Title : Fated

Pairing : Kris x Tao [KrisTao]

Other Casts : EXO Members; Kyuhyun x Sungmin

Genre : Romance ; Fluff

Rated : PG-13

Disclaimer : Kris, Tao dan semua member EXO bukan milik saya, kecuali Plot cerita. AU yang saya gunakan adalah Hogwarts!AU dan semua yang berhubungan didalamnya adalah murni hasil karya dari , saya hanya bermain-main didalam dunianya. Tidak ada keuntungan yang saya ambil melalui cerita ini.

Summary : Semenjak kejadian di perpustakan malam itu, pria dengan rambut hitam pekat dan mata yang tajam itu tidak pernah hilang dari pikiran Yifan. Tapi apakah Slytherin dan Gryffindor bisa berjalan beriringan?

.

.

.

"Love does not make the world go round. Love is what makes the ride worthwhile."Franklin P. Jones

.

.

Cahaya matahari pagi itu menelisik masuk melalui tirai-tirai hijau kehitaman yang menggantung indah ditepian sebuah jendela berbentuk oval menyamping tepat disebelah tempat tidur berbahan kayu oak milik Yifan. Meskipun cahaya matahari itu berwarna sedikit kehijauan karena air danau yang menghalanginya, pria dengan alis tebal itu masih dapat merasakan kehangatan dari kekuatan kehidupan yang menjelma melalui cahaya.

Yifan harus berterima kasih pada Salazar Slytherin karena memilih ruang bawah tanah sebagai tempat asrama utamanya. Leluhur Slytherin itu nampaknya memiliki selera yang sama dengan Yifan menyangkut dekorasi ruangan dan warna utama asrama ini.

Warna hijau disekitaran Yifan memberikan ketenangan pada kesehatan emosional Yifan yang terkadang turun naik karena jabatannya sebagai prefek sekolah dan kadang warna ini juga memberikan kesegaran ketika Yifan merasa sangat lelah bahkan hanya untuk sekedar bangun dari tidurnya, seperti saat ini.

Dan jika dilihat dari segi melankolis, warna hijau yang mengelilinginya ini lebih seperti melukiskan suatu ketabahan akan sebuah penderitaan, meskipun Yifan tidak dapat memungkiri bahwa ada unsur keras dan keinginan untuk mendominasi. Hanya saja kebanyakan penghuni asrama –terutama asrama-asrama lain di luar Slytherin- lebih senang melihat pilihan warna Salazar Slytherin melalui sifat negatifnya. Iri hati dan kebohongan. Dan warna hitam yang sedikit membaur didalamnya justru menambah kesan misterius dan tidak bersahabat.

Dengan berat hati, Yifan mengangkat dirinya sendiri dari tempat tidur dan bersiap untuk memulai harinya seperti biasa. Berkutat dengan seragam dan jubahnya sebentar, lalu lima belas menit kemudian, Yifan sudah siap untuk menuju kelas pertamanya hari ini.

.

Begitu Yifan memasuki ruang rekreasi Slytherin pagi itu, ruangan dengan nuansa yang sama seperti kamarnya itu sudah nyaris kosong. Hanya ada beberapa siswa dari tingkat pertama yang sepertinya lebih memilih bersantai didepan perapian daripada mengisi perut mereka. Yifan membetulkan letak kacamatanya ketika secara tidak sengaja seseorang menabrak tubuhnya dari belakang.

Sedikit kesal, Yifan berbalik dan memandang orang yang baru saja menabraknya. Disana, dia melihat sesosok pria dengan tubuh tinggi yang sedikit lebih tinggi dari Yifan. Tekstur wajahnya sedikit keras dengan mata hitam dingin yang terkesan mengintimidasi siapapun yang berani menatap kearahnya. Rambut hitam pendek dan tubuh berisi itu terlihat begitu sempurna dibalut dengan jubah hijau kehitaman Slytherin.

"Yo, Mr. Prefek! Apa yang kau lakukan disini? Apakah sekarang menghalangi jalan juga merupakan tugasmu?" Kata pria itu. Ada nada mengejek didalam suaranya dan Yifan tidak menyukainya sama sekali. Tapi pria dengan rambut berwarna pirang yang mirip dengan pasir pantai itu sudah terbiasa untuk tidak menunjukan emosinya dan menunjukan ekspresi kesal yang sudah sejak lama melekat di wajahnya tanpa dia bersusah payah.

Jadi, tanpa menjawab sarcasm dari pria itu, Yifan menyingkir dan memberikan jalan kepadanya. Dia masih mengikuti pria yang masih mendumal itu melalui sudut matanya sampai saat sang pria menghilang dibalik tembok batu kehitaman sesaat setelah tembok itu bergeser secara horizontal ke kanan –pintu masuk asrama.

Yifan mengenal Choi Seunghyun, pria itu, sebagai seniornya di tingkat tujuh. Pria itu berada ditingkat yang sama dengan Kang Daesung, Gryffindor kesayangan Headmaster Yoo. Adik pria itu, Choi Sooyoung adalah rekan prefek Yifan di Slytherin –yang khusus mengurus anak perempuan- dan tidak pernah bisa melaksanakan tugasnya tanpa merepotkan Yifan.

Kakak beradik itu senang sekali membuat Yifan sakit kepala. Bukan karena mereka sering melakukan keisengan dan masalah bagi Slytherin, tapi karena kesombongan mereka yang membuat Yifan ingin sekali menghadiahkan ramuan polijus yang telah dicampurkan dengan sehelai bulu kucing untuk mereka. Dan khusus untuk Choi Sooyoung, Yifan akan memberikan bulu kucing anggora dengan ras terbaik.

Setidaknya dengan begitu akan lebih mudah untuk menghadapi mereka ketika keduanya berulah. Maksudnya, kucing tidak menggunakan tongkat sihir, bukan?

Yifan sendiri tidak mengerti mengapa Kwon Jiyoung, siswa tingkat enam paling cemerlang dari Ravenclaw bersedia menjadi kekasih Choi Seunghyun. Mungkin suatu saat nanti Yifan harus bertanya langsung pada senior Kwon untuk menghilangkan rasa penasarannya. Tentu saja ketika keduanya sedang tidak disibukan oleh tugas mereka sebagai prefek.

Belum sempat Yifan beranjak dari tempatnya berada sekarang, tubuhnya kembali tersungkur, kali ini tubuhnya memilih untuk bertemu dengan lantai marmer dingin karena otot kakinya menolak perintah otak kecilnya untuk menahan berat tubuhnya yang terlampau tinggi.

"Oh! Maaf, Kris! Aku tidak sengaja menabrakmu!" Pekik sebuah suara. Sementara Yifan mencoba untuk berdiri dan membuat kursi hitam berlengan itu menjadi tumpuan tangannya, orang yang mengeluarkan suara itu berusaha untuk membantunya berdiri. Yifan memandang pria dihadapannya itu dengan tatapan kesal sambil menepuk-nepuk jubahnya dari debu-debu yang sebenarnya tidak ada disana.

"Percuma kau menggunakan kacamata itu kalau kau masih saja suka menabraku!" Gerutu Yifan. Tangannya kini menggenggam erat tongkat sihirnya, mencoba untuk tidak melafalkan mantra transfigurasi yang pernah dipelajarinya tahun lalu kearah sosok itu.

Pria dihadapan Yifan sepertinya menyadari gelagatnya sehingga kini dia mengangkat kedua tangannya ke udara, tanda bahwa dia tidak mengharapkan pertikaian. Dan Yifan hampir saja mendengus kesal kearahnya. "Grumpy as usual in the morning, I see." Balas sosok itu sambil menyesuaikan kembali letak kacamatanya, sama seperti yang di lakukan oleh Yifan beberapa saat sebelumnya.

"Shut up, Jongdae!" Seru Sehun yang berada tak jauh dari pintu masuk asrama. Dia memandang Jongdae dengan tatapan bosan sambil terus mendekat kearahnya. Yifan menaikan sebelah alisnya yang tersembunyi dibalik rambut ketika menyadari sosok lain dibelakang Sehun. Jongdae memutar matanya setengah kesal. Tidak suka rutinitasnya mengganggu Yifan pagi ini terganggu oleh dua orang pengikut setia sang prefek.

"Jaga mulutmu, Oh Sehun! Darahmu tidak lebih murni dari darahku!" Gertak Jongdae sambil tersenyum sinis. Sehun hanya diam dan memandangnya dengan tatapan bosan yang sama. "Kurasa sebaiknya aku pergi, karena ayahku tidak mengizinkanku bermain dengan orang yang tidak memiliki darah murni sepertiku." Potong Jongdae sebelum Yifan berhasil mengeluarkan berbagai macam pidatonya.

Sehun dan Yifan saling berpandangan dan mengangkat bahu mereka ketika Jongdae menghilang menuju kamarnya. Sepertinya dia juga tidak tertarik untuk menyantap sarapan pagi ini. Sementara itu Jongin, pria yang sejak tadi berada dibelakang Sehun, terus mengikuti gerak-gerik Jongdae seolah sedang mempelajari lawannya dalam pertandingan Quidditch.

"Ada apa dengannya?" Keluh Jongin, "Tidak ada lagi yang membicarakan mengenai hal itu setelah pertempuran hebat hampir dua puluh dekade lalu." Tambah Jongin sambil membetulkan letak jubahnya yang sedikit tidak nyaman.

"Abaikan saja dia." Jawab Yifan, tidak ingin mempermasalahkan perilaku minus Jongdae yang memang kadang agak mengesalkan. "Kenapa kau kembali lagi kesini, Sehun-ah? Bukankah kau dan Jongin seharusnya ada di kelas transfigurasi pagi ini?" Tanya Yifan penasaran. Mungkin jika Jongin yang berada dihadapannya saat ini, Yifan tidak akan mengajukan pertanyaan.

Tetapi Sehun berbeda, meskipun Jongin dan Sehun sudah sejak tahun pertama selalu bersama, tidak biasanya Sehun melewatkan kelas. Terlebih jika kelas itu adalah kelas Transfigurasi. Yifan tahu Sehun selalu ingin menjadi seorang animagus seperti ibunya.

"Profesor Cho bilang dia butuh laporan semalam. Dan aku disini karena Profesor Kim sepertinya sedang sibuk dengan asramanya, dia menjadwal ulang semua kelas transfigurasi hari ini." Jawab Sehun ringan. Kali ini dia tengah duduk pada kursi hitam berlengan tepat didepan perapian. Disebelahnya, Jongin nampak masih sibuk dengan seragamnya yang entah mengapa justru semakin tidak nyaman.

"Baiklah, setelah sarapan nanti aku akan langsung menyerahkannya." Yifan menepuk ringan kepala Sehun dua kali sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dari ruang bawah tanah ini dan mencari angin segar dipermukaan. Sekilas tadi dia melihat Sehun membuka selembar perkamen berstempel lilin dengan lambang keluarga Oh. Sepertinya ibunya baru saja mengirimkannya sebuah surat, pikir Yifan.

Dalam perjalanannya menuju aula besar, Yifan melewati lorong-lorong gelap berpenerangan minim. Hanya api yang berasal dari obor-obor yang menempel di dindingnya. Udara dingin awal musim dingin membuat ruang bawah tanah ini sedikit lebih dingin dari biasanya. Bahkan sweater hijau tua yang dia gunakan dibalik jubah panjang asramanya ini hanya sedikit menahan udara dingin itu agar tidak menembus kulitnya.

Dan didalam perjalanannya itu samar-samar Yifan teringat dengan kejadian semalam. Mungkin karena tubuhnya yang menolak untuk diajak bekerja sama semalam, Yifan tanpa sengaja tertidur ketika Profesor Cho memintanya untuk mengerjakan laporan mingguan siswa mengenai perkembangan tiap siswa tingkat lima dalam kelas Profesor Cho.

Yifan baru terbangun ketika dia mendengar suara meja tempatnya tertidur bergerak sedikit dan mengeluarkan bunyi derit ringan. Dan ketika Huang Zitao –Gryffindor malang yang harus berurusan dengan detensi Profesor Cho- muncul dalam jarak pandangnya, akhirnya Yifan bisa bertemu kembali dengan pria yang dia temui di perpustakaan beberapa malam sebelumnya.

Entah mengapa, untuk pertama kali selama Yifan berada di sekolah ini, Yifan merasa sangat berterima kasih kepada Profesor Cho.

Langkah Yifan terhenti ketika dia hendak memasuki aula besar. Tepat saat Yifan hendak berbelok, seseorang menabraknya dari arah dalam aula besar hingga membuat tubuhnya terdorong dua langkah kebelakang. Kenapa hari ini orang-orang senang sekali menambrakan diri mereka ke arahku? Gerutu Yifan kesal dalam hatinya.

"Aaaahh...maafkan aku!" Seru seseorang yang kini tersungkur tepat dihadapan Yifan. Wajahnya sukses beradu dengan marmer cokelat dibawahnya sementara kedua tangannya yang tidak berhasil menahan tubuhnya ketika terjatuh tergeletak lemas disamping tubuhnya.

"Merlin's beard! Baekhyun! Kau tidak apa-apa?!" Teriak seseorang dari arah yang sama dengan Baekhyun. Pria itu hampir setinggi Yifan dan mata besar yang berhasil melukiskan dengan sempurna bahwa sang pemilik sedang panik, sedikit membuat Yifan merasa tidak nyaman.

"Apa yang kau lakukan pada Baekhyun?!" Seru pria itu lagi pada Yifan setelah dia berhasil membantu pria yang lebih kecil darinya itu bangun dari lantai. Hidungnya kini sedikit berdarah dan bengkok. Sepertinya dia jatuh terlalu kencang tadi. "Excuse me? Sepanjang yang aku ingat, dia yang lebih dulu menabraku." Kata Yifan datar sambil menyesuaikan kembali letak kacamatanya yang sedikit turun.

"Dia benar Chanyeol, aku yang seharusnya minta maaf." Kata Baekhyun pelan sambil memegangi hidungnya yang masih berdarah. Pria bernama Chanyeol itu nampaknya tidak begitu puas dengan pernyataan Baekhyun barusan, karena dia masih saja memandang Kris dengan tatapan tidak suka.

Yifan balas menatapnya dengan tatapan bosan miliknya sambil membersikan bagian depan jubahnya yang tadi ditabrak Baekhyun. Chanyeol mengernyitkan dahinya ketika melihat apa yang sedang dilakukan oleh Yifan, namun dengan wajah bosan yang sama, Yifan melewati keduanya dan berjalan menuju meja panjang Slytherin pada aula besar untuk sarapan. Setelah beberapa langkah menjauh, Yifan bisa mendengar pria bernama Chanyeol itu bergumam soal betapa tidak sopannya semua Slytherin dan berbagai macam hal buruk lainnya.

Berurusan dengan Choi bersaudara dan Jongdae, serta dua orang Gryffindor yang menyebalkan bukanlah pagi yang diharapkan Yifan. Namun ketika dia melihat Huang Zitao berlari dengan wajah yang cemas ke arah pintu aula besar, Yifan mengehentikan langkahnya.

Karena entah mengapa dunia Yifan seolah berhenti berputar. Orang-orang disekelilingnya hanya seperti sekerumunan kunang-kunang yang tertutup cahaya. Jantungnya berdebar dan matanya hanya terfokus pada pria itu sementara sekuat tenaga Yifan mencoba mengabaikan rasa aneh didalam perutnya.

Ya Tuhan, perasaan apa ini?

.

.

.

Zitao sangat menyukai udara sore hari. Terlebih lagi jika dia bisa menikmati kesegarannya beberapa meter diatas tanah. Pria dengan rambut seperti langit dimalam hari itu menyukai ketika rambutnya diacak-acak oleh angin kencang. Tepat dibelakangnya, Tao –begitu biasa Zitao dipanggil- bisa merasakan jubahnya bergerak mengikuti kemana arah angin bertiup dan dibawah kakinya, Tao bisa melihat hamparan hijau yang luas dan warna abu-abu dibeberapa titik tempat bukit-bukit rerumputan serta bebatuannya.

Disekelilingnya, Tao bisa melihat kursi-kursi penonton yang dibangun diatas menara-menara kayu tinggi yang dibuat oval. Jauh beberapa meter disisi kanan dan kiri Tao, ada dua buah tiang dengan lingkaran besar diatasnya nampak menantangnya. Tapi Tao tidak peduli, karena saat ini Tao hanya ingin menikmati udara sore yang sudah menghangat ini.

Jubah panjang berwarna orange gelap yang kini dikenakannya terkibas keras diatas sapu terbangnya ketika Chanyeol terbang melewatinya. Tak lama Baekhyun menyusul dengan kecepatan yang luar biasa dan sukses membuat konsentrasi Tao menikmati sinar matahari sore kali ini terganggu karena keduanya kini memutarinya.

Sesi latihan Quidditch baru saja akan dimulai sepuluh menit lagi, tapi dua orang troublemaker ini sudah sukses membuatnya sakit kepala. "Bisakah kalian sedikit lebih tenang, kalian mengganggu konsentrasiku!" Protes Tao ketika Baekhyun melintas tepat disebelahnya.

"Yo, Tao! Jangan terlalu serius nanti kau akan cepat tua seperti Jungsoo hyung!" canda Chanyeol sedikit tidak lucu. Karena siapapun tahu bahwa Park Jungsoo, kepala asrama Gryffindor masih terbilang cukup muda. Meskipun terkadang Tao merasa bahwa pria berlesung pipi itu sedikit lebih cerewet dibandingkan dengan Profesor Kim Youngwoon.

Tao memandang Chanyeol dengan mata tajamnya, sedikit tidak senang dengan candaan Chanyeol soal usia. Karena siapapun tau bahwa Tao terlihat sedikit lebih tua dari umurnya yang sesungguhnya. Tao, Chanyeol, Baekhyun dan Kyungsoo adalah siswa tingkat tiga dan diantara mereka, Tao-lah yang termuda.

Menyadari arti pandangan mata Tao, Chanyeol kemudian bergegas menghindar dan mendekat kearah Baekhyun yang hanya bisa menahan tawa. "Kau berhasil membangunkan seekor naga, Channie!" Seru Baekhyun.

Dan sedetik kemudian, Tao mendapati dirinya sedang sibuk mengejar kecepatan kedua beater team Quidditch Griffyndor. Tak jauh dari udara, Kyungsoo menggelengkan kepalanya, heran dengan tingkah laku teman-temannya yang masih seperti siswa tingkat satu.

Dan disudut yang berlawanan, mereka tidak menyadari bahwa ada seseorang yang tengah mengawasi gerak-gerik salah satu diantara mereka dengan tatapan bosan. Namun didalam dadanya, orang itu merasakan jantungnya berdenyut dengan sangat tidak normal.

.

Zitao, Baekhyun dan Chanyeol kini berdiri membelakangi sebuah pintu kayu mahogany besar berwarna cokelat tua. Peliturnya yang hampir senada dengan warna alami kayunya membuat benda itu sedikit berkilat halus. Ketiganya saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya menghela nafas berat dan menyeret sapu terbang mereka menjauh dari ruangan tersebut.

Jubah Quidditch yang mereka kenakan kini terseret menyapu lantai batu dibawah kaki mereka. Beberapa siswa yang berpapasan dengan mereka dikoridor memandang ketiganya dengan tatapan heran bercampur takjub. Sementara beberapa diantara mereka yang mengenakan jubah hijau kehitaman dan biru tua memandang mereka dengan tatapan setengah mengejek.

"Sudah kubilang jangan menggunakan sihir ketika kita sedang latihan!" Seru Baekhyun dengan suara yang tertahan, sehingga suaranya kini lebih terdengar sebagai bisikan. "Jangan salahkan aku! Kau juga akan melakukannya ketika Tao memutuskan untuk mengejarmu!" Protes Chanyeol ketika ketiganya berjalan melalui kerumunan anak-anak Hufflefuf yang sedang berbincang mengenai cokelat kodok.

"Hei! Apa maksudmu?" Protes Tao sambil memukul bahu Chanyeol dengan tidak begitu manusiawi, membuat Chanyeol meringis menahan sakit. "Meskipun aku begitu mencintaimu, Tao. Kau terlihat begitu menakutkan. Hal yang kulakukan tadi hanya sebuah defense mechanism!" Elak Chanyeol masih mengusap-usap bahunya. Jika Tao menggunakan tenaganya sedikit lebih keras, Chanyeol yakin tulang bahunya pasti sudah bergeser entah kemana.

Baekhyun memutar matanya kesal. "Dengan menyihir prefek Ravenclaw menjadi seekor kucing? Seriously Channie?" Erang Baekhyun ketika tanpa sengaja sebuah perkamen berbentuk burung walet bertabrakan dengan dahi mulusnya. Baekhyun mengumpat pelan kepada siapa saja yang menggunakan sihir kekanakan itu sambil mengelus dahinya.

"Bukan salahku jika Tao menghindar dan mantra itu mengenai Shim Changmin." Yang sedang sibuk memperhatikan Tao sedikit terlalu dalam, tambah Chanyeol dalam pikirannya. Baekhyun hampir saja memukul Chanyeol dengan sapu terbangnya jika saja Tao tidak menghentikannya dan gerak reflek Chanyeol yang secepat cahaya. "Kau ingin mengubah Tao menjadi kucing, Park Chanyeol?! Sebelum kau melakukannya aku akan mengubahmu lebih dulu menjadi cacing tanah!"

Tao hanya bisa menggeleng pasrah ketika Chanyeol berlari untuk menyelamatkan dirinya dari serangan sapu Baekhyun. Gara-gara peristiwa ini, Tao terlambat masuk kelas Transfigurasinya. Sepertinya dia harus menggunakan benda itu lagi setelah kelas Rune Kuno nanti. Tao mendesah pasrah, aku dan keinginanku untuk menguasai semua ilmu di dunia sihir.

.

.

.

Kalau saja tidak ada larangan untuk menggunakan sihir selain didalam ruang kelas, mungkin saat ini Zitao sudah berhasil membunuh Byun Baekhyun dan Park Chanyeol dengan cara paling sadis yang bisa dia pikirkan. Seperti menggantung mereka diatas aula besar dan melancarkan mantra Confundo sehingga pasangan ajaib yang menyebalkan itu merasa pusing dan bingung hingga tidak dapat mengenali diri mereka sendiri.

Berfikir sebentar dengan kemungkinan mantra lain, Zitao menggeleng mantap. Karena sepertinya Densaugeo lebih menarik untuk pasangan itu, setidaknya Zitao bisa melihat deretan gigi yang sangat dibanggakan oleh Park Chanyeol itu terus membesar hingga sebesar gigi walrus. Tanpa sadar Zitao tersenyum lebar hanya dengan membayangkan kepanikan Chanyeol nantinya. Dan bagaimana wajah keunguan Baekhyun yang berada dalam dilema antara mentertawakan Chanyeol atau mengembalikan gigi pria itu keukuran semula.

Setelah puas membayangkan penderitaan Chanyeol yang sedikit kesulitan mengunyah dengan gigi walrus miliknya, Zitao kembali mengerucutkan bibirnya dan memandang dinding dihadapannya dengan tatapan kosong.

Zitao kini sedang berdiri didepan ruang penyimpanan rahasia. Tempat legendaris didalam sekolah ini yang tidak ter-peta-kan. Dimana setiap murid bisa menyembunyikan apa saja didalamnya. Seperti semacam lemari kebutuhan. Tapi tentu saja sama seperti ruangan lain di kastil ini, tidak semua orang bisa masuk kedalam ruang penyimpanan rahasia ini. Hanya orang yang benar-benar membutuhkannya saja yang bisa menemukan ruangan ini.

Dan sepertinya ruangan itu sudah memutuskan bahwa Zitao tidak membutuhkan ruangan itu, karena sudah hampir lima belas menit Zitao berdiri didepan tembok besar yang diapit oleh dua buah patung troll di lantai tujuh kastil, ruangan itu tidak juga terbuka untuknya. Baekhyun benar-benar membuatnya hampir gila, bagaimana mungkin dia bisa menemukan eyeliner kesayangannya yang tidak sengaja terjatuh didalam ruangan itu ketika dia hendak menyembunyikan buku diary-nya dari Chanyeol?

Zitao berhenti memaki Baekhyun didalam pikirannya ketika sebuah suara terbang melalui daun telinganya. Suara itu terdengar sedikit halus namun tidak merubah tekanan dalam suara itu, jadi Zitao yakin bahwa suara itu milik seorang laki-laki. Yang membuat Zitao penasaran adalah ketika sebuah suara lain merespon suara sebelumnya, Zitao mengenal suara itu dengan sangat baik.

Suara yang didengarnya pada setiap pelajaran pertahanan terhadap ilmu hitam. Suara Profesor Cho. Namun, nada suaranya kali ini terdengar sedikit halus dan ramah. Zitao penasaran dengan orang yang berhasil membuat nada suara Profesor Cho berubah seratus delapan puluh derajat dari yang biasanya dingin dan terdengar sedikit menyebalkan.

Hati-hati Zitao berjalan kearah suara itu berasal dan dengan kendali diri dan ketenangan yang dia kuasai dengan baik –terima kasih kepada wushu- dia mengintip melalui sela-sela patung troll gunung diujung koridor.

Disana dia melihat Profesor Cho sedang berbincang dengan seseorang yang...transparant. Zitao bersyukur karena kedua sosok itu membelakangi tempat dimana Zitao berada dan walaupun Zitao tidak bisa melihat wajah keduanya, Zitao yakin bahwa pria dengan jubah hitam panjang itu adalah Profesor Cho.

"Kau tahu aku sangat menyayangi anak itu." Sosok transparant itu berkata sambil membetulkan jubah putih miliknya yang sedikit terlipat. Sementara Profesor Cho memandang sosok itu dengan tatapan mendamba dan ada rasa rindu didalamnya. Bahkan dari tempat Zitao berada saat ini, dia bisa merasakan bahwa Profesor Cho sangat ingin memeluk sosok transparant itu.

"Dan aku masih tidak percaya dengan anak Slytherin yang kau ceritakan padaku itu!" Tambah sosok transparant itu lagi, bibirnya mengerucut dan Zitao pikir sosok itu terlihat sangat menggemaskan. Kemudian Profesor Cho tertawa kecil dan berusaha untuk mencubit pipi sosok itu, meskipun tidak berhasil karena ibu jari dan telujuknya hanya menggenggam udara kosong. Entah mengapa melihat hal itu Zitao merasa sedikit sedih.

"Anak itu tidak seburuk yang kau pikirkan." Jawab Profesor Cho. Lagi, nada suaranya benar-benar berbeda dengan yang biasa dia keluarkan ketika berbicara didepan kelas. Zitao mulai tidak yakin bahwa sosok yang masih berdiri di lorong itu adalah benar Profesor Cho yang dia maksudkan. "Dan mereka memiliki Aura yang sama." Tambah Profesor Cho.

Sosok transparant itu kemudian menghadap kearah Profesor Cho sepenuhnya tepat sebelum Zitao berhasil menggeser tubuhnya kebelakang tembok besar agar tidak terlihat oleh keduanya. Walaupun hanya sepersekian detik, Zitao mengenal sosok transparant itu, karena sosok itu hampir setiap hari dilihatnya di puncak menara Gryffindor.

Dan walaupun Zitao sangat menghindari segala sesuatu yang tranparant, dia tidak mungkin tidak mengenal Hantu asramanya sendiri. Pertanyaannya, apa yang dilakukan oleh Profesor Cho dengan hantu menara Gryffindor? Karena Zitao yakin, Headmaster Yoo belum mencabut jabatannya sebagai Kepala Asrama Slytherin.

.

.

.

Yifan berjalan cepat menelusuri koridor-koridor sepi lantai tujuh tempat dimana melaksanakan patrolinya hari ini. Dia sendiri tidak yakin mengapa dia menyetujui pembagian tugas patroli yang dibuat oleh Kang Daesung, prefek Gryffindor. Pria bermata sipit itu entah mengapa berhasil membuat semua prefek menyetujui pendapatnya mengenai betapa seharusnya semua prefek tidak harus selalu berpatroli di wilayah asramanya saja.

Dan sialnya, dia harus berpartroli dilantai tujuh. Tepat di wilayah asrama Gryffindor berada. Meskipun jika dia berjalan sedikit keatas dia akan berada dalam wilayah Ravenclaw, Yifan benar-benar tidak menyukai koridor-koridor yang terkesan terlalu bersahabat. Dan justru hal itulah yang membuat Yifan siaga. Kadang suatu bahaya justru datang dalam sebuah kenyamanan yang bersahabat.

Yifan menggenggam tongkat sihirnya siaga, sedangkan sebelah tangannya dia masukan dibalik jubah panjang hijau kehitaman itu. Didalamnya, Yifan menggenggam sebuah Remembrall. Hadiah yang diberikan oleh Profesor Cho untuk ulang tahunnya yang ke enam belas. Dia tidak mengetahui mengapa dari sekian banyak benda sihir dan beberapa buku yang menarik seputar dunia sihir, Profesor Cho memberikan sebuah Remembrall. Mungkin karena tugasnya sebagai seorang Prefek? Entahlah.

Yifan paham benar kegunaan benda sihir tersebut. Remembrall adalah sebuah bola kecil seukuran bola golf –begitu yang tertulis dalam buku telaah muggle yang sering dibacanya- yang transparant dengan beberapa ukiran berwarna emas. Dibagian tengahnya, ada sebuah garis emas yang melingkarinya. Asap didalam bola tersebut akan berubah merah ketika orang yang menggenggamnya melupakan sesuatu.

Dia sendiri melihat Zhang Yixing, seorang Hufflefuf yang lumayan akrab dengannya, selalu membawanya kemanapun dia pergi sejak tingkat satu. Dan anehnya, ketika Yifan menyentuhnya dua hari yang lalu, asap didalam bola tersebut juga berwarna merah. Itu berarti Yifan sedang melupakan sesuatu.

Masalahnya, sampai detik ini Yifan tidak bisa mengingat apa yang dilupakan olehnya. Lagipula, esensi dari lupa adalah tidak mengingat hal tersebut, bukan? Memikirkan hal ini membuat kepala Yifan justru berdenyut tak biasa. Apa yang dilupakan Yifan?

"Senior Wu! Apa yang sedang kau lakukan disini?" Tanya sebuah suara dari balik sebuah patung troll gunung tepat disebelah kiri Yifan. Suara itu berhasil membuat Yifan tersentak sedikit dan secara refleks mengacungkan tongkat sihirnya pada asal suara. Namun Yifan buru-buru menurunkan tongkatnya ketika dia mengenali sosok yang sedang tersenyum canggung dihadapannya.

Yifan berdeham dua kali dan menyesuaikan kembali kacamatanya yang sedikit turun sebalum akhirnya berhasil mengeluarkan suara. "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, Huang." Yifan berusaha sekuat tenaga agar suaranya tidak terbata. Dia juga tidak menghiraukan detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dan sesuatu didalam perutnya yang seolah terus berputar. Membuat Yifan merasa mual.

"Oh, aku sedang mencari sesuatu. Tapi aku masih belum menemukannya, senior Wu." Zitao menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal dan tersenyum canggung kearah Yifan. Merlin's Beard! Kenapa didalam benaknya, Yifan ingin sekali untuk memeluk makhluk menggemaskan dihadapannya ini? Dan jika diizinkan, saat ini juga dia ingin menggunakan mantra pengecil pada Zitao dan membawanya kemana saja agar Yifan bisa terus memandangnya.

Yifan buru-buru menghapus pikiran absurb itu ketika Zitao menatapnya khawatir. "Kau tidak seharusnya berkeliaran dikoridor sekolah, jam malam sudah hampir dimulai." Terang Yifan, berusaha agar terlihat berwibawa. Matanya balas memandang mata Zitao yang terlihat –dengan anehnya- indah.

"Ah, iya! Aku juga sudah ingin kembali ke Asramaku!"

"Aku akan mengantarmu." Kata Yifan membuat kedua alis Tao bertaut tidak percaya. Karena bahkan ditelinga Yifan sendiri kalimatnya barusan terdengar sedikit terlalu tegas dan siapapun yang mendengarnya pasti akan berfikir bahwa itu adalah sebuah perintah yang tidak ingin dibantah.

"Tidak perlu, senior Wu. Asramaku sudah dekat!" Tolak Tao masih dengan senyum canggungnya yang terlihat manis dimata Yifan. "Aku hanya tidak ingin kau menimbulkan masalah dalam perjalanan." Real Smooth, Yifan. Smooth! Maki Yifan pada dirinya sendiri.

"Oh!" Balas Zitao. Dan entah mengapa ditelinga Yifan, Zitao terdengar sedikit kecewa? "Baiklah." Tambah Zitao dan setelahnya mereka berjalan menuju menara Gryffindor. Dan dalam perjalannya, Yifan tidak menyadari bahwa kabut asap didalam Remembrall yang ada disakunya berubah warna menjadi putih dan nyaris menghilang.

.

.

.

-Crest

A.n :

1. Cerita ini mengambil waktu dua puluh dekade setelah pertempuran besar –dimana seri terakhir Harry Potter berlangsung.

2. Member EXO disini berumur lima belas tahun dan berada di tingkat tiga, kecuali Kris, Suho dan Luhan yang berada ditingkat empat atau satu tahun diatas member EXO yang lain.

3. Di buku asli Harry Potter, penerimaan siswa dimulai ketika seseorang telah berusia sebelas tahun. Dalam cerita ini, penerimaan siswa dimulai ketika berusia dua belas tahun.

4. Mohon maaf untuk pengetahuan saya yang terbatas sekitar Hogwarts dan dunia di dalamnya.

5. Update would be slow T_T