Chapter 11
.
"Oh, Mamori-san, Kobayakawa-san."
Mamori menoleh ke arah jalan setapak di depan restoran tempat dia dan Suzuna makan siang di meja luar yang hanya dibatasi dengan pagar. Dia lalu tersenyum ke wanita itu yang ternyata adalah Risa.
"Oh, Risa-san." sapa Suzuna melambaikan tangan ke arahnya.
Risa lalu masuk ke dalam restoran lalu menuju bagian meja luar. Masih dengan senyum yang mengembang di wajahnya, dia menarik kursi di samping Suzuna. "Kalian habis makan siang?" tanyanya, melihat piring sisa makan di atas meja.
Mamori mengangguk. Dia masih belum bisa mengeluarkan kata-katanya. Pertama, dia terlalu kaget bisa bertemu Risa disini ditambah sekarang dia duduk menghampiri mereka. Kedua, dia masih bingung menanggapi fakta kalau Risa sebenarnya seorang yuri dan dia bingung bagaimana harus bersikap. Dia tidak punya teman seperti itu dan dia tidak mengenal salah satu di lingkungan sekitarnya.
"Kau sudah makan siang Risa-san? Ngomong-ngomong, kau sedang apa di sekitar sini?" tanya Suzuna.
"Aku mau berkumpul dengan teman-temanku. Di seberang dua blok ujung sana." jawabnya sambil menunjuk arah tempat tujuannya. "Nanti aku mau makan siang bersama mereka."
Mamori hanya mengangguk lalu mengeluarkan ponselnya untuk mengirim pesan ke Hiruma selagi mereka mengobrol. Dia tidak tahu kenapa dia harus melaporkan kalau dia bertemu dengan Risa kepada Hiruma, tapi setidaknya dia merasa harus untuk mengabarkannya. Setelah selesai mengirim pesan, dia lalu memasukan ponselnya kembali ke tas.
"Nah, Mamori-san. Kau mau ikut?"
Mamori mendongak melihat Risa. "Hm?" gumamnya. "Ikut kemana? Maaf tadi aku sedang mengetik pesan." bingungnya dan melihat kalau sudah tidak ada Suzuna di kursi seberangnya. "Kemana Suzuna?" tanyanya lagi.
"Dia pergi ke kamar kecil tadi." jawab Risa lalu tersenyum lagi melihat Mamori. "Kau mau ikut membantuku ke toko aksesoris disana?" tanyanya sambil menunjuk sebuah toko. "Temanku ada yang ulang tahun. Tadi Kobayakawa-san bilang kalau dia akan menyusul."
Mamori belum menjawab. Dia masih ragu. Dia melihat ke arah kamar kecil, lalu ke Risa lagi. "Tapi, Suzuna..."
"Oh ayolah. Dia akan menyusul nanti. Kalau tidak sekarang, toko itu makin lama makin ramai."
Mamori menghela napas pasrah. "Baiklah." Dia lalu mengeluarkan uang dan meletakkannya di atas meja.
.
.
Suzuna mencuci tangannya di wastafel toilet saat ponsel di tas kecilnya berdering. Dia lalu mengeringkan tangannya dan mengambil ponsel. Dia membaca satu pesan dari Hiruma. Dia tersenyum. Dia tidak tahu apa yang terjadi antara Mamori dan Risa. Yang dia tahu dulu pernah ada selintas gosip tentang Hiruma dengan Risa, mungkin 'You-nii'nya ini tidak ingin kalau Risa sampai menceritakan yang tidak-tidak yang akan membuat hubungan mereka berantakan. Tapi Suzuna berpikir kalau Hiruma terlalu waspada padahal Risa terlihat ramah dan tidak mungkin melakukan hal-hal macam itu.
Suzuna lalu keluar kamar mandi dengan santainya sambil memasukkan ponsel kembali ke dalam tas. Dia melintasi lorong untuk kembali ke dalam kafe. Masih dengan senyum di wajahnya, Suzuna melihat ke arah meja duduknya tadi. Dia tidak melihat Mamori disana. Saat itu juga Suzuna mulai sedikit pucat dan berpikiran macam-macam. Dia ingat pesan Hiruma tadi. Dia tidak tahu, tapi dia merasa kalau Hiruma sudah punya firasat akan sesuatu, maka sebaiknya dia tidak pernah mengabaikannya. Suzuna langsung merogoh kasar ponselnya lagi dan mencari nomor Hiruma cepat.
Telepon langsung tersambung dan dia mendengar suara Hiruma di seberang.
"You-nii..." ujar Suzuna pelan dan bergetar. Dia mendengar Hiruma menanyakan sesuatu karena merasakan kekhawatirannya. "Aku hanya meninggalkan mereka sebentar ke kamar kecil, tapi sekarang, Mamo-nee tidak ada..."
Hiruma terdiam sesaat lalu berkata, "Kau carilah di sekitar sana dan aku akan meneleponnya."
"Baiklah." jawab Suzuna. "Maafkan aku You-nii..." sesalnya.
"Sudahlah." Hiruma lalu mematikan ponselnya.
Suzuna langsung bertanya ke salah satu pelayan yang lewat di depannya, namun pelayan laki-laki itu hanya bilang kalau mereka langsung keluar beberapa saat tadi. Suzuna lalu menyusuri pertokoan satu persatu di daerah dekat restorannya tadi. Tapi dia tidak menemukan Mamori. Kalau dipikir-pikir, dia hanya ke kamar kecil tidak sampai sepuluh menit. Mamori tidak mungkin pergi jauh kalau hanya jalan kaki, pasti masih ada di sekitar-sekitar sini. Tapi Suzuna belum sedikit pun melihat keberadaan Mamori, atau pun Risa. Itu kalau benar Mamori pergi bersama Risa. Risa bilang kalau dia akan pergi kumpul-kumpul dengan temannya, tapi Suzuna tidak tahu dimana tempatnya. Risa tidak bilang apa-apa saat dia izin ke kamar kecil tadi kepada mereka berdua. Risa mengangguk dan Mamori terlihat sedang mengetik sesuatu di ponselnya. Jadi dia langsung pergi saja.
Suzuna mengelus perutnya. Dia duduk di bangku sambil menenangkan napasnya. Dia sudah tidak kuat lagi berkeliling. Dia lalu mengambil ponselnya dan melihat ternyata ada pesan dari Hiruma.
Kau pulanglah kalau kelelahan. Aku sudah di kereta dan akan sampai di Tokyo Segera.
Suzuna sudah membacanya dan segera menelepon supir rumah untuk menjemputnya pulang.
.
.
Mamori tidak tahu apa yang dipikirkannya. Tapi dia penasaran dan ikut begitu saja waktu Risa dijemput temannya dengan mobil untuk kumpul-kumpul saat mereka sedang berjalan ke toko aksesoris tadi. Dia terlalu penasaran tentang klub malam yang ada di brosur yang waktu itu diperlihatkannya. Walaupun dia ragu untuk ikut mereka, tapi disinilah dia sekarang, menuruni tangga di tengah-tengah pertokoan. Lalu belok ke kanan, ke kiri lagi, dan menuruni tangga lima tapak untuk menuju pintu di sebelah kiri. Risa dan temannya, yang Mamori tahu saat mereka berkenalan tadi, bernama Yuuka, berjalan membimbing Mamori dengan Yuuka di paling depan. Mamori juga tidak tahu apakah ini klub malam yang dikatakan di brosur itu, karena nama yang tertulis di pintu itu hanya tulisan 'GIRLS ONLY'.
Well, selain penasaran dia juga sedikit ketakutan dengan kedua wanita di depannya. Kalau memang benar cerita Hiruma tentang Risa yang seorang yuri, maka Yuuka juga kemungkinan besar sama seperti Risa. Bukannya dia menduga mereka berdua akan berbuat macam-macam kepadanya, dia masih ragu soal itu. Tapi memang apa benar mereka seburuk yang Hiruma katakan kalau mereka suka berbuat hal menyimpang? Menyimpang itu hal yang relatif. Mamori pribadi punya pemikiran sendiri, mereka mungkin menyimpang dari sudut pandang Hiruma. Tapi bukannya dari segi mereka, mereka juga sepasang kekasih sesama jenis yang suka berhubungan intim seperti pasangan biasanya? Mamori berpikir kalau mereka juga pasti sama seperti dirinya dan Hiruma, saling mencintai dan menyayangi, walaupun sesama jenis. Ya, Mamori ingin tahu sejauh itu, karena itu dia nekat untuk ikut bersama Risa dan temannya ini.
"Selamat datang Mamori-san. Sebenarnya ini hanya tempat berkumpul kita untuk bergosip-gosip. Yah, kau tahu, perempuan. Kalau kita penat dengan pekerjaan kita, kita suka mengeluarkan keluh-kesah kita setiap sabtu disini." jelas Yuuka sambil tersenyum dan membukakan piintu untuk Risa dan Mamori masuk.
"Guys... Ini Mamori-san. Yang sering aku ceritakan itu." ujar Risa kepada tiga orang yang ada di dalam. Satu orang sedang duduk di depan cermin sambil memakai maskara dan dua orang yang sedang duduk di sofa.
Dua orang yang mengobrol di sofa memandang Mamori dan tersenyum kepadanya. "Hai. Silahkan duduk." ujar salah satunya.
"Hai Mamori-san." sapa orang yang sedang berdandan itu tersenyum melihat Mamori dari cermin. "Selamat datang, santai saja disini. Tempat ini selalu terbuka untuk kaum wanita." wanita itu lalu berdiri dan menyampirkan tas di pundaknya, dia berjalan ke pintu dan mengulurkan tangannya ke Mamori. "Megumi, salam kenal. Sayang sekali aku harus segera pergi. Aku ada kencan di luar. Nah, semoga kita bisa mengobrol lain waktu."
Mamori duduk di sofa kosong di hadapan dua orang yang duduk tadi, Risa duduk di sebelahnya sedangkan Yuuka masuk ke dalam kamar di samping meja riang dan menutupnya. Mamori melihat-lihat ke sekeliling. Tempatnya memang sangat nyaman dengan dinding berwarna merah muda lembut dan putih. Di dinding banyak dipajang foto-foto yang sepertinya anggota perkumpulan ini. Di Italia, Korea, Paris, dan tempat-tempat lainnya, foto-toto itu disusun berdasarkan tempat-tempat yang pernah mereka kunjungi.
"Mamori-san." panggil wanita lain. "Jadi, kau sama 'seperti kita'?" tanyanya dan langsung menerima pukulan di pahanya oleh wanita yang menyapa Mamori tadi. "Kau terlalu terus terang Sashiko."
Sashiko lalu tersenyum kepada wanita itu. "Tenanglah Juri-chan." ujarnya lalu beralih kepada Mamori lagi. "Sashiko. Salam kenal. Ini Juria." katanya kepada Mamori.
Mamori menyalami kedua wanita di depannya. "Mamori. Senang berkenalan dengan kalian." jawabnya tersenyum lalu menambahkan. "Dan Tidak, sebenarnya aku punya pacar, laki-laki."
Sasiko berdecak. "Sayang sekali. Tapi apa boleh buat." katanya tersenyum lalu kembali mengobrol.
Risa, yang sepertinya tercengang dengan pertanyaan Mamori tadi hanya menatap Mamori diam. Setelah mencerna semuanya, dia lalu berkata. "Kau tahu tentangku Mamori-san?"
Mamori menengok menyadari pertanyaan Risa, lalu tersenyum dan mengangguk. "Ya. Youichi cerita kepadaku."
Risa mengeluh dan menghela napas, "Sudah kuduga. Pantas kau tidak curiga sedikit pun kalau aku ini pacar Hiruma-san."
Mamori menggeleng. "Bukan begitu. Aku baru mengetahuinya baru-baru ini. Kau tahu, setelah ponselku tercebur waktu itu." ujarnya dan Risa mengangguk-angguk mengerti. "Jadi semua itu benar?"
Risa mengangkat bahunya, "Yah, beginilah." jawabnya singkat. "Lalu, kau tidak takut saat aku ajak kesini? Aku rasa kekasihmu yang 'tukang mengancam' itu pasti sudah melarangmu untuk bertemu denganku." katanya sambil mengambil permen di toples.
"Memang. Tapi aku terlalu penasaran. Jadi ini klub malam yang dimaksud brosur itu?" tanyanya langsung karena Risa pasti sudah mengerti kemana arah pembicaraan mereka.
"Sebenarnya bukan disini. Ini hanya tempat kumpul-kumpul kita di siang hari. Klub malam itu milik Megumi, dibuka setiap hari rabu dari jam sepuluh malam sampai jam tiga pagi. Yah, kita semua melakukan hal-hal menyenangkan disana. Tidak ada laki-laki tentunya." jelasnya. "Kau tidak akan menceritakannya pada siapa pun kan?" selidik Risa menatap lekat-lekat ke Mamori.
Mamori tertawa. "Tidak akan. Asal kau tidak akan macam-macam kepadaku atau mengganggu Youichi lagi."
Risa ikut tertawa. "Kau lama-lama mirip seperti Hiruma-san, Mamori-san. Kau tahu, aku benci kekasihmu." tegasnya, "Dia kasar, tukang ancam, hobi senjata, peliharaannya saja anjing menyeramkan itu. Aku mengganggu kalian karena aku membenci laki-laki seperti itu. Dan, Oh ya ampun..." Risa memandang Mamori lagi. "Aku tdak mungkin macam-macam kepadamu. Apa aku pernah menyentuhmu? Aku juga punya pacar. Sama seperti kalian, aku tidak akan menyentuh wanita lain kalau aku punya. Sama juga seperti pasangan itu." liriknya ke dua orang di sofa seberang yang masih tetap asik mengobrol. "Kita tidak akan mengkhianati satu sama lain."
Mamori mengangguk mengerti. "Lalu, dimana pacarmu?"
"Thailand." jawab Risa. "Kami berkenalan disana. Dia juga orang Jepang, tapi bekerja disana. Kita hanya bertemu sesekali, kalau dia pulang ke Jepang, atau aku yang berkunjung kesana." jelasnya lalu mengeluarkan napas kecewa. "Sebenarnya aku tidak suka bekerja di klub Pamanku itu. Isinya lelaki bau semua. Tapi yah, tidak ada salahnya. Aku bisa bermain-main disana." jelasnya tidak tanggung-tanggung dan Mamori merasa kalau Risa sedikit terbuka dan bicara tanpa basa-basi lagi. "Lalu kenapa kau mematikan ponselmu tadi. Apa Hiruma-san meneleponmu?"
"Yah, dia terlalu cerewet. Padahal aku tahu apa yang kulakukan."
"Hiruma-san cerewet?" tanyanya tidak percaya. "Aku tidak bisa membayangkannya." katanya lagi lalu tertawa.
"Dia tukang perintah. Dari dulu aku tidak boleh membantahnya dan harus menuruti semua permintaannya."
"Ya ampun... Makin buruk saja dia di mataku."
Mamori tersenyum. "Ya, orang memang selalu berkata begitu." sahut Mamori. "Ngomong-ngomong, kau bisa datang ke pernikahan kami?"
.
.
Sialan!
Hiruma tidak henti-hentinya mengumpat. Dia sudah menelepon Mamori tadi. Panggilan pertama tersambung namun tidak dijawab, dan saat mencoba menghubunginya lagi, ponselnya langsung sudah tidak aktif. Kekasih sialannya itu berani mematikan ponselnya. Seharusnya Hiruma tidak boleh gegabah, tapi saat ini dia sudah kesal dengan perjalanan tidak bergunanya ke Osaka ditambah Mamori yang tidak menjawab teleponnya dengan sengaja. Karena itu, tadi dia terpaksa mengancam Pelatihnya agar membiarkannya untuk tidak ikut latih tanding besok. Walaupun Pelatih dengan terpaksa mengizinkan, dia pasti tetap akan dapat surat peringatan saat mereka tiba di Tokyo Senin nanti. Semuanya gara-gara kekasih sialannya.
Sial. Sebenarnya bukan karena itu dia jadi bersikap gegabah. Dia menerima pesan dari Risa tadi saat Mamori mematikan ponselnya. Pesan yang benar-benar membuat Hiruma naik darah.
Apa Mamori-san mematikan ponselnya? Fu fu fu... kau tahu, sekarang kita ada di tempat yang menyenangkan. Kau tidak akan bisa menemukan kami lelaki kasar. P.s: Tenang saja, aku akan membuat Mamori nyaman di tempat ini sampai dia melupakanmu. Bye~ Hiruma-san!
Hiruma bisa saja menelepon Risa saat itu, dia sudah mencobanya, tapi Risa sama sekali tidak menjawab. Hiruma tambah geram dan dia bisa menghancurkan apa saja saat ini juga. Shinkansen ini pun tidak bisa tambah cepat, padahal ini adalah kereta tercepat. Masih satu setengah jam lagi untuk dia sampai di Tokyo. Saat sampai nanti dia akan langsung pergi ke klub malam sialan itu. Dan kalau sampai dia menemukan Mamori disana, dia tidak akan segan-segan menyeret Risa atas tindakannya. Kalau perlu dia akan menghancurkan tempat itu. Tapi Hiruma tidak bisa. Dia harus menjaga reputasinya sendiri dan nama baik klub sebagai seorang Atlet.
jam lima sore dia sudah sampai Tokyo dan langsung naik taksi ke daerah klub malam, satu-satunya tempat yang dia tahu Risa membawa Mamori kesana karena Mamori belum juga mengaktifkan ponselnya kembali. Bangunan empat lantai dengan toko butik wanita di lantai satunya. Jelas sekali hanya orang-orang tertentu yang tahu apa yang ada di lantai tiga dan empat, sedangkan lantai dua adalah kantor dan tempat tinggal dari pemilik butik ini. Hiruma enggan masuk ke dalam. Disana hanya ada tiga perempuan yang sedang berbelanja. Akhirnya dia dengan ragu masuk ke dalam. Matanya menyusuri ke segala penjuru toko dan melihat ada lorong ke dalam di sebelah kanan. Orang pasti mengira itu adalah lorong menuju toilet karena ada tulisannya di dinding sebelah lorong itu. Tapi saat berbelok ke ujung kiri, disana ada tangga menuju lantai atas.
"Aku ingin bertemu Touhou Megumi." tegas Hiruma saat dia berdiri di depan kasir dan perempuan itu memandang ngeri ke Hiruma.
Perempuan itu dengan ragu lalu menjawab, "Megumi-san sedang tidak ada disini. Dia keluar. Ada yang bisa dibantu?"
"Kau 'salah satu'nya heh?" tanya Hiruma lagi dan melihat wajah bingung perempuan itu. "Lupakan. Apa ada seseorang yang naik ke lantai atas?"
perempuan itu menggeleng. "Megumi-san pergi jam sepuluh tadi saat toko buka. Saya tidak melihat ada tamu Megumi-san yang datang." jawabnya. "Dan memang tidak ada siapa-siapa disana. Megumi-san menitipkan kunci kamarnya kepada saya tadi."
Hiruma berbalik dan berjalan keluar butik. Perempuan itu bukan persekongkolan Risa dan teman-temannya. Dia tidak berbohong karena jelas dia sama sekali tidak tahu apapun. Sekarang, hanya ada satu tempat lagi yang terlintas di pikirannya, dan dia akan menunggu disana sampai bisa bertemu dengan Mamori.
.
.
Mamori tiba di rumahnya jam tujuh malam. Mengobrol dengan Risa dan teman-temannya ternyata sangat menyenangkan dan mereka tidak seburuk yang Hiruma duga. Mereka ramah dan terbuka, sama saja seperti saat dia mengobrol dengan Sara dan Ako. Dia bahkan lupa fakta kalau mereka semua seorang yuri, baginya semua itu ternyata tidak menjadi perbedaan besar.
Dia berniat membuka grendel pagar, namun suara seseorang mengagetkannya dari belakang. "Dari mana saja kau?" tanya Hiruma dengan nada menuntut tepat di belakang punggungnya.
"Oh Tuhan, Youichi." kagetnya dan menoleh ke belakang melihat Hiruma yang sudah berdiri disana. "Kau mengagetkanku. Sejak kapan kau disini? Dan, kenapa kau ada disini?" tanyanya curiga.
Hiruma tidak menjawab dan masih berdiri di depan pagar sementara Mamori sudah melewati pagar lalu menghadapnya. "Mau masuk?" tanya Mamori lagi. Ya, Mamori tentu tahu kalau Hiruma sedang marah saat ini. Dia hanya berusaha mencairkan suasana agar Hiruma tidak terlalu kesal kepadanya. "Maafkan aku." ujarnya menarik ujung lengan baju Hiruma.
Hiruma hanya tetap menatap tajam ke wajah Mamori.
"Youichi..."
"Kau tahu apa yang kau lakukan, sialan?" akhirnya Hiruma mengeluarkan kata-katanya lagi. "Brengsek! Kau membuatku hampir kehilangan pekerjaan."
Wajah Mamori memucat dan sekarang dia sudah mengenggam tangan kiri Hiruma dengan tangan kanannya. "Apa seburuk itu? Maafkan aku, aku sungguh... Oh ya ampun... Aku minta maaf Youichi." ujarnya melingkarkan tangannya ke punggung Hiruma dan menaruh pipi di dadanya. "Aku tidak tahu kalau kau akan secemas ini."
Hiruma terdiam lagi, tidak menjawab dan tidak membalas pelukan Mamori. "Aku tidak tahu apa aku masih mau menikah denganmu kalau kau masih seperti ini."
Mamori mendongak. Bibirnya bergetar dan tiba-tiba jantungnya berdebar kencang. "Kumohon... Jangan berkata seperti itu lagi." katanya pelan dan bergetar. Dan sekarang dia merasa sangat menyesal.
"Karena itu, seharusnya kau mematuhiku dari awal dan jangan membantahku, sialan!"
Mamori memeluk Hiruma lebih erat dan meletakkan kepalanya kembali ke dada Hiruma. "Kalau begitu pergilah. Tapi aku tidak akan melepaskanmu. Tidak akan!" katanya tidak kalah tegas dari Hiruma.
"Kau pikir kau bisa menahanku, bodoh?"
"Aku bisa. Ya, aku bisa." jawabnya yakin. "Karena aku mencintaimu. Dan tidak ada yang bisa mencintaimu sebesar aku mencintaimu."
"Ibuku."
"Itu pengecualian."
Hiruma menghela napas. 'Lepaskan aku." perintah Hiruma.
"Tidak mau."
"Lepaskan."
"Tidak."
"Lepaskan aku, bodoh. Orangtuamu memperhatikan kita dari balik pintu."
Mamori membeku sejenak, lalu menurunkan tangannya dari punggung Hiruma dan menoleh ke belakang. "Ayah, Ibu, apa yang kalian lakukan?" protesnya.
Pintu rumah akhirnya terbuka sepenuhnya dan sekarang mereka bisa melihat Ayah dan Ibu Mamori disana. "Kami hanya penasaran ada ribut-ribut apa di depan gerbang. Tenyata kalian sedang bertengkar." jawab Ibu Mamori.
"Kau buta sayang? Mana ada orang bertengkar sambil berpelukan begitu." sahut Ayah Mamori.
"Kami tidak bertengkar." balas Mamori.
"Dan tidak berpelukan." sambung Hiruma dan mendapat pelototan dari Mamori. "Apa? Kau yang memelukku dan aku tidak memelukmu. Itu tidak bisa disebut berpelukan. Benar, heh?"
"Aku tidak memelukmu."
"Kau memelukku tadi, bodoh."
"Jangan mengataiku bodoh terus."
"Ya ampun. Mereka bertengkar lagi." ujar Anezaki Mami kepada suaminya. "Kita kembali ke dalam saja." ajaknya. "Kalau kalian sudah selesai bertengkar, segera masuk dan makan malam." katanya kepada anak dan calon menantunya yang masih berdebat disana. Dia tidak yakin kalau suaranya akan didengar oleh mereka berdua.
"Janji satu hal kau tidak akan membantah omonganku lagi." ujar Hiruma.
"Tergantung apa yang kau katakan." balasnya dan dengan sendirinya sudah memeluk Hiruma lagi.
"Brengsek. Berjanjilah."
Mamori mendongak. "Jaga ucapanmu Youichi. Jangan menyebutku brengsek atau sialan lagi."
"Tidak akan. Kau harus janji dulu."
"Baru dua hari aku tidak bertemu denganmu, tapi aku sudah sangat merindukanmu Youichi." sahutnya seolah tidak mendengar perkataan Hiruma tadi.
"Bodoh."
"Ayo masuk. Kita makan malam dulu, dan kamu harus menginap disini." ajaknya menggandeng tangan Hiruma menuju pintu.
"Apa kau mau aku bercinta denganmu saat orangtuamu tidur di kamar bawah?"
"Oh ya ampun... Kita tidak harus melakukan itu bisa kan?"
"Tidak, saat kau sudah membuatku seperti ini saat memelukku tadi."
Mamori menghela napas pasrah. "Aku rasa kau harus mulai belajar menahannya karena kau tahu aku sangat suka memelukmu." Mamori membuka pintu lalu menutupnya lagi ketika mereka sudah masuk ke dalam dan membalikkan tubuh menghadap Hiruma. "Kita tidak akan membicarakan ini dulu di depan orangtuaku, oke?" ujar Mamori.
Hiruma menyeringai lalu mencium kencang bibir Mamori. "Hidangan pembuka."
Mamori berdecak dan tersenyum. Dia lalu berjinjit dan melingkarkan lengannya ke belakang leher Hiruma, kemudian membalas ciumannya lembut dan lama. "Menu utamanya saat kita sudah menikah."
Hiruma diam terpaku dan wajahnya terlihat suram dan menyeramkan. "Itu terlalu lama bodoh."
"Aku tidak peduli." balasnya dan tersenyum jahil. "Aku hanya ingin kau menginginkanku lebih."
"Aku selalu menginginkanmu dari dulu. Sekarang, detik ini juga."
Mamori tersenyum lagi, namun kali ini senyuman puas dan lega. "Nah, selamat menahannya kalau begitu."
"Sialan Mamori. Itu tidak adil."
Mamori memicingkan mata dan menggandeng tangan Hiruma sambil berjalan ke dalam. "Sejak kapan kau bicara tentang keadilan?" ledeknya. "Sudahlah, Ayo, aku lapar."
.
To Be Continue
.
.
Catatan Kecil:
Padahal saya menamakan ini sebagai 'catatan kecil', tapi saya selalu menulis banyak disini. Jadi kali ini saya tidak akan menulis apa-apa (Kau pikir ini bukan menulis, heh?). Yah, cukup sekian XD
Salam: De
