Title : Fated
Pairing : Kris x Tao [KrisTao]
Other Casts : EXO Members; Kyuhyun x Sungmin
Genre : Romance ; Fluff
Rated : PG-13
Disclaimer : Kris, Tao dan semua member EXO bukan milik saya, kecuali Plot cerita. AU yang saya gunakan adalah Hogwarts!AU dan semua yang berhubungan didalamnya adalah murni hasil karya dari , saya hanya bermain-main didalam dunianya. Tidak ada keuntungan yang saya ambil melalui cerita ini.
.
.
Before i met you i never knew what it was like to look at someone and smile for no reason.
.
.
Seharian ini Yifan tidak bisa berhenti tersenyum. Ketika dia membuka buku ramuannya, ketika dia mengerjakan essay rune kunonya, ketika dia memandang pena bulu ditangannya, bahkan ketika dia memandang cermin didepan wastafel kamar mandi anak laki-laki, dia tidak bisa berhenti mengeluarkan lengkung yang melekat dibibirnya itu. Begitu lebarnya dia tersenyum, gusinya hampir terlihat. Sudah lama sekali Yifan tidak tersenyum seperti ini hingga Yifan sendiri lupa kapan terakhir kali dia tersenyum selebar ini.
Hanya karena berhasil mengajak Zitao menghabiskan waktu di kedai butterbeer seminggu yang lalu –Yifan menganggap itu adalah kencan pertama mereka- Yifan tidak berhasil menghentikan dirinya sendiri untuk tidak tersenyum. Dia bersyukur karena liburan musim dingin masih tersisa seminggu lagi, jadi dia masih bisa melatih dirinya untuk mengotrol emosinya ketika bertemu Sehun dan Jongin nanti.
Senyuman Yifan tiba-tiba saja menghilang setelah sebuah tongkat sihir bersarang sempurna pada tengkuknya. Dari balik cermin itu Yifan bisa melihat dua sosok yang sangat dikenalnya sedang memandangnya dengan pandangan curiga.
"Tunjukan siapa sebenarnya dirimu?" Tanya pria kedua yang kini sudah ada disamping Yifan. Tongkat sihir berwarna cokelat tua kayu pohon elm itu mengacung sempurna ke arah Yifan. "Kau kemanakan Yifan yang asli?" tambah pria yang menyarangkan tongkat sihirnya pada tengkuk Yifan.
Yifan memutar matanya kesal. Sejak dulu dia sudah menyadari bahwa otak Jongin dan Sehun agak sedikit tidak berfungsi dengan baik ketika mereka mencoba untuk bercanda. Tapi candaan mereka kali ini benar-benar tidak lucu. "Aku Wu Yifan, prefek Slytherin. Tahun ke empat di Hogwarts, simbol keluargaku adalah naga bertanduk Rumania. Teman sekamarku adalah Felix Clearwater, Oh Sehun dan Simon Thombs. Dan kalian berdua adalah idiot!"
"Jangan turunkan tongkat sihirmu, bodoh!" Pekik Sehun pada Jongin tanpa mengalihkan pandangannya pada Yifan. "Darimana kau mendapatkan ramuan polijus untuk menyerupai Wu Yifan? Siapapun dirimu, aktingmu sebagai Yifan tidak lebih baik dari Jongin!"
Yifan menautkan kedua alisnya pada refleksi dua juniornya dalam cermin dihadapannya. Tidak mengerti dengan ucapkan Sehun barusan. "Maksudmu, Jongin pernah mencoba ramuan polijus dan menjadi diriku?!" Pekik Yifan. Sepertinya dia akan memasukan Jongin pada daftar detensinya karena mencoba ramuan yang baru akan diajarkan pada kelas ramuan lanjutan.
Sehun memutar matanya ketika Jongin menendang kakinya dari samping kemudian memandang Yifan dengan kedua mata yang memincing. "Jika kau benar-benar ingin menyamar sebagai Yifan, aku beritahu sesuatu supaya penyamaranmu tidak pernah terbongkar," kata Sehun sedikit misterius ketika dia terhenti sebentar ditengah kalimatnya sebelum akhirnya memutuskan untuk melanjutkannya, "Yifan tidak pernah tersenyum."
"Kalau kau memang Yifan, katakan pada kami siapa yang sedang disukai olehnya?" Tantang Jongin dan Sehun bersamaan. Sekarang, Yifan yakin bahwa kedua orang tidak punya kerjaan ini hanya sekedar ingin mengorek informasi darinya soal ini, bukan karena mereka adalah sahabat yang baik karena begitu memperhatikan tingkah laku Yifan.
Sedetik kemudian Yifan memutar tubuhnya dengan kecepatan luar biasa yang berhasil membuat Sehun dan Jongin tersentak. Mencabut tongkat sihirnya dari kantong sweater dan menggumankan immobilo pelan dan berhasil membuat kedua sahabatnya terdiam tidak bergerak.
Benar-benar merepotkan, gumam Yifan lelah.
.
.
.
"Apa yang sedang kalian lakukan disini?!" Pekik Zitao ketika dia melihat Chanyeol dan Baekhyun sedang tersenyum lebar kearahnya. Kedua tangan mereka terlipat didada dan keduanya kini sibuk menaik turunkan alis mereka kearah Zitao.
Zitao kemudian beranjak dari tempat tidurnya dan langsung berlari menghampiri keduanya yang tengah berdiri di pintu masuk kamar mereka, lalu memeluk keduanya dengan kekuatan yang luar biasa. Zitao hampir saja tidak mempercayai matanya sendiri, karena liburan musim dingin belum berakhir dan kedua sahabatnya sudah berada dihadapannya. Zitao ingin sekali menangis karena terharu. Baekhyun dan Chanyeol tersenyum kemudian memeluk balik Zitao.
"Tentu saja karena kami ingin menghabiskan liburan musim dingin denganmu, panda!" Jawab Baekhyun sambil mengacak rambut Zitao dengan sayang. Zitao kembali memeluknya erat sebentar dan tersenyum lebar kearahnya. "Ya, karena Baekhyun merasa bosan di Italia dan terus saja merengek untuk menghabiskan liburan denganmu, baby Zi!" Tambah Chanyeol yang tersenyum lembut kearah Zitao.
Zitao memerah mendengar panggilan yang Chanyeol tujukan padanya sementara niat Chanyeol untuk makin menggodanya langsung hilang ketika Baekhyun memukul bagian belakang kepalanya keras. "Kau benar-benar harus berhenti melakukan itu Baekkie, atau aku akan benar-benar menjadi idiot!" Protes Chanyeol.
"Aku akan berhenti saat kau berhenti menggoda Taozi dengan rayuanmu yang pasaran itu." gerutu Baekhyun yang kini menggandeng Zitao ke arah ruang rekreasi Gryffindor. Chanyeol mengekor dibelakang mereka sambil mengusap bagian belakang kepalanya yang baru saja dipukul Baekhyun tadi. "Awww, apakah kau cemburu Baekkie karena aku tidak merayumu?" Goda Chanyeol sambil menyeringai ketika mereka sudah menemukan posisi nyaman pada sofa berlengan di ruang rekreasi.
"You wish!" Respon Baekhyun setelah memutar matanya dan kembali membuat Chanyeol kewalahan karena Baekhyun baru saja membuat Chanyeol basah kuyup dengan tongkat sihirnya. Melihat kedua sahabatnya ber-lovey-dovey seperti biasanya membuat Zitao tidak bisa menghilangkan senyum diwajahnya.
Dia merasa berterima kasih pada kedua sahabatnya yang merelakan setengah liburan musim dingin mereka untuk dirinya. Meskipun kadang Zitao egois dan bertindak terlalu kekanakan dihadapan mereka, tapi itu karena Zitao merasa nyaman dengan keduanya.
"Jadi, ada hubungan apa sebenarnya antara kau dan prefek Slytherin itu, Taozi?" Tanya Baekhyun tiba-tiba, berhasil membuat Zitao tersadar dari lamunannya. "Apa maksudmu, Baek?" Tanya Zitao polos. Dan sepanjang yang Zitao ingat, tidak ada hal yang baik ketika Baekhyun memanggilnya Taozi. Baekhyun merapatkan tubuhnya kepada Zitao dan merangkulkan tangannya pada bahu sahabatnya ini kemudian menyeringai penuh makna, "Zitao, tembok di Hogwarts itu bisa mendengar dan berbicara jadi tidak usah malu-malu untuk menceritakannya pada kami."
"Benarkah?" Kaget Zitao. Selama tiga tahun dia berada di Hogwarts, dia tidak tahu kalau tembok-tembok kastil ini bisa mendengar dan berbicara. Lukisan dan gambar yang bergerak saja sudah berhasil membuat Zitao tidak berhenti mengaggumi dunia sihir, jika ditambah tembok yang bisa mendengar dan berbicara sepertinya agak sedikit menakutkan.
"Maksud Baekkie adalah, apakah kau berpacaran dengan Wu Yifan, baby Zi?"
Dan pertanyaan Chanyeol barusan sukses membuat Zitao tersedak jus labu yang baru saja diminumnya. Sementara kedua sahabatnya nampak begitu serius memandangnya, menantikan jawaban yang sesungguhnya dari Zitao. Sepertinya kali ini Zitao tidak bisa melarikan diri lagi kali ini.
Menarik nafas berat akhirnya Zitao memutuskan untuk menceritakannya.
.
.
.
"Hyung, siapa sebenarnya orang yang membuatmu seperti ini?" Rengek Sehun ketika dia dan Yifan sedang sendirian di ruang rekreasi Slytherin. Jongin memutuskan bahwa berendam air hangat sangat menyenangkan sehingga dia memilih untuk menghabiskan waktunya lebih lama di kamar mandi.
"Apa maksudmu?" tanya Yifan acuh sambil membalik buku ramuan tingkat empatnya dan kembali membacanya. Sehun mengerucutkan bibirnya kemudian bermain-main dengan gelas cokelat panasnya. "Kau sedang menyukai seseorang, kan?" gumam Sehun.
Dan sukses membuat Yifan menghentikan kegiatannya dan memandang Sehun tajub. Darimana bocah ini tahu? Pekik Yifan dalam hati. Sehun menyeringai dan melirik kearah Yifan, "Jackpot!" teriaknya sambil menyemburkan conffeti dari ujung tongkat sihirnya.
"Siapa orang itu, Yifan Hyung? katakan padaku! Aku adalah dongsaeng kesayanganmu kan?"
"Tidak!"
"Ayolah Hyung! Katakan pada Sehunnie~" Rengek Sehun tidak mau mengalah. Tidak ada yang bisa menolak Sehun ketika dia sedang merengek. Termasuk Wu Yifan yang terkenal dingin dan tidak bersahabat.
"Aissh! Baiklah, tapi kau harus berjanji kau tidak boleh mengatakan ini pada siapapun," Kata Yifan akhirnya sambil memandang Sehun dengan tegas. Sehun mengangguk mantap karena akhirnya dia akan segera mengetahui siapa yang berhasil membuat Yifan terus tersenyum seperti orang gila belakangan ini.
"Huang Zitao." Kata Yifan cepat kemudian kembali menyibukkan diri dengan bukunya. Berusaha untuk menyembunyikan warna merah di pipinya dari Sehun yang kini tercengang menatapnya. Campuran antara terkejut dan tidak percaya karena seorang Slytherin sejati seperti Wu Yifan mempunyai perasaan kepada seorang Gryffindor dan terlebih lagi seorang muggle born.
Namun tebakan Yifan tentang apa yang dipikirkan oleh Sehun tidak ada yang benar. Karena yang ada dipikiran Sehun saat ini jauh lebih kompleks dan Sehun tidak yakin dia bisa membaginya dengan Yifan.
Tiba-tiba saja Sehun merasa sakit kepala.
.
.
.
Liburan musim dingin sudah berakhir dua minggu yang lalu. Dan itu artinya musim semi dengan suka rela akan mengganti semua daratan yang dipenuhi salju putih dengan rerumputan hijau dan bunga-bunga yang mulai bermekaran. Kupu-kupu pun kini mulai terlihat berlomba menghisap sari-sari bunga tulip berbagai warna di taman belakang kastil Hogwarts. Udara yang dulu dipenuhi oleh bau es, kini sudah berganti dengan bau embun dipermukaan rumput dan bau tanah yang basah.
Begitu pula dengan dekorasi di aula besar yang ikut berganti sesuai dengan musim yang sedang berlangsung. Matahari pagi dan udara sejuk diluar kastil, kini menyelinap dalam sisi-sisi tembok aula besar hingga dapat dirasakan oleh murid-murid yang tengah menikmati sarapan. Diatas meja pengajar Hogwarts, bendera-bendera asrama berbaris sejajar dengan sebuah lingkaran berisi berbagai permata tepat dibawah setiap benderanya.
Bendera Slytherin dan Hufflepuff berada disebelah kanan kepala sekolah sedangkan bendera Gryffindor dan Ravenclaw ada disebelah kirinya. Permata yang berada tepat dibawah bendera-bendera itu berjumlah sama dengan point yang dihasilkan oleh setiap asramanya. Dari tumpukannya, permata Slytherin terlihat lebih banyak dibandingkan dengan permata milik asrama yang lain.
"Tao, bagaimana persiapanmu soal pertandingan Quidditch minggu depan?" Bisik Baekhyun pada Zitao yang tepat berada disebelahnya ditengah-tengah pidato Headmaster Yoo. Sementara Chanyeol yang berada dihadapan mereka menendang pelan kaki Baekhyun dan menatapnya dengan ujung matanya, berusaha mengatakan bahwa ini bukanlah saat yang tepat untuk berbincang mengenai Quidditch. Baekhyun tidak menghiraukannya.
Setelah Headmaster Yoo menyelesaikan pidatonya, barulah Zitao berani menatap Baekhyun dengan pandangan tidak suka, "Aku sedang tidak ingin membicarakan hal itu, Baek! Aku sedang memikirkan tentang essay ramuanku. Kenapa sih sepertinya Profesor Cho sangat tidak menyukaiku?!"
"Entahlah, " Jawab Baekhyun sambil mengangkat bahunya tidak peduli, "mungkin karena kau sedang menjalin hubungan dengan Prefek favoritenya?" tambah Baekhyun sambil mengunyah sepotong roti berisi bacon. Chanyeol menatap Zitao sambil menahan tawanya, sedangkan Zitao menatap Baekhyun dengan tatapan tidak suka, walaupun pria dengan mata seperti kucing itu tidak bisa menyembunyikan pipinya yang bersemu merah. "Baekhyun~~~" rengek Zitao yang kini sibuk menyembunyikan wajahnya dibalik kedua tangannya.
Zitao tidak menyangka bahwa kabar mengenai kedekatannya dengan Wu Yifan kini sudah menyebar diseluruh tembok Hogwarts. Beberapa anak di asrama Gryffindor bahkan kini memandang Zitao dengan tatapan seolah merasa terhianati karena Seeker andalan mereka kini malah mengencani mantan Keeper rival abadi asrama mereka.
Zitao ingin sekali menenggelamkan dirinya di danau belakang Hogwarts kemudian mengizinkan cumi-cumi raksasa yang menghuninya untuk memakan tubuhnya atau paling tidak sekedar menghilangkan sedikit ingatannya mengenai kejadian ketika dia menghabiskan liburan musim dingin lalu. Entah dimulai dari siapa tiba-tiba saja setelah liburan musim dingin selesai, Zitao jadi dikenal mulai dari murid tingkat satu hingga tingkat tujuh. Padahal semenjak kejadian itu Yifan dan dirinya belum bertemu lagi secara langsung. Chanyeol dan Baekhyun benar-benar tidak pernah membiarkannya pergi kemanapun seorang diri.
Baru saja Zitao ingin menyanggah perkataan sahabatnya, tiba-tiba saja suara bising yang tadi masih bergema diseluruh ruangan aula besar berhenti dan Baekhyun yang semula masih sibuk mengunyah bacon kesukaannya kini nampak sibuk mencari jus labu miliknya karena sepertinya dia terlihat kesulitan menelan. Zitao memperhatikan arah pandangan terkejut Baekhyun dan mendapati sosok tinggi dengan rambut pirang terang tengah menatap lurus kedalam manik hitam miliknya. Entah mengapa, Zitao juga merasa sulit untuk menelan salivanya sendiri. Dihadapannya kini berdiri Wu Yifan.
"Eum, Tao, uh, siang nanti bisakah kita bicara sebentar? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu," sapa Yifan sedikit terbata, namun terdengar mantap dan tegas ditelinga Zitao. Seluruh siswa yang berada di aula besar nampak menahan nafas mereka menanti jawaban Zitao. Bahkan beberapa guru yang berada lumayan jauh dari tempat Zitao berada kini nampak penasaran karena aula yang biasanya gaduh mendadak hening.
Barulah ketika Zitao mengangguk kikuk, waktu terasa kembali berputar dan suara tercekat juga bisik-bisik dan bahkan beberapa tepukan terdengar dari berbagai sudut aula besar. Namun yang membuat Zitao melupakan semua itu adalah ketika dia melihat senyuman yang diberikan oleh Yifan kepadanya. Zitao tidak pernah melihat senyum itu sebelumnya. Senyuman Yifan terasa menyilaukan seperti matahari pagi ini namun juga menghangatkan dan entah mengapa kehangatan itu terasa hingga kedalam sudut-sudut hati Zitao.
Zitao sendiri bingung dengan hatinya yang tiba-tiba saja berdetak tidak karuan dan tidak ingin mengikuti perintahnya untuk tetap tenang ketika Yifan berbalik setelah menyebutkan tempat dimana Yifan akan menunggunya siang ini.
Saat Zitao sadar bahwa Yifan baru saja mengajaknya kencan dihadapan seluruh siswa Hogwarts barulah dia membenamkan wajahnya didalam pelukan Baekhyun yang masih sibuk melayangkan sumpah serapah dikepalanya pada Yifan.
.
.
.
Yifan tidak bisa menghentikan detakan jantungnya yang kini berdetak dengan kecepatan yang tidak masuk akal, seperti organ dalam dada kirinya itu ingin keluar dari tempatnya berada saat ini. Sementara seluruh tubuhnya kini terasa menghangat dan dia hampir bisa melihat telingannya yang saat ini pasti sudah semerah udang rebus. Buku-buku jarinya yang kini tersembunyi dibalik kepalan tangannya bisa merasakan keringat yang perlahan keluar dari pori-pori ditelapak tangannya.
Mungkin Yifan tidak akan merasakan perasaan aneh seperti ini jika dia tidak secara terang-terangan mengajak Zitao kencan didepan seluruh penghuni Hogwarts pagi tadi. Tapi Yifan tidak dapat menahannya lagi, setelah kejadian 'ace' Yifan tidak bisa untuk tidak memikirkan Zitao –well, sebenarnya jauh sebelum insiden 'ace'-
Dan dua hari lalu ketika secara tidak sengaja dia mendengar pembicaraan Joonmyeon dan Yixing diperpustakaan mengenai Chanyeol yang tidak pernah mengizinkannya untuk menemui Zitao seorang diri dan bahwa Chanyeol selalu memanggil Zitao dengan sebutan Baby Zi –dan dengan seenaknya keduanya menyimpulkan bahwa Chanyeol mungkin saja adalah kekasih Zitao- membuat hati Yifan terasa panas dan otaknya terus saja berputar menyuruhnya untuk mengklarifikasi kebenaran berita tersebut.
Tapi tentu saja Jongin dan Sehun selalu tidak pernah ada disisinya ketika Yifan membutuhkan moral support dan selalu sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Mungkin sebaiknya Yifan berfikir ulang mengenai status keduanya sebagai sahabat. Yifan perlu melakukan penilaian berkala mulai saat ini.
Satu jam sebelum waktu yang telah ditentukan tadi, Yifan sekali lagi mengecek penampilannya didepan sebuah cermin seluruh badan yang terdapat dikamar prefek miliknya. Jeans hitam, kemeja putih lengan panjang dan karena udara masih sedikit dingin, Yifan memutuskan untuk memadukan sebuah longcoat berwarna hitam untuk berkunjung ke Hogsmeade siang nanti.
"Kalau aku jadi kau, aku tidak akan menggunakan pakaian seperti itu, Hyung."
Jika saja Yifan tidak ingat bahwa dia memiliki harga diri dan kharisma yang mengaggumkan, Yifan mungkin akan berteriak dan melempar Sehun yang tiba-tiba saja muncul dibelakangnya menggunakan apa saja yang bisa dijangkau oleh kedua tanganya saat ini.
"Lain kali sebelum masuk ke kamarku, ketuk pintu dulu!" Tegas Yifan, namun sepertinya Sehun sedang tidak berniat untuk mendengarkan Yifan dan malah sibuk dengan isi lemari pakaian Yifan. Setelah satu menit yang menyebalkan bagi Yifan –karena Sehun mengganggu ritualnya sebelum bertemu dengan Zitao-, akhirnya Sehun menghampirinya dengan senyuman yang aneh –well, karena Sehun jarang sekali tersenyum, okay- dan menyerahkan sepasang celana jeans berwarna khaki dan kaus lengan panjang berwarna putih juga sebuah sweater berwarna senada dengan celananya.
"Pakai ini saja, Hyung! Zitao pasti akan menyukainya!" Kata Sehun yang terlihat sangat percaya diri dengan pilihan bajunya yang menurut Yifan terlalu santai. "Apakah ini tidak terlihat terlalu santai?" tanya Yifan tidak yakin. Kedua alisnya menyatu sambil mengamati kaus dan celana yang ada ditangannya.
Sehun memutar matanya kesal, "Kau itu hanya ingin kencan, Hyung. Bukan ingin melamarnya jadi istrimu."
.
.
.
Begitu Yifan berada didepan kedai Madam Puddifoot's laki-laki dengan rambut pirang kotor itu sedikit terkejut karena sepertinya hari ini kedai itu sedang ramai pengunjung. Hampir disetiap sudutnya kini terdapat beberapa pasangan yang berjejalan ingin masuk dan mencicipi secangkir teh di kedai itu. Anehnya, tidak hanya pasangan yang berada disini tetapi juga ada beberapa meja yang berisi empat hingga delapan orang. Membuat kedai yang sudah sempit ini terasa semakin sempit dengan banyak orang yang berdiri bahkan disisi jendela kedai.
Sehun dan Jongin selalu bilang bahwa kedai ini selalu sepi oleh pengunjung disiang hari dan hanya akan mulai ramai ketika sore menjelang saat udara terasa lebih dingin, karena menurut Sehun dan Jongin wanita lebih menyukai suasana hangat di kedai Madam Puddifoot's daripada The Three Brumsticks.
Mungkin untuk kencan selanjutnya dia akan memperhitungkan kembali tempat ini sebagai tujuannya, saat ini sebaiknya dia berkonsentrasi untuk memusatkan seluruh kekuatannya untuk membuat kencan ini berhasil. Yifan menggenggam tongkat sihir miliknya yang dia simpan disaku celana panjangnya erat-erat, berusaha untuk menghilangkan rasa gugupnya. Ditariknya perlahan udara hangat disekitarnya dan dihembuskannya perlahan berulang kali sebelum akhirnya matanya mendapati sosok Zitao yang berlari kearahnya.
Kepalanya berkata bahwa Yifan sebaiknya pergi dari sana sekarang juga sebelum dia terkena serangan jantung mendadak, tapi hatinya berkata bahwa jika itu karena Zitao, maka ia rela untuk mendonorkan jantungnya yang tidak berfungsi sempurna ini pada siapapun yang membutuhnya. Dan Yifan seperti kehilangan kemampuannya untuk bernafas dan berfikir jernih ketika Zitao berhenti dihadapannya, tersenyum manis dengan nafas yang sedikit terengah karena baru saja berlari.
Merlin, tolong izinkan Yifan menghentikan waktu saat ini saja untuk membingkai senyum yang diberikan Zitao untuknya dalam kanvas hatinya.
"Maafkan aku, Yifan! Aku terlambat, aku baru saja berhasil melarikan diri dari Chanyeol dan Baekhyun, " kata Zitao disela nafasnya yang terengah. Namun Yifan heran bagaimana mungkin Zitao tetap terlihat sangat menggemaskan bahkan ketika dia habis berlari?
Tunggu dulu, pikir Yifan tiba-tiba apakah Zitao baru saja menyebutkan nama Chanyeol? Okay, mood Yifan yang semula seratus persen berbunga-bunga kini berkurang menjadi hanya sembilan puluh dua persen berbunga-bunga. Karena Chanyeol, okay!
"Chanyeol dan Baekhyun?" tanya Yifan hati-hati. Namun Yifan bisa mendengar suaranya sendiri sedikit bergetar ketika dia menyebutkan nama pertama. Zitao mengangguk mantap dengan senyum yang masih merekah sempurna seperti bunga-bunga yang mulai bermekaran di musim semi ini.
"Teman sekamarku," Jawab Tao yang kini sudah tidak terlihat terengah dan sibuk dengan ujung sweater putihnya. "Mereka berdua benar-benar tidak mengizinkanku kesini seorang diri karena takut teman-teman Slytherinmu akan menganiayaku. Mereka berdua tidak menyukai Jongdae dan Chanyeol sangat membencimu." Tambah Zitao lagi yang kini sibuk memandang kakinya sendiri. Berusaha mengalihkan pandangannya dari Yifan dan Yifan tidak menyukainya sedikitpun.
"Sepertinya mereka sangat overprotective terhadapmu." Gumam Yifan pada dirinya sendiri, tapi sepertinya terlalu keras karena Zitao tertawa canggung ketika mendengarnya. "Chanyeol overprotective terhadapku. Kalau Baekhyun, dia hanya tidak ingin aku jauh darinya agar Chanyeol tidak jauh darinya. Hahaha..." Jelas Zitao yang kini sibuk menendang tanah dibawahnya.
"Kau membuat kalian bertiga terdengar seperti sedang menjalin cinta segitiga." Kata Yifan yang kini menautkan kedua alisnya dan tanpa sadar memajukan sedikit bibirnya. Yifan tidak suka dengan informasi yang baru saja didengarnya dari Zitao. Koreksi, Yifan tidak menyukai informasi tentang Chanyeol yang baru saja didengarnya dari Zitao. Mungkin sebaiknya dia mempersiapkan dirinya untuk berperang menghadapi Chanyeol di kemudian hari. Better be prepared, right?
Mendengar kalimat Yifan barusan, tawa Zitao meledak hingga membuat orang-orang disekitar kedai Madam Puddifoot's menoleh dan memberikan pandangan terganggu kearah Zitao. Termasuk Yifan yang kini memandang Zitao yang sibuk memegangi perut dan menyeka air mata yang sedikit keluar diujung mata indahnya.
"Maaf! Tapi kata-katamu tadi benar-benar lucu sekali!" Tao berusaha untuk menjelaskan disela-sela tawanya yang masih tersisa. Setelah menenangkan dirinya sejenak, akhirnya Zitao menatap Yifan tepat di manik matanya dan memandang Yifan dengan pandangan yang sulit dijelaskan bahkan oleh orang sejenius Yifan sekalipun.
"Yifan, Chanyeol bertingkah overprotective kepadaku karena aku adalah orang terdekat Baekhyun di Hogwarts," tambah Zitao masih dengan senyum yang sama yang berhasil membuat Yifan merasa lemas dan ingin sekali menyandarkan dirinya –atau mungkin juga hatinya- pada objek terdekat. Zitao.
"Jadi itu maksudnya, kau...mereka...aku...Chanyeol..." Yifan berusaha untuk menyimpulkan sendiri dengan kalimatnya terbata-bata miliknya, sementara dihadapannya Zitao masih memandangnya dan seperti sudah siap untuk menangkapnya yang saat ini sedang terjatuh –tentu saja ini kiasan.
"Ya, Yifan. Mereka berdua memang pasangan yang menyebalkan." Zitao menyimpulkannya untuk Yifan. Dihadapannya, Yifan hanya bisa membalas senyum Zitao dengan senyum yang sama. Senyum dengan rasa mendamba, lega dan entahlah, Yifan sendiri tidak dapat menjelaskan apa yang sedang dipancarkan oleh matanya.
Dan tanpa Yifan sadari –mungkin juga Zitao sendiri tidak menyadarinya- bahwa tubuh Yifan semakin tertarik pada gravitasi yang bernama Zitao. Entah keberanian darimana, Yifan memberanikan dirinya untuk melingkarkan kedua tangannya dipinggang Zitao dan memeluknya kemudian meletakan dagunya di pundak lelaki yang beberapa centimeter lebih pendek darinya itu.
Dan ketika itu, keduanya merasa bahwa pasangan puzzle yang mereka miliki selama ini menemukan pasangannya dan akhrinya saling melengkapi.
.
.
.
A.n :
I'm sorry it's disgustingly cheesy, i know! -_- Blame OTP because they're gross #euuyyyhh#
Oh, and Thank you for all the comment and subcribers and likes.
I'm so sorry that i couldn't update this more often because rl is suck sometimes orz...
Until next time, guys!
-Crest
