Chapter 7
.
.
Mamori menatap keluar jendela dari kantor gurunya. Dia merasa lega karena murid-murid sudah pulang tadi sebelum salju turun. Sekarang pun dia belum juga ingin pulang dan masih ingin berada di kantornya. Dua guru yang lain pun belum ada yang pulang, karena memang mereka masih betah, sama seperti Mamori. Mamori memandang keluar ke depan pintu masuk, dia teringat tahun lalu saat dia baru pertama kali pindah kesini, Hiruma menjemputnya di depan pintu masuk SD. Hiruma pikir pintu masuknya sama, jadi dia menunggu disana hampir satu jam. Mamori meneleponnya berkali-kali karena khawatir Hiruma tidak datang-datang. dan teleponnya tidak juga dijawab. Mamori sangat panik dan akhirnya memutuskan untuk mencari Hiruma. Akhirnya, saat keluar pintu gerbang TK dan belok ke tikungan, Mamori melihat mobil Hiruma terparkir disana, di samping pintu masuk SD dan melihat Hiruma tertidur di dalam mobil. Perasaan ketakutan dan lega bercampur disana, dia mengatur kembali napasnya di tengah dinginnya salju yang turun kian lebat. Mamori mengetuk kaca mobil di samping Hiruma, dan melihatnya membuka matanya perlahan.
Hiruma kaget melihat wajah Mamori dan langsung keluar dari mobil. "Kenapa kau menangis, bodoh!"
Itu yang Mamori dengar saat Hiruma sudah berdiri di depannya. Mamori sendiri tidak sadar kalau ternyata air mata sudah tergulir dari ujung matanya. Dia lalu mengusap air matanya itu.
"Apa yang terjadi? Kau terluka, heh?" tanya Hiruma lagi.
Mamori menggeleng, lalu tersenyum memandang Hiruma, "Lain kali, jawab teleponmu. Jangan tertidur."
"Aku tidak membawa ponsel." jawab Hiruma, "Lalu kenapa kau menangis?"
Mamori masih bisa melihat wajah cemas Hiruma, yang hanya bisa diketahui Mamori. "Lain kali jangan lupa membawa ponselmu."
"Aku tahu, sialan." jawab Hiruma cepat, "Oh, sial Mamori, jawab aku kenapa kau menangis?"
Mamori tahu Hiruma tidak bisa menghadapi Mamori kalau dia sudah menangis seperti ini. Hiruma menangkup kedua pipi Mamori sambil mengusap air mata yang ternyata masih terus mengalir perlahan dari matanya. Mamori hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah Hiruma. Dia tidak akan mengatakan pada Hiruma alasannya. Ya, dia tahu Hiruma pasti akan terkekeh dan meledeknya kalau tahu Mamori mengkhawatirkannya sampai menangis seperti ini. Jadi dia tetap membiarkan Hiruma sibuk mencemaskan kenapa Mamori menangis saat itu.
Mamori tersenyum sendiri mengingat kejadian itu. Setelah itu, dia memberitahu Hiruma kalau pintu masuk TK itu berbeda, dan terletak setelah tikungan di samping pintu masuk SD. Karena itulah kenapa Mamori tidak bisa melihat mobil Hiruma datang tadi. Dia juga berpesan agar Hiruma selalu membawa dan menjawab ponselnya. Atau setidaknya mengirim pesan kalau dia tidak sedang bisa menjawabnya.
"Anezaki-san," Mamori berbalik melihat ke pintu masuk kantor dan ternyata ada Sato yang memanggilnya, "Ada yang mencarimu."
Mamori kaget melihat seseorang yang berdiri di di belakang Sato. Dia lalu menghampiri mereka dan tersenyum. "Terima kasih Sato-san."
"Kalau begitu aku tinggal dulu." katanya dan berbalik lalu tersenyum kepada wanita di belakangnya.
"Terima kasih." ujar wanita itu.
Mamori tersenyum kepadanya setelah Sato meninggalkan mereka berdua. "Ada apa kau mencariku, Risa-san?"
Mamori tidak bertanya kenapa Risa sampai tahu tempat dia bekerja. Hiruma tidak mungkin memberitahunya. Jadi Mamori tidak akan menanyakannya kepada Risa.
"Oh, untung aku bisa menemukanmu disini Mamori-san. Kalau tidak, aku bingung harus mencari kemana." ujarnya, lalu menambahkan, "Bisa kita bicara sebentar?"
.
.
Sudah hampir tiga jam di sela waktu Hiruma latihan, dia mencoba berkali-kali menghubungi Mamori namun teleponnya masih juga tidak aktif. Hari ini hanya latihan sampai jam empat sore karena besok akan ada pertandingan, agar pemain bisa istirahat dan tidak keletihan. Walaupun pikirannya sedang jauh memikirkan Mamori, namun dia tetap berusaha fokus di latihannya. Namun dia tidak jadi memberi latihan khusus untuk Yamato. Persetan dengan itu, dia saat ini lebih peduli dengan Mamori, yang sampai latihan selesai pun, tetap tidak bisa dihubungi.
Dia ingin sekali pergi menemui Mamori sekarang. Namun klubnya punya peraturan sendiri yang melarang pemainnya untuk keluar malam, hal itu mencegah agar mereka tidak membuat keonaran jikalau mereka mendatangi klub malam atau tempat-tempat hiburan malam lainnya. Intinya, mereka harus selalu menjaga kebugaran untuk tidak merokok dan mabuk-mabukan, apalagi menciptakan skandal dengan bermain-main bersama wanita malam. Seandainya tidak ada peraturan itu pun, pemain juga tidak ada yang hobi merokok atau mabuk-mabukan, sebagian dari mereka juga ada yang sudah punya kekasih atau beristri, jadi peraturan malam seperti itu, dari dulu Hiruma selalu berpikir kalau itu sama sekali tidak perlu dan tidak berguna.
Mereka juga hanya diberi izin untuk keluar pagi hari sampai waktu latihan, serta Jum'at sore, mereka diizinkan keluar menemui keluarga mereka dan kembali lagi Sabtu besoknya untuk latihan. Hiruma tidak pernah memanfaatkan waktu tersebut untuk bertemu dengan Mamori. Toh pagi hari Mamori sedang mengajar, dan saat Jum"at sorenya, waktu itu kadang dia gunakan untuk bertemu dengan Mamori. Namun menurutnya, waktu sesingkat itu tidak cukup baginya untuk bersama Mamori, jadi dia lebih memilih menunggu pada minggu ke empat saat pemain diberi waktu berlibur dari hari Kamis setelah latihan, sampai hari Minggu siang. Itu pun kalau mereka tidak ada jadwal pertandingan. Kalau ada, mereka harus melupakan rencana-rencana liburan mereka pada waktu libur itu.
Hiruma duduk di bangku menghadap jendela di kamar asramanya. Dia mencoba menghubungi Mamori lagi, namun jawabannya tetap sama. Hiruma sungguh tidak tahan dengan keadaan ini. Mamori pasti marah kepadanya dan mematikan ponselnya. Hiruma bahkan belum menjelaskan apa pun kepadanya, seharusnya Mamori mendengarkan Hiruma dulu sebelum membuat keputusan. Hiruma tahu Mamori bukan wanita seperti itu. Tapi mungkin kali ini Mamori sudah sangat kesal sehingga tidak membutuhkan penjelasan apa-apa dari Hiruma. Hiruma sangat ingin menemui Mamori dan menjelaskan foto itu, tapi besok dia ada pertandingan dan Pelatih pasti tidak akan memberikannya izin. Bagaimana pun, walau dia sangat bisa mengancam Pelatihnya itu, dia sangat menghormatinya dan tidak ada niat sedikit pun untuk melanggarnya.
Akhirnya, karena tidak ada yang bisa dia lakukan lagi. Hiruma lalu berdiri dan melempar ponselnya ke atas ranjang. Dia lalu menutup dan mengunci pintu kamarnya. Dia berjalan ke arah lift sambil melempar-lempar kunci di tangannya dan tersenyum penuh kelicikan. Ah Ya, dia akan menjalankan semuanya, dia sudah menunggu dan menyiapkan segala sesuatunya. Dia tidak akan bermurah hati sekarang. Karena nasehat pacar sialannya itu setiap hari, Hiruma jadi melupakan kegiatannya dulu dan tidak mengancam orang-orang di sekitarnya. Namun kali ini, dia akan melupakan semua celotehannya itu. Hiruma masuk ke dalam lift dan menekan tombol tujuh.
.
.
Risa merogoh kunci pintu kamar asramanya dengan kasar sambil memasuki lift. Dia menggerutu sepanjang jalan. Wanita yang ditemuinya tadi sangat membuatnya kesal. Pasangan bodoh itu, Risa sungguh tidak tahu harus melakukan apa lagi agar mereka berpisah. Tidak seperti Taka dan pasangan yang lain, yang satu ini tidak mudah. Hal omong kosong yang mereka sebut kepercayaan itu sangat sulit untuk dihancurkan.
Dari awal dia sudah curiga saat siang tadi dia datang menemui Mamori. Wajah wanita itu biasa saja. Tenang dan datar, seolah tidak terjadi sesuatu yang akan mengguncang jiwanya. Dia juga tidak terlihat kesal atau pun sedih saat melihat Risa datang. Dia bahkan masih menyapa Risa dengan senyumannya itu. Kalau memang saat itu dia sedang kesal, berarti Mamori sangat pintar menyembunyikannya. Sampai pada saat Risa menanyakan perihal foto yang dikirimnya tadi pagi. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan alasan konyol yang Mamori jawab saat itu.
"Ponselku?" tanya Mamori, kemudian dia tertawa pelan. "Ini lucu sekali, kau tahu, Oh ya ampun, aku malu untuk menceritakannya."
"Ada apa memang?" tanya Risa sudah sangat penasaran dengan keceriaan Mamori.
"Pagi itu aku sedang berada kamar kecil." Mamori tersenyum lagi membayangkannya. "Ponselku bergetar saat aku sedang memakai celanaku. Saat aku mau mengambil dari kantong rok, tanganku licin dan ponselnya tercebur ke dalam... Ya, kau tahu, ke dalam toiletnya." dan Mamori tertawa kecil lagi. "Ponselku langsung mati dan tidak bisa dinyalakan sampai sekarang."
Risa mendengus sambil masuk ke dalam lift. Apa-apaan alasannya itu? Bahkan Tuhan pun berpihak kepada mereka dan tidak mengizinkan Risa menganggunya! Dia masih kesal sampai saat ini. Bukan karena rencana fotonya itu yang tidak berhasil. Setelah itu pun dia melancarkan hasutan agar Mamori membenci Hiruma. Tapi dia hanya membalas dengan senyuman dan berkata kalau Hiruma tidak mungkin melakukan itu, dia percaya dengan Hiruma. Lelaki sialan itu. Dia tidak cocok untuk Mamori. Semua lelaki di sekitarnya tidak pantas mendapatkan wanita baik seperti Mamori. Mereka semua brengsek dan kasar, dan sangat tidak bertanggung jawab.
Dia sudah tiba di lantai tujuh. Di lantai ini hanya ada kamar dia dan kamar peristirahatan untuk Pamannya yang kadang berkunjung kesini. Desain kamarnya pun berbeda dari lantai satu sampai enam yang disusun menjadi empat kamar. Di lantai tujuh ini hanya ada dua kamar, jadi saat ini, lantai ini adalah miliknya. Karena itu, dia sangat kaget mendapati Hiruma sedang berdiri di samping pintu kamarnya. Risa menenangkan langkahnya. Dia berusaha tidak panik melihat Hiruma, dan sepertinya Hiruma sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada ponsel Mamori. Jadi Risa masih punya harapan untuk mengendalikan Hiruma agar dia meninggalkan Mamori.
Risa tersenyum melihat Hiruma. "Ada apa Hiruma-san? Tumben sekali kamu kesini."
Hiruma tidak menjawab namun matanya masih terus menatap tajam Risa yang sedang membuka kunci pintu kamarnya.
"Kau mau masuk?" ajaknya walaupun saat ini dia ingin Hiruma menjawab tidak, namun ternyata Hiruma malah ikut masuk ke dalamnya. Risa lalu menutupnya lagi. "Kau ada perlu apa?" tanyanya sambil menekan saklar lampu di samping pintu sementara Hiruma hanya berdiri dan bersandar lagi di dinding sebelahnya.
Risa masuk ke dalam dan membuka jaket berbulunya lalu meletakan tas dan jaket itu ke atas sofa
"Kau sadar apa yang kau lakukan, heh?" tanya Hiruma akhirnya dia bersuara.
Risa menjatuhkan dirinya ke sofa sambil menyilangkan kakinya lalu menoleh dan tersenyum ke arah Hiruma. "Jadi, bagaimana? Apa dia menjawab teleponmu?"
"Sialan! Kau pikir aku akan diam saja sekarang?"
"Jadi kau kesini ingin mengancamku?" katanya tersenyum meremehkan. "Kita sudah punya kesepakatan kalau kau tidak akan membongkar rahasiaku, maka aku juga tidak akan membongkar rahasiamu, Hiruma-san."
"Persetan dengan perjanjian itu. Kau kira rahasiaku bisa membuat orang-orang yang kau beritahu itu peduli? Dasar bodoh, saat kau menyebut namaku saja, mereka dengan sendirinya akan pergi tanpa sempat kau mengeluarkan kata-katamu."
Risa memandang kaget dan berusaha untuk mengembalikan ketenangannya, "Apa maksudmu? Mereka sudah pasti akan peduli kalau kubilang kau adalah lelaki jahat yang membeli senjata api secara ilegal. Kalau Pamanku tahu, kau pasti akan dipecat dari tim!"
Hiruma menyeringai, "Coba saja kau katakan pada Paman bodohmu itu. Kau tahu, aku baru-baru ini menemukan hal memalukan dari Pak tua itu." balas Hiruma. "Lagipula, asal kau tahu, senjata yang kumiliki legal dan aku punya izin kepemilikannya."
Risa berubah panik, "Tapi bagaimana? waktu itu kau bilang... kau jangan bohong! Kau bukan polisi atau semacamnya yang bisa dengan mudah punya senjata!"
"Oh, aku ingat waktu itu aku tidak menjawab apa-apa saat kau bertanya dulu. Kau tahu, Itu hanya kesimpulanmu sendiri. Dan aku, bukankah menarik saat aku yang mengetahui perilaku menyimpangmu dan membodohimu dengan membuat kesepakatan konyol itu?" ledek Hiruma. "Artinya, dari awal kesepakatan itu sama sekali tidak ada. Dan sekarang, hanya aku yang bisa berbuat sesukaku karena mengetahui rahasia sialanmu itu."
Risa menarik napas dan berhasil memperoleh ketenangannya kembali. "Jadi kau mau apa? Mengatakan kepada mereka kalau aku penyuka sesama jenis? Katakan saja, mereka pasti tidak akan percaya kalau aku yuri!"
Hiruma terkekeh dan menyebabkan Risa mendapati kepanikannya lagi. "Itu cuma buang-buang waktu. Dan aku juga tahu mereka tidak akan percaya mengingat kau yang terlalu provokatif terhadap semua lelaki sialan itu. Saat aku tahu pun aku tidak percaya kalau kau yuri sialan dengan penampilanmu yang seperti itu." jelas Hiruma. "Tapi disini, aku bukan ingin mengancammu. Aku hanya ingin memperingatkanmu."
"Cepat katakan apa maumu, brengsek!" geram Risa, sudah tidak tahan dengan keadaannya yang tersudut seperti ini.
Hiruma menyeringai sambil menatap saklar lampu di sampingnya. "Kau tidak bertanya kenapa aku sampai tahu kalau kau yuri? Apa kau tidak pernah berpikir kalau aku juga tahu alasan kenapa kau sampai seperti itu?" seringaian Hiruma belum hilang dan memandang lagi ke arah Risa, yang saat itu sudah terlihat ketakutan.
"Aku tidak peduli." jawab Risa ketus.
Hiruma memati-nyalakan saklar lampu perlahan dan berulang-ulang sambil berkata. "Apa kau ingat, di sebuah gudang... suasana yang gelap, penculikan. Kau yang berumur tiga belas tahun... lima orang pria yang tidak kau kenal. Aku yakin kau tidak akan bisa melupakan kejadian itu."
Jantung Risa sudah berdebar kencang dan tubuhnya sudah gemetar ketakutan. Lidahnya kelu dan dia sulit untuk menemukan kata-katanya. Dia tambah ketakutan saat Hiruma mematikan lampu kamarnya, dan berjalan perlahan menghampirinya.
"Apa maumu? Jangan macam-macam. Telepon di kamarku terhubung ke alarm penjaga asrama." gertaknya yang sudah bangun dari sofa dan berjalan mundur ke telepon di samping ranjang.
Hiruma terkekeh. "Sudah kuduga kau akan ketakutan seperti ini." ujarnya. "Tenang saja, aku tidak tertarik dengan tubuh ratamu. Kalau kau berani macam-macam padaku lagi, aku akan menyuruh orang-orang sialanku mengurungmu di suatu tempat, dan mereka akan dengan senang hati mengulang kejadian sepuluh tahun lalu itu. Bagaimana? Adil bukan?"
"Aku akan lapor polisi! Itu kejahatan!"
"Ngomong-ngomong soal kejahatan," Hiruma berhenti melangkah. "Aku tahu kau sering datang ke klub malam ilegal." tambahnya sambil melihat ke wajah Risa, lalu tersenyum menyeringai. "Jangan kaget begitu. Kau tahu sialan, aku punya banyak bukti dan bisa kapan saja aku serahkan kepada polisi. Dirimu, beserta teman-teman wanita mesummu itu."
Risa terbelalak dan melempar bantal dengan kasar ke arah Hiruma. "Brengsek kau Hiruma! Keluar. Dasar Kau iblis!"
Hiruma menyeringai dan senyuman setan terukir di wajahnya. "Apa kau tidak tahu, iblis adalah julukan orang-orang kepadaku." Hiruma tertawa lalu menambahkan. "Lain kali, ketahui dulu siapa lawanmu, sebelum kau berhadapan dengannya. Jangan, pernah, main-main, denganku, perempuan gila." lanjutnya dengan jelas.
"Kalian lelaki sama saja! Bejat! Brengsek!"
Hiruma tidak menggubris dan berjalan ke pintu. "Kalau sampai aku tidak bisa mendapatkan Mamori, ingatlah kata-kataku tadi. Jadi, lebih baik kau menyiapkan dirimu untuk menyenangkan mereka, karena mereka sudah siap menunggu perintahku." katanya lalu keluar dan menutup pintu.
"Tunggu, Hiruma!" teriak Risa mengejar Hiruma yang sudah berjalan ke lift.
Hiruma berbalik dan memandang tajam ke arah Risa.
Risa kembali dengan sikap arogannya dan berkata, "Sebelum kau bisa melaksanakan ancamanmu, aku sudah pergi dari sini. Karena aku yakin, Mamori tidak akan mau menemuimu. Dia belum menjawab teleponmu bukan?" Risa lalu tertawa dan tersenyum sinis. "Jadi, ucapkanlah selamat tinggal pada wanitamu. Dia sudah tidak menginginkanmu lagi, bahkan tidak ingin melihat wajahmu." gertak Risa sebagai ancaman terakhir, walaupun dia tahu apa yang dikatakannya belum tentu benar. "Dasar kau lelaki iblis!"
Risa lalu membanting pintunya lagi dan dengan cepat menguncinya sebelum Hiruma berhasil mengejarnya.
"Wanita sialan!" geramnya dan berbalik melanjutkan jalannya ke arah lift.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Wah, wah, wah.. Terlalu kejam ga sih Hiruma? Atau masih kurang kejam? Nah, saya juga nggak tega kalau bikin yang kejam-kejam banget. Kasihan kan Risanya.
Karena keasyikan baca novel, jadi lupa update. Hehe...
Well, cerita aneh, ga jelas, ga nyambung, OOC, Typo, pasaran, maafin yaa.. Maklumin aja, author kan juga manusia XD
So Guys, please Read and Review ^o^
Salam: De
