Terima kasih sudah menunggu chapter tiga ini *BOW* Banyak-banyak terima kasih juga untuk yang sudah me-review. *BOW*

So guys, this is the chapter 3~!

Chapter 3

"Hiruma-san, kamu bisa ikut aku sebentar?" ajaknya dan mereka meninggalkan Sena dan Mamori disana.

Mamori terdiam dan hanya bisa memandang kepergian Hiruma, yang tampak dengan santainya meninggalkan Mamori dan mengikuti wanita itu. Dengan tangan wanita itu yang terus menggandeng lengan Hiruma sampai mereka tiba di tempat yang dimaksudnya dan masih belum juga dilepaskannya. Tiba-tiba muncul banyak pertanyaan yang menggantung di kepala Mamori.

Siapa wanitu itu? pikirnya sambil terus memperhatikan mereka. Mamori lalu beralih ke Sena, "Tadi kamu mau bilang apa Sena?" tanya Mamori sambil tersenyum.

Sena tersadar dan melihat ke Mamori lagi, "Ah, bukan apa-apa." jawabnya. Sena lalu menengok ke belakang saat mendengar Suzuna memanggil dan jalan menghampirinya.

"Sena, senpai ingin berbicara denganmu." ujar Suzuna, menunjuk orang yang tadi bicara dengannya.

"Aku tinggal dulu Mamo-nee." kata Sena kepada Mamori.

Suzuna lalu memutari meja untuk berdiri di sebelah Mamori. "Ayo Mamo-nee, kita duduk di sana." ajak Suzuna, menunjuk bangku yang berada di pojok ruangan. Ruangan pesta ini makin lama makin ramai sehingga Mamori harus mencari celah untuk melihat dimana bangku itu.

Mamori lalu mengikuti Suzuna dan meletakkan piring kertas bekas kuenya tadi ke atas nampan pelayan yang lewat di sampingnya. Mamori menyapa dan berhenti sebentar ketika ada kenalan di SMA yang memanggilnya, setelah itu melanjutkan jalannya lagi ke tempat Suzuna, yang sudah lebih dulu duduk di sofa.

"Aaah, karena hamil, akhir-akhir ini aku jadi mudah letih." ujar Suzuna sambil mengelus perutnya.

Mamori tersenyum. Ya, tersenyum pada kenyataan gadis kecilnya yang dulu polos, ceria dan kekanak-kanakan ini, sebentar lagi akan menjadi seorang Ibu. "Kamu pasti bahagia sekali Suzuna."

"Tentu saja Mamo-nee." Suzuna ikut tersenyum dan memandang perutnya. "Ngomong-ngomong, Mamo-nee, kapan kamu akan menyusul? Menikah maksudku."

Mamori melihat ke Suzuna kaget, "Ah, aku juga tidak tahu." jawab Mamori seadanya.

"Kenapa begitu? Ibu mertuaku bilang, kalau kamu suka diantar pulang seorang pemuda saat pulang ke rumah. Siapa dia Mamo-nee?"

Mamori berpikir sesaat lalu menjawab. "Pacarku."

Suzuna memandang kaget dan tidak percaya, "Ya ampun, siapa dia Mamo-nee? Kenapa kamu tidak pernah cerita padaku? Sejak kapan?"

Mamori memutar matanya ke atas sambil berpikir, "Sekitar tiga tahun mungkin?"

"Tiga tahun!? Bahkan selama itu kamu juga tidak pernah bilang padaku? Oh Tuhan Mamo-nee... Ah, aku rasa You-nii akan kecewa mendengar ini."

"Kenapa?"

"Aku tahu dia menyukaimu dari dulu, bukannya sudah sering kubilang?" Mamori tersenyum dan menggangguk sambil terus mendengarkan, "Ah, tapi baru-baru ini ada gosip You-nii dekat dengan wanita keponakan pemilik klubnya." tambah Suzuna lalu melihat ke arah Hiruma, "Wanita itu. Yang memakai gaun merah mawar. Kurita-san mengundangnya karena sering bertemu saat mereka ada pertandingan." jelas Suzuna. Kurita juga salah satu lineman di klub lain.

Mamori mendengarkan Suzuna sambil terus memandang Hiruma dan wanita itu ynng masih melingkarkan tangannya ke lengan Hiruma. Wajah Hiruma tampak santai dan datar seperti biasa saat mereka mengobrol dengan kenalan mereka disana, dan wanita itu terus tersenyum dan kadang tertawa sambil membicarakan sesuatu.

Jadi ada wanita seperti itu di sekitar Hiruma, pikir Mamori dalam hati, lalu mengambil minuman dari pelayan yang lewat.

.

.

Hiruma menyalami dua orang yang tadi mengobrol dengannya. Mereka meninggalkan dia berdua dengan Risa, keponakan dari pemilik klub tempatnya bergabung, wanita 'tidak waras' yang pernah dikenalnya.

Mereka terdiam selama beberapa saat dan hanya melihat-lihat tamu di sekitar.

"Jadi itu wanitamu? Yang sedang berbicara dengan Kobayakawa-san?"

Hiruma menoleh ke Risa, lalu mengikuti matanya yang sedang melihat Mamori.

"Dia cantik." puji Risa.

"Aku sudah pernah bilang."

"Dia terlalu cantik untukmu. Kelihatannya dia juga baik." tambahnya. "Kau tahu, dia bahkan terlalu baik. Mana ada wanita yang diam saja melihat kekasihnya digandeng wanita lain dan berjalan meninggalkannya. Aku kira dia akan menegurku atau memarahiku sehingga aku bisa berkenalan dengannya." jelasnya tidak tahan melihat bagaimana sikap Mamori tadi saat dia bertingkah dan berpura-pura merebut Hiruma. "Kamu yakin dia mencintaimu?"

"Tentu saja dia mencintaiku, bodoh." jawab Hiruma bangga, "Dia percaya padaku. Dia tahu aku tidak akan macam-macam, apalagi dengan wanita gila macam kamu."

Risa menatap tajam Hiruma, "Kenalkan aku padanya." katanya dengan nada memaksa.

"Oh ya? Tidak akan." jawab Hiruma langsung tanpa berpikir, "Aku sampai matipun tidak akan membiarkanmu mendekatinya. Jangan pernah berani mendekatinya, atau kau akan tahu rasa." ancam Hiruma sembari menoyor kepala wanita itu.

"Kau berani mengancamku?"

Hiruma tidak membalas lalu meninggalkan begitu saja Risa yang sedang kesal disana sendirian. Dia lalu menghampiri Mamori yang sedang mengobrol dengan Suzuna, dan dia duduk di sebelah Mamori.

Mamori menengok ke belakang, dan mendapati Hiruma duduk di sebelahnya.

"Oh, You-nii." sapa Suzuna, "Aku lihat kamu tadi sedang bersama dengan Risa-san. Kemana dia? Kenapa kamu meninggalkannya sendirian?" tanya Suzuna, sambil celingukan mencari Risa dan melihatnya sedang mengambil makanan sendirian.

"Kenapa aku harus bersamanya, heh?"

Suzuna berpikir sambil menatap Hiruma, "Aku dengar gosip tentang hubungan kalian, apa itu benar You-nii?"

"Gosip apa?" tanya Hiruma, dia memang tidak mengetahui apa-apa. "Maksudmu aku punya hubungan khusus dengan wanita gila itu? Yang benar saja, heh..."

"Jadi, itu memang cuma gosip?" tanya Suzuna lagi meyakinkan, "Oh ya You-nii. Aku baru tahu Mamo-nee punya pacar. Apa kamu sudah tahu?" tanyanya lagi, dia bertanya karena Hiruma memang selalu mengetahui apa saja dan berpikir siapa tahu Hiruma memang sudah mengetahuinya.

Hiruma menatap Mamori lama, seolah mencari jawaban dari mata Mamori, "Aku tahu." jawab Hiruma, masih tetap menatap Mamori, "Memang kenapa?" tanyanya lagi sambil beralih ke Suzuna.

"Aku baru dengar tentang itu dari Mamo-nee tadi. Kamu tahu siapa orangnya? Dia tidak mau memberitahuku."

Hiruma menatap Mamori lagi. Dia mengerti. Dia tahu alasan kenapa Mamori tidak mau memberitahunya. Kalau sekarang Hiruma juga mengatakannya, itu pasti akan jadi berita heboh, bahkan akan membuat heboh tamu-tamu yang kebanyakan mengenal mereka berdua. Berita itu sudah kadaluarsa sekarang, sudah tiga tahun lewat. Bagaimana caranya dia memberitahu Suzuna disini tanpa membuat kehebohan kalau dia dan Mamori sudah berpacaran selama hampir tiga tahun. Dan Hiruma juga berpikir dia tidak akan memberitahunya. Biar saja semua orang tahu dengan sendirinya tanpa harus ada kata-kata dari mereka.

Hiruma tidak habis pikir, Bagaimana mungkin sampai sekarang mereka bisa membuat orang-orang di sekitar mereka tidak ada yang curiga. Mereka bahkan juga tidak pernah menyembunyikannya. Mereka memang tidak selalu bersama jika berkumpul dengan yang lain di suatu tempat. Hiruma dengan urusannya, dan Mamori dengan teman-temannya. Tapi mereka selalu datang ke pernikahan teman-teman mereka berdua, reuni dan kumpul-kumpul juga selalu datang berdua. Dan tidak ada yang mengetahuinya sampai sekarang. Sampai kapan pun Hiruma juga tidak akan memberitahukan mereka. Baginya, dengan sengaja mengumumkan kalau mereka berpacaran sejak tiga tahun lalu, sangat norak dan hanya membuang waktu. Dan hanya akan membuat Mamori malu karena menjadi pusat perhatian.

"Tentu saja aku tahu, bodoh. Bagaimana tidak." jawab Hiruma, Dan Mamori tersenyum melihatnya. "Tapi apa kau kira mendapat informasi dariku itu gratis? Kau cari tahu saja sendiri."

Suzuna memandang tidak percaya, "Bagaimana kamu bisa berkata seperti itu dan membuat wanita hamil penasaran, You-nii." protes Suzuna.

"Aku tidak peduli."

"Youichi." tegur Mamori memukul paha Hiruma pelan.

Suzuna mengerjapkan matanya, "Oh, sejak kapan Mamo-nee, memanggil You-nii dengan Youichi?" tanya Suzuna lagi.

Mamori berpikir, lalu menjawab, "Aku lupa. Sudah lama sekali."

Suzuna mengangguk-angguk. Dia lalu melihat Sena melambaikan tangan memanggilnya, "Sena memanggilku, Mome-nee. Dia ada urusan lain malam ini." Suzuna bangun diikuti dengan Mamori dan mereka saling berpelukan, "Jangan lupa hubungi aku. Kapan-kapan kita bertemu lagi Mamo-nee. Sampai jumpa."

Beberapa saat Suzuna meninggalkannya, Mamori kembali duduk di sebelah Hiruma. Mereka sama-sama terdiam melihat tamu-tamu di sekitar mereka. Hiruma menyandar di sandaran sofa dan merentangkan tangannya sampai ke belakang Mamori. Mereka masih terdiam duduk disana, dengan Mamori sibuk dengan pikiran dan pertanyaan yang ingin dia tanyakan ke Hiruma.

"Siapa wanita itu?" tanya Mamori, dan merasa lega karena telah berhasil mengatakannya.

"Keponakan pemilik klubku. Kenapa, heh?"

"Dia sepertinya tertarik kepadamu." Hiruma tidak menjawab, jadi Mamori menambahkan lagi. "Dia cantik bukan?"

"Menurutku kamu lebih cantik." jawab Hiruma langsung.

Kali ini Mamori tidak menjawab dan membuang mukanya ke sisi yang lain agar Hiruma tidak bisa melihatnya. Hiruma memujinya. Hiruma tidak pernah memujinya secara langsung dan terang-terangan seperti ini.

"Apa teman-temanmu belum datang, heh?" tanya Hiruma menyadarkan Mamori.

Mamori menoleh menatap Hiruma lagi, "Ako sudah datang saat baru mulai tadi. Dan langsung pulang karena ada urusan. Kalau Sara tidak bisa datang karena sedang keluar negeri."

Hiruma lalu melihat jam tangannya yang ternyata sudah menunjukan jam tujuh malam. "Kalau begitu ayo pulang." ujarnya lalu berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu Mamori berdiri. "Aku mau ambil mobil dulu. Kamu pamit lah pada si gendut."

"Oke."

.

.

"Kenapa kita kesini?" tanya Mamori namun tidak mendapat jawaban dari Hiruma karena dia sudah langsung keluar mobil dan membukakan pintu untuk Mamori.

"Ayo turun." sahut Hiruma mengulurkan tangannya.

Mamori menyambut tangan Hiruma. Dan mereka masuk ke dalam lift untuk mencapai kamar apartemen Hiruma. Hiruma masih tidak melepaskan tangan Mamori sampai dia membuka pintu kamar dan masuk ke dalam. Hiruma menyalakan serambi depan dan lorong. Mamori berjalan lebih dulu menuju ruang tengah dan menyalakan lampunya.

"Astaga!" kaget Mamori melihat kamar Hiruma. Dengan baju yang tergeletak dimana-mana. Jaket, kaos kaki, dan celana jins-nya yang berserakan bercampur buku-buku, kotak cd, kardus bekas, dan barang-barang kecil lainnya. Mamori memang sudah jarang kesini sejak dia pindah ke Chiba setahun lalu, tapi dia tidak pernah menyangka kalau kamar Hiruma akan kacau balau seperti ini.

"Karena itu," sahut Hiruma yang sudah berdiri di belakang Mamori, "Besok kita bersih-bersih."

Mamori langsung menoleh ke belakang dan melototi Hiruma, "Mana ada istilah 'kita'. Yang ada, besok 'aku' yang akan bersih-bersih." keluh Mamori.

Hiruma tersenyum memamerkan deretan giginya, "Nah, itu tahu." jawab Hiruma, membuka Tuxedo lalu melemparnya ke sofa, membuat Mamori tambah melotot ke arahnya. "Aku mau mandi. Kamu mau ikut?"

Mamori memukul lengan belakang Hiruma dan berjalan ke serambi depan untuk membuka sepatu high heel hitam tujuh senti-nya dan mengganti dengan sandal rumah. Dia membuka jaket dan meletakkannya di sandaran kursi meja makan lalu menggulung lengan gaunnya sampai ke siku.

Mamori berjalan ke tempat mesin cuci di sebelah kamar mandi.

"Berubah pikiran, heh?" tanya Hiruma jahil dan langsung didorong masuk ke kamar mandi saat Mamori melewatinya.

"Mandi sana." Mamori lalu menutup pintu kamar mandi setelah mendorong Hiruma masuk.

Mamori mengambil keranjang baju kotor di samping mesin cuci dan kembali ke ruang tengah. Dia memandangi beberapa saat ke segala penjuru ruangan, menarik napas panjang lalu mengeluarkannya. Mamori membuka kamar Hiruma. Dia menyalakan lampu dan bersyukur karena kamar ini tidak terlalu berantakan. Hanya ada beberapa kaos dan selimut yang berantakan. Mamori lalu memasukannya ke keranjang. Dia membuka lemari untuk mengambil selimut dan seprai baru, kemudian menganti seprainya, yang entah sudah berapa lam tidak diganti Hiruma.

Setelah terlihat lumayan rapi, Mamori beralih ke dapur dan melihat sampah bekas mie instan dan tumpukan cucian piring kotor di wastafel.

"Keterlaluan sekali kau, Youichi." keluh Mamori sendiri.

Mamori lalu meninggalkan dapur yang akan dia bersihkan besok. Setelah itu dia mengumpulkan baju-baju yang berserakan dan memasukannya ke dalam keranjang. Hiruma sudah selesai mandi dan langsung duduk di sofa sambil menyalakan televisi. Mamori yang masih beres-beres, menyadari Hiruma dan menghela napas.

"Pakai dulu bajumu." ujar Mamori melihat Hiruma yang hanya mengenakan sehelai handuk di pinggangnya.

Mamori berlutut di depan Hiruma menghadap ke meja di depan televisi tempat buku-buku yang berserakan. Dia menata buku-buku itu tanpa menyadari Hiruma yang menatap punggungnya yang hanya tertutup beberapa tali yang mengikat gaunnya. Mamori lalu berdiri dan berniat membereskan kotak cd yang berantakan di depan televisi, namun tangan Hiruma menarik pinggangnya dan membuatnya terduduk menyamping di pangkuan Hiruma.

Mamori menjerit, "Youichi. Apa-apaan kamu!" protes Mamori. Dia melihat tangan Hiruma yang memeluk pinggangnya erat dan kulitnya merasakan sesuatu di bawahnya, "Ya ampun. Kamu bahkan belum memakai celana dalammu."

Mamori berhenti bicara saat Hiruma menangkup bibirnya dan menciumnya lembut. Dia merasakan setiap sentuhan lidah Hiruma di dalam mulutnya. Beberapa menit kemudian Mamori membuka mata saat Hiruma melepaskan ciuman mereka dan beralih mencium leher dan pundak Mamori.

"Youichi." panggil Mamori dengan susah payah di tengah napasnya yang sudah tidak beraturan. "Sebentar," tambahnya, yang merasakan hembusan napas Hiruma di lehernya sendiri yang semakin membuat Mamori kesulitan menahan diri.

Hiruma tidak mendengarkan dan terus menelusuri leher dan tubuh Mamori dengan bibir dan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya, bergerak ke belakang membuka ikatan tali gaun Mamori secara perlahan dan menyentuh punggung Mamori hingga ke bagian depan tubuhnya.

"Tunggu dulu, Youichi." Mamori akhirnya berhasil mendorong dada Hiruma.

Hiruma mendesah, lalu berkata. "Oh sial, Mamori. Apa lagi sekarang?"

"Aku belum mandi." jawabnya.

"Peduli setan dengan itu." jawabnya cepat, menarik Mamori ke dalam pelukannya lagi lalu mencium lehernya. "Aku suka wangi tubuhmu yang seperti ini."

Wajah Mamori memerah. Dia lalu menjerit lagi ketika Hiruma mendadak menggendongnya dan Mamori langsung melingkarkan lengan ke leher Hiruma.

"Kamu mau apa?"

"Meneruskannya di dalam."

"Tunggu, tunggu dulu. Biarkan aku mandi dulu." berontaknya dan Hiruma membawanya sampai ke depan kamar.

"Kamu kira aku masih bisa menahannya, heh?" jawab Hiruma. "Alu sudah mengajakmu untuk mandi bersama tadi." tambahnya lalu tersenyum.

"Tapi, sebentar. Turunkan aku."

Hiruma tidak menurutinya lalu membuka pintu kamarnya. "Aku tidak akan mengeluarkanmu sampai besok." ujarnya lalu tersenyum menyeringai lalu mengecup bibir Mamori.

"Youichi!" jerit Mamori lagi, lalu Hiruma menutup pintu di belakangnya.

To Be Continue

Catatan Kecil:

Saya ga akan komentar apa-apa sama adegan di atas. Jadi, mohon maaf kalau ada yang kurang puas, atau merasa adegannya sedikit berlebihan.

Jadi, saking kurang kerjaannya. Sebenarnya chapter tiga ini selesai dalam beberapa belas jam setelah chapter dua di publish. Maaf ya baru update sekarang. Hehe.. ga apa kan, biar penasaran sedikit XD

Saya harap tidak ada yang kecewa dengan chapter ini.

Saya sudah baca review fic ini, terima kasih sudah menyukai cerita-cerita saya, sudah menunggu, menyemangati, dan mendukung penyelesaian cerita ini. Terima kasih juga sudah memberikan saran, amat sangat membantu agar saya tidak banyak Typo lagi juga. Hehe.

Nah, Sambil menunggu selesainya chapter empat. Lebih baik review fic ini aja yaaa XD... Jangan lupa kasih saran atau kritik, keluhan atau masukan, apapun, saya dengan senang hati menerima semuanya. Jadi jangan segan-segan.

So guys, Keep Calm and Wait the Next Chapter.

Please Read and Review ^o^

Love you all~~~!

Salam: De