Title: Sun Burns Down Ch. 3 – The second day she's outside

Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan akan bertambah seiring waktu.

Warnings: Typos, OOC, OC,

Note: We don't have super powers like they do. Credits to 'abang' Tite Kubo. I just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. Thanks to my beloved BlackWind1001!

.

.

.

Ichigo hampir menariknya keluar dari tempat tidur begitu matahari terbit, dan memberitahunya agar cepat mandi dan berpakaian agar mereka bisa segera pergi dari tempat itu. Rukia mengaduk-aduk isi tas yang diberikan oleh Arisawa-sensei dan mengeluarkan sehelai kaus sederhana dan celana jeans denim. Rukia memperhatikan pakaian itu. Tanpa harus memakainya Rukia bisa mengerti bahwa kaus itu akan terlihat kebesaran bila ia pakai, tidak jauh beda dengan celananya. Walaupun ukurannya sedikit lebih kecil namun masih terlalu besar baginya.

Butuh waktu baginya untuk menemukan cara untuk mandi, hampir terlalu lama, tapi Rukia langsung merasa lega ketika ia berhasil menyalakan shower. Berjalan jauh di pinggir jalan kemarin membuatnya merasa agak tidak nyaman. Air panas yang mengalir terasa nyaman di kulitnya. Rukia bersenandung pelan sebuah lagu yang pernah diputar beberapa kali oleh Ukitake-sensei karena keheningan di tempat itu terkadang membuat mereka merasa tidak enak.

Rukia sudah pernah melihat seperti apa dirinya dari pantulan lemah di pintu baja ruangannya, tapi cermin di atas wastafel menampilkan gambar yang berbeda. Lebih jelas dan nyata yang membuatnya terdiam sebentar mempelajari bagaimana wajahnya. Ia menyentuh rambutnya yang basah, mencoba membuktikan bahwa pantulan di cermin benar-benar dirinya, mendekatkan wajahnya ke cermin, dan mengecek wajahnya dari sudut yang berbeda sampai sebuah ketukan pelan di pintu mengganggunya. "Rukia? Kau baik-baik saja?" dengan cepat ia mengumpulkan barang-barangnya dan membuka pintu, bertemu dengan Ichigo yang berdiri berkacak pinggang tepat dihadapannya.

"Aku baik-baik saja." Ucapnya, melewati Ichigo, yang terlihat sudah siap untuk pergi. Ichigo memberikan ekspresi tidak setuju dengan pakaian yang dipakainya. "Apa?" Tanyanya sambil duduk dilantai untuk memakai sepatunya.

"Bukan apa-apa." Ichigo menggelengkan kepalanya. "Kau hanya terlihat sedikit… aneh." Rukia melihat kebawah, celana yang dipakainya terlihat seperti akan jatuh kapan saja tertutup dengan kaus yang panjangnya sampai paha. Rukia hanya bisa mengangkat alisnya, tidak mengerti apa yang aneh. Tapi memang memakai pakaian ini rasanya berbeda.

Ichigo melepaskan tali pinggangnya, dan memakaikannya ke jeans Rukia. Setelah itu ia memberikan pandangan terakhir keseluruh penjuru kamar, memastikan tidak ada yang tertinggal sebelum keluar menuju koridor hotel. Mereka belum melewati resepsionis ketika Rukia mendengar sebuah suara yang berasal dari perutnya. Suara itu membuatnya berhenti berjalan, melihat ke arah perutnya. Ichigo tertawa dan itu membuatnya mengangkat kepalanya lagi. "Kapan terakhir kali kau makan?"

Rukia memikirkan sesuatu tentang hal itu, pengetahuannya tentang waktu untuk saat ini terasa agak kacau. "Aku tidak makan sejak kemarin." Jawabnya.

Ichigo menghela napas, "Oke, kita akan beli sesuatu dijalan. Aku juga belum makan sejak tadi malam."

.

Ichigo menarik kesimpulan bahwa Rukia mungkin adalah alien. Itu penjelasan terbaik yang bisa Ichigo pikirkan dengan pengetahuan minimnya akan apapun. Setidaknya itu menjelaskan tentang api yang diakibatkannya dan juga bagaimana cara dia makan seperti dia belum pernah makan apapun sebelumnya. Rukia tertidur sekarang, bersandar pada kursi penumpang dengan poni yang menutupi mata kanannya. Tidak mengherankan mengingat waktu tidur yang ia dapat tadi malam. Walaupun sejujurnya Rukia terlalu cantik untuk sosok makhluk luar angkasa.

Banyak orang mungkin merasa kesepian saat menyetir sendirian di perjalanan yang panjang dengan rekan satu-satunya yang sedang tertidur seperti saat ini. Biasanya orang-orang itu setidaknya menghidupkan musik, tapi tidak dengan Ichigo. Ia tidak menghidupkan musik. Bahkan ia tidak merasa kesepian sedikitpun. Sebaliknya, ia selalu menyukai keheningan. Membuatnya berpikir betapa ia lebih menyukai hidupnya sekarang daripada hidupnya yang dulu. Dia masih ingat masa ketika ia masih tumbuh, ketika ia dan keluarganya tinggal di sebuah area komunitas berpagar yang seharusnya menjadi tempat yang aman. Jauh dari kekacauan, dengan suasana yang membahagiakan, dan menemukan kegembiraan atas hal-hal simpel yang terjadi. Tapi ada baiknya juga ketika ingatan itu berhenti menjadi gambaran yang blur dan kacau. Ingatan yang Ichigo sendiri tidak yakin apakah itu nyata atau hanya sesuatu yang ia lihat di televisi. Pikiran dalam otaknya sudah terlalu berantakan sehingga tidak dapat memisahkan hal-hal nyata yang terjadi.

Dia berubah semejak itu, menjadi seseorang yang bukan 'Ichigo' lagi. Sebagian dirinya selalu berharap ketika semua ini berakhir, ketika misi-misi yang diciptakannya sendiri selesai, dia akan menemukan Ichigo yang itu lagi. Renji tidak terlihat berharap banyak atas dirinya atau membesarkan hatinya sedikitpun, meskipun sebenarnya dia adalah ahlinya dibidang ini.

Rukia membuat suara pelan sambil membenarkan duduknya, matanya masih setengah terbuka. "Apa kita sudah sampai?"

"Hampir." Jawab Ichigo, memberi Rukia sebuah senyum kecil yang kemungkinan besar tidak dilihatnya. "Hum, Kita hampir sampai di kota. Kalau kau tertarik, kau bisa melihatnya lewat kaca jendela." Biasanya ia tidak mengatakan hal-hal seperti itu, tetapi karena Rukia kelihatan seperti seseorang yang menghabiskan hidupnya dibawah batu atau di planet lain, Ichigo pikir Rukia ingin melihat keadaannya. Rukia menggosok matanya dan melihat keluar, hampir menempelkan dahinya di kaca jendela.

Sejujurnya pemandangan diluar sana cukup mengagetkan. Mobil itu melewati rumah-rumah yang terlihat seperti pondok yang dilanda bencana alam, semuanya terlihat seperti bagian dari foto berefek sepia. Tidak satupun bangunan yang lolos dari bekas-bekas api akibat petir atau hantaman mobil. "Disini tidak terlihat bagus." Ucap Rukia dengan alis berkerut.

"Ya, memang." Gumam Ichigo sebagai respon.

"Kenapa?" Tanya Rukia membenarkan duduknya, matanya menatap Ichigo yang membuat Ichigo merasa tidak nyaman.

"Hm…" Ichigo berpikir keras untuk menjawabnya. Ceritanya panjang dan mengingat tentang Rukia yang tidak tahu apa-apa, ia harus menjawabnya sesimpel mungkin. "Kurasa orang-orang sudah menyerah merawat benda-benda mereka. Tempat dimana aku tinggal tidak jauh bedanya dengan rumah-rumah barusan, dan kurasa hanya beberapa meter lagi pemandangannya akan terlihat seperti tempat pembuangan sampah."

Rukia mengangguk, Ichigo yakin sebenarnya Rukia tidak terlalu mengerti maksudnya, tapi dia hanya mengembalikan perhatiannya pada pemandangan diluar. Sebenarnya jelas bahwa apapun gambaran yang ia miliki tentang keadaan suatu benda, itu tidak sepenuhnya benar.

.

.

Setelah masuk ke dalam kota, pemandangannya menjadi lebih menarik bagi Rukia. Ia terpesona dengan gedung-gedung pencakar langit seperti anak yang datang dari desa. Ketika sampai di depan gedung apartemen tempat Ichigo tinggal, Rukia takjub akan pemandangannya. Gedung tersebut berbeda dari apa yang ada di pikirannya, setidaknya tidak seperti pemandangan yang ia lihat dalam perjalanan ke sini.

Rukia keluar dari mobil Ichigo yang diparkir di tanah lapang dibelakang gedung. Ichigo meraih tasnya dari kursi belakang. Keluar lalu menutup pintunya. Ia mengunci mobilnya sebelum berjalan ke arah gedung dengan Rukia mengikutinya seperti seekor anak anjing yang mengikuti tuannya.

"Apa aku akan tinggal ditempat Ichigo?" Tanya Rukia. Pertanyaan itu membuat Ichigo menghentikan langkahnya. Rukia yang tidak menyadari Ichigo berhenti, menabrak punggung Ichigo dan terdorong mundur satu langkah. "Kupikir kau akan tinggal bersama Renji." Jawab Ichigo walaupun sebenarnya Ichigo belum pernah mendengar siapapun benar-benar tinggal bersama Renji, siapapun di dalam rotasi kehidupan Renji sejak Ichigo mengenalnya. Orang-orang yang pernah masuk ke apartemennya lebih terlihat seperti 'terjebak' disana untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. "Ketika ia kembali." Sambung Ichigo. Rukia menghela napas lalu memberi respon "Oh."

Ichigo berhenti di depan pintu apartemennya. Rukia menunduk memperhatikan lantai sambil menunggu Ichigo membuka pintunya. Ichigo mengeluarkan sebuah kunci dari tasnya. Sebuah kunci sebagai pengaman pada masa itu memang agak primitif, tapi Ichigo lebih menyukainya karena paling mudah digunakan dan tidak membuatnya harus mengingat nomor-nomor tidak penting.

"Oy." Ichigo tersenyum, mencoba menghibur Rukia. Dia sendiri tidak yakin kenapa dia peduli padanya. "Di apartemenku ada sedikit ruang, jadi sampai Renji kembali kau bisa tinggal di tempatku. Bagaimana?"

Rukia mengangkat kepalanya, senyum berada di wajahnya, walaupun hanya sebentar. "Baiklah."

.

"Jadi, ini 'rumah'ku." Kata Ichigo dengan nada seperti tidak-ada-yang-mengesankan-dalam-apartemenku sambil membuka pintunya. Tapi bila dibandingan dengan kamar kecilnya di lab dulu, dinding yang dicat berwarna, tempat tidur dengan seprai yang bagus, dan banyak furniture didalamnya, membuat apartemen Ichigo menjadi sesuatu yang mengesankan bagi Rukia. Disana bahkan ada jendela, atau lebih tepatnya sebuah pintu yang menjadi tempat pertama yang ia datangi setelah menaruh tasnya di atas lantai.

Rukia membukanya dengan mudah, sebuah balkon kecil berada dibaliknya, tapi cukup lebar untuk seluruh tubuhnya untuk berada diluar. Balkon itu tidak terlalu tinggi, tetapi pemandangannya bagus, memperlihatkan bangunan-bangunan terdekat dan gedung-gedung tinggi yang memantulkan sinar matahari. Berberapa kali terdengar sebuah sirene, pelan dan sepertinya jauh dari apartemen itu, tapi selain suara itu keadaannya lebih damai dari apa yang Rukia kira.

"Aku menyukainya." Ucapnya, berbalik untuk melihat ke arah Ichigo dengan sebuah senyum tipis di wajahnya. Tasnya entah kenapa seperti bergerak dengan sendirinya dari lantai ke atas sofa.

"Ukurannya tidak terlalu besar, aku tahu itu." Suara Ichigo tidak terdengar jelas, kepalanya seperti masuk ke dalam sebuah kotak putih besar. Ketika ia keluar, Ichigo memegang sebuah kotak kecil dan botol dengan cairan putih didalamnya. "Tapi cukup nyaman tinggal disini." Rukia mengangguk, dan masuk kembali ke ruangan itu. "Kau bisa tidur ditempat tidur kalau kau mau." Ichigo terdengar sedikit segan untuk menawarkan hal itu. "Aku bisa tidur diatas sofa untuk beberapa malam."

Rukia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur, mencoba kasur Ichigo. Rasanya lebih nyaman daripada kasur yang dimiliknya di lab. "Terimakasih Ichigo."

"Ya." Ichigo tertawa sebagai respon, menyiapkan sesuatu dengan punggungnya menghadap Rukia. "Ah, kalau kau butuh sesuatu untuk dimakan, kau bisa mengambil sesuatu dari dapurku." Rukia mengambil kesimpulan 'dapur' adalah tempat dimana Ichigo sekarang berdiri dari nadanya.

Ichigo mencari remote untuk menghidupkan televisi, sebuah kotak kecil di pojok ruangan hidup lalu Ichigo mengatur volumenya. Perhatian Rukia jatuh ke acara berita yang ditampilkan. Seorang wanita dengan nada khidmat melaporkan tentang kematian tujuh warga saat serangan para electro-maniacs disebuah pusat perbelanjaan. Ichigo dengan cepat mengganti saluran kesebuah acara dengan beberapa remaja yang tertawa entah karena apa.

"Ichigo?" Tanya Rukia kepada Ichigo yang duduk diatas sofa memegang sebuah sendok dan mangkuk berisi sesuatu dibawah wajahnya. "Apa itu 'electro-maniacs'?"

Ichigo tidak menjawab pada awalnya, memenuhi mulutnya dengan makanan agar bisa menghindari pertanyaan itu. Rukia sudah cukup sering melihat cara Arisawa-sensei dan Ukitake-sensei menghindari pertanyaannya jadi saat melihat prilaku Ichigo ia pikir ia tidak akan mendapatkan jawaban.

"Mereka kumpulan orang-orang." Jawab Ichigo setelah menelan makanan dimulutnya. "Mereka orang-orang seperti kau, hanya saja mereka mengeluarkan semacam arus listrik bukan api. Mereka… menyebalkan."

"Menyebalkan?" Ulang Rukia.

"Yah, anggap saja begitu. Banyak orang mati karena mereka" Ichigo mengeluarkan hand phonenya, menekan beberapa tombol, lalu menempelkannya ke telinga sebagai tanda untuk menghentikan pembicaraan mereka,

Rukia melihat kebawah, fokus ke motif yang ada di seprai tempat tidur Ichigo. "dan mati itu bukan hal yang bagus." Ucapnya pada dirinya sendiri, mengingat perkataan Tatsuki dihari dimana ia pertama kali membawa Rukia keluar dari laboratorium. Apakah itu benar-benar kemarin? Tapi terasa seperti sudah lama terjadi.

Dia tidak sadar Ichigo memperhatikannya sampai beberapa saat kemudian. "Ya," Ia memberikan pandangan bingung pada Ichigo. "Mati itu bukan hal yang bagus." Ichigo baru berhenti memperhatikannya ketika orang disisi lain telpon mulai bicara lagi. "Hey, Renji." Ucapnya berdiri dari tempatnya duduk sebelum beranjak ke balkon agar ia bisa bicara tanpa Rukia mendengarkan.

Rukia memperhatikan Ichigo sebentar, mempelajari kelakuannya dan mencoba membaca gerak bibirnya setiap Ichigo menolehkan kepalanya ke arahnya. Dia kelihatan marah dan Rukia tidak tahu apa penyebabnya, apakah karena dirinya atau orang yang dipanggil 'Renji' itu yang membuatnya marah. Selain itu, ia merasa tidak ingin menonton lagi, tapi ia tetap melihat ke televisi dan memaksa dirinya tertawa setiap kali ia bisa mendengar suara tawa dari program tersebut, berpura-pura terhibur akan sesuatu yang ia tidak mengerti sama sekali.

.

.

To be continued

.

.

Author's tea time!

*author hara kiri ditempat* kok ceritanya jadi nganeh gini… aah… atau ini gara-gara saya kangen nulis angst ya… huehehehe ato ini gara-gara saya menonoton ulang SAO dan sifat garang Ichigo jadi gentle dan Rukia entah kenapa saya ngerasa dia jadi imut banget di fict ini. *Dibunuh rame-rame* mohon maafkan saya. T.T

ICHIGO HAPPY BEDEY! 3

Saya hanyalah seorang newbie yang masih belajar, maukah kalian kasih review untuk membantu saya 'menyempurnakan' EYD atau entah apa aja untuk tulisan saya yang akan datang?

Terimakasih banget uda mau baca! :D