WARNING: A Little Bit LEMON !
Nah, tidak sesuai janji (saya kayaknya ga nepatin janji terus deh), di chap ini, rate-nya berubah jadi M. Cuma sedikit sih... Kalo ada yang masih belom gede atau bagi pembaca yang belum cukup umur, lebih baik di skip aja deh...
Jadi... SKIP sampai ada tanda STOP !
.
.
Chapter 9
.
.
=========SKIP=========
Mamori mengerang. Dia merasakan sesuatu yang hangat di dalam dirinya. Mimpi yang terasa sangat nyata. Hiruma mencium bibirnya sangat lembut dan penuh kehangatan. Dia menjalar ke leher, bibirnya terus menelusuri sampai ke bawah dan berhenti di antara dadanya. Dia ingat dia memakai baju saat tidur tadi, namun sekarang dia merasakan kulitnya bersentuhan langsung dengan kulit Hiruma dan tangan Hiruma yang terus membelai setiap lekuk tubuhnya. Semuanya begitu nyata, sampai rasanya Mamori tidak mau untuk membuka mata karena merasakan kenikmatan yang memuncak seperti ini, dan Hiruma yang terus menerus menghujam masuk ke dalam dirinya.
=========STOP=========
Mamori membuka matanya tiba-tiba karena sesuatu yang hangat mengaliri ke dalam tubuhnya. "Kau bangun?" Mamori mendengar suara bisikan tepat di samping telinganya, dan ternyata Hiruma yang tergulai lemas jatuh di atas tubuhnya.
Mamori membelai rambut Hiruma. "Oh, ya ampun Youichi..." sahut Mamori, sudah sepenuhnya sadar dan menyadari kalau semuanya bukan hanya mimpi. Hiruma benar-benar sudah bercinta dengannya saat dia sedang tidur tadi, "Harusnya kamu membangunkan aku. Kamu bahkan tidak memakai pelindung."
Hiruma berguling ke samping sambil tetap memeluk Mamori dan menarik selimut sehingga menutupi tubuh mereka berdua. "Aku tidak tahan dengan tubuh sialanmu itu yang terus menempel padaku, bodoh."
Mamori menghela napas. "Itu bukan alasan."
"Nah, karena itu, jadilah milikku dan menikah denganku."
Mamori tersenyum, "Dasar... tanpa kau minta pun, aku selamanya milikmu."
"Kau mau?" tanya Hiruma. "Orang bilang aku tidak pantas untukmu. Kau terlalu baik dan aku bukan lelaki baik-baik. Yah, semacam omong kosong sialan seperti itu."
Mamori tersenyum lagi. Walau gelap, dia bisa melihat mata hijau Hiruma, dia lalu memandanginya sambil mengelus pipi Hiruma, "Sejak kapan kau mendengarkan mereka? Mereka tidak bisa melihat apa yang aku lihat dari dirimu, Youichi." balas Mamori, lalu menambahkan, "Kau itu orang yang peduli, perhatian, penyayang, baik, lembut―"
Hiruma menutup mulut Mamori dengan tangannya, "Stop. Lebih baik mendengar mereka bilang aku jahat daripada kau bilang hal omong kosong sialan itu tentangku."
Mamori tertawa. "Baiklah... Kau jahat dan aku akan tetap ingin menikah denganmu."
=========SKIP=========
Hiruma menyeringai, dan berguling sehingga dia berada di aras Mamori lagi. "Nah, karena kau sudah bangun seutuhnya, sekarang waktunya kau bertanggung jawab atas tubuhku." ujar Hiruma, lalu dengan perlahan menempelkan bibir mereka lagi. Mamori kemudian melingkarkan lengan ke leher Hiruma dan membalas ciumannya. Mamori memutar tubuhnya sehingga sekarang dia berada di atas Hiruma.
Mamori melepaskan ciumannya, lalu berkata. "Sekarang giliranku." ujarnya lalu tersenyum jahil.
Hiruma melotot, "Brengsek. Jangan coba-coba berani melakukannya."
Mamori hanya menjawab dengan senyumannya dan mencium Hiruma kencang. Hiruma mendesah melihat Mamori membelai tubuhnya dan perlahan turun menyusuri pinggul Hiruma. Dia memang tidak suka kalau Mamori yang memimpin percintaan mereka. Dia lalu menahan pinggang Mamori dan dengan segenap kendali yang masih dimilikinya, dia membalikkan tubuh mereka dan mendapati Mamori yang sudah berada di bawahnya lagi.
Hiruma tersenyum penuh kemenangan, "Kau tidak bisa macam-macam pada tubuhku, bodoh."
Mamori tertawa, lalu memeluk Hiruma lagi, membiarkannya mencium dan bermain dengan tubuh Mamori sepuasnya.
=========STOP=========
.
.
Mamori membuka jendela di jam enam pagi ini. Sebenarnya dia sudah bangun dari tadi dan ingin bersiap untuk berangkat kerja, namun Hiruma terus menarik dan menahannya agar dia kembali berbaring di sampingnya. Berkali-kali Mamori terus susah payah melepaskan diri dari dekapan Hiruma yang tertidur sambil memeluknya erat. Dia mulai mengajar jam setengah delapan nanti, jadi dia hanya punya waktu setengah jam untuk mempersiapkan diri. Dan dia juga terus mengingatkan dirinya agar tidak lupa membeli roti di tengah jalan nanti untuk mereka sarapan nanti.
Dia mengingat percakapannya kemarin dengan Hiruma. Apa benar Hiruma mau menikah dengannya? Mereka berdua memang saling mencintai dan sudah seharusnya mereka melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tapi pembicaraan kemarin, di tengah gairah yang sama-sama terbakar, Mamori tidak yakin kalau Hiruma benar-benar ingin menikah dengannya. Dia harus bertanya lagi pada Hiruma. Saat dia sudah bisa diajak bicara serius, sehingga Mamori bisa mempersiapkan segalanya untuk pernikahan mereka nanti.
Tiga puluh menit Mamori sudah siap dan Hiruma juga sudah bangun lima belas menit lalu. Mereka kemudian berjalan menuju tempat parkir untuk mengantar Mamori bekerja.
"Kenapa kau mematikan ponselmu, heh?" tanya Hiruma sambil menyetir mobilnya.
"Ponselku rusak, masuk ke dalam toilet. Kenapa memang?"
"Harusnya kau mengabariku lewat telepon lain, bodoh."
"Kenapa, biasanya juga kau jarang meneleponku. Jadi untuk apa.." protesnya. "Lagipula, aku tidak hapal nomormu."
Hiruma melotot, "Kau tidak hapal nomorku, heh?"
Mamori menggeleng.
Hiruma menatap sekilas Mamori lagi lalu kembali memperhatikan jalan. "Kau sudah lihat pesan itu?" tanya Hiruma hati-hati.
"Pesan apa?" tanya Mamori balik.
"Kau belum melihatnya?"
Mamori mengangkat bahu. "Aku tidak mengerti yang kau bicarakan. Ponselku rusak lusa kemarin. Memang pesan apa?"
"Bukan apa-apa." jawab Hiruma cepat.
Mamori memandang curiga. "Benarkah?" ujinya. "Oh, aku ingat. Lusa kemarin siang, Risa-san menemuiku dan bertanya tentang ponselku." tambahnya. "Apa semua ini ada hubungannya dengan dia?"
"Perempuan sialan itu menemuimu?"
Mamori mengangguk. "Memangnya dia tidak bilang padamu? Seharusnya dia bilang, dia juga tahu kalau ponselku rusak."
Hiruma mengeluh dan kesal mengingat kejadian itu. Ternyata perempuan sialan itu tahu tentang ponsel Mamoti tapi sengaja tidak memberitahunya dan malah memanas-manasinya, pikirnya. "Dimana ponselmu sekarang?"
"Sedang diperbaiki."
"Biar aku yang mengambilnya."
"Boleh saja kalau memang sudah bisa diambil."
"Akan aku buat mereka cepat membetulkannya." jawabnya, lalu terkekeh.
"Youichi..." pelotot Mamori, walaupun dia yakin Hiruma tidak akan peduli.
Hiruma yang tidak menggubrisnya, lalu berkata. "Aku akan ke rumah orangtuamu untuk membicarakan tanggal pernikahan. Setelah itu aku akan menjemputmu lagi."
Mamori terdiam sesaat, lalu tersenyum. Ternyata Hiruma masih ingat dengan apa yang dikatakannya semalam. Sepertinya kecemasan Mamori sama sekali tidak perlu. "Ayahku masih di kantor. Bagaimana kalau nanti sore? Aku jadi bisa ikut denganmu."
Hiruma berpikir sejenak, "Jangan. Kau tidak boleh ikut. Ini urusan antara aku dan orangtuamu."
"Memangnya kau menikah dengan orangtuaku." rajuk Mamori.
Hiruma tidak membalas. "Kau akan menyiapkan segalanya nanti. Jadi biarkan aku mengurus yang satu ini, bodoh."
"Apa maksudmu aku yang mengurus semuanya? Kamu pikir mengurus pernikahan itu hal mudah? Kau mau melepas tanggung jawab disini?" protesnya sambil melotot ke arah Hiruma.
"Bukan begitu bodoh. Besok sampai hari senin aku ke Osaka."
Mamori menghela napas, "Baiklah. Aku akan minta tolong Ako nanti."
.
.
Sepertinya memang mudah untuk meminta tolong sahabat baiknya Ako, karena Ako sendiri sudah tahu tentang hubungan mereka dan Mamori tidak perlu repot menjelaskan semuanya. Tapi saat dia menelepon Ako di jam istirahat tadi, ternyata dia sedang berada di Okinawa, berlibur ke rumah keluarga suaminya. Sedangkan Sara, dia masih di luar negeri menemani suaminya. Mamori punya banyak pilihan lain sebenarnya, yaitu teman-teman kuliahnya yang lain. Tapi mereka tidak tahu hubungannya dengan Hiruma. Jadi apa yang akan mereka katakan kalau tahu orang paling menyeramkan dan paling mengancam di kampusnya, berpacaran dengan Mamori selama tiga tahun dan tidak ada satu pun yang mengetahuinya. Mamori lebih memilih mereka semua kaget secara serempak saat menerima surat undangan nanti, daripada harus menerima satu per satu keterkejutan mereka karena disampaikan dari mulut ke mulut oleh teman-temannya.
Akhirnya Mamori akan menggunakan pilihan terakhirnya. Suzuna. Mamori siap menerima apa pun yang ingin disampaikan atau ditanyakan oleh gadis itu. Sebenarnya Mamori tidak tega kalau harus meminta tolong Suzuna untuk menemaninya. Dia sedang hamil tiga bulan. Tapi tidak apa, Mamori hanya ingin meminta tolong Event Organizer tempat Suzuna menyiapkan pernikahan dulu dan menyiapkan tanggal kosong untuknya. Mamori juga harus menunggu kabar dari Hiruma kapan tepatnya mereka akan melangsungkan pernikahan.
Menikah dengan Hiruma. Membayangkannya saja sudah membuat wajah Mamori memerah. Dia akan hidup selamanya bersama Hiruma, membangun keluarga mereka sendiri, dan mempunyai anak. Sungguh sebuah kebahagiaan untuk Mamori. Tapi rasanya belum lengkap. Sampai sekarang Mamori belum pernah bertemu dengan keluarga Hiruma. Dia hanya tahu, Ayahnya, Hiruma Yuya, tinggal di daerah Yokohama. Hiruma pernah memberitahu alamatnya karena Mamori memaksa waktu itu. Akhirnya, Mamori memutuskan akan memaksa Hiruma untuk berkunjung ke rumah Ayahnya hari ini.
"Tidak." jawab Hiruma tegas dan tidak memandang ke Mamori.
Mereka sudah di mobil, setelah Hiruma menjemputnya tadi untuk pulang ke mansion Mamori. "Kenapa? Aku ingin bertemu dengan Ayahmu."
Hiruma menyetir sambil terus memperhatikan kaca spion depannya dan melihat mobil biru tua ada di belakang mereka dan melihat seseorang dibalik kemudinya.
"Kau mengenal lelaki itu?"
Mamori menengok ke Hiruma dan menyusuri ke arah pandangnya. Dia ikut melihat dari kaca spion, lalu menoleh ke belakang sekilas. "Tidak. Kenapa memang?"
"Tidak apa-apa." jawab Hiruma. Dia melihat ke belakang lagi. Lelaki dengan topi hitam itu mengikuti mereka. Atau lebih tepatnya mengikuti Mamori, karena saat berangkat tadi pagi dari apartemennya, lelaki itu tidak mengikuti mereka dari sana. Hiruma baru melihatnya tadi pagi di depan restoran dekat TK Mamori, sedang duduk di balik kemudi mobil biru tuanya. Hiruma masih mengenali lelaki itu. Bukan karena penampilannya yang mencolok, tapi karena keberadaan lelaki itu yang memarkirkan mobil di restoran yang masih tutup, sungguh sesuatu yang aneh. Saat menjemput tadi pun Hiruma melihatnya lagi. Masih dengan pakaian yang sama dan pandangan mengintai ke arah mereka. Dan sekarang, lelaki itu mengikuti mobilnya.
Tapi Hiruma tidak bisa sembarang menyimpulkan begitu saja. Dia akhirnya tidak mengarahkan mobilnya ke mansion Mamori, tapi ke tempat lain untuk memancing pengemudi mobil di belakangnya itu.
"Kita mau kemana?" tanya Mamori yang menyadari mobilnya tidak sedang melaju ke mansionnya.
"Kau bilang mau ke rumah Ayahku, heh. Kita akan makan siang dulu sebentar."
Mamori menaikkan sebelah alisnya, "Aku kira tadi kau bilang tidak." Mamori lalu terdiam sesaat dan melihat ke kaca spion lagi. "Apa ini ada hubungannya dengan mobil di belakang? Dia mengikuti kita?"
Hiruma tidak menjawab. Kekasihnya ini memang terlalu pintar untuk menyadari keganjalan yang terjadi pada dirinya. "Kita lihat apa si sialan di belakang kita itu mengikutimu atau tidak."
Mamori mengangkat bahunya dengan santai. Dia tidak terlalu peduli, karena terkadang Hiruma bisa terlalu waspada pada hal yang Mamori anggap tidak berbahaya, walaupun biasanya apa yang diperingatkan Hiruma sebagian besar benar.
Dua puluh menit kemudian, Hiruma memarkirkan mobil di depan restoran sushi. Tepat seperti dugaannya, mobil di belakangnya juga ikut berhenti. Mamori juga menyadari hal itu dan bersikap layaknya Hiruma yang tenang, tidak menunjukkan tanda-tanda mereka sudah tahu kalau mereka diikuti. Walaupun belum seratus persen terbukti kebenarannya. Sejauh ini memang mobil itu ikut berhenti, pengemudinya lalu keluar dan masuk ke dalam mini market di seberang kiri restoran. Di dalam restoran pun, Hiruma dan Mamori tidak mengambil kursi dekat jendela, agar si penguntit tidak menyadari kalau mereka sudah waspada dengan keberadaannya.
Tiga puluh menit, di dalam restoran dan menyelesaikan makan siang, mereka keluar dan melihat ternyata mobil beserta penguntit itu masih ada disana. Saat masuk ke dalam, Hiruma langsung menancap gas agar lelaki itu kehilangan jejaknya, tapi ternyata seperti yang sudah diperkirakan Hiruma, dia berhasil mengejar mereka dan sekarang berada di jarak satu mobil di belakang. Hiruma melajukan mobil itu dengan kecepatan normal, membuat satu mobil di belakangnya menyusul ke depan dan mobil penguntit itu berada tepat di belakangnya.
Setelah menemukan jalanan yang cocok, Hiruma menepikan mobilnya, dan melihat mobil penguntit itu berjalan perlahan menyusulnya. Hiruma melihat penguntit itu yang dengan ragu-ragu menoleh ke mereka dan menjalankan mobilnya dengan sangat pelan. Setelah beberapa detik, Hiruma kembali menjalankan mobil dan melesat menyalip ke depan mobil itu dan memutar stir ke kiri lalu mengerem mobilnya. Mobil penguntit itu pun mau tidak mau harus menghentikan mobilnya mendadak.
"Jangan kasar-kasar." sahut Mamori, khawatir dengan apa yang akan dilakukan kekasihnya itu terhadap lelaki bertopi di mobil belakang mereka.
Hiruma keluar mobil tanpa kata-kata. Dengan santai namun tetap memasang ekspresi mengancam, Hiruma mengetuk kaca samping pengemudi, meminta lelaki itu agar keluar.
Mamori melihat dari jendela samping, lelaki itu dengan ragu-ragu keluar. Mamori akhirnya dengan segala resiko dan mencegah kerusakan yang akan dilakukan Hiruma nanti, juga ikut keluar dan berjalan ke sebelah Hiruma berdiri. Dia pun segera mendapat pelototan dari Hiruma karena berani keluar dari mobil dan tidak mematuhinya.
"Ada apa? Kenapa berhenti tiba-tiba?" Hiruma mendengar lelaki itu saat dia sudah keluar dari mobil.
Hiruma tersenyum sinis dan berkata, "Jangan berlagak bodoh. Kenapa kau mengikutiku, sialan?" tanya Hiruma langsung.
Mamori menyikut pinggang Hiruma, lalu tersenyum kepada lelaki itu. "Ada yang bisa kami bantu?" tanya Mamori ramah, walaupun dia tahu ada kemungkinan lelaki ini ingin berniat tidak baik.
Lelaki itu menggeleng cepat, lalu segera membuka pintu mobilnya lagi dan mengambil selembar brosur di atas dashboard-nya. Dia kemudian memberikannya kepada Mamori, namun Hiruma langsung menyambarnya.
Mamori ikut melihat dan membaca tulisan di atas brosur itu 'HEAVEN GIRLS NIGHT CLUB'. Mamori terbelalak, lalu memandang Hiruma tidak percaya.
"Kau datang ke tempat macam ini?" tanyanya masih tidak percaya. Dia lalu menghela napas, "Kau bohong padaku Youichi. Kau memintaku menikah denganmu tapi kau masih juga berlangganan dengan tempat seperti ini?"
Mamori mendongak ke atas menahan marah yang bercampur dengan sedikit kekecewaan dan kesedihan yang dirasakannya.
"Bodoh." Hiruma menjitak ujung kepala Mamori. "Jangan berkata seolah aku pernah menginjakkan kaki ke tempat sialan seperti itu. Lihat baik-baik!" Dia lalu menyodorkan brosur itu lagi, dan Mamori membaca tulisan yang ditunjuk Hiruma.
"Lelaki tidak diizinkan?" Mamori mengerjapkan matanya, dan kali ini memandang ke lelaki itu. "Apa maksudnya ini?"
Lelaki itu menjawab dengan ragu-ragu, "Sebenarnya ini rahasia. Saya bekerja sebagai Security di klub malam itu. Saya disuruh memberikan brosur itu sebagai undangan untuk anda. Saya kesulitan untuk memberikannya karena anda tidak sendirian dari tadi pagi. Jadi saya mengikuti anda."
"Lalu?" tanya Mamori lagi karena dia masih belum mengerti. "Kenapa kamu memberikan brosur ini padaku? Siapa yang menyuruhmu?"
"Nona Risa." jawabnya.
"Oke. Stop." Hiruma merangkul pundak Mamori dan menuntunnya kembali jalan ke dalam mobil, lalu mengunci mobilnya agar Mamori tidak bisa keluar lagi. Dia lalu berbalik dan berjalan menuju lelaki itu.
"Kau mengenalku, heh?" lelaki itu mengangguk dan Hiruma kembali menyeringai, "Bilang pada Nona sialanmu itu. kalau aku sudah memergoki tindakan bodohmu ini. Dan sekarang, bilang padanya agar mulai sekarang jalan hati-hati kemana pun dia pergi, kalau perlu membawa bodyguard, karena aku tidak akan sungkan-sungkan menyuruh kaki tanganku mencabulinya."
Lelaki itu terlihat pucat. Padahal ancaman itu bukan ditujukan padanya, tetapi lelaki itu merasa nyawanya sangat terancam dan segera berbalik masuk ke dalam mobilnya dan cepat-cepat menancapkan gas.
"Perempuan brengsek itu."
Hiruma masuk dan menutup pintu mobilnya. "Jelaskan." Dia menengok mendengar suara Mamori yang sudah melipat kedua tangan di depan dadanya.
"Tidak perlu."
"Jelaskan Youichi." tegas Mamori lagi.
Hiruma lalu mengalah dan menjelaskan semuanya. Segala hal tentang Risa. Tentang kelakuan dan ketertarikannya yang tidak biasa, tentang hobinya yang menyimpang, dan tentang klub malam itu. Dia juga menceritakan tentang kejadian foto pagi itu. Dia tahu Mamori wanita yang cerdas dan pasti mengerti dengan semua yang dialami Hiruma. Dia juga tidak menyalahkan Hiruma, walaupun sudah pasti akhirnya dia kena marah karena tidur tidak mengunci pintu.
"Aku tidak menyangka..." gumam Mamori. "Risa-san cantik. Aku kira dia suka padamu."
"Sudah aku bilang dia tidak suka padaku, bodoh."
"Tapi dia terlalu menggoda untuk laki-laki. Aku kira seorang yuri biasanya perempuan tomboy." ucapnya, bicara pada dirinya sendiri.
"Persetan dengan itu. Aku tidak peduli." sahut Hiruma. "Kalau dia datang ke tempatmu lagi, jangan pernah kau menemuinya."
"Tapi aku rasa dia cuma ingin berteman. Apa salahnya..."
Hiruma melotot. "Aku bilang jangan ya jangan, tidak ada tapi." galaknya. "Jangan pernah menganggapnya enteng. Dia tidak sepolos yang kau kira."
"Kenapa? Kau takut aku juga menjadi yuri sepertinya?" ledek Mamori.
"Brengsek. Sekali pun kau yuri, aku akan mengurungmu di kamarku dan hanya aku yang boleh memuaskanmu."
Mamori merona mendengar ucapan Hiruma. "Dasar kau mesum."
Hiruma menyeringai. "Jadi jangan pernah membantah perintahku, bodoh."
Mamori melengos menghadap jendela lalu menghela napas. "Kau belum menjadi suamiku saja sudah suka memerintahku begini." keluhnya lalu memandang Hiruma cepat. "Kau tahu sudah sebanyak apa aku menerima perintahmu dari saat kita kenal dulu?"
"Aku rasa kau sudah belajar bagaimana cara menuruti perintahku."
Mamori menghela napasnya lagi. "Jadi sekarang kita mau kemana?"
"Membeli cincin pernikahan kita."
"Kau bilang kita mau ke tempat Ayahmu." tuntut Mamori.
"Nah, itu kau tahu, bodoh." balas Hiruma. "Kita akan memesan cincin sehabis ke tempat Ayah sialanku itu."
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Gimana-gimana? Ada keluhan atau kritikan? Sok, bilang aja... Suka atau tidak suka sama adegan yang paling atas itu tuh, tergantung sama pembacanya. Hehe. Kalau ada yang tidak suka, maklumin aja ya, saya bukan ahlinya membuat adegan begitu. XD
Kayaknya sebentar lagi mau tamat nih. Kayaknya.. Ga mau janji dulu ah.
Mau tanya nih guys, ini fic, enaknya di rated T atau M? Lebih amannya ke yang mana? Bingung nih... Jadi saran doong.
Terus, Hiruma itu punya Ibu atau nggak sih? Ada yang tahu? Nah, ditunggu jawabannya... :)
Jadi untuk sementara (atau seterusnya), fic ini akan menjadi rated M! Jadi yang belum cukup umur... terserah sih mau baca atau nggak. Pengalaman saya, waktu belum cukup umur dulu, saat baca yang lemon begitu, sedikit 'gross' gimana gitu...
Oke deh curhatnya XD
So guys, please Read and Review ^o^~!
Salam: De
