UPDATE~! XD

Thanx for the waits and the reviews!


Warning(s) : Probably-OOC,gaje, abal, typo(s), fluff—if you squint, paralyzed!Kido

Short of AU, karena alur cerita masih sama seperti alur cerita KagePro, tapi mereka tidak memiliki 'Red eyes'.

Highschool AU : Trio Meka-dan – 1 SMA, ShinAya – 3 SMA

Disclaimer : Project awesome ini bukan punya saya, selamanya punya Jin atuh. Desain karakter mili Shidu dan Wannyanpuu. But, this story's plot IS mine.

Please read the Author Note at the end of story, I have something important to tell you, readers :'3


Italic : Bahasa yang bukan Bahasa Indonesia

[Caged Bold Words] : [Yang ditulis Kido]

Skip time... berapa hari ._. saya nggak ngitung berapa, tapi kurang dari seminggu /ming

Third Person's POV

Saa, HAPPY READING!


Hello, Again

KagePro Fandom

KanoXKido

6 of 6

.

.

.

.

.

.

Opened Epilog

(What I Want to Understand is...)

"Hey, hey, putri tidur~ sudah bangun kah kau? Atau perlukah pangeran tampan ini—Oft!" pemuda bernama Kano Shuuya itu mengelus hidungnya yang dihantam sesuatu. Astaga... dia baru saja membuka pintu dan... yah, coba tebak apa yang membuat kelakar kurang ajar pemuda itu terhenti.

Bantal.

Tepatnya bantal yang dilempar oleh penghuni kamar nomor 301.

"Kuh, rupanya putri tidur sudah bangun—Gah!" Kali ini sebuah buku gambar melayang, membentur dahi Kano sebelum mendarat mulus di lantai marmer. Pelakunya masih sama, Kido Tsubomi. Gadis berambut hijau yang baru beberapa hari tersadar dari Comatose Periodenya.

Kelereng violet gadis itu melirik korban lemparannya dengan tajam, menyiratkan ancaman untuk meneruskan candaan yang membuatnya kesal setengah mati. Yah... ancaman bisu yang palsu sebetulnya. Karena di dekatnya tidak ada lagi barang yang bisa dilempar.

Pemuda bermata kucing itu hanya terkekeh pelan, memunguti barang-barang yang tadi 'mencium' wajahnya dan mendekati ranjang besi di hadapannya. Ditaruhnya kedua barang tersebut di pangkuan Kido sebelum duduk di samping ranjang. "Tidak suka dipanggil putri tidur, eh?" tanyanya sambil menaruh tasnya di dekat kursi.

Mungkin Kano harus bersyukur karena memiliki gerakan refleks yang lebih cepat dari monyet—atau kucing. Karena kalau gerak refleksnya setara dengan gajah... pensil runcing di tangan Kido pasti berhasil melukai bola mata kanannya.

Ya... saking bencinya Kido pada julukan yang baru-baru ini diberikan Kano padanya, dia bermaksud untuk membutakan salah satu mata saudara tirinya. 'Putri tidur'. Julukan itu diberikan bukan tanpa alasan, tapi tetap saja gadis cantik itu membencinya.

"Lucu. Padahal kau tidak menyukai panggilan itu..." tangan kanan pemuda itu terulur, mengelus telinga kiri Kido, "tapi kau bisa mendengarku memanggilmu, Putri tidur?"

Kali ini gadis itu justru menyandarkan kepalanya ke arah elusan Kano, napasnya mendesah pelan. Hati-hati, dia mengambil buku gambar di pangkuannya dan menulis sesuatu.

[Kau tahu aku tidak bisa mendengarmu.]

"Yahh... aku kira—" ucapan Kano terhenti saat Kido mengangkat bukunya lagi.

[Aku membaca gerakan mulutmu.]

"Hee..." gerakan jemari pemuda itu berubah menjadi menyisir, menyusuri untaian lebut rambut Kido. Kalau dia melakukan gerakan ini 2 bulan yang lalu—mustahil. 2 bulan yang lalu, dia nyaris tidak bisa menyentuh saudara tirinya.

Nyaris.

Pemuda bermata kucing itu tersenyum dalam hati, teringat pada sentuhan ringan yang dia curi saat gadis itu tertidur—atau tidak memperhatikan. Dulu, jarak antara dirinya dan Kido terlihat begitu nyata... kasat dalam pandangan. Yang bisa dia lakukan hanya menyapa. Sudah, berhenti di tahap itu. waktu itu Kano sudah merasa puas, meskipun dia tidak bisa mengungkapkan perasaannya secara verbal, setidaknya dia bisa tetap berhubungan dengan Kido.

Sekarang?

Mereka—Kido tidak bisa menyapa atau membalas sapaannya secara literal.

"Huft..." menghela napas pelan, jari jemari pemuda itu masih menyisiri rambut Kido. Sesekali jarinya memuntirnya pelan, membuat rambut hijau itu jadi agak bergelombang.

[Kenapa?]

Lagi-lagi gadis itu mengangkat buku gambarnya, cara baru baginya untuk berkomunikasi.

Bukan, bukan berarti dia tidak bisa berbicara sama sekali. Hanya kesulitan.

"Tidak apa-apa, khuku," Kano terkekeh pelan ketika Kido mengerutkan alisnya, sangsi terhadap jawabannya. "hanya agak mengantuk. Wah... sepertinya kutukanmu menular padaku, putri tidur—Whoa!" cepat-cepat pemuda itu menarik tangan kanannya yang nyaris dipukul Kido dengan buku gambarnya.

Senyum samar yang terkesan miris terbentuk di bibir pemuda bersurai dirty blonde itu. Kalau ini terjadi dulu, tangannya tidak akan selamat. Gerakan Kido tidak secepat dulu, memeberinya waktu untuk menghindari pukulan dan serangan-serangan jarak dekat.

[Kalau memang mengantuk, tidur.]

"Oh?" Kano mengangkat sebelah alisnya, ketara sekali kalau dia pura-pura terkejut, "Tidak apa-apa nih, kutinggal? Nanti kau kesepian~—Stop!" pemuda itu menarik tubuhnya mundur. Nyaris saja tinju Kido bersarang di perutnya.

[Siapa yang kesepian? Aku tidak memintamu untuk menemaniku, baka!]

Lagi-lagi pemuda bermata kucing itu tertawa. Ketsunderean saudara tirinya tidak pernah berubah. Mungkin butuh puluhan truk untuk memutuskan syaraf tsundere di otak Kido—apa yang dia pikirkan?!

"Aku tidur di sini saja." Kano bergumam pelan sembari turun dari kasur, duduk di bangku kecil dan menyandarkan kepalanya di kasur. Posisinya membuat Kido tidak bisa melihat wajahnya, dan memang itu tujuannya.

Dia masih ingat dengan jelas tentang apa yang dikatakan dokter setelah hasil ronsen keluar. Benturan dari tabrakan yang dialami Kido mempengaruhi syaraf-syaraf Kido, mengganggu kinerja sistem motoriknya, terutama syaraf somatik yang mengatur gerakan sadarnya. Hal ini membuat Kido kesulitan mengontrol gerakannya. Gerakan yang berlebihan akan membuat gadis itu bergetar hebat dan nyaris tidak bisa bergerak. Gangguan terhadap sistem penggeraknya juga berdampak pada kemampuan Kido berbicara. Dia tidak bisa mengontrol kecepatan gerak lidahnya, membuatnya tidak bisa memilah suku kata dan memberi jeda dalam ejaannya dengan benar.

Tidak sampai di situ, syaraf yang menghubungkan indera pendengarannya dengan otak juga terganggu. Kido sendiri yang mengatakan kalau dia tidak bisa mendengar suara sejelas dulu. Ucapan orang-orang terdengar seperti dengungan lebah, begitu katanya.

Terlalu bahaya untuk melakukan operasi. Syaraf-syaraf Kido yang terganggu dominan berhubungan langsung dengan otak. Ada banyak resiko jika operasi tetap dilakukan, Kido bisa saja meninggal jika terjadi kesalahan. Karenanya pasangan Tateyama sepakat setelah membicarakannya dengan anak-anak mereka, mereka akan mengambil penyembuhan yang lebih aman, terapi. Kido tetap dirawat di rumah sakit sampai keadaannya membaik sambil menjalani terapi untuk melatih kelancaran kinerja sistem kinestetiknya dengan ahli terapi.

Kenyataan-kenyataan itu membuat Kano menghela napas berat. Dia bahkan tidak sadar sudah menahan napasnya selama entah-berapa-lama. Yang jelas, semua fakta itu membuat mulutnya pahit.

Satu truk saja sudah membuatnya koma selama satu bulan, dan terbangun dalam kondisi paralyzed. Puluhan truk? Mungkin bukan hanya syaraf tsunderenya yang putus, tapi seluruh syarafnya. Bagi Kano, kelakar yang dia bentuk sendiri dalam kepalanya sama sekali tidak lucu. Kenapa juga dia membuat candaan seperti itu.

Benar kata Kido, dia memang bodoh.

Menghela napas pelan, pemuda itu memejamkan manik kucingnya sebentar. Sebentar, karena kelopak matanya refleks terbuka ketika dia merasakan elusan yang gerakannya agak kaku, menyisiri surai dirty blondenya dengan lembut.

Mungkin gadis berambut hijau itu mengira saudara tirinya sudah tidur. Itu wajar, mengingat dia tidak bisa melihat wajah Kano. Mungkin juga Kido memang ingin mengelus rambut Kano, tidak ada alasan khusus.

Atau mungkin juga dia ingin menghibur Kano.

Pemuda bergolongan darah B itu tidak pernah mengerti; bagaimana gadis di sebelahnya sering terlihat mengetahui apa yang berkecamuk di kepalanya. Pada kenyataannya, gadis itu memang bisa menebak isi kepalanya.

Terdengar gumaman lembut yang mendengung di tenggorokan Kido. Memang hanya rangkaian gumaman tanpa arti, tapi nada yang digunakan Kido membuatnya terdengar seperti senandung irama. Lagu tanpa lirik, bisa dibilang begitu.

Tentang nada-nada yang disenandungkan Kido, Kano sangat menyukainya. Dia memang tidak—belum mengerti arti dari lagu tanpa lirik yang belakangan ini sering digumamkan gadis itu, tapi baginya, suara Kido yang kini jarang dipakai justru benar-benar terdengar seperti lagu baginya. Seperti lullaby—lagu tidur, tepatnya.

Pelan-pelan, pemuda itu memindahkan posisinya, menolehkan kepalanya untuk melihat Kido. Cepat-cepat gadis itu menarik tangannya, terkejut.

"Hei..." suara pemuda itu terdengar parau. "Kenapa berhenti?" meskipun begitu, masih terdengar nada jahil yang sering dia gunakan ketika menggoda Kido.

Mendengus pelan, gadis berambut hijau itu mengulurkan tangannya lagi. Bukannya melanjutkan kegiatannya—mengelus rambut Kano, Kido justru menjitak pelan dahi pemuda itu. Yang dijitak mengerutkan dahinya, bingung. Jarang-jarang Kido tidak sungguh-sungguh memukulnya...yah, bukan berarti Kano masochist, dia hanya heran.

Kerutan yang terbentuk di antara alisnya merenggang ketika dia merasakan elusan lembut jemari Kido di antara helai rambutnya. Menghela napas lega, pemuda itu tersenyum kecil.

Pandangannya jatuh ke buku gambar dan pensil di pangkuan Kido. Ring aluminium yang menyatukan lembaran-lembaran buku gambar itu memantulkan cahaya matahari, membuatnya berkilau seperti terbuat perak.

Ayanolah yang mengusulkan agar Kido berkomunikasi dengan media buku gambar dan pensil. Usulnya diterima oleh dokter, karena menurutnya cara tersebut cukup aman. Kido bisa tetap berkomunikasi tanpa harus membebani otot lidahnya yang kesulitan dia kontrol. Selama Kido tidak membebani tangannya dengan menulis terlalu banyak, dokter yakin kalau cara itu tidak akan menganggu Kido.

Tanpa dia sadari, kelopak matanya sudah tertutup, menghalangi manik kucingnya untuk melihat dunia. Jemari halus yang mengelus pelan rambutnya, ditambah gumaman lembut yang kembali dinyanyikan Kido membuatnya rileks. Pemuda itu tidak sadar, bahwa wajah tidurnya yang tenang berhasil membuat seorang Kido Tsubomi tersenyum.

Meskipun begitu, terlihat jelas ekspresi sedih dalam kelereng violet Kido, memberi rona kelam dalam sepasang mata jernihnya. Emosi yang jelas berkebalikan dengan ulasan senyum lembut di bibirnya itu tidak bisa ditangkap manik kucing Kano, sejeli apapun pemuda itu, mengingat dia sudah tertidur.

Alasan kenapa emosi muram muncul di wajah Kido... hanya Kido yang tahu.

'Aku ingin mengatakannya...'

'Sekarang, mengucapkan selamat tidur saja sudah tidak bisa...'


"Ah!"

"Ada apa—"

"Ssh..."

Pemuda bermarga Kisaragi itu mengerutkan alisnya, tidak memahami alasan dari tindakan Ayano yang menyuruhnya untuk diam. Penasaran, dia mendekati temannya, memasuki kamar tempat Kido Tsubomi di rawat.

Saat pemuda berambut gelap itu masuk, dia mendapati penghuni ruangan itu tidak sendirian. Dia melihat seseorang sedang duduk di samping ranjang, kepalanya menelungkup di antara tangannya, membuat wajahnya tidak terlihat dari posisi Shintaro dan Ayano. Meskipun begitu, surai dirty blonde yang khas itu seakan-akan mengumumkan bahwa pemuda tersebut adalah Kano Shuuya. Dilihat dari pergerakan bahunya yang naik dan turun dengan rileks, seirama dengan napasnya, bisa ditebak bahwa pemuda bermata kucing itu sedang tidur.

Sedangkan gadis bersurai hijau yang dipindahkan ke ruangan ini beberapa hari lalu setelah dia sadar dari komanya juga berada dalam kondisi yang sama dengan saudara tirinya—tidur nyenyak. Kepalanya bersandar di bantal yang terlihat empuk, raut wajahnya yang pucat terlihat rileks. Tangan kirinya terlipat di atas perut, memeluk buku gambar dan pensil yang dipakai gadis itu untuk berkomunikasi. Sepertinya gadis itu tidak sadar bahwa dia tertidur, menilai dari posisinya. Tangan kanannya sendiri terentang di samping tubuhnya, jemarinya terselip di antara helaian dirty blonde Kano. Mungkin sebleum jatuh tertidur, gadis itu sedang menyisiri rambut si pemuda.

"Kelihatannya mereka baik-baik saja..." gumam Shintaro pelan, tidak mau membangunkan dua kouhainya yang terlelap. Gadis bersyal merah di sebelahnya mangangguk pelan.

Ayano mendekati kedua adiknya, mengambil selimut di laci meja kecil di sebelah ranjang. Pelan-pelan gadis berambut coklat gelap itu membentangkan selimut di tangannya, lalu menyelimuti pemuda yang tengah tidur dengan posisi duduk. Setelah memastikan selimut itu cukup menutupi Kano untuk menghangatkannya, Ayano beralih ke adiknya yang lain.

Dengan hati-hati Ayano mengambil buku gambar dan pensil di bawah tangan kiri Kido. Ditaruhnya dua barang itu di atas meja kecil sebelum berbalik lagi, kali ini untuk menaikkan selimut yang hanya menutupi separuh badan Kido. Pelan-pelan, Ayano bergantian mengusap rambut kedua adiknya, senyum lembut terulas di bibirnya.

"Iku yo, Shintaro-kun." suara Ayano terdengar halus, takut membangunkan Kano dan Kido. Pemuda yang dia ajak tidak menjawab, hanya mengikutinya keluar dari ruangan itu.


Kano terbangun ketika merasakan cahaya kemerahan menembus kelopak matanya. Pelan-pelan dia membuka mata, mengerjap-kerjap dan membiarkan pupilnya mengatur jumlah cahaya yang tepat untuk masuk ke matanya. Dinilai dari cahaya kemerahan yang menembus jendela, meremang dalam ruangan, Kano yakin kalau sekarang sudah sore. Dia tertidur cukup lama.

'Waktunya pulang.' Batin pemuda itu.

Pemuda itu menghela napas untuk kesekian kalinya hari ini. Di sibaknya selimut yang menggelayuti punggungnya. 'Nee-chan tadi ke sini...' adalah kesimpulan yang muncul di benaknya. Tanpa suara dia melipat selimutnya dan menaruhnya kembali ke tempat asalnya. Manik kucingnya melirik ke arah penghuni kamar itu, dan mendapati bahwa Kido juga jatuh tertidur. Cahaya mentari senja dibiaskan oleh jendela sedemikian rupa, membentuk permainan cahaya yang remang-remangnya jatuh di atas wajah Kido, membuat paras eloknya seperti sebuah lukisan.

Pelan, Kano menahan dirinya di atas Kido, menumpukkan kedua tangannya di sebelah kepala gadis itu. Manik kucingnya menelusuri lekuk-lekuk wajah Kido selagi dia merundukkan wajahnya. Tepat saat hidung mereka beradu, napas Kano tercekat.

Kelereng violet Kido terbuka, mengerjap pelan. Gadis berambut hijau itu menyipitkan matanya sejenak untuk memfokuskan penglihatannya.

"Ah..." gumam Kano. Pelan-pelan dia menarik dirinya, mundur.

Keheningan yang canggung mengisi udara. Kano hanya bisa duduk sambil melihat apapun-yang-penting-bukan-Kido. Tangannya terangkat untuk menggaruk tengkuknya, menutupi kegugupannya. Saking gugupnya sampai dia tidak menyadari tarikan halus di lengan jaketnya.

"Kheh, Kanno!" akhirnya dia menoleh ke arah Kido setelah gadis itu memanggilnya.

"A, apa?"

Gadis bersurai hijau itu menatap Kano sejenak, tampak sedang berpikir. Pelan-pelan dia menunjuk ke arah pangkuannya, lalu dengan kaku membentu persegi imajiner menggunakan jari-jarinya. Dia mencari buku gambarnya.

"Ooh, tunggu..."

Agak gelagapan, pemuda itu menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari barang yang diminta Kido. Gugupnya belum hilang, alhasil dia tidak bisa menemukan buku gambar tersebut.

"Pfft," samar, terdengar tawa halus keluar dari mulut Kido.

Refleks Kano menoleh, dan mendapati saudara tirinya sedang menahan tawa. Tidak mengerti apa yang lucu, dia bertanya, "Apa yang lucu?" saking herannya, suaranya tidak terdengar gugup lagi.

Gadis berambut hijau itu berhenti tertawa. Sekarang dia justru mengerutkan keningnya. Tangan kanannya terangkat sebentar untuk menunjuk meja di sebelah Kano. Saat pemuda itu mengikuti arah yang dia tunjuk, tangan gadis itu terjatuh lemas.

"Oh." Lagi-lagi Kido harus menahan tawa saat melihat seorang Kano Shuuya hanya bisa ber'Oh' ria ketika sang pemuda mengetahui bahwa barang yang dia cari berada tepat di sebelahnya.

Pemuda berambut dirty blonde itu hanya bisa menggerutu, mengutuk dirinya sendiri. Dia menyerahkan buku gambar Kido sebelum kembali duduk. Bibirnya mengerucut kesal karena Kido belum juga berhenti tertawa. Memang tidak ada suaranya, tapi Kano bisa melihat bahu gadis itu bergetar pelan menahan tawa.

Entah dirasuki apa, tiba-tiba pemuda bermata kucing itu tersenyum. Dalam waktu singkat dia ikut terkekeh pelan, menertawakan kebodohannya sendiri.

'Yah...' Kano membatin, 'setidaknya dia tertawa.'

Saat tawa mereka mereda, Kido mendapati bahwa manik kucing Kano sedang menatapinya dengan intens. Gadis itu yakin kalau wajahnya merona, pipinya yang menghangat adalah buktinya. Tidak seperti biasanya, gadis itu hanya mengigit bibir bawahnya dan membalas tatapan sang pemuda.

Senyum tipis—bukan seringai usil—terulas di bibir Kano sebelum mulutnya mengucapkan sesuatu dengan cepat. Sangat cepat, sampai-sampai Kido hampir tidak bisa membaca gerakan mulut pemuda di hadapannya.

Hampir.

Yang di ucapkan Kano, apapun itu, berhasil membuat Kido tersenyum. Benar-benar tesenyum, senyum yang juga tercerminkan dari matanya.

"Jjaa..." gumam Kido pelan, tangannya mulai menulis sesuatu di buku gambarnya. Dengan sabar pemuda di hadapannya menunggu, senyum masih terpampang di wajah pemuda bemata kucing itu.

[Yang waktu itu... kau serius?]

Yang di tanya tidak menjawab, hanya mengangguk. Tiba-tiba pemuda itu berdiri dan mengambil tasnya. Gesturnya menunjukkan bahwa dia hendak pulang.

Kelereng violet Kido mengikuti tiap gerakan pemuda tersebut. Pandangannya terlihat sepi, tapi ada yang lain juga. Matanya terlihat lebih jernih, seakan-akan beban yang menggerogoti hatinya terangkat.

"Ano toki to saki ga itteita koto, uso janai yo." Pernyataan Kano membuat Kido yang setengah melamun tersentak. Lagi-lagi wajahnya merona saat manik kucing Kano menatapnya lurus-lurus.

Gadis itu hanya menunduk, mengangguk pelan. Tindakannya membuat Kano tertawa pelan, dan tawanya disambut death glare dari Kido. Hal ini justru membuat Kano tertawa lebih keras. Saat sang pemuda berhenti tertawa, di dapatinya gadis bersurai hijau itu tengah membuang muka, kesal.

Tangan Kano terulur untuk mengelus rambut Kido, dan hal ini berhasil membuat Kido menoleh. Wajahnya masih terlihat jengkel, tangannya terangkat hendak menepis elusan Kano.

Kido harus mengurungkan niatnya, karena sekarang tangan Kano justru menangkap tepisannya. Masih menggenggam tangan Kido, pemuda bermabut dirty blonde itu duduk di pinggir kasur, tepat di depan Kido. Tangannya yang bebas menangkup wajah Kido, membawanya dalam ciuman lembut.

Ciuman tersebut hanya berlangsung sebentar, chaste kiss. Namun hal tersebut berhasil membuat rona wajah Kido meluas, kini merahnya sebelas-duabelas dengan tomat.

"Mata ashita ne, Tsubomi." Gumam Kano sebelum mengecup kening Kido.

"Hmmn..." hanya gumaman tidak jelas yang keluar dari mulut gadis itu.

Pemuda bermata kucing itu beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Tepat saat tangannya meraih gagang pintu, sebuah gumpalan kertas yang di remas jadi bola melayang dan terantuk bagian belakang kepalanya. Otomatis Kano menoleh dengan tangan memegangi bagian belakang kepalanya yang dilempari kertas. Didapatinya sang pelempar lagi-lagi membuang muka ke arah jendela. Meskipun begitu, pemusa bersurai dirty blonde itu bisa melihat telinga Kido yang memerah, benar-benar menggemaskan.

Pemuda itu terkekeh pelan sebelum menunduk dan mengambil bola kertas yang dilempar Kido. Masih tertawa, dia membuka pintu dan melenggang keluar. Setelah menutup pintu di belakangnya, dia membuka remasan kertas di tangannya.

[Mata ashita... Shuuya

suki da]

Kali ini, giliran wajah Kano yang berlomba dengan tomat, mana yang lebih merah.

Hanya sepenggal kata sederhana, tapi bagi Kano, kata tersebut sangat berarti. Lagi-lagi pemuda itu tersenyum. Dilipatnya kertas tersebut sebelum memasukkannya ke saku. Kertas tersebut... akan dia simpan baik-baik.

Wajah sang gadis masih merona, tapi raut mukanya terlihat senang, terbukti dari senyum lembut yang terulas di bibirnya. Kelereng violetnya menerawang ke luar jendela, mencoba mencari sosok dengan surai dirty blonde yang keluar dari rumah sakit.

Saat dia menemukan sosok Kano, kedua tangannya terangkat, menangkup di telinganya. Matanya terpejam selagi dia mengulang ucapan Kano. Dalam benaknya, dia mencoba membayangkan bagaimana seharusnya suara pemuda itu terdengar saat dia mengucapkan kalimat tersebut.

"Suki dayo, Tsubomi."


Aku bisa mendengar suaramu. Dan perlahan-lahan, aku memahami tiap kata yang kau eja. Yang bisa kulakukan, hanyalah mengulangi kalimat tersebut sambil berharap. Berharap, bahwa yang kau ucapkan dan kuulangi adalah kata-kata tentang cinta yang kita rasakan.

Suatu saat nanti, perasaan kita pasti bertemu. Dengan berbagai cara, mereka akan berbalas. Sampai saat itu tiba, mari mencoba, untuk saling memahami.

'Till then,

Hello, Again

End


Se-selesai... O_O

Oke, tunggu masih ada Author Note...


Dict's :

Baka : Stupid

Tsundere : Do I have to explain it :'v ?

—Sikap seseorang yang berlagak kasar, terutama kepada orang yang dia sukai/sayangi.

Kouhai : Junior

Nee-chan : Big sis'

Ano toki to saki ga itteita koto, uso janai yo : Yang aku ucapkan waktu itu dan yang kucapkan tadi, keduanya bukan bohong

Mata ashita : Sampai besok

suki : I like you. (Akhiran da, dayo, atau yo, berfungsi untuk penegasan atau keterangan pernyataan.)


*Nangis di pojokan*

Se-selesai...

Sebetulnya... saya merasa kalau endingnya kurang memuaskan, tapi setelah nulis ulang 5 kali, ini ending yang paling saya suka. Yup, open-ending. Jadi readers bebas menentukan endingnya sendiri dalam imajinasi readers. Fair enough I think, yang penting Kano sama Kido jadian =w= /slap

Ahue, soalnya saya nggak mau bikin ending yang ternyata nggak sesuai sama keingingan readers, jadi saya sisakan ruang untuk membuat ending sendiri .w. #modus

Dan...

Alasan kenapa saya nggak upload/update fanfic cukup lama... UN, orz. Udah, itu aja. Saya yakin Readers nggak mau baca alasan modus lain u_u

Sebagai gantinya saya update dan upload 4 fanfic sekaligus... dan semuanya multichap /ming. Kalau berkenan, lihat dan baca ya! :3 #nggak

Jadi... secara official(?) Hello, Again, sudah tamat. *mojok*

Tapi seperti yang saya bilang di chapter 5, saya akan menambahkan Omake, atau mengedit chapter yang terasa tidak pas.

Karenanya, saya membuka request untuk Omake. Tolong untuk merequest yang masih berhubungan dengan Hello Again. Jika tidak berhubungan, tidak apa-apa. Akan saya penuhi dan saya publish sebagai cerita lain. Readers juga bisa bertanya jika ada yang tidak dipahami atau terasa ganjal dalam fanfic ini. Akan saya usahakan untuk menjawab lewat PM atau Omake.

Ah, iya. Sebelumnya ada yang nanya apa hubungan judul tiap chapter dengan ceritanya... berikut penjelasannya uvu


Chapter 1. Prolog

perlu penjelasan ._.? #slap

Chapter 2. Start/Go?

mengacu pada konflik batin Kido, apakah dia mau mulai berusaha menyelesaikan konfliknya atau pergi dan meninggalkan konflik tersebut

Chapter 3. Pause/Still?

Mengacu pada kondisi Kano... apakah dia hanya akan berhenti sementara dan melanjutkan lagi, atau justru menetap, merenungi penyesalannya sendiri?

Chapter 4. Re-Do/Re-Start?

yang ini tentang pilihan Kano. Mengulangi semua tindakannya dari awal, mengurung diri dalam safe spotnya atau memulai dari awal, yang berarti dia menciptakan kemungkinan baru dengan membuat safe spot baru.

Chapter 5. Try/Drop?

Try, coba. Drop, Jatuhkan. setelah Kido bangun, apa yang akan dia dan Kano lakukan? Mencoba menyelesaikan masalah mereka atau justru menjatuhkannya, berpura-pura bahwa masalah tersebut tidak pernah ada?

Chapter 6. Opened Epilog

sekarang Kano dan Kido sudah sampai pada akhir... yang membuka pada cerita baru mereka sendiri =w=


Sekarang saya bisa fokus ke fanfic lain... Broken, Today, After Tomorrow, 'Till Then (Broken D'), The Player of Nameless Song (Player), dan Rain Over Love (ROL). Nah... sebetulnya saya butuh bantuan Readers TTwTT.

Untuk meneruskan Broken D' dan Player, saya harus melakukan semacam... riset. Untuk Broken D' saya harus riset tentang android dan teknologi, sedangkan untuk Player, saya harus meneliti mitologi dan legenda. Tidak mungkin saya tidak melakukannya, padahal keduanya bukan bidang saya :'v.

Jadi... mau tidak mau saya harus mengorbankan salah satu untuk di update belakangan agar saya bisa fokus pada fanfic yang lain. Makanya, saya minta tolong pada readers. Di profil saya ada poling untuk menentukan mana fanfic yang lebih baik saya kerjakan lebih dulu. Tolong bantu saya menetukannya :'3 Untuk ROL, untungnya saya tidak perlu melakukan riset berlebihan =w=

Yak, sekian dari Megu :3


Thanx to every Readers, Silent or Not, Guest/Anonym Readers, Reviewers, Followers, Favoriters(?):

Curry Pan, Nagumo Himaru, Mashiro Kuroba, Siffa/Siffa Nyangsang (:v), Inori Yuzuriha, Vinka Vessalius, Baka-Arisa-chan, Himitsu, Clarecia/ClareciaNathan, Nono Asakura, Kaede Hoshizora, Everdistant Utopia, Seseorang, Apa Aja 3, Fani Tsubomi,Hikamarucute. chan, Aizawa harumi, Akai .Sora13, Faboeloes, Kurotori Rei,

Sekali lagi saya ucapkan terimakasih pada kalian yang sudah membaca fanfic abal dan gaje ini, serta sudah bersabar dengan author buta deadline seperti saya *Bow*

Untuk New Readers, saya ucapkan terima kasih karena mau meluangkan waktu untuk membaca fanfic ini.


Minna, THANX FOR READING! *Bow*

Since this is the final... See you again in another story :'3

And... RnR please?