Title : Fated
Pairing : Kris x Tao [KrisTao]
Other Casts : EXO Members; Kyuhyun x Sungmin
Genre : Romance ; Fluff
Rated : PG-13
Disclaimer : Kris, Tao dan semua member EXO bukan milik saya, kecuali Plot cerita. AU yang saya gunakan adalah Hogwarts!AU dan semua yang berhubungan didalamnya adalah murni hasil karya dari , saya hanya bermain-main didalam dunianya. Tidak ada keuntungan yang saya ambil melalui cerita ini.
Summary : Semenjak kejadian di perpustakan malam itu, pria dengan rambut hitam pekat dan mata yang tajam itu tidak pernah hilang dari pikiran Yifan. Tapi apakah Slytherin dan Gryffindor bisa berjalan beriringan?
.
.
"Love does not make the world go round. Love is what makes the ride worthwhile." –Franklin P. Jones
.
.
Sore itu Yifan baru saja menyelesaikan kelas sejarah sihirnya ketika sebuah perkamen kecil yang disihir menjadi seekor burung walet berhenti tepat dibahunya. Suara sayap-sayapnya yang masih mengepak membuat Yifan akhirnya memutuskan untuk membuka pesan yang tersimpan didalam perkamen itu.
Dibagian perut walet kertas itu, ada sebuah stempel lilin hijau dengan gambar seekor walet kecil yang sedang berdiri disebuah ranting kecil. Mata burung walet itu tepat menatap Yifan dengan satu sayapnya yang terlipat didepan dada seolah memberi hormat kepada siapapun yang melihatnya. Lagi-lagi Oh Sehun menggunakan stempel keluarganya hanya untuk mengirimkan sebuah surat yang –mungkin- tidak terlalu penting, pikir Yifan malas.
Biasanya seorang penyihir hanya menggunakan stempel keluarga untuk mengirimkan sesuatu yang benar-benar penting dan bukan untuk dibaca oleh orang lain. Sekarang cara itu sudah hampir tidak digunakan lagi karena sebuah tanda tangan disudut kanan bawah perkamen sebenarnya sudah cukup untuk mengindentifikasikan dari siapa surat atau kiriman itu berasal.
Dan entah karena Sehun memang benar-benar menyukainya atau karena pria dengan rambut pirang yang kini nyaris sama dengannya itu –lagi-lagi Sehun mengubah warna rambutnya- hanya ingin membuat Yifan sedikit kesal karena harus bersusah payah membuka segel perkamen tersebut.
Karena suasana koridor lantai tiga sore itu sedang terlalu ramai oleh siswa-siswa lain yang baru saja menyelesaikan kelas mereka juga, akhirnya Yifan memutuskan untuk berputar sembilan puluh derajat menuju koridor lain yang menghubungkan koridor kelas sejarah sihir dengan koridor ruang baca bersama.
Setidaknya, dia butuh sedikit privasi untuk membaca apapun yang ditulis oleh Sehun tanpa terganggu oleh siapapun. Lagipula, dia butuh konsentrasi penuh untuk mempelajari ulang pelajaran yang tadi diterangkan oleh Profesor Binn –guru sejarah sihir- sebelum kembali menuju kelas ramuan. Kadang, Yifan menyesal telah mengambil beberapa kelas tambahan untuk mempersiapkan ujian O.W.L .
Walaupun sebenarnya ujian tersebut baru akan ditempuhnya pada akhir tahun ke lima, namun Yifan lebih senang mempersiapkan dirinya lebih awal dari yang lain. Dan kini, Yifan tidak lagi yakin apakah keputusannya itu benar.
.
Ketika Yifan tiba di ruang baca bersama, suasana ruangan tersebut lebih sepi dari yang diperkirakan Yifan sebelumnya. Beberapa kursi berlengan dengan sandaran tinggi terlihat kesepian karena tidak ada yang menyandarkan punggung disana. Meja-meja cokelat gelap yang terbuat dari kayu jati dihadapan kursi-kursi itupun terlihat bersih. Tidak ada perkamen dan pena bulu serta tinta-tinta hitam yang biasanya berserakan disana ketika beberapa siswa lebih memilih untuk mengerjakan tugas mereka disini daripada di common room –ruang rekreasi- di asrama meraka.
Tapi justru karena hal inilah Yifan bersyukur karena dia tidak harus menjelajah jauh kedalam ruang baca bersama ini. Dan dia merasa sedikit lega karena beberapa siswa tingkat tiga Slytherin nampak sedang berlatih mantra bersama seorang yang dia kenali sebagai Seeker kedua Ravenclaw –Xiumin.
Ravenclaw lebih baik, pikir Yifan pasrah. Setidaknya mereka tidak seberisik siswa-siswa Gryffindor, tambah Yifan lagi dalam pikirannya sebelum akhirnya duduk dengan jarak dua kursi jauhnya dari anak Slytherin dan Ravenclaw tadi.
Yifan mengayunkan tongkat sihirnya membentuk sebuah bentuk yang menyerupai tanda silang sebelum akhirnya membentuk sebuah lingkaran searah jarum jam dari ujung garis miring tanda pertama. Tak lama, burung walet dalam segel tersebut menutup sayapnya yang masih terbuka dan bergeser hingga menujukan bagian sisinya, membuat segel lilin bergerak dan membuka perkamen cokelat tersebut.
Perkamen yang semula berbentuk walet tersebut kini kembali kebentuk asalnya. Didalamnya, tinta hitam yang Yifan yakini berasal dari pena bulu favorite Sehun membentuk satu kalimat yang membuat Yifan memutar matanya kesal.
Yifan hyung, aku tidak akan menyerah hingga kau mau bercerita padaku.
Dengan tenaga yang sedikit berlebihan, Yifan meremas perkamen tersebut dan membakarnya dengan api kecil yang keluar dari ujung tongkat sihirnya. Anak itu masih saja penasaran dengan perubahan sikap Yifan belakangan ini. Menurut Sehun, Yifan menjadi lebih sering tersenyum –walaupun sebenarnya untuk kebanyakan orang, senyum itu lebih mirip seperti seringai- belakangan ini. Dan Sehun yang sudah sejak tahun pertamanya dekat dengan Yifan mencurigai bahwa ini ada hubungannya dengan siswa Hufflepuff yang kadang ditemuinya untuk membahas soal tugas ramuan.
Yifan memilih untuk tidak menanggapi rengekan Sehun dan berusaha bersikap seperti Yifan yang biasanya. Namun entah mengapa, Sehun selalu saja menjadi orang yang pertama memergokinya ketika Yifan tersenyum bodoh saat dia mengingat kejadian seminggu yang lalu ketika dia mengantarkan Zitao ke asramanya.
Sayangnya, Zitao tidak mengizinkan Yifan untuk mengantarkannya sampai ke pintu masuk asramanya. Protokol keamanan asrama mewajibkan seluruh siswa untuk merahasiakan pintu masuk asrama meraka masing-masing. Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap murid disini mengetahui pintu masuk asrama lain selain asramanya. Hanya kata sandi yang membuat mereka tidak bisa memasuki asrama lain.
Yifan ingat ketika tangan kanannya secara tidak sengaja bergesekan dengan tangan kiri Zitao dan walaupun kejadian itu hanya sepersekian detik, Yifan harus berusaha menahan detakan jantungnya yang tidak biasa. Yifan merasa seluruh darahnya berpindah ke pipinya. Untungnya, koridor saat itu sedikit temaram sehingga perubahan warna pada pipinya tidak terlalu terlihat.
Yifan menghela nafas berat sebelum akhirnya bersandar pada punggung kursi, matanya memandang bola kertas yang terbakar dihadapannya. Untungnya, setelah hari ini Sehun akan menghabiskan liburan musim dingin dan kembali ke rumahnya. Setidaknya, Yifan akan terbebas darinya beberapa waktu.
.
.
.
"Kau yakin tidak ingin menghabiskan liburan musim dingin bersama keluargaku?" Tanya Chanyeol dari atas tempat tidurnya setelah dia selesai membereskan berbagai macam perlengkapan yang akan dibawa pulang kerumah. "Ayah dan ibuku sangat ingin bertemu denganmu, Tao!" Tambah Chanyeol lagi ketika pria dengan rambut hitam dihadapannya masih asik dengan buku pelajaran Rune Kuno miliknya.
"Ya, aku rasa Tuan dan Nyonya Park ingin berterima kasih padamu karena kau selalu membantu Chanyeol mengerjakan essay-essaynya. " Kata Baekhyun bosan sambil memeriksa sekali lagi koper yang akan dibawanya sebelum akhirnya kotak besar yang terbuat dari pohon ek itu mengeluarkan bunyi debam keras karena tenaga Baekhyun yang terlalu kuat saat menutupnya. Pada sisi kanan kotak itu terdapat ukiran inisial Baekhyun diatas segel keluarga Byun.
"Atau kau ingin berlibur bersamaku ke Italia? Pamanku bilang sekolah sihir disana benar-benar mengaggumkan. Meskipun sedikit dibelakang beubatox tapi benar-benar tidak kalah indah!" Terang Baekhyun yang kini mulai bersemangat, "Siapa tahu aku bisa menemukan vampire disana!" Chanyeol melemparkan bantal bulu angsa disampingnya kearah Baekhyun sambil memincingkan matanya. Baekhyun balas memandangnya dengan tatapan yang sama, tidak suka karena ceritanya dipotong begitu saja oleh Chanyeol.
Kontes saling tatap itu terhenti ketika Tao menutup bukunya dengan keras hingga mengeluarkan bunyi yang tidak biasa. Keduanya kini menoleh kearah Tao dan memandang sahabat mereka khawatir.
"Aku lapar~~" Manja Tao sambil mengusap perutnya dibalik sweater maroon kesayangannya, hadiah dari Chanyeol dan Baekhyun di ulang tahunnya yang ke lima belas. Sebelah tangannya masih menggenggam buku rune kuno ketika Tao memutuskan untuk berdiri dari tempat tidurnya dan melenggang menuju aula besar. Lagipula, perut Tao tidak pernah melewatkan jadwal sarapan, makan siang dan makan malam bersama di aula besar.
Baekhyun dan Chanyeol kembali saling bertatapan setelah melihat Tao menghilang dari sudut kamar mereka, saling mengangkat bahu dan mendesah berat bersamaan. Seolah sudah biasa dengan tingkah laku sahabat mereka yang selalu mengalihkan pembicaraan ketika mereka membicarakan soal liburan musim panas dan liburan musim dingin.
Walaupun mereka sudah bersama sejak awal tahun mereka di Hogwarts, keduanya nyaris tidak mengetahui apapun soal Tao kecuali bahwa Tao adalah pria yang sangat pintar dan kelahiran muggle. Selebihnya, mereka memutuskan untuk tidak bertanya lebih jauh dan berharap suatu hari nanti Tao akan cukup mempercayai mereka untuk menceritakan sedikit soal dirinya.
Sepertinya, liburan musim dingin tahun inipun akan sama seperti liburan-liburan sebelumnya.
.
Tao memandang salju yang turun dibalik jendela besar dihadapannya. Sebagian kaca besarnya kini mulai berembun dibagian sudutnya dan ada tumpukan kecil salju pada rongga kotak-kotak yang terbuat dari kayu berwarna cokelatnya. Salju sudah mulai turun sejak dua hari yang lalu ketika dia mengantarkan kedua sahabatnya bertolak ke rumah masing-masing untuk menghabiskan liburan natal dengan menggunakan Hogwarts Express.
Kastil Hogwarts selalu sepi pada periode-periode seperti ini. Selain para siswa diperkenankan untuk menghabiskan liburan musim dingin mereka untuk pulang kerumah dan merayakan natal bersama keluarga, beberapa juga diperbolehkan untuk tinggal dan menghabiskan liburan disekolah.
Tao selalu memilih pilihan kedua. Meskipun Kastil yang sepi kadang membuatnya takut –dan makhluk-makhluk transparant yang selalu berlalu-lalang dengan bebas di kastil ini benar-benar tidak membantu Tao sama sekali- tapi Tao menyukai suasana kastil yang lengang.
Oke sebenarnya itu hanya alasan kedua, alasan utamanya adalah karena Tao merasa tidak memiliki tempat untuk pulang. Pada hari keberangkatannya ke Hogwarts, dia telah memutuskan untuk tidak kembali kerumahnya dan meminta agar bibi Eunji –tetangganya- untuk menjaga rumahnya. Terlalu banyak kenangan disana yang membuat Tao merasa sesak. Dan entah mengapa, dia selalu saja merasakan bahwa dia telah melupakan sesuatu. Bahkan sampai saat inipun Tao masih merasakan perasaan itu.
Diremasnya perkamen cokelat yang sedari tadi digenggamnya. Tinta hitam disana sudah mengering dan segel lilin disana kini sudah mulai meleleh karena obor disebelah kanan Tao sepertinya lebih hangat dari yang dia perkirakan sebelumnya.
Sejak beberapa hari lalu dia merasa tidak enak menolak undangan natal dari bibi Eunji, namun tahun ini sepertinya dia sudah memutuskan untuk mengasingkan diri sejenak. Lagipula jika dia menghabiskan natal dirumah bibi Eunji, dia yakin dia tidak akan bisa mengerjakan tugas-tugas musim dinginnya dengan tenang tanpa diganggu oleh anaknya. Meskipun Tao akui bahwa dia merindukan saat-saat itu, namun kali ini Tao ingin belajar untuk lebih mandiri.
Tao menghela nafasnya lagi ketika butiran salju yang turun dari langit tersapu oleh angin, membuatnya tersadar bahwa langit diluar jendela besar itu kini sudah mulai menggelap memandakan bahwa sebentar lagi waktu makan malam tiba. Kalaupun ada satu hal yang Tao yakin tidak pernah dia lupakan, itu adalah makanan.
.
Meskipun dipenuhi oleh dekorasi natal, aula besar malam ini jauh lebih sepi dari biasanya. Hanya ada beberapa anak Ravenclaw yang mengisi meja makan asrama mereka dengan pakaian-pakaian musim dingin. Tao mengenali beberapa dari mereka karena sebagian besar berada di team Quidditch. Selain kapten sekaligus Seeker utama, Shim Changmin terlihat lebih tinggi dari teman-temannya yang lain bahkan dalam posisi duduk sekalipun. Sepertinya Senior Shim memang tidak main-main soal pertandingan musim semi yang akan datang.
Kemudian ada Xiumin –Seeker kedua Ravenclaw dan Luhan –Chaser Ravenclaw yang jarang sekali terlihat tanpa rubik ditangannya. Kwon Yuri dan Seo Johyun dengan malas menopang dagu mereka dengan kedua tangan sambil memperhatikan Changmin yang sedang menerangkan sesuatu. Meskipun kedua Beater Ravenclaw itu terlihat anggun dan lemah, tapi Tao tahu benar apa yang berada dibalik penampilan itu karena dia pernah berhadapan langsung dengan team Quiddicth mereka.
Tao duduk agak ditengah meja makan asramanya ketika secara ajaib piring-piring dan gelas-gelas platina berisi makanan dan minuman muncul dihadapannya. Kadang, Tao benar-benar bersyukur dia adalah salah satu bagian dari komunitas sihir.
Awalnya Tao tidak percaya ketika surat dengan segel Hogwarts yang ditujukan padanya hanya sekedar lelucon untuk hadiah ulang tahunnya yang kedua belas, namun ketika dia bertemu dengan Baekhyun dan Chanyeol di statiun King Cross di peron sembilan tiga perempat dia tahu bahwa semuanya nyata.
Tak jauh dari tempatnya duduk saat ini, Tao bisa melihat beberapa anak Gryffindor yang memilih untuk tinggal di kastil seperti dirinya. Lee Sunkyu dan Kim Hyeoyon yang Tao kenali sebagai seniornya di tingkat lima. Sepertinya mereka memilih untuk menghabiskan liburan mereka untuk belajar di kastil karena Tao bisa melihat beberapa buku tebal di samping keduanya. O.W.L, pikir Tao.
Tak jauh dari kedua wanita itu, ada beberapa anak tingkat dua dan tingkat enam yang tidak begitu Tao kenal. Sementara itu meja Hufflepuff benar-benar kosong dan di meja Slytherin hanya ada satu orang. Sayangnya, Tao tidak bisa memastikan siapa pemilik sosok tersebut karena dia membelakangi Tao.
Merasa cukup mengamati keadaan disekitarnya, Tao memutuskan untuk langsung menyantap makan malamnya setelah sebelumnya telah puas memperhatikan ratusan lilin yang beterbangan beberapa meter diatasnya dan salju-salju buatan yang beterbangan kemudian menghilang tanpa sempat menyentuh lantai aula besar.
"Eum- Huang Zitao..."
Suara berat itu sukses membuat konsentrasi Tao pada makanan dihadapannya melebur dan nyaris mengeluarkan suara teriakannya yang sedikit memalukan. Ya, nyaris, karena saat ini Tao tersedak pie apple yang tadi hendak ditelannya. Buru-buru diambilnya gelas disebelah kanannya kemudian menenggak habis jus labu didalamnya.
Ketika Tao menoleh kebelakang dan memastikan pemilik suara yang tadi menyebutkan namanya, Tao nyaris saja tersedak lagi karena yang kini berada disana adalah seseorang yang sudah sangat dikenalnya. Setidaknya, dalam beberapa waktu terakhir.
"Senior Wu! Tolong jangan lakukan hal itu lagi!" Kata Tao berusaha untuk menahan suaranya agar tidak terlalu nyaring pada aula besar yang nyaris kosong ini. Pria dihadapannya tersenyum canggung dan memutuskan untuk duduk disebelah Tao.
"Jangan memanggilku senior Wu, panggil saja aku Yifan." Pria yang kini menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal itu dengan canggung sambil tersenyum memandang Zitao. Segelas jus labu tiba-tiba saja muncul dimeja untuk Yifan. Peri rumah yang pengertian, pikir Yifan.
Tao memandang Yifan dari ujung matanya kemudian menyesap jus labu dihadapanya. Menggelengkan kepalanya sejenak lalu memandang penuh Yifan. "Serius, Yifan. Kau benar-benar harus berhenti menganggetkanku seperti itu! Aku tidak yakin Madam Hwang bisa mengganti jantungku dengan yang baru." Kesal Tao sambil mengerucutkan bibirnya kedepan tanpa sadar.
Lagi-lagi Yifan tersenyum canggung, karena dia benar-benar berharap bahwa debaran jantungnya yang sangat kencang ini tidak terdengar oleh Zitao. Dan bibir itu! Merlin's! Apa yang sedang kau fikirkan Yifan!
.
.
"Apakah kau yakin tidak akan jadi masalah jika kita berada disini?" Tanya Zitao tidak yakin sambil menyesap butterbeer–nya ragu-ragu. Matanya sibuk menyusuri sudut-sudut ruangan The Three Broomstick takut-takut ada staff sekolah yang sedang iseng melakukan pemeriksaan.
Dihadapannya, Yifan sedang asik menggerakkan jarinya memutar pada sendok perak yang kini bergerak dengan putaran yang sama dengan tangan Yifan untuk mengaduk butterbeer miliknya. Sementara satu tangannya yang bebas dia gunakan untuk menopang dagunya diatas meja kayu sambil menatap Zitao dengan senyum.
"Tidak perlu khawatir, lagipula bukankah kau sudah berada di tingkat tiga? Kau sudah boleh berkunjung ke Hogsmeade, Zitao," Jawab Yifan dengan suara beratnya. Matanya masih lekat memandang Zitao yang baru saja selesai menghabiskan setengah gelas butterbeer hanya dengan sekali teguk.
Yifan berharap jantungnya memilih waktu yang tepat untuk meledak karena dia yakin detak yang dihasilkannya saat ini benar-benar tidak bersahabat. Semenjak dia mengenal Zitao, semua hal yang terjadi padanya menjadi tidak biasa. Semua hal yang berada disekelilingnya juga secara ajaib menjadi lebih indah ketika Zitao berada didekatnya.
Seperti saat ini, kedai butterbeer yang sudah berumur ratusan tahun dan sedikit nampak usang ini terlihat lebih indah, meja kayu yang sudah mulai lapuk terlihat seperti terpernis baru. Udara lembab dan dingin disekitarnya kini tercium seperti wangi ecaliptus yang keluar dari jubah Gryffindor Zitao. Dinginnya musim dingin terasa hangat ketika dia berjalan berdampingan dengan pria berambut hitam itu.
"Eum, se-sebenarnya... aku belum menyerahkan surat izin yang ditanda tangani oleh waliku kepada Profesor Park," gumam Zitao sambil menenggelamkan setengah wajahnya pada syall merah cerah yang membalut lehernya sambil memandang gelas butterbeernya yang sudah setengah kosong. Berusaha menghindar dari tatapan Yifan karena dia yakin hanya tinggal hitungan detik dan dia akan membuat Gryffindor kehilangan lima belas point karena melanggar peraturan mengenai penyalahgunaan izin mengunjungi Hogsmeade.
Sepuluh detik tanpa respon dan akhirnya Zitao memberanikan diri untuk memandang pria dihadapannya. Sibuk dengan berbagai pemikiran negatif di kepalanya, Zitao sedikit terkejut ketika Yifan memandangnya masih dengan senyum yang sama yang bisa membuatnya merasa bunga-bunga bermekaran ditengah musim dingin.
"Aku tahu. Tenang saja, hari ini Shindong yang bertugas berkeliling di Hogsmeade dan dia sedang sibuk tertidur diruang kerjanya." Jawab Yifan kemudian menyesap sedikit butterbeer–nya. Dia merasa sedikit puas karena madu yang tadi dia campurkan didalamnya sudah tercampur sempurna.
Zitao menautkan kedua alisnya. Darimana Yifan tahu kalau dia belum menyerahkan surat izinnya? Baru saja Zitao hendak menanyakannya pada Yifan, tapi pria yang kini sibuk dengan gelang ditangannya menambahkan perkataannya yang sempat terputus tadi, " aku mengetahuinya karena aku yang menyusun surat-surat izin semua murid Hogwarts dan aku tidak menemukan namamu disana."
Yah, itu menjelaskan semuanya, pikir Zitao akhirnya
"Jadi, bagaimana persiapanmu untuk menghadapi pertandingan Quidditch musim semi depan?" Tanya Yifan dengan suksesnya mengalihkan pembicaraan dan Zitao dengan senang menjawab semua pertanyaan Yifan. Setidaknya pertemuan mereka diluar Hogwarts ini tidak semembosankan yang ditakutkan oleh Zitao beberapa jam yang lalu.
.
Semenjak keduanya menghabiskan waktu di The Three Broomstick, Yifan mendapati dirinya kini menjadi lebih dekat dengan Zitao. Selama liburan musim dingin ini, pria dengan rambut hitam itu sudah terlihat tidak canggung lagi ketika dia sedang bersama dengan Yifan. Sepertinya topik tentang Quidditch yang dia mulai saat itu membuahkan hasil diluar perkiraan Yifan. Dan jika Yifan mengatakan bahwa Zitao bukan seorang pemain Quidditch yang baik, dia salah besar.
Meskipun dia tidak menyukai murid-murid asrama Gryffindor yang kebanyakan besar kepala dan hobi mencari masalah, Yifan mengakui bahwa Zitao benar-benar menikmati Quidditch. Dia tidak hanya sekedar bermain dengan Nimbus 3000, menghindari bludger dan mengejar Snitch tanpa tujuan. Zitao menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya, menyukai ketika jubahnya bergesekan dengan ujung sapu terbangnya dan senang ketika dia berhasil menghindar dari bludger yang memang mengejarnya.
Sejenak tadi Yifan sedikit merasa iri padanya. Andaikan saja cedera pada bahunya tidak terlalu parah, mungkin dia masih menjadi Keeper kebanggaan Slytherin saat ini. Tapi pikiran itu buru-buru dibuang oleh Yifan yang kemudian kembali mengarahkan fokusnya pada Zitao yang kini sudah mendarat turun dengan halus dan menghampiri Yifan yang duduk tak jauh dari lapangan Quidditch tempat Zitao baru saja berlatih.
Rambut hitamnya kini terselimuti salju putih dan syal merah yang melingkar dilehernya kini terlihat sedikit bergeser dari tempatnya semula. Meskipun Yifan mengakui bahwa dia kedinginan, tapi dia tidak bisa menolak ajakan Zitao untuk menemaninya berlatih. Lagipula, kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali dalam satu bulan purnama, bukan? Pikir Yifan polos.
"Apakah itu tehnik yang akan kau gunakan untuk menghadapi Revenclaw musim semi depan?" Tanya Yifan ketika keduanya kini sudah memasuki kastil, dari dalam mulutnya keluar uap-uap putih transparan karena rupanya meskipun sudah memasuki kawasan yang lebih hangat, dirinya masih merasakan dingin.
Zitao melirik kearahnya sebentar kemudian merogoh saku jubah musim dinginnya nampak seperti sedang mencari sesuatu, lalu sedetik kemudian Yifan mendapati sepasang sarung tangan berwarna merah yang senada dengan syal yang dikenakan Zitao berada didepan wajahnya. Yifan berhenti karena pria disebelahnya juga berhenti sebelum menjawab pertanyaannya sambil memasangkan sarung tangan itu pada kedua tangan Yifan, "Aku hanya sedang melemaskan tubuhku tadi. Lagipula, aku tidak akan berlatih dihadapan seorang Slytherin. Kibum bisa membunuhku jika dia tahu."
"Nah, dengan begini kau akan merasa sedikit hangat." Tambah Zitao ketika dia telah selesai memasangkan sarung tangan itu, sedangkan Yifan hanya bisa tersenyum simpul sambil berusaha menghentikan detak jantungnya yang tidak beraturan hanya karena sentuhan tangan Zitao. Diam-diam dia berharap bahwa rona merah dipipinya tidak terlalu terlihat.
"Kau fikir aku akan mengatakan pada tim Slytherin mengenai tehnikmu tadi?" Tanya Yifan sedikit terdengar kesal karena sepertinya Zitao tidak mempercayainya. Yifan tidak ingin Zitao berfikir bahwa Yifan mendekatinya karena ingin mengorek soal taktik Quidditch Gryffindor untuk diberikan kepada Slytherin.
Na ah, Yifan bukan orang yang seperti itu.
Zitao menatapnya melalui ujung mata ketika keduanya telah berbelok pada pintu masuk aula besar, alis matanya bertaut dan hampir menyatu sementara bibirnya mengerucut kedepan, "Well, kau mantan Keeper Slytherin dan lagipula kapten Kim pasti akan membunuhku jika dia tahu aku mengajak anak asrama lain latihan bersamaku."
Kali ini dahi Yifan yang berkerut mendengar jawaban Zitao, "Sepertinya Kaptenmu tidak terlalu menyukai tim dari asrama lain." Zitao tertawa datar mendengar pernyataan Yifan sambil berusaha menyantap makan siang yang sudah tersedia dihadapannya, meminum jus labu kuning sedikit sebelum akhirnya menambahkan, " Na ah, dia biasanya ramah kepada semua asrama, well, kecuali Slytherin."
Dan baru kali ini Yifan merasa menyesal ketika topi seleksi memilihnya untuk masuk Slytherin.
.
Tahun sudah berganti ketika Yifan bersandar pada tembok kastil tepat disebelah pintu masuk perpustakaan Hogwarts. Rambutnya kini dia sisir kesamping dan agak sedikit keatas agar membuat dahinya sedikit terlihat, sementara kaca mata berbingkai hitam kesayangannya bertengger nyaman pada hidungnya yang mancung.
Beberapa hari terakhir ini selalu dia habiskan bersama dengan Zitao. Sebenarnya ada beberapa alasan mengapa Yifan menghabiskannya bersama dengan Zitao, pertama, karena selain dirinya tidak ada lagi Slytherin yang tinggal di asrama selama liburan musim dingin. Kedua, karena Yifan memang tidak ingin kembali ke Canada dan menghabiskan liburan musim dinginnya disana dengan orangtuanya dan yang ketiga, karena Yifan memang ingin menghabiskan waktu yang lama dengan Zitao.
Ketiga alasan diatas itu adalah alasan utama Yifan dan mungkin prioritasnya harus dibaca dari nomor yang paling bawah terlebih dahulu. Saat ini Yifan sedang menunggu Zitao untuk menghabiskan waktu beberapa jam di perpustakaan sebelum dia mengenalkan Zitao pada binatang peliharaannya sore nanti. Yifan sudah tidak sabar untuk mengenalkan Ace padanya.
"Maaf, aku terlambat!" Seru Zitao dari kejauhan. Oh Merlin! Bahkan dari kejauhanpun dia terlihat begitu indah, pikir Yifan. Rambut hitamnya kini terlihat sedikit berantakan ketika dia telah tiba dihadapan Yifan, dua buah buku terapit ditangan kirinya sementara dadanya naik turun nampak sedang berusaha untuk mengatur kembali nafasnya agar kembali stabil. Bahkan dengan keadaan seperti ini saja Yifan berfikir bahwa Zitao benar-benar sangat mempesona. Kalau saja dia tidak mengetahui Zitao dengan baik, mungkin dia akan berfikir bahwa pria ini sudah memasukan love poition pada jus labu kuningnya seminggu yang lalu ketika mereka menghabiskan makan malam bersama di aula besar.
Yifan tersenyum, "Tidak, aku juga baru saja sampai." Lalu keduanya memasuki perpustakaan yang nyaris kosong. Hanya ada dua orang Gryffindor selain Zitao dan tiga orang Ravenclaw yang sedang asik dengan pena bulu mereka.
Yifan berani bersumpah demi semua kaus kaki Jongin yang tidak terpakai bahwa tidak ada yang lebih menarik daripada mendiskusikan 'Hogwarts, A History' bersama dengan Zitao.
.
"Apakah kau yakin dia adalah Ace yang kau maksud?" Tanya Zitao ragu-ragu. Matanya menatap Yifan tidak yakin sementara dia asik bermain dengan jari-jari tangannya yang indah didepan jakaet musim dinginnya. Yifan hanya mengangguk singkat sambil tersenyum kearah Zitao dua meter didepannya, berusaha untuk menenangkan Zitao yang terlihat panik.
Kedua tangan Yifan kini sedang mengelus bulu-bulu lembut binatang peliharaannya. Setelah menghabiskan waktu berdiskusi di perpustakaan bersama, Yifan memutuskan bahwa sudah saatnya dia mengenalkan Ace –binatang peliharaan kesayangannya- pada Zitao. Meskipun udara masih terlalu dingin untuk berada diluar, tapi Yifan bersyukur karena Zitao tidak menolak ajakannya.
"Tidak perlu takut padanya, Zitao! Ace sudah mendapatkan lisensi dari Kementrian Sihir, jadi dia tidak terlalu galak lagi," kata Yifan berusaha untuk menenangkan, "lakukan seperti yang kulakukan tadi, lagipula kau ingin sekali bertemu dengan Ace, bukan?"
"Aku memang ingin bertemu dengan Ace, tapi itu sebelum aku tahu bahwa Ace adalah seekor Hippogriff!" pekik Zitao dengan suara tertahan. Matanya masih menatap horror Yifan dan hippogriff disebelahnya. Ragu-ragu, Zitao berusaha meniru apa yang baru saja dilakukan oleh Yifan untuk mendekati Ace. Tapi sepertinya usahanya sia-sia karena saat ini Ace menatap Zitao siaga, tubuhnya menegang dan kedua sayapnya nampak siap untuk mengibas Zitao.
Dan belum sempat Zitao melangkah maju, Yifan sudah ada dihadapannya. Mata Zitao melebar dan sedetik kemudian dia mendapati dirinya tersungkur diatas salju putih yang sudah mulai mencair ditengah halaman belakang Hogwarts dan sesuatu yang hangat menyentuh wajahnya.
Matanya melebar sempurna ketika dia menyadari apa yang baru saja terjadi. Ace belum bisa menerimanya, Yifan melindungi Zitao dari kibasan sayap Ace dan kini pria dengan rambut pirang kotor itu berada dibawah Zitao dengan mata yang menatapnya terkejut dan bibir yang bertemu dengan bibirnya.
Oh my god! Huang Zitao baru saja mencium Wu Yifan!
.
.
.
-Crest
A.n :
1. Profesor Park Jungsu, kepala asrama Gryffindor dan Park Jungsu murid tingkat tujuh Gryffindor itu berbeda orang ya. Park Jungsu (Jr.) murid tingkat tujuh Gryffindor itu adalah anak dari Profesor Park.
2. Ada kesalahan ketik di part 2 soal prefek Ravenclaw. Prefek Ravenclaw itu Kwon Jiyong ya, bukan Shim Changmin. Shim Changmin itu Seeker Ravenclaw.
3. Disini, lambang keluarga setiap penyihir itu sangat penting karena bisa melihat sejauh mana pengaruh keluarga dan sehebat apa keluarga mereka di mata dunia sihir. Tergantung hewan dan warna segel yang mereka punya. (Contoh : Keluarga Oh lambangnya adalah Wallet dengan warna dasar segelnya Hijau tua.)
4. Moment KrisTao-nya masih kurangkah? Hehehe...
5. Sorry for the late update, I'll try to update faster.
