WARNING: OOC yang kebangetan. Kalau ga OOC, bukan fic saya XD
So, this is the next chapter !
.
.
Chapter 8
Pertandingan selesai dengan hasil memuaskan. Di tengah keringat yang mengalir dan udara dingin yang hangat di siang hari ini, Hiruma dan kawan-kawan berhasil memenangi pertandingan dengan skor 18-15. Mereka semua menikmati kemenangan mereka, namun tidak Hiruma. Selama pertandingan tadi dia memang cukup profesional bermain tanpa melibatkan masalah pribadi yang sedang dihadapinya. Setelah bicara dengan Risa kemarin sore, Hiruma sama sekali tidak bisa tidur dan terus mencoba menghubungi Mamori, namun hasilnya tetap sama. Hiruma sudah memikirkan untuk menelepon rumah Mamori, tapi dia merasa itu tidak perlu, toh Mamori tidak pernah pulang ke rumah saat di hari dia bekerja. Tapi setelah dia selesai ganti baju di ruang loker nanti, dia akan menelepon rumah Mamori, dia sama sekali belum tenang kalau belum bisa bicara dengan Mamori.
Seperti yang sudah Hiruma perkirakan, Risa tidak datang ke pertandingan ini Penjaga asrama sekaligus 'kaki tangan'nya pun bilang, kalau dia sudah meninggalkan arama pagi-pagi sekali. Sepertinya ancaman Hiruma kemarin berhasil dan Risa membuktikan kata-katanya kalau dia akan pergi. Entah dia akan pergi sementara atau selamanya. Selama dia tidak mengganggu Hiruma lagi, dia tidak mau repot-repot mengurusi Risa.
Tampaknya, anggota yang lain pun sudah tahu kalau Risa sudah meninggalkan asrama. Mendengar berita itu, mereka sepertinya sedikit merasakan angin segar. Sejauh ini memang hanya Hiruma yang tahu rahasia Risa, alasan anggota lain tidak suka dengannya karena dia sudah merusak hubungan mereka dengan kekasih-kekasihnya, tanpa ada alasan yang jelas. Dugaan awal mereka tentang kelakuan Risa adalah karena Risa menyukai atau ingin merebut mereka dari kekasih-kekasihnya. Namun, setelah hubungan mereka hancur, Risa juga berhenti mengganggu mereka dan tidak gencar mendekatinya lagi, tidak seperti waktu mereka punya kekasih dulu. Dari hasil pengamatan Hiruma, ada tiga orang termasuk Taka yang berpisah dengan kekasihnya akibat ulah Risa. Karena itu, Taka sangat membencinya. Dan kabar mengenai kelakuan Risa itu, sudah menjadi omongan dan hiburan bagi anggota tim. Selain itu kebanyakan dari mereka bahkan sudah tidak perlu berpura-pura bersikap ramah, yang sudah menjadi korbannya pun bahkan sangat ketus kepada Risa.
"Tahukah kau Hiruma, sudah berapa kali aku memanggilmu daritadi?" keluh Yamato, yang sudah berdiri membelakangi Hiruma, sambil mengambil baju ganti dari dalam loker.
Hiruma yang sedang membuka sepatunya, lalu beganti untuk membuka sepatu kaki kirirnya. Dia lalu berdiri dan memasukkan sepatu ke dalam tas dan mengambil baju ganti, kemudian duduk lagi sambil membuka pelindung pakaian dan lututnya.
"Kau benar-benar tidak mendengarku ya, Hiruma?" tanya Yamato lagi, "Hei, Hiruma!" ujarnya persis di telinga Hiruma ketika dia duduk dan memakai sepatunya.
Hiruma melotot ke samping. "brengsek!" geramnya. "Apa maumu!?"
Yamato tersenyum polos seakan tidak melakukan hal mengesalkan itu, "Mauku banyak. Pertama, aku menegurmu saat kau melakukan kesalahan di pertandingan tadi, tapi kau tidak dengar. Yang kedua, tali sepatumu lepas di lapangan tadi, tapi kau juga tidak mendengar. Dan sekarang, aku bilang aku minta plestermu, tapi kau juga tidak dengar."
"Brengsek kau, rambut sialan. Ambil sendiri di tasku." keluhnya tambah parah.
Yamato tidak memedulikan perkataan Hiruma, lalu bangkit merogoh tas Hiruma. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Yamato.
"Bukan urusanmu sialan." balas Hiruma mengganti bajunya dengan kaos hitam.
Yamato duduk lagi di samping Hiruma sambil memasang perban dan plester di lengannya. "Apa Mamori-san meninggalkanmu?"
"Menurutmu begitu?"
Yamato mengangguk, "Menurutku begitu. Sepertinya kau sudah menggertak Risa-san dan dia sudah melakukan hal yang membuatmu kesal." jelas Yamato. "Lebih baik kau obati lengan dan pipimu. Apa kau juga tidak sadar kalau terluka?" Yamato lalu memberikan perban miliknya dan plester.
Hiruma melihat ke lengan atasnya dan melihat ada luka gores yang cukup panjang dengan darah yang sudah kering bercampur keringat dan debu. Hiruma mengelapnya dengan handuk lalu menutupnya dengan sedikit perban dan plester. Dia tidak menutup luka di pipinya karena setelah melihat ke cermin, lukanya tidak separah lengannya dan hanya dia basuh dengan kain basah.
"Heh, kau kenapa Hiruma? Untungnya cuma aku dan Yamato yang menyadari kebodohanmu di lapangan yang tidak fokus seperti orang bodoh itu." sindir Taka.
Hiruma tidak menggubrisnya. Memang, kalau dilihat Hiruma memang bermain seperti biasa dan profesional, namun Taka dan Yamato yang sudah mengenal Hiruma dari masa kuliah, bisa melihat keanehan Hiruma di lapangan tadi. Hiruma memang berteriak dan memaki seperti biasa, penuh siasat dan taktik di lapangan, tapi saat tidak ada yang melihatnya, Hiruma menghela napas dan pikirannya sekian detik melayang entah kemana, kemudian kembali fokus lagi. Mereka tidak akan bertanya lebih jauh tentang apa yang terjadi, tapi mereka bisa menebak kalau ini ada hubungannya dengan Mamori.
"Temui saja dia jika kau khawatir begini." tambah Taka.
"Siapa yang khawatir bodoh."
Taka tersenyum meledek, "Kau tidak dengar ya tadi setelah pertandingan Pelatih bilang apa?"
Hiruma memandang waspada ke arah Taka, "Apa, heh?"
"Dia memberikan kita libur besok. Karena hari Jum'at, waktu libur kita ditahan karena kita akan ke Osaka sampai hari senin untuk latih tanding. Jadi kenapa kau tidak pergi menemui Anezaki-san sekarang?"
"Sialan kau. Harusnya kau bilang dari tadi." keluhnya lalu mengambil secara kasar tas ranselnya karena dia memang sudah selesai berganti.
"Seharusnya kau mendengarnya tadi. Dasar bodoh." balas Taka. Yamato hanya tersenyum melihat tingkah Hiruma yang sudah keluar meninggalkan ruang loker.
.
.
Setelah itu Hiruma melesatkan mobilnya untuk menemui Mamori. Sekarang sudah jam dua, pasti Mamori sudah ada di mansionnya. Akhirnya Hiruma menuju mansion Mamori yang memakan waktu satu jam lebih dari stadionnya sekarang.
Setibanya di tempat parkir mansion Mamori. Hiruma diam sesaat untuk berpikir dan menyiapkan kata-kata saat bertemu Mamori nanti. Bisa saja Mamori marah, atau menangis. Atau kemungkinan buruknya, dia tidak mau menemui Hiruma. Ya, Hiruma harus bersiap dengan itu.
Akhirnya setelah menetapkan hatinya, Hiruma melangkahkan kaki keluar lalu menutup pintu mobilnya. Dia masuk ke dalam dan naik ke lift lantai tiga tempat kamar Mamori berada. Sesampainya di depan kamar Mamori, Hiruma terdiam lagi memandangi pintu beberapa saat lalu menekan belnya. Tiga kali hiruma sudah membunyikan bel pintu, namun tidak juga dibuka oleh Mamori.
Hiruma berniat menekan bel lagi, namun seseorang di belakang Hiruma, seseorang yang berada di kamar di seberang kamar Mamori melongokan kepalanya, "Maaf..." ujar wanita tiga puluh tahunan itu dengan ragu karena melihat rambut pirang Hiruma, yang terlihat mengancam.
Hiruma menoleh dan melihat wanita itu yang masih ragu-ragu lalu menambahkan, "Anezaki-san sepertinya belum pulang. Aku belum mendengar suaranya membuka pintu dari tadi."
Hiruma berbalik lalu mengangguk berterima kasih. Setelah itu, dia menuju tempat TK Mamori. Seperti yang Hiruma duga, TK-nya sudah sepi. Tapi masih ada beberapa anak SD sedang bermain bola saat Hiruma lewat tadi. Hiruma bingung harus kemana dan bertanya pada siapa. Dia lalu berjalan ke lorong yang menghubungkan TK dan SD, dia masih bisa melihat ada guru-guru di ruang SD tersebut. Saat ingin mengetuk pintu kantor itu, seseorang menyapanya dari belakang.
"Maaf, anda mencari siapa?"
Hiruma menoleh mendapati guru perempuan berambut hitam panjang dengan poni penuh menutupi dahinya. Dia tersenyum kepada Hiruma.
"Aku mencari guru TK." Hiruma menunjuk ke samping dengan jempolnya ke TK di sebelah, "Anezaki Mamori."
Guru itu tersenyum lagi, "Oh, Anezaki-san. Aku melihatnya sudah pulang tadi. Dia langsung pulang saat selesai mengajar."
Hiruma mengangguk dan berniat untuk pergi, namun guru itu bertanya. "Apa anda..." ucapnya ragu, "Pacar Anezaki-san yang atlet American Football itu?" katanya melihat luka di pipi Hiruma.
Hiruma diam sesaat. Bukan karena pertanyaan guru itu, tapi karena dia bisa merasakan orang-orang di dalam kantor itu langsung melihat ke arahnya. Seolah kaget mendengar pertanyaan itu dan menunggu jawaban dari Hiruma.
Hiruma mengangguk lagi dan dia sangat yakin, dia bisa melihat dari jarak pandang matanya, kalau guru-guru di dalam memandang tidak percaya, bahkan ada yang menghela napas kecewa. Memang harus berapa orang lagi yang kaget dan tidak percaya kalau mereka adalah sepasang kekasih, bahkan untuk orang yang baru dikenalnya? Pikir Hiruma.
"Aku permisi dulu." sahut Hiruma dan pergi meninggalkan depan kantor yang masih dalam keadaan heboh dengan berita yang baru saja didengar oleh mereka.
Hiruma bersandar di samping pintu mobilnya. Dia menengadahkan kepalanya ke atas dan melihat salju yang perlahan turun. Dia menangkap satu butiran salju di atas tangannya, memandanginya sampai itu mencair, dan menghancurkan tetasan lainnya yang jatuh ke sana. Hiruma merogoh ponsel di saku jaketnya dan mencoba menghubungi seseorang.
"Halo Anezaki-san."
"Oh, Nak Youichi." sapa Anezaki Mami yang terdengar ramah dari seberang teleponnya.
"Apa Mamori ada disana?" tanya Hiruma tanpa basa-basi.
"Mamori?" ulangnya bingung. "Dia tidak ada disini. Apa dia tidak ada di mansionnya?"
"Aku sudah kesana, tapi dia belum pulang. Aku ke TK-nya, guru-guru di sana bilang Mamori sudah pulang."
"Oh ya ampun." kali ini terdengar kepanikan dari suaranya. "Kau tidak meneleponnya? Oh, tapi tadi pagi sekitar jam sepuluh dia menelepon ke rumah."
"Ponselnya tidak bisa dihubungi."
"Ah, ya. Dia tadi menelepon dengan telepon di kantornya. Aku tidak tahu kalau ponselnya tidak aktif. Kau sudah mencobanya lagi?"
"Aku sudah mencobanya dari kemarin, tapi selalu tidak aktif."
"Baiklah Nak Youichi. Kalau nanti Mamori telepon aku akan mengabarimu."
"Terima kasih Anezaki-san. Sampai nanti." Hiruma menutup teleponnya lalu menghela napas panjang.
Dia tidak tahu kemana lagi harus menelepon mencari Mamori. Dia tidak tahu nomor telepon kedua teman Mamori, Sara dan Ako. Dia sama sekali tidak mengenal teman-teman Mamori yang lainnya. Dia juga tidak ingin menelepon si gila skate sialan itu. Dia terlalu berisik. Dan sekarang, dia hanya mengirim pesan kepada Suzuna untuk memberinya kabar kalau dia bertemu atau melihat Mamori.
Hiruma melihat jam di ponselnya. Sudah hampir jam lima, dan dia berpikir untuk kembali ke mansion Mamori. Setelah sampai di sana, dia memarkirkan mobil dan menunggu Mamori. Dia keluar mobil dan melihat ke atas ke kamar Mamori yang terlihat masih gelap. Dia lalu masuk kembali ke dalam karena udara yang dingin dan menunggu disana.
Hampir jam tujuh malam, Hiruma sangat lelah dan hampir gusar karena Mamori tidak juga kunjung pulang. Dia belum makan seharian dan akhirnya berniat untuk kembali ke apartemennya sendiri.
.
.
Satu jam dia sampai di apartemennya dan memarkirkan dengan malas mobilnya. Enam jam dia sudah mencoba mencari Mamori, namun dia tidak berhasil menemuinya. Hiruma sudah sampai di depan pintu kamar dan berniat untuk membuka kuncinya. Namun, dia tidak berhasil memutarnya ke belakang karena memang pintunya tidak dikunci. Dia membukanya perlahan dan melihat lampu-lampu di serambi dan lorong yang menyala.
Hiruma menutup pintu lalu menunduk. Dia melihat sepasang sepatu yang sudah sangat dikenalnya. Entah apa yang dirasakan Hiruma saat itu, yang dia tahu ketakutannya sudah menghilang dan berganti dengan kelegaan yang mendalam. Napasnya yang sedari tadi tertahan akhirnya berjalan normal digantikan detak jantung yang masih berderu kencang. Hiruma berlari ke dalam menuju ruang tengah. Dia berhenti disana, berjalan perlahan ke sofa hitamnya. Dia melihat Mamori berbaring disana, tidur dalam kedamaian dan kehangatan jaketnya sendiri. Hiruma menunduk dan berlutut di depan Mamori, dia tersenyum, senyum tulus yang dia bersumpah tidak boleh ada yang melihatnya, tidak juga Mamori.
Hiruma membelai lembut rambut dan pipi Mamori yang masih terlelap. Dia selalu senang memandangnya yang tidur seperti ini, ditambah sekarang dia sangat bahagia mendapati Mamori disini, di tempat yang sama sekali tidak dia duga.
Mamori membuka matanya dan mengintip dari balik matanya. "Oh, kenapa kau ada disini?" tanya Mamori pelan masih dalam kantuknya dan dia bangun perlahan lalu melihat dengan jelas pipi Hiruma. "Kau terluka?" tambahnya lagi, sudah bangun sepenuhnya dan mengelus pipi Hiruma.
Mamori berniat bangun dan mengambil plester di kotak obat untuk Hiruma, namun dia menahannya. Hiruma masih bertlutut disana dan melingkarkan tangannya ke pinggang Mamori. Dia menenggelamkan kepalanya ke perut Mamori dan memeluknya erat, seolah dia tidak ingin melepaskannya. Mamori hanya menatap bingung bercampur cemas dengan tingkah laku Hiruma yang tidak biasa ini.
"Youichi, ada apa? Kau sakit?" tanya Mamori lembut.
"Bicaralah. Bicara yang wajar, agar aku tahu ini mimpi sialan atau bukan." jawab Hiruma.
Mamori memukul pelan lengannya dan Hiruma langsung meringis kesakitan. Dia hendak protes mendongak ke Mamori namun Mamori memasang wajah cemas lalu menyelanya. "Ada apa? Apa sesakit itu? Aku hanya memukul pelan."
Hiruma tidak jadi mengeluarkan kata-katanya melihat kepanikan Mamori. Ini nyata, dan bukan hanya khayalannya saja. Mamori berada disini, di dalam dekapannya. Hiruma menggeleng dan mencium bibir Mamori kencang. "Aku mencintaimu."
Mamori mengerjapkan matanya, "Oh, apa yang terjadi denganmu? Kau sakit? Kau pasti sakit Youichi." ujarnya membuat Hiruma memasang wajah bertanya sehingga Mamori menambahkan. "Pertama, kau memelukku seperti anak kecil begini, kedua kau memintaku untuk memukulmu, dan ketiga kau bilang kau mencintaiku. Ini aneh sekali Youichi. Aku sampai merinding."
Hiruma mendengarkan Mamori tapi dia tidak membalas kata-katanya. Dia lalu mengangkat Mamori dan membawanya masuk ke kamar. Dia membaringkan Mamori di atas ranjang dan Hiruma merangkak ke atasnya sambil membuka jaketnya.
Mamori melihat perban tipis di lengan Hiruma dan kekhawatirannya kembali muncul. "Oh, Tuhan... Kau terluka. Aku harus mengganti perbanmu." ucapnya cemas dan hendak melepaskan diri dari kedua lengan Hiruma namun dia menahan Mamori dengan ciumannya.
"Biar saja. Luka sialan ini tidak parah." ujar Hiruma, lalu kembali menyusuri mulut Mamori dan tangannya perlahan masuk ke dalam baju Mamori. Tangan Hiruma memang terasa dingin, namun Mamori bisa merasakan kehangatan di bibir Hiruma yang terus menciumnya seakan sudah menjadi sebuah kebutuhan untuknya. Wajah Mamori kembali panas merasakan tangan Hiruma yang sudah masuk ke dalam pakaian dalamnya, dan dia harus bersusah payah mengendalikan dirinya, terutama mengendalikan Hiruma yang terus melahapnya, karena Mamori begitu mencemaskan luka Hiruma.
Mamori menghentikan ciuman mereka dan menarik napas yang berat sambil menatap ke mata Hiruma. "Tapi aku harus tetap menggantinya. Berhenti dan tunggu disini." perintahnya tegas dan mendorong tubuh Hiruma dengan mudah agar dia bisa bangun dan keluar kamar menuju kamar mandi.
Lima menit kemudian karena dia tidak bisa menemukan plester dan perban yang pernah dia simpan di kotak obat di kamar mandi, Mamori membutuhkan waktu untuk mencarinya ke tempat yang mungkin Hiruma menyimpannya. Dia berhasil menemukannya di laci bawah dapur tempat alat-alat perkakas disimpan dan dia tidak hentinya mengeluh kenapa Hiruma menyimpannya di sembarang tempat seperti itu dan tidak menaruhnya ke tempat semula.
Mamori kembali dan mendapati Hiruma sudah tertidur terlentang disana. Mamori tersenyum dan duduk di ranjang sambil membangunkan Hiruma pelan. Hiruma mengintip dan melihat Mamori duduk di sampingnya. Dia lalu mendekat dan menaruh kepalanya di atas pangkuan Mamori kemudian kembali tidur. Mamori menggelengkan kepala dan mengganti perban itu perlahan karena sepertinya Hiruma sangat kelelahan hari ini.
Setelah selesai, Mamori menaruh gunting, perban, dan plesternya di meja samping ranjang, lalu mengangkat Hiruma perlahan agar Mamori juga bisa ikut tidur. Hiruma memang tertidur, tapi entah bagaimana dia bisa menyadari Mamori yang bergerak menggeser tubuhnya untuk berbaring di sebelah Hiruma dan Hiruma langsung mendekat lagi, menaruh kepalanya di atas pundak Mamori dan memeluk pinggangnya.
"Kau ini kenapa Youichi..." sahut Mamori lembut.
"Aku hampir kehilanganmu." jawab Hiruma. Mamori memandang bingung wajah Hiruma di sebelahnya. Entah Hiruma mengigau atau tidak, tapi Mamori senang Hiruma bertingkah seperti ini. Seolah dia dibutuhkan dan Hiruma tidak mau kehilangannya.
Mamori bergerak ke samping menghadap tubuh Hiruma dan Hiruma mengencangkan pelukannya seakan Mamori bergerak untuk menjauh darinya. Mamori mendekap Hiruma ke dalam pelukannya. Hal ini sangat tidak biasa bagi Mamori, karena biasanya Hiruma lah yang selalu mendekapnya dan Mamori menaruh kepalanya ke dalam dada Hiruma. Tapi sekarang Mamori lah yang melakukannya untuk Hiruma.
"Aku disini. Dan aku menyayangimu." balasnya, dan Mamori bisa merasakan kelegaan Hiruma disana, mendekapnya agar Mamori selalu di sisinya.
""Itu pasti. Kau tidak boleh tidak melakukannya." ujarnya lagi, dan kali ini Hiruma sudah tertidur pulas sambil memeluk erat Mamori.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Ampun, lagi-lagi Hiruma bukan 'Hiruma baget'. Tapi gimana, saya suka buat Hiruma yang seperti itu~!
Buat Vita-san. Coba baca chapter 7 nya lagi, di situ Mamori nangis-nangis saat kejadian tahun lalu. Jadi ga ada hubungannya sama yang sekarang :)
So, guys.. gimana chapter ini? Puas kah? Aku harap tidak ada keluhan XD
dan jangan lupa... review-nya guys. Oh, Terima kasih buat yang mem-favorite dan mem-follow cerita saya. Terima kasih juga buat Reviewnya. Maaf menunggu lama (ga terlalu lama juga kayaknya, kalian aja yang terlalu penasaran kali ya) Hehe, jadi dimohon bersabar juga buat chaper berikutnya.
Nah, Please Read and Review ^o^ ~!
Salam: De
