Title: One Day in the Morning

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Jung Jaejoon (Juni), Jung Junho (Juno).

Genre: Family, humor, romance

Rate: T

Disclaimer: They just belong to themselves and God.

Warning! M-preg, Yaoi.

...

Seorang pria tampan yang juga pantas dibilang cantik mulai terusik dari alam mimpinya saat matanya mulai tak nyaman karena terpaan sinar matahari yang menyelinap dari celah tirai jendela di kamarnya. Pria ini lantas membalikkan badannya, dan secara naluriah memeluk sosok pria lain dengan erat. Dia mengusapkan wajahnya di pundak pria itu dengan manja sebelum akhirnya membuka matanya yang tetap terlihat indah meskipun dalam keadaannya yang berantakan.

Jaejoong bangkit duduk dan meregangkan ototnya sebelum tiba-tiba dia seperti tertohok sesuatu. Matanya melebar, dan tubuhnya menegang. Dia melihat jam di dinding sudah menunjukkan pukul 8 pagi. What the…

"Yunho bangun!" teriaknya sambil mengguncangkan tubuh Yunho yang masih belum sadarkan diri. Pria tampan itu mengeluh tapi tidak lekas membuka matanya, justru berbalik membelakangi Jaejoong dan dengan tak tau malu membuang gas. Jaejoong semakin melebarkan matanya, kemudian dia menghajar bokong Yunho. "Bangun! Kau tau sekarang jam berapa huh?!" teriaknya lagi. Kali ini dia menarik-narik kemeja tidur Yunho, sampai membuat si empunya terguncang luar hebat.

"Aduh. Iya-iya ini bangun," gumam Yunho, bangkit duduk dengan mata terpejam. Tangannya dengan tak sadar menjalar ke belakang tubuhnya, merogoh kedalam karet celananya dan menggaruk bokongnya dengan santai.

Jaejoong yang memperhatikannya dibuat jengah. Dia memperingatkan Yunho supaya cepat beranjak dari sana, sebelum buru-buru keluar dari kamar mereka menuju ke kamar anak-anak.

Pertama adalah kamar Changmin. Jaejoong mendorong knop pintu dengan bertenaga, sampai dia hampir tersungkur saat pintunya terbuka. Dan yang dilihatnya disana membuat Jaejoong terperangah. Dia melihat Changmin berbaring di kasurnya, kalau masalahnya Changmin masih tidur Jaejoong tidak akan sekaget ini. Tapi ini justru Changmin sedang bermain dengan laptopnya dengan gaya terlalu santai, dan memasang cengiran di wajahnya saat melihat Jaejoong ada disana.

"Changmin apa yang kau lakukan?!" Jaejoong menghampiri Changmin. Dia terheran-heran dengan putra sulungnya ini.

"Ngegame dong Omma," jawab anak laki-laki berusia 14 tahun tersebut.

"Kau tau ini jam berapa? Kenapa bukannya siap-siap ke sekolah kau justru bermain game?!" Jaejoong merebut laptopnya yang semalam di pinjam Changmin, sampai anaknya itu mengeluh begitu keras. Dia membawa laptopnya ke meja belajar Changmin, menutupnya dan menyimpannya disana.

"Aku bangunnya telat, Omma jadi sekalian deh aku nggak masuk," kata Changmin beralasan. Dia turun dari tempat tidurnya untuk menghampiri Jaejoong yang berdiri didekat meja belajarnya sambil melipat lengannya di dada. "Kan biasanya Omma yang membangunkanku," Changmin memasang wajah tidak bersalahnya, malah kata-katanya seperti ingin menyalahkan Jaejoong secara tak langsung.

"Kau ini ya, pintar sekali cari alasan," gerutu Jaejoong kemudian dia beranjak keluar menuju ke kamar si nomor dua dan si bungsu. Dia tidak seburu-buru tadi. Kalau Juni tau Changmin tidak sekolah padahal sedang tidak sakit, dia akan ikutan tidak mau sekolah. Makanya dia hanya ingin memastikan apakah dia dan adiknya sudah bangun.

Jaejoong mendorong knop pintu dengan lembut kali ini, dia mengintip ke celah yang dibuatnya. Dia melihat dua anaknya itu sedang bermain di atas kasur. Jaejoong mendorong pintunya lebih lebar dan masuk kedalam kamar. Si bungsu menyambutnya dengan gembira. Dia melompat dari kasurnya yang tidak begitu tinggi, tapi cukup membuat Jaejoong sempat menahan nafasnya –khawatir kalau si bungsu akan jatuh. Kaki kecilnya mendekati Jaejoong, berdiri tepat didepan kakinya dan mendongakan kepalanya. Balita itu membuat cengiran diwajahnya, terlihat begitu manis. Jaejoong jadi seperti meleleh. Dia lekas membungkuk dan menggendong anak bungsunya tersebut. Tidak dia lewatkan juga untuk menciumi Juno dengan gemas, sampai balita itu tertawa-tawa. Berkat Juno, Jaejoong jadi lupa akan ketegangannya. Dia memberi isyarat pada Juni supaya mendekat dan putra kecilnya itu menurut. Jaejoong mengecup puncak kepalanya sebelum membimbingnya keluar kamar.

"Ayo turun, Changmin," katanya saat melintasi kamar Changmin yang masih terbuka. Si sulung itu tidak menulikan telinganya, dia langsung mengekor pada ibu dan adiknya. Jaejoong baru saja akan menuruni tangga saat dia sama sekali tidak mendengar suara dari kamarnya yang letaknya paling dekat dengan mulut tangga. Dia mencium sesuatu yang tidak beres disini.

Dia menyerahkan Juno pada Changmin, dan meminta anak-anak mereka untuk turun lebih dulu. Sementara dia masuk ke dalam kamar dengan aura gelap kemana-mana. Anak-anak sudah keluar dari kamar mereka, bahkan mereka sudah ada dibawah tapi ayahnya justru masih melanjutkan tidurnya dengan posisi yang agak aneh. Agak menungging. Jaejoong tidak habis pikir meskipun dia merasa Yunho sangat imut. Kalau saja mereka dalam kondisi yang lebih bagus, dia akan menyerang Yunho dengan ciuman mautnya. Tapi kali ini berbeda, Yunho bukannya harus melakukan hal konyol begini.

"Yunho!" Jaejoong menepuk pantat Yunho, dan agak was-was kalau tiba-tiba Yunho akan buang gas seperti tadi.

"Hm?" Yunho hanya membuka sedikit matanya, malas sekali.

"Apa kau tidak akan bekerja hari ini?!" kata Jaejoong agak kesal. Dia mendorong tubuh Yunho dari samping, dan suaminya itu ambruk dengan posisi miring menghadap ke arahnya.

Yunho membuka matanya, dan berkedip sangat pelan. "Sepertinya tidak," jawabnya enteng.

Jaejoong membuka mulutnya, terperangah. Tumben sekali Yunho ingin absen begini. Dia duduk di pinggir tempat tidur, menatap Yunho jengah. "Kenapa? Mulai malas bekerja, huh?"

Bukannya menjawab, tangan Yunho malah berkeliaran dan hinggap di paha Jaejoong. Dia mengusap-usap paha istrinya sambil tersenyum-senyum. Jaejoong semakin dibuat jengah melihatnya. Dia menyingkirkan tangan Yunho, dan memasang ekspresi kalau dia merasa iritasi. "Pagi-pagi udah genit," gerutunya, tapi tidak sungguh-sungguh. Dia hampir tersenyum saat melihat Yunho duduk dengan sigap dan langsung mencium bibirnya, tidak lama namun menuntut.

"Dari tadi aku ingin melakukannya," kata Yunho sambil turun dari tempat tidur. Dia berdiri didekat Jaejoong karena harus memakai sandal lantainya.

"Huh?"

"Saat aku enak-enak tidur, dan mulutmu membangunkanku, aku jadi benar-benar ingin memakan mulutmu," Yunho tersenyum konyol kemudian melarikan diri ke kamar mandi sebelum Jaejoong menyerangnya.

Jaejoong melebarkan matanya, kesal. "Jadi maksudmu supaya aku tidak punya mulut lagi kan?!" teriaknya yang di susul suara tawa Yunho dari dalam kamar mandi. Jaejoong tersenyum mendengar tawa Yunho yang begitu khas. Biarpun hari ini dia bangun sangat terlambat dan semua tidak ingin pergi ke sekolah dan bekerja, tapi Jaejoong merasa tidak harus membuatnya jadi sulit. Mungkin hari ini memang kesempatan untuk mereka berkumpul dari pagi selain hari minggu. Walaupun jadi tak bagus karena semuanya absen, tapi Jaejoong akan menikmati hari ini bersama suami dan anak-anaknya.

...

Fin.

...

Thanks for the attention and sorry if I've made much mistake here ))))