UPDATE~! XD
Thanx for the reviews and the waits!
Warning(s) : Probably-OOC, Gaje, typo, abal bin ajaib(?)
Short of AU, karena alur cerita masih sama seperti alur KagePro, tapi mereka tidak punya kekuatan mata.
High-SchoolAU : Trio Meka-Dan - 1 SMA, ShinAya - 3 SMA, HaruTaka -Graduated
Disclaimer : Nggak udah dikasih tahu, semua udah tempe (tahu) kalau yang punya KagePro itu Jin-san ._.
Bold : Penekanan
Italic : Bahasa yang bukan bahasa Indonesia
Bold + Italic : Ya... dua-duanya ._. #Plak
No skip time. Setelah chapter 3, langsung kesini, tidak ada waktu yang di skip. Oh, ada ding, tapi cuma sebentar, sejam aja nggak nyampe =A= #plak
POV orang ketiga
Now, HAPPY READING!
Hello, Again
KagePro Fandom
KanoXKido
4 of 6
.
.
.
.
.
.
Re-Do/Re-Start?
(What I Want to Do is...)
"Konnichiwa, Kido."
Nampak seorang pemuda berambut pirang kusam melenggang masuk tanpa suara ke dalam salah satu kamar di antara ratusan kamar di bangsal rumah sakit. Pemuda itu menutup pintu bernomor 301 di belakangnya, dan dengan langkah ringan ia mendekati ranjang besi di samping jendela. Sosok yang terbaring di atas kasur itu adalah Kido Tsubomi, korban kecelakaan yang sudah dirawat di sana selama 1 bulan. Selama satu bulan itu pula, gadis berambut hijau emerald itu tergolek lemah dan belum juga membuka matanya.
Hari ini, Kano Shuuya kembali menjenguknya. Padahal kemarin malam pemuda bermata kucing itu sudah menginap di ruangan yang sama, dan baru saja pulang pagi tadi. Pemuda itu termasuk beruntung karena tidak ada ketentuan jam besuk untuk pasien opname.
"Nee, nee, Kido, shitteiru? Bisa dibilang hari ini aku bertengkar dengan Seto." Ujar pemuda itu setelah mendudukkan diri di kursi kecil, tepat di sebelah kepala Kido terbaring. Seulas senyum terbentuk di bibirnya. Sebuah senyuman yang tidak mencapai mata kelabunya. "Ah, kitto shiranai desu yo ne? Kalau kau tahu, pasti kami berdua sudah kau ceramahi habis-habisan ya!" lanjutnya.
Tidak ada balasan, tentu saja. Namun, pemuda itu justru menyandarkan kepalanya di kasur, melanjutkan monolognya dan masih memasang senyum jokernya.
"Aku rasa dia marah karena aku terus-terusan menjengukmu. Hey, hey, apa menurutmu Seto cemburu?" kali ini pemuda itu terkekeh atas pertanyaannya sendiri.
Dia memiringkan kepalanya, mengamati wajah gadis yang terbaring di hadapannya. Dada gadis itu naik turun perlahan, mengikuti irama lembut tarikan nafasnya. Luka-luka dan memar yang dulu menghiasi sekujurnya tubuh itu kini sudah menghilang tak berbekas, meninggalkan kulit putih pucat tanpa cela. Mau tidak mau pemuda bermarga Kano itu harus mengakui bahwa raut muka gadis itu terlihat lebih damai dalam tidur panjangnya.
Nyaris tidak mengubah posisinya, pemuda itu meneruskan percakapan satu pihaknya, suatu rutinitas yang sudah dia lakukan sejak Kido Tsubomi mengalami koma. Kano terus menceritakan kejadian yang terjadi hari itu. Bahkan ia menceritakan bagaimana ia berbohong kepada gurunya agar diperbolehkan pulang lebih awal.
"Yah... kurasa aku tidak akan tahan berada di dekat Seto setelah pertengkaran itu untuk beberapa saat. Toh, aku yakin Seto sendiri juga merasa tidak nyaman berada di dalam ruangan yang sama denganku. Lebih baik aku pulang dan menemanimu kan?" pernyataan—yang diakhiri oleh pertanyaan retoris yang dilontarkan Kano menjelaskan kenapa pemuda itu bisa berada di rumah sakit di saat seharusnya dia masih berada di sekolah, dan mengapa dibalik jaket hitamnya, ia masih mengenakan seragam sekolah.
Waktu terus berlalu. Kano masih saja mengenggam tangan Kido sambil terus bercerita. Mulutnya masih membentuk senyum yang terkesan permanen itu. Matanya justru mengatakan hal lain. Sedikit lagi, sorot kelabu itu akan berubah menjadi sepasang kelereng kelam tak berdasar. Bola mata yang melihat tapi tidak melihat. Mati.
"Kido... apa yang kau lihat dalam mimpimu?" tiba-tiba kestabilan suara pemuda berambut pirang kusam itu terguncang. Sudut-sudut bibirnya masih terangkat, namun kurva yang terbentuk mulai melandai. Bahkan bibir bawahnya bergetar pelan.
Ada satu emosi yang mulai mewarnai kelereng kelabunya. Kalut. Pupilnya melebar dan menyempit, seakan berjuang untuk menahan sesuatu.
Menahan apa?
"Apa yang kau lihat dalam mimipimu?" kini tangan pemuda itu juga bergetar. Sudah tidak ada senyum lagi di wajahnya. "Apakah aku ada di dalam mimpimu?"
"Apakah kau bermimpi indah? Kalau itu benar, kau pasti senang sekali..." nafas pemuda itu tercekat di tenggorokan. "Belakangan ini aku bermimpi buruk..."
"Kalau mimpi yang kau lihat adalah buaian yang indah, maukah kau bangun, dan menceritakannya padaku?" pemuda itu mengangkat kepalanya dari kasur, dan melanjutkan, "Sekali-sekali kau harus membagi mimpimu dengan diriku yang dilanda mimpi buruk ini..."
"Mimpi yang kulihat benar-benar tidak lucu, kau tahu? Hari itu, saat kau tidak mau—dan tidak bisa menyapaku lagi, aku memimpikan hari itu. Tentu kau ingat kalau hari itu hujan turun dengan lebatnya, bukan? Dalam mimpiku, bukan langit mendung yang kulihat. Langitnya justru sangat cerah, dengan bulan purnama... bulan purnama yang ronanya semerah darah. Gila 'kan?"
"Meskipun begitu, aku tidak mempedulikan abnormalitasi yang terjadi pada rembulan. Saat itu aku memanggil-manggil namamu, dan tiba-tiba aku mendapati dirimu muncul di belakangku. Padahal aku tahu benar kalau tubuh yang tergeletak di depanku adalah tubuhmu, begitu juga sosok yang berdiri di belakangku."
"Aku melihat bibirmu bergerak,tapi aku tidak bisa menangkap apa yang kau ucapkan. Dan saat aku berbicara padamu..." Suara pemuda itu timbul tenggelam. "...Kau menggelengkan kepalamu... seakan-akan kau tidak bisa memahami ucapanku..."
"Saat itu... apa yang kau ucapkan, Tsubomi?" ketika pemuda itu mengatupkan bibirnya, setetes air mata meleleh dari sudut matanya.
Cepat-cepat Kano mengusapnya dan mengeringkan jejak basah di wajahnya. Dilepaskannya tangan Kido dan ia pun menangkupkan tangannya di wajahnya sendiri. Terdengar suara nafas yang dihela dalam-dalam dari sela-sela jarinya. Ketika pemuda itu mendongakkan wajahnya, senyum palsunya kembali terulas.
"Aku mau beli minum dulu. Chotto matte ne, Kido."
Seakan tidak terjadi apa-apa, Kano membuka pintu dan keluar tanpa suara, persis seperti saat ia masuk.
"Ara, Kano?"
Di depan mesin penjual minuman, berdiri seorang gadis berambut hitam legam yang dikuncir dua. Yang dipanggil namanya pun berjalan mendekat dan memasang seringai lebar seperti biasa.
"Ossu, Takane-san."
Takane Enemoto. Senior yang baru saja menamatkan pendidikan wajibnya itu mengenal Kano lewat Ayano. Tentunya, Seto dan Kido juga mengenal Gamer yang menjadi sahabat karib kakak tiri mereka.
"Kenapa kau di sini? Bukannya sekolah musim panas baru akan selesai setengah jam lagi?" Mata Takane memincing ke arah pemuda di sebelahnya sambil memencet tombol di mesin penjual minuman, menyadari kalau pemuda yang bisa di bilang juniornya itu masih memakai seifuku.
Kano menyeringai lebar sebelum menjawab pertanyaan gadis yang lebih tua 3 tahun darinya. "Yaah, aku rasa tidak ada yang salah kalau aku ingin pulang sedikit lebih awal di hari yang panas ini."
Mata Takane melebar selagi dia mencerna arti perkataan pemuda bermata kucing itu. Tidak perlu waktu yang lama untuk mendengar tawa yang keluar dari mulut gadis itu, disusul oleh kekehan Kano.
"Dasar. Oh ya, kau mau?" Kaleng yang diulurkan Takane mendapat balasan berupa raut penuh tanda tanya dari Kano.
"Yang kubutuhkan cuma dua kaleng." Jelas gadis itu sambil mengedikkan kepalanya ke arah stiker yang tertempel di sudut atas vending machine. Tertera 'Beli dua gratis satu'. Mengangguk paham, Kano menerima kaleng itu.
"Satunya lagi untuk siapa?" Mata kucing pemuda itu berkilat jahil saat mengucapkan pertanyaannya.
Menangkap arti dari kilatan di mata Kano, refleks Takane merengut dan berseru, "Haruka, siapa lagi?! Di-dia yang minta!" Pemuda di hadapannya hanya terkekeh sebelum membuka kaleng di tangannya dan meneguknya.
"URGH—!"
Terdengar suara batuk yang tertahan di tenggorokan Kano. Segera saja dia menarik kaleng minuman yang menempel di bibirnya dan untuk pertama kalinya benar-benar melihat jenis minuman yang baru saja ia tenggak. Tangannya terangkat untuk mengusap bibirnya yang agak berlepotan akibat hampir memuntahkan minuman yang sekarang sedang ia telan dengan susah payah. Mungkin ini adalah penggambaran yang tepat untuk pepatah yang mengatakan bahwa rezeki pun perlu di waspadai.
Black Coffee
Mata kucing Kano bergulir cepat ke arah tulisan yang lebih kecil dari tulisan pertama yang ia baca.
100% Sugarless
Kini ia paham kenapa minuman di tangannya terasa begitu pahit di indera perasanya. Seingatnya, Black Coffee biasa masih memiliki citra rasa kopi yang menyamarkan rasa pahitnya, tapi kopi kaleng yang ia pegang ini berbeda. Sama sekali tidak ada gula. Wajar saja kalau tadi dia nyaris memuntahkan minuman itu. Kesal, ia melirik tajam ke arah gadis yang memberikan minuman yang berhasil membuat pahit mulutnya.
"Kau belum pernah minum Sugarless Black Coffee?" agak geram juga Kano ketika ia mendengar pertanyaan yang dilontarkan Takane. Kenapa? Karena pemuda itu bisa menangkap keheranan yang disuarakan oleh Gamer di depannya. Satu lagi, tidak ada nada bersalah dalam ucapannya.
"Tentu saja belum." Jawaban Kano memang diiringi dengan sebuah senyuman, tapi sudut-sudut bibirnya nampak berkedut menahan amarah.
Takane hanya menyeringai geli melihat kelakuan pemuda berjaket hitam itu. Tidak, bukannya dia bermaksud untuk menjahili pemuda di hadapannya. Lagipula, yang memesan minuman itu Haruka, dan bagaimana pun juga, ia merasa Kano tidak punya hak untuk memilih. Hey, yang di pegang pemuda itu minuman gratisan lho.
"Kuh, ya maaf kalau begitu, aku kan tidak tahu. Yang memesan minuman ini 'kan Haruka, bukan aku!" setengah minta maaf, setengah mengelak, Takane mengucapkan itu sambil tertawa pelan.
"Haruka-san yang memilih?" pupil mata Kano melebar karena tidak percaya pada penyebutan nama senior lain. Jujur saja ia agak sulit menerima kenyataan bahwa pemuda seperti Kokonose Haruka akan memesan sekaleng Black Coffee, apa lagi yang tidak bergula. Menurutnya, image pemuda yang juga ia kenali lewat kakak tirinya tidak lah sesuai untuk menjadi penyuka kopi hitam atau minuman pahit lainnya.
"Sulit dipercaya..." merasa ada sesuatu yang basah di bibirnya, refleks Kano menyapukan lidahnya di daerah itu. Mengasumsikan cairan yang ada di bibirnya sebagai sisa kopi, pemuda itu bersiap-siap untuk menyapa rasa pahit di ujung indera perasanya.
"...Ah?"
Cairan yang tersisa di bibir pemuda itu memang kopi, tapi rasa pahit yang diekspektasikan Kano tidak kunjung datang. Apa yang dikecap lidahnya sangatlah jauh dari kata pahit. Tangannya terangkat saat mencoba mengidentifikasi rasa itu. Manis? Bagaimana bisa?
"Enak kan?"
Masih agak kebingungan, Kano menoleh ke arah gadis berambut hitam itu. Yang dilihat? Gamer yang terkenal dengan julukan The Lightning Dancer itu sedang memasang tampang puas.
"Kok bisa? Tadi rasanya pahit sekali, dan—"
"Sekarang justru terasa manis?" potong Takane. Pemuda di hadapannya mengangguk heran. "Itulah alasan kenapa Haruka suka kopi ini." Imbuh gadis itu sambi mengangkat kaleng kopinya sendiri.
"Jadi... rasanya akan berubah kalau dimuntahkan?" kelakar Kano.
"Mattaku, are janai yo, baka!" cetus Takane sambil memutar bola matanya. "Rasanya akan berubah kalau didiamkan sebentar." Jelasnya sambil mendengus kesal.
"He~" seringai lebar kembali terpampang di wajah Kano. "Pantas saja Haruka-san menyukai kopi ini."
"Hmn. Aneh sekali bukan? Sesuatu yang pahit, bisa berubah menjadi manis kalau disimpan dan didiamkan." Gumam Takane. Gadis berambut hitam itu tidak menyadari efek ucapannya pada Kano.
"Ya... memang aneh." Gumam Kano pelan, sampai-sampai Takane tidak mendengar gumamannya. Seringai yang menjadi ciri khasnya menghilang sesaat, dan langsung muncul lagi ketika ia menoleh ke arah Takane.
"Sepertinya aku harus kembali, Takane-san. Terima kasih untuk kopinya!" seru pemuda itu sebelum berbalik.
"Kembali? Ah—salam untuk Kido ya!" hanya sekilas, tapi Takane sempat melihat pemuda itu membeku pada penyebutan nama saudara tirinya. Namun dengan cepat Kano menoleh, tersenyum dan mengangguk seakan hal itu tidak mengganggunya.
"Mada owaranai no ka..." gumam Takane saat punggung pemuda berambut pirang kusam itu menghilang.
'Sesuatu yang pahit, huh...' kelereng kelabu pemuda itu memandangi kopi di tangannya, berjalan pelan ke arah kamar yang dikunjunginya beberapa saat yang lalu. 'Kenapa aku jadi memikirkan kalimat itu terus?'
Pemuda itu mengalihkan pandangannya ketika menyadari bahwa ada orang lain yang berdiri di depan ruangan yang ia tuju. Dan, Kano mengenali sosok dengan tangan bersedekap dan wajah bersungut-sungut tersebut.
"Dari mana saja kau?" ketus orang itu.
"Shintarou-senpai?" Kano memastikan bahwa matanya tidak salah.
"Ya, aku. Siapa lagi?" Judes seperti biasanya, pemuda bermarga Kisaragi itu mendelik ke arah Kano. Sepertinya dia sudah lama menunggu kedatangan pemuda berambut pirang kusam itu. Buktinya, dia terlihat kesal. "Sekarang, jawab pertanyaanku." Imbuhnya datar dan tegas.
"Ehm... dari beli minum." Jawab Kano pelan. Tangannya mengangkat kaleng kopinya yang belum habis untuk membuktikan kalau dia tidak berbohong.
"Hmph." Retina kelam pemuda itu berkilat mengancam saat ia mendengus kesal, membuat pemuda yang berusia dua tahun lebih muda di hadapannya tersenyum gugup.
Sepertinya pemuda NEET itu masih ingin mencerca lagi, tapi ia mengurungkan niatnya ketika matanya menangkap gerakan gagang pintu kamar ke-301 yang berputar dan terbuka perlahan, menampakkan sosok lain yang keluar dari ruangan tersebut. Sosok itu terlebih dulu membelakangi kedua pemuda itu untuk menutup pintu sebelum akhirnya berbalik, mendapati dirinya tengah menjadi fokus pandang Shintarou dan Kano.
"A-ano... doushitanda?" tanya sosok itu gugup, nyaris mencicit.
"Iie, nande monai yo, Aya'nee-chan." Kembali memasang senyum khasnya, Kano menjawab pertanyaan orang itu, yang tak lain dan tak bukan adalah kakak tirinya sendiri, Tateyama Ayano.
"Shuu-chan!" Agak kaget juga pemuda berambut pisang kusam itu saat gadis itu menyebut nama depannya dengan tegas.
"Ha-hai?"
"Doko datte iku no?! Pulang lebih awal tanpa memberi tahu Nee-chan, kau mau membuatku jantungan ya? Nee-chan cemas tahu!" Bertubi-tubi Ayano menceramahi Kano. Syal merah yang melingkari lehernya bergetar mengikuti gerakan bahunya yang berguncang menahan marah.
"E-eh... Go-gomen, Nee-chan..." pupil bola matanya yang seperti kucing itu melebar penuh rasa bersalah.
"Gomen tte iu na!" tukas gadis itu. Nada suaranya yang tegas membuat dua pemuda di hadapannya refleks mengambil satu langkah ke belakang. "Jangan ulangi lagi... nee?" kali ini, suara Ayano lebih lembut dari pada sebelumnya.
"Um..." pemuda bermata kucing itu mengangguk sambil tersenyum untuk menenangkan saudara tirinya.
"Nee, Shuu-chan..."
"Ya?"
"Hari ini... kau akan menginap di sini lagi?" hati-hati Ayano mengucapkan pertanyaannya. Gadis bersyal merah itu sudah mendengar cerita tentang 'percakapan' sengit antara dua adik laki-laki tirinya. Dia sangat menyadari kalau topik ini terasa sensitif bagi lawan bicaranya.
Samar, pupil mata Kano melebar saat mendengar pertanyaan itu. Dia tidak menyangka akan ditanyai seperti itu. Pemuda itu tahu dia sudah membuat kakak tirinya cemas. Dan, dia paling tahu tentang kenyataan bahwa dirinya yang tidak suka membuat orang lain khawatir.
Sebetulnya pemuda berambut pirang kusam itu mengeti, bahwa kekeras kepala'annya untuk tetap berada di samping Kido tidak akan mengubah apa pun. Semua yang dia lakukan tidak lebih dari sekedar usaha untuk memuaskan egonya. Tapi, dia tetap melakukannya.
Memangnya salah? Dosakah itu, jika dia berkeinginan untuk selalu berada di samping orang yang dia sukai? Apa yang salah dengan itu? Tindakannya memang egois, tapi dengan segala sirkumtasi yang terjadi, bukan kah itu hal yang wajar? Dia tidak ingin membuat orang lain cemas, tapi dia juga tidak ingin membuat hatinya sendiri resah karena tidak mengetahui kabar Kido. Bukan maksudnya untuk melukai orang lain, dia hanya tidak ingin membuat dirinya tersakiti. Dia tidak ingin terikat atau merasa tersiksa seperti dulu. Dia muak merasa sakit. Resah, kalut dan bimbang, dia benci semua perasaan itu. Dia tidak mau merasakannya, rasa yang getir dan pahit itu.
Kenapa?
Karena dia takut.
Pahit. Dia tidak ingin merasakan itu.
"Nee, Shuu-chan...?"
Pada penyebutan nama depannya, otak pemuda bermata kelabut itu berhenti membentuk pembelaan atas tindakannya. Terlalu banyak kata tapi. Dan, pada akhirnya dia tetap merasakan rasa itu kan? Pahit.
Perlahan, Kano mengulas seringai yang sudah menjadi trademarknya sebelum menjawab, "Hng... kemarin aku sudah menginap... Koyoi wa ie ni nemuritai to kanjita zo."
Demi mendengar jawaban saudara tirinya, Ayano menghela nafas lega seblum tersenyum dan berkata, "Kalau begitu kita pulang bersama saja! Setelah ini aku hendak menjenguk Haruka-senpai. Kau mau menunggu 'kan?" yang ditanya hanya mengangguk.
"Kutunggu di sini." Masih tersenyum lebar, Kano menepi. Kalau memang gadis bersyal merah itu hendak menjenguk seniornya, posisi dimana dia berdiri sebelumnya meghalangi jalan.
"Jaa, chotto matte ne!" Ayano sudah mengambil beberapa langkah sebelum berhenti dan berbalik, menyadari kalau temannya tidak mengikuti. "...Shintarou-kun?"
"Kau duluan saja." Tidak melihat ke arah Ayano, pemuda NEET itu justru memincingkan matanya ke arah pemuda lain. Ketika akhirnya dia melihat ke arah si gadis yang kebingungan, Shintarou membuka mulutnya dan berkata, " ada yang ingin kubicarakan dengan adikmu."
'Adik?' batin Kano. 'Tidak mungkin sempai sedang membicarakan Kido. Kalau aku... memangnya apa yang mau dibicarakan denganku?' dibuangnya kaleng kopi yang sudah kosong ke tempat sampah sebelum melangkah ke arah kamar nomor 103. 'Mungkin yang dimaksud Seto.' Simpulnya.
"Oh, baiklah." Gadis itu merapikan letak syal merahnya setelah mengangguk paham, dan berbalik, kembali berjalan ke arah tujuannya.
"Mau kemana kau?" nada datar pada pertanyaan pemuda berambut hitam itu membuat Kano yang sudah meraih gagang pintu menghentikan gerakannya. Ragu-ragu pemuda bermata kucing itu berbalik dan mendapati retina kelam seniornya yang menatap tajam ke arahnya.
"Eh?"
"Aku bertanya padamu, kau mau kemana? Sudah kubilang kalau ada yang ingin kubicarakan denganmu." Ketus Shintarou
"Uhm... kukira senpai mau berbicara dengan Seto, bukan denga—"
"Untuk apa aku berbicara dengan Seto?" potong Shintarou.
"Ehm.. yaah. Soalnya aku tidak mengira kalau senpai ingin berbicara denganku..." gumam Kano sambil tertawa gugup. Dilhatnya alis hitam seniornya menyerngit, sepertinya pemuda itu tidak menyukai kesimpulan yang baru saja ia ucapkan.
"Tch," samar, Kano bisa mendengar Shintarou mendecih pelan. Tidak diragukan lagi kalau pemuda di hadapannya sedang berda dalam mood yang tidak bagus.
"Jadi... apa yang mau senpai bicarakan?" agak ragu pemuda berambut pirang kusam itu bertanya. Kalau benar Shintarou memang sedang bad mood, berarti dia harus lebih hati-hati dalam memilih kata-kata.
Bukannya langsung berbicara, pemuda jenius ber-IQ 160 itu justru mangatup mulutnya rapat-rapat. Kelereng gelapnya memandang lurus ke arah mata kucing di hadapannya, membuat pemuda bermata kelabu itu tidak bisa mengalihkan pandangannya. Mungkin karena gugup, Kano tidak menyadari kalau kakinya melangkah mundur sendiri. Tapi pemuda yang lain melihat gerakanya itu.
"Kau takut?" tanya Shintarou akhirnya. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum miring."Aku hanya ingin berbicara, bukan menjatuhkan hukuman mati padamu, baka. Untuk apa takut? Ada-ada saja kau ini." Lanjutnya sambil mendengus pelan. Junior di depannya hanya tertawa gugup.
"Kulihat kau sudah mulai meninggalkan safe-spotmu, huh?" nada datar yang digunakan Shintarou membuat lawan bicaranya kesulitan untuk menerka, apakah yang ia ucapkan barusan merupakan sebuah pertanyaan atau pernyataan.
"..Maksud senpai?" akhirnya Kano memutuskan untuk balik bertanya.
"Safe-spot," kali ini pemuda NEET itu menegaskan suaranya, membuat kaget pemuda yang lain. "Sebelumnya, kau tidak pernah keluar dari titik nyamanmu." Lanjutnya.
Tidak ada yang melanjutkan percakapan. Usai mendengar penjelasan singkat Shintarou, Kano justru terdiam. Mulutnya sedikit terbuka untuk menyuarakan kalimat yang tak kunjung keluar. Melihat ekspresi Kano yang menuntut penjelasan lebih lanjut, Shintarou kembali membuka mulutnya.
"Butuh penjelasan lebih lanjut?"
"Y- ya... kurasa aku belum begitu paham.."
"Hh..." pemuda bersurai gelap itu memejamkan matanya sambil menghela nafas. Dia tahu kalau penjelasan berikutnya akan menjadi monolog yang panjang. "Kano," ujarnya lagi saat membuka kelopak matanya.
"Hai?"
"Aku tidak tahu apakah kau menyadarinya atau tidak, tapi sejak mengenalmu, kulihat kalau kau selalu melakukan hal yang sama." Shintarou mengambil jeda sejenak untuk memilih kata-kata yang tepat. "Apa pun yang kau lakukan, semuanya terjadi untuk melindungi dirimu sendiri.
Mendengar pernyataan terakhir yang keluar dari mulur seniornya, Kano mengkerutkan alisnya yang sewarna dengan rambut pirang kusamnya. Dia tidak mengerti. Apa yang salah dari melindungi diri sendiri?
"Saat aku mengatakan 'apa pun', yang kumaksud adalah semua tindakanmu," Seperti bisa membaca pikiran Kano, Shintarou melanjutkan kalimatnya, "yang kau ucapkan, bohong atau jujur, maupun segala tindakan yang kau ambil, entah atas kemauanmu sendiri atau orang lain, semuanya kau lakukan untuk keuntunganmu sendiri." Pemuda itu menghela nafas sebentar sebelum kembali berbicara, "Kau melakukan semua itu, dan tidak menyadari kalau ada saja orang yang tersakiti oleh tindakanmu."
Bagi Kano, rentetan kalimat yang diucapkan pemuda di hadapannya seperti petir yang menyambar. Pupil matanya melebar selagi otaknya mencerna susunan kata yang dilontarkan Shintarou. Dan di saat yang nyaris bersamaan, air mukanya mengeruh seakan tidak bisa menerima penjelasan barusan.
"Sepertinya kau mulai memahami maksud dari ucapanku. Ya, aku yakin kalau kau tidak sependapat denganku, tapi," nada Shintarou menyiratkan kalau dia tidak mau dibantah, "itu justru menandakan kalau pendapatku benar, Kano Shuuya." Cara pemuda berlidah tajam itu menyebut nama lengkapnya membuat Kano berjengit.
"Kau tidak pernah meninggalkan safe-spotmu, titik dimana kau merasa aman. Kau tidak mau terluka, menghindari rasa pahit, dan menolak apa pun yang bisa mengancam kestabilan alur hidupmu. Kau juga memperhitungkan berbagai hal agar semuanya terjadi sesuai keinginanmu. Aku tidak tahu apa yang menyebabkanmu menjadi begitu, tapi," Shintarou mengalihkan pandangannya, dari Kano ke arah pintu di belakang pemuda itu. "kutebak, kecelakaan itu tidak termasuk dalam perhitunganmu."
"Biarkan aku menyelesaikan penjelasanku dulu." sergah Shintarou ketika mendengar Kano menggertakkan rahangnya. Pemuda berambut pirang kusam itu hanya mengangguk pelan.
"Setelah kecelakaan yang menimpa saudara tirimu, kau merasa bersalah. Terpukul, syok, kalut, gelisah, dan—Ah, terserah lah kau mau bilang apa. Yang jelas kau merasa tidak nyaman lagi. Kau menganggap safe-spotmu terganggu. Bisa dibilang, semua tindakan yang kau ambil selama satu bulan ini," tangan Shintaro terangkat saat dia menggantungkan kalimatnya. Jari telunjuknya terentang, menutul tepat di tengah dahi Kano, "Kau ambil untuk mengembalikan safe-spotmu."
"Sebetulnya itu bukan urusanku," Shintarou memindahkan letak tangannya, kali ini jari penunjuknya mengarah ke tempat dimana seharusnya jantung Kano berada. "Tapi kurasa kau harus tahu cara yang benar untuk membentuk safe-spot." Pemuda berambut hitam itu mengambil langkah ke depan, mengubah gestur tangannya menyerupai gerakan hendak mengetuk "buatlah safe-spot, yang membuatmu tidak perlu merasa bersalah karena melukai orang lain. Masukkan orang lain ke dalam tempat nyamanmu itu, terutama," Shintarou menekuk lututnya untuk menjajarkan pendangan mata mereka berdua, tangannya mengetuk dada Kano, "orang yang berharga bagimu.
Usai mengatakan itu, Shintarou menarik tangannya dan melangkah mundur untuk menarik nafas panjang. Belum pernah dia melakukan monolog sepanjang itu. Akhirnya dia mendongak dan mengamati pemuda di hadapannya. Pemuda yang dari tadi mendengarkan monolognya sama sekali belum bergerak. Meskipun begitu, Shintarou tahu kalau pemuda yang lebih muda darinya itu memahami setiap kata yang dia ucapkan. Yah, kalau dia sudah paham, bagi Shintarou itu sudah cukup.
"Ayano menungguku. Jaa—" tawa samar yang keluar dari mulut Kano membuat Shintarou terpaku.
"Kheh, kau tahu, Shintarou-senpai? Kau orang kedua yang berhasil menjabarkan diriku dengan begitu gamblang." Kano mengucapkannya seakan-akan ada yang lucu.
"Kedua?" gumam Shintarou. Yang ditanya hanya mengangguk. "Lalu, siapa yang pertama?"
"Fuh, siapa lagi kalau bukan dia?" tersenyum kecil, Kano mengangkat tangannya dan menunjuk pintu di belakang punggungnya. Shintarou hanya mengangguk pertanda paham sebelum berbalik, hendak menyusul teman sekelasnya yang bersyal merah.
"Ah, Shintarou-senpai!" lagi-lagi langkah pemuda NEET itu terhenti. Ketika menoleh, pemuda bermarga Kisaragi itu mendapati orang yang memanggilnya sedang tersenyum lebar.
"Apa?" datar dia bertanya.
"Arigatou!"
"Hmn." Tanpa eksperesi Shintarou menggumam seraya berbalik. Kano hanya terkekeh pelan melihat perilaku seniornya.
"Haah... lagi-lagi aku melupakannya." Kali ini, Kano hanya bergumam pada dirinya sendiri.
Tentang safe-spot, sebetulnya Kano sudah mengetahui itu dari dulu. Yang menjadi masalah baginya, alam bawah sadarnya menganggap bahwa tindakannya yang membentuk safe-spot adalah hal yang natural, sehingga dia berkali-kali melupakan batasannya. Dan tiap kali dia benar-benar lupa dan melewati batasan, tidak pernah terjadi hal yang bagus.
"Sepertinya aku memang tidak berguna tanpa dia huh?" tidak kepada siapa pun, Kano menyuarakan pertanyaan itu sambil berbalik dan meraih gagang pintu kamar nomor 301.
'Well,' batinnya, 'She is the Destroyer of My Save-Spot afterall.' Menertawakan pikirannya sendiri, Kano membuka pintu di hadapannya.
Setelah itu, dia tidak sanggup menertawakan pikirannya lagi.
Bahkan sepertinya dia sudah tidak sanggup berpikir lagi.
Otaknya berhenti berpikir ketika indera penglihatannya bertemu dengan sepasang kelereng violet yang sudah lama tidak terbuka.
"Kan...no?"
Bahkan, saat pemilik iris violet itu terbata-bata menyebut namanya, pemuda itu hanya terpaku melihat pemandangan yang baginya seperti sebuah keajaiban. Terperangah, bibirnya bergetar saat menyebut nama gadis itu. Gadis yang selalu berhasil menghancurkan save-spotnya.
"...Kido..."
Kido bangun!
Dan, langsung cliff-hanger ._.
JANGAN BUNUH SAYAAAAAA!` #Wat
Dict's :
Konnichiwa : Good Afternoon
Shitteiru : Did you know?
Kitto shiranai desu yo ne? : Kau pasti tidak tahu kan?
Chotto matte ne : Tunggu sebentar ya
Seifuku : Seragam
Mattaku, are janai yo, baka : For God sake, it's not that, stupid!
Mada owaranai no ka... : It's not over yet, huh...
A-ano... doushitanda? : A-anu... ada apa ya?
Iie, nande monai yo : Nggak apa-apa kok
Doko datte iku no?! : Kemana saja kau?
Go-gomen, Nee-chan... : So-sorry, Big Sis'...
Gomen tte iu na! : Jangan bilang maaf!
Koyoi wa ie ni nemuritai to kanjita zo : I think I'd like to sleep at home tonight
Baka : Bodoh
Arigatou! : Thank You!
Happy Birthday, Danchou!
Mudah-mudahan tetap sehat selamat sentausa, tidak seperti nasibmu di fic ku ini #Duagh
Maaf kalau chapter kali ini kesannya dipaksakan, saya lagi kena WB parah TAT. Tapi... meski saya bilang chapter ini saya tulis setelah perjuangan melawan WB, sampai sekarang ini chapter paling panjang ._. Chapter 5 update 2 minggu lagi.
Uum... satu lagi.
Ada Anon yang menyarankan saya untuk menulis pergantian POV (nama tidak saya sebutkan untuk privasi). Hng, sebetulnya saya selalu nulis POV yang digunakan untuk tiap chapter di catatan awal, mungkin anda melewatkannya. Dan, saya tidak pernah mengganti POV untuk satu chapter. Satu chapter, satu POV. Saya tidak begitu menyukai cerita yang POVnya berganti-ganti, belum lagi catatan penanda pergantian POV sering membuat saya terganggu, entah kenapa (._.). Jadi, seperti yang saya bilang sebelumnya, dalam satu cerita/chapter saya mengusahakan untuk hanya menggunakan satu POV.
Minna, THANX FOR READING!
Wait for the next update please!
RnR Please? *nunjuk kotak di bawah*
