Chapter 2
Satu tahun kemudian...
Mamori semakin sibuk dengan pekerjaannya di sebuah TK di kota Chiba. Di usianya yang seperempat abad, Mamori sudah bekerja selama tiga tahun, walaupun di TK ini dia baru mengajar selama setahun. Dia jarang bertemu dengan teman-temannya, karena mereka semua sudah berpencar dan bahkan sudah menikah. Dengan Hiruma pun, dia hanya bertemu paling cepat sebulan sekali. Sisanya kadang dua bulan atau lebih.
Semuanya berjalan seperti biasa, tidak ada yang berubah. Hubungannya dengan Hiruma juga baik-baik saja. Kalau pun ada kabar mengembirakan, adalah pernikahan Suzuna dan Sena lima bulan lalu. Setelah itu, semuanya berjalan normal, sangat normal sampai dia berpikir untuk apa dia menjalani hubungan dengan Hiruma, sampai mana mereka akan membawa hubungan ini, Mamori tidak tahu. Umurnya sudah dua puluh lima tahun dan Hiruma tidak ada tanda-tanda ingin menikahinya.
Saat bertemu, yang ada mereka hanya bertengkar dan berdebat. Bertemu sehari dua hari, dan tidak bertemu selama sebulan dua bulan. Sangat tidak adil bagi Mamori, walaupun Hiruma tampak santai dan biasa saja. Kekhawatiran Mamori ialah, sampai kapan Hiruma akan menjalani hubungan ini. Mamori takut Hiruma bosan dengannya, walaupun Mamori sendiri memang tidak akan bosan. Baginya, mencintai sekali, artinya mencintai seumur hidup. Tapi Hiruma tidak pernah bilang dia mencintainya. Ya, bahkan sejak tiga tahun saat semuanya dimulai.
Setengah enam sore Mamori menyusuri pinggir sungai untuk pulang ke mansionnya. Matahari tampak mulai terbenam di belakang Mamori sehingga menampakan bayangannya yang berjalan seorang diri. Dia menyusuri langkah perlahan sambil terus menunduk memperhatikan bayangannya sendiri. Sepatu hak setinggi lima senti ini membuat kakinya pegal karena harus berjalan hati-hati di tumpukan kerikil sepanjang jalan.
Mamori menoleh saat menyadari ada bayangan roda sepeda di belakangnya,
"Oh, Sato-san." sapa Mamori melihat guru wanita di SD tempat dia mengajar. TK-nya memang menjadi satu dengan SD, namun beda gedung.
"Kamu baru pulang Anezaki-san?"
"Aku bertemu dengan temanku dulu tadi. Jadi selarut ini."
Sato mengangguk, "Mau bareng denganku? Bukannya kita satu arah?" ajaknya.
"Ah tidak usah, terima kasih. Aku mau jalan kaki saja. Udara disini sangat bagus."
"Baiklah, aku duluan kalau begitu. Sampai besok." katanya tersenyum dan meninggalkan Mamori di belakang.
Mamori melanjutkan perjalanannya. Masih sepuluh menit lagi dia sampai ke mansion, tapi kalau berjalan pelan dan terlalu santai seperti ini, bisa-bisa memakan waktu dua puluh menit. Dia juga terkadang berhenti memandangi sungai atau memandang jauh ke langit.
"Menemukan UFO di sana?" tanya sesorang yang tiba-tiba berdiri di belakang Mamori.
Mamori menoleh lalu tersenyum, "Ya, ternyata aliennya sudah berdiri di belakangku."
Hiruma menjitak kepala Mamori. "Kamu dari mana saja, heh? Aku ke mansionmu, kamu tidak ada, aku ke TK-mu, di sana sudah sepi. Untungnya aku menyusuri jalan ini."
Mamori mengongak sedikit melihat mobil Hiruma terparkir di pinggir jalan besar di atas.
"Tumben sekali. Ada apa kamu mencariku?"
"Apa aku tidak boleh menemuimu, bodoh? Ayo naik, aku antar sampai mansion." ajaknya dan Mamori mengikuti Hiruma di belakang.
Hiruma mengambil sesuatu dari kotak dashboard dan menyerahkannya kepada Mamori, lalu dia mulai menjalankan mobilnya.
"Kurita-kun, menikah?" kagetnya, membaca nama di surat undangan di tangannya. "Besok?"
"Kamu tidak tahu?"
Mamori menggeleng, "Tidak ada yang mengabariku."
"Mungkin mereka pikir kamu sudah tahu." jawabnya, "Kamu mau datang?"
Mamori memandang lama ke Hiruma, "Bersamamu?"
Hiruma menoleh sekilas lalu berkata, "Tentu saja. Kau pikir sama siapa?"
"Aku kira kamu menyembunyikan hubungan kita."
"Aku tidak pernah menyembunyikannya. Kalau ada yang bertanya, aku akan bilang. Tapi kalau tidak, untuk apa aku mengumumkannya? Biarkan saja."
Mamori mengerti, sama halnya seperti dirinya. Kalau ada yang bertanya, dia akan bilang dia punya pacar. Sejauh ini, hanya kedua sahabatnya lah, Sara dan Ako, yang tahu kalau dia dan Hiruma berpacaran. Sedangkan yang lainnya, mengetahui walaupun sudah bercampur aduk dengan gosip. Sehingga tidak ada yang tahu itu benar atau tidak, dan tidak ada yang berani bertanya. Karena sampai sekarang pun tidak terbukti mereka jalan bersama, dan memang mereka juga jarang bertemu. Jadilah itu hanya sekedar gosip dan pasti tidak akan ada yang percaya jika ada yang mengetahui kebenarannya. Padahal hubungan mereka sudah tiga tahun lebih, dan tidak ada satu pun anggota devil bats atau pun Saikyodai yang mengetahuinya.
"Aku besok mengajar sampai jam satu."
"Apa tidak bisa izin, heh?"
"Kalau mendadak seperti ini.. akan susah."
"Baiklah, acara mulai jam lima, jadi aku akan menjemputmu jam empat."
Mamori berpikir sambil menghitung waktu dia bersiap-siap dan berdandan. "Oke."
Mereka akhirnya tiba di depan mansion Mamori. "Mau masuk?" tanya Mamori.
"Tidak bisa, aku harus kembali."
"Baiklah. Sampai jumpa besok." ujar Mamori, tersenyum lalu keluar dari mobil. Dia berdiri di sana sampai mobil Hiruma tidak terlihat lagi.
.
.
"Sampai jumpa hari senin anak-anak. Besok diperkirakan salju pertama akan turun, jadi jaga kesehatan kalian."
Anak-anak berhamburan keluar. Mereka melambaikan tangan kepada Mamori dan mengucapkan sampai jumpa. Mamori terus tersenyum kepada mereka, dia mengikuti dari belakang sambil mematikan lampu dan menutup pintu. Setibanya di kantor guru, Mamori membereskan mejanya dan pulang untuk bersiap pergi ke pesta pernikahan Kurita.
Jam empat lewat lima menit, Mamori sudah siap dengan lace sleeve black mini dress berbahan tenun diamond velvet dengan v-neck rendah yang memperlihatkan leher dan tulang selangkanya yang indah, serta kalung cantik yang dipakainya. Mamori menjepit rambut sebelah kanannya ke belakang memperlihatkan anting sederhana yang diberikan Hiruma kepadanya satu tahun lalu. Dengan make-up naturalnya, Mamori terlihat sangat cantik.
Mamori membuka pintu setelah mendengar suara bel mansionnya. Dia melihat Hiruma, dengan rambut yang disisir rapi ke kebelakang, dia mengenakan taxedo tanpa dasi. Dia juga tidak mengaitkan kancing kemeja hitamnya yang paling atas. Mamori menatap Hiruma lama, dia tidak pernah melihat Hiruma setampan ini. Dia juga merapikan rambutnya. Atau semua ini karena hari pernikahan penting sahabatnya, maka Hiruma juga berpakaian seperti ini.
Hiruma, yang sama terhipnotisnya, terus menatap Mamori, lalu melangkahkan kaki masuk ke dalam, dan menutup pintu di belakangnya.
"Ada apa? Bukannya kita mau langsung berangkat?" tanya Mamori heran.
"Aku tidak tahan setiap kali kamu memakai gaun serendah itu." katanya menatap tubuh bagian atas Mamori yang sedikit rendah, "Apa boleh kita berangkat jam tujuh saja?"
"Youichi! Jangan bercanda, aku sudah berdandan." balas Mamori, menutup mata Hiruma lalu berjalan ke pintu sambil menggeser tubuhnya. "Ayo, nanti kita telat."
Mamori menggerutu lalu menutup mengunci pintu setelah Hiruma keluar. Hiruma lalu berjalan di depan menuju mobilnya diparkirkan lalu membukakan pintu untuk Mamori.
"Tumben sekali kamu membuka pintunya untukku."
Hiruma tidak membalas lalu menutup pintunya kembali saat Mamori masuk. Setelah itu mereka mengendarai mobil menuju gedung pernikahan Kurita.
.
.
"Oh, Mamo-nee!" panggil Suzuna saat melihat Mamori dan Hiruma masuk, "Sudah lama kita tidak bertemu."
Mamori meninggalkan Hiruma yang sudah memisahkan diri dan menghampiri Suzuna yang berjalan cepat kemudian memeluknya. Mamori tersenyum kemudian melepaskan pelukannya.
"Kamu tambah gendut Suzuna, atau jangan-jangan kamu hamil ya?" tebak Mamori yang sudah tahu hanya dengan merasakan perut Suzuna yang membesar.
"Yup. Aku hamil tiga bulan." jawabnya ceria. "Kamu datang bersama You-nii lagi, Mamo-nee?" tanyanya melihat Hiruma yang berjalan menuju Kurita dan menyalaminya.
Mamori mengangguk, "Oh, aku mau menyalami Kurita dulu Suzuna, nanti kita mengobrol lagi." Mamori lalu berjalan ke arah Kurita yang berdiri berdampingan dengan mempelainya yang cantik. Mamori tidak pernah bertemu dengannya, tapi dia terlihat baik dan cocok dengan Kurita.
"Mamori-chaan~" panggil Kurita dengan cerianya saat Mamori datang menghampirinya.
"Kurita-kun, selamat atas pernikahannya." katanya menyalami Kurita lalu memeluknya. Mamori lalu beralih ke wanita, yang sekarang sudah menjadi istri Kurita dan tersenyum ramah. "Hai, aku Mamori, teman SMA Kurita-kun. Senang bertemu denganmu. Kamu cantik sekali." pujinya.
Wanita itu lalu menjabat tangan Mamori "Hai, aku Yukina. Aku sudah sering mendengar cerita tentangmu, Mamori-san. Aku kira Ryokan hanya mau membuatku cemburu saat mengatakan kalau kamu cantik. Tapi ternyata, kamu luar biasa cantik."
Mamori tersenyum lagi, lalu memeluk Yukina. "Terima kasih. Selamat atas pernikahan kalian. Semoga berbahagia."
Mamori lalu meninggalkan mereka dan kembali ke tempat Suzuna namun dia melihat Suzuna mengobrol dengan orang-orang yang tidak dia kenal, mungkin teman-teman kuliahnya. Akhirnya Mamori menuju ke meja makanan di tempat Sena juga sedang berdiri disana. Mamori berdiri di seberang meja bundar di depan Sena.
"Hai Sena." sapa Mamori, lalu mengambil piring kertas kecil dan melihat makanan di atas meja yang berupa makanan ringan seperti kue, dan roti-roti kecil.
"Oh, Mamo-nee." sapanya balik saat menyadari kedatangan Mamori. "Apa kabar Mamo-nee? Aku dengar Mamo-nee mengajar di daerah Chiba?"
Mamori mengangguk, "Bagaimana di Amerika?"
"Baik. Semuanya berjalan lancar." jawab Sena lalu menyadari Hiruma yang berdiri di samping Mamori, "Hai, Hiruma-san."
Hiruma mengangguk ke Sena.
Mamori menoleh ke Hiruma sambil mencicipi roti kecil yang sudah diambilnya tadi. Mamori menggigit setengahnya dan mengunyahnya, lalu berkata. "Oh, ini enak sekali Youichi. Kamu pasti suka." Mamori memberikan setengah gigitannya tadi ke mulut Hiruma dan Hiruma langsung memakannya.
Sena yang berdiri di depan mereka hanya bisa menyaksikan pemandangan yang membuatnya sangat bingung. Dia melihat Mamori yang menyuapi Hiruma dengan wajarnya dan Hiruma terlihat dengan santai berdiri di sebelah Mamori dan memakan roti tersebut. Dan sejak kapan Mamori memanggil Hiruma dengan nama depannya, pikirnya dalam hati walaupun dia tidak berani menanyakannya.
"Roti mana yang kamu ambil?" tanya Hiruma.
Mamori lalu mengambil roti dengan rasa kopi itu lagi dan menyuapinya ke mulut Hiruma. "Enak 'kan?"
Hiruma mengangguk dan memandang roti-roti di atas piring kertas yang dipegang Mamori, "Kamu lapar atau rakus, heh?"
"Aku mengambilkan untukmu juga." balas Mamori, walaupun sebagian besar dia ambil memang untuk dia makan sendiri.
"Anu... Mamo-nee... " Sena akhirnya bersuara, "Aku mau tanya. Kenapa Hiruma-san... Emm, Kenapa Mamo-nee..." tanyanya terbata dan tidak menemukan kata yang tepat untuk mengatakannya.
Sena tidak jadi bertanya setelah melihat seorang wanita cantik dengan gaun merah mawar dan rambut hitamnya digulung ke atas menghampiri mereka dan melingkarkan tangannya ke lengan Hiruma.
"Hiruma-san, kamu bisa ikut aku sebentar?" ajaknya dan mereka meninggalkan Sena dan Mamori disana.
Mamori terdiam dan hanya bisa memandang kepergian Hiruma, yang tampak dengan santainya meninggalkan Mamori dan mengikuti wanita itu. Dengan tangan wanita itu yang terus menggandeng lengan Hiruma sampai mereka tiba di tempat yang dimaksudnya dan masih belum juga dilepaskannya. Tiba-tiba muncul banyak pertanyaan yang menggantung di kepala Mamori.
Siapa wanitu itu? pikirnya.
To Be Continue
Catatan Kecil:
Yup! Akhirnya jadi juga chap 2-nya. Sesuai permintaan, seperti yang disebutkan, ini akan semi-M. Jadi di tengah-tengah T dan M, walaupun ga menjurus-jurus ke M, karena itu tenang aja.. Bakal aman kook.. XD
Ampun deeh, padahal baru di chap 1 tadi bilang, ga mungkin ada orang ketiga. Tapi apa? Kenapa tiba-tiba ada wanita cantik berbaju merah? Emangnya dia Red Queen?
Nah, ga apa-apa 'kan guys? XD
So Please, Read and Review ^o^
Btw, baru inget di chap 1 ga ada tulisan to be continue-nya XD
Salam: De
