Title: Sun Burns Down Ch. 2 – The night after the incident
Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan akan bertambah seiring waktu.
Warnings: Typos, OOC
Summary: Semuanya terasa aneh, dia tidak takut dengan hal itu. Hanya saja semuanya terlalu berbeda. (gomen bad summary (シ- -)シ)
Note: We don't have super powers like they do. Credits to 'abang' Tite Kubo. I just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this.
.
.
.
Seorang gadis terbaring tidak sadarkan diri diatas tempat tidurnya. Ichigo memperhatikan selimut yang bergerak naik-turun karena gadis dibawahnya bernapas. Ia merasa seakan dirinya dipaksa menghadapi sesuatu yang sama sekali tidak disangkanya. Gadis ini memiliki potensi yang dapat membahayakan dirinya. Bukan jenis gadis cantik yang akan dibawanya ke kamar hotel.
Dia mencoba agar dirinya tetap berada dekat dengan pintu keluar, matanya tak pernah lepas dari gadis itu. Jika dia bangun lalu ketakutan, hal pertama yang akan Ichigo lakukan adalah keluar dari kamar itu secepatnya. "Kau tahu aku benci kunang-kunang, Renji." Katanya pada orang disisi lain telpon. "Aku benci mereka."
Ichigo tahu, Renji mencoba untuk tidak terdengar terhibur walaupun tawanya jelas terselip saat dia bicara. "Aku ingat, kau pernah bilang ini bukan salah mereka."
"Secara general, Iya." Ichigo menghela napas, bersandar pada dinding dibelakangnya. Gadis itu – Rukia, jika dia benar-benar teman Renji yang harus dijemputnya – sekarang terlihat sangat tidak berbahaya atau hal tidak masuk akal lainnya bagi Ichigo. "Tapi yang ini sudah membuat beberapa orang terbakar, dan aku tidak mau mati terbakar."
"Cobalah untuk tenang dan buatlah dia merasa rileks." Saran Renji, seperti orang yang mempunyai pengalaman lapangan dengan keadaan seperti ini, dan dia memang mempunyainya. "Ada kemungkinan dia tidak akan menyerang, jika dia merasa aman."
Benar juga, alasan dasar kenapa dunia ini menjadi tidak terkontrol adalah karena orang-orang sudah tidak merasa aman lagi – atau setidaknya itu apa yang ia ketahui. Ichigo dahulu terlalu muda untuk mengerti kenapa berberapa scientist di dunia ini tidak peduli dengan bagaimana cara untuk membuat manusia untuk memiliki dan dapat menggunakan kemampuan yang dahulu hanya ada dalam cerita-cerita fantasi. Tapi kenyataan bahwa ada sebagian scientistlain yang peduli telah mengakibatkan kekacauan yang semakin lama semakin besar dan meluas dengan kerugian besar yang juga mengikutinya.
Renji menambahkan ia akan kembali beberapa hari lagi, ia mengatakan 'dah' dengan cepat sebelum sambungan terputus. Ichigo memasukkanhandphone-nya ke saku jeansnya dan mencoba duduk dipinggir tempat tidur dengan waspada. Dengan hati-hati ia meraih remote dan menghidupkan televisi dengan volume yang paling kecil. Entah karena suara televisinya terlalu besar atau hanya kebetulan saja Rukia memilih saat itu untuk membuka matanya. Dengan pelan, Rukia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar. Ia tidak menyadari bahwa ia tidak sendirian, sampai ia mencoba bangun untuk duduk. Ia lalu melihat Ichigo yang juga sedang melihat kearahnya dengan mata besar yang polos seperti anak kecil.
"Kau baik-baik saja." Ucap Ichigo, perutnya terasa menegang, khawatir dirinya akan diserang. "Tak ada yang perlu ditakutkan." Sambung Ichigo, kakinya mulai menarik jarak pelan, berusaha tidak membuat gerakan tiba-tiba.
"Aku tidak takut." Jawab Rukia, dengan ekspresi datar yang terlihat meyakinkan daripada terlihat takut. Dia lebih terlihat bingung. Mengedarkan pandangannya sekali lagi ke seluruh ruangan sebelum perhatiannya jatuh pada Ichigo. "Siapa kau?"
Ichigo terdiam. Semenit berlalu sampai akhirnya ia mengingat mereka belum pernah berkenalan dalam konsep berkenalan yang sebenarnyanya. "Namaku Ichigo Kurosaki." Jawabnya sambil mencoba menjaga suaranya agar tetap tenang dan pelan. "Kau Rukia, kan?"
"Bagaimana kau bisa tahu namaku?" Ichigo mengambil kesimpulan pertanyaan Rukia sebagai iyauntuk jawaban pertanyaannya.
"Hmm… teman dari seorang teman?" Renji bilang bocah ini temannya bukan? "dia bilang seseorang harus menjemputmu, dan membawamu ke tempat lain?" Jawab Ichigo tidak yakin.
"Oh…" respon Rukia. Alis Ichigo semakin berkerut karena kebingungan. Dia sudah melihat banyak orang sepertinya, yang dapat membuat kamar ini terbakar dalam hitungan detik berikutnya. Tapi baru kali ini dia bertemu yang dapat diterima akal sehatnya, yangdapat mengerti orang lain, dan kelihatannya juga masih waras. Biasanya proses untuk mengerti 'sesuatu' untuk orang-orang sejenisnya dipengaruhi oleh obat-obatan. Dia tahu itu dengan benar. Orang-orang yang dapat melakukan sesuatu seperti apa yang Rukia dapat lakukan, biasanya dianggap seperti masalah baginya. Bukan rasa bingung dan ke-naifan, seperti yang bisa ia rasakan dari gadis ini.
Setidaknya sekarang Ichigo merasa lebih aman, karena sepertinya sekarang Rukia tidak akan 'meledak'.
Rukia mengalihkan perhatiannya ke arah televisi. Ia merangkak ke pinggir tempat tidur. Terpesona dengan benda itu. "Apa ini?" tanyanya, melihat kearah Ichigo.
"Itu?" Tunjuk Ichigo kearah televisi dan Rukia memberinya anggukan kecil. "Berita." Jawabnya, dengan nada seperti itu-jawaban-yang-pasti-akan-dijawab-oleh-siapapun. Rukia menjawabnya dengan "Oh…" yang lain dan memperhatikan kembali layar yang bersinar dengan gambar yang bergerak. Membuat bingung Ichigo, ia bertemu seseorang yang memiliki pikiran yang sangat rusak, seperti kekurangan banyak bagian puzzle bila diibaratkan. Tapi pada saat yang sama pikiran itu juga terkontrol. Ichigo tidak tahu apa yang harus dia pikirkan tentang gadis ini. Tidak sama sekali.
.
Ichigo adalah orang yang baik, pikir Rukia. Tetapi Ia tetap merasa dirinya agak gugup. Berbeda dengan perkataan Ukitake-sensei dan Arisawa-sensei, juga kejadian di stasiun kereta hari ini; bahwa orang diluar berbahaya dan dapat menyakitinya. Ichigo tidak seperti itu. Ichigo menjawab semua pertanyaannya, walaupun dia selalu tampak bingung sebelum menjawab. Perlakuan Ichigo padanya juga tenang dan tidak memaksa. Rukia hanya melihatnya sekali, tapi Ichigo tersenyum kecil pada saat ia menjawab 'telepon' dari seorang 'teman dari seorang temannya'. Entah mengapa, senyum itu membuatnya merasa tenang.
Sekarang lelaki itu sedang tertidur, meringkuk dibawah selimut dan berbicara dalam tidurnya, dengan kata-kata yang terlalu pelan dan tidak jelas untuk dimengerti. Rukia tidak bisa tidur. Mungkin karena lingkungan di sekitarnya yang baru. Kamar ini penuh dengan suara-suara mobil yang lewat dan juga suara tawa yang berasal dari klub malam diseberangnya. Tidak seperti kamar putihnya yang tenang dengan suara dengungan pelan sistem ventilasi. Dia rindu tempat dimana ia tumbuh. Walaupun tempat tidur dikamar ini lebih besar dan ia tidak tidur sendiri, mungkin ia hanya belum terbiasa.
Rukia menghabiskan dua jam kemudian duduk di kursi di pojok kamar, memeluk kakinya yang dilipat didepan dada. Perhatiannya tumpah diantara menembus tirai tipis yang sedikit terbuka, kaca jendela; ke jalan dibawah, atau langit gelap, dan mempelajari Ichigo. Bagaimana bisa Ichigo tidur meringkuk diatas tempat tidur dengan selimutnya yang bagaikan kempompong seolah dapat melindunginya dari sesuatu.
Rukia turun dari kursinya, bergerak mendekati jendela agar ia dapat melihat dengan lebih jelas keadaan diluar. Malam sudah larut, tapi masih ada sebagian orang diluar sedang berjalan dibawah sinar lampu jalan. Mereka kelihatan bersenang-senang, Rukia belum pernah punya kesempatan untuk bersenang-senang. Dia hampir melupakan kejadian hari ini, tertimpa dengan keinginannya untuk merasakan rasa senang. Karena mungkin sekarang ia memiliki kesempatan untuk merasakannya walaupun hanya untuk waktu yang sebentar.
"Uh, tutup gordennya." Gumam Ichigo. Rukia menoleh kebelakang, melihat ke arah Ichigo yang masih terbaring diatas tempat tidur dengan lengan kanan yang menutupi matanya. "Cahayanya silau."
"Maaf." Ucap Rukia pelan, menutup kembali gorden yang ia buka.
Dia mendengar Ichigo menghela napas, tempat tidurnya berderit karena Ichigo mencoba untuk duduk. "Ada yang salah?" Tanya Ichigo setelah beberapa saat, seperti baru saja selesai berdebat dengan dirinya sendiri untuk mengatakan sesuatu atau tidak.
"Aku tidak tahu." Jawab Rukia sambil kembali duduk diatas kursi yang ia tempati sebelumnya. "Aku tidak bisa tidur."
Ichigo mengangguk lalu menghela napas. "Yah… hal itu sering terjadi. Jangan khawatir, kau aman disini."
Perkataan Ichigo itu membuatnya agak bingung. "Aku tahu." Rukia memejamkan kedua matanya "Karena Ichigo akan bersamaku." Terangnya. Kalimat itu membuat Ichigo merasa agak malu, menghindari pandangan Rukia dengan mengalihkannya ke matras. "Kupikir, butuh sedikit waktu untuk jadi terbiasa."
"Um… Rukia?" Ichigo mencoba mundur agar ia bisa bersandar pada papan di ujung kepala tempat tidur. "Sebenarnya darimana kau berasal?"
Rukia memiringkan kepalanya. "Darimana aku berasal?" Ichigo mengangguk pelan, menatapnya dengan ekspresi yang tidak bisa ia jelaskan. "Aku…" Rukia mencoba menggambarkan sesuatu untuk menjawabnya, karena ia benar-benar tidak tahu. Ia tahu di tempat itu terdapat laboratorium. Tapi Rukia yakin itu bukan jawaban yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ichigo. "Aku tidak tahu."
Ichigo tertawa, entah mengapa dirinya sendiri juga tidak tahu. "Kau barusan bilang, kau lupa darimana kau berasal."
"Aku tadi bilang tidak tahu." Rukia membenarkan perkataan Ichigo. "Aku mengingat semuanya dengan baik. Bagaimana bunyi yang dimiliki tempat itu, baunya, dan juga kelihatannya." Mencoba mengingat tempat itu semakin membuatnya homesick. "Aku ingat Arisawa-sensei juga Ukitake-sensei juga…"
Walaupun ditempat itu sangat jarang terjadi kejadian menarik, dan ia selalu ingin melihat apapun yang ada dibalik dinding-dinding itu, Rukia tidak pernah benar-benar merasa sedih. Tidak sampai sekarang. Dia mendengar tempat tidur berderit saat Ichigo turun dari sana, mendekatinya, dan menyentuh pipinya lembut. "Jangan menangis."
Rukia menarik pelan tangan Ichigo dari pipinya, sekilas ia melihat pantulan lemah dirinya di kaca diantara tirai tipis. Matanya terlihat berkilau dan terasa basah. "Tapi aku belum pernah menangis." Ucapya pada dirinya sendiri. Satu hal lagi yang asing baginya, dan dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa pada hal asing ini.
Ichigo menatap Rukia seperti ia mengerti, walaupun sebenarnya tidak. "Mungkin kau hanya merasa capek." Ucapnya, Hal terbaik yang bisa dipikirkannya saat itu, Ichigo menepuk pelan kepala Rukia sebelum naik ketempat tidur.
Rukia menyusulnya, dan Ichigo meyakinkan dirinya membuat jarak yang cukup lebar diantara mereka. "Renji bisa membantumu." Ucapnya sebelum berbalik agar ia memunggungi Rukia. "Lalu kau bisa… melanjutkan hidupmu sesukamu." Nadanya terdengar aneh bagi Rukia, nada yang sama dengan Arisawa-sensei saat ia kecewa akan sesuatu. Rukia mengulang kalimat terakhir itu dalam pikirannya, dan menarik selimutnya sampai kepipinya.
Dia tidak punya apapun. Dia tidak punya keluarga, tidak punya teman, bahkan hal paling simpel seperti kemampuan memahami sesuatu secara umum. Pikirannya akan apa yang akan terjadi dalam hidupnya nanti membuatnya sedikit takut. Tapi setidaknya dia bisa tidur nyenyak malam itu.
.
.
To be Continued
.
.
Author's tea time!
Maafkan saya Chapter ini pendek… soalnya kalo saya terusin saya nggak yakin saya bisa ngecut ceritanya dibagian yang pas. Biar bikin penasaran. Hehehe tapi chapter selanjutnya bakal segera update! Uda jadi kok, mohon tunggu beberapa saat! :D
Saya hanyalah seorang newbie yang masih belajar, maukah kalian kasih review untuk membantu saya 'menyempurnakan' EYD atau entah apa aja untuk tulisan saya yang akan datang? XD
Dan….. terimakasih banget uda mau bacaaa~! { } sampai jumpa lain kali~
