Exluzer
.
.
.
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Author : Gege Summer
Rate : T
Ini murni cerita saya dan saya harap tidak ada COPY-PASTE.
Soal review, silahkan bagi readers.
Silahkan menikmati.
**oo**
Chapter 2
Naruto menatap meja panjang di depannya dengan mata berbinar. Penuh dengan berbagai macam makanan, seperti kalkun, daging asap, ikan bakar, sup miso, sosis bakar mentega, serta beberapa masakan Italy. Naruto berusaha menelan air liurnya agar tidak menetes. Tenten bahkan harus terus berjaga di sekitar meja supaya tangan Naruto tidak mencuri makanan sebelum semua orang hadir.
"Jangan pernah mengambil satu makanan pun sebelum yang lain datang, atau aku akan mematahkan tanganmu." Ancam Tenten. Matanya tajam mengintimidasi. Namun bukan Naruto jika dia mudah terintimidasi. Lagi pula dia sudah kebal dengan tatapan tajam seperti itu.
"Aku lapar Tenten. Lagi pula hanya sedikit. Tidak akan habis kan?"
Tenten tetap menggeleng dan melotot pada Naruto. Naruto dengan kesal langsung duduk di kursinya. Mukanya di tekut cemberut dengan sesekali jakunnya naik turun, tapi Tenten tetap tak perduli.
Karin datang dengan membawa masakan terakhirnya hari ini, Fagatto ( hati yang di masak dengan bawang) dan meletakannya di atas meja. Matanya menatap semua masakan yang tersaji di atas meja. Bibirnya tersenyum puas. Sesaat kemudian yang lain turun ke meja makan.
Satu persatu kursi terisi. Di meja paling ujung, Jiraiya duduk dengan sebatang rokok masih bertengger manis di bibirnya. Kiba duduk dengan tenang di sebelah kiri Jiraiya, tak ketinggalan pula akamaru yang stay di sampingnya dengan ekor yang dikibas-kibaskan. Shikamaru duduk di depan Kiba, tangannya memegang sebuah buku tentang ilmu fisika. Tenten mendudukan dirinya di samping Shikamaru dan mencoba mengalihkannya dari buku tebal yang membosankan itu. Dua kursi dari Kiba, Naruto duduk dengan tidak sabar menunggu yang lain, Karin langsung memukul kepala Naruto yang duduk di sebelah kirinya. Dan yang terakhir adalah Sasuke. Dia duduk dikursi yang paling ujung. Semua sudah berkumpul dan acara makan pun dimulai.
Disaat yang lain makan dengan tenang, Naruto makan dengan liar. Semua makanan di ambil dan dimakan dengan ganas. Karin hanya menggeleng prihatin dengan keponakannya ini. Matanya menatap sekeliling meja makan untuk melihat apakah ada yang protes dengan makanannya atau tidak, dan pandangannya tertuju pada Sasuke. Dari semua orang yang dia kenal dalam mansion ini, Sasukelah yang paling tertutup. Tak pernah berbicara panjang dengan yang lain, jarang berkumpul untuk saling bercerita. Dia terlihat kesepian namun tak membiarkan orang lain untuk masuk daerah teritorialnya.
Karin menghela nafas.
**oo**
Setiap pagi sakura selalu berjalan kaki menuju sekolah, walaupun jarak tempat tinggal dan sekolahannya tidaklah dekat. Menurutnya, cara terbaik menikmati pagi adalah dengan berjalan kaki sambil menghirup udara pagi yang masih segar, walaupun ini pagi di musim dingin.
Begitu sampai di gerbang, sakura berpapasan dengan sasuke yang baru saja turun dari mobil yang mengantarnya. Dia sendiri, tanpa tenten.
"selamat pagi sasuke." Sapa sakura.
Sasuke diam dan terus berjalan. Sakura mengumpat dalam hati.
"sasuke tunggu aku!" sakura mensejajarkan dirinya dengan sasuke. "aku hanya ingin bertanya soal tenten. Dimana dia? Kalian tidak bersama?"
Sasuke tetap diam.
"hei! Aku sedang bertanya padamu. Bisakah kau menghargai orang lain yang sedang bertanya padamu?" omel sakura.
Sasuke berhenti dan menatap sakura tajam. "berhenti berbicara padaku. Atau kau akan menyesal." Suaranya datar, namun terdengar mengintimidasi. Setelah itu, sasuke berjalan meninggalkan sakura.
Sakura segera memegang dadanya. Detak jantungnya tidak teratur. Dan dia pun kesulitan bernafas saat mata kelam itu menatapnya.
"apa yang terjadi padaku?"
**oo**
Kakashi menatap bosan pada murid-muridnya yang sedang berkutat dengan soal logaritma. Sudah setengah jam lebih mereka mengerjakan, tapi belum ada satupun yang berani maju untuk menjawabnya. Dilihat satu-persatu wajah murid-muridnya. Ada yang berkerut aneh menatap soal-soal di papan tulis, yang serius mengerjakan, hanya menatap datar pada papan tulis, ataupun yang asyik menjahili teman-temannya. Kakashi menguap bosan.
Biasanya Haruno Sakura akan maju dan menjawab soal-soal yang ia berikan. Tapi sekarang, yang dilihatnya adalah wajah penuh keringat milik sakura.
"apa kau sakit Haruno?" Tanya kakashi.
sakura terkejut saat kakashi bertanya padanya, murid-murid yang lain ikut memperhatikannya, "saya baik-baik saja, sensei."
"pergilah ke ruang kesehatan."
"tapi saya tidak apa-apa, sensei." Jawab sakura.
Kakashi mengangguk, dia kembali sibuk dengan buku orange yang selalu dibacanya dimana pun.
Tanpa sengaja tatapan sakura bertabrakan dengan mata kelam sasuke. Tubuhnya terasa terbakar seketika, nafasnya pun sesak. Dia ingin mengalihkan pandangannya kearah lain, tapi dia tak sanggup. Seolah ada magnet yang membuatnya terus menatap si uchiha.
Sasuke memutuskan kontak mata mereka dan saat itu pula dia dapat bernafas dengan baik serta tubuhnya tak lagi terbakar.
"sensei!" sakura berteriak lantang, kakashi melongok dari buku orange yang selalu dibawanya begitu pula dengan murid-murid yang lain, "saya, saya ingin pergi ke ruang kesehatan."
Kakashi mengernyitkan alis, namun dia mengijinkan sakura untuk meninggalkan kelasnya. Sakura langsung bergegas keluar dari dalam kelas dengan kepala tertunduk.
Sasuke mengikuti langkah sakura dengan tatapan datar.
**oo**
Neji melangkah dengan tergesa-gesa menuju lantai dua kediamannya. Begitu sampai di depan sebuah pintu besar, dia masuk begitu saja ke dalam ruangan tersebut. Didalamnya ada seorang pria paruh baya yang sedang berbincang dengan seorang gadis muda.
"apa maksud ayah melakukan ini?" neji langsung bertanya begitu masuk ke dalam ruangan itu. wajahnya menunjukan kalau ia tidak suka dengan sesuatu yang sedang direncanakan pria paruh baya di depannya.
"duduklah dulu. Ayah ingin mengatakan sesuatu padamu." Neji mengikuti perkataan ayahnya. Dia mendudukan dirinya di samping si gadis muda.
Hiashi menatap putra sulungnya. "semua itu harus kita dapatkan demi klan, demi bangsa kita."
"tapi kenapa harus hinata yang dikorbankan?!" bentak neji. Dia merasa sangat marah. Dan dia tak ingin kehilangan adiknya untuk yang kedua kali.
"aku tak merasa dikorbankan kak. Lagi pula ini semua demi klan." Ucap hinata lirih.
Neji mencoba untuk menenangkan amarahnya.
Hinata menggenggam tangan neji, "kumohon, percayalah padaku. Aku bisa melakukan ini."
**oo**
Gomen kalau chapter ini kurang memuaskan.
saya terlalu lama menelantarkan fict ini -huhuhuhu-
doakan semoga bisa ikut uas
bu dosen, pleaaseee
