Title: We are here with you.

Cast: Jung Yunho, Kim Jaejoong, Shim Changmin, Jung Jae Jun (Juni), Jung Junho (Juno), Jung Jihye, Jung Sungha, etc.

Genre: Family, hurt/comfort.

Rate: T

Disclaimer: They belong to themselves and God. I own the plot.

Author: Muruyama-san

Warning! Boys Love, M-Preg.

Sudah kesekian kalinya Jaejoong mencoba untuk membuat Yunho setidaknya makan sedikit nasi sejak pagi tadi. Meski ia sendiri begitu mengerti bagaimana perasaan Yunho kini, akan tetapi ia tak ingin apabila suaminya jatuh sakit pula pasalnya pria kesayangannya itu punya lambung lemah yang rentan kambuh kalau dibiarkan tak terisi apapun. Malahan pria itu hanya meminum beberapa gelas kopi. Ia mengernyit sedih melihat keadaan suaminya kini –ia sadar bagaimanapun juga masa-masa ini adalah masa terberat untuk sang suami.

Sejak seminggu yang lalu ibu mertuanya koma. Di usianya yang sudah sangat tua sangat wajar akan penyakit yang mudah menyerangnya hingga menyebabkan wanita tersebut kini berbaring di ranjang rumah sakit dengan beberapa selang dan kabel yang melekat di tubuhnya. Sejak hari itu Yunho berubah jadi pendiam –meskipun ia tetap melayani anak-anaknya ketika mereka minta diperhatikan tapi Jaejoong dapat dengan mudah menangkap gurat kesedihan dan kekhawatiran di wajah sang suami.

Para kerabat juga tak lelah untuk mencoba menenangkan Yunho akan tetapi tak berefek bagi pria itu, buktinya ia hampir tak pernah melihat sang suami tidur dan makan dengan benar. Ia kini justru lebih mengkhawatirkan kondisi kesehatan suaminya –beberapa waktu lalu Yunho pernah memaksakan dirinya dan pola tidur juga makannya benar-benar buruk sampai ia jatuh sakit dan harus di rawat di rumah sakit lebih dari satu minggu. Tapi ia sendiri merasa bahwa Yunho tak akan mendengarkan siapapun termasuk dirinya. Ia mengerti –mungkin kalau ia ada di posisi suaminya ia akan melakukan hal sama.

Ketika hampir tengah malam, Yunho bilang dia akan ke rumah sakit untuk bergantian menjaga ibunya sementara kerabat yang lain akan kembali ke rumah. Dia awalnya bersikeras untuk ikut, tapi suaminya mencegah lantaran anak-anak pasti akan mencarinya apabila nanti terjaga. Akhirnya bersama ayah dan adik laki-lakinya, Yunho meluncur ke rumah sakit sedang Jaejoong tinggal di rumah bersama anak-anak dan adik iparnya.

Saat ia sedang mencuci botol susu Juno di dapur –ia melihat adik iparnya masuk ke dapur. Wajahnya terlihat kusut dan matanya berkantung. Wanita itu pasti juga sangat menderita selama seminggu ini.

"Kau belum tidur, Jihye?" tanyanya setelah adik Yunho semakin dekat. Ia tersenyum tipis melihat wanita yang begitu mirip suaminya.

"Aku terbangun, Oppa. Aku haus," katanya sebelum membuka lemari es dan meminum air mineral langsung dari botolnya. Ia mendengar wanita itu mengeluh kemudian berjalan menuju ke tempatnya berdiri, lalu duduk di kursi yang ada di dekatnya. Wanita itu terlihat sangat berantakan.

"Kau ingin minum sesuatu yang hangat?" kata Jaejoong menawarkan. Ia menoleh begitu tak mendengar jawaban dari sang adik ipar. Ia mendengar isakan lembut dari wanita tersebut. Jaejoong langsung mencuci tangannya dan mengambil kursi disamping sang adik –ia merengkuh pundak wanita itu dan mengusap lengannya untuk menenangkan.

Untuk beberapa saat Jaejoong membiarkan Jihye menangis sampai akhirnya wanita itu agak tenang dan menyibakkan rambutnya hingga Jaejoong dapat melihat bahwa adik iparnya ini semakin berantakan dan menyedihkan. Ia masih mengusap lengan wanita yang sudah dianggap adik olehnya –ia sungguh sangat prihatin menyaksikan Jihye seperti ini.

"Yunho oppa…" Jihye seperti akan mengatakan sesuatu tapi terpotong oleh isakannya. Wanita itu menyeka wajahnya kasar dan menatap Jaejoong dengan matanya yang basah dan merah. "Aku kasihan pada Yunho oppa… dia pasti lebih terpukul atas kejadian ini… dia yang paling dekat dengan Omma…" kata Jihye disela tangisnya. Ia membekap mulutnya dengan tangan kemudian membebaskannya setelah merasa agak tenang.

Jaejoong menarik nafasnya –iapun menyetujui perkataan Jihye. Ia sangat tau bahwa hubungan suaminya dengan ibu mertuanya sangat-sangat dekat. Dulu sewaktu wanita itu masih sehat, sering sekali ia nekad datang ke Seoul hanya untuk menengok putra sulungnya apabila dalam beberapa bulan Yunho belum bisa datang ke rumah lantaran pekerjaan di kantor yang menumpuk. Meskipun semua orang merasakan sedih yang mendalam, tapi mereka tau bahwa Yunho lah yang paling menderita disini.

"Kita berdoa saja supaya keadaan Omma berangsur baik, lalu—" perkataan Jaejoong menggantung saat ia melihat Jihye menggelengkan kepalanya. Wanita itu menarik nafas untuk menstabilkan dirinya.

"Dokter sudah memvonis, Oppa. Mereka bilang bahwa Omma—"

Kali ini Jaejoong memotong perkataan Jihye dengan menegurnya hingga wanita itu hanya diam dalam tangisnya. Jaejoong semakin tak tega melihat tubuh ringkih adik iparnya bergetar, iapun membawa tubuh itu ke dalam pelukan hangatnya dan mengusap punggungnya untuk meringankan kesedihannya meski hanya setitik.

"Aku takut, Oppa…" kata Jihye dengan suara tertahan.

"Semua akan baik-baik saja," kata Jaejoong agak berbisik –ia merasa tenggorokannya ngilu begitu juga dengan hatinya sementara mulutnya mengucapkan kata-kata menenangkan. Sungguh berlawanan.

Paginya Jaejoong bersama Jihye menyusul ke rumah sakit. Jaejoong hanya membawa Juno bersamanya, sementara Changmin dan Juni bersama suami Jihye di rumah. Selama dalam perjalanan Juno benar-benar mampu membangkitkan suasana. Ia berceloteh tentang banyak hal dengan polosnya dan membuat Jihye tertawa. Ia merasa agak lega karenanya dan memberikan hadiah kecupan singkat di kepala sang anak.

Begitu sampai di rumah sakit –ia melihat suaminya dan beberapa kerabat yang lain duduk di kursi dan terlihat sangat berantakan. Gurat kelelahan sangat jelas di wajah mereka masing-masing. Jihye yang cekatan segera memberikan bento untuk mereka dan wanita itu kini sedang memberikan perhatiannya pada sang ayah dan adik lelakinya. Sementara ia duduk di sebelah Yunho –pria itu sedang memangku Juno dan memainkan jaketnya yang berbulu. Seperti dugaannya, Yunho tak berminat pada bento nya bahkan meliriknyapun enggan.

"Makan dulu ya, Sayang?" kata Jaejoong menawarkan dengan hati-hati. Yunho meliriknya dan menggelengkan kepala. Jaejoong menghela nafas. Ia bingung harus bagaimana lagi caranya supaya suaminya ini mau makan. "Atau kau ingin makanan lain?" tanyanya kemudian –masih tak ingin menyerah.

"Aku tidak lapar," kata Yunho dengan suara paraunya. Ia yakin semalaman pria ini tidak tidur sama sekali. Dari suara dan kantung matanya sangat menunjukkan bukti tersebut.

"Kalau tidak kau pulang saja dulu, mandi lalu tidur sebentar. Ajak ayah dan Sungha juga. Biar aku dan Jihye yang disini," Jaejoong menyarankan tapi Yunho tak merespon. Dia hanya menggumam. Tapi setelah Jihye juga menyarankan hal yang sama, pria itu bangkit dan pulang bersama ayah dan adik laki-lakinya. Kerabat yang lain juga menyusul pulang, hanya tinggal Jaejoong, Jihye dan dua orang paman suaminya. Juno yang melihat ayahnya akan pulangpun akhirnya memaksa ikut.

Jaejoong memperhatikan Yunho yang sedari tadi tidak benar-benar memakan makan malamnya. Pria itu hanya memakan nasi di ujung sendoknya saja, kemudian meletakkannya lagi selagi dia mengunyah. Hanya seperti itu sampai beberapa kali. Melihat suaminya seperti itu membuat Jaejoong juga tak pernah makan dengan benar. Tenggorokannya ngilu dan hatinya berdesir sakit.

"Oppa, makanlah dengan benar," kata Jihye menegur kakaknya. Wanita itu duduk di seberang tempat duduk Yunho.

Yunho menanggapinya dengan bergumam saja. Dan suara sendok yang diletakkan agak kasar membuat perhatian hanya tertuju pada satu-satunya wanita disana. Jihye menatap kakaknya dengan berbagai emosi. Pria disampingnya yang adalah suaminya berusaha untuk menenangkannya.

"Oppa jangan seperti ini," kata Jihye dengan suara yang bergetar. Yunho hanya menatapnya datar. "Makanlah dengan benar… tidurlah juga dengan benar… semua orang mengkhawatirkan Oppa juga," Jihye melanjutkan. Kini buliran airmata mengalir di pipinya dan ekspresi Yunho mulai berubah melunak.

"Aku tidak perlu di khawatirkan karena aku baik-baik saja," kata Yunho dengan suara rendahnya. Pria itu mencoba untuk mengubah suasana dengan kembali sibuk dengan makanannya meski ia masih tak benar-benar memakannya.

Jihye bangkit dari duduknya hingga kursinya berderit. Semua memperhatikannya kecuali Yunho –pria itu malah seperti menunduk. Jaejoong yang memperhatikan menyimpan tangannya di salah satu paha Yunho sebagai gesture untuk menguatkannya.

"Omma pasti tidak akan suka kalau Oppa seperti ini terus," kata wanita cantik itu lagi di sela isakannya. Ia terlihat akan kembali berkata-kata akan tetapi ia mengurungkannya. Ia memilih untuk meninggalkan ruang makan yang menjadi hening. Satu lagi suara kursi berderit –suami Jihye mengejar istrinya.

"Apa yang dikatakan adikmu benar, Yunho. Kau juga harus menjaga kesehatanmu sendiri. Makanlah dengan benar," kali ini ayah Yunho ikut bersuara. Pria itu menatap putra sulungnya dengan penuh perhatian.

Yunho mengangkat wajahnya –pertama ia melihat kepada dua buah kursi kosong dihadapannya kemudian beralih pada ayahnya, adik laki-lakinya, lalu istri dan anak-anaknya. "Aku juga sebenarnya ingin makan supaya kalian tidak merasa khawatir padaku," katanya dengan suara seperti hampir berbisik tapi karena disana sangat hening jadi semua dapat mendengarnya. "Tapi aku tidak bisa meskipun aku sudah mencoba memaksa sesuatu melewati tenggorokanku," imbuhnya. Kini tatapannya tertuju pada satu titik di meja makan dengan nanar.

Jaejoong merasakan sesak di dadanya. Pria itu mengusap-usap lengan suaminya setelah mengusap wajahnya sendiri begitu setitik airmata jatuh tanpa di perkirakan.

Mereka bersiap-siap untuk ke rumah sakit saat ayah Yunho berbicara dengan seseorang melalui telfon genggamnya. Dan setelah pria itu selesai dengan urusannya, dengan agak buru-buru ia mendatangi Yunho yang sebenarnya sedang menuruni tangga bersama istrinya. Melihatnyapun pria itu berubah jadi tegang meski dengan sigap Jaejoong menyentuh lengannya.

"Pamanmu bilang Omma sedang kritis," kata pria tua itu dengan nada panik.

Yunho melebarkan matanya. Jaejoong merasa tubuh Yunho agak bergetar kemudian pria itu melesat di ikuti oleh ayahnya.

Setelah menitipkan anak-anak pada suami Jihye, ia dan adik iparnya menyusul 15 menit kemudian. Kali ini Sungha –adik laki-laki Yunho tidak ikut karena setelah makan malam remaja itu langsung jatuh tertidur. Guratan wajahnya benar-benar lelah hingga membuat semua orang berusaha agar tidak berisik dan mengganggunya.

Sesampainya di rumah sakit –pemandangan paling tak diinginkan Jaejoong terjadi disana. Ayah mertuanya berdiri didekat dinding, membelakanginya dan agak meringkuk. Para bibi Yunho menangis di sekitar ayah mertuanya.

"Ya Tuhan…" ia mendengar Jihye bergumam dengan suara memilukan. Kemudian wanita itu berlari untuk menuju kerumunan.

Jaejoong sendiri dengan kepanikan mencari suaminya. Ia tak bisa bertanya pada siapapun karena semua orang sedang dalam keadaan yang memprihatinkan hingga membuatnya enggan. Hatinya mencelos saat melihat Jihye menangis di pelukan ayahnya. Ia baru akan mendekat pada ayahnya saat melihat siluet familiar tertangkap matanya. Sosok Yunho berdiri memunggungi mereka –ia berada lumayan jauh dari kerumunan.

Dengan jantung yang berdebar kencang juga nafasnya yang tercekat Jaejoong menghampiri sosok tersebut. Ia mengernyit nyeri dalam dadanya saat melihat bahu kokoh itu bergetar meski ia tak mendengar apapun. Ia memperlambat langkahnya ketika benar-benar dibelakang punggung suaminya.

"Yunho…" Jaejoong menyentuh pundak suaminya. Ia merasa semakin tercekat saat Yunho berbalik dan memeluknya erat. Pria yang lebih besar darinya itu merengkuhnya dalam dan terisak dibalik pundaknya. Ia balas memeluk Yunho dan tak kuasa pula membendung kesedihannya mendengar begitu banyak tangisan pilu disana.

"Ibuku…" Yunho berkata di sela tangisannya dan membuat Jaejoong semakin mengeratkan pelukannya. Ia sendiri tak bisa memikirkan kata-kata apa yang mungkin bisa menenangkan suaminya ini karena ia sendiripun merasa tak karuan sekarang.

"Oppa…" Jaejoong mendengar suara Jihye didekatnya dan berikutnya ia merasa Yunho juga menarik orang lain dan memeluknya bersama. Tangisan memilukan Jihye semakin membuat mereka tak kuasa, dan terus berpelukan dengan erat untuk mencurahkan segala kesedihan yang selama ini berusaha ditahan-tahan.

Yunho membuka matanya perlahan –ia lalu mengernyit begitu merasa kepalanya sangat berat. Ia bangkit duduk dan mengerang. Diedarkannya matanya untuk mengenali ruangan dimana ia berada saat itu. Dan ia terdiam begitu sadar bahwa ia ada di kamarnya. Ia mengangkat wajahnya saat pintu kamar dibuka dan muncul Jaejoong dari sana. Ia memperhatikan istrinya yang memakai pakaian serba hitam menghampirinya dengan raut khawatir.

"Sayang, kau baik-baik saja?" tanya pria manis itu –ia duduk didekat kaki Yunho dan mencoba meraih kepalanya kemudian mengusap pelan. Ia mendengar Yunho menggumam meski lebih terdengar seperti erangan. "Kau ingin minum?" Jaejoong kembali bertanya tapi Yunho menggelengkan kepalanya.

Jaejoong menggigit bibirnya begitu melihat Yunho hanya memandang pada satu titik di sekitar lututnya sendiri. Pria tampan itu terlihat begitu menyedihkan. Tadi Yunho sempat tak sadarkan diri –dokter bilang dia kelelahan dan stress juga kurang asupan makanan dalam beberapa hari ini.

"Yunho…" Jaejoong mengambil salah satu tangan Yunho dan menggenggamnya dengan kedua tangannya. Ia tersenyum samar saat suaminya menatapnya. "Aku tau pasti ini sulit sekali untukmu," katanya dengan pelan. Ia mendengar Yunho menarik nafasnya. "Meskipun aku sadar bahwa tak akan ada satupun yang bisa menggantikan Omma, tapi kau masih punya ayahmu dan adik-adikmu juga anak-anak dan aku. Kami semua menyayangimu, Yunho," imbuhnya –terdengar sangat lembut meski aslinya Jaejoong berusaha keras supaya suaranya tidak bergetar. Ia menelan ludahnya untuk menyamankan tenggorokannya yang mulai ngilu.

Yunho menunduk sebagai reaksinya. Ia tak tau harus bagaimana sementara sesuatu seperti mendesak di dadanya.

"Kau pasti bisa menjalani kehidupanmu seperti biasanya, Sayang," Jaejoong membiarkan airmatanya mengalir sementara sebelah tangannya terulur untuk mengusap airmata di wajah suaminya. "Ayahmu, adik-adikmu –kami semua ada disini untuk selalu menyemangatimu. Dan Omma pasti ikut memperhatikanmu di suatu tempat," kata Jaejoong melanjutkan –ia secara tak sengaja membiarkan satu isakan meluncur dan membangkitkan Yunho. Pria itu menatapnya dengan sepasang matanya yang basah.

Tangan besar pria itu terulur pada wajah istrinya dan menyeka airmatanya dengan ibu jari. "Terimakasih, Sayang," kata Yunho dengan suara parau. Jaejoong menganggukkan kepalanya dan semakin terisak –ia merasa sangat lega begitu Yunho merengkuhnya.

Mereka berdua membiarkan keadaan tak berubah sampai beberapa lama sampai Jaejoong bertindak lebih dulu. Ia bergerak dan menangkup wajah suaminya begitu pelukannya mengendur. Ia mengecup pipi Yunho dengan lembut dan berusaha untuk tersenyum.

"Teman-teman di kantormu kemari," kata Jaejoong memberitahu. "Ada Yoochun dan istrinya –Junsu. Ada Hankyung juga istrinya dan Siwon. Sebaiknya kau menemui mereka, bukan?" ujarnya kemudian. Ia merapihkan rambut suaminya juga bajunya. Pria itu awalnya masih tak banyak bereaksi, tapi ketika Jaejoong beranjak berdiri di sisi ranjang, Yunho memintanya untuk membantunya berdiri.

Ia menggandeng suaminya keluar dari kamar untuk menuju ke sebuah ruangan dimana disana teman-teman Yunho sedang berkumpul bersama yang lain. Jaejoong tersenyum hangat memperhatikan suaminya berbaur dengan mereka. Ia merasa bersyukur bahwa suaminya tidak berlarut-larut terpuruk meski mungkin hanya akan berlaku untuk hari ini. Namun ia sudah bertekad untuk ke depannya ia akan terus memberikan semangat pada pria kesayangannya itu dan akan selalu ada ketika sang suami membutuhkan pundaknya untuk bersandar dalam kepedihan.

Fin.

Maaf update beginian di pagi2 buta (?) begini. Ini saya kerjakan sejak beberapa jam yang lalu. Biar hasilnya pendek tapi jujur saya butuh berjam-jam buat ngelarinnya :DDDD

Maaf kalau banyak typo (s) soalnya saya mau cek ulang keburu mata udah berat banget mana beberapa jam lagi ada UTS -_-

Btw, thanks buat yang udah baca, apalagi komen dan review 3