Title: Sun Burns Down Ch. 5 – Renji's Apartemen

Characters: Ichigo Kurosaki, Rukia Kuchiki, Renji Abarai, Tatsuki Arisawa, dan akan bertambah seiring waktu.

Warnings: Typos, OOC, OC, Headaches.

Note: We don't have super powers like they do. Credits to 'abang' Tite Kubo. I just have the plots and 'cera', an acer who accompany me to type this. Thanks for my forever love BlackWind1001!

.

.

Apartemen Renji tidak terlalu terasa seperti 'rumah yang nyaman', tidak seperti kesan yang ia dapat dari apartemen Ichigo. Tapi setidaknya Renji punya tempat di mana ia bisa pulang pikir Rukia. Menciptakan suasana rumah yang nyaman, bukan termasuk dalam deret tertinggi pada tabel prioritas Renji. Terutama karena waktu yang ia habiskan di luar jauh lebih lama daripada waktu yang ia habiskan di rumah. Ia bisa langsung tahu dari wajah Rukia, bahwa Rukia sudah merindukan tempat Ichigo, di saat yang sama ia melihat-lihat apartemennya dengan tangan yang menggenggam erat tali tasnya. Ichigo benar, Rukia lebih terlihat seperti anak anjing yang tersesat daripada psikopat berbahaya yang mereka kira pada awalnya.

"Anggap saja rumah sendiri… yah, kira-kira begitulah." Katanya, tetapi Rukia tidak terlihat seperti dia siap untuk dapat merasa nyaman di apartemennya. Butuh beberapa saat bagi Rukia untuk akhirnya duduk di sebuah kursi malas di sudut ruangan. Dia mungkin akan tidur di sana. Karena Renji tidak dapat menjamin tempat tidurnya cukup nyaman untuk dipinjamkan ke seorang gadis. "Jadi bagaimana bisa kau mengenal Tatsuki?" Tanya Renji, mencoba membuat Rukia merasa nyaman seperti pada saat ia berada di tempat Ichigo.

"Tatsuki?" Rukia menatap Renji seperti dia adalah sebuah boneka bicara.

Renji menganggkat sebelah alisnya yang bertato. "Kau bercanda, kan? Tatsuki Arisawa, dia yang menelponku agar-"

"Ah," gumam Rukia mengerti. "Maksudmu Arisawa-sensei." Renji mengangguk pelan, dia tidak pernah mendengar nama Tatsuki dengan suffix '-sensei' sebelumnya. Mungkin jika dulu dirinya bertanya hal simpel dahulu seperti 'apa pekerjaanmu?' keadaan mereka mungkin tidak akan berakhir seperti sekarang. Mungkin. "Kupikir dia dokter favoritku di Lab."

"Lab apa?" Tanya Renji sambil memanaskan air untuk membuatkan mereka beberapa cangkir teh.

Rukia terlihat bingung, alisnya berkerut karena pertanyaan itu, lalu dia mengangkat bahunya. "Ya labnya. Kenapa, apa ada lab lain?"

Ia baru saja bertanya hal bodoh, pikir Renji, tapi dia menghiraukan respon Rukia sebelumnya tanpa memberikannya comment lain. Teko di atas kompor mulai berbunyi. Suara berpitch tinggi yang dihasilkannya mengagetkan Rukia. Renji segera mengangkat teko tersebut dari atas kompor, suara teko yang secara perlahan-lahan berhenti membuatnya lega.

Rukia memperhatikan mug yang diberikan Renji padanya, menggoyangkannya pelan dan menghasilkan sesuatu seperti putaran cairan di dalam mug. ia lalu mempelajarinya sebentar sebelum akhirnya meminumya. Renji hampir tertawa ketika Rukia dengan segera menjauhkan mug itu dari mulutnya dan terbatuk. "Panas." Ucap Rukia, menarik napas untuk mendinginkan lidahnya.

"Maaf." Jawab Renji daripada jawaban, "Tentu saja." Yang ada dipikirannya. Handphonenya mulai berbunyi saat Rukia meniup pelan bagian atasmugnya, kelihatan seperti seorang anak kecil yang mencoba membuat teh itu agar bisa segera diminum daripada membiarkannya dingin setelah beberapa saat. Renji hampir tidak percaya saat melihat nama yang tertera di atas screen handphonenya dan mengangkatnya dengan perasaan penasaran daripada perasaan keharusan untuk mengangkatnya. "Halo?"

"Renji," itu suara Tatsuki dan dia merasa seperti membenci dirinya sendiri karena suara itu membuatnya mengingat memori tentang kisah cinta di musim panas dahulu. Hal yang membuat Renji merasa dirinya agak berlebihan sebagai seorang pria untuk, menginginkan kembali ke saat itu sampai sekarang. "Ada apa?"

Ada nada perhatian dalam suara Tatsuki, sesuatu yang tidak familiar baginya. "Ha?"

Tatsuki menghela napas. "Kau meninggalkanku pesan yang mengatakan ada sesuatu yang salah dengan Rukia. Jadi, apakah dia baik-baik saja?"

"Ah, iya." Gumam Renji, melirik sebentar ke gadis yang duduk di kursinya, dia sedang memperhatikan sebuah program di sebuah channel televisi dengan lebih seksama daripada kebanyakan orang normal biasanya. "Dia… baik-baik saja, tapi…" sebelah tangan Renji yang lain naik ke atas kepalanya, dengan pelan mengusap dahinya. "Kupikir kita harus membicarakannya."

Diam beberapa saat sebelum Tatsuki mengangkat suara lagi, kali ini dengan sedikit menurunkan suaranya. "Aku sedang di tempat kerja, Aku tidak bisa."

"Jadi temui aku di tempat lain." Renji membenci dirinya sendiri untuk memilih kata-kata itu, tapi tidak ada waktu untuk menariknya lagi. Lagipula Tatsuki kemungkinan tidak akan menganggapnya seperti apa yang ia pikirkan.

"Baiklah." Keluh Tatsuki. "Hanya saja, jangan biarkan ia sendirian."

Renji bahkan tidak punya pikiran untuk melakukannya. Memang benar, Rukia belum membumi hanguskan tempat Ichigo, tapi kemungkinan belum itu juga ada karena Ichigo adalah seseorang yang dapat membuat suasana sebuah ruangan menjadi tenang. Renji berharap dirinya suka babysitting.

.

Dia meminjam mobil Ichigo – busnya terlalu menarik perhatian hanya untuk sebuah perjalanan pulang-pergi yang sebentar – dan membelokkan mobil itu di sebuah tempat parkir truk di tempat dimana mereka berjanji, tempat dimana ia tidak sengaja melihat Tatsuki berkelahi dengan seorang lelaki lusuh di suatu waktu di saat mereka pertama kali bertemu. Renji tersenyum pahit pada dirinya sendiri ketika memikirkannya, bagaimana setiap memori lain yang menyangkut Tatsuki membuka lagi sebuah luka yang telah tertutup.

Dia, Tatsuki sudah di sana. Bersandar pada sebuah mobil yang terlihat mahal di lapangan parkir itu. Renji memarkirkan mobil Ichigo di sebelah mobil Tatsuki, perasaan tidak enak merasukinya. Renji selalu mencoba agar terlihat tenang bahwa hal-hal yang telah terjadi tidak mengganggu pikirannya, atau intinya mencoba untuk menjadi kuat. Tapi menjadi kuat adalah hal yang harus ia lakukan demi melakukan pekerjaannya. Saat-saat sulit yang harus ia lewati juga adalah satu-satunya jalan untuk membantu seorang maniac. Membantu dengan mencoba dekat dengan mereka dan menyembuhkan mereka. Ini juga satu-satunya jalan untuk menghidupi hidupnya disaat semuanya tidak berjalan lancar, demi orang-orang yang tidak bisa diselamatkan.

Tatsuki menghela napas berat, Renji bisa melihat dari gerak-gerik dan ekspresinya bahwa Tatsuki mencoba melawan keinginannya untuk segera pergi disaat yang sama saat Renji keluar dari mobil Ichigo. "Hey, Tatsuki." Ucapnya pelan, mencoba untuk terdengar santai – seperti apa yang biasanya Tatsuki katakan tentangnya. Tapi respon yang Renji dapat hanyalah sebuah lambaian tangan kecil. "Kau tidak pernah mengatakan padaku bahwa kau seorang dokter."

"Aku bukan dokter." Kata Tatsuki dengan nada kesal khasnya. "Aku… hanya melakukan beberapa percobaan ipa." Dia menjaga suaranya agar tetap rendah, seperti dia tidak ingin menarik perhatian. Walaupun sebenarnya mobilnya sudah cukup membuatnya jadi pusat perhatian.

"Kau tampak sehat."

"Jangan katakan apapun." Tatsuki tidak mau mencoba menggali masa lalunya, dan dia berhasil mengatakannya dengan tiga kata.

Renji tersenyum, pada dasarnya menghiraukannya. "Kau memanjangkan rambutmu. Ketika aku bilang kau harus memanjangkannya dulu, kau menghiraukannya."

"Aku memanjangkannya untuk mengejekmu. Bisakah kita langsung ke inti masalah?" antara Tatsuki jujur atau tidak, itu tidak jelas, tapi Renji menyerah untuk mencoba mengusili Tatsuki.

"Baiklah." Jawab Renji, mencoba duduk di kap mobil Ichigo. "Rukia. Apa yang terjadi dengan bocah itu dan kenapa kau membuangnya padaku?"

Tatsuki menghela napas, memasukkan kedua tangannya ke dalam kantung celananya. "Sensei – maksudku dokter yang mengetuai percobaan di lab bio itu, tidak menginginkannya untuk mati." Ucapnya dengan nada yang biasanya ia pakai untuk berbicara dengan orang-orang yang lebih pintar darinya. Mereka berdua mengerti dengan benar bahwa Renji bukanlah orang yang membuat Tatsuki harus berbicara dengan nada itu.

"Mati." Ulang Renji, memutar kedua matanya. "Sebenarnya apa-apaan yang kalian lakukan di sana?"

Itu bukan pertanyaan yang dikiranya akan mendapat jawaban, tapi Tatsuki menjawab pada akhirnya. "Eksperimen genetik." Jawabnya, perlahan dengan masing-masing suku kata, tidak heran ekspresi yang dapat terbaca di wajah Renji. Dua kata itu dengan sempurna menjelaskan mengapa Tatsuki tidak pernah menyebutkan pekerjaannya. Tatsuki tahu, Renji membenci siapa saja yang mengambil keuntungan dari perubahan keadaan yang sangat mengganggu dan tragis ini.

"Jadi aku bisa menyalahkanmu karena memberikan Rukia salah satu obat-obatan sialan itu?" Kata-kata itu meluncur keluar begitu saja dari mulut Renji. Renji tahu benar, semua kekuatan aneh itu diakibatkan oleh obat-obatan aneh. Manusia pada dasarnya tidak bisa melakukan sesuatu seperti itu. Dia baru mengenal Rukia selama beberapa jam, tapi percakapan ini membuatnya merasa ia harus melindungi gadis itu.

"Tidak." Tatsuki terdengar seperti sedang menahan tawa. Tidak ada yang lucu tentang hal ini. "Maksudku, aku hanyalah seorang pesuruh ketika mereka memulainya. Tunggu," Ucapnya menaruh salah satu tangannya di dahinya. "Tapi tetap saja itu bukan hal yang bagus."

"Yeah, tentu saja." Renji mengetukkan ujung kakinya ke aspal, melipat kedua tangannya di atas dada. "Apa yang kalian lakukan di sana?"

"Pada awalnya percobaan dilakukan untuk mengurangi efek-efek samping dari obat-obatan 'maniacs' hasil percobaan sebelumnya." Mata Tatsuki jatuh ke tanah pada saat dia menedang sebuah kerikil. "Tapi tujuan itu berubah, aku tidak tahu alasannya, waktu itu aku masih pegawai baru. Sekarang percobaan dilakukan untuk membuat manusia menjadi senjata yang mengerikan."

Renji tertawa sebagai respon. Tatsuki memberikannya tatapan bingung. "Maaf. Aku baru saja membayangkan seseorang yang begitu kecil seperti Rukia dijadikan sebuah senjata."

"Itu sama sekali tidak lucu." Dan itu memaksa tawa Renji berhenti. "Itulah apa yang membuatnya menjanjikan. Kau tidak akan mengiranya lalu – bam! Tubuhmu terbakar."

Sebenarnya, hal itu sangatlah Jenius. Tapi hal itu juga mengingatkannya akan sesuatu. "Kau membuatku mengambil seseorang yang dilatih untuk membakar sesuatu sejak kecil, dan kau tidak menganggapnya sebagai informasi penting untuk dikatakan padaku saat kemarin kau menelponku?"

"Dia terlatih. Kau akan baik-baik saja." Erang Tatsuki. Sama sekali bukan respon yang Renji harapkan. "Dan dia juga tidak akan dengan mudahnya takut padamu. Tapi… mereka bilang dia adalah sebuah kegagalan." Pernyataan itu agak lucu, karena Ichigo mengatakan Rukia telah membuat setengah bangunan terbakar. "Rasa penasaran dan sifatnya sepertinya bukan apa yang para atasan inginkan."

Suasana diam menyelimuti mereka selama beberapa saat, Renji masih mencoba mencerna informasi yang baru diterimanya di kepalanya. Tidak heran kelakuan Rukia kelihatan seperti ia telah dikunci seumur hidup sejak ia lahir di sebuah loker. Kenyataannya itu memang benar. "Jadi… kenapa sekarang dia harus berada di apartemenku? Apakah mereka berniat menghabisinya dengan shotgun?"

Renji mengatakan itu sebagai gurauan, tapi jawaban Tatsuki sama sekali tidak menghibur. "Tidak. Itu terlalu berantakan dan kotor. Mereka membawa orang-orang yang tidak diinginkan ke ruang bawah tanah dan di kurung di sebuah ruangan yang berisi gas beracun. Membuat mereka mati perlahan-lahan seperti anjing sakit."

"Kalian membunuh orang yang tidak bersalah."

Tatsuki menghindari tatapan Renji, seperti kenyataan itu terlalu memalukan untuk diketahui – dan memang sudah sepantasnya ia malu akan hal itu. "Kami masih beberapa langkah lagi untuk mencapai kesempurnaan. Tapi yah… aku tahu pembunuhan itu masih illegal,"

"Aku juga tahu, menculik atau membeli bayi yang baru lahir dari para orang tua putus asa untuk tujuan eksperimen juga bukan sesuatu yang baik. Tapi mereka yang terlibat dengan bisnis ini entah mengapa bisa mengatasinya." Sambung Tatsuki.

Renji mendorong dirinya bangun dari mobil Ichigo dengan menggunakan kakinya, mendekati Tatsuki untuk berdiri di sebelahnya. "Kau membenci pekerjaanmu. Ya kan?"

Tatsuki mengangguk pelan. "Satu-satunya alasan mengapa Rukia berhasil keluar dari tempat itu adalah karena Sensei dan aku terlalu dekat dengannya."

"Tatsuki." Kata Renji, meletakkan tangannya di bahu Tatsuki. Tatsuki tidak menangkisnya, ini sebuah kemajuan. "Siapa yang bertanggung jawab atas omong kosong ini?"

"Siapa menurutmu?"

"Bukan, maksudku," Renji menurunkan suaranya ketika beberapa pengendara mabuk melintasi mereka sambil tertawa. "Apa kau tahu nama-nama mereka?" Ini sesuatu yang sudah Ichigo tanyakan lebih dari satu kali padanya. Sesuatu yang menyangkut tentang dendamnya, tapi Renji tahu alasan sebenarnya mengapa Ichigo berpikir tentang hal itu. Karena itu satu-satunya hal yang tersisa yang bisa Ichigo lakukan.

"Apa gunanya, Renji?"

Dia tidak yakin sama sekali apakah hal ini bagus atau tidak, tapi keadaan ini membuatnya tidak dapat menghentikan dirinya lagi.

.

"Ichigo bisa masak?" Ucap Rukia, masih mencoba dengan beberapa kali berhasil memasukkan mi ke dalam mulutnya dengan sepasang stick kayu seperti apa yang disuruh Ichigo. Ichigo membuatnya tampak begitu mudah, tapi sedari tadi ia tidak bisa melakukannya.

Ichigo tidak mengatakan apapun, hanya memiringkan kepalanya dan duduk kembali di lantai sebelah Rukia. Apartemen Renji tidak memiliki banyak barang, tidak banyak yang bisa dilakukan di sana, tapi kelihatannya Rukia tidak keberatan dengan hal itu. Entah bagaimana, keberadaan Ichigo di sini membuatnya cukup senang dan ia tidak membutuhkan hal lain lagi. Sesekali Rukia melirik layar televisi yang menampilkan sebuah program yang Ichigo sebut dengan drama. "Kehidupan mereka kelihatan begitu simpel." Ucapnya setelah setengah dari drama itu ditontonnya. "Setelah suatu masalah selesai semuanya terlihat kembali normal lagi."

Kali ini pemeran utama wanitanya menangis, berdiri di tengah hujan sambil meneriaki sekelompok lelaki dengan kamera yang menyorot pemeran utama laki-laki. "Hujan rasanya seperti apa?"

Ichigo hampir menyemburkan minuman yang sedang ia minum. "Apa?" Dia hampir tertawa.

"Hujan." Ulang Rukia. Ia merasa agak bodoh berkat tindakan Ichigo. "Aku belum pernah melihatnya."

"Kau pernah mandi dengan shower, kan?" Rukia mengangguk. "Hm… Rasanya seperti itu, tapi airnya berasal dari langit." Rukia senang Ichigo tidak memberikannya tatapan bingung lagi, tetapi langsung memberikannya jawaban simpel seperti hal yang ia tanyakan adalah hal normal.

Rukia melanjutkan menonton program itu dengan seksama, seperti acara itu akan mengajarkannya hal-hal mengenai kelakuan manusia normal – walaupun Ichigo bilang bahwa semua drama agak dilebih-lebihkan. Bagian terakhir scene ini membuat Rukia memiringkan kepalanya, menatap layar televisi dengan tatapan aneh sambil mencoba menebak apa yang sedang terjadi. Ichigo menyadari perubahan ekspresi Rukia, dan bertanya apa yang dia pikirkan.

"Apa dia memakan wajah wanita itu?" Rukia kali ini menatap Ichigo, merasa sedikit muak atas hal yang ia gambarkan tentang scene itu.

Lagi-lagi rasa penasarannya dihadiahi dengan tawa Ichigo. "Bukan. Itu disebut ciuman, Rukia." Ichigo langsung diam setelah kata-kata itu meluncur keluar dari mulutnya, pikirannya kembali pada saat Rukia pertama kali bertemu Renji. Ia bergeser sedikit menjauh dari Rukia dengan bayangan warna merah muda di wajahnya. Dia tidak menyadari mereka duduk begitu dekat satu sama lain. Ciuman…pikirnya sambill memperhatikan Rukia yang sudah kembali fokus pada drama.

Ichigo berdiri dengan reflek setelah ia mendengar pintu terbuka. "Oh Renji, okaeri." Katanya. Rukia menyukai ekspresi Ichigo disekitar Renji, walaupun tidak bisa menjelaskan alasannya.

"Aku dapat pekerjaan untukmu." Adalah kata-kata pertama yang keluar dari mulutnya, dia tidak membalas salam Ichigo. "Kalau kau mau tentunya."

Rukia tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan, tetapi ia tidak bertanya apapun, hanya memperhatikan saat Ichigo mengangguk. "Ne, Apa yang Tatsuki katakan padamu?"

Renji membuka mulutnya, namun menutupnya kembali ketika pandangan matanya jatuh pada Rukia yang memerhatikan mereka. Dia melambaikan tangannya, memberi sinyal pada Ichigo untuk mendekat, dan mereka berdua berdiri di depan pintu, bicara dengan suara berbisik yang ditangkap oleh telinga Rukia sebagai kumpulan suara yang tidak jelas.

Rukia memperhatikan kembali layar televisi, berpura-pura tidak tertarik dengan percakapan mereka dan lebih penasaran dengan bagaimana keadaan akan berakhir diantara dua orang dalam drama itu, sampai ia kembali bisa mendengar kata-kata yang bisa dimengertinya.

"Aku… akan kebawah sekarang." Ucap suara Ichigo, tangannya sudah berada di knob pintu untuk memutarnya.

"Kau pergi sekarang?" kata Rukia sambil bangkit, tidak sadar akan nada suaranya yang berbuah.

Ichigo mengangguk, tapi sebelum dia keluar, dia berjalan masuk kembali mendekati Rukia, melingkarkan lengannya di tubuh Rukia . Sesuatu yang baru baginya; hangat. Dan anehnya membuatnya merasa aman. "Aku akan ke sini lagi besok." Ichigo menepuk-nepuk pundak Rukia dan mengacak-acak rambutnya sebelum menarik kembali tangannya.

Rasanya agak mengecewakan untuk melihatnya pergi, tapi itu tidak menghentikan bibirnya yang melengkung ke atas.

.

.

To be continued

.

.

Author's Tea Time!

Oh ya… hati-hati sakit kepala sangking beratnya nih cerita, uda beberapa yang mengeluh nih minta saya nyiapin aspirin untuk mereka LOL

Chapter depan bakal bikin saya pusing lagi XD

bagian dengan sedikit actionnya kembali! Yada-! DX

3 chapter yang membuat kepala saya cenat-cenut. demo mou, ganbarimasu :D

Saya hanyalah seorang newbie yang masih belajar, maukah kalian kasih review untuk membantu saya 'menyempurnakan' EYD atau entah apa aja untuk tulisan saya yang akan datang? XD

Terimakasih uda mau baca! :D