UPDATE~! XD

Thanx for the waits and the reviews!


Warning(s) : Probably-OOC,gaje, abal, typo(s), fluff—if you squint, paralyzed!Kido

Short of AU, karena alur cerita masih sama seperti alur cerita KagePro, tapi mereka tidak memiliki 'Red eyes'.

Highschool AU : Trio Meka-dan – 1 SMA, ShinAya – 3 SMA

Disclaimer : Apakah Truk-san menabrak Kido dalam cerita? Tidak, yang ditabrak Truk-san itu Hibiya dan Hiyori. So, KagePro IS not mine. The plot of this story IS, though. =P


Bold : Penekanan

Italic : Bahasa yang bukan Bahasa Indonesia

Bold + Italic : Ya... dua-duanya ._. #Duagh

No skip time. Ah, tolong jangan bunuh saya untuk warning terakhir :'v. Itu hanya sementara kok, sungguh. Kalau tidak percaya, baca saja sendiri #Dilempar

Kano's POV

Saa, HAPPY READING!


Hello, Again

KagePro Fandom

KanoXKido

5 of 6

.

.

.

.

.

.

Try or Drop?

(What I Want to be Able to Do is...)

Dia sadar.

Gadis yang selama ini selalu berhasil menghancurkan safe-spotku, entah dia sadar atau tidak, kini membuka matanya. Kelereng violet yang terus tertutup kini terbuka, sayu menatapku. Badannya masih terbaring di ranjang. Seprai kasurnya masih rapi, menandakan kalau dia belum bergerak sama sekali. Hanya kepalanya yang berganti posisi, berpaling ke arahku.

"Kan...no?" Suaranya pelan dan terbata-bata, serak karena keluar dari tenggorokan yang kering tak terpakai selama 1 bulan. Uap napasnya yang memutihkan masker oksigennya nampak tidak stabil, menunjukkan nafasnya yang putus-putus.

Ya Tuhan. Kelereng violet yang selama ini sangat ingin kulihat kini terbuka, sadar sepenuhnya. Suara itu juga... saat aku mendengarnya, untuk pertama kalinya aku menyadari betapa inginnya aku mendengar bibirnya mengeja namaku. Sekarang? Gila, rasanya aku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, kecuali mematung dan membisu. Sepertinya seluruh sistem dan syaraf ditubuhku berhenti bekerja dan jujur saja, aku ragu apakah otakku masih bisa berpikir. Tidak, kurasa otakku benar-benar berhenti. Aku tidak akan kaget kalau tiba-tiba aku lupa tentang cara untuk bernapas.

"...Kido..." dalam keadaan lain, aku pasti sedang menertawakan suara parau yang keluar dari mulutku.

Apa yang kulakukan? Hanya tercenung dan mememandangi saudara tiriku seperti orang bodoh. Apa-apaan aku ini? Harusnya aku senang melihat Kido terbangun dari komanya. Harusnya aku bukan mematung seperti ini, tapi berlari ke arahnya, merengkuhnya dalam dekapanku. Harusnya—

"Kh...Akh!" Rintihan Kido menghentikan rentetan kalimat-kalimat dalam kepalaku. Selagi mengumpulkan pikiranku yang tercerai-berai, aku menyadari apa yang sedang dilakukan gadis itu, sekaligus alasan kenapa ia merintih.

Tangan Kido terangkat, bergetar hebat dan terulur ke arahku. Dahinya berkerut, bulir-bulir keringat mulai bermunculan di ubung-ubunnya, padahal ruangan ini menggunakan pendingin udara. Di balik masker oksigennya, nampak gadis itu menggigit bibir pucatnya. Ekspresinya menunjukkan kalau dia benar-benar kepayahan meski untuk sekadar mengangkat tangan saja. Bagaimana bisa?

"Ah...rgh, Kah—Kanno!" panggilannya menyadarkanku, ini bukan saat yang tepat untuk bertanya. Bergegas aku menghampiri ranjangnya.

Saat aku menggenggam tangannya yang bergetar, aku menangkap rasa panik yang terpancar di kelereng violetnya. Agak kaku, badannya menggeliat pelan, seakan berusaha untuk mengangkat dirinya. Pelan-pelan, tanganku yang bebas melepas masker oksigen yang ia pakai sebelum meraih bahunya. Hati-hati kutarik badannya yang ringkih ke arahku, menyandarkan kepalanya di bahuku. Tangannya menggenggam ujung jaketku, seolah-olah mencari pegangan.

"N-naa... Kido, Dou... doushita no?" ragu-ragu aku menanyakan keadaannya. Tanganku berpindah dari bahunya, perlahan mengelus surai emeraldnya, berharap gerakan tersebut bisa menenangkannya.

Gadis itu masih bergetar lemah, mungkin mulai tenang. Pelan-pelan ia mendongak, mempertemukan pandangannya denganku. Retina violet itu bergetar dalam kepanikan, ketakutan, dan kebingungan.

Kalut...

"Kido... Kikoeru ka?" ujarku lagi, memastikan. Aku tahu kalau pertanyaan sebelumnya kusuarakan dengan lemah. Ada kemungkinan dia tidak mendengar ucapanku.

Aneh.

Kebingungan mendominasi emosi yang terpancar di matanya.

"Ano.. Kido?"

Benar saja. Pupil matanya terpaku padaku, seakan-akan dia tidak percaya pada apa yang kuucapkan. Tangannya, yang tadi mencengkram erat jaket hitamku, bergerak pelan, dan berpindah tempat, kini menutupi telinga kirinya. Tangan kanannya yang sedari tadi berada dalam genggamanku tanganku mengikuti gerakan pasangannya, menangkupkan diri di telinga kanannya.

Tidak bertumpu pada apapun, tubuh gadis itu kembali bergoncang hebat, siap untuk jatuh kapan saja. Reflek aku mencengkram pelan bahunya, mencoba untuk menenangkannya.

Panik, takut dan bingung. Emosi-emosi itu masih saja betah berenang dalam kolam keunguannya.

"Kik...enai—!"

Kalau aku tidak mendengar tekanan halus huruf 'k' di akhir suku kata 'ki' yang ia ucapkan, aku pasti mengira bahwa Kido tengah mempertanyakan kenapa ia tidak menghilang.

Tangannya sekarang melingkari lehernya, mulutnya bergerak-gerak, tapi tidak ada satu kata pun yang berhasil ia eja. Tidak ada suara yang keluar, bahkan bisikan samar pun tidak ada.

Kepanikan terlihat semakin jelas di matanya. Wajahnya memucat, guncangan tubuhnya semakin hebat. Air mata yang terbendung di pelupuk matanya merembes keluar, mengalir untuk mewakili rasa takutnya.

Sial.

Di saat seperti ini aku justru tidak tahu apa yang harus kulakukan. Kecuali, merengkuh tubuhnya dan membiarkan dia menumpukan berat badannya ke bahuku lagi. Tanganku kembali bergerak untuk mengelus untaian emeraldnya, berusaha menenangkan isak tangis yang samar terdengar.

"Hora, daijoubu, daijoubu. Aku ada di sini..." gumamku di telinganya. Aku tidak yakin apakah dia mendengarku.

"Kowaii koto nanka nai yo." Lanjutku.

Bohong. Sebetulnya aku ketakutan setengah mati.

Apa yang terjadi pada Kido? Dia mengalami kesulitan untuk berbicara dan mendengar. Gerakannya kaku dan tertatih-tatih, seakan-akan ia—

—Lumpuh.

Bodoh. Di saat seperti ini, aku merasa sangat tidak berguna. Dan... memang itu kenyataannya kan?

Doushiyou?

"Intercome kamar 301, bangsal barat. Pasien terbangun dari Comatose periodnya."

Suara itu menyentak rentetan pikiranku, membuatku refleks mengeratkan pelukanku pada Kido. Gadis itu masih menangis dalam diam.

"Shintarou-senpai—"

"Ssh, tenangkan dia dulu." pemuda berambut gelap itu menunjuk ke arah gadis dalam dekapanku, tangan kanannya belum beranjak dari tombol Intercome.

"Hm..." gumamku pelan, masih mengelus rambut Kido. Jujur saja, aku tidak tahu apakah aku bisa menenangkan saudara tiriku. Bah, menenangkan dirku sendiri saja terasa sulit.

"Tsubomi-chan!"

DRAK!

Pintu kamar—yang Shintarou-senpai buka separuh saat masuk—terbuka penuh, membiarkan sosok bersyal merah yang menyerukan nama depan Kido untuk masuk. Suara hentakannya yang nyaring membuatku dan pemuda satunya memandangi Aya'nee-chan dengan pandangan kaget.

Sadar dari rasa kagetku, aku melirik gadis yang baru saja dipanggil nama kecilnya. Kalau Kido mendengar dan juga terkejut karena suara nyaring tadi, berarti ia berhasil menyembunyikannya. Gadis berambut emerald itu sama sekali tidak menunjukkan kalau ia mendengar namanya dipanggil. Ia bahkan tidak berjengit sedikitpun saat mendengar bunyi gebrakan pintu.

Sepertinya pemuda ber-IQ 160 yang berdiri di sampingku mulai menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Pupil kelamnya melebar saat ia bergantian menatap aku, Kido, Aya'nee-chan, dan aku lagi. Mulutnya terbuka, mengeluarkan gumaman terperangah.

"O-oi... jangan bilang dia—Naa, Kido," pemuda yang lebih tua dariku itu melambaikan tangannya ke arah Kido. "Kau bisa mendengarku?"

Pertanyaannya sama persis dengan pertanyaanku. Dan, reaksi Kido kali ini tidak jauh berbeda.

Saat dia menoleh dan memandangi Shintarou-senpai, retina violetnya melebar ketakutan, seakan-akan senior di depannya baru saja mengatakan kalau hari ini adalah hari terakhirnya. Ketika dia melihat sosok kakak tiri kami, lagi-lagi kelereng matanya terlihat sembab.

"A... Aia'nei-cann—!"

Lagi-lagi kata-kata tak sempurna yang tereja oleh mulutnya. Aku yakin dia hendak memanggil kakak tiri kami, tapi tetap saja. Caranya berbicara dan tingkahnya—yang sepertinya kesulitan bergerak dan mendengar—benar-benar mengusikku. Kenapa—apa yang terjadi padanya?

"Ssh... ochitsuke, Tsubomi-chan," bisik Aya'nee-chan lembut. Perlahan dia duduk di belakang Kido, tangannya terulur untuk memeluk Kido.

Napas Kido menderu pelan, tubuhnya masih bergetar lemah. Air matanya mulai mengering, bibir bawahnya yang bergetar masih ia gigit. Baju pasiennya agak kusut, tangannya kembali bergelayut di jaket hitamku.

"Ano... shitsureishimasu..." aku menoleh dan mendapati seorang dokter paruh baya dan seorang suster sudah berdiri di samping ranjang—kapan mereka masuk? "Kami harus memeriksa keadaan Kido-san." Ujar dokter dengan nada sopan.

Aya'nee-chan beringsut pelan, memenuhi permintaan dokter tanpa suara. Pandangannya terarah padaku, gerakan matanya menunjukkan kalau dia aku ingin melakukan hal yang sama. Aku mengangguk pelan, agak enggan sebetulnya. Perlahan aku melepaskan cengkraman Kido di jaketku, hendak menjauh untuk memberikan tempat bagi dokter.

"A—h..!" seruan tercekat Kido membuatku membatu.

Tangannya kembali bergelayut di jaketku, kali ini cengkramannya lebih kuat. Kelereng violetnya terpancang padaku, membuatku bingung. Satu tarikan kaku dan dia kembali bersembunyi dalam dekapanku.

"Ki-kido?" panggilanku dibalas dengan gelengan kaku. Cengkramannya semakin kuat, menghalangiku untuk menjauh.

"Ja'an... –rgi." Gumaman lemah keluar dari mulutnya.

...Shit.

Oke, maaf. Bukan maksudku untuk mengumpat, anggap saja sebagai refleks. Jujur saja, kalau keadaannya berbeda, mungkin aku sudah terbang ke langit ke tujuh... Astaga, hiperbolaku kelewatan.

"Eh, uhm, dokter..." ragu-ragu aku melirik ke arah pria paruh baya itu. Haha, aku bisa gila karena malu. Pria itu hanya tersenyum ramah penuh perhatian, tapi astaga, matanya. Mata hitam yang dikelilingi kerutan usia itu tertawa. Tertawa.

"Daijoubu desu yo, Kido-san." Ujar suster lembut, tangannnya pelan menepuk pundak Kido untuk mendapatkan perhatiannya. Kido merespon dengan gelengan kaku, jaket hitamku semakin erat dia cengkram. Death Grip.

"Ung... " perawat itu bergumam bingung, sekarang ia mendongak ke arahku. "Bagaimana kalau..."

"Kano. " jawabku cepat setelah memahami maksud si perawat.

"Bagaimana kalau Kano-san memegangi Kido-san dari samping. Jadi kami bisa memeriksa keadaannya dan Kido-san tetap bisa berpegangan pada Kano-san." Aku hanya mengangguk pelan, hati-hati berpindah posisi mengikuti saran dari perawat.

Setelah turun dari kasur dan kembali mendudukkan diri di sebelah kiri Kido. Saat aku duduk, Kido langsung beringsut dan bersandar di bahuku, kali ini tangannya menggenggam tanganku.

Hangat, panas malahan. Seperti biasa, setuhan Kido membuatku merasa demam.

"Kido-san, coba ikuti gerakan cahaya senter saya." Dokter mendekat dan mengeluarkan senter perak ramping. Saat dia hendak menggerakkan senter ditangannya, tiba-tiba Kido menggeleng kaku. Pelan-pelan dia menegakkan punggungnya, tangannya yang bebas terangkat dan menangkup di belakang tangannya, memberi tahu kalau dia tidak bisa mendengar apa yang diucapkan oleh pria paruh baya di hadapannya.

Dokter itu tampak terkesiap. Spontan dia bertanya, " Anda tidak bisa mendengar saya?" pertanyaannya dibalas dengan gelengan lemah. "Kalau begitu biar saya periksa telinga anda dulu." ujarnya lagi. Kali ini, dia memperagakan maksudnya dengan menunjuk ke arah dirinya sendiri, senter, dan terakhir menunjuk telinga. Kido menoleh ke samping dan menarik rambut yang menutupi telinga kirinya, pertanda mengerti. Posisinya membuatku bisa melihat bagian belakang kepalanya.

Dokter memperpendek jarak dan menyalakan senter, mengamati cuping telinga Kido dengan cermat. Setelah itu dia menepuk pelan pundak Kido dan menunjuk ke arah yang berlawanan. Sebagai tanggapan, Kido menoleh ke sebelah kiri, mengulangi tindakan yang dia lakukan sebelumnya. Sekarang, dia bertatap muka denganku.

Saat dokter memeriksa bagian dalam telinga kirinya, kelereng violet Kido terfokus padaku. Bola matanya menatapku dengan intens, sesekali mengerjap lembut. Dipandangi seperti itu, tanpa sadar aku menghembuskan napas yang tidak sadar sudah kutahan saat dia menoleh dan tidak melihatku lagi.

"Nah, sekarang, coba ikuti gerakan cahaya senter saya," ulang dokter setelah mendongak dari catatan yang dia buat. Seperti sebelumnya, dia memperagakan maksud dari ucapannya.

Pupil violet Kido mengecil saat cahaya senter jatuh ke retinanya, menyesuaikan diri dengan jumlah cahaya yang dipancarkan silinder perak kurus itu. Setelah menyesuaikan diri, bola matanya bergerak sesuai dengan irama gerakan cahaya senter yang digoyang dokter. Tak lama kemudian dokter mematikan senternya, membuat Kido mengerjap-kerjap bingung.

"Sekarang, buka mulut anda dan ikuti saya, " dokter membuka mulutnya untuk memeperagakan maksudnya. Agak kaku, gadis itu mengangguk dan membuka mulut.

"Ikuti saya. Aaah..."

"—aah..!" terdengar suara tercekat di tenggorokannya, agak sengau.

"Sekarang coba: A, i, u, e, o."

"Aiueo." Ulang Kido. Ia terdengar kersulitan mengontrol jeda diantara tiap huruf, membuat ucapannya terdengar seperti 'ayuweo,' bukan bunyi 5 huruf vokal yang seharusnya.

Alis pria paruh baya itu bertaut saat keningnya mengerut. Jelas ia menangkap ada yang janggal dari cara Kido berbicara.

Setelah menulis sesuatu di clipboardnya, pria itu mendongak, "tolong buka mulut anda sekali lagi, saya hendak memeriksa tenggorokan anda." Dengan nada sopan pria itu membuka mulut lagi, tangan kanannya menunjuk ke arah tenggorokannya sendiri, dan tangan kirinya memegang senter tadi. Kido membuka mulut tanpa suara.

"Tolong julurkan lidah anda," pinta dokter lagi. Dengan teliti matanya mengamati bagian dalam tenggorokan Kido, dibantu dengan cahaya dari senter di tangannya.

Kerutan di dahi pria itu semakin dalam ketika akhirnya dia mematikan senter dan mundur.

"Aneh, tidak ada yang salah dengan tenggorokan anda, Kido-san. Meskipun begitu anda mengalami kesulitan saat berbicara?"

"Ya.. suaranya tercekat dan jeda antara tiap suku katanya tidak jelas." Aku menjawab pertanyaan yang tidak dijawab oleh Kido.

"Begitu..." Dokter bergumam saat menulis lagi. "Bisakah anda mengengkat tangan anda?"

Agak gemetaran, Kido mengangkat tangannya yang tidak memegangiku. Saat benar-benar terentang, getaran di tangannya semakin ketara dan otot-ototnya terlihat menegang.

"Berat?" Mata pria paruh baya itu terfokus pada tangan Kido. Yang ditanya tidak membalas, hanya mengangguk kaku. "Coba lipat tangan anda." Seperti sebelumnya, dia memberikan contoh agar Kido mengerti.

Saat Kido melipat tangannya, gerakannya terlihat kaku. Tangannya menegang dan tidak bisa terlipat sempurna. Mendesah pelan, Kido meluruskan tangannya yang langsung jatuh lunglai ke kasur. Kali ini dia menggeleng kaku.

"Sekarang, bisa kepalkan tangan anda?" dokter itu menunjuk tangannya yang menggenggam udara.

Jari-jari Kido menegang sesaat, sebelum akhirnya melipat diri dengan gerakan patah-patah. Ketika diminta untuk merenggangkan jemarinya, kepalan yang dia buat bergetar lemah. Satu persatu, jarinya merenggang dengan kaku.

"Hmn..." terdengar gumaman samar dari sang dokter saat dia mengamati catatan di clipboardnya. "Bagaimana menurutmu?" pria itu mendongak dan bertanya pada perawat di belakangnya yang sedang membaca catatan tersebut lewat bahunya.

"Sepertinya memang tidak bisa..." jawab perawat itu dengan suara pelan.

"Begitu... berati kita sependapat."

Aku tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Mudah-mudahan bukan tentang sesuatu yang buruk.

"Wali dari pasien sudah dihubungi?

"Sudah," Kali ini Aya'nee-chan yang menjawab. Dia menunjuk kearah telepon genggamannya. "Harusnya mereka tiba sebentar lagi—"

Tunggu. Aku tidak ingat melihat Aya'nee-chan keluar untuk menelepon. ...Mungkin karena perhatianku terfokus pada Kido.

Tekanan di bahu kananku semakin terasa. Saat aku menoleh, kudapati Kido kembali bersandar di bahuku. Helaan napas terdengar samar dari mulutnya. Kelereng violetnya terlihat redup, lelah. Tapi tangannya justru semakin erat menggenggam tangan kananku. Boleh aku berpikir kalau dia takut aku pergi?

Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, menunjukkan pasangan Tateyama di baliknya. Bergegas mereka masuk menghampiri Kido.

"Tsubomi-chan!" wanita yang terlihat sangat mirip dengan Aya'nee-chan, tak lain dan tak bukan adalah ibu—angkat—kami, Ayaka-san, langsung menghambur dan merengkuh Kido. Jejak air mata terlihat di sudut-sudut matanya, pertanda kalau dia berjuang menahan tangis sepanjang perjalanan ke sini.

"Kassan..." gumam Kido, ejaan 's' nya agak mendesis. "Toussan..." gumamnya lagi saat tangan Kenjirou-san terulur untuk mengelus lembut surai hijaunya.

"Bagaimana keadaan putri kami?" ayah angkat kami menoleh ke arah dokter, tangannya masih membelai rambut Kido.

"Saya beru saja selesai melakukan pemeriksaan dasar, " jawab sang dokter. "Penglihatannya berfungsi dengan normal, refleks kedipannya juga berfungsi sempurna. Tidak ada luka maupun cedera di bagian dalam telinga, tenggorokan, dan kerongkongan saudari Kido, luka-luka dan memar di bagian luar tubuh juga sudah sembuh. Tapi sepertinya saudari mengalami gangguan pada indera pendengarannya dan kemampuan berbicaranya juga mengalami keterbatasan." Pria paruh baya itu menghela nafas sebelum mengalihkan pandangannya ke Kido. "Seperti yang bisa anda lihat, Kido-san tidak bisa berhenti gemetar, gerakan tubuhnya kaku, bahkan nyaris tidak bisa digerakkan dengan benar."

"Kenapa bisa begitu?!" seru ayah adopsi kami dengan nada sengit dalam suaranya.

"Kenjirou-kun." Tangan Ayaka-san mengelus lengan suaminya. Nada yang digunakan beliau terdengar tenang, berbeda dengan sorot matanya. Death glare.

Sekali lagi dokter menghela napas sebelum menjawab, " Dugaan saya, hal ini berhubungan dengan sistem syaraf."

"Ada kemungkinan bahwa guncangan dari tabrakan yang dialami putri anda mempengaruhi sistem syaraf dan mobilitas anggota tubuhnya. Meskipun begitu, kami tetap belum bisa memastikan hal tersebut jika tidak menjalankan ronsen total terhadap Kido-san, dan kami butuh izin dari wali. Sementara itu," dokter mengedikkan kepala ke arah Kido yang sudah melepaskan dirinya dari pelukan Ayaka-san, kembali bersandar di bahuku. "Kido-san terlihat lelah, dan jelas dia butuh istirahat. Perihal ronsen bisa kita bicarakan di ruangan saya." Ujarnya seraya bangkit dan berjalan ke arah pintu, diikuti sang perawat.

"Baiklah." Gumam Kenjirou-san. Ayaka-san mengangguk pelan dan berjalan mengikuti suaminya, sesudah mengelus lembut rambut Kido.

Dibantu Aya'nee-chan, Kido kembali berbaring, tangannya masih menggenggam tanganku. Yah, toh aku juga tidak berniat melepaskan tangannya, belum. Tidak butuh waktu lama, Kido sudah terlelap lagi. Tapi aku tahu kalau kali ini, dia akan bangun, dan pasti bangun.

"Naa, Ayano," Aya'nee-chan menoleh saat Shintarou-senpai yang dari tadi tidak berbicara memanggilnya. "Kau sudah menghubungi Seto?"

Saat kakak tiriku mengangguk dan berkata 'sudah', aku membatu. "Dia bilang akan ke sini setelah meminta izin kepada atasannya."

"Saudaramu itu sedang part-time? Lagi?" Aya'nee-chan hanya mengangguk mengiyakan.

Sepertinya aku akan bertemu dengan pemuda bermarga Seto itu... lebih cepat sedikit. Lucu. Mengingat 'percakapan' sengit kami tadi siang, harusnya aku merasa enggan bertemu dengan saudara tiriku. Namun entah kenapa aku tidak merasakan apapun. Biasa. Kalau dia mau datang, ya datang saja.

Hey, Kido. Tidak sampai satu jam kau membuka mata, tapi kau sudah berhasil membuatku merasa utuh lagi. Gila. Pergi kemana rasa kalut yang menghantuiku selama satu bulan ini?

Ya, ya aku tahu kalau keadaan Kido belum dipastikan. Alasan dari keterbatasan ruang gerak dan kemampuan berbicaranya, serta gangguan pada indera pendengarannya memang belum dijelaskan, tapi bagiku, itu bisa menunggu. Yang penting dia sudah sadar, dan dia berada di sisiku. Untuk saat ini, itu saja sudah cukup.

"Kou-chan sudah sampai..."

Dari cara Aya'nee-chan membaca pesan singkat di handphonenya, aku tahu kalau gadis bersyal merah itu sedang melihat ke arahku. Aku tidak memberi tanggapan. Jari-jari tanganku yang tidak digenggam Kido terselip diantara untaian surai hijaunya, mengelus perlahan.

Tok, tok

Saat semua kepala—minus Kido—menoleh ke arah suara ketukan, tampak gagang pintu berputar pelan dan pintu pun terbuka, memperlihatkan sosok yang membuka pintu. Seto.

"Etto... ano, konni—maksudku—konbanwa." Pemuda berpostur tegap itu membenarkan ucapannya sendiri saat kelereng hazelnya menangkap semburat merah yang terlihat di ufuk barat. Waktu masih ingat tugasnya untuk berjalan rupanya, meskipun kejadian-kejadian sebelumnya membuat kami—aku—sempat melupakan perihal waktu.

"Ano, etto...kudengar Kido sudah bangun..." ujarnya lagi, ragu-ragu.

"Memang, tapi dia tidur lagi. Lihat, tidurnya lelap sekali," aku yang mejawab, sambil tersenyum geli. "Pfft, waktu dia bangun nanti, akan kujuluki dia putri tidur!"

"Hora yo, Shuu-chan! Tsubomi-chan tidak akan suka kau panggil seperti itu! Mou, aku tidak mau tanggung jawab kalau nanti dia memukulmu saat kau panggil begitu!"nada suara Aya'nee-chan terdengar ringan, membuat suasana tegang dalam ruangan menguap.

"Aa,sou dayo na~ urgh, bogem mentah Kido itu satu-satunya hal yang tidak kurindukan darinya!" balasku sambil meringis karena membayangkan reaksi Kido jika nanti aku benar-benar memanggilnya putri tidur.

"Jadi... bagaimana keadaan Kido?" keraguan terdengar jelas dalam pertanyaannya. Langkah yang dia ambil untuk mendekati ranjang Kido juga terlihat tidak yakin.

"Daijoubu dayo," sebelum ada yang bisa menjawab, aku membalas pertanyaan Seto.

"Eh?" kali ini justru Aya'nee-chan yang tampak ragu. Shintarou-senpai hanya melirik ke arahku sekilas lewat ekor matanya.

"Yah... aku tahu kalau dokter belum bisa memastikan keadaan Kido kalau belum melaksanakan ronsen total, tapi tetap saja," tanganku yang sedari tadi mengelus rambut Kido kini mengusap pipi pucatnya, "Kurasa, selama aku tahu kalau dia ada di sini, maka aku juga tahu kalau dia baik-baik saja. Dakara..." aku menggumamkan akhir kalimatku, "Kitto daijoubu."

Aah... sepertinya sudah lama aku tidak tersenyum dengan perasaan senyaman ini.

"Menurutku juga begitu..." refleks aku mendongak saat mendengar ucapan pemuda yang menjadi saudara tiriku. "Tapi, alasan kita berbeda."

"Hmn?" hanya gumaman tanpa arti, isyarat agar pemuda yang mengenakan jepit kuning untuk merapikan poninya itu melanjutkan, dan menjelaskan alasannya.

"Bagiku Kido justru akan baik-baik saja... karena ada kau di sisinya." Nada suara Seto terdengar lebih yakin dari sebelumnya, mata hazelnya melembut saat bertemu dengan manik kucingku.

"Dan lucunya adalah kau mengatakan itu setelah menyuruhku untuk berhenti menjenguk Kido..." suaraku terdengar parau di akhir kalimat, sarat akan sarkasme.

"Shuu-chan!" Aya'nee-chan terperangah. Mungkin dia hendak berdiri ditengah kami untuk menengahi, tapi niatnya dihalangi Shintarou-senpai yang merentangkan tangan dan menahannya di tempat. Retina kelam pemuda itu bergantian menatap tajam ke arahku dan Seto.

Biar saja. Sungguh kali ini aku hanya ingin menertawakan ironisme dalam kata-kata yang baru saja Seto ucapkan dengan kalimatnya tadi siang. Bukannya bermaksud untuk memancing percakapan sengit lainnya. Ayolah, aku cukup sadar diri kalau hal seperti itu tidak pantas dilakukan di rumah sakit—dan tentu saja tidak di dekat Kido.

"Itu..." baru satu kata, dan pemuda itu tidak menyelesaikan kalimatnya. Tiba-tiba saja tubuh tegapnya membungkuk 90 derajat ke arahku, membuatku mengerjapkan mata beberapa kali. Kaget dan tercengang. Gerakan tanganku yang sedari tadi mengelus Kido terhenti.

"Aku minta maaf!" seru pemuda itu tegas saat menegakkan diri lagi. Kelereng hazel menatapku lurus sebelum dia melanjutkan kalimatnya. "Sebetulnya, alasan kenapa aku memintamu untuk mengurangi, bahkan tidak menjenguk Kido adalah karena aku khawatir. Setiap hari kau menjenguknya dan tidak pulang ke rumah. Menurutku itu aneh. Aku kira kau melakukannya karena merasa bersalah atas kejadian yang menimpa Kido, sampai aku sadar..."

Aku tidak pernah menduga dia akan mengucapkan hal itu.

"Berbeda denganku dan Aya'nee-chan yang melihat Kido sebagai saudara..." pemuda itu memiringkan kepalanya sebelum menyelesaikan kalimatnya. "Kau melihat Kido sebagai perempuan, kan?"

Umn... sebelumnya biar kuberitahu kalian. Speechless, kicep dan semacamnya itu bukan gayaku. Jadi, jangan terlalu berharap ya.

"...Tumben..." cepat-cepat aku mengucapkan kata yang terlintas di kepalaku. "Tumben kau mengucapkan kalimat yang terdengar romantis, Seto..." Astaga, kelanjutan yang bodoh sekali. Biarlah, daripada tidak bisa bilang apa-apa seperti idiot.

Sepertinya Shintarou-senpai juga sependapat bahwa kalimat yang kuucapkan barusan itu terdengar benar-benar bodoh. Buktinya dia berseru "Bukan itu pointnya, Baka!" sambil menjitak dahiku. Di belakang pemuda berrambut gelap itu, Aya'nee-chan dan Seto hanya tertawa geli melihatku yang sedang mengelus kepalaku sambil meringis. Overacting sedikit boleh kan?

"Ahahaha, aku tahu kok. Kalian juga tahu kalau aku cuma bercanda kan?" gerutuku, masih mengelus dahiku dengan tangan kiri. Tangan kananku sendiri masih terselip diantara jari jemari Kido. "Yah... aku juga minta maaf. Toh aku sendiri juga salah." Lanjutku sambil mengangkat bahu. "Dan soal caraku melihat Kido..." gumamku sambil menyeringai jahil, tanganku kembali mengelus rambut Kido. "Kukira itu sudah menjadi rahasia umum."

"Eeh?!" seruan Aya'nee-chan membuat kami semua—kecuali dia sendiri dan Kido tentunya—terkesiap. "Tu-tunggu! Shuu-chan wa... Tsubomi-chan ni... tu-tunggu! Aku kok tidak tahu?!" seruannya terdengar seperti protes.

"Yahh... secara teknis aku memang tidak pernah bilang siapa pun... kukira kalian—Nee-chan sudah tahu." Jawabku dengan nada cengengesan.

"Tidak! Aku tidak pernah tahu—Kou-chan dan Shintarou-kun sudah tahu?" Yang disebut namanya tersenyum geli dan mengangguk dengan wajah datar.

"Mungkin cuma kau yang tidak tahu." Ujar Shintarou-senpai datar.

"Eeh? Sonna..." yah, seperti biasa kakak tiriku tidak bisa membantah ucapan pemuda berambut gelap itu.

"Astaga, Nee-chan! Pfft, kukira itu sudah jelas." Kekeh Seto.

"Yah... kakakmu ini kan memang pengecualian." Ujar Shintarou-senpai sambil mengetuk pelan kepala Aya'nee-chan, seperti hendak memastikan apakah kepala gadis bersyal merah itu ada isinya atau tidak.

"Mou, sore wa dou iu imi?" Shintarou-senpai hanya mengangkat bahu dan mengindahkan pertanyaan teman sekelasnya.

"Sore jaa, aku permisi dulu. Part-timeku belum selesai."

"Ah, tunggu! Tempat kerjamu kan searah dengan rumah, sekalian saja! Kurasa sebentar lagi urusan Kaa-san dan Tou-san akan selesai." Usul Aya'nee-chan. Seto hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Naa, Nee-chan..." ragu-ragu aku melanjutkan kalimatku saat yang kupanggil berbalik. "Malam ini... aku boleh menginap lagi?"

Fuuh... rupanya aku masih takut. Takut kalau safe-spotku hancur lagi.

"Mocchiron, Shuu-chan." Refleks aku mendongak saat aku merasa surai dirty blondeku dielus. "Dengan syarat, besok kau tetap masuk sekolah dan tidak melakukan hal yang aneh-aneh pada Tsubomi-chan!" Suara Aya'nee-chan terdengar jahil ketika menyebutkan syarat kedua, membuatku tertawa.

"Ya untuk syarat pertama, dan, waah..." aku mengedipkan sebelah mata dan tersenyum lebar. "Aku tidak bisa menjamin untuk syarat kedua~" lanjutku dengan nada jahil.

"Dame dayo, Shuu-chan!" seru kakak angkatku, ikut tertawa. Jelas dia tahu kalau aku bercanda.

"Oi." Aya'nee-chan berpaling ke arah sumber suara, mendapati Shintarou-senpai dan Seto sudah berada di depan pintu. "Kau mau terus berkelakar dan pulang sendiri atau berhenti dan pulang bersama kami?"

"Eh, eh, tunggu!" seru yang ditanya, agak terkejut ketika menyadari kalau dia nyaris ditinggal. "Jaa ne, Shuu-chan! Sampai besok di sekolah!"

"Umn, Mata ashita!" balasku tepat saat pintu ruangan tertutup.


Hening. Sudah lama kau tidak merasakan kenyamanan dalam diam.

"Hari yang melelahkan. Ne, Kido?" sepertinya berbicara dengan Kido yang terlelap mulai menjadi kebiasaanku.

Hati-hati aku turun dari ranjang dan duduk di kursi kecil, masih menggenggam tangan Kido. Yah, sebetulnya dari tadi aku memang tidak pernah melepaskan peganganku.

Aku memiringkan kepalaku dan merebahkannya di sebelah Kido, mengamati ekspresi gadis itu selagi tidur. Entah kenapa aku jadi teringat pada mimpiku, dan di saat yang nyaris bersamaan, aku teringat semua kejadian saat Kido terbangun.

"Mungkin... ini maksud dari mimpiku ya?" aku bergumam pelan, mulai mengelus rambut Kido lagi. "Naa, Kido..."

"Apakah... apakah nanti kita masih bisa saling 'menyapa'?"

Seperti biasa, tidak ada yang menjawab pertanyaanku. Hanya embusan angin senja dari sela-sela jendela dan ventilasi.

Untuk sekarang, kurasa aku memang belum membutuhkan jawaban atas pertanyaanku. Mungkin akan lebih baik kalau sekarang aku membangun safe-spotku lagi...

"Dengan kau di dalamnya, Tsubomi-chan."

Setelah sekian lama, akhirnya aku bisa tidur dengan tenang.


So... fluffnya terasa nggak? #Duesh

Karena sekarang minna sudah tahu alasan dari warning 'paralyzed!Kido', tetap, jangan bunuh saya :'v #DibunuhBetulan


Ingat, terjemahan saya sudah dikonvert(?) ke dalam bahasa sehari-hari. Jadi kalau ada terjemahan yang tidak sesuai dengan kamus atau tidak sama dengan apa yang Readers ketahui, Readers boleh protes. Setidaknya, saya punya alasan.

Dan seperti yang Readers lihat, terjemahan saya labil :p #Ditendang

Dict's :

Doushita no? : Ada apa?

Kikoeru ka? : Can you hear me?

Hora, daijoubu, daijoubu :There, there, its fine.

Kowaii koto nanka nai yo : Tidak ada yang perlu ditakutkan kok

Doushiyou? :What should I do?

Nee-chan : Big Sister

Ochitsuke : Tenang lah

Shitsureishimasu : Sorry for interupting

Konbanwa : Good evening

Aa,sou dayo na~ : Aa, benar juga~

Dakara... Kitto daijoubu : That's why... it'll be fine for sure

Baka! : Bodoh!

Shuu-chan wa... Tsubomi-chan ni... : Shuu-chan is... to Tsubomi-chan..

Sonna... : Kok gitu...

Mou, sore wa dou iu imi? : Hey, apa maksudmu?

Mocchiron : Of course

Mata ashita! : Sampai besok!

Dame dayo : That's a no no! Nggak boleh :P

Ah, iya. Intercom itu alat yang dipakai untuk panggilan atau pengumuman. Umum ditemukan di sekolah, rumah sakit, stasiun, bandara, pelabuhan, penjara, dan gedung-gedung pranata sosial lainnya.

Sedangkan istilah Comatose Periode digunakan untuk menyebut keadaan seseorang yang mengalami koma dalam waktu lama.


Jujur... saya sempat lupa dengan dunia fanfic akibat ulangan dan tugas-tugas dari sekolah, belum lagi shift part-time saya juga bertambah... Gomenasai, readers. I'm the worst, forgive me please.

Waktu akhirnya saya ingat dan membuka akun fanfic saya, lalu melihat Hello Again reviewnya melebihi angka 20, jujur, saya menangis saking terharunya :') . Terakhir kali saya mengecek reviewnya hanya 19, saya pikir akan berhenti di situ sampai saya update, ternyata saya salah... Kokoro kara arigatou, Readers :'D kalian memang yang terbaik.

Makanya saya mengusahakan untuk update secepatnya, dan voila, inilah dia. Maaf kalau kurang memuaskan, saya mencoba sebisa saya untuk melanjutkan cerita ini sebagus mungkin.

Tidak terasa... chapter berikutnya akan menjadi chapter terakhir Hello Again. Meskipun begitu, bukan berarti saya akan berhenti menulis. Hanya... mungkin jadi agak kurang aktif saja (mudah-mudahn tidak). Dan yang jelas, ini juga tidak berarti Hello Again akan benar-benar tamat. Sesekali saya akan menambahkan Omake, atau mengedit chapter yang terasa tidak pas.

Karenanya, saya membuka request untuk Omake. Tolong untuk merequest yang masih berhubungan dengan Hello Again. Jika tidak berhubungan, tidak apa-apa. Akan saya penuhi dan saya publish sebagai cerita lain. Readers juga bisa bertanya jika ada yang tidak dipahami atau terasa ganjal dalam fanfic ini. Akan saya usahakan untuk menjawab lewat PM atau Omake.


Minna, THANX FOR READING! *Bow*

Please wait for the update, I promise it's worth to wait.

And... RnR please?