Sebenarnya mau update kemarin, tapi saya tunda. Tidak ada alasan, jadi.. Biarlah. Maaf ya, keasyikan baca novel lagi~! Hehe

Nah, sebelum memulai, saya mau membahas review yang ditulis oleh Devil Clown-san. Sepertinya saya mengerti kekurangan yang dimaksud Clown-san. Apa itu ada hubungannya dengan 'yuri'? Well, kalau iya. Seandainya ada yang tersinggung dengan penjabaran saya mengenai yuri dicerita ini, saya mohon maaf sebesar-besarnya bagi pembaca yang suka dengan genre itu. Saya masih belum (memang tidak mengerti) tentang hal itu. Jadi ya... harap maklum ya guys...

Dan terima kasih juga untuk Clown-san. Tapi saya bingung, Clown-san berharap saya memperbaiki kekurangannya, tapi tidak mau bilang yang mana. hmm... Apalagi katanya ada beberapa, itu 'kan artinya pasti lebih dari satu. Jadi, bagaimana kalau to the pont saja? Karena setiap pembaca pasti punya kritikan tersendiri terhadap fic saya, tidak mungkin saya menebak satu per satu XD

So guys, sampai disini saja pembukaannya. hehe

and... this is the next chapter~!

.

.

Chapter 10

"Disini?" tanya Mamori sambil melangkahkan kakinya keluar mobil.

Mamori melihat ke rumah, walaupun yang dilihatnya adalah pintu dan pagar tembok yang tinggi. Rumah ini termasuk besar bagi Mamori, karena dia jarang sekali melihat rumah yang sebesar ini. Rumah ala jepang, yang panjang dan entah seberapa luas dalamnya. Mamori melangkah ragu-ragu sampai ke depan pintu masuk yang tertutup, dengan sebuah interkom di sampingnya. Dia melihat Hiruma menekan tombolnya.

"Ini aku." ujar Hiruma.

"Selamat Datang, Hiruma-sama. Silahkan masuk." ujar suara lelaki dari seberang interkom.

Pintu gerbang terbuka dan mereka masuk. Tepat seperti dugaan Mamori, di dalam sini memiliki taman yang indah dan terawat. "Dari lahir kau sudah tinggal disini?"

Hiruma tidak menjawab dan terus berjalan menyusuri jalan berbatu menuju teras rumahnya. Pintu terbuka dan ada seorang pelayan lelaki keluar menyambut Hiruma dan mempersilahkannya masuk. "Dimana Pak Tua?" tanya Hiruma kepada pelayan itu.

"Beliau ada di kebun belakang." jawabnya sambil membungkuk dan memberikan jalan untuk mereka lewat.

Mamori lalu balas membungkuk dan tersenyum kepada pria tua yang berusia sekitar pertengahan enam puluh tahun itu. Mereka berjalan melewati ruang tamu dan menuju ruang tengah. Dari ruang tengah itu terdapat kaca besar yang memperlihatkan langsung kebun belakang rumah. Ternyata rumah ini sebagian besar lahannya berisi dengan kebun yang luas. Terdapat jembatan kayu yang menghubungkan ruang tengah dengan tempat bersantai di kebun belakang. Di bawah jembatan itu dialiri sungai buatan yang mengalir langsung ke kolam. Mamori berdiri disana sejenak dan melihat sesosok pria tinggi besar yang mengenakan sweater rajut abu-abu gelap sedang duduk membelakangi mereka menghadap ke kolam ikan. Sepertinya pria itu sedang memberi makan ikan-ikan yang ada di kolam.

Pria itu menoleh merasakan kehadiran seseorang di belakangnya. "Oh, kau datang? Tumben sekali." ujar pria itu sambil melirik sekilas ke Hiruma, dan tampaknya tidak melihat Mamori yang masih berdiri di atas jembatan.

Mamori lalu berjalan perlahan mengikuti ke belakang Hiruma, dan pria itu langsung menyadari keberadaannya. Dia lalu berbalik dan melihat Mamori sambil menyipitkan matanya sesaat, lalu senyumannya seketika itu langsung mengembang. "Oh, aku tahu siapa kau. Anezaki Mamori. Manajer klub American Football di Deimon dan Saikyoudai, yang sekarang bekerja sebagai guru TK di Chiba dan entah sejak kapan berpacaran dengan Youichi." ujarnya masih tersenyum melihat Mamori.

Mamori menahan napasnya, lalu membalas senyuman pria yang tingginya hampir sama dengan kekasihnya itu, namun lebih berisi. Wajahnya tidak sesangar Hiruma, pria ini memiliki raut wajah ramah dan menyenangkan. Mamori lalu membalas uluran tangan lelaki yang dia tahu, adalah Ayah Hiruma, yang memliki sifat sama seperti Hiruma, tahu segalanya.

Hiruma Yuya menjabat tangannya, lalu dengan tiba-tiba menarik Mamori dan memeluknya hangat. "Aku tidak tahu bagaimana putraku bisa menjeratmu, tapi aku sungguh iri padanya."

Mamori masih terbelalak ketika Ayah Hiruma memeluknya mendadak seperti itu. Dia lalu melepaskan Mamori yang masih kaget kemudian menambahkan, "Aku selalu tahu apa yang Youichi lakukan selama ini."

"Sudah. Hentikan omong kosong itu Pak Tua." sahut Hiruma menarik Mamori ke sebelahnya yang sedari tadi masih dipegang oleh Ayahnya. "Aku cuma mau bilang, kalau aku akan menikah dengannya."

Wajah Mamori memerah mendengar pernyataan langsung Hiruma. Sedangkan Ayahnya hanya membelalakan matanya kaget.

Dia lalu mendekat ke depan Mamori, kemudian menyingkir dan mendorong Hiruma ke samping agar menjauh dari Mamori. "Aku tahu kamu pacarnya. Tapi apa kamu tidak mau berpikir ulang? Kamu tidak diancam atau semacamnya kan?"

Mamori tertawa mendengarnya. Dia lalu menggeleng. "Tidak Paman. Aku memang ingin menikah dengannya."

Ayah Hiruma langsung tersenyum dan menepuk bahu Mamori. "Baiklah. Kalau begitu, mulai sekarang panggil aku Ayah. Karena putra sialanku ini sudah tidak pernah lagi memanggilku Ayah."

Dia lalu menggandeng bahu Mamori lalu jalan melewati jembatan dan masuk ke ruang tengah. Hiruma hanya mengikuti mereka dengan malas di belakang.

Ternyata Ayah Hiruma tidak seseram yang Mamori bayangkan. Sesuai dengan wajahnya saat tersenyum, Ayah Hiruma sangat ramah dan suka bercanda. Di rumah ini pun, tampaknya dia hanya tinggal sendiri bersama para pelayannya. Karena Mamori tidak melihat ada kerabat lain disini. Ibu Hiruma pun, menurut cerita Hiruma sudah meninggal lama saat Hiruma masih kecil dulu. Jadi Hiruma hanya tinggal berdua dengan Ayahnya. Setelah itu, entah bagaimana ceritanya Hiruma bisa keluar dari rumahnya yang megah ini dan hidup sendiri, serta membiayai kehidupannya sendiri. Karena Mamori tahu, kalau Hiruma bukan berasal dari keluarga biasa, tapi berasal dari keluarga yang kaya raya.

Ayah Hiruma bercerita banyak. Mulai dari masa kecil Hiruma sampai kenakalannya. Mereka bercerita dan tertawa seolah Hiruma tidak sedang duduk bersama mereka di ruang tengah. Walaupun terkadang Hiruma meninggalkan mereka berdua yang asyik mengobrol dan jalan-jalan keluar kebun. Ayahnya juga bercerita tentang bisnisnya di luar negeri, sampai cerita tentang dirinya yang begitu populer di antara wanita muda seumuran Mamori karena ketampanan dan kekayaan. Tidak heran, walaupun sudah berusia lima puluh tahunan, Ayah Hiruma masih terlihat bergaya dan modern, seperti layaknya pria matang yang masih bujangan. Mamori tidak berhenti tersenyum mendengar ceritanya. Ayah Hiruma memang orang yang menarik dan enak diajak mengobrol. Mamori Heran, darimana sifat Hiruma yang seperti 'itu', mengingat Ayahnya yang begitu ramah seperti ini.

Waktu sudah menunjukkan jam lima sore. Mereka lalu berpamitan untuk pulang ke Tokyo untuk melihat-lihat cincin pernikahan. Mereka memang tidak memakan waktu lama saat memlih cincin karena tidak ada yang cocok dengan mereka, akhirnya mereka hanya memesan cincin yang sesuai permintaan mereka dan akan kembali lagi nanti. Setelah itu mereka pulang dan bertemu dengan kedua orangtua Mamori.

Satu setengah jam mereka sampai di rumah Mamori. Mereka lalu makan malam bersama kedua orangtua Mamori sebelum membahas tentang tanggal pernikahan mereka. Setelah mengalami perdebatan antara Ayah dan Ibu Mamori tentang tanggal pernikahan anaknya, akhirnya mereka mendapatkan kesepakatan untuk melangsungkan pernikahan hari Sabtu tiga minggu ke depan. Hiruma lega karena dia tidak harus menunggu lama untuk pernikahan mereka. Setelah pembicaraan itu pun, saat Hiruma ke Osaka selama tiga hari besok, Mamori akan mempersiapkan pernikahannya bersama Suzuna hari Sabtu, dan Ibunya menawarkan diri untuk menemani Mamori memesan gaun pernikahan pada hari Minggu. Hiruma dan Mamori berharap semuanya bisa berjalan lancar.

.

.

"Kau langsung pergi lagi?" tanya Mamori saat di dalam mobil Hiruma setelah sampai di depan pintu masuk mansionnya.

"Aku harus ke Osaka besok pagi."

Mamori menghela napas kecewa. "Baiklah." ujar. "Ngomong-ngomong, mana ponselku? Kau sudah mengambilnya? Aku lupa tanya dari tadi."

Hiruma lalu membuka kotak dashboard mobilnya dan mengambil ponsel Mamori. "Jangan pernah menerima telepon sembarangan." ujarnya sambil memberikan ponsel itu kepada Mamori.

"Aku tahu."

"Jangan menerima sembarang tamu. Jangan pernah menemui perempuan gila itu lagi."

"Kenapa? Aku rasa dia tidak berniat buruk padaku." Mamori langsung mendapat pelototan dari Hiruma. "Kau ini cerewet sekali Youichi."

"Bodoh. Itu karena aku tidak ada bersamamu selama tiga hari nanti."

Mamori mencibir lalu berkata pelan. "Biasanya juga kau tidak pernah menemuiku selama hampir sebulan dua bulan."

Hiruma yang mendengarnya langsung protes. "Kau ini. Kau itu orangnya tidak waspada bodoh, makanya aku khawatir."

Mamori tersenyum. "Ya-ya... Aku catat kalau kau khawatir." Mamori cuek menerima pelototan dari Hiruma lagi. Dia lalu mencium pipi Hiruma cepat. "Baiklah, jaga dirimu. Jangan lupa bilang ke klub kau akan cuti menikah, dan... Telepon aku setiap hari." kali ini Mamori mengecup bibirnya. "Aku menyayangimu." Mamori tersenyum menatap Hiruma dan langsung keluar mobilnya.

Hiruma menyeringai melihat tingkah kekasihnya itu. "Dasar bodoh." sahutnya dan langsung menancap gas untuk kembali ke asramanya.

.

.

Sabtu telah tiba. Pagi ini Mamori bersiap untuk ke rumah keluarga Kobayakawa Sena dan Suzuna. Dia naik subway selama empat puluh menit untuk sampai ke sana dari rumahnya. Seperti yang diperkirakan, hanya ada Suzuna sendiri, sedangkan Sena sudah kembali ke Amerika minggu lalu.

"Wah-wah..." decak Suzuna. "Padahal aku masih kaget mengetahui fakta bahwa kau pacaran dengan You-nii, Mamo-nee. Dan sekarang kau bilang kalian akan menikah tiga minggu dari sekarang?" Suzuna tidak henti-hentinya berdecak keheranan. "Kau masih berhutang penjelasan kepadaku."

Mamori tersenyum. "Aku tahu Suzuna." jawab Mamori. "Seperti yang sudah aku bilang padamu di pesta Kurita-kun waktu itu. Aku punya pacar dan sudah menjalin hubungan dengannya selama tiga tahun. Lalu apa lagi yang mau kau ketahui?"

"Waktu itu kau tidak bilang padaku kalau pacarmu itu You-nii! Oh, Astaga... Kalian ini. Padahal waktu itu You-nii juga duduk di sebelahmu. Lalu kenapa aku sebegitu bodohnya tidak menyadari itu? Kalau aku masih ingat, kau tersenyum kepadanya dan kalian saling bertatapan. Tingkah laku kalian berdua juga sangat tidak wajar. Kenapa aku tidak bisa menduganya!?" gerutu Suzuna sudah tidak tahan dengan kebodohannya sendiri.

Mamori mengangkat bahu. "Itu karena dari dulu kamu selalu ingin melihat kita bersama, jadi saat semuanya menjadi kenyataan, kamu malah tidak bisa melihatnya."

"Mungkin juga..." jawab Suzuna. "Tapi tetap saja seharusnya kau cerita padaku, Mamo-nee."

"Oh, kau tidak bertanya. Makanya aku juga tidak cerita." balas Mamori asal. "Sudahlah. Youichi sekarang memintaku untuk mengurus pernikahan kami. Kau masih punya nomor telepon perancang pernikahanmu dulu?"

"Ya ampun, aku bahkan tidak bisa menduga saat mendengar kamu memanggilnya dengan Youichi waktu itu." keluh Suzuna lagi.

"Suzuna..." ujar Mamori memperingatkan Suzuna karena dia masih tetap membahas masalah itu.

Suzuna memutar bola matanya lalu berkata, "Oh, baiklah Mamo-nee." akhirnya Suzuna menyerah. "Kau tanya apa tadi?"

"Event Organizer pernikahan... Kau masih punya nomor teleponnya?"

Suzuna tersenyum "Tentu saja. Pemiliknya teman kuliahku dulu. Kamu mau memakainya?" Mamori mengangguk dan Suzuna langsung menambahkan. "Serahkan padaku Mamo-nee. Hari sabtu tiga minggu lagi kan? Aku akan memberitahunya dan memintanya untuk mengurus semua keinginanmu. Lokasi, undangan, makanan, dan tema pernikahannya." jelasnya. "Sebentar, aku masih menyimpan katalog mereka."

Suzuna lalu berjalan menuju laci samping televisi dan mengambil buku katalog-nya. Dia lalu memberikannya pada Mamori. Mamori lalu melihat-lihat tema pesta pernikahan yang ada di sana. Semuanya terlihat menarik dan indah bagi Mamori. Sebenarnya yang mana pun tidak masalah untuknya, yang penting dia bisa melaksanakan pernikahan dengan bahagia. Mamori terus membalikkan satu per satu halamannya sambil melihat dengan seksama. Lalu matanya berhenti pada tema ke enam yang dilihatnya. Tema bernuansa hitam yang sangat elegan.

"Yang ini bagus." ujarnya sambil menunjukkan halaman katalog itu.

Suzuna melihatnya sejenak. "Aku rasa You-nii menyukainya." sahut Suzuna. "Tapi aku ragu You-nii mau memakai warna ini."

Mamori mengangguk setuju. Tema ini memang dengan nuansa hitam, tapi hanya pengantinnya yang mengenakan pakaian serba putih, sedangkan tamu undangan yang lainnya harus mengenakan busana serba hitam. Menurutnya, karena perbedaan itulah yang membuatnya menarik, membuat mereka mencolok dan menjadi pusat perhatian di acara mereka sendiri. "Tenang saja. Aku bisa membujuk Youichi mengenai masalah ini."

Suzuna menatap jahil, "Oooh Mamo-nee... Aku tahu suatu saat nanti, You-nii akan buta karena cinta dan menjadi penurut seperti anak anjing kalau dihadapanmu."

Mereka lalu tertawa, "Yang ada dia yang makin puas memerintahku." ujarnya. "Nah, bisa kita menghubungi temanmu itu?"

Suzuna mengangguk. Dia lalu menuju sofa di sebelah telepon rumahnya dan menghubungi temannya itu. Suzuna yang berbicara dengannya dan Mamori hanya mendengarkan. Mamori memandang saat Suzuna tertawa sambil berkata, "Ya-ya. Anezaki Mamori yang itu." katanya, dan Mamori menunggu Suzuna melanjutkan lagi. "Jangan bicara begitu. Kau tidak usah patah hati. Aku doakan kau segera menyusul. Jangan hanya mengurus pernikahan orang lain saja."

Mamori menyerutkan dahinya heran dan menatap Suzuna.

"Kalau begitu, kau urus semuanya. Ingat hari Sabtu, tiga minggu lagi. Mereka akan menemuimu lagi nanti untuk membicarakannya." Suzuna mengangguk-angguk sambil mendengarkan. "Jangan doakan pernikahan mereka akan batal." larangnya. "Baiklah. Sampai jumpa." Suzuna lalu meletakkan gagang telepon ke tempatnya semula.

"Dia mengenalku?" tanya Mamori langsung.

Suzuna melihat ke Mamori dan langsung mengerti arah pertanyaannya, lalu menggeleng. "Kau tahu, para penggemarmu itu tersebar dimana-mana." jawab Suzuna lalu tertawa. "Dia bilang, 'Ya Tuhan. Malaikat Anezaki itu, menikah dengan si setan Hiruma Youichi? Dia pasti diancam, pasti itu. Itu semua tidak mungkin terjadi. Astaga.'" tambah Suzuna sambil menirukan gaya bicara teman lelakinya itu tadi.

Mamori ikut tertawa. Setelah itu, mereka mengobrol macam-macam dan pergi keluar untuk makan siang.

.

.

Hiruma tidak pernah seceroboh ini. Seharusnya dia bertanya dulu kepada Taka atau Yamato, atau anggota tim lainnya alasan kenapa mereka harus pergi ke Osaka. Klubnya, yang Hiruma tahu, sangat disiplin dan tidak suka buang waktu, atau bahkan tidak buang-buang uang. Tapi Hiruma yakin dia tidak salah dengar waktu Taka bilang mereka kesini untuk latih tanding. Dan nyatanya, mereka hanya akan latihan bersama dengan Tim di Osaka pada hari Minggu. Dan hari ini, mereka malah hanya jalan-jalan dan keliling kota Osaka. Kalau tahu kepentingan mereka disini hanya pada hari Minggu, Hiruma lebih memilih tinggal dan berangkat sendiri hari Minggu nanti, dan setelah itu langsung pulang pada hari itu juga.

Melihat dari senyuman Taka, Hiruma yakin kalau dia sudah berhasil mengerjainya dengan bilang kalau mereka akan melakukan latih tanding. Yamato pun hanya senyam-senyum sambil mengangkat bahu saat Hiruma tahu kalau Taka membodohinya seperti itu. Tapi mereka berdua bahkan tidak merasa terancam dengan Hiruma. Yang satu terlalu cuek dan yang satu terlalu banyak tersenyum untuk takut kepadanya. Sialan, seharusnya dia menembaki saja kedua rekan keparatnya itu. Sampai saat ini pun Hiruma sama sekali tidak menikmati perjalanan mereka. Dia lebih memilih bersama Mamori dan menyiapkan pernikahan mereka saja.

Hiruma membaca pesan darinya tadi kalau dia sudah menyewa Event Organizer untuk merancang pernikahan mereka nanti, dan dia bilang kalau dirinya pasti menyukai tema yang sudah Mamori pilih. Bagi Hiruma semua itu tidak penting. Asal bisa menikah dengan Mamori, suka atau tidak suka dia dengan temanya, dia sama sekali tidak peduli. Mamori juga bilang kalau besok dia mau mengukur tubuh untuk gaun pengantinnya. Kalau yang satu ini, Hiruma berharap Mamori bisa tampil cantik. Walaupun baginya, apapun yang Mamori kenakan, dia akan selalu terlihat cantik di matanya. Sedangkan untuk Hiruma. Dia tidak perlu repot-repot membuat Tuxedo untuk pernikahannya nanti. Dia hanya akan membeli yang paling bagus, asal nyaman untuk dikenakan.

"Hiruma," panggil Yamato yang menengok ke belakang. Dia duduk di depan Hiruma di bis klub, yang sedang duduk sendirian di bangku belakang sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya. "Emm... Aku mau tanya. Mm itu, kau... Dan Mamori-san..." ujar Yamato ragu-ragu.

Hiruma mendongak dan menatap Yamato sejenak sambil mengunyah permen karetnya, lalu berkata, "Apa yang mau kau katakan sialan?" tuntut Hiruma karena dia tidak juga bicara.

"Aku dengar, kau akan menikah dengan Mamori-san tiga minggu lagi. Apa benar?"

Hiruma menatap tajam sambil berpikir. Ya, dia heran kenapa berita pernikahannya bisa tersebar begitu cepat. Mereka baru menetapkan tanggal pernikahan kamis kemarin. Hari ini pun Mamori baru menyewa Event Organizer. Berarti yang tahu hanya orangtua mereka, pihak perencana, dan...

"Suzuna-san baru saja mengabarkannya padaku. Aku rasa dia memberitahu semua orang yang kalian kenal."

Hiruma membuang muka ke jendela. Si gila skate sialan itu. Mulutnya harus benar-benar ditempel dengan lem besi, keluh Hiruma.

"Aku hanya mau ucapkan selamat. Asal kau tahu, aku menyukai Mamori-san dari dulu." kali ini Yamato mendapat pelototan dari Hiruma, "Tapi aku tahu dia tidak pernah melihat ke arahku. Aku cuma mau bilang, setiap kali aku melihatnya, dia selalu melihat ke arahmu." katanya lalu memamerkan senyum khasnya.

Hiruma menyeringai. "Sudah pasti." jawabnya sambil mengetik ke laptopnya.

"Aku cuma tidak menyangka kalau kalian benar-benar bisa bersama. Sekali lagi selamat."

Hiruma mengangguk dan kembali lagi ke laptopnya setelah Yamato selesai mengajaknya bicara. Seharusnya Hiruma sudah bisa menduga kalau beritanya akan tersebar secepat ini kalau orang luar yang mengenal mereka mengetahuinya. Apalagi kalau berasal dari sumber seperti Suzuna, berita itu pasti akan tersebar luas secepat kilat.

Ponsel Hiruma bergetar di saku jaketnya. Dia melihat satu buah pesan singkat, dan Mamori mengirimkan pesan untuknya lagi.

Aku tidak sengaja bertemu Risa-san hari ini. Tenang saja, ada Suzuna bersamaku. Kau tidak perlu cemas.

Hiruma menahan napasnya. Wanita itu ternyata masih berani mengganggunya. Seharusnya Hiruma membiarkan saja ancamannya itu menjadi kenyataan. Tapi dia pikir Risa sudah ketakutan dan tidak akan pernah mengganggu mereka lagi, sehingga Hiruma masih tetap menyimpan ancamannya itu. Tapi nyatanya, Risa tetap mendekati Mamori. Semoga saja niat Risa tidak seburuk dugaannya dan berharap Mamori bisa menjaga dirinya.

Hiruma lalu mengetik sesuatu di ponselnya, dan mengirim pesan kepada Suzuna.

Jangan tinggalkan Mamori berdua saja dengan Risa.

Setelah mengirim pesan itu, beberapa menit kemudian ponsel Hiruma berdering dan Hiruma langsung mengangkatnya.

"Ada apa?"

"You-nii..." ucap Suzuna ragu. Hiruma bisa mendengar dari nada suaranya yang tidak biasa, kalau sekarang dia sedang panik.

"Apa yang terjadi?" tanya Hiruma lagi.

"Aku hanya meninggalkan mereka sebentar ke kamar kecil, tapi sekarang, Mamo-nee tidak ada..."

To Be Continue

.

.

Catatan Kecil:

Kayaknya dalam dua atau tiga chapter lagi, sepertinya akan segera tamat (bagusnya mah dibikin lima belas chapter, biar genap gitu. Tapi kayaknya kebanyakan). Semoga aja ending-nya bahagia ya (Kali-kali saya juga pengen bikin yang sad ending deh) #langsungdiprotes XD

Buat Rapopo-san, benar juga ya... Vita-san juga bilang kalau ceritanya implisit. Hehe. Btw Vita-san, sungokong ga lahir dari batu kali, dia terperangkap di batu XD (Duh, malah ngomongin sungokong )

Terima kasih untuk Riku Aida-san dan Amai Ruri-san, setahu saya emang tidak pernah disinggung soal Ibu Hiruma. Jadi berhubung saya juga sudah lupa gimana bentuk(?) Ayah Hiruma, saya akan berkreasi sesuka saya disini. Hehe (Btw, saya juga lebih suka kalau anak mereka laki-laki XD)

So guys, keluhan, kritikan, saran, masukan, apapun. Jangan ragu, bilang aja... Pasti saya pertimbangkan. Kalau bisa, kasih tahu juga apa kritikannya, biar saya ga bingung nanti XD

Salam: De