Title: Sun Burns Down Ch. 4 – Ichigo's Apartement

Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan akan bertambah seiring waktu.

Warnings: Typos, OOC, mention of dirty things.

Note: We don't have super powers like they do. Credits to 'abang' Tite Kubo. I just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. The title credit is for Akanishi Jin's 'Sun Burns Down' - a very sexy song, it's suitable as this fic theme too

.

.

.

Setiap kali Ichigo mendengar suara kendaraan besar mendekat, ia buru-buru keluar ke balkon, melihat ke bawah untuk mengecek apakah ada sebuah bus tua milik Renji terparkir di sana. Tetapi tidak ada, bus itu tidak d isana. Renji masih belum kembali, proyeknya kali ini sepertinya menyita waktu yang lebih lama dari perkiraannya, walaupun sebenarnya hal itu sudah ditebaknya.

Sejujurnya, semua ini bukan hal yang buruk baginya. Rukia tidak begitu merepotkan, berbeda dari apa yang ia kira sebelumnya. Buktinya apatemennya belum terbakar sampai saat ini juga, walaupun sebenarnya baru sehari berlalu. Ia menjadi punya kebiasaan mengganti channel ketika beberapa program mulai membicarakan tentang kematian, maniacs, atau sesuatu yang akan membuat Rukia bertanya kepadanya akan pertanyaan yang dapat membuatnya menjadi emosional.

Rukia baru bangun setengah jam yang lalu, sekarang ia sedang menonton televisi dari tempat tidurnya. Matanya masih terlihat mengantuk, kepalanya masih diatas bantal, dan salah satu kakinya menjulur keluar dari bawah selimut. Dia terlihat sangat nyaman dan tenang, seperti tempat tidur itu adalah tempat khususnya. Ichigo menggelengkan kepala untuk mengusir pikiran anehnya itu, mendengarkan nada dering di handphonennya, menunggu orang yang diteleponnya mengangkat. Sebuah suara serak menjawab di sisi lain telepon.

"Yo, pagi Renji." Ucapnya dengan nada riang, Renji mengerang pada nada Ichigo yang membuatnya geli. "Urusanmu tidak berjalan lancar, kan?"

"Ya." Renji menghela napas. "Kecanduan gadis ini lebih kuat dari apa yang aku duga."

Ichigo diam untuk beberapa saat, memperlihatkan rasa simpatinya dengan cara yang sopan sebelum menyampaikan maksud dari telponnya. "Apa kau sudah bicara dengan temanmu… siapa-Arikawa?"

"Arisawa." Jawab Renji dengan nada seperti campuran dari berbagai emosi. "Dia tidak mengangkat telponku." Ichigo menghela napas pelan. Teman Renji yang ini emang benar-benar sesuatu, ia membuang seorang bocah pada seseorang yang miskin seperti dirinya tanpa peringatan apapun. Tapi mengingat reputasi Renji, sangat mungkin bahwa 'Arisawa' ini menghindari pembicaraan dengan Renji mengenai apapun. "Bagaimana keadaan bocah itu?"

"Dia…" Ichigo menoleh kebelakang, Rukia duduk sekarang dengan tangannya yang merapikan rambut acak-acakannya. "baik-baik saja."

Renji tertawa, walaupun Ichigo tidak merasa ada yang lucu mengenai hal itu. "Tidak begitu merepotkan seperti yang kau kira ya?"

"Lebih tepatnya belum." Gumam Ichigo. Dia bertanya lagi kapan Renji akan kembali sebelum memutuskan sambungan.

Ichigo menjatuhkan dirinya diatas sofa, meregangkan tangannya ke atas kepala. Terkadang memang enak bersantai seperti ini, tanpa ada pekerjaan, tanpa ada seseorang untuk diburu. Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, tapi hal itu bisa menunggu sampai bus tua Renji datang untuk menyelesaikan salah satu masalahnya walaupun akan menambahkan masalah yang lain. Sekarang dia bisa beristirahat – selama Rukia berada dalam kontrolnya.

"Ichigo, apa itu pelacur?" Ichigo menyemburkan minuman yang sedang diminumnya ke karpet, lalu memandang Rukia, tidak tahu harus memberi respon apa. "Lelaki itu memanggil wanita itu seorang pelacur. Apa artinya?"

Ichigo meraih remote untuk mengganti channelsecepatnya. "Kau seharusnya tidak menonton hal seperti itu."

Rukia cemberut. "Kurasa belakangan ini kau mengacuhkanku." Ada sesuatu dipernyataan itu yang mengagetkan Ichigo. Mungkin dia memang seperti menjaga banyak hal agar tidak diketahui oleh Rukia.

"Maaf." Ucap Ichigo pelan, menyerahkan kembali remote pada Rukia. "Tonton apa yang ingin kau tonton."

"Aku tidak mau menonton lagi." Jawab Rukia, turun dari tempat tidur. Ia berjalan menuju jendela memperhatikan cahaya pagi yang menerpa kota itu dalam piyama lusuh Ichigo yang kebesaran.

Ichigo memikirkan sesuatu untuk menghiburnya. "Hey, kalau kau mau, aku bisa membawamu belanja hari ini."

"Belanja?"

"Membelikanmu beberapa baju baru." Jelas Ichigo. "Kau tidak bisa memakai pakaianku terus, dan pakaian yang kau miliki tidak... terlalu bagus."

Rukia melihat ke dirinya sendiri sebelum kembali menatap Ichigo. "Kau pikir begitu?" Ichigo mengangguk dan Rukia setuju karena itu. "Baiklah kalau begitu."

.

Belanja merupakan hal yang disukainya, dulu. di waktu yang lain, di kehidupan yang sekarang telah dijalani oleh orang yang berbeda. Tapi keluar untuk belanja hari itu terasa hampir sama seperti dulu. Semangat Rukia untuk pergi ke toko sangat jelas terlihat dan membuat Ichigo heran tiap kali ia melihat wajah riang Rukia. Tapi perasaan yang nostalgic itu hilang tiap kali ia mendengar percakapan orang-orang tetang kekacauan yang baru terjadi di sisi lain kota, sirene-sirene yang mengganggu terdengar setelah itu.

Rukia kelihatan bersenang-senang akan segala hal, mencoba baju-baju, dan keluar dari ruang ganti untuk mendapatkan persetujuan Ichigo. Dia tahu dirinya kelihatan cantik, itu sudah jelas. Tapi sering kali Ichigo menggeleng dengan tatapan bingung-harus-apa tiap kali ia memilih pakaian yang seperti berasal dari zaman pertengahan. akhirnya Ichigo setuju dengan apa yang dipakainya.

Mereka berdua berhenti di depan sebuah toko pakaian dalam. Ichigo menaruh beberapa lembar uang kertas di atas tangan Rukia. "Masuk, katakan pada pramuniaga, 'aku butuh yang sesuai denganku.' Setelah pramuniaganya menemukannya, mintalah mereka mengajarimu cara pakainya, lalu belilah beberapa helai. Aku akan menunggu di toko buku disana." Kata Ichigo sambil menunjuk ke sebuah gedung.

"Eh?" Rukia terlihat bingung.

"Kau memperhatikanku saat membayar kan? Lakukan seperti itu." Kata Ichigo sambil mendorong Rukia ke pintu masuk.

"Tunggu, kenapa kau tidak ikut masuk." Tanya Rukia sebelum memasuki pintunya. "Kau menemaniku di toko-toko sebelumnya."

"Kali ini aku tidak bisa." Ichigo mendecakkan lidahnya, di pipinya terdapat sedikit semburat pink. "Masuklah, kau membutuhkan pakaian ini."

Rukia memandang Ichigo bingung tapi ia melakukan persis seperti apa yang dikatakan Ichigo padanya. Setelah selesai, ia keluar dari toko itu dan mendekati Ichigo yang berdiri di luar toko bertulisan 'Toko Buku Ishida'. Ia sedang membaca sebuah majalah. "Aku sudah selesai."

"Oh." Ichigo memandangnya sebentar sebelum mengangguk, menaruh kembali majalah yang dipegangnya.

Mereka tidak membeli banyak, tapi mereka terlihat membawa banyak sekali tas hanya untuk 'beberapa helai pakaian'. Tas-tas itu diletakkan di lantai sebelah meja mereka di sebuah café dimana Ichigo memutuskan untuk makan siang di sana. Menonton Rukia makan cukup menghiburnya, karena ia memakannya dengan sangat cepat, seperti dia baru pertama kali mencoba sesuatu dan menemukan bahwa hal itu enak. "Apakah Renji orang yang baik?" Tanya Rukia tiba-tiba, Ichigo tidak menangkap maksudnya sampai beberapa saat.

"Ya." Jawabnya dengan senyum kecil. "Dia terlihat agak… mengintimidasi, tapi sebenarnya dia sangat baik. Dia seperti… pernah menyelamatkanku."

Rukia menatapnya dengan tatapan kosong. "Apa maksudnya dengan menyelamatkan mu?" tanyanya, menelan makanan yang ada di mulutnya. "Dari-siapa?" Rukia diam beberapa saat, mencari sebuah kata dalam pikirannya. "Electro-maniacs itu?"

"Kau bisa menganggapnya begitu." Jawab Ichigo pelan. Secara teknik, itu benar. Walaupun orang lain mungkin menganggapnya sebagai hal lain. Rukia kelihatan masih punya banyak pertanyaan mengenai hal itu, tapi untuk kali itu dia diam dan menyimpan pertanyaannya. Mungkin Rukia bisa melihat dari wajah Ichigo bahwa itu bukan hal yang ingin ia bicarakan dan Rukia memilih untuk menghormatinya. Ichigo sendiri berpikir, kemungkinan besar ia sendiri tidak tahu apa jawabannya.

.

.

Ada sebuah pesan di pintu apartemen Ichigo ketika mereka sampai, sebuah 'tagihan uang sewa' dari pemilik gedung apartemen. Untungah Urahara tidak terlalu memaksa tentang tenggat waktu pada penyewanya, selama mereka mebayar denda. Agak tidak adil memang.

"Apa itu sewa? Apa itu denda? Siapa Urahara? Apakah dia baik?" Tanya Rukia. Ichigo pikir dia akan segera lelah akan pertanyaan Rukia setelah beberapa saat, tapi ada sesuatu pada diri Rukia yang membuatya tidak dapat marah padanya.

Rukia menjatuhkan barang pembelian hari itu di sebelah sofa, meraih tasnya dan duduk dilantai untuk memindahkan pakaian-pakaian baru itu kedalam tasnya. Bersenandung pelan sambil melakukannya. Ichigo tidak sadar dirinya memperhatikan Rukia sampai Rukia melihat kearahnya. "Ada apa?"

"Tidak. Bukan apa-apa." Jawab Ichigo, menggelengkan kepalanya dan mencari sesuatu untuk diperhatikan. Ia kaget ketika sesuatu menyentuh lengannya dan dengan reflek melemparkan sesuatu itu ke lantai.

Hal itu menarik perhatian Rukia dengan cepat. "Apa? Apa?" Dirinya berdiri lalu mundur beberapa langkah dengan gugup.

"Bukan apa-apa. Hanya serangga." Kata Ichigo sambil menunjuk hewan berkaki delapan yang mulai merayap mendekati dinding yang bercat cokelat.

Rukia melihat ke arah yang ditunjukkan Ichigo dan membuat ekspresi seperti terkesan ketika melihat seekor laba-laba mulai merayap naik dengan pelan. "Ah… Arisawa-sensei pernah menunjukkan gambar hewan itu." Rukia melihat ke sekelilingnya, mengambil sebuah Koran dari tumpukan 'benda-benda yang akan dibuang oleh Ichigo'. Koran itu digulungnya, lalu dipukulkan ke dinding, dan serangga kecil itu menempel di sisi lain gulungan koran. Koran itu lalu di letakkan kembali ke tumpukan dan Rukia tersenyum seperti ia baru saja melakukan sesuatu yang berguna. Ichigo hanya bisa tertawa tidak habis pikir.

Ichigo merasa ia akan lega dan senang ketika ia mendapatkan privasinya – dan tempat tidurnya – kembali saat Renji benar-benar kembali, Walaupun ia merasa apartemennya itu akan menjadi sedikit suram dan sunyi tanpa Rukia. Tapi suasana tenangnya menjadi sesuatu yang ia tunggu-tunggu.

.

Rukia menghabiskan tiga hari selanjutnya di tempat Ichigo, berbaring santai di atas tempat tidurnya atau menonton televisi atau bertanya banyak sekali pertanyaan yang biasanya terlalu sulit untuk dijawab dengan kalimat yang sederhana dan tepat bagi Ichigo. Pagi itu dia terbangun dari sofa akibat sinar mentari yang masuk melalui celah tirai, dan langsung menuju ke balkon. Berbeda dari beberapa hari sebelumnya, pagi ini terdapat sebuah bus tua terparkir di tanah lapang belakang gedung.

Ichigo mendengar suara gumanan pelan dari belakangnya, Rukia menutupi wajahnya dengan bantal Ichigo untuk menghindari cahaya matahari yang silau. Ichigo menghiraukannya dan duduk di sofa untuk mengecek berita terbaru di televisi dengan volume terkecil. Semuanya bukan berita bagus, penuh dengan berita kematian atau pembunuhan. Ichigo selalu mendengar bagaimana para maniac disalahkan atas semua hal yang terjadi ini, padahal sebenarnya di dalam hatinya, Ichigo tahu itu tidak benar. Kebanyakan dari para maniac itu kemungkinan pernah normal, mereka adalah sebagian orang-orang terhormat yang memulai semua ini dengan meminum sejenis obat demi melindungi diri mereka sendiri. Mereka terlalu angkuh karena berpikir otak mereka lebih pintar dari pada orang lain.

Para maniac itu tidak berbeda dengan dirinya. Ichigo sejujurnya merasa kasihan kepada mereka lebih dari siapapun.

Sejam kemudian, pintu apartemennya diketuk seseorang. Ichigo mengguncang tubuh Rukia dengan pelan saat melewati tempat tidur, memberitahunya untuk bangun. Rukia menggerang, mencoba duduk sambil mengusap kedua matanya. "Apa yang terjadi?" Gumamnya, suaranya masih terdengar sengau.

Ichigo mengintip lewat lubang pintu sebelum memberi Rukia jawaban. "Renji disini." Ucapnya, membuka pintu. Renji yang berada dibalik pintu berdiri dengan melipat kedua tangannya di depan dada. "Kakiku terasa sakit sangking lamanya kau membuka pintu." Ichigo memberikan jalan untuk Renji masuk, membiarkan Renji masuk terlebih dahulu lalu menutup pintu dibelakangnya.

"Tidak ada 'Hello' atau pelukan? Kau memang kurang ajar seperti biasanya." Renji tersenyum kecil untuk memberi sinyal ia tidak serius atas perkataannya itu. Ichigo tidak memberinya respon sampai Renji melihat Rukia, masih duduk di atas kasurnya, terbalut selimut Ichigo dengan ekspresi waspada di wajahnya. Renji melihat kembali kearah Ichigo, dengan senyum nakal di wajahnya.

"Itu Rukia." Jawab Ichigo cepat, tidak membiarkan Renji mengucapkan sesuatu seperti komen mesum. Dia tahu benar bagaimana cara Renji berpikir (walaupun sebenarnya pikirannya terkadang tidak jauh beda) dan pengaruh yang dapat diakibatkan Renji bukan sesuatu yang ia inginkan untuk terjadi pada Rukia. Dia bukan anak kecil, ucap Ichigo dalam hati, mengingatkan dirinya sendiri.

Walaupun begitu cara Rukia memandang Renji, membuat pikiran itu seperti kemungkinan tidak akan menjadi kenyataan. "Kau Renji?" Rukia terdengar gugup, dan melihat ke arah Ichigo seperti itu akan membuatnya tenang hanya dengan tahu ia berada disana.

Renji mengangguk. "Aku sudah mendengar banyak tentangmu, Rukia." Katanya dengan sebuah senyuman.

"Benarkah?" Rukia masih terlihat tidak terlalu nyaman berada disekitar Renji, tapi perlahan-lahan ia terlihat lebih rileks.

"Ya." Renji mengangguk lagi. "Aku dengar kau sangat spesial."

Rukia mengedip sekali. "Apa Ichigo yang mengatakan kalau aku spesial?"

Ichigo bisa merasakan pipinya mulai terasa panas. "Kau berhasil bicara dengan Arisawa?" Katanya, mencoba menghiraukan perhatian Renji dari pertanyaan Rukia.

Renji menghela napas berat, menggelengkan kepalanya. "Belum. Tapi cepat atau lambat dia akan menjawab telponku." Ia mengeluarkan hand phonenya. "Mungkin aku bisa pergi ketempatnya dan menemuinya sebelum dia terlanjur merasa waspada untuk menghindariku." Gumam Renji, berjalan ke pintu untuk keluar sebentar. "Rukia akan tinggal bersamaku, kan?"

"Ya." Jawab Ichigo. "Kapan saja ketika kau siap." Dia memperhatikan Renji yang berjalan keluar, berharap banyak dia akan mendapatkan beberapa informasi tentang Rukia. Dia tersenyum, tapi senyuman itu lenyap ketika dia melihat wajah tidak nyaman gadis yang masih duduk diatas tempat tidurnya. "Rukia?"

Rukia melihat ke arah Ichigo. "Apa?"

Ichigo duduk di atas tempat tidurnya disebelah Rukia. "Ada apa?"

"Aku…" Jawab Rukia terputus, seperti ia tidak punya jawaban untuk menjawab. "Aku tidak tahu."

"Rukia." Ichigo menyilangkan lengannya di depan dada, alisnya makin berkerut. "Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak tenang – entah karena kau tau alasannya mengapa atau tidak – kau bisa datang menemuiku." Dia sendiri tidak yakin mengapa dirinya mengatakan itu, tapi Ichigo tidak ingin menarik pernyataannya kembali. Lagipula, sepertinya hanya dia orang yang dikenal Rukia.

"Aku bisa datang kemari?" Rukia memandang tidak yakin.

"Ya." Ichigo menunjuk ke arah langit-langit. "Renji tinggal di lantai atas. Jadi tidak terlalu jauh apabila kau mau datang menemuiku." Ichigo merasa lega karena kelihatannya ia berhasil membuat Rukia kembali rileks. ia tidak menyadari wajahnya mulai mendekati wajah gadis itu, pandangan matanya tertuju pada bibir pinknya, dan tubuhnya mencoba melakukan sesuatu yang alasannya tidak ingin dimengertinya. Rukia memanggil namanya, bertanya padanya apa yang akan ia lakukan dan Ichigo hanya menggelengkan kepalanya, dengan cepat bangkit dari tempat tidur itu.

Apartemennya mungkin akan terasa berbeda, dan dia mungkin akan sedikit merasa sepi tanpa Rukia. Tapi, semua ini demi kebaikan Rukia, demi yang terbaik untuk dirinya juga. Renji lebih baik daripada dirinya, emosinya stabil tanpa merugikan apapun dan siapapun, juga kemungkinan akan kesalahan dalam pengambilan tindakan untuk menangani sesuatu. Renji dapat mengontrol hidupnya sendiri. Tidak seperti dirinya yang sudah tidak akan bisa lagi.

.

.

To Be Continued

.

.

Author's Tea Time!

KYAH! Ga sabar nunggu PV AKB hasil sousenkyo keluar =3

Koisuru Fortune Cookie! Saya uda bisa gerakannya. WTH XDD

Saya ngambil posisi center (Sasshi). Masih sering ketuker timing sih… tapi dancenya enak. :D

Saya hanyalah seorang newbie yang masih belajar, maukah kalian kasih review untuk membantu saya 'menyempurnakan' EYD atau entah apa aja untuk tulisan saya yang akan datang? XD

Terimakasih uda mau baca! :D