"Cepat bawa dia, oh.. ini semua salahku."

Sebelum kesadaran ini benar-benar menghilang, aku mendengar samar-samar seorang laki-laki yang menyalahkan dirinya terhadapku, kurasakan tangan yang menyentuh wajahku, dan wajahnya dihadapanku, orang asing... siapa? Sedetik kemudian aku benar-benar tak sadarkan diri.

How To Train Your Dragon – Rise of Guardians

Disclaimer : Dreamworks

Rating : T mungkin jadi M sewaktu-waktu :p

This is YAOI! Frostcup/Hijack

Saa, Douzo

====THE FROST====

.

=======ch2. Who are You?=======

.

Hatchiihhh!
aku terbangun oleh bersinan diriku sendiri. Kulihat sekeliling, oh ini kamarku.

Eh, kamarku?

Kuperhatikan lagi sekelilingku, ini memang kamarku. Ternyata Toothless benar-benar membawaku sampai kerumah. Kulihat tubuh hitamnya yang masih tertidur di tempat tidurnya dengan damai. Aku sedikit tersenyum melihat wajahnya yang tertidur. Dan tiba-tiba aku teringat kejadian tadi malam.

Ada seseorang.

Ya, seseorang.

Tapi siapa?

Aku berfikir keras sampai suara gemuruh di tangga rumahku mendekat kekamarku dan-

BRAK!

"Hiccup."

Dan ternyata itu ayahu-Stoick- yang entah kenapa sangat aneh datang berkunjung kekamarku, pagi-pagi begini.

"Hei yah, ada apa?" tanyaku heran sambil menggaruk telingaku yang tak gatal.

"Apa yang kau lakukan dengan mantelku?" tanyanya balik yang malah membuatku bingung.

Mantel?

Aku lekas berpaling kearah badanku yang masih dudukan di ranjang, aku membulatkan mataku tak percaya. 'Mantel Ayah? Kenapa ada disini?' tanyaku heran pada diriku sendiri.

Aku menggelengkan kepalaku beberapa saat, mengambil mantel yang masih bertengger indah di kakiku dan beranjak menuju Ayah yang berdiri didepan pintu kamar sambil menyipitkan matanya.

"Hehe maaf Yah, aku sangat kedinginan."

Ayah langsung menyambar mantelnya dari tanganku, dan memakainya di pundaknya.

"Kau harus melatih otot-ototmu itu, Hiccup. Ayah pergi." ucapnya kemudian pergi dari kamarku.

'Aneh' batinku.

Kenapa bisa mantel Ayah berada di badanku, sedangkan mantel itu selalu Ayah simpan di lemari dan lemari itu memiliki kenop yang sangat tidak mungkin dibuka oleh seekor naga. Toothless tidak akan mungkin bisa melakukannya. Seketika aku teringat akan suara, sentuhan dan wajah seseorang dikala ketidaksadaranku. Bulu kudukku kenapa jadi berdiri begini?

GRHHH..

"Sstttt,"

Aku membulatkan mataku, kudengar Toothless menggeram di belakangku dan kali ini dengan sebuah suara 'Stt' seseorang. Apakah penyusup? Kurasa lebih dari sekedar itu, karena suara itu sanggup pembuat semua buluku berdiri (?) Thor, lindungi aku..

'Glek'

Aku menelan susah payah air liurku, kuberanikan melihat kebelakang. Dan disana, seseorang sedang memegangi mulut Toothless dengan tangan satunya lagi yang memegang sebuah tongkat yang melengkung diatasnya. Dan lihat, dia melayang. Haha...Melayang.

Kakiku lemas,

BRUKK

Aku pun pingsan.. Lagi? Oh ayolah...

.

.

The Frost

.

.

"Huweeeee,"

"Hei, kenapa?"

"Kak, naga itu mengejarku. Aku takutt, hiks."

"Hei tenang, jangan nangis. Naga itu makhluk baik kok."

"Tidak! Naga itu jahat, harus dibunuh. Naga itu sudah membunuh ibuku kak. Hiks hiks."

"Hmm, sini. Kalau begitu akan kutunjukkan kau sesuatu hal yang bagus."

"Woaahh apa itu kak?"

"Ini adalah..."

.

Author POV

.

"AAAAAAA!"

Hiccup terperanjat dari tidurnya, wajahnya seperti seorang Viking dewasa yang histeris saat mengetahui janggutnya terpotong. Keringat bercucuran diantara wajahnya, deras. cukup absurd berhubung ini musim dingin. Hicupp kini melirik kanan-kirinya. Ini bukan kamarnya.

Banyak pepohonan didekatnya. Ia yakin ia sedang tidak berada di Berk. Ini adalah tempat dimana ia dan naganya-Toothless biasa beristirahat ketika sedang latihan. Dan hal yang dibingungkannya, kenapa ia bisa berada disini? Siapa yang membawanya kesini? Toothless? Bagaimana bisa? Saat Hiccup berjalan kearah pinggir pantai, ia menyadari sesuatu.

"Oh, lautan membeku," Hiccup kini mulai percaya bahwa yang membawanya kemari adalah Toothless. Sebentar ia berfikir, memikirkan kejadian sebelumnya.

Pria yang melayang.

Lagi dan lagi, Hiccup merinding. Sudah cukup hari-harinya ini dihiasi dengan rindingan dari bulu-bulunya. Yang harus ia lakukan sekarang ini hanyalah menemukan Toothless dan pulang karena ada latihan rutin dengan teman-temannya.

"Toothless, dimana kau? Toothless?" Teriak Hiccup memanggil sahabat naganya, ia memutar sekeliling pantai bersalju di pulau kecil itu, tidak ada.

Ia pun mencoba kembali ke hutan tempat tadi ia... tiduran?

"Toothless?"

"Hei Toothless..?"

"Mencariku?"

"HUWAAA!"

Hiccup terjatuh, kini wajahnya benar-benar tak karuan. Dan dia bersumpah demi celana dalam bekas Odin yang dijadikan bumbu sop ikan, kenapa ia harus dihadapi dengan serangan-serangan yang membuat jantungnya hampir pecah? Apakah ini salah satu latihan pembentukkan otot? Batinnya miris.

Hiccup mulai limbung, dalam kepalanya berputar drastis.

"Woi woi tunggu! Jangan pingsan lagi. Apakah kau tahu berapa berat aku membopongmu tadi.. dan kemarin!" ucap sesuatu-ah, seseorang yang melayang terbalik tadi dan bergegas menahan Hiccup yang hampir pingsan lagi.

"H-hantu.."

Hiccup Horrendous Haddock III merupakan sosok realistis dan berotak cerdas. Selalu berfikir positif, tidak percaya takhayul, mengaitkan semuanya dalam suatu fakta yang ada. Tapi, disini. Di pulau kecil disebelah selatan pulau Berk, di usianya yang ke 14, ia baru mengucapkan dan percaya pada kata astral bernama 'Hantu' Luar biasa..

"Ohh," seseorang yang dipanggil 'Hantu' tersebut menepuk pelan keningnya. Ia terlihat sedikit stress melihat orang yang dibawanya bisa pingsan 3 kali berturut-turut dalam waktu kurang dari satu hari penuh.

'Hantu' tersebut terpaksa membopong kembali badan Hiccup perlahan, 'untung ringan' batinnya. Ia melihat wajah Hiccup yang tertidur, mulutnya sedikit menganga. Tiba-tiba 'Hantu' tersebut terkekeh kecil, "Kau tidak berubah, adik kecil."

Disaat yang bersamaan Toothless datang, membawa sebuah keranjang kecil berisi ikan-ikan mati. Rupanya, 'Hantu' tersebut menyuruh Toothless untuk mengambil atau lebih tepatnya mencuri ikan di Berk.

"Anak pintar, ayo kita makan disana." Ajak si'Hantu' pada Toothless yang dibalas anggukan riang Night Fury itu.

.

.

.

"Hmmmm,"

Hiccup mulai sadarkan diri, pertama yang ia rasakan adalah bau dari ikan bakar. Ikan bakar? Hiccup mengucek matanya pelan, ia baru sadar bahwa ia sedang terbalut selimutnya yang kemarin malam tertiup angin. Hiccup membulatkan matanya, dan memiringkan kepalanya layaknya Toothles yang keheranan.

"Kau sudah bangun, bocah." Ucap seseorang pada Hiccup dan mulai menghampirinya.

Hiccup kaget, ia lekas berdiri. berlari ke sudut gua, dan langsung menutup tubuhnya dengan selimutnya.

"Menjauhlah kau hantu. Aku tidak takut padamu!" teriak Hiccup dibalik selimutnya.

Si'Hantu' hanya tersenyum dan mulai menghampiri Pria kecil di sudut gua itu. Ia berjongkok di depan hiccup yang tengah bergulung di sudut. 'Hantu' tersebut mulai menyentuhkan tangannya yang sepertinya mengenai kepala Hiccup.

"Apakah kau lupa padaku, Hiccup?"

Hiccup membelakakkan matanya, 'kenapa dia tahu namaku?' batinnya.

Secepat mungkin, Hiccup membuka selimut yang menutupi mukanya. Ia menyipitkan matanya, lebih cermat memperhatikan wajah tersenyum didepannya, "Kau.. Siapa?"

"Hei, kau sudah capek-capek menyipitkan matamu dan kau masih belum bisa mengingatku!? Itu keterlaluan Hic!"

Pemuda berambut coklat itu mulai bingung dengan reaksi pemuda berambut putih didepannya. Ia yakin ia pernah bertemu dengannya sebelumnya, tetapi ia tidak mengingatnya. Siapa? Ia belum sepenuhnya yakin.

"Baiklah, mungkin ini bisa mengingatkanmu." Pemuda 'Hantu' berambut putih itu mengangkat tangan kanannya tepat ke wajah Hiccup, ia meliuk-liukkan jarinya dan seketika itu pula salju-salju yang ada didekatnya saling terangkat dan menggumpal menjadi satu ditangannya, berhiaskan cahaya yang berkelip bagai bintang. Hiccup yang melihatnya takjub.

Tiba-tiba sebuah kilasan mimpi yang dialaminya pagi tadi muncul secara cepat. Ia mulai membuka mulutnya mengingat semuanya.

"K-kakak.."

.

.

.

.

Bersambung... haha maaf alur ceritanya jadi tambah gak jelas. Saya tahu dan saya menyadarinya. Terlalu banyak hal yang saya pikirkan untuk jadi pertemuan pertama mereka. Dan akhirnya jadi absurd well, disini terlihat mereka panggil kakak-adik. Tapi tenang, ini bukan seperti yang kau pikirkan. Ini yaoi dan bukan incest, jadi nantikan lanjutannya.. okeoke. Oya, untuk tempat itu Author ngarang. Author gak begitu inget tempat2 di HTTYD. Maap yee

Akhir kata sekian dan Review, kapanpun kalian membaca mau berminggu-minggu kemudian atau bertahun-tahun kemudian. Pokoknya REVIEW. Oke anak manis ;))

See yaa~