Tittle : Be Mother for My Son
Author : Kim Kyusung
Genre : Romance, Hurt/Comfort, Family, Death Chara
Pairing : ChenTao (Chen X Tao)
Cast : Member EXO, SNSD, Shinee, CNBlue
Disclaimer : Mereka milik Tuhan, Orang tua, SMent, Fans mereka ^^
Rating : K/T
Warning : YAOI (Boy X Boy ) yang ga suka Yaoi jangan baca, arraso !
Typo, atau alur ga jelas harap maklum.
Ga suka sama FF dan Pairing ya, lebih baik langsung OUT! deh.
Preview chapter 1
"Tao-ie….Kuserahkan anak ku pada mu."
"Aa-apa maksud mu ge ?."
"Arghh….sakiitt ! Ku mohon Tao, rawat anak ku..Anggap dia adalah anak mu."
"Gege…Hiks..Apa yang kau katakan…hiks….dia anak mu ge."
"Berikan nama Luhan dan Sehun, dan katakan pada Chennie aku…sangat….mencintainya…"
Chapter 2
~Be Mother for My Son~
.
.
Happy Reading ^^
.
.
"Hei...Tiff, lihat mereka terlihat bahagia sekalinya." Tanya yeoja berambut pendek yang sedang duduk manis di halaman depan rumah temannya yang sangat luas.
"Kau benar sunny, walaupun mereka berdua namja tapi mereka membuat ku iri." Kali ini yeoja bersurai panjang membalas sambil meminum tehnya dengan anggun, matanya tidak lepas dari objek yang berada didepan sebrang rumahnya
"Bagaimana kalau kau menyapanya tiffany."
"Ah...tapi aku takut menggangu mereka."
"Ayolah...mereka kan tetangga mu, kalian sudah akrab juga kan."
Sebenarnya apa yang mereka lihat, disebrang rumah Tiffany hanya terlihat rumah besar yang mewah yang sama dengan miliknya, mobil mewah yang terparkir digarasi dan sepasang namja sedang menggendong bayi yang usianya sekitar 3tahun sambil tertawa bersama dihalaman rumahnya. Tunggu ? Namja ? Iya...dia adalah Huang ZiTao atau sekarang sudah berubah menjadi Kim ZiTao karena harus mengikuti nama marga suaminya Kim Jongdae atau biasa dipanggil Chen ini. Lalu sepasang bayi kembar munggil yang bernama Kim Luhan sang kakak dan Kim Sehun sang adik.
"TAOOOOOO." Teriak Tiffany dengan lantangnya kearah sebrang rumah, namja yang bernama Tao menoleh kekanan dan kekiri, mencari siapa yang memanggil dirinya dan tepat lurus kearah depan rumahnya dia melihat Tiffany yang sedang melambaikan tangannya.
"NOONAAAA..." Balasnya dengan senyuman cerah. Tiffany yang dibalas antusias oleh Tao hanya dapat tertawa, tetangganya itu memang menjadi tempat favorite bagi dirinya dan temannya Sunny untuk melihat sebuah cerminan keluarga bahagia.
"Tao ini sudah sore, ayo kita masuk." Kali namja tampan yang berada disamping Tao beranjak bangun sambil menggendong seorang anak balita berwajah manis.
"Ne...Chen hyung, Sehun juga sepertinya haus."
Sebelum mereka berempat beranjak pergi, Tao berpamit pada Tiffany dengan memberikan sebuah kode, kalau dia harus masuk kedalam rumah dan Tiffany pun mengganguk, kini Tao dan Chen masuk kedalam rumah. Rumah yang dua tahun lalu yang seharusnya adalah rumah suaminya dengan sang kakaknya Xiumin. Mungkin semua orang akan menggangap mereka berdua adalah keluarga yang harmonis dan bahagia sama dengan pikiran Tiffany, itu memang benar. Namun, semenjak 2bulan lalu rumah ini seperti neraka bagi Tao. Kenapa ? karena Tao mulai mencintai sang suami yang sesungguhnya adalah suami dari Ayah bayinya dan mendiang suami dari Hyungnya. Semenjak kematian Xiumin, Chen menjadi pemurung tidak mau bicara dengan siapa pun termasuk dengan keluarga mereka sendiri, bahkan sekedar menggendong bayinya yang tergolong masih bayi. Chen tidak mau.
_Flasback 3 tahun lalu_
"Hiks...Xiu, kenapa kau meninggalkan ku. Kau jahat baby."
Hari ini adalah pemakaman Xiumin, kakak dari ZiTao. Dua hari lalu Xiumin meninggal karena melahirkan bayi kembarnya, disinilah mereka semua teman-teman Xiumin, kerabat dan keluarga Chen sedang berkabung. Chen sendiri semenjak kembali ke Korea dan harus menerima kenyataan pahit bahwa Istrinya sudah meninggal hanya bisa menangisi peti mati yang didalamnya terdapat tubuh Xiumin yang sudah tidak bernyawa. Chen sangat terpukul dan sangat berat harus melepaskan Xiumin, dunianya serasa runtuh. Baginya tidak ada artinya dia hidup tanpa Xiuminnya.
PUK...sebuah tepukan dibahu kanan Chen ia rasakan. Tapi ia tidak mau menoleh. Chen tahu siapa yang menepuk pundaknya. Sedangkan sosok namja yang merasa tidak digubris hanya menatap miris. Ia miris bukan karena Chen mengacuhkan dirinya. Tapi, ia miris pada hidupnya. Sambil memandang sosok namja yang berada di peti Tao tersenyum, tersenyum sangat sakit kenapa kakak yang sangat ia sayangi dan keluarga satu-satunya yang tersisa didunia ini harus mati meninggalkan dirinya.
Tes..Tes...Tes...merasakan sebuah tetesan air dipundaknya, Chen yang awalnya menunduk menjadi menoleh kearah belakang. Chen melihat Tao menundukkan kepalannya dalam-dalam, menangis dalam diam hanya itu yang Tao bisa lakukan.
GREAB...direngkuhnya tubuh Tao dengan erat oleh Chen. Mereka berdua sama-sama kehilangan sesuatu yang sangat berharga, saling mendekap satu sama lain. Menandakan betapa mereka saat ini sangat rapuh.
.
.
~Be Mother for My Son~
.
.
"Cup...cup...Luhan manis jangan menangis ne, nanti dady mu marah. Ahh...sstt cup..cup Sehun kenapa jadi ikutan menangis."
Saat ini Tao sedang mengurus Luhan dan Sehun yang selama 1tahun ini sudah ia jalankan, tiap hari Tao benar-benar sibuk. Dari pagi ia harus membuat sarapan, membereskan rumah, memandikan si kembar sampai meniduri si kembar. Tao yang sedang kerepotan menjadi sedikit agak kesal. Karena si kembar tidak juga mau berhenti menangis.
TAP
TAP
TAP
Dari arah tangga terlihat yeoja yang usianya sekitar 45tahunan tapi wajahnya masih terlihat seperti berusia 20an, yeoja itu turun dan berjalan kearah Tao.
"Tao...mau umma bantu eum ?."
"Jessica umma~."
Tao yang melihat yeoja yang sebenarnya ibu dari Chen langsung menatap berbinar-binar. Sosok umma-nya ini seperti malaikat selalu datang disaat yang tepat. Dengan anggukan Tao memberitahukan bahwa ia sekarang sangat butuh bantuannya. Well...walaupun tiap hari Tao sibuk, setidaknya ada orang yang mau membantu mengurus si kembar.
Dengan senyum senang Jessica menggendong Luhan yang sedang menangis dan 10menit kemudian Luhan pasti akan diam. Tao heran kenapa umma mertua dari Xiumin yang juga ummanya sendiri selalu bisa membuat bayi diam. Tao yang menyadari Sehun juga diam menjadi senang. Ah...Sehun ini selalu mengikuti sang hyung, jika hyungnya menangis dia akan menangis jika hyungnya diam dia akan diam. Benar-benar ikatan batin yang sangat kuat.
CEKLEEK...Tao yang mendengar suara pintu terbuka langsung menatap sosok namja yang sudah rapi dengan stelan kerja kantornya, dengan cepat Tao mengambil Luhan dari gendongan Jessica. Sehingga sekarang Tao menggendong Luhan di sisi kanan dan Sehun disisi kiri.
"Aku berangkat." Mendengar ucapan dari namja yang keluar dari kamar utama, Tao langsung buru-buru menghampiri namja itu.
"Yak! Tunggu gegeee!." Dengan suara yang agak meninggi Tao memanggil namja yang berada didepannya, berharap namja itu berhenti melangkah.
"Apa kau tidak mau pamitan kepada Luhan dan Sehun dulu sebelum berangkat ke kantor ?." Mendengar perkataan Tao, namja yang dari tadi terus saja melangkah kan kakinya untuk pergi ke garasi rumahnya langsung menghentikan langkah kakinya. Tao yang melihat namja itu berhenti langsung tersenyum.
"Nah...ayo ucapkan selamat bekerja pada daaaady~." Ucap Tao memerintahkan kepada bayi-bayi munggilnya dengan suara yang dibuat lucu seperti bayi. Sedangkan, Luhan dan Sehun yang memang belum mengerti apa-apa hanya dapat tersenyum kearah Chen sesekali mengeluarkan decitan khas bayi yang sangat menggemaskan. Chen yang melihat hanya menatap datar Tao dan kedua anaknya. Semenjak pemakaman Xiumin, Chen yang depresi dan menutup dirinya menjadi tidak ada ekspressi. Dia seperti namja dingin dengan sorot mata yang kosong.
PUK..PUK...Hanya tepukan ringan dikepala bayi-bayi mungil itu Chen berikan. Setalah itu Chen langsung menuju garasinya dan pergi tanpa berkata apapun baik pada Luhan atau Sehun dan juga Tao. Tao yang melihat hyungnya itu menatap sedih, kenapa suami kakaknya sekarang seperti Zombie.
"Hehehe...jangan sedih nee, daady kalian pasti malu." Ucap Tao pada si kembar dengan wajah yang dibuat tertawa. Tao sangat sayang pada si kembar. Dia sudah berjanji pada sang kakak untuk merawat Luhan dan Sehun dengan penuh kasih. Tao membawa si kembar masuk kembali, meletakkan si kembar di box bayinya sambil bermain dengan tangan mungil si kembar, Jessica yang melihat langsung ikut menemani bermain si kembar.
"Dia bersikap dingin lagi eum ?." Tanya Jessica yang melihat wajah Tao memurung.
"Jessica umma, kalau Chen sperti ini terus. Tao khawatir si kembar tidak akan mendapatkan kasih sayang seorang ayah."
"Kau benar, lalu kenapa kau tidak merubah Chen kembali Tao."
"MWOO!." Tao kaget saat mendengarkan perkataan ummanya. Jessica yang melihat reaksi Tao menjadi tertawa renyah, Tao sangat lucu sama dengan mendiang menantunya Xiumin.
" Menikahlah dengan anak ku Tao."
Blush...kedua pipi Tao kini memerah, kenapa mertua kakaknya itu frontal sekali mengatakan hal semacam ini. Menikah ? ayolah Tao sudah memiliki namjachingu yang bernama Kai, mau dikemanakan namjachingunya itu.
"Dengan kau menjadi istrinya, kau lebih mudah mengembalikan Chen yang dulunya ceria dan hangat, itu bagus untuk Luhan dan Sehun kan."
"Emm..tapi Tao...emm-"
"Kau tidak mencintainya kan ? kalau begitu belajarlah mencintai Chen. Dan kalau memang tidak bisa, umma mohon...lakukanlah ini demi Luhan dan Sehun. Apa kau mau melihat mereka nanti sekolah tidak ada sosok orang tua utuh."
Tao yang mendengar penjelasan Jessica yang panjang hanya dapat terdiam dan termurung. Menatap kedua mata si kembar yang sesekali diwajah si kembar tertawa dan tersenyum, membuat Tao menjadi ikut tersenyum. Benar yang dikatakan Jessica, jika si kembar sudah tumbuh dan masuk ke sekolah kanak-kanak, walaupun Tao berjanji akan merawat si kembar. Tapi, Tao bukanlah siapa-siapa disini, ia hanya paman dari si kembar, tidak mempunyai ibu dan ayah yang cuek pada anaknya. Itu sungguh malang bagi Luhan dan Sehun, Tao tidak mau si kembar mengalami kesedihan karena merasa hidupnya tidak sempurna.
"Mianhae umma...Tao tidak bisa." Tunduk Tao saat mengatakan penolakan permintaan Jessica. Jessica yang berada disamping Tao hanya menghela nafas kecewa. Namun, sedikit kemudian Jessica tersenyum kembali dan mengusap surai lembut Tao.
"It's okey Tao."
Jessica memang tidak bisa memaksa Tao, untuk menjadi ibu bagi cucu-cucunya. Tao mempunyai kehidupan dan masa depan yang ia inginkan sendiri.
.
.
~Be Mother for My Son~
.
.
_Kim Corp_
Perusahaan besar yang bergerak dibidang produksi makanan ringan yang cukup besar dikorea ini, disinilah Chen bekerja. Menyibukkan diri semenjak kematian Xiumin. Dengan cara ini Chen bisa melupakan Xiumin. Perusahaan yang sebanarnya tidak ingin Chen urus, tapi Chen yang keras kepala meminta pada sang appa yang sekarang berada diluar negri untuk bertukar poisi pekerjaan dengan dirinya.
"Direktur...boleh saya masuk." Chen yang mendengar suara dari balik pintu ruang kerjanya langsung menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengetikkan sesuatu dilaptop miliknya, menggeser sedikit laptopnya ke sisi meja kerjanya.
"Masuklah."
Dari balik pintu yang terbuka, Chen melihat sesosok wanita berambut panjang terurai, wajah cantik, manis dengan tinggi yang semampai itu dan jangan lupakan pakaian yang ia kenakan, membuat lekuk tubuhnya terlihat sangat jelas masuk kedalam ruangan kerja Chen.
"Ini dokumen yang harus anda tanda tangani " Wanita itu meletakkan seberkas map berwarna blue di meja Chen, dengan wajah datarnya Chen membaca isi dari map itu dan mendatangani map tersebut.
"Ada lagi ?."
"Ahh...Tidak direktur." Wanita yang sedang berdiri dihadapan Chen langsung tersentak saat mendengar perkataan Chen. Tidak mau berlama-lama didalam ruangan atasannya, wanita itu langsung mengambil kembali map dari meja Chen, membungkukkan badannya 90 derajat dan berbalik untuk keluar ruangan.
"Seohyun-ah..." Mendengar namanya dipanggil, wanita yang bernama Seohyun langsung menghentikan langkah kakinya dan menghadap kembali ke direkturnya, memasang mimik wajah terbaiknya
"Iya direktur, ada yang bisa saya bantu."
"Kopi."
Seohyun yang mendengar perkataan Chen langsung mengganguk, segera ia membuka pintu ruangan kerja atasannya dan menutup kembali. Sesampainya ia dimeja kerjanya yang memang terletak di samping depan pintu Chen, Seohyun meletakkan dokumen tadi.
"Haaaa...aku tidak suka dengannya." Eluh Seohyun pada sosok namja didepannya yang sedang bersandar dimeja kerja Seohyun.
"Itu sudah tugas mu sebagai seketaris kan."
"Aku tahu, tapi tidak perlu pelit berkata juga kan." Namja yang menjadi tempat curhatan Seohyun hanya dapat tertawa renyah. Seohyun yang melihat namja didepannya hanya mendengus kesal. Diraihnya telpon di sisi meja kerjanya dan menekan dial number yang menuju pentry perusahaan tersebut. 10menit sudah dan seorang office boy datang dengan membawa nampan berisi secangkir kopi menuju meja Seohyun.
"Sejak kapan kau minum kopi Seohyun ?." Tanya namja yang masih bersandar di meja Seohyun.
"Ini bukan untuk ku, ini untuk direktur."
"Jangan cemberut gitu, kita semua tahu apa penyebab direktur bersikap seperti ini kan."
"Iya...dan sesungguhnya aku sangat khawatir, kau tahu aku sering melihat direktur membuang nafas berat. Bukankah itu berarti dia membuang kebahagiaan."
Namja yang merupakan teman kerja Seohyun hanya dapat tersenyum saat mendengar ucapan Seohyun, di usapnya surai rambut Seohyun dengan lembut.
"Yak! Yonghwa...kau membuat rambut ku berantakan."
"Hahahah...mianhae, sudah sana cepat masuk berikan pada direktur."
Seohyun pun langsung mengganguk dan masuk kedalam ruangan kerja Chen, Seohyun lagi-lagi melihat direkturnya menghela nafas berat. Sebagai karyawan sekaligus seketaris Chen, Seohyun ingin sekali mengebrak meja direkturnya dan mengucapkan 'Yak! Direktur tidak bisakah kau senyum sedikit.'Begitulah isi hatinya. Tapi, ia masih ingin bekerja disini dan menemani kekasihnya Yonghwa.
_Taman_
Tempat dimana terdapat udara sejuk dan tempat melepaskan kepenatan. Mata akan dimanjakan oleh berbagai macam pohon dan tanaman tubuh harmonis disini. Beraneka warna mulai dari hijau dari pohon cemara dan pohon besar yang rindang, coklat dari warna daun mapple yang sudah mulai berubah dan merah, kuning, pink dan warna cerah lainnya dari bunga-bunga yang bermekaran.
"Heem...dimana kita akan duduknya." Gumam namja bermata panda sambil mendorong dua kereta bayi menulusuri tapak demi tapak jalan ditaman ini. wajah cerah dan senyum tidak pernah lepas dari wajah Tao, begitu juga dengan si kembar, mereka terlihat sesekali berdecit tawa karena melihat kupu-kupu yang berterbangan atau melihat balon-balon yang warna-warni di sisi jalan.
"Aaah...kita duduk disana saja, okey." Ucap Tao saat melihat rumput terhampar luas dan terdapat pohon yang begitu besar namun terlihat rindang untuk mereka duduki dibawahnya. Setelah sampai, Tao menggelar sebuah karpet lumayan besar berbahan halus dan mengeluarkan si kembar Sehun dan Luhan dari kereta bayinya, dan mentengkurepkan mereka berdua dikarpet dan Tao hanya tertawa melihat kelakuan si kembar yang langsung senang sambil merangkak seperti mengejar sebuah bola yang Tao bawa dari rumah.
Dari kejauhan terlihat namja berkulit tan dengan rambut blondenya berjalan kearah Tao dengan santainya. Memperhatikan sosok Tao dari jauh.
"Aku sudah bilang jangan bawa mereka kan." Ucap namja tampan yang kini sudah berdiri didepan Tao. Tao yang mendengar hanya dapat terkekeh dan menggaruk tengku belakangnya yang tidak gatal. Memang benar, sore ini Tao janjian dengan namjachingunya untuk bertemu dan berkencan. Berkencan berarti hanya berdua kan. Tapi, Tao yang memang sangat sayang pada si kembar tidak tega meninggalkannya dirumah terlalu lama dengan sang umma.
"Jangan marah kai, kau tau kan ak-."
"Sangat menyayangi si kembar, begitu sayangnya sampai-sampai kau selalu mengacuhkan ku." Kai namjachingu dari Tao langsung memotong perkataan Tao tadi yang belum sempat ia selesaikan. Kai sangat hafal apa yang akan Tao katakan. Sedangkan, Tao dia hanya bisa diam. Memang benar, selama ini Tao sering membatalkan janji dengan Kai, bahkan semenjak mengurus si kembar Tao jarang telfonan seperti kekasih pada umumnya.
"Momy ingin kita segera menikah Tao."
"Aaa-aapa ? Me-menikah ?."
"Hem..kenapa ? tidak mau ?."
'Tentu saja mau, tapi si kembar bagaimana ?.' Batin Tao dalam hati menjawab pertanyaan Kai. Tao sekarang bingung, apa yang harus Tao katakan. Jika ia bilang mau sesuai batinnya otomatis si kembar tidak akan ikut bersamanya, Tao bukanlah ibunya. Percuma saja jika ia ke pengadilan atau merelakan si kembar dirawat oleh Chen. Namja yang sepertinya tidak menginginkan si kembar. Ayolah mau jadi apa nanti si kembar besar nanti dan yang lebih buruk jika Tao menikah, umma Chen akan membawa si kembar keluar negri dan Tao tidak akan bertemu dengan sikembar selamanya. Andweee! Frustasi Tao didalam pikirannya.
"Huaaaaaaaa...Huaaaa Hiks...Hiks."
Mendengar suara tangisan yang sangat keras, Tao langsung tersadar dari lamunannya. Betapa terkejutnya Tao. Melihat Luhan dan Sehun tidak ada disisinya. Panik! Itu yang Tao rasakan saat ini.
"Sehun...Yak! SEHUUUUN...LUUHAAAANN"
Cemas, khawatir, takut dan panik Tao rasakan sekarang jadi satu. Kemana Sehun dan Luhan berada sekarang, Tao hanya bisa mendengar suara tangisan si kembar. Tapi, sosok mereka tidak terlihat, kedua mata Tao langsung mencari kekanan dan kekiri begitu juga dengan Kai. Berbeda dengan Tao, Kai tidak panik ia malah bersikap biasa saja. Toh...si kembar bukan anaknya, untuk apa ia panik.
"Hiks...Huweeeeee..." Terdengar lagi, namun Tao yang mendengarnya merasa tidak jauh dari tempat dia berdiri. Diliriknya sisi kiri dimana tanaman bunga matahari yang tubuh lebat dan tinggi itu tumbuh.
'Mungkin kah ?.' Lirih Tao. Karena, tanaman matahari yang tingginya hampir sama seperti tinggi Tao. Dibukanya tanaman matahari itu seperti tirai dan Tao dapat tertunduk lemas.
"Kalian..." direngkuhnya kedua tubuh mungil sikembar kedalam dekapan Tao. Ternyata saat Tao sedang bicara dengan Kai. Si kembar merangkak masuk ke dalam tanaman bunga matahari karena melihat sebuah belalang yang meloncat masuk kedalamnya. Tentu saja Tao tidak bisa melihat si kembar, bunga matahari dan si kembar lebih tinggi bunganya.
"Kalian membuat momy khawatir." Refleks Tao menyebut dirinya momy, tanpa ingat bahwa Kai mendengar perkataan Tao.
"Momy ? Jadi, kau sekarang ibu mereka eum ? Kenapa aku tidak tahu ? Kapan kau menikah dengan namja Kim itu ?. " bertubi-tubi Kai bertanya atau bisa dibilang ini bukan pertanyaan melainkan sebuah introgasi Kai pada sang kekasih.
"Bukan begitu Kai, kau salah paham. Tadi itu aku refleks." Bela Tao pada Kai yang saat ini sedang menggendong sikembar kanan dan kiri, dimana sikembar memeluk leher Tao bersamaan.
"Semenjak kau mengurus bayi itu, kau sudah berubah Tao. Cinta mu sekarang hanya berpusat pada kedua anak sialan ini!." Teriak Kai didepan Tao, tanpa peduli tatapan dari pengunjung taman yang lain.
"MWOOOO...Jangan berkata seperti itu !." Marah Tao, karena Kai berkata kasar pada si kembar dengan menyebutnya 'anak sialan' itu sama saja menyebut kakaknya Xiumin 'sialan' juga.
"Benarkan! Sekarang begini saja...kau pilih aku atau kedua anak ini."
What ? pertanyaan macam apa itu. Tao yang mendengar hanya dapat tershock. Kai yang selama ini ia Cintai bertutur halus menjadi egois seperti ini.
"Aaa-akuu." Tao tidak tahu harus menjawab apa, dia benar-benar bingung. Satu sisi Tao sudah berjanji pada Hyungnya dan menganggap sikembar seperti anaknya. Namun, disisi lain Kai adalah cintanya.
"Kalau kau memilih aku, kita akan menikah bulan depan." Hening...selama beberapa menit keadaan disekitar mereka berdua menjadi hening, yang ada hanya suara si kembar yang entah apa yang mereka katakan. Si kembar mengelus pipi Tao dan tertawa layaknya bayi yang sangat ceria. Sejenak Tao menatap mereka berdua.
"Maaf...Sepertinya aku tidak akan datang dihari pernikahan kita yang kau janjikan itu Kai."
"Jadi ini jawaban mu Tao. Hahahaha...Cinta mu sudah tidak ada lagi kan! Dasar brengsek!."
Setelah Kai mengucapkan perkataan kasar itu, Kai langsung meninggalkan Tao yang masih menggendong si kembar. Jatoh tertunduk dengan masih mengeratkan pelukannya pada sikembar. Perlahan Tao menurunkan sikembar dirumput.
"Hiks...Kau salah Kai. Bahkan cinta ini terus menerus hiks...ada dan akan selalu ada." Menangis itulah yang Tao lakukan. Tao memilih merawat sikembar, dia benar-benar tidak bisa meninggalkan sikembar. Sehun dan Luhan yang melihat Tao menangis, entah mereka mengerti atau tidak. Mereka berdua langsung merangkak naik kepangkuan Tao dan mengucapkan kata yang membuat Tao terkejut.
"MaaaaaMaaa...Maaa...hiks" ucap Sehun dan Luhan bersamaan dengan isak tangis yang ingin keluar juga. Tao yang mendengar langsung berhenti menangis dan dengan masih sesegukan akibat menangis Tao menatap sikembar.
"Kalian memanggil ku apa ? Coba ulangi." Tanya Tao sekali lagi pada sikembar yang direspon hanya dengan kedipan mata imut dan bingung.
"MaaMaaaaa..." lagi dan lagi sikembar berulang kali mengucapkan kata itu terus menerus. Dan, Tao menangis. Kali ini bukan tangisan karena Kai. Tapi, tangisan karena sikembar memanggilnya 'Mama' entah kenapa hati Tao menghangat dan gembira.
.
.
~Be Mother for My Son~
.
.
"Karena kalian sudah menikah, umma akan ikut pulang bersama appa mu Chen." Ucap Jessica pada Chen.
"Tao tidak apa-apa kan kami tinggal ?." kali ini ayah dari Chen yang angkat suara.
"Kalau Tao kerepotan, panggil saja bibi Choi yang sudah umma siapkan untuk membantu kalian mengurus dan merawat Sehun dan Luhan."
Tao yang mendengarkan hanya dapat mengganguk. Sedangkan Chen hanya diam dengan wajah datarnya. Kini setelah pernikahan yang berlangsung pagi tadi, Chen, Tao, Jessica beserta Minho suami dari Jessica sekaligus ayah dari Chen yang sekarang sudah menjabat sebagai ayah mertua Tao sedang berkumpul sebelum besok pagi mereka akan berangkat kembali ke Amerika.
"Kalian istrirahatlah...biar Sehun dan Luhan tidur bersama kami. Benarkan sayang." Jessica yang mendengar penuturan Minho hanya tersenyum sambil menggelus rambut cucu-nya yang sangat cantik. Sedangkan minho sedang menggangkat tinggi-tinggi Sehun untuk diajak main.
Chen yang tidak peduli akan ucapan orang tuanya langsung beranjak pergi dan masuk kedalam kamar, dimana kamarnya sekarang adalah kamar untuk dirinya dan juga Tao. Sedangkan Tao langsung menyusul Chen kekamar.
_Dalam Kamar_
Dengan malu-malu Tao duduk di sisi ranjang. Dimana Chen sedang bersandar di kepala ranjang sambil membaca buku bisnisnya. Wajah Tao kini memerah, mengingat malam ini adalah malam pertama Tao dengan Chen. Dan, sekarang suami yang juga merupakan mantan suami sang Hyung telah sah menjadi suaminya juga.
"Heem...Hyung mal-."
"Tidurlah."
Belum sempat Tao menyelesaikan ucapannya, Chen sudah menyuruh Tao untuk tidur tanpa menatap Tao. 'Ah...baiklah, sekarang lebih baik aku menuruti perkataan Chen hyung.' Batin Tao, dengan menarik selimut perlahan. Tao menutup seluruh badannya sampai leher dengan selimut dan memejamkan mata. Berbeda dengan Tao. Chen yang melihat Tao langsung menatap Tao yang sedang tertidur.
"Dia sudah tidur." Merasa Tao sudah tidur, Chen meletakkan buku bacaannya dan menatap keatas dinding sisi atas ranjangnya. Terlihat sebuah bingkai foto yang super besar dimana Xiumin dan Chen menikah dulu. Kenapa bukan foto pernikahan Chen dan Tao. Itu karena, Chen tidak mau hal yang berada dirumah ini yang berhubungan dengan dirinya dan Xiumin diganti. Dan, Tao pun setuju. Tao tidak pernah mempermasalahkan hal itu pada Chen selama ini.
"Xiu baby...Saranghae." lirih sangat lirih Chen mengucapkannya, betapa rindunya ia dengan sosok namja berpipi chubby yang sekarang sedang ia pandangi, walaupun hanya sebuah foto. Tapi, Chen melihat sosok Xiumin seperti nyata. Tersenyum pada dirinya yang sedang menatapnya.
Bulan demi bulan Tao jalani sebagai istri Chen, sesuai dengan anjuran ummanya. Tao memanggil bibi Choi untuk mengurus rumah agar tetap bersih. Sedangkan, merawat bayi dan memasak adalah bagiannya. Kini, genap 1tahun kebersamaan Tao dan Chen sebagai suami istri dan sekarang sikembar akan berusia 2tahun. Tapi, sampai sekarang Chen tidak pernah menyentuhnya sama sekali, memanggil Tao dengan sebutan layaknya seorang istri saja tidak. Dulu waktu menikah dengan Xiumin, Chen memanggilnya 'baby' lalu kenapa dengan Tao tidak.
"Aku tidak mau!."
"Ayolah...Hyung, apa kau tidak mau melihat Sehun dan Luhan berenang mengapung dengan ban lucu mereka."
Sekarang Tao sedang membujuk Chen untuk melihat Sehun dan Luhan yang sedang bersama pelatih yang akan membuat motorik perkembangan sikembar makin aktif. Namun, Chen slalu menolak tidak mau melihat. Bahkan, saat sikembar sedang bercanda dengan dirinya Chen tidak mau melirik dan memilih membaca dikamar.
"Mau sampai kapan kau begini hyung...kau pikir hanya kau yang terpuruk hah!."
"..."
"Kita menikah. Berharap, Sehun dan Luhan memiliki keluarga sempurna."
"..."
"Aku tahu kau sangat mencintai mendiang hyung ku. Tidak bisakah kita bersikap seperti dulu hyung. Setidaknya lakukan ini demi sikembar."
Runtuh sudah pertahanan Tao selama ini, sudah setahun Tao mencoba agar Chen kembali seperti dulu. Tao tidak masalah jika Chen tidak melihat dirinya atau memperlakukan layaknya istri dengan baik. Tapi, setidaknya Tao ingin melihat Chen sekali saja melihat dan menggendong sikembar. Tao tahu Chen tidak mencintai dirinya begitu juga dengan Tao. Tapi, setidaknya Tao tetap bersikap bagaimana layaknya seorang ibu untuk sikembar.
.
.
~Be Mother for My Son~
.
.
"Hahaha...Luhan ayoo berikan bolanya."
"Nanana enya mayuuu...MaaMaaaa."
Tao yang melihat ocehan Luhan hanya dapat tertawa. Sekarang Luhan dan Sehun sudah agak mengerti perkataan Tao, dan mengucapkan beberapa kalimat. Chen yang sedang duduk disofa sambil menonton TV. Sesekali melirik kearah Tao dan Sehun yang berebutan bola dengan Luhan. kaki-kaki mungil itu berjalan atau bisa kita bilang berlari dengan tertatih-tatih ala anak kecil sangat lucu. Ditambah dengan gigi depannya yang baru numbuh dua menambah kesan imut super duper pada sikembar.
TUK...tanpa sengaja Sehun yang berhasil merebut bola dari Luhan, menjatuhkan bolannya dan bola itu menggelinding kearah kaki Chen. Sehun dan Luhan yang melihat langsung berlari seperti sedang lomba lari sambil tertatih itu. Karena, terlalu cepat membuat Luhan dan Sehun bersenggolan yang sedikit oleng ingin jatuh. Tapi, dengan refleks Chen. Iya...Chen langsung memegang pergelangan tangan Luhan dan pinggang Sehun untuk menahan keduanya agar tetap berdiri.
"PaaaPaaah..." Ucap sikembar sambil menatap Chen barengan dengan menampilkan gigi kelinci mereka. Dheg...Seketika Chen yang melihat langsung mematung. Senyuman sikembar sangat mirip dengan 'Xiumin'. Tao yang melihat Chen mematung langsung berjongkok dan menggendong sikembar.
"Senyumannya mirip dengan Xiumin hyung kan."
"..."
"Jika kau ingin membuat Sehun dan Luhan tersenyum. Itu berarti kau akan melihat Xiumin hyung tersenyum juga." Ucap Tao yang kini sedang memangku sikembar dan mengajak bermain mereka lagi. Chen ? hanya dapat terdiam dan saat melihat Tao sedang melakukan aegyo pada sikembar membuat Chen entah kenapa tidak bisa berhenti menatap Tao.
_Flasback END_
Sekarang inilah Chen, saat ulang tahun ketiga sikembar 6bulan lalu. Chen yang sudah mulai terbuka pada Tao dan menerima sikembar walaupun belum sepenuhnya banyak bicara. Memutuskan membeli rumah baru, membuka awal yang baru juga untuk sikembar. Dirumah baru ini, sudah banyak terpasang foto Sehun dan Luhan dan jangan lupakan foto berukuran besar yang berada diruang tamu. Dimana Tao sedang menggendong Luhan dan Chen sedang menggendong Sehun. Terlihat keluarga yang sangat bahagia bukan. Tapi, itu hanya diluar saja...konflik sebenarnya akan kita lihat, pada saat Sikembar beranjak dewasa. Ketika Sehun dan Luhan masuk sekolah taman kanak-kanak. Dan, apakah Chen akan menyadari bahwa Tao sekarang menyukai dirinya. Begitu juga sebaliknya.
Dan, apa rencana sikembar besar nanti yang mengetahui kebenaran bahwa Ibu dan Ayahnya menikah tanpa cinta, berhasilkah sikembar membuat Chen untuk mencintai Tao dengan bantuan 'roh' mendiang ibu kandung mereka.
TBC
Gimana sama chapter dua ini. maaf ya khususnya Eonni Ajib4ff dan reader sekalian...
baru bikin lanjutannya, Mianhaeee ToT
Kemarin-kemarin ga ada Ide gimana mau lanjutin ini FF.
Semoga chapter ini memuaskan dan maaf untuk keterlambatannya. *bow*
Thanks For Review chap 1 ;
Shimmax, ohristi95, ajib4ff, shinminkyuu, putchanC,
Hye Rin Shin, , hika-chan, Yunberryyunochan, Zitao99,
Mrs Kim Sifujoshi, Nurull , Riyoung Kim, MPREG Lovers, ByunnaPark,
Hunnie13, , , Ratriw, AnakBaek-Hyun,
, Krisseo
See You Next Story
-Kimmie-
