Chapter 5
.
Kalau dihitung-hitung, Hiruma tidak terlalu sering mengantar Mamori pulang ke rumahnya. Saat kuliah dulu, dia bahkan tidak pernah mengantarkan Mamori barang satu kalipun. Baru menjelang mereka lulus, saat dia mulai bermain untuk klub American Football Jepang dan ketika hubungan mereka sudah berubah, Hiruma mulai mengantarnya pulang. Itu pun hanya beberapa kali, hanya kalau mereka bertemu.
Kadang-kadang dia juga mampir untuk mengobrol dengan orang tuanya. Orang tua Mamori juga sudah tahu siapa Hiruma dan bagaimana hubungan mereka. Semuanya berjalan lancar. Sejauh ini, tidak ada yang membuat Mamori khawatir. Orang tua Mamori sudah mengetahui hubungan mereka saja, sudah membuat Mamori tenang. Dia tidak perlu menyembunyikan apa pun.
Tapi sekarang, jantung Mamori berderu kencang seolah-olah dia ketahuan atau kepergok melakukan suatu hal yang buruk, saat menerima pesan dari Suzuna.
Hiruma, yang bisa merasakan ketegangan Mamori di sebelahnya langsung menoleh dan membaca ekspresi wajah Mamori. Hiruma lalu ikut menunduk melihat ponsel di tangannya. Dia melihat sebuah foto yang dia sendiri bisa mengenali itu adalah foto mobil miliknya yang diambil dari sisi belakang. Dia lalu membaca tulisan di bawahnya,
Aku tahu siapa sebenarnya pacarmu, Mamo-nee~~ (^o^ゞ !
Mamori menoleh menatap mata Hiruma. Hiruma lalu menaikan bahunya, dan kembali mengobrol dengan Ayah Mamori.
Apa yang sebenarnya Mamori resahkan? Kenapa dia harus khawatir kalau akhirnya Suzuna, atau mungkin juga Sena mengetahui hubungannya dengan Hiruma? Bukankah mereka juga tidak menyembunyikannya? Lalu sekarang mengapa rasanya dia tidak tahu harus bersikap seperti apa kalau nanti bertemu dengan Suzuna dan Sena?
"Kamu sudah menetapkan tanggal pernikahannya, Nak Hiruma?" tanya Ayah Mamori.
Mamori langsung mendongak kaget mendengar pertanyaan Ayahnya itu. Dia memandang bergiliran dari Ayahnya yang duduk di seberang sofa, ke Ibu di sebelahnya, dan memandang ke Hiruma yang masih dengan wajah santainya mendengar pertanyaan itu. Topik ini memang baru pertama kali didengar oleh Mamori, dan sekarang dia bingung harus bagaimana menghadapi situasi ini.
"Waktu itu kamu sudah meminta izinku dariku. Apa lagi yang kamu tunggu?" tanya Ayahnya lagi.
Kali ini rasanya Mamori mendapat serangan jantung berkali-kali. Dia menatap tajam ke mata Hiruma seolah meminta penjelasan. Kapan Hiruma meminta izin dari Ayahnya? Dia belum pernah mendengar tentang hal ini sekalipun. Tidak juga dari Ayahnya.
Hiruma melirik sesaat ke Mamori yang terus menatapnya, "Aku tidak tahu Mamori mau menikah denganku atau tidak."
Ayah Mamori tergelak, sedangkan Ibunya hanya tersenyum mendengar jawaban Hiruma. "Kalau Mamori tidak mau menikah denganmu, dia tidak akan mengencanimu." ungkap Ayahnya.
Wajah Mamori merona. Ayahnya dan Hiruma berbicara seakan Mamori tidak ada disini dan tidak sedang mendengarkan mereka. Mamori sama sekali tidak pernah menyangka topik ini akan diungkap disini. Setidaknya, Mamori butuh persiapan.
"Nah, Mamori," kini Ayah Mamori beralih kepadanya, "Bukankah sudah waktunya kamu memikirkan untuk menikah? Sena yang lebih muda dari kalian saja sebentar lagi akan mempunyai anak. Kau tahu, aku sudah ingin menggendong cucu."
Hiruma menatap Mamori lama sehingga membuat Mamori balik menatapnya. "Apa? Kamu menunggu jawabanku? Bukankah menurutmu kau harus melamarku dulu?"
"Apa perlu?"
Tawa Ayah Mamori pecah lagi karena jawaban singkat Hiruma yang sungguh apa adanya.
"Tentu saja. Aku ingin seperti wanita-wanita lainnya yang dilamar di tempat romantis." jawabnya, menyilangkan kedua tangan di depan dada dan menaikan dagunya agar terkesan arogan.
Hiruma mendengus, "Baiklah. Rasanya memang tidak perlu. Karena aku sudah mendapat jawabannya."
Pertengkaran sepele mereka pun terlihat tidak akan segera selesai, sehingga Ibu Mamori menarik lengan suaminya untuk berdiri. "Ayo, Kamu tidak akan bisa menyela kalau mereka sudah seperti ini, lebih baik kita tinggalkan saja." Mami Anezaki tersenyum. Dan terbukti, Mamori dan Hiruma tidak ada yang menyadari kalau mereka sudah ditinggal berdua di ruang tamu.
Mamori memutar tubuhnya ke samping, dia menghadap Hiruma sambil menyilangkan kakinya, "Siapa bilang?"
"Matamu," jawab Hiruma menatap lekat kedua bola mata Biru Mamori, "Tubuhmu." tambahnya tersenyum menyeringai memandangi tubuh Mamori.
Wajah Mamori memerah lagi. Dia bahkan merasa malu mendapati Hiruma menatap tubuhnya seolah-olah Hiruma belum pernah melihat secara menyeluruh tubuh Mamori.
Dia lalu melempar dan menutup wajah Hiruma dengan bantal duduk yang sedari tadi ada di pangkuannya.
Hiruma lalu menyingkirkan bantal tersebut dan menariknya dari Mamori, "Nah, mumpung kita sudah sampai di topik ini, kau mau menikah denganku, heh?"
"Katakan dulu kau mencintaiku." tantangnya.
"Kau mencintaiku."
"Bukan begitu!" sahutnya, karena dia tahu Hiruma sengaja membuatnya kesalnya. "Baiklah... Katakan, 'a-ku men-cin-ta-i-mu." ucap Mamori menyejanya dengan jelas per suku kata.
"Aku sudah tahu kau mencintaiku, bodoh."
"Oh ya ampun, Youichi!" geramnya tidak tahan dengan sikap Hiruma, "Apa sulit mengatakan itu? Sadarkah kau, selama ini kau tidak pernah mengatakan kau mencintaiku?"
Hiruma memutar bola matanya, lalu menatap Mamori. "Aku mengatakannya semalam. Kau tidak merasakannya, heh?" Hiruma menyeringai lagi, "Aku selalu mengatakannya bodoh, kau saja yang terlalu sibuk dengan tubuhku."
Mamori memberenggut. Hiruma lalu menaikkan dagu Mamori, dan mengecup bibirnya. Hiruma menyeringai sambil menatap mata Mamori, lalu mencium bibirnya lagi, dan lagi, sampai Mamori ikut bepartisipasi dan ikut menjelajahi mulut Hiruma. Selama beberapa detik, akhirnya mereka melepaskan ciumannya.
"Nah, aku sudah mengatakannya." sahut Hiruma, menarik pinggang Mamori ke pelukannya, lalu mencium keningnya, "Dasar kau bodoh."
Mamori tersenyum dan memeluk balik Hiruma. "Kau keras kepala sekali, Youichi."
.
.
Satu hal yang sangat disukai Hiruma dari Mamori ialah, dia bisa mengerti maksud dan keinginan Hiruma walaupun Hiruma tidak mengatakannya. Sama seperti saat ini, saat Mamori bilang dia ingin menginap di rumahnya saja untuk hari ini dan membiarkan Hiruma pulang ke apartemennya sendiri. Hiruma hanya menatap ke Mamori lama, dan saat itu Mamori langsung mengerti. Kalau dirinya juga harus ikut pulang bersamanya ke apartemen.
Mereka memang sudah sering melakukannya. Di SMA, saat pertandingan menuju Christmas Bowl, mereka menggunakan bahasa isyarat tubuh yang hanya dimengerti oleh mereka. Namun, lama kelamaan, dengan saling bertatapan saja, mereka sudah bisa mengerti satu sama lain. Bukan karena mereka bisa telepati atau semacamnya, mereka hanya sudah sangat dan saling mengenal sifat masing-masing, sehingga untuk memahami maksud yang tersirat dari tatapan mereka adalah hal yang mudah bagi mereka.
"Mm, Bu. Aku lupa kalau masih harus membereskan apartemen Youchi sebelum dia kembali ke asrama besok. Jadi aku tidak bisa menginap disini." ujar Mamori.
Dia memang tidak bohong, karena masih ada jemuran yang belum diangkatnya. Besok juga Hiruma sudah kembali ke asrama, dan Mamori harus menutup-nutup perabotan dengan kain penutup agar tidak menyisakan banyak debu nantinya. Karena sebentar lagi pertandingan Amefuto liga Jepang, jadi Hiruma akan jarang sekali pulang. Selain itu Mamori ingin bersama Hiruma malam ini sebelum mereka berpisah lagi dalam waktu yang cukup lama.
"Baiklah," jawab Ibunya. "Aku percaya padamu, Nak Hiruma." katanya dan Hiruma menganggukan kepala mengerti apa yang dimaksudnya.
"Kalau begitu, salam untuk Ayah Bu. Aku akan pulang lagi minggu depan." Mamori memeluk Ibunya. Sedangkan Ayah sudah pergi kumpul-kumpul dengan Paman-Paman tetangga setelah makan malam tadi.
Mamori masuk ke mobil dan melihat mobil Sena di depan rumahnya. Ternyata mereka masih disana, pikir Mamori sembari berharap tidak bertemu dengan , saat mobilnya melewati rumah Sena, dan saat itu Mamori melihat Suzuna keluar dari pintu bersama Sena.
"Oh, Mamo-nee!" panggil Suzuna kencang.
Mamori hanya tersenyum karena Hiruma tidak terlihat ingin menghentikan mobilnya dan menyapa mereka sebentar. Jadi Mamori tidak bisa mencegahnya. Kali ini, dia bersyukur dengan sikap Hiruma yang seperti ini, sehingga dia tidak perlu menjelaskan apa-apa ke Suzuna yang pastinya akan memakan waktu lama. Dan Mamori yakin, Hiruma akan sakit kepala kalau mendengar ocehan Suzuna yang tiada hentinya.
"Kita ketahuan." sahut Mamori sambil melihat ke belakang lewat kaca spion.
"Biar saja."
.
.
Pagi harinya, Hiruma membuka mata. Matanya langsung mengarah ke televisi yang masih menyala dan Hiruma teringat kalau dia ketiduran di sofa bersama Mamori.
Semalam mereka bicara banyak tentang macam-macam hal. Mulai dari pertandingan, para pemain, TK Mamori beserta murid dan gurunya, tetangga-tetangga Mamori, dan hal sepele lainnya, seperti cerberus. Mamori memang sudah lama tidak melihat anjing itu. Entah bagaimana Hiruma berhasil membawanya ke asrama dan meminta penjaga asrama untuk mengasuhnya kalau Hiruma sedang tidak ada. Merupakan Hal yang membuatnya kaget saat Mamori mendengarnya dulu, ada orang lain selain dia dan Hiruma yang bisa membuatnya menurut dan tidak takut padanya.
Hiruma menunduk dan mendapati Mamori masih terlelap sambil bergelung di tubuhnya. Dengan irama napasnya yang damai dan teratur di atas dada Hiruma. Dia mengelus rambut Mamori dan perlahan memanggilnya untuk bangun. Mamori bereaksi sedikit lalu menyipitkan matanya dan mendongak dengan malas menatap Hiruma. Setelah itu dia menoleh ke belakang melihat jam dinding yang berada di atas televisi.
"Bangun, aku harus kembali ke asrama jam dua belas nanti." sahut Hiruma namun Mamori menaruh kepalanya lagi di dada Hiruma.
Ponsel Hiruma di atas meja bedering dan dia mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Dia melihat ada pesan masuk lalu membukanya dan ternyata pesan itu dari Risa.
Kapan kamu akan kembali ke asrama, sayang? Apa kau sudah puas bersama pacarmu? Kalau belum, tenang saja... Aku pasti akan memuaskanmu di asrama nanti. Karena itu, cepatlah kembali.
Hiruma diam beberapa saat. Mamori, yang juga ikut membaca pesan itu, mendongakan kepala menatap Hiruma dan Hiruma menunduk menatap balik Mamori.
"Apa kau yakin, tidak bermain-main dengan Risa-san?" tanya Mamori santai dan tidak melepaskan pandangannya.
"Kau lebih percaya padanya?"
Mamori mendengus, "Bukan begitu. Aku yakin semua wanita pasti akan marah atau menangis kalau membaca pesan seperti itu dari wanita lain di ponsel pacarnya."
"Tapi aku yakin kau bukan seperti wanita-wanita sialan itu." balas Hiruma. Dia lalu menghapus pesan dari Risa tadi dan menaruh kembali ponselnya di atas meja. Mamori bangkit perlahan, namun Hiruma menariknya lagi dan langsung memeluknya. "Apa kau tidak bisa cemburu sedikit, heh? Aku tidak pernah melihat kau cemburu."
Mamori mengerjapkan matanya, "Aku? Tentu saja aku cemburu." Hiruma menatap dengan tatapan tidak percaya. "Sungguh." tambah Mamori lagi meyakinkan. "Tapi karena aku percaya padamu Youichi, aku tidak akan berpikiran macam-macam. Jadi jangan pernah coba-coba membohongiku." ancamnya dan menatap tajam ke arah Hiruma.
"Oke." jawabnya sambil mencium ujung kepala Mamori lalu bangkit dari tidurnya bersama dengan Mamori. "Aku mau mandi dulu."
"Aku akan membuat sarapan." ujar Mamori.
.
.
Setelah mengantar Mamori kembali ke mansionnya, Hiruma lalu berangkat ke asrama yang ditempuh selama satu setengah jam. Selama di mobil, dia terus memikirkan apa maksud dari pesan yang dikirim Risa tadi pagi. Hiruma sebenarnya tahu, tapi dia hanya tidak mengerti kenapa Risa menggunakan cara bermutar-putar seperti itu. Dia pasti bermaksud ingin menghancurkan hubungan mereka sebelum mendapatkan tujuan utamanya. Tapi bukankah percuma kalau saja Mamori tidak ikut membaca pesan itu? Kebetulan saja saat itu Mamori sedang berada di dekatnya, sehingga dia juga ikut membacanya. Apapun alasan dan tujuannya, dia itu wanita gila yang akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan sesuatu.
Hiruma memarkirkan mobil di halaman parkir asramanya. Dia melihat mobil Taka dan Yamato juga sudah ada disana, serta mobil-mobil anggota tim-nya yang lain. Dia lalu segera bergegas ke lapangan di belakang asrama mereka karena dia hanya punya waktu lima belas menit sebelum latihan di mulai. Hiruma melihat Risa saat ingin menuju ruang loker, sedang berbicara dengan salah satu anggota.
Risa menoleh menyadari kedatangan Hiruma dan berkata, "Apa kabar Hiruma-san? Bagaimana, apa dia sudah memuaskanmu?" tanyanya lalu tersenyum.
"Tutup mulutmu brengsek." Hiruma lalu jalan melewatinya dan berbelok di lorong menuju ruang loker.
"Apa aku berhasil kali ini?" tanyanya lagi dengan nada gembira, namun Hiruma tidak menggubrisnya.
"Jangan bilang, Risa-san sekarang mengincar pacarmu?"
Hiruma menoleh ke belakang dan melihat Yamato disana yang sama-sama ingin menuju ruang loker. Hiruma tidak menjawab dan meneruskan jalannya.
"Aku harap, siapapun pacarmu, dia bukan orang yang mudah dipengaruhi. Kau tahu, dia akan melakukan cara apapun untuk mendapat keinginannya." lanjutnya lagi. "Ah, ngomong-ngomong. Aku tidak tahu kau punya pacar, Hiruma."
Yamoto menutup pintu di belakangnya setelah mereka masuk dan melihat ada Taka juga di dalam.
"Ada kabar baru Taka." ujar Yamato kepada Taka, "Target Risa-san selanjutnya adalah pacar Hiruma."
Taka yang sedang mengikat sepatunya, mendengus sebal lalu mendongakan kepala melihat Hiruma dengan wajah datarnya. "Bodoh kau Hiruma, bagaimana dia bisa mengetahui keberadaan pacarmu?"
Hiruma mengangkat bahunya sambil mengambil baju latihan di dalam lokernya.
"Bersiaplah. Dalam hitungan hari, pacarmu itu akan meninggalkanmu. Sama seperti yang dilakukan mantanku waktu itu."
"Dia tidak seperti mantan pacarmu."
"Semoga saja."
Pintu loker terbuka. Mereka menoleh dan melihat Risa masuk ke dalamnya. "Hai, Honjo-san, Yamato-san, Hiruma-san." sapa Risa. "Bagaimana libur akhir pekan kalian?"
Tidak ada yang menjawab dan mereka kembali ke aktivitasnya masing-masing. Risa pun memang tidak butuh jawaban dari mereka, dan duduk di kursi panjang di samping Taka.
"Oh ya, Hiruma-san. Bagaimana kabar Mamori-san? Apa dia juga membaca pesanku tadi pagi?" tanyanya, masih dengan wajah dan senyum polosnya. Walaupun Hiruma tidak melihat wajah itu, namun saat itu juga rasanya dia sudah ingin memukul sesuatu.
Kata-kata Risa membuat ruang loker seketika itu langsung hening dan tidak ada pergerakan sama sekali. Taka berhenti mengikat tali sepatunya, dan Yamato juga berhenti memasang perekat di sikunya. Hanya Hiruma lah yang tetap bergerak mengganti bajunya dan mengeluarkan sepatu dari dalam loker, setelah itu duduk di salah satu kursi kosong.
"Pacar Hiruma..." sahut Yamato menghentikan keheningannya sendiri, "Mamori-san?" tanyanya, entah kepada Risa atau Hiruma sendiri, karena saat ini dia sendiri masih bingung dan sedang mencerna perkataan Risa barusan.
Risa mengangguk sambil tersenyum. "Kalian tidak tahu?" tanya Risa kepada Yamato dan Taka, "Oh, kalian juga mengenal Mamori-san?"
Tidak ada jawaban dari mereka berdua. Mereka terus memandang Hruma yang sudah memakai sepatunya. Hiruma lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Masih dengan tatapan kedua anggota timnya itu, dia dengan santai melangkah dan membuka pintu, lalu keluar dari ruang loker yang masih menyisakan kebingungan di antara kedua rekan setimnya.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Duh, Gimana dooong? Hiruma jadi kelewat sweet banget di chapter ini. Bukannya dilurusin, malah makin OOC :( ga apa-apa ya? Anggap aja Hiruma cuma sweet kalau lagi sama Mamori aja. Tapi kayaknya emang begitu yaa...
Emm, fic ini mau berakhir sampai mereka nikah atau nggak nih guys? Walaupun endingnya kayaknya masih jauh.
So, Please Read and Review ^o^
Salam: De
