Title:
Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Jung Jaejoon (Juni), Jung Junho (Juno).
Genre: Family, romance, humor.
Rate: T
Disclaimer: They just belong to themselves and God.
Author: Uci chan
Warning! Boy x boy eh, man x man, dan m-preg.
Summary: Ketika Yunho dan Jaejoong sepakat untuk menjadikan malam minggu sebagai malam paling panas untuk keduanya.
...
Jaejoong tidak mampu menahan senyuman di bibirnya saat dia melihat Yunho begitu rajin membantunya menyiapkan makan malam. Pria berperawakan tinggi-besar itu bolak-balik dari counter dapur ke meja makan untuk memindahkan masakan sang istri. Ekspresi wajahnya yang datar namun polos membuat Jaejoong sangat gemas dan semakin ingin mencium sang suami yang sedang serius. Terkadang tawanya meledak saat Yunho kepanasan karena membawa mangkuk besar berisi masakannya dengan tangan kosong, tapi juga dengan begitu cepat suaminya itu membawa mangkuk panas tersebut ke meja makan. Ekspresi wajah Yunho yang menahan panas menurutnya sangat imut.
"Mana lagi yang perlu aku bawakan, sayang?" tegur Yunho yang sudah berdiri di sampingnya. Jaejoong yang sedang menggoreng ikan tersenyum lebih dulu sebelum menjawab.
"Tinggal ini saja. Tugasmu sudah selesai kok," kata pria manis itu dengan senyuman manis yang membuat Yunho mencuri sebuah kecupan singkat di bibirnya. Kemudian mereka buru-buru melihat ke ruang menonton televisi –beruntunglah anak-anak sedang fokus menonton. Jaejoong mencubit pinggang Yunho sebagai tanda bahwa suaminya baru saja melakukan sesuatu yang hampir membahayakan mereka.
Yunho pura-pura mengaduh, padahal cubitan Jaejoong sama sekali tidak terasa di kulitnya. Dia hanya menampilkan senyuman konyol. "Aku nggak mau kamu capek lho," katanya sambil memijit pundak istrinya dengan raut wajah yang dibuat serius. Kontan tawa Jaejoong meledak untuk kesekian kalinya. Dia langsung membungkam mulutnya begitu melihat anak-anak jadi memperhatikan mereka. Jaejoong melambaikan spatulanya pada mereka, menandakan kalau tidak ada yang menarik disana.
"Ah Yunho, kau ini," Jaejoong menyingkirkan tangan Yunho, masih dengan sisa tawanya dia membalikan ikan gorengnya. Dia mendengar sang suami tertawa khas, pelan. Di saat-saat mereka melakukan hal-hal konyol, Jaejoong merasa seperti kembali ke usia belasan tahun yang perasaannya penuh dengan bunga-bunga berwarna pink. Entah kenapa, tapi Jaejoong merasa kalau sekarang dia justru semakin mencintai Yunho. Dia pikir semakin lama bersama suaminya, rasa cintanya kepada pria itu juga semakin besar dan dalam. Dia jadi heran pada beberapa temannya yang sempat bercerita tentang perasaan mereka yang berkurang perlahan-lahan pada suami mereka masing-masing.
"Yea. Aku memang akan mengkau-inimu nanti," Yunho berbisik didekat kepala Jaejoong, dan membuatnya mendapatkan tepukan pelan di kepala. Lalu mereka tertawa bersama sebelum akhirnya Yunho meninggalkan dapur untuk bergabung dengan anak-anak yang kelihatannya semakin penasaran pada interaksi aneh kedua orangtua mereka.
Sepeninggal suaminya, Jaejoong masih tersenyum-senyum. Mengingat bisikan suaminya mendorong wajahnya jadi menghangat. Bagaimana tidak, perkataan Yunho tadi membuat dia berpikir tentang gambaran-gambaran saat mereka sedang bercinta. Oh, sungguh Yunho itu.
Memang sejak tadi pagi mereka sudah sepakat bahwa malam ini mereka akan melakukannya –mumpung pekerjaan Yunho tidak begitu banyak dan esoknya adalah hari minggu. Dan setiap mereka sudah saling sepakat, Yunho pasti akan jadi jauh lebih baik. Membantunya melakukan pekerjaan rumah dengan serius demi membuatnya agar tak lelah. Padahal Jaejoong sudah biasa dengan pekerjaannya, tapi suaminya tetap memperlakukannya demikian –membuat Jaejoong merasa begitu di cintai –meskipun yang ini hanya pada saat-saat tertentu.
Mereka akan menunggu sampai anak-anak benar-benar tidur nyenyak, sehingga mereka tak perlu menunda aktifitas malam mereka karena anak-anak. Biasanya tidak sampai jam 10, Juni dan Juno sudah tertidur, sedangkan Changmin sedikit lebih lama daripada kedua adiknya. Tapi selama ini, mereka tidak pernah mengizinkan anak-anak untuk terjaga lebih dari jam 12 malam. Makanya mereka sudah mantap akan memulainya sekitar jam 12 nanti.
...
Setelah makan malam, Jaejoong kembali dibuat tersanjung oleh Yunho yang mencuci piring dengan raut wajah tak kalah menggemaskan. Dia sambil mengeringkan gelas dan piring yang sudah di cuci Yunho dengan kain bersih beberapa kali menyempatkan diri untuk memperhatikan suaminya. Biarpun tidak setiap hari Yunho melakukan hal demikian, tapi Jaejoong sungguh merasa senang. Melihat suaminya juga mengerjakan pekerjaan rumah seperti sekarang ini hanya membuat perasaannya penuh dan seperti akan meledak sewaktu-waktu.
Begitu mereka selesai dengan dapur, keduanya bergabung dengan anak-anak untuk menonton acara di televisi. Seperti biasa mereka duduk di sofa, bersebelahan dengan jarak yang begitu rapat. Tak lupa pula si kecil yang langsung bergabung, duduk anteng di pangkuan sang ibu.
Mereka dibuat heran karena tak seperti biasanya, anak-anak terlihat serius menonton, bahkan mereka seperti enggan untuk di ganggu barang sedikitpun. Dan setelah mereka ikut memahami jalan cerita film yang di putar disana, barulah mereka tau kalau anak-anak sedang menonton film horror. Kalau Jaejoong tak salah ingat, dia memang sempat mendengar Changmin dan Juni membahas film yang akan mereka tonton setelah makan malam. Ternyata…
Jaejoong menatap Yunho yang langsung peka. Pria tampan itu segera melaksakan apa yang istrinya minta. "Filmnya horror, kan? Nanti nggak berani tidur sendiri lho," katanya, bermaksud memperingatkan anak-anak. Dia dan istrinya pernah dibuat agak kepayahan karena Changmin dan Juni tidak mau tidur di kamar mereka masing-masing setelah menonton film horror. Dan malam ini dia sedang tidak ingin kejadian itu terulang kembali karena dia ataupun Jaejoong harus menunggu anak-anak yang sedang paranoid sampai tertidur.
"Aku kan ada Juno," sahut Juni tanpa mengalihkan perhatiannya dari layar kaca.
"Aku berani kok," Changmin menimpali pula, dan sama halnya dengan sang adik –diapun seperti tak ingin melewatkan satu detikpun adegan dalam film.
Yunho dan Jaejoong saling memandang, dan menghela nafas pelan. Mereka harap-harap cemas tentang kesepakatan mereka malam ini.
...
Hampir jam setengah 12 malam dan anak-anak belum tertidur –kecuali si kecil yang sudah melingkar nyaman dalam pelukan Jaejoong. Changmin dan Juni sambil berbaring masih terus menonton film berikutnya yang kebetulan genrenya sama-sama horror. Putra sulungnya bilang khusus malam ini channel xxx memang sengaja menyajikan film horror untuk penonton. Jadilah mereka masih serius, apalagi film yang kali ini lebih seram dari yang sebelumnya. Sering kali Juni memeluk kakaknya karena tidak ingin melihat beberapa adegan.
Sedangkan dibelakang mereka, sang orangtua terlihat terkantuk-kantuk. Mereka terlihat begitu berusaha menahan diri supaya tidak jatuh tertidur karena bisa saja mereka jadi melewatkan kesempatan untuk malam ini.
Jaejoong mengecek Juno yang dalam dekapannya agak sedikit bergerak. Lalu dia meminta Yunho untuk mengambilkan anti nyamuk lotion di kamar karena sepertinya anak-anak mulai di gigit nyamuk. Setelah kembali, tanpa di minta Yunho langsung mengusapkan anti nyamuk lotion itu kepada Changmin dan Juni yang sempat menggerutu karena ayah mereka menghalangi televisi. Pria itu mengomel sebentar sebelum kembali bergabung bersama istrinya. Dia memberikan anti nyamuk lotion kepada Jaejoong –istrinya dengan telaten dan tanpa mengganggu tidur si bungsu segera mengoleskannya pada tubuh kecil yang justru terlihat semakin nyenyak.
"Filmnya sudah habis kan? Sekarang waktunya kalian tidur," kata Jaejoong sambil berdiri bersama si kecil dalam dekapannya.
Changmin dan Juni menurut. Mata mereka agak merah, terlihat sekali sedari tadi mereka menahan kantuk. Jaejoong jadi merasa lucu dan tertawa pelan.
Yunho juga ikut bangkit, dia menghampiri Juni yang mengernyitkan matanya karena kantuk sambil menggaruk kepalanya. Dia mengangkat si nomor dua dan menggendongnya, mengharuskan Changmin yang paling dewasa diantara ketiganya berjalan lebih dulu ke lantai dua. Setelah mengucapkan selamat tidur untuk orangtua dan adiknya, Changmin menghilang dibalik pintu kamarnya. Yunho dan Jaejoong merasa lega karena biasanya Changmin adalah pelopor adiknya si Juni menjadi paranoid, jadi mereka tidak berani tidur di kamar mereka malah bisa terjaga sampai hampir pagi.
Jaejoong mengusap-usap wajahnya, berusaha menghilangkan kantuknya sementara dia menunggu Yunho yang sedang menyiapkan tidur Juni agar menjadi senyaman mungkin. Tak sampai beberapa lama suaminya menghampirinya dengan senyum penuh arti di wajah tampannya. Jaejoong jadi tak bisa mengabaikannya saja, diapun balas tersenyum dengan lembut dan manis. Lalu keduanya melesat ke kamar mereka.
Keduanya sedang bercumbu saat suara hujan mengguyur atap rumah mereka. Jaejoong mendorong lembut dada telanjang suaminya, memastikan kalau dia sedang tak salah dengar.
"Hujan?" gumamnya –menatap suaminya seperti dia tak yakin dengan pendengarannya sendiri.
"Iya. Pas sekali bukan?" Yunho menjawab dan tak sabar karena pria itu langsung berusaha mencumbu lagi istrinya. Suara hujan dan udara yang menjadi makin dingin justru membuatnya semakin ingin larut dalam suasana panas yang mereka ciptakan sejak beberapa menit yang lalu.
Jaejoong tak menolak, bahkan dia juga membalas ciuman suaminya dengan sensual meskipun ada yang mengganjal di kepalanya. Tapi dia berharap apa yang dicemaskannya tak akan terjadi. Dia agak tersentak saat Yunho mendorongnya sampai telentang, kemudian pria tampan itu sudah kembali mencumbunya makin dalam. Keduanya sudah sama-sama merasa panas, gairah mereka terhubung melalui ciuman basah dan dalam mereka. Jaejoong juga dengan leluasa mendesah atau mengerang dalam ciuman karena suara hujan pasti akan meredam suaranya.
Blarr!
Suara petir membuat Jaejoong kembali berusaha menjauhkan wajah suaminya. Sambil menarik nafas dalam-dalam dia berusaha menajamkan pendengarannya. Sungguh dia sedang mencemaskan sesuatu. Tapi sepertinya Yunho jadi tak peka saat sedang bergairah karena pria itu justru menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher jenjang istrinya. Dia memberikan kecupan yang sensual dan lembut disana, menuntut tenggorokan Jaejoong meluncurkan suara tertahan yang halus. Dia menyentuh kepala Yunho, kemudian memijatnya seiring dengan gigi suaminya yang mulai menarik kulit lehernya.
"Yunho…" Jaejoong memanggil suaminya dengan mata terpejam karena tangan Yunho sudah kemana-mana.
"Hm?" Yunho membalas asal. Dia begitu sibuk menikmati kelembutan leher Jaejoong.
Jaejoong mendesah sedikit, bibir Yunho menghisap kulitnya lumayan kuat. "Juno kan… takut petir," katanya, dan dengan kedua tangannya dia menuntun Yunho untuk mengangkat kepalanya dari dia. Keduanya saling menatap, tanpa penjelasan lebih banyak sepertinya Yunho jadi mengerti tentang kecemasan istrinya. Mereka seperti menahan nafas, menajamkan pendengaran mereka karena suara hujan begitu berisik.
"Itu Juno!" Yunho berseru dan melompat begitu saja dari tempat tidur. Dengan tergesa-gesa pria itu membuka pintu kamar mereka, dan melesat ke kamar sebelah. Jaejoong juga menyusul sambil mengancingkan kemeja tidurnya yang berantakan. Meskipun kehangatan dan keintiman di antara dia dan suaminya harus lenyap, tapi dadanya benar-benar hangat karena suaminya. Pria itu benar-benar mempedulikan anak-anak dengan sangat tulus.
Saat dia sampai di kamar Juni dan Juno, dia melihat Yunho sedang mendekap Juno yang menangis kencang. Sedangkan Juni duduk di pinggir tempat tidur dengan mata mengantuknya. Karena hujan dia tidak begitu menangkap suara tangisan Juno –dia mendekati mereka dan suaminya menyerahkan si kecil padanya. Jaejoong mendekap Juno dan menenangkannya dengan caranya sendiri.
"Bagaimana?" tanya Jaejoong pada suaminya yang sejak tadi memperhatikannya yang sedang menenangkan si bungsu.
"Biar mereka tidur bersama kita," kata Yunho dengan senyum lembut di wajah tampannya. Pria itu langsung membimbing Juni supaya membawa bantal dan selimut. Jaejoong tidak bisa menahan senyumnya, bahkan dia merasa terharu melihat ketulusan sang suami. Yunho dan Juni mendahuluinya menuju kamar mereka.
Jaejoong tidak melupakan si sulung yang mungkin sebenarnya sudah nyenyak di kamarnya sendiri. Tapi dia khawatir kalau listrik akan di padamkan karena hujan di luar semakin deras. Dia membuka pintu kamar Changmin –menghampiri si sulung yang masih bergelung di tempat tidurnya. Dengan hati-hati Jaejoong membangunkan Changmin supaya remaja tanggung itu tidak kaget dan akan membuatnya jadi terjaga.
"Ayo kita semua tidur sama-sama," katanya begitu Changmin berhasil dibangunkan. Remaja itu mengusap-usap matanya yang terlihat masih lengket. Dan seperti tak ingin memprotes Changmin langsung meraih bantalnya. Dia memeluk bantal kesayangannya selama mereka sedang menuju kamar utama. Dibelakangnya Jaejoong tersenyum karena cara berjalan Changmin agak sempoyongan, dan rambutnya berantakan.
Akhirnya mereka berlima tidur bersama, di tempat tidur Yunho dan Jaejoong. Tempat tidur mereka memang luas, jadi mereka tidak perlu merasa sempit. Changmin yang posisi tidurnya berada di tengah sudah mulai menyamankan dirinya dengan mata terpejam –tidak peduli dengan sekitarnya. Juni yang berada disamping kiri kakaknya juga bergerak seperti mencari kenyamanan, dan memeluk sang kakak adalah posisi paling nyaman untuknya –tapi dia jadi harus memunggungi ayahnya. Jaejoong sedang berusaha menidurkan si kecil yang bermain dengan dadanya –dia memandang Yunho yang juga sedang memandangnya. Mereka kemudian tertawa pelan tanpa suara, hanya mereka yang tau kenapa mereka harus tertawa di saat seperti itu.
"Apa kita harus melakukannya di kamar tamu?" kata Yunho dengan berbisik. Dia tau anak-anak sudah nyenyak dan tak akan mendengar bisikannya. Kalaupun mereka mendengar, itu tidak akan menjadi masalah karena dia tidak menggunakan kata-kata yang merujuk kesana.
Jaejoong membungkam mulutnya, menahan tawanya supaya tidak mengganggu si bungsu yang sudah tidur. "Kau ini!" dia balas berbisik, mendelikan matanya pura-pura tak suka meskipun akhirnya dia kembali tertawa dengan suara tertahan.
"Sepertinya permintaanmu itu tidak akan aku penuhi untuk malam ini," Yunho memasang cengiran khasnya yang mengundang tawa lain dari sang istri.
Suami-istri itu akhirnya malah jadi terjaga, mengobrol dengan berbisik yang kadang membuat keduanya jadi tidak nyambung. Mereka sepertinya sama sekali merasa tidak menyesal karena mengesampingkan kebutuhan intim mereka untuk anak-anak yang sekarang ini tertidur begitu nyenyak di antara mereka, bahkan kadang mereka tertawa ketika Changmin mengigau, atau saat Juni berekspresi lucu dalam tidurnya.
Kebutuhan mereka memang penting, tapi anak-anak jauh lebih penting karena tak mungkin mereka bisa menikmati malam mereka sementara anak-anak sedang tak nyaman di kamar mereka karena hujan atau listrik yang tiba-tiba padam.
Blarr!
Terdengar lagi suara petir untuk kesekian kalinya, dan yang kali ini dibarengi dengan keadaan sekitar yang jadi gelap gulita –hanya kadang cahaya kilatan petir seperti menerangi sebentar kamar yang terlihat penuh tapi justru hangat dan nyaman itu.
Yunho menyalakan sebuah lampu di meja nakas yang memang di siapkan ketika listrik padam. Meskipun tidak bisa menerangi seisi ruangan kamar tersebut, tapi setidaknya mereka tidak harus gelap-gelapan.
"Mumpung sedang gelap, bagaimana kalau kita melakukannya disini?" Yunho kembali berbisik, di sertai tawa khasnya pelan.
Di ujung sana Jaejoong juga tertawa akibat perkataan suaminya. "Oh Yunho, kau ini benar-benar—"
"Ya-ya. Aku akan melakukannya dengan benar-benar lain kali," keduanya lagi-lagi tertawa.
Dalam keadaan yang demikianpun mereka masih bisa tertawa dan berbagi kemesraan secara tak langsung. Dan bagi mereka itu sudah cukup untuk mewakili kegiatan intim mereka yang harus dibatalkan. Apalagi anak-anak terlihat sangat manis dengan wajah tidur mereka yang lucu.
...
Pagi-pagi sekali ponsel di dekat bantal milik Jaejoong bergetar. Pria manis itu dengan mata mengantuknya jadi meraba-raba, sempat dia tak sengaja menyentuh wajah Changmin sampai akhirnya dia bisa menemukan ponselnya. Dengan mata menyipit Jaejoong membaca pesan yang masuk dengan malas-malasan. Tapi begitu dia sudah mampu mencerna isi dari pesan tersebut, rasa kantuknya jadi setengah hilang. Dia berencana akan menyampaikan kabar gembira itu pada suaminya saat mereka sudah benar-benar harus bangun nanti. Sekarang Jaejoong masih ingin melanjutkan tidurnya dengan senyuman tipis di bibirnya, menggambarkan perasaan senang dari hatinya. Ternyata hari ini dia dan suaminya masih punya kesempatan itu.
7th Sista 3
Jaejoongie~ noona ingin mengajak anak-anak ke amusement park hari ini. Jam 9 noona akan menjemput mereka ke rumah ^^
...
Fin.
...
Nyaaaahhh~~ Ini hasil pemikiran gila ane selanjutnya. Jung Family nih, kok makin kesini ane rasa keluarga ini makin aneh aja ya? -_- #someone: elu kale yang aneh mah!
Kalo ada typo(s) maafin ya~~
