Warning(s) : Probably-OOC, Gaje, typo, abal bin ajaib(?)

Short of AU, karena alur cerita masih sama seperti alur KagePro, tapi mereka tidak punya kekuatan mata.

High-SchoolAU : Trio Meka-Dan - 1 SMA, ShinAya - 3 SMA

Disclaimer : Kalian tau? kalian akan menyesal kalau hak kepemilikan KagePro berpindah tangan dari Jin-san ke aku :v


Author : Konnichiwa~ akhirnya saya bebas juga dari ulangan. Sialnya, saya nggak bebas dari tugas-tugas dan kegiatan organisasi. Derita...

Mayoi : Hmm, nasib.

Author : Ihik, iya, nasib jadi anak kelas 3 SMA. Minna, saya minta maaf karena nggak kunjung ngupdate ini fanfic. Jangan teror atau bunuh saya ya...

Mayoi : Kau curhat? Yah, terserah saja sih. Tapi kurasa lebih baik kau segera memulai cerita ini.

Author : Iya juga :3. Cerita kali ini nggak sepanjang sebelumnya, dan saya pakai POVnya Kano. So~

Author & Mayoi : HAPPY READING!


Hello, Again

KagePro Fandom

KanoXKido

3 of 6

.

.

.

.

.

.

Pause/Still?

(What I Want to Hear is...)

DRRT! DRRT!

"Ah..."

Getaran halus benda mungil itu berhasil mengagetkanku. Aku mencoba memfokuskan mataku dan mendapati diriku berada dalam kegelapan. Sudah malam kah? Aah... kenapa aku tidak menyadarinya? Yah... kurasa ketidak-sadaranku terhadap waktu adalah pertanda kalau aku melamun.

Dalam keadaan gelap, aku bangkit dari dudukku dan merenggangkan tubuh. Duduk selama... oh, entah lah, aku tidak tahu berapa lama aku duduk. Yang jelas, duduk dalam waktu yang lama termasuk dalam cara-cara terbaik membuat pegal dan kaku tubuhmu. Setelah yakin anggota tubuhku tidak kaku lagi, aku mulai meraba-raba, mencari posisi jendela yang tidak terlihat dalam gelap. Setelah menemukannya, kusibak tirai hijau pucat yang menghalangi cahaya dari luar.

Bulan purnama.

Terang, cantik, dan... entah kenapa, tampak sedih di mataku.

Aah... lagi-lagi pandanganku mengabur.

Mataku terasa panas. Hah, rasanya aku bisa melihat rembulan putih pucat itu berganti ronanya menjadi semerah darah.

Hanya dalam kepalaku, tentunya.


Jam berapa sekarang?

Sudah malam, ya, aku tahu itu. Tapi jam berapa tepatnya?

Benda bulat penunjuk waktu yang tertempel di dinding itu berada di luar radius rambatan cahaya rembulan. Mustahil bagiku untuk membaca angka apa yang ditunjuk jarum mana.

Pilihan tersisa ada pada benda kecil yang baru saja membuyarkan lamunanku. Kukeluarkan ponsel hitam ber-highlight abu-abu pemberian pasangan Tateyama, hadiah ulang tahunku yang lalu.

Senin, 16 September 20xx

02:23

Saat melihat angka-angka dan huruf yang terpampang di layar ponselku, entah bagaimana seluruh panca indraku mulai mendapatkan kemampuannya kembali, tersadar seutuhnya. Tepat saat itu juga, aku menyadari dimana aku berada.

Ini rumah sakit. Lebih tepatnya, kamar tempatmu menginap.

Hey, sampai kapan kau berniat untuk berbaring di sini? Kapan kau akan membuka kelopak matamu, dan melihatku? Sekarang tanggal 16 September. Kau sudah menginap di sini selama satu bulan, kau tahu?

Kulirik layar ponselku lagi. Ah... sekarang aku tahu kenapa tadi benda mungil ini bergetar.

Ada pesan masuk.

Lebih tepatnya, ada 25 pesan masuk yang belum kubaca. Semuanya dikirim dengan selisih 10 menit tiap pesannya. Belum lagi ke-25 pesan itu dikirim oleh sender yang sama, dengan isi yang sama pula. Dasar... siapa yang begitu kurang kerjaan sampai-sampai dia sempat men-spam nomor teleponku, tengah malam begini?

Saat aku tahu siapa pengirim 25 pesan itu, aku langsung menarik dan membuang ucapanku tadi jauh-jauh.

From : Aya'nee-chan

Subject : Kaerou yo

Text : Shuu-chan, hari ini kau tidak pulang lagi? Besok sekolah, tentu kau ingat itu kan? Kau bisa menjenguk Tsu-chan lagi setelah pulang sekolah. Karenanya, pulanglah...

—'Lagi'

Aah... kata itu.

Memang benar adanya penggunaan kata itu.

Ha, aku jadi teringat pada satu bulan yang kulewati tanpa dirimu.

Satu bulan, yang kujalani seperti mayat hidup

Kau tahu, Kido? Aku bahkan tidak ingat apa saja yang sudah kulakukan selama sebulan ini. Yang tersimpan dalam memoriku hanyalah dirimu. Sosokmu yang tergolek lemah, selang infus yang menancap di kulitmu, dan kabel-kabel dari alat penunjang hidupmu yang berseliweran seperti ular di sekitar tempatmu berbaring.

Kuh, aku bahkan bisa menertawakan betepa detilnya aku mengingat letak selang-selang dan kabel itu berada. Ah... tapi aku lebih ingin menertawakan gelombang hijau yang bergoyang mengikuti denyut jantungmu. Bukan kah diriku yang menggantungkan harapan pada alat macam itu, yang notabene-nya adalah benda mati, sangat patut untuk dijadikan bahan tertawaan?

Yah... pantas saja kalau aku hidup selama satu bulan ini tanpa benar-benar hidup. Rasanya waktuku telah berhenti, tepat pada hari itu. Begitu pula dengan ingatan yang digenggam memori ini. Berkali-kali aku memimpikan pemandangan itu. Tubuhmu yang tak bergerak dan bersimbah darah, dan semua itu terjadi karena keegoisanku.

Hey, akan 'kah semuanya berbeda, jika aku lebih jujur padamu?

Akan kah kau tetap berada di sisiku, jika aku mengatakan yang sebenarnya padamu?

Bukan, bukan begitu. Sampai sekarang pun kau tetap berada di sisiku. Ya, aku tahu itu. Tapi apa? 'dirimu' tidak ada di sampingku. Aku tidak bisa menyapamu lagi. Ah... apa yang kutakutkan benar-benar terjadi...

Fuh, kurasa aku mengerti kenapa kau selalu memanggilku 'Bodoh'.

Tanpa bisa kucegah, sudut-sudut bibirku terangkat. Kali ini, bukan seringaian yang terbentuk, tapi sebuah senyuman. Senyuman miris.

"Karena aku memang bodoh."

Benar bukan?


To : Aya'nee-chan

Subject : Gomen ne

Text : Gomen ne Onee-chan. Tenang saja, aku ingat kok, kalau hari ini sekolah. Aku akan pulang pagi ini.

Send –klik

Yes/No? –yes

"Hh... dinginnya.." mungkin karena sebentar lagi musim gugur, belum lagi udara malam yang dingin ini, aku bisa melihat kepulan putih, uap dari helaan nafasku.

"Hei, kau juga kedinginan, huh?" Aku tahu kalau kau tidak akan menjawab, tapi aku tahu kalau kau memang kedinginan. Lihat... masker oksigenmu berembun karena uap nafasmu yang memutih.

Kunaikkan helai selimut itu untuk menghangatkan dirimu. Tanganku terulur, menyibak helaian rambut yang menjuntai menutupi wajahmu. Ah... wajahmu juga dingin.

Didorong keinginan untuk melihat wajahmu lebih dekat, aku membungkuk di atas wajahmu. Hey, jika aku memanggil namamu, akankah 'dirimu' kembali kepadaku?

Dengan pemikiran itu, aku menundukkan wajahku dan mengecup keningmu.

"Mata ne... Tsubomi."

Tidak ada jawaban.

Aah... aku memang bodoh.


"Hari ini kau akan menjenguk Kido lagi?"

Waktunya istirahat makan siang, dan di atap sekolah, hanya ada aku dan Seto. Aya'nee-chan dan Shintarou-senpai masih ada urusan, dan jangan tanyakan padaku keberadaan perempuan-perempuan berisik itu. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu.

"Umm..." gumamku meng-iya'kan.

"Langsung setelah pulang sekolah?"

Ada apa sih, dengan pemuda ini? Jarang-jarang kami bisa menikmati makan siang dengan tenang, dan dia malah mengungkit masalah yang membuat pahit mulutku.

"Hnng... begitulah" jawabku akhirnya.

Jeda sesaat. Aku tahu, lebih tepatnya merasakan kelereng yang warnanya sepekat teh itu mengamatiku dalam diam.

"Kau tahu," pemuda itu membuka mulutnya, "kurasa kau harus menghentikan ini."

"...Hah?"

"Hentikan kelakuanmu itu. Kau tentu sadar kalau kau sudah membuat Aya'nee-chan cemas bukan?" Selagi pemuda itu berbicara, kusadari kalau aku mengerutkan keningku. Bukan, bukan karena aku tidak mengerti arti dari kalimatnya. Aku bisa memahami arti dari tiap kata yang ia katakan, dan aku tidak menyukainya. Ucapannya membuatku kesal.

"Aku tahu perasaanmu, Kano. Kejadian yang menimpa Kido juga membuatku sedih. Tapi itu bukan berarti kau boleh berkelakuan seperti orang hilang dan membuat orang lain khawatir!" Rahangku bergemeletuk mengikuti tekanan dari tiap ucapannya.

—'juga', kau bilang? Ha, jangan bercanda.

"Aku mengerti kalau kau merasa bersalah, belum lagi kau menyaksikan peristiwa itu tepat di depan matamu," ia terus berbicara, "aku, Aya'nee-chan, dan semuanya juga terpukul. Kano, kalau kau terus-terusan seperti ini, menjenguk Kido dan tidak pulang-pulang, tidak jelas kabarnya, kau hanya akan memperburuk keadaan dan membuat kami cemas!"

Hah. Hentikan omong kosong ini.

Aku sudah mencapai batasku.

"Damare." Aku merendahkan suaraku. Pemuda di hadapanku tertegun karena nada suaraku yang kasar.

"...Kano?"

"Diamlah, bodoh. Kau bilang kau tahu? Bah, kau tidak paham, tidak mengerti, dan kau tidak tahu apa-apa, Seto Kousuke!" bisa kurasakan jakunku naik turun tiap kali aku menaikkan suaraku.

"Hah, 'Juga', katamu? Yang benar saja. Jangan samakan perasaanku dengan perasaanmu! Memangnya kau tahu apa? Kau bahkan tidak tahu apa yang aku rasakan! Bagaimana bisa kau bilang 'juga', dan menyamaratakan perasaan kita?!"

"Argh! Mou, kanawanai ya!" merasa frustasi, aku mengacak rambutku.

"Ka-kano..." suara pemuda itu bergetar, pertanda masih terkejut.

Biar saja, aku tidak peduli. Dengan kasar aku mengemasi kotak bekalku dan pergi meninggalkan pemuda itu sendirian.

Shimatta.


Author : Kenapa aku suka banget sama yang namanya cliffhanger ya?

Mayoi : Gantung maksudmu? Mana kutahu, aku bukan cenayang.

Author : Kau kan immortal =3=

Mayoi : Bukan berarti aku tahu semua hal

Author : Iya, iya. Minna, maaf ya, endingnya gantung. Terus, ada ralat sedikit. Hello, Again chapternya saya tambah satu. Jadi total nantinya ada 6 chapter.

Mayoi : Kenapa memangnya?

Author : Sebetulnya chapter 3 itu niatnya panjangan dikit, tapi aku baru sadar... plotnya jadi kepanjangan. Lagian otakku nge-blank pas mau ngelanjutin. Jadinya kupotong di situ, dan lanjutannya ada di chapter berikutnya yang mungkin akan aku update 2 minggu lagi.

Mayoi : Ooh...

Author : Sekali lagi saya minta maaf sama readers-tachi, udah pending kelamaan, belum lagi updatenya kayak begini TAT. Mana tangan editorku keseleo lagi ._.

Mayoi : Kan kamu yang bikin Another keseleo -_-

Author : Bwehehehe, kan nggak sengaja. :v

Mayoi : Hmm, terserah. Nggak ada Dict's?

Author : Ah, iya. Lupa ._.

Mayoi : WUT -_-


Dict's :

Kaerou yo : Go home please (pulanglah)

Gomen ne :Sorry

Mata ne : See you

Damare! : Shut the fuck up! (Damare itu lebih kasar dari pada Urusai ._.)

Mou, kanawanai ya! : Argh, just butt out already! (Bukan urusanmu)

Shimatta : I have done it ( aku melakukannya)


PS : Minna... saya akan berusaha untuk update 2 minggu lagi. doakan semoga saya bisa ya :') terus, curhat sebentar... saya pingin ke MangaFest di UGM! QAQ. Ukh... tapi bisanya tahun dpan, harus nabung dulu... Terus, ada alasan lain kenapa saya nggak update-update. Otak bejad saya ini malah bikin plot baru buat KanoKido #lagi. Yah, nanti di akhir Hello, Again saya kasih tau judulnya.


Author & Mayoi : #bow THANX FOR READING!

Wait for the next update please!

RnR Please? *nunjuk kotak di bawah*