Chapter 6
.
"Kamu jangan malas makan, jangan lupa tidur." ujarnya memberi nasehat, sambil memasukkan barang-barangnya ke dalam tas.
Hiruma tidak menjawab apa-apa.
"Aku tahu kamu tidak akan tidur cepat kalau tidak bersamaku." lanjutnya.
"Siapa bilang, heh.." balas Hiruma cepat, seolah tidak terima dengan pernyataan Mamori tadi. "Memangnya kau tahu aku tidur atau tidak setelah kau tidur?"
Mamori memberenggut. "Pokoknya, jaga kesehatanmu. Makan dan tidur yang teratur. Jangan memaksakan diri. Dan jangan mengancam orang-orang."
"Kau ini berisik sekali." keluh Hiruma, "aku sudah sering mendengarnya, apa kau tidak bosan mengatakan hal sialan itu terus."
"Aku tidak akan pernah bosan."
"Pelatih memanggilku. Sampai nanti, jelek."
Mamori melotot walaupun Hiruma tidak bisa melihatnya. "Siapa yang kamu bilang jelek, dasar kau Youichi bodoh." balasnya, "Baiklah. Aku menyayangimu, sampai nanti."
Mamori tersenyum sambil memasukkan ponselnya ke tas.
"Sepertinya benar kata guru-guru lelaki di SD kalau kamu ternyata sudah punya pacar." sahut seorang dari arah belakang Mamori.
"Oh, Sato-san." sapa Mamori, melihat rekan gurunya itu sedang mencari sesuatu di rak arsip di pojok ruangan. Dia tidak tahu sejak kapan Sato ada disana, karena saat menerima telepon tadi, tidak ada siapa-siapa selain dirinya.
"Kamu sangat perhatian sekali." tambahnya tersenyum dari sela rak arsip dan melihat Mamori.
Mamori balas tersenyum, "Dia kalau tidak dinasehati setiap hari, tidak akan peduli dengan dirinya sendiri."
Sato mengangguk-angguk mengerti. "Pengusaha?" tanyanya.
Mamori menggeleng, "Atlet. American Football."
"Oh, aku tidak tahu kalau kamu mengenal orang-orang dari dunia itu." katanya, seolah mengatakan American Football adalah suatu yang bahkan tidak akan ditonton oleh kaum wanita, karena olahraga itu kasar dan terlalu kejam.
Mamori tersenyum mendengar komentarnya. Dia jadi ingat bagaimana dia saat menjadi manajer Deimon dan Saikyoudai dulu. Kalau dia tidak memilih jalan itu, dia tidak akan bisa bersama Hiruma saat ini. "Aku dulu manajer American Football saat di SMA dan kuliah. Jadi bisa dibilang, sebagian orang yang kukenal adalah orang-orang yang bergelut disana."
Kali ini Sato dibuat kaget lagi dengan pernyataan Mamori, "Oh, aku tidak menyangka Anezaki-san. Bagiku kau orang yang lembut, dan olahraga itu terbilang... ya.. kau tahu... kejam:"
Mamori mengangguk setuju, "Karena itu aku mengkhawatirkannya."
"Oh," sahut Sato lagi dan teringat sesuatu, "Jangan bilang kalau kau sudah mengenal pacarmu saat kamu jadi manajer dulu?"
"Bisa dibilang begitu."
"Oh, ya ampun Anezaki-san... Aku yakin guru-guru itu akan cemburu pada pacarmu kalau tahu kamu mencintainya selama itu."
Mamori tersenyum, "Jangan melebihkan seperti itu. Aku yakin pacarku tidak merasa seberuntung itu. Dia itu menyebalkan dan suka seenaknya."
"Dan kamu tetap mencintainya." tambahnya, lalu menemukan sesuatu yang dicarinya. "Nah, Anezaki-san. Aku duluan."
"Sampai besok Sato-san."
Sato melambaikan tangannya sambil tersenyum, sedangkan Mamori menata bukunya yang sehabis dia pakai tadi dan memasukannya ke dalam laci meja. Setelah itu dia bersiap pulang ke mansionnya.
.
.
"Bagaimana menurutmu Hiruma?" tanya Pelatihnya, saat Hiruma masuk ke dalam ruang audiovisual tempat Pelatih dan rekan-rekannya berkumpul membahas pertandingan persahabatan hari Rabu lusa. "Saya rasa saat pertandingan terakhir kita, quarterback ini sangat awas sekali." tambahnya sambil menunjuk ke layar proyektor besar yang sedang menampilkan pergerakan quarterback lawannya nanti.
Hiruma duduk di kursi deret empat dari depan, yang sejajar dengan Taka. "Dalam keadaan normal, lemparan ke kiri quarterback itu lebih lambat 2,3 detik. Dia pernah terluka saat latihan dua bulan lalu yang menyebabkan tulang punggung sebelah kanannya sedikit cedera." jelasnya, "Bahkan lemparannya sekarang pun tidak secepat dan seakurat dulu."
"Shintani." panggil Pelatih kepada asisten Pelatih yang duduk di balik laptop di pojok depan ruangan. "Periksa video pertandingan mereka sebelum dan sesudah dua bulan lalu." perintahnya.
"Tapi bukannya musim ini mereka mengontrak Linebacker baru." ujar salah seorang pemain yang duduk di baris kedua.
Hiruma menunjuk Yamato yang duduk di depan sebelah kanannya. "Si sialan ini lebih cepat."
Yamato memamerkan senyumnya, "Terima kasih Hiruma." sahutnya menengok ke belakang.
"Seperti yang Hiruma-san bilang, Pelatih. Kecepatannya tidak sama. Bahkan dia tidak pernah melempar bola rendah ke sebelah kiri, selalu melemparnya ke atas."
Hiruma tersenyum menyeringai.
"Honjo, kau tetap perluas penjagaanmu. Kemungkinan dia akan melempar ke atas lebih banyak." katanya pada Taka, "Apa yang kau ketahui lagi Hiruma?"
Hiruma mengangkat bahu, "linemen mereka lebih kokoh sekarang. Yang aku tahu, mereka berlatih mendorong dan menahan truk setiap minggunya."
Yamoto menoleh, dan mengerjapkan mata, "Kau bercanda?"
"Baiklah, kita juga tidak akan mau kalah. Soma, Darren, Kojiwara, dan linemen lainnya. Kalian akan mulai mendorong dan menahan truk sore ini. Shintani, siapkan truk sekarang."
Hiruma menyeringai dan terkekeh. Para linemen itu menoleh dan menyadari tipu muslihat Hiruma yang berhasil memperdayai Pelatih mereka. Ya, Hiruma memang sengaja memberitahukan berita bohong itu kepada Pelatih agar linemen mereka mempunyai 'latihan khusus' yang lebih ekstrim.
"Sialan kau Hiruma." sahut Soma ketika Pelatih yang baru saja keluar ruangan. "Kau sengaja."
Hiruma terkekeh sambil menaikan kakinya ke atas meja.
"Lain kali jangan biarkan Hiruma memperdayai Pelatih lagi." sahut Kojiwara.
"Tidak apa. Aku rasa itu juga latihan yang bagus." ucap Darren dalam Bahasa Inggrisnya, karena memang dia pemain asing yang dikontrak oleh klub.
Hiruma berdiri dan diikuti pemain lainnya untuk bersiap memulai latihan sampai sore.
Latihan dimulai seperti biasa. Hanya saja linemen mempunyai latihan khusus mendorong truk yang sudah disiapkan Pelatih tadi. Yamato dan pemain lainnya melatih lari mereka bersama cerberus seperti biasa sambil mengejar bola yang dilempar dengan mesin, dan Taka menangkap bola yang dilempar ke sembarang arah oleh Hiruma. Mereka sibuk berlatih sampai jam lima sore ketika Pelatih memanggil mereka semua untuk beristirahat dan melakukan pendinginan.
Setelah itu, mereka membersihkan diri di asrama masing-masing dan berkumpul untuk makan malam jam tujuh di aula makan lantai dua gedung utama.
"Besok pagi kau mau ikut ke toko sepatu Hiruma? Sepatuku rusak." tanya Yamato yang duduk di seberang mejanya yang sedang menyantap makan malam.
Hiruma menggeleng.
Yamato lalu beralih kepada Taka, "Kau mau ikut Taka?" tanyanya kepada Taka yang duduk di sebelahnya di meja lain dan dia juga menggeleng.
"Aku ikut." sahut Darren.
"Ok."
.
.
Sudah jam dua malam, dan Hiruma masih sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Cerberus sudah terlelap dari tadi di bawah kakinya karena kelelahan mengejar-ngejar anggota tim tadi. Hiruma menyerup kopinya di samping meja dan melanjutkan mengetik lagi. Dia menjalankan video yang tadi di-pause-nya dan memperhatikan dengan seksama pergerakan dari linebacker baru tim lawan. Dia baru mendapat video pertandingan dua minggu kemarin ini dari Shintani dan belum menelitinya. Dia memang menonton pertandingannya langsung bersama Soma waktu itu, dan belum melakukan penelurusan lebih lanjut.
Hiruma melihat jam di pojok kanan bawah layar laptopnya, sudah hampir setengah tiga. Hiruma menghela napas dan memukul-mukul pundaknya yang pegal. Dia sama sekali tidak menyadari sudah lebih dari enam jam dia duduk disini dan hanya bangun kalau ingin ke kamar kecil. Hiruma mematikan videonya, dan menutup lembar kerja di laptopnya. Hiruma menghela napas lagi melihat foto di desktop laptopnya, foto Mamori yang berfoto sendiri di pantai saat musim panas lalu. Jelas bukan Hiruma yang memasangnya, dia tidak tahu kapan Mamori mengganti foto desktopnya. Hiruma sendiri tidak ada niatan untuk mengganti foto Mamori dengan foto lain, jadi dia membiarkannya begitu saja.
Foto Mamori itu pun membawa pengaruh sendiri untuk Hiruma. Dengan melihat foto Mamori, dia jadi teringat semua nasehat dan celotehan Mamori setiap kali dia meneleponnya. Hiruma menaruh laptop di atas meja dan berjalan menuju ranjang untuk tidur dengan membiarkan laptopnya menyala begitu saja.
.
.
Hiruma masih tertidur walaupun sudah waktu sudah menunjukan jam sembilan pagi. Dia memutar badannya sehingga tertidur tengkurap. Ponsel di samping meja ranjangnya berbunyi, dia meraba atas meja itu lalu mengambil ponselnya dengan kasar dan meletakkannya ke atas telinga.
"Ya." sahutnya.
"Kau mau nitip sesuatu Hiruma?" tanya Yamato di seberang karena memang dia tahu Hiruma pasti tidak pergi kemana-mana pagi ini.
"Belikan aku roti." jawab Hiruma. Dia langsung mematikan teleponnya dan menggeletakan ponselnya begitu saja di atas tangannya di ranjang. Setelah itu dia kembali tidur.
Tiga puluh menit kemudian, tidak ada tanda-tanda dia akan segera bangun walaupun matahari di jendela yang tidak tertutup gorden itu sudah memancarkan sinar paginya yang hangat. Namun Hiruma berhasil menempatkan tubuhnya yang terlentang di pinggir kasur yang tidak terkena sinar matahari.
Dari depan terdengar pintu kamar Hiruma diketuk tiga kali. Hiruma masih terlelap dan tidak mendengarnya sehingga Yamato membukanya perlahan lalu melongokan kepalanya ke dalam. Dia memanggil nama Hiruma, namun Hiruma masih tetap tidur. Akhirnya Yamato masuk dan melangkahkan kakinya ke dalam melihat Hiruma masih tidur di ranjangnya.
"Aku taruh rotimu disini." ujar Yamato kepada Hiruma, walaupun dia tahu Hiruma tidak mendengarnya karena dia terlihat sedang tertidur pulas.
Setelah meletakkan roti di atas meja di samping laptop Hiruma, dia keluar dan menutup pintu kamar kembali.
"Oh, apa yang kau lakukan di kamar Hiruma?" tanya Risa yang tiba-tiba muncul di belokan lorong menuju ke lift dan melihat Yamato keluar dari kamat Hiruma.
"Aku mengantarkan roti."
"Dia ada di dalam?"
Yamato mengangguk, "Dia masih tidur." jawabnya, lalu meninggalkan Risa yang sekarang sudah berdiri di depan kamar Hiruma.
Risa masih berdiri disana menatap pintu kamar Hiruma sambil berpikir. Yamato sudah menghilang masuk ke lift tadi. Masih terpaku disana, dia terus berpikir, jarang sekali Hiruma tidur tanpa mengunci pintu kamarnya seperti ini. Suatu kesempatan yang tidak boleh dilewatkannya begitu saja. Tiba-tiba muncul suatu ide di kepalanya, dan dia langsung tersenyum penuh muslihat. Setelah itu dia membuka pintu kamar, masuk ke dalamnya, kemudian menutup dan menguncinya lagi.
.
.
Hiruma membuka matanya perlahan. Dia menutup matanya dengan lengan dan melihat keluar jendela. Matahari sudah meninggi dan sangat hangat mengingat sekarang adalah musim dingin. Hiruma melihat ke arah jam di atas televisi, yang ternyata sudah jam sebelas. Hiruma lalu bangun sambil mengumpulkan sisa-sisa ingatannya. Semalam dia tidur hampir jam tiga. Latihan dimulai jam satu siang nanti. Dan dia melihat roti sobek di samping laptopnya. Hiruma berpikir lagi dan ingat kalau tadi Yamato menelepon dan Hiruma minta dibelikan roti.
Hiruma lalu bangun dan duduk di sofa sambil menyalakan laptop dan membuka bungkusan roti. Hiruma merobeknya separuh dan berjalan mengambil botol air di mini bar. Dia kembali duduk, lalu tersenyum dalam hati melihat foto di layar laptopnya. Dia menghela napas. Baru beberapa hari tidak melihat Mamori, tapi rasanya Hiruma sudah sangat merindukan dan ingin segera bertemu dengannya.
Dia kembali melihat-lihat ke lembar kerja yang semalam ditulisnya untuk didiskusikan dengan Pelatih nanti sebelum memulai latihan. Semalam dia berhasil mendapatkan kelemahan linebacker baru tim lawan, yang pastinya akan sangat berguna untuk pertandingan mereka nanti. Dan kali ini, setelah dia berhasil membuat linemen timnya 'bekerja keras', dia akan melakukan hal yang sama pada Yamato.
Setelah membaca dan mengingat, hal yang ingin disampaikan ke Pelatih nanti, Hiruma mematikan laptopnya dan melihat ke jam dinding yang sudah menunjukan pukul dua belas kurang. Roti sarapannya tadi pun juga sudah habis dan Hiruma bergegas mandi.
Lima belas menit Hiruma membersihkan dirinya, dia lalu mengenakan kaos hitam dengan jaketnya dan celana training hitam biasa, karena nanti dia juga akan menggantinya dengan seragam latihan mereka. Di lorong menuju lift, dia bertemu dengan Darren, yang satu lantai dengannya di gedung asrama, tepatnya di lantai empat, bersama dengan dua pemain lainnya.
"Kau baru bangun?" sapa Darren dalam Bahasa Inggris saat mereka tiba di depan pintu lift sambil menunggu pintunya terbuka.
Hiruma mengangguk.
"Kau harusnya ikut. Daripada hanya sarapan roti."
"Aku tidur larut, semalam."
"Ngomong-ngomong, karena saran latihanmu kemarin, aku jadi tidur nyenyak karena kelelahan. Terima kasih." ucapnya tulus.
Hiruma menyeringai, lalu terkekeh. "Heh, padahal aku berniat mengerjai kalian."
"Lalu apa lagi yang akan kau katakan pada Pelatih?"
"Kali ini bukan untuk kalian para linemen sialan. Yaah, walaupun kalian juga nanti akan terlibat." dia lalu tersenyum memamerkan giginya. Darren hanya memasang wajah bertanya dan Hiruma yang langsung mengerti lalu menambahkan, "Lihat saja nanti."
Lift berbunyi dan pintunya lalu terbuka. Mereka melihat Risa sudah berdiri di sana. Risa memang tinggal di asrama ini yaitu di lantai paling atas, lantai tujuh. Risa bekerja di bagian promosi tim dan yang mengurus segala keperluan pemain.
Risa tersenyum kepada Darren dan Hiruma. "Hai Darren-san, Hiruma-san." sapanya lalu melihat ke jam tangan. "Sebentar lagi latihan dimulai." lanjutnya.
Darren hanya tersenyum karena tidak mengerti apa yang dikatakannya, dan Hiruma diam tidak membalas ucapannya.
"Oh, Hiruma-san." sahutnya menengok ke Hiruma yang sudah berdiri di sebelah kirinya. "Kau sudah menelepon Mamori-san?" tanyanya.
Hiruma menoleh ke bawah dan memandang tajam ke Risa, "Apa urusanmu, heh?"
Risa tersenyum, "Aku cuma mau tahu apa dia masih mau bicara denganmu atau tidak."
Hiruma kembali melihat ke depan sambil berpikir apa maksud dari ucapan Risa barusan. Apa yang telah dilakukannya. Hiruma sama sekali tidak tahu.
Mereka sudah sampai di lantai dasar lalu menuju gedung utama tempat ruang audiovisual berada. Risa memisahkan diri menuju tempat parkir untuk pergi ke suatu tempat. Dia lalu menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.
"Aku rasa kau harus mengecek ponselmu, Hiruma-san." katanya agak keras agar Hiruma bisa mendengar.
Hiruma tidak menggubrisnya dan terus berjalan menuju gedung utama.
"Sampai nanti Darren-san." sahutnya kepada Darren yang sudah menengok dan tersenyum kepadanya.
Risa pun melanjutkan jalannya sambil tersenyum puas. Dia merogoh buku catatan dari tas tangannya dan merobek selembar kertas yang berisi tulisan di dalamnya.
SD dan TK Himawari. Chiba-shi, Pref. Chiba.
Dia tersenyum lagi sambil masuk ke dalam mobilnya, dan berharap kali ini rencananya akan berhasil.
.
.
Walaupun Hiruma terkesan tidak peduli dengan perkataan Risa tadi, sebelum masuk ke ruang audiovisual, Hiruma merogoh ponsel di kantong jaketnya. Dia berhenti di depan pintu sedangkan Darren sudah masuk terlebih dulu. Hiruma berjalan beberapa langkah ke pojok lorong menuju jendela sambil mencari di panggilan terakhir nomor telepon Mamori.
Hiruma menempelkan ponsel ke telinganya.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan..."
Hiruma menatap ponselnya. Dia tidak pernah mendapati ponsel Mamori yang tidak aktif. Apalagi sekarang siang hari, di sela waktu Hiruma meneleponnya, saat dia yang baru akan memulai latihan, dan Mamori yang sudah selesai mengajar.
Hiruma menelepon Mamori lagi, namun tetap tidak aktif. Dia lalu mencoba mengirim pesan ke Mamori. Setelah terkirim, dia membuka kotak pesan terkirim. Saat itu dia melihat satu pesan di bawah pesan yang baru dikirimnya tadi, sebuah pesan bergambar yang dikirim untuk Mamori. Hiruma ingat dia tidak pernah mengirim pesan itu tadi pagi, lagipula dia masih tidur. Lantas siapa?
Hiruma membuka pesan itu. Dia langsung kaget dan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Sebuah foto dirinya yang sedang tidur menghadap samping, dengan Risa yang terbaring di depannya dan hanya mengenakan pakaian dalam. Foto itu diambil oleh Risa sendiri dengan dirinya yang tersenyum dan Hiruma yang tertidur di sampingnya dengan jarak yang sangat dekat, bahkan bisa dibilang tubuh Risa hampir menempel di pundaknya. Dia membaca tulisan di bawahnya.
Pagi, Mamori-san. Hiruma-san sulit sekali dibangunkan ya? Sepertinya dia kelelahan sekali karena bersenang-senang denganku semalam. Nah, kalau begitu, sampai nanti Mamori-san ^.^
Hiruma menatap foto itu lagi. Dia tidak bisa berpikir, segala pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya. Dia masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Dan inikah alasan kenapa Mamori mematikan ponselnya?
Hiruma lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong.
"Brengsek." ujarnya, sambil berjalan ke ruang audiovisual.
Dia sudah sangat geram sekarang. Risa sudah kelewat batas, dan tentunya Hiruma tidak akan lagi diam menghadapi kelakuan Risa sekarang. Dia akan bertindak, dan membuat Risa menyesali apa yang diperbuatnya selama ini kalau berani macam-macam dengan dirinya.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Waaah, sepertinya banyak yang ga suka, atau bahkan benci sama karakter Risa disini. Sampai ada yang mau dia mati juga. Duuh... Tapi saya rasa, chap ini pun bikin kalian tambah sebal dengan kelakuan Risa, dan saya yakin kalian pasti akan menyumpah serapah si Risa ini. Hahaha...
Si Risa, kayak cewek kurang kerjaan aja ya, gangguin Hiruma-Mamori terus. Yah, ga apa-apa deh. Kalau dia ga kayak begitu, ceritanya ga akan seru XD ! Lagian, itu kenapa Hirumanya kebo banget yaa, ada orang masuk ke kamarnya dia ga sadar =.=" (siapa sih yang bikin? XD)
Btw, gimana? Hiruma udah ga terlalu OOC kan di chap ini? (Iyalah, dia kan lagi ga sama Mamori) Saya kan juga kangen sama Hiruma yang dijuluki, seperti kata Devil's long leg-san 'Commander From Hell' ! saya akan mengembalikan Hiruma ke posisinya nih di chap ini Devil-san... XD
So guys, please Read and Review ^o^
Salam: De
