma pengen membunuh kebodohan mu

Author : jangan... para Readers juga pengen bunuh aku soalnya TAT

Mayoi : tauk ah. ini kapan selesainya?

Author : oh, iya.


PS : Minna, jangan bunuh saya ya, nanti ficnya ga update ;_; trus, keliatannya untuk jangka waktu agak lama, saya nggak bisa update karena tugas dan UTS TAT... GOMEN! Ah, juga, untuk yang reques pair lain, tunggu ya, begitu fic ini selesai, saya usahakan untuk segera memenuhi requesnya.


Author & Mayoi : #bow THANX FOR READING!

Wait for the next update please!

RnR Please? *nunjuk kotak di bawah*